Perputaran Intelijen » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, May 16, 2006

Perputaran Intelijen

Sedikit memenuhi harapan sebagian pembaca tentang teknik intelijen, berikut ini saya sarikan apa yang disebut perputaran intelijen atau lingkaran kerja intelijen atau the intelligence cycle.

lebih nyaman rasanya menggunakan istilah asing the intelligence cycle.

The intelligence cycle adalah proses mengolah informasi mentah menjadi produk intelijen yang disampaikan kepada pengambil kebijakan untuk digunakan dalam penentuan kebijakan dan langkah-langkah pelaksanaan kebijakan. Ada 5 langkah dalam perputaran intelijen.



  1. Planning and Direction. Merupakan manajemen informasi mulai dari identifikasi data-data yang diperlukan sampai pengiriman produk intelijen ke pengambil kebijakan atau pengguna produk intelijen. Merupakan awal dan akhir dari lingkaran. Menjadi awal karena berkaitan dengan penyusunan rencana yang mencakup kebutuhan pengumpulan informasi yang spesifik dan menjadi akhir karena produk akhir intelijen yang mendukung keputusan kebijakan, menciptakan permintaan-permintaan produk intelijen yang baru. Keseluruhan proses mengacu pada petunjuk pengambil kebijakan seperti Presiden atau Perdana Menteri, pembantu-pembantu di jajaran eksekutif seperti Dewan Keamanan Nasional, anggota kabinet....yang kesemua itu mengawali permintaan khusus kepada intelijen.
  2. Collection. Adalah pengumpulan data/informasi mentah yang diperlukan untuk memproduksi analisa intelijen. Ada banyak sekali sumber-sumber informasi termasuk informasi terbuka seperti berita radio asing, surat kabar, majalah, internet, buku, dll. Informasi terbuka merupakan salah satu sumber utama intelijen yang harus dimekanisasikan secara disiplin menjadi sebuah rutinitas sehari-hari yang menjadi supply tidak terbatas yang akan mendukung analisa intelijen. Bila anda pernah berkunjung ke CSIS di Tanah Abang III Jakarta, perhatikan bagaimana intelijen masa Orde Baru berbagi teknik dengan lembaga penelitian dan menjadikannya sebagai salah satu lembaga yang disegani. Guntingan Koran CSIS adalah khas pekerjaan membosankan yang sangat vital bagi intelijen, khususnya bagi perwira analis, karena dengan mengikuti setiap waktu perkembangan terkini dari media massa akan melatih insting analisanya. Di samping itu, ada juga informasi rahasia dari sumber-sumber yang rahasia pula. Informasi ini hanya memiliki prosentase yang kecil namun sifatnya amatlah sangat penting sehingga sering juga menjadi penentu dari sebuah produk intelijen. Biasanya diperoleh dari operasi tertutup oleh para agen intelijen atau melalui informan. Secara teknis penngumpulan data juga dilakukan oleh peralatan canggih secara elektronik dan fotografi serta satelit.
  3. Processing. Berkaitan dengan interpretasi atas data/informasi yang sangat banyak. Mulai dari penterjemahan kode, penterjemahan bahasa, klasifikasi data, dan penyaringan data. Dalam organisasi intelijen tradisional dan konservatif, seorang agen baru seringkali harus melalui masa-masa membosankan melakukan pemilahan data berdasarkan kategori yang ditentukan atasannya. Hal ini sangat penting untuk membiasakan diri dalam menyusun jurnal pribadi maupun jurnal unit yang sangat vital dalam mempercepat proses penemuan kembali data-data lama yang tersimpan. Juga membiasakan diri untuk segera melihat data dari sudut pandang potensi spot intelijen atau memiliki potensi ancaman.
  4. All source Analysis and Production. Merupakan konversi dari informasi dasar yang telah diproses menjadi produk intelijen. Termasuk didalamnya evaluasi dan analisa secara utuh dari data yang tersedia. Seringkali data yang ada saling bertentangan atau terpisah-pisah. Untuk keperluan analisa dan produksi, seorang analis, yang biasanya juga spesialis bidang tertentu, sangat memperhatikan tingkat "kepercayaan"data (bisa dipercaya atau tidak), tingkat kebenaran dan tingkat relevansi. Mereka menyatukan data yang tersedia dalam satu kesatuan analisa yang utuh, serta meletakkan informasi yang telah dievaluasi dalam konteksnya. Bagian akhirnya adalalah produk intelijen yang mencakup penilaian atas sebuah peristiwa serta perkiraan akan dampaknya pada keamanan nasional. Salah satu unsur vital dari produk intelijen adalah peringatan dini dan perkiraan keadaan. Sementara model laporan ada macam-macamnya mulai dari yang sangat singkat berupa telpon lisan yang menjadi laporan kepada pimpinan negara, sampai laporan yang cukup tebal mencakup analisa perkiraan keadaan tahunan. Dari beberapa kasus yang terungkap di media massa, terlihat jelas bahwa baik BIN maupun BAIS TNI sangat lemah di sektor analis ini, entah karena sumber daya manusia-nya yang levelnya masih sebatas lulusan akademi militer, D3 atau S1 saja, atau karena memang keterbatasan dana yang menyebabkan lembaga intelijen tidak berkutik soal peningkatan SDM. Bandingkan misalnya dengan CIA atau Mi6 yang secara aktif mengirimkan para analisnya ke universitas-universitas di berbagai negara untuk menempuh studi doktor sekaligus memantapkan spesialisasi masing-masing.
  5. Dissemination. Merupakan langkah terakhir yang secara logika merupakan masukkan untuk langkah pertama. Adalah distribusi produk intelijen kepada pengguna (pengambil kebjiakan) yang biasanya adalah mereka yang meminta informasi kepada intelijen. Untuk kasus Indonesia, pengguna disini hampir identik dengan Presiden.

Sekian.


Comments:
Met pagi Bos. Waktu lalu, saya pernah coba searching di internet dan mendapatkan penjelasan seperti itu dari satu lembaga di Amerika Serikat. Walau cycle yang dipakai sama, tetapi, penjelasan Bapak kali ini telah membuatnya lebih sederhana dan mudah diikuti. Terima kasih untuk hal itu.

Tetapi hal itu mengusik ketenangan saya. Hal menyangkut 'singgungan' Bapak mengenai SDM analis intelijen di BIN dan BAIS. Saya juga heran, kok bisa ya begitu. Dan selanjutnya saya jadi bertanya-tanya, lalu seperti apa kita menilai orang-orang yang selama ini dianggap dan menyebut diri sebagai analis intelijen, pakar intelijen dan pengamat intelijen di Indonesia, baik dari sipil maupun dari militer atau badan intelijen sendiri seperti Juanda dan A. C. Manulang.

Selama ini, mereka seringkali diacu oleh berbagai media dan bahkan lembaga tertentu (yang sektarian). Apakah analisa-analisa intelijen mereka selama ini sebenarnya masih belum qualified? Tapi, ngomong-ngomong, hal ini secara tidak langsung juga bertanya mengenai kemampuan analisa intelijen dari Pak Senopati. gak apa-apa kan Pak.

Ok Thanks atas tanggapannya.
 
Maksud saya menyinggung kualitas analis BIN dan BAIS TNI adalah agar kedua lembaga tersebut terus meningkatkan mutu SDM mereka dalam jumlah yang lebih signifikan. Komposisi analis yang ada sekarang masih kurang dalam merespon perkembangan nasional, regional maupun global. Tentu saja secara kelembagaan BIN maupun BAIS TNI memiliki analis-analis handal yang kualitasnya tidak perlu diragukan, hanya saja jumlah mereka relatif sedikit.

Tentang Almarhum Djuanda saya kira analisanya cukup baik, meski beliau sangat fleksible dalam mengolah informasi menjadi produk intelijen sesuai pesanan. Sedangkan "Doktor" Manullang saya kira semua anggota BIN senior mengerti bagaimana kualitasnya. Justru karena analisa yang aneh dan menarik itulah dia bisa menjadi bagian dari proses penting dalam memelihara kesimpangsiuran sebuah persoalan.

Kemampuan saya jauh lebih buruk lagi dari pengamat-pengamat intelijen terkemuka Indonesia. Bahkan bila dibandingkan pendatang baru "Doktor" Wawan H. Purwanto, saya bukan apa-apa.

Bila saya mengeluarkan pernyataan sinis atau miring terhadap tokoh-tokoh tersebut anggap saja ini sebagai "second opinion", karena rakyat Indonesia terlalu lama dibodoh-bodohi dengan argumentasi seadanya sejak zaman kemerdekaan. Hanya atas pernyataan-pernyataan tendensius yang kurang berdasar saya melakukan kritik, sedangkan atas analisa yang baik, saya berikan pujian tentunya.

Saya cuma ingin berbagi cerita ringan dengan rekan-rekan dunia maya yang tertarik dengan Intelijen Indonesia. Modal saya cuma keyakinan bahwa apa yang saya lakukan ini cuma bagian kecil dari gelombang demokratisasi dan gerakan civil society. Dimana rakyat bukanlah musuh bagi negara. Untuk itu, Intelijen harus memantapkan visi dan misinya dalam kerangka menjaga kedaulatan rakyat Indonesia. Jadi kritikan keras saya pada dunia intelijen adalah agar Intelijen Indonesia terus berbenah diri dalam menghadapi perkembangan persoalan yang semakin kompleks.

Selain itu, ada manfaat tambahan dari keberadaan Blog I-I, yaitu komunikasi langsung dengan para pemerhati intelijen atau mereka yang tertarik dengan intelijen. Karena mayoritas mungkin tidak punya akses ke kekuasaan ataupun ke media massa.

Terakhir saya tetap menantikan respon dari mereka yang berkompeten merespon keberadaan Blog I-I, seperti dari para anggota intelijen aktif maupun lembaga intelijen seperti BIN dan BAIS TNI. Sayangnya masih belum ada keterbukaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Masih dalam tataran simpati individual maupun antipati individual dari mereka yg aktif di dunia intelijen.

Anggap saja ini sebagai media komunikasi alternatif dalam memperkaya khasanah dunia intelijen Indonesia. Tidak untuk hebat-hebatan dan tidak untuk kepentingan kelompok maupun kepentingan kekuasaan, apalagi kepentingan asing.

Semoga kenyataan bahwa saya hanya orang biasa dari kumpulan intelijen yang tercecer tidak mengendurkan antusias berkomunikasi pengunjung Blog I-I.

Sekian
 
Selamat sore Pak.
Terima kasih banyak atas penjelasannya. Saya bisa memahami maksud bapak dengan penjelasan tersebut.

Lagi-lagi, saya terkesan dengan kebiasaan kerendahhatian bapak dalam memberi penjelasan. Tapi, terus terang Pak, saya lebih senang membaca tulisan bapak dibanding analisa "Dr" AC Manullang (Saya gak tahu kenapa bapak menempatkan dalam kurung kutip gelar beliau itu). Tetapi kecuali kalau beliau memang dipelihara untuk seperti itu.

Terima kasih banyak atas penjelasannya.
 
Jangan Lupa !!!
Bukan hanya 5 cycles yg berlaku di Indonesia, tetapi ada 6 !! Satu cycle lagi yg memegang peranan sangat penting setelah ke 5 cycles tsb dilalui adalah:
Pengambilan keputusannya akan menanyakan ke paranormal-nya, keputusan apa yg sebaiknya diambil.
Demikian.
 
komentar saudara jleedoe sangat menarik....dan ada benarnya.
 
Ha...ha....ha....

Saudara jleedoe ini bisa-bisa aja. Tapi, benar lho. Seperti kata Pak Senopati, hal itu ada benarnya.

Tapi, sekalian aja nih. Saya mau minta tanggapan atau kalau boleh berupa penjelasan yang memadai dan luas mengenai hal itu. Apakah dalam dunia intelijen yang biasanya serba logis dan ilmiah dengan kekuatan dan akurasi analisa berdasarkan situasi konkrit itu, juga ada [mungkin lebih tepatnya: menerima atau menjadikannya salah satu cycle] cycle paranormal.

Kalau di Indonesia, mungkin hal itu lumrah saja, tapi bagaimana dengan lembaga intelijen negara lain di dunia spt CIA, KGB, Mossad, M15, M16, dll? Kalau tidak keberatan, tolong Pak jelaskan, bagaimana ya logikanya aspek paranormalitas itu 'nyambung' dengan intelijen? Entah benar atau tidak, katanya, Mabes Polri sendiri 'memelihara' beberapa suhu alias paranormal untuk membantu usaha-usaha penyelidikan oleh Polisi (Reserse/Intelijen Kepolisian)atas kasus-kasus tertentu.

Terima kasih Pak Senopati & Sdr jleedoe. GBU
 
ternyata metodenya hampir serupa dengan model bisnis intelligence ya..
 
menyimpang dari topik diatas, bagaimana tanggapan bung Seno pada kasus gus dur?
kemudian bagaimana bung Seno menghubungkan kegiatan militan organisasi keagamanan (khususnya organisasi Islam) di Indonesia, thailand, pakistan, india, filipina dan afganistan. dan bagaimana juga malaysia dan singapura?
dapatkah ditarik garis antara 6 negara tersebut? akhirnya berakhir dimanakah garis tersebut, apakah di malaysia atau singapura atau bahkan ke amerika.
 
jleedoe...anda BENAR!
Indonesia masih belum bisa lepas dari dunia keparanormalan. Coba tanyakan kepada agen2 kita yg berhasil mengungkap kelompok Lamongan dlm kasus Bom Bali misalnya...atau tewasnya gembong teroris di Indonesia misalnya...atau banyak kasus lainnya yg data produk analis intel di "klarifikasi" oleh banyak paranormal. Hal ini, menurut saya, karena intel kita sangat kurang dalam hal teknologi tinggi.Bicara teknologi, sudah berapa kali pesawat mata2 USA melintasi INA? Kita dekat dengan posisi Filipina loh...disitu kan ada pangkalan USA.
INA dengan Khas nya menggunakan paranormal. mungkin perlu diwadahi paranormal kita dalam suatu unit intel alternative :)
 
Maaf, kita sharing sedikit.., manusia berkualitas itu bkn hny mengandalkan intelektual mereka, namun lbh dr itu hrs di imbangi dengan sebuah kekuatan dimensi spiritual mereka. Intelektual hanya menghasilkan kecerdasan emosional yg belum maksimal dan masih cenderung ke pembenaran2 ilmiah dan logic. Ada kecerdasan yg benar2 diluar logika yg sgt handal dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yg tepat, cepat dan akurat, itulah kecerdasan spiritual. Ketika intelektual kita aktif maka otomatis dimensi hati atau spiritual kita menjadi pasif.
Intelektual inilah yg sering digunakan khususnya org2 yg bergelut di dunia intelijen, makanya di sebut Intellegence, namun alangkah berkualitasnya anggota intelijen kita jika bisa memahami dan menghayati apa yg sy maksudkan diatas. Saya yakin, musuh, dengan mudah terdeteksi oleh org2 intelijen yg bs memahami spiritual yg ada dlm dirinya. Ketajaman mata batin dlm melihat persoalan adlh hasil dr kejernihan kesadarannya.
Sempat ada yg singgung memakai paranormal, ya klu menurut saya itu sah-sah saja, namun di tataran mana paranormal itu, semua itu kan ada tingkatannya. Paranormal pun itu kualitasnya berbeda-beda, maksud saya alangkah idealnya jika orang-orang intelijen kita mempunyai pemahaman paranormal : intelektual dan spiritualnya seimbang. Inilah yg langkah di intelijen kita. Inilah benag merah pembicaran saya seputar SDM Intelijen kita.
Demikianlah komentar saya, maaf beribu maaf dgn ulasan ini dan bukan bermaksud menggurui, namun semua ini demi kecintaan saya kepada NKRI.

Salam, Aryo Bimo
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users
Tweet



Facebook Google Digg Reddit Pinterest StumbleUpon Email