Berita Terkini Intelijen Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, September 09, 2006

Berita Terkini Intelijen Indonesia

Mulai bulan ini saya akan mengupayakan pemberitaan terbaru yang terkait dengan dunia intelijen Indonesia. Dengan berbagai sumber yang saya miliki, mungkin akan sangat kurang karena perkembangan dunia intelijen Indonesia yang sesungguhnya tidak mungkin tercatat oleh saya seorang diri. Oleh karena itu, saya akan sangat senang dan terbuka untuk menerima dan kemudian mengupload berita dunia intelijen Indonesia terkini dari rekan-rekan sahabat Blog I-I. Saya sangat harapkan dukungan rekan-rekan Blog I-I untuk bisa turut serta mendukung upaya pemberitaan secara kontinyu ini. Pada bagian akhir dari up date berita terpilih, saya akan memberikan catatan berupa opini pribadi saya atas perkembangan berita tersebut.

------------------------------------------------------------------------------------------------


GUS DUR BANTAH YAYASANNYA BERSAMA B.I.N MELOBI AMERIKA

Jumat 08 September 2006 15:00 UTC

Gus Dur membantah keras bahwa yayasannya bersama badan intelejen negara BIN pernah menyewa sebuah perusahaan lobi di Washington untuk mendesak Amerika agar memulihkan program pelatihan militer bagi TNI. Badan lobi Collins & Co memoles citra TNI pada saat kalangan Konggres prihatin kasus Aceh, Papua dan kasus Munir tahun silam. Isu itu kini ramai di tengah peringatan dua tahun kasus Munir yang penuh tanda tanya dan keprihatinan karena kasus Munir masih misterius. Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta.

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kepada Radio Nederland Wereldomroep di Jakarta, membantah keras keterlibatan yayasannya dalam upaya lobi di Amerika itu. "Nggak, kenal aja enggak," katanya tentang perusahaan Collins & Co. Gus Dur mengaku tidak tahu menahu mengenai lobi yang menyebut BIN dalam satu nafas dengan Gus Dur Foundation. Di dalam Wahid Institute memang ada sebuah yayasan bernamaYayasan Gus Dur yang berupaya mendirikan rumah sakit, universitas dan sebagainya, tapi ini takada hubungannya dengan BIN, katanya.

Tentang tokoh As'ad Said Ali yang disebut-sebut dalam dokumen Collins, Gus Dur membenarkan, dia orang NU dan Wakil Kepala BIN, satu-satunya yang tidak dicopot sejak Kepala BIN Hendropriyono digantikan Syamsir Siregar. Tapi, tandas Gus Dur, dia orang BIN yang bisa saja orang NU atau apa saja. Dokumen yang sedianya akan diterbitkan Collins & Co itu menjadi tanda tanya baru. Adakah As'ad Said Ali dan BIN memanipulasi nama Gus Dur Foundation seperti dikesankan Gus Dur, ataukah ada upaya BIN membangun citra baru di dalam dan di luar negeri. Sebab dokumen yang disebut Dokumen FARA itu menyebut Collins berupaya kuat memoles citra TNI di kalangan Konggres Amerika yang waktu itu amat prihatin soal Aceh, Papua dan kasus Munir. Sementara itu peringatan dua tahun kasus Munir dikabuti pertanyaan publik, mengapa kasus ini belum juga terbongkar? Menurut Gus Dur, "Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang sebenarnya memerintahkan pembunuhan Munir, ada di dalam pemerintah. "Jadi, lanjutnya, "Ini cuma supaya kasusnya terhenti." Lalu mengapa Presiden SBY sama sekali tidak bertindak, bahkan tidak bersedia menerbitkan Laporan Tim Pencari Fakta Independen yang merupakan tim dengan mandat kepresidenan? GusDur ketawa ngakak. "Itu, karena SBY pada dasarnya tidak punya keberanian saja," katanya. Ada yang mengatakan, SBY tidak berisiko digoncang para jenderal, seperti Gus Dur dulu, kalau berani membongkar kasus Munir. Tapi yang lain berpendapat, ini kan presiden terpilih rakyat, maka dia kuat. Hanya SBY takut jika pensiun, dia bisa diMunirkan. "DiMunirkan" sudah menjadi kata kerja baru di Indonesia.

Baru-baru kabarnya mantan Kepala BIN Jendral Hendropriyono yang sering berkampanye untuk PDI-P, sempat kesal tentang prestasi partainya itu, dan di muka kader PDIP sempat keceplosan, "Kalau gini terus, ya saya Munirkan". Namun, kenyataannya, investigasi TPF mau pun polisi tidak memiliki indikasi apa pun menyangkut diri Hendropriyono. Jadi Hendro agaknya bersih. Kalaupun tersangkut, itu hanya karena dia mantan bosnya Mayjen Muchdi Pr yang telpon genggamnya diketahui sampai 41 kali berhubungan dengan HP-nya Pollycarpus, terhukum kasus Munir. Pembela Muchdi menangkis itu tidak membuktikan siapa pengguna HP yang mengadakan kontak itu. Koordinator Kontras Usman Hamid menunjuk, kalau mau menuntaskan soal ini, mudah saja, silahkan minta presiden RI atau Kapolri meminta Kantor Pusat Telkom di Bandung membuka isi dan suara ke-41 pembicaraan telpon genggam itu. Itu saja masalahnya, jadi publik sempat bingung mengapa SBY mau pun Kapolri Jendral Sutanto tetap bergeming. Walhasil peringatan kasus Munir yang bertajuk "Keadilan Untuk Munir, Keadilan Untuk Semua" itu tetap prihatin, mulai dari perenungan di LapanganTugu Proklamasi sampai peluncuran buku kumpulan tulisan Munir yang berjudul "Membangun Bangsa & Masalah Kemiliteran, Jejak Pikiran Munir". Jejak itu kini membuat 7 September sebagai "Hari Pembela HAM". Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta. (Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum)

------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan:
  • Berita Lobby BIN bersama Yayasan Gus Dur merupakan hasil investigasi simultan Washington D.C - Jakarta, dan dipublikasikan bersamaan dengan hari terbunuhnya Munir Thalib yaitu pada 7 September 2004. Kemudian dikutip dalam berbagai pemberitaan tentang Indonesia, termasuk dari sumber yg saya kutipkan di atas, yaitu Radio Nederland (lihat Ranesi atau Radio Nederland). Selain Radio Nederland, BBC Indonesia juga memberitakan hal senada dalam gusdur lobby. Sementara sumber utama berita pada umumnya mengacu pada website ICIJ, lihat Jakarta's Intelligence Service Hires Washington Lobbyists:
    Former Indonesian president's foundation served as conduit for push to overturn ban on military cooperation

    Dengan demikian cukup jelas pesannya.
  • Sudah menjadi kewajaran bagi Lembaga Lobby Collins and Co. untuk mencatatkan dokumen FARA (the Foreign Agents Registration Act) untuk menjamin bahwa publik Amerika "mengetahui sumber informasi yang ditujukan untuk mempengaruhi/menggoyang opini publik, kebijakan, dan hukum". FARA mengharuskan/mewajibkan setiap agen (seperti lobbyist, perusahaan public relations) yang bekerja untuk kepentingan "asing" untuk mendaftarkan laporan kepada the Department of Justice dan membuat "file forms" setiap enam bulan. Collins & Co. mengarsipkan dibawah hukum tersebut beberapa copy dari kontrak asli dengan the Gus Dur Foundation/BIN berikut data dokumen pendukungnya. Dengan demikian tidak ada pelanggaran hukum, baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia.
  • Investigasi selama kurang lebih satu tahun dilakukan oleh ICIJ (the International Consortium of Investigative Journalists) yang merupakan bagian dari penyelidikan perubahan sikap Amerika Serikat pasca Teror 11 September dalam hal program asistensi dan bantuan militer serta dampak perubahan tersebut pada Hak Asasi Manusia--HAM. Investigasi tersebut difokuskan kepada 10 negara kunci termasuk Indonesia, serta dijadwalkan akan di-release pada awal tahun 2007.
  • Satu-satunya wakil dari ASIA yang juga duduk sebagai Advisory Committee members ICIJ kebetulan juga berasal dari Indonesia yaitu, wartawan senior dengan segudang pengalaman Goenawan Mohamad. Saya pribadi cukup kagum dengan integritas beliau karena saya pernah bertemu pasca kasus Kapal Jerman Timur pada tahun 1994. Beliau adalah pendiri dan editor Majalah Tempo , konon Majalah berita yang paling dihormati. Pada tahun 1995, Goenawan Mohamad mendirikan the Institute for the Studies on Free Flow of Information (ISAI) yang menghasilkan media alternatif yang ditujukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sistem sensor media. Belakangan Mohamad juga membentuk the Alliance of Independent Journalists atau lebih lebih dikenal AJI, yang sering dianggap sebagai satu-satunya organisasi wartawan yang independen. Segudang penghargaan jurnalistik dan prestasi dalam dunia kewartawanan melakat pada sosok Goenawan Mohamad. Sebagai anggota Advisory Committee ICIJ, pertanyaan dalam hati saya, apakah beliau tahu detail proses penyelidikan ini dan adakah kaitannya dengan perjuangan penegakkan HAM di Indonesia?
  • Setelah saya membaca sendiri dokumen yang dimaksud (dokumen FARA), maka politisasi kasus ini untuk menekan pemerintah Indonesia dalam penyelesaian kasus Munir akan semakin berat. Atau bila dibalik akan memudahkan pemerintah untuk akhirnya mengambil langkah-langkah nyata dan tegas dalam penyelesaian kasus Munir, tentunya dengan kalkulasi resiko seperti yang diungkapkan Gus Dur. Hal ini mirip dengan argumentasi akan lebih mudah "menjatuhkan" Suharto dengan memanfaatkan tekanan luar negeri bersamaan dengan gerakan dalam negeri dibandingkan tanpa adanya tekanan luar negeri. Mungkin memang perlu diakui bahwa solidaritas terhadap perjuangan Munir Thalib cukup kuat baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi karena kuatnya kelompok di dalam negeri, maka dianggap perlu untuk terus mencari cara menekan pemerintah Indonesia melalui tangan-tangan luar negeri.
  • Mengapa akhirnya terkonsentrasi pada kasus Munir, karena untuk persoalan Aceh dan Papua bisa dilihat bahwa tekanannya tidak ke sana.
  • Secara pribadi saya sangat salut dengan pimpinan BIN yang berani menempuh resiko dengan melobby Kongres melalui sebuah lembaga lobby. Saya tahu bahwa salah seorang tokoh BIN yang ikut serta adalah seorang agent senior yang sekarang menjadi deputi yang telah malang melintang di Amerika bertahun-tahun dan telah memperhitungkan segala sesuatunya. Target mencairkan kembali program IMET bisa dianggap sukses besar. Sementara dampak timbulnya tekanan pada kasus Munir adalah efek samping yang tidak terhindarkan. Belajar dari kasus tersebut, mengapa pemerintah Indonesia tidak pernah memikirkan untuk memiliki institusi yang bisa dipercaya khususnya dari kalangan swasta yang bonafid untuk bertindak atas nama Indonesia? Tanpa bermaksud mencemooh prinsip-prinsip kedaulatan dan kemandirian NKRI, fakta dalam politik internasional maupun hubungan internasional menunjukkan bahwa tekanan internasional, khususnya dari negara superpower seperti Amerika Serikat tidak dapat diabaikan. Itulah sebabnya hampir seluruh negara di dunia memiliki Institusi, tokoh lobby atau jalur khusus untuk mempengaruhi opini publik, kebijakan dan hukum di Amerika. Contoh yang paling sederhana tentu saja Lobby Israel.
  • Bagi Gus Dur masalah ini tentu perlu dibantah karena akan menjadi tanda tanya besar bagi kredibilitas pribadi maupun Yayasannya. Lebih jauh, Gus Dur tampak memberikan dukungan kepada Wakil Kepala BIN As'ad Said Ali, ketika Gus Dur menegaskan bahwa As'ad bersih dari kasus Munir dan beliau adalah satu-satunya pimpinan BIN yang tidak dicopot dalam kepemimpinan Syamsir Siregar.
  • Sebagai tambahan, pada 27 Oktober 2005, sebuah grup yg teridri dari 68 anggota the U.S. Congress mengirimkan sebuah surat kepada Presiden SBY yang intinya: urging his government to implement the investigative team's suggestions on the Munir killing. "We understand the [report] suggests that the government should create a new commission with a strong mandate to explore the evidence wherever it may lead, including enforcement of full cooperation of all state agencies, including [BIN]."
    Bahkan sebuah surat yang didukung oleh dua partai politik (REPUBLIC-DEMOCRAT), disponsori bersama oleh Reps. Mark Kirk, R-Ill., and Jim McDermott, D-Wash., memberikan catatan : "Munir devoted his life to finding the truth, and in the end he gave his life for that cause. Now his own death is the subject of an unprecedented fact-finding report. We strongly urge your government to fulfill Indonesia's promise as an open and democratic society by publicly releasing the report and acting on its recommendations."
  • Diperoleh informasi juga bahwa tokoh kunci dalam pembahasan HAM Indonesia di Kongres Amerika, Senator dari Partai Democrat, Patrick Leahy dari Vermont, baru-baru ini memasukan sebuah "provision" (ketentuan/syarat) kepada Senat dalam tahun fiskal 2007 untuk Foreign Operations Appropriations Bill (belum melewati Kongress) yang mewajibkan the Secretary of State untuk menyerahkan sebuah laporan kepada the Committees on Appropriations "status investigasi kasus Munir Said Thalib, termasuk upaya-upaya pemerintah Indonesia untuk menangkap setiap individu yang memerintahkan pembunuhan tersebut dan aksi lainnya yang diambil oleh pemerintah Indonesia (termasuk Peradilan Indonesian, Polisi dan Badan Intelijen Negara[BIN]), untuk membawa individu yang bertanggung jawab ke depan hukum."
  • Informasi terakhir mengenai langkah yang ditempuh Leahy semakin jelas, bahwa konsentrasi persoalan memang ke arah tekanan untuk penuntasan kasus Munir. Seperti pernah saya ungkapkan dalam tulisan saya tentang kasus Munir yaitu Duka Cita Para Intel dan AM Hendropriyono Versus TPF Munir bahwa kasus Munir memang kompleks dan bahkan menyulitkan posisi Intelijen Indonesia secara keseluruhan (baik segenap anggota maupun institusinya). Posisi sebagian besar pemberitaan media dalam kasus Munir secara nyata telah menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap BIN (bila ada survey, saya berani bertaruh untuk asumsi ini). Lebih jauh, keresahan anggota intelijen dalam bekerja untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia menjadi semakin nyata. Karena saat ini praktis hanya intelijen sipil BIN yang tidak jelas masa depannya. Mulai dari ketiadaan payung hukum yang jelas, tuduhan secara institusional yang berarti menggeneralisir BIN sebagai salah satu lembaga pelanggar HAM, dan sekarang secara khusus ada tekanan internasional (Amerika) yang khusus mengarah pada BIN melalui kasus Munir.
  • Pemberitaan tentang pernyataan AM Hendropriyono di depan kader PDI-P (masalah kata diMunirkan) cukup tendensius dalam menggiring opini publik ka arah kesimpulan terntentu. Begitu juga soal hubungan telpon genggam/HP Muchdi Pr dengan Pollycarpus dan pada akhirnya akan berputar-putar dalam argumentasi hukum. Semakin lama kasus Munir semakin terbengkalai dan semakin sulit pembuktiannya di depan hukum. Bila semua hanya berangkat dari dugaan ataupun diduga kuat, maka sistem peradilan nasional Indonesia tidak akan bisa memutuskan sebuah keputusan hukum tanpa adanya bukti hukum yang bisa dipertanggungjawabkan. Sementara itu, bila masalah hukum ini kemudian dicampur aduk dengan tekanan politik dari sejumlah tokoh penting negara superpower Amerika Serikat kepada pemerintah Indonesia, bisa dibayangkan semakin kompleks dan rumitnya masalah ini.
  • Dari pengakuan beberapa anggota aktif BIN, ada sedikit berita yang mengiris hati, yaitu praktis BIN semakin dikebiri dengan berbagai persoalan yang membayangi. Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh publik, bahwa tidak sedikit anggota BIN yang sungguh sungguh ingin membawa BIN menjadi organisasi profesional yang pro-gerakan demokrasi, penegakan hukum dan perlindungan HAM.
  • Bila rekan sahabat Blog I-I bertanya bagaimana lantas posisi Senopati Wirang, hal ini sungguh sangat sulit. Meski misalnya saya memiliki data cukup belum tentu saya bisa merekomendasikan satu obat mujarab berdasarkan kalkulasi resiko yang akan dilalui Presiden SBY, Kapolri, BIN, maupun Peradilan Indonesia atas pilihan-pilihan langkah strategis penuntasan kasus Munir pasca dokumen FARA. Saya percaya Presiden SBY dan anggota Kabinet bidang Polkam sudah memiliki informasi cukup. Penuntasan secara hukum masalah ini sampai pada sasaran yang dikehendaki atau berdasarkan dugaan kuat TPF Munir maupun para "aktivis HAM" Indonesia dan luar negeri akan sulit karena lemahnya kecukupan barang bukti yang bisa dibawa ke pengadilan. Hal ini cukup jelas terlihat dari hasil kerja dan temuan TPF selama masa kerjanya dan hasil rekomendasinya, bahkan dari jalannya sidang kasus Munir di pengadilan. Mungkin bagi Senator Patrick Leahy kondisi ini cukup empuk untuk menjadi "pekerjaan rumah" bagi persoalan HAM Indonesia yang digelutinya. Leahy mungkin juga sudah melihat kondisi obyektifnya, dan justru karena kerumitan masalah inilah, maka beragam dugaan/asumsi dengan mudah digunakan secara logis untuk meyakinkan salah satu sudut pandang yang bisa menggiring opini publik.
  • Sementara itu, kebenaran kasus Munir justru akan semakin kabur dan semakin jauh dari meja hukum karena memang ketiadaan barang bukti baru yang bisa digunakan untuk membuka kembali atau menuntaskan kasus Munir. Semakin performance pemerintah Indonesia menjadi lebih buruk dalam kasus Munir, semakin membuka kesempatan bagi orang-orang seperti Leahy untuk terus menekan dengan alasan yang telah dipersiapkan dan cukup meyakinkan publik Amerika. Bila pun akhirnya-pun tekanan itu semakin kuat, maka pemerintah dalam hal ini Presiden SBY harus mampu mengambil langkah yang tepat, seperti dalam permainan catur, pengorbanan atau ketiadaan langkah terbaik karena hasilnya tetap pengorbanan. Nah siapa yang dikorbankan itu tergantung dari kalkulasi resikonya.

Bila ada kekeliruan data, mohon rekan-rekan sahabat Blog I-I memberikan koreksi.

Sekian





Comments:
Menanggapi berita ttg Munir, apakah almarhum benar seorang pahlawan? Saya belum lihat organisasi yg dipimpin nya dahulu, KONTRAS tdk pernah melakukan aktivitas untuk membela Rakyat & NKRI. Posisi KONTRAS pada saat East Timor merdeka (Yg dibela adalah East Timor). Posisi KONTRAS thd lumpur Lapindo, tidak ada aktivitas untuk membela saudara2 kita korban lumpur Lapindo. Terlihat bahwa aktivitas KONTRAS selama ini blm ada yg benar2 menguntungkan Rakyat & bangsa Indonesia, mungkin krn pihak asing tdk ada yg mau membiayai utk memperjuangkan bangsa kita.
 
saya setuju dg pendapat bung Anonymous,KONTRAS tdk lebih dari sebuah TAXI yg tujuannya tergantung "Penumpangnya", tp perlu kejelian pemerintah dalam membuat kebijakan yg lebih populis dan mengakar sehingga seluruh elemen masyarakat punya kesadaran bela negara yg tinggi.
 
Dunia Intelejen seharusnya tahu dan segera bicara dengan Presiden, siapa sih MUNIR itu..... mengapa untuk seseorang yang belum jelas MERAH darahnya, PUTIH tulangnya untuk INDONESIA... sudah dianggap sebagai PAHLAWAN HAM...., apakah karena munir, maka BANGSA INDONESIA dengan segala KOMPONENnya harus banyak dikorbankan.... liat saja isterinya... dia berteriak-teriak karena merasa didukung oleh Amerika, sayang Presiden kita tidak berani tegas, hadapin badut-badut amerika... seperti KONTRAS dan suciwati...yang tidak suci itu
 
Kematian seseorang yang bekerja untuk dinas rahasia asing (baik sebagai informan atau agen mata-mata) memang tidak menarik perhatian publik, paling-paling kita tau itu hanya dari film-film saja.

Tetapi apabila public lebih mengenalnya sebagai seorang "public figur", maka perhatian publik akan (dipaksa) tersita, sehingga kejadiannya bisa lebih dramatis, bisa lebih mengharukan, dibanding kalau kita tonton dari sebuah film.

Kini si informan keburu dibilang "pahlawan", oleh media. Semoga arwahnya tenang di sana. Ia tau, kematiannya--malah membuat fitnah di negeri ini semakin menjadi, dan memecah belah anak bangsa.
 
Boss, bisa minta tolong direview tentang RUU intelijen versi Bin yang terbaru, gimana materi dan kira2 tanggapan publik terhadap RUU itu supaya jangan dibilang "balak kosong"...
 
Munir merupakan Peringatan bagi personal-personal yang di ragukan Nasionalitasnya, selama ini saya mencermanti dan memperhatikan sepak terjang beliu di indonsia, outputnya ? O besar..sertau saya hanya sensasi demonstrasi yang membuat nama bangsa kita rusak karna orang2 seperti dia ( Lihat aksi beliau di Aceh dan Timor )saya juga heran dari sisi mana dia bisa di sebut "PAHLAWAN HAM "?
 
munir, sapa sih dia? BUKAN SIAPA-SIAPA, tidak perlu kita membela dia. dia mati aku bersyukur...karena g da lagi orang yang ribut2 soal HAM yg g penting itu. munir hanyalah kuda yg ditunggangi oleh Amerika Serikat.. semua sepak terjangnya di negara tercinta indonesia ini hanyalah untuk mengacaukan tatanan pemerintahan dengan kritik2nya demo-demo dan kegiatan-kegiatan yg hanya ujung2nya biar dapet duit dari negara asing...go to hell munir..
 
saya setuju dengan pendapat kalian semua...sejauh ini,,saya ga tau siapa sich munir itu...apa saja yang dia lakukan..tetapi sejauh yang saya tangkap dia memang pejuang ham,,namun tidak PANTAS disebut sebagai PAHLAWAN...KONTRAS??memang selama orde baru berkuasa, geraknya dibatasi...tetapi terlihat bahwa KONTRAS tak lain isinya hanyalah sarat dengan kepentingan LIBERALIS DAN SEKULER..lihat saja pemimpinnya sekarang...setelah kehilangan pamor dalam masyarakat,,KONTRAS pun menyeruak dengan hal2 yang berkaitan dengan kebebasa berpikir ....KITA LIHAT SAJA,,APAKAH KONTRAS AKAN DIKILANGKAN DARI PETA ORGANISASI DI INDONESIA.
 
saya setuju dengan pendapat kalian semua...sejauh ini,,saya ga tau siapa sich munir itu...apa saja yang dia lakukan..tetapi sejauh yang saya tangkap dia memang pejuang ham,,namun tidak PANTAS disebut sebagai PAHLAWAN...KONTRAS??memang selama orde baru berkuasa, geraknya dibatasi...tetapi terlihat bahwa KONTRAS tak lain isinya hanyalah sarat dengan kepentingan LIBERALIS DAN SEKULER..lihat saja pemimpinnya sekarang...setelah kehilangan pamor dalam masyarakat,,KONTRAS pun menyeruak dengan hal2 yang berkaitan dengan kebebasa berpikir ....KITA LIHAT SAJA,,APAKAH KONTRAS AKAN DIKILANGKAN DARI PETA ORGANISASI DI INDONESIA.
 
Biar kita, tanya satu pertanyaan lagi.
Sah kah Munir itu di bunuh secara sadis?? Masih kah di Indo punya Faham KOMONIS?? Thanks.
 
Kalo pendapat Komonis, kan sangat wajar Munir di bunuh? Tapi, terbuka aib Indo di Mata Dunia. Dasar, Dajjal, Tau membunuh tak tau sembunyikan! Thanks.
 
HAM,sungguh miris negeriku INDONESIA setelah terlahir kaum reformis dan kaum humanis.Banyak orang berteriak dengan lantang memperjuangkan HAM.Ironisnya orang2 yang ikut dalam demonstrasi belum tentu tahu artinya HAM.HAM adalah binatang.Perjuangan HAM di negeri ini sudah salah kaprah melanggar batasan norma-norma umum.Mereka seperti petani pada zaman PKI kaum Komunisme atau para pemuja Liberalis yang merupakan fase terakhir dari Kapitalis.Kemarin hari saya berdebat dengan teman di dunia maya ini,begini pertanyaanya"Kenapa yang membunuh munir bisa bebas? apa sudah tidak ada perlindungan HAM di negeri ini?" kemudian saya menjawab" Ya pantaslah jika pembunuh munir bebas karena kalau tidak bebas kasihan munir yang sudah mengorbankan nyawa untuk membela HAM,karena HAM salah satunya melindungi manusia untuk memperoleh kemerdekaan jadi jika pembunuhnya di hukum,sia2 sudah pengorbanan munir karena masih terjadi pelanggaran kemerdekaan terhadap pembunuh dirinya.SADARLAH SAUDARA2KU KITA BUKAN GOLONGAN 2 BLOK ITU. KITA BANGSA INDONESIA BANGSA YANG MEMILIKI KEDAULATAN SENDIRI.BERAPA BANYAK PEJUANG KITA YANG BERKORBAN NYAWA UNTUK BANGSA INI JADI KITA HARUS MALU JIKA KITA LEBIH BANGGA PADA PAHAM NEGARA LAIN BERJUANGLAH SAUDARAKU JIWA NASIONALIS RAGAKU PANCASILAIS
 
HAM itu jualannya amerika dan punya nya amerika. Pemerintahnya mereka cuek terhadap HAM, walpn organisasi HAM di negara koar2. lihat kasus di irak, pemerintah amerika cuek2 aja. untuk menjaga keutuhan NKRI, saya setuju untuk menyingkirkan org2 yg spt itu
 
HAM ...makanan apa itu? bukannya ham itu telur ceplok? kenapa diributkan?. kalo bangsa ini mau mau maju mari kita singkirkan orang-orang yang tidak merah darahnya dan tidak putih tulangnya. mari kita lihat cina - cina itu, orang - orang keturunan arab itu mereka tidak punya rasa nasionalisme mereka hanya mementingkan dirinya sendiri dan bagaimana mengeruk keuntungan dengan membodohi bangsa yang ku cintai ini. sungguh sangat ironis mereka hidup makmur di negeriku ini tapi lihat saudara - saudara kita yang jadi TKI atau TKW mereka justru mencari sesuap nasi ke negeri lain.
 
Dgn bijak kita hrs menempatkan kasus munir pada sdut pandang yg tepat..dilihat dari nila2 nasionalisme,sangat jelas bhwa kita bisa mmpertanyakan rasa nasionalismenya mendiang munir..dari sisi kemanusiaan,apkah perjuangan KONTRAS murni untk mngangkat harkat dn martabat manusia atau martabat UANG..?BRAVO TNI
 
bicara masalah pelanggaran ham, masih ingat peristiwa 27 juli? dmna terjadi pembantaian masa pdi oleh apar**! apa itu bukan pelanggaran ham berat?
 
Knpa Munir yg kta rbutkan!!! Bukankah banyak hal yg lbih pnting drpd Munir. Korban Lumpur Lapindo msalnya, jauh dan Sangat Jauh lbih pnting dari si Munir. Disna rbuan org mmbutuhkan bntuan kita. Masalah Munir biarlah Tuhan yg mengadilinya......!!!!!!
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users
Tweet



Facebook Google Digg Reddit Pinterest StumbleUpon Email