Tentang Mayoritas - Minoritas » INTELIJEN INDONESIA

Friday, January 30, 2009

Tentang Mayoritas - Minoritas

Lama-kelamaan saya semakin sedih membaca komentar rekan-rekan di ruang shoutbox Blog Intelijen Indonesia. Saya sengaja membebaskan segala komentar dengan keyakinan bahwa rekan-rekan blog I-I yang tertarik membaca, peduli dengan bangsa dan negara Indonesia, berani menyuarakan kejernihan dari nurani, akan menorehkan goresan kata-kata yang semakin memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Mengapa saya sedih ? tercatat ada sejumlah polemik yang khas terjadi di era kekuasaan adalah segalanya yaitu hubungan antara mayoritas dan minoritas di negeri tercinta ini.

Salah satu tugas pokok intelijen era reformasi adalah memperkuat persaudaraan Indonesia Raya dibawah panji-panji Merah Putih yang demokratis. Selain itu, intelijen Indonesia juga berkewajiban mengawal perjalanan damai proses perubahan Indonesia tersebut menuju era kejayaan yang akan menyentuh relung hati setiap warga negara Indonesia akan hak dan kewajibannya yang sama di depan hukum, yang mana pembimbingnya adalah nurani kemuliaan budaya nasional kita dibawah sinar keyakinan beragama kita semua. Lantas mengapa masih ada masalah mayoritas-minoritas yang muncul di shoutbox Blog I-I ?


Saya tidak menyalahkan siapapun dalam soal mayoritas-minoritas, karena sifat laten masalah ini akan tetap ada sepanjang reformasi mentalitas karakter kebangsaan kita tidak segera dimulai. Kita telah lupa bagaimana membangun identitas Indonesia yang susah payah sejak masa penjajahan, pergerakan nasional dan kemerdekaan. Perbedaan yang sangat kuat, keanekaragaman etnis, budaya, agama, cara pandang, ideologi, dan lain-lain adalah tugas kita bersama mengatasinya. Bukan atas dasar suatu kelompok mayoritas maka berhak seenaknya melakukan penindasan. Bukan atas dasar suatu kelompok minoritas maka seenaknya mengatur kekuatan dan kekuasaan disana sini untuk mengamankan kelompoknya. Tetapi bersatulah dalam satu identitas keIndonesiaan yang sejati dimana perbedaan tidak menjadi dasar cara pandang kita.

Sesungguhnya tidak sulit untuk mengatasi masalah Konglomerat Hitam (meminjam istilah dari Bung Kwik Kian Gie), karena tidak sedikit Konglomerat Putih yang di dalam hatinya tersimpan mutiara kepedulian kepada rakyat kecil. Setiap penyakit seyogyanya diatasi dengan seksama untuk disembuhkan, bukan untuk ditiup-tiup menjadi isu permusuhan yang akhirnya memecah belah persatuan nasional kita. Apabila ada Birokrat Tikus yang menggerogoti kekayaan bangsa untuk kemewahan dirinya sendiri, tentunya tidak sulit untuk dibasmi apabila kita rajin bersih-bersih bersama dalam konsep gotong-royong seperti saat kita membersihkan got/selokan di lingkungan RT/RW. Apabila ada pihak yang menghembuskan fitnah untuk memancing konflik, tentunya tidak akan berhasil apabila kepercayaan diantara kita sesama anggota Bangsa Indonesia saling percaya dan bahu-membahu membangun Indonesia Raya.

Langkah-langkah apa yang harus kita lakukan? jadilah intelijen untuk Bangsa Indonesia dan bukan untuk kelompok-kelompok tertentu. Tidak ada salahnya apabila kita waspada di lingkungan dimana kita tinggal atau bekerja. Tidak ada salahnya apabila kita proaktif mencari tahu permasalahan yang mengganggu dinamika kehidupan bernegara dan berbangsa. Setelah kita tahu dan paham, laporkanlah secara sukarela kepada saluran yang kita anggap dapat memperbaiki keadaan. Apabila tidak ada atau belum, maka sementara waktu dapat juga kita bahas bersama di Blog I-I (apabila tidak terlalu sensitif dan berbahaya). Haruskah kita bergabung di BAIS, BIN, Lembaga Sandi, Lemhanas, Polisi, TNI, dll untuk berkontribusi terhadap kelangsungan Bangsa Indonesia. Tentu saja tidak, karena siapapun rekan-rekan dan apapun profesinya dapat berkontribusi di dalam bidang keahlian masing-masing. Bagi rekan-rekan yang telah berada di dalam lembaga intelijen, hal itu tidak menjadi istimewa ataupun merasa khusus karena diperlukan kesadaran yang luar biasa untuk memahami hakikat pekerjaan intelijen yang tidak mengenal label sebagai petugas, sebaliknya justru dituntut untuk menghilangkan identitas keterkaitan dengan intelijen. Mengapa demikian? karena musuh yang dihadapi adalah samar dan cenderung tidak kelihatan.

Kembali pada soal mayoritas-minoritas. Apabila kita termasuk dalam golongan yang besar, maka seyogyanya kita bertanggung jawab dengan besarnya golongan kita dan semakin arif dalam berkontribusi kepada Bangsa dan Negara. Ada benarnya bila dikatakan mayoritas kita adalah orang Miskin yang tidak berdaya dan minoritas kita adalah orang kaya yang menguasai akses pada sumber-sumber ekonomi. Keadaan tersebut seyogyanya secara bertahap dirubah tanpa melukai kelompok manapun. Hubungan antara buruh dan pengusaha, hubungan antara kaya dan miskin adalah hubungan ekonomi yang tercipta di semua peradaban. Langkah yang perlu kita tempuh adalah lahirnya kesadaran bersama untuk saling mendukung untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan saling tikam dan saling mengeksploitasi. Bagaimana keseimbangan bisa kita capai, tentu saja melalui peraturan yang kita hormati dan patuhi bersama.

Mayoritas kita adalah beragama Islam, apakah berarti kita memaksakan keyakinan Islam kepada minoritas, tentu dosa besar hukumnya, karena Islam adalah agama yang memberikan pilihan dan tidak ada paksaan dalam beragama. Maknanya bukan berarti umat Islam berhenti dakwah dan mandeg, melainkan secara bertanggung jawab hanya menyampaikan pesan-pesan moral agama tanpa unsur paksaan apalagi kekerasan. Sebaliknya, agama Kristen, Katholik, Hindu, dan Buddha, serta berbagai keyakinan seperti Konghucu, Tao, sekte agama tradisional nusantara tidak perlu merasa terancam, apabila mayoritas bersikap bertanggung jawab dan melindungi. Namun juga tidak memancing konflik dengan memaksakan keyakinan kepada masyarakat yang sudah memeluk suatu agama.

Saya yakin rekan-rekan telah membaca pesan yang tersurat maupun tersirat. semoga bermanfaat.

SW

Labels:

Comments:
tulisan bung seno kan untuk kondisi yang ideal, apakah sama dengan fakta di lapangan ?, golongan mayoritas masih dieksploitasi untuk kepentingan pragmatis sesaat para penguasa. ya... para penguasa bukan pemerintah atau penyelenggara negara, hanya untuk meraih dukungan atau meraih secuil bantuan, kadang hanya cuma beberapa kalimat pujian :)

seperti yang pernah diutarakan bung seno di beberapa tulisan yang lalu, mau sampai kapan kita hanya berpikir untuk kepentingan praktis taktis jangka pendek ?
 
ya,,, begitulah... mayoritas selalu ingin meniadakan yang minoritas...

mentang2 banyak...
 
wah benar Bung merasakan dan melihat apa yang ada di sekitar sungguh meresahkan hati. Tak hanya Mayoritas-Minoritas tapi juga perpecahan dan berbagai friksi-friksi. Ada gejala selalu saja mengeluh dan selalu saja menyalahkan satu sama lain. Hal itu tak hanya di lingkup berpendidikan saja di bawah juga kentara. Semoga dengan segala perbedaan yang ada tak membuat kita berpecah..sebaliknya akan tetap bersatu..meski untuk bersatu tak harus sama..Salam!

SN
 
Memang fakta berbicara.aku pikir itulah kondisi bangsa pada saat ini.Aku juga sedih .Salam kenal
 
Bukankah kita semua telah bersepakat bahwa Pemilu-lah yang menentukan mayoritas-minoritas?... Menggunakan basis SARA sebagai patokan mayoritas-minoritas adalah absurd dan tidak logis...
 
Pak intel, sebaiknya komentar untuk setipa postingan jangann dibiarkan Annonimous, Biar lebih bertanggung jawab gt.

oiya, ada jg blog polisi yg menarik, sy udah membacanya, lumayan bagus.

http://reinhardjambi.blogspot.com
 
Bung Seno, bukankah sang dalang akan selalu memainkan wayangnya. Samar di temaran lampu blencongnya.
 
Di indonesia minoritas di perlakukan secara adil dan baik. Jadi apalagi yg di teriakan!!! Lebih baik nikmati sajalah. Di eropah saja minoritas masih mendapat diskriminasi.
 
Di indonesia minoritas mendapatkan perlakuan yg adil dari pemerintah jadi apalagi yg di teriakan!!! Di negara barat minoritas masih mendapatkan diskriminasi dari pemerintah. Jadi nikmati saja!!
 
idiot outside: adil apanya?? liat tuh di kalimantan, irian.. dimana2 penuh orang jawa... penduduk asli terdesak dengan pendatang... Orang papua kena gempa bumi juga lambat penanganannya.. Beda dengan orang lebanon yang langsung dikasih 1 M sama pemerintah.. nasib.. nasib !!!
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users
Tweet



Facebook Google Digg Reddit Pinterest StumbleUpon Email