Realita Politik Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Monday, February 01, 2010

Realita Politik Indonesia

Barangkali kita sebagai bangsa perlu mengakui terlebih dahulu bahwa kita adalah bangsa yang kecil, pengecut, dan selalu berpikir pendek mengutamakan kepentingan pribadi/kelompok dari pada kepentingan nasional, bangsa apalagi negara. Setelah menyadari betapa cupetnya pikiran kita yang selalu inward looking dan betapa kacaunya kalkulasi strategis kita, barulah kita dapat sedikit menyadari...ingat hanya sedikit menyadari. Seperti inikah realita politik kita?

Mengapa Blog I-I menyentuh politik, tentunya dapat juga dipertanyakan dan jawabnya sangat sederhana, yakni setelah hampir 12 tahun genap reformasi satu-satunya keraguan yang membayangi masa depan Indonesia adalah proses pergantian pemimpin nasional, dimana seluruh bangsa Indonesia mengharapkan lahirnya pemimpin yang berkualitas, jujur, berani dan pandai mengelola negara serta mampu mensejahterakan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

salah satu agenda strategis blog I-I adalah mendorong lahirnya kesadaran massa bangsa Indonsia untuk secara serius memikirkan masa depan Indonesia melalui penyusunan rencana di masing-masing bidang serta berusaha kuat untuk mengimplementasikannya. Pada saat yang bersamaan kesadaran massal tersebut membuka mata hati kita untuk dapat mengutamakan prioritas bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadi.


Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai bangsa masih bersifat/berkarakter feodal dan selalu memimpikan lahirnya Ratu Adil yang akan mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan bangsa. Kita selalu bersandar pada orang lain, pada pemimpin, pada pemerintah, pada pertolongan dari luar, bahkan kepada asing. Sangat bodoh bukan? Sesungguhnya kita harus memulai perbaikan dibidang apapun dari diri sendiri, mulailah mengandalkan diri sendiri dalam membawa perubahan yang lebih baik. Namun hal itu tidak berarti membesarkan ego masing-masing, melainkan membuka keberanian dan kepeloporan dalam membawa perubahan bangsa. Kebanyakan kita hanya mengikut di belakang bukan, bahkan sangat menyedihkan bila kita menyaksikan pimpinan kita-pun ternyata memiliki mentalitas yang demikian.

Saya sebagai pribadi telah mengawali satu langkah yang sangat kecil melalui Blog I-I, dan responnya bagi saya telah melampaui harapan saya pribadi. Meskipun demikian, wacana, artikel ataupun uneg-uneg dalam pikiran saya belum tentu kena di hati dan pikiran sahabat Blog I-I bukan? Malahan terdapat kecenderungan Blog I-I meningkatkan minat generasi muda Indonesia untuk bergabung dengan dunia intelijen Indonesia. Silahkan saja kepada siapapun warga negara Indonesia untuk mengabdi di bidang intelijen, namun sebagaimana kerahasiaannya tantangannya adalah menemukan jalan menuju dunia intelijen. Blog I-I sejak awal sudah mengumumkan bahwa tidak ada rekrutmen melalui Blog I-I, serta secara singkat dapat saya sarankan untuk mencarinya ke TNI yang memiliki BAIS, Polri yang memiliki sejumlah unit intelijen seperti Densus 88, Baintelkam, dll, ke Lembaga Sandi Negara, ataupun ke BIN yang merupakan Badan Intelijen Tertinggi di Indonesia.

Di luar antusiasme sebagian generasi muda yang rajin mengunjungi Blog I-I, ingin saya sampaikan sekali lagi bahwa mengabdi untuk bangsa dan negara Indonesia tidaklah harus di bidang intelijen. Melainkan di berbagai bidang dan apabila ada hal-hal yang sangat penting dan membahayakan negara dapat menginformasikan kepada Komunitas Intelijen, khususnya Polsisi dan BIN atau bahkan melalui Blog I-I untuk disampaikan kepada yang berwenang.

Tidak ada seorangpun yang dapat membawa perubahan Indonesia sendirian, siapapun kita bagian dari elemen bangsa Indonesia perlu bersinergi dan menyatukan kekuatan untuk membangun Indonesia yang sejahtera modern dan bermoral.

Sadarkah pemerintah Indonesia bahwa masih sangat banyak pekerjaan rumah dan persoalan yang menyebabkan langkah kemajuan Indonesia Raya terhambat di sana-sini. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi mulailah melihat kepada diri kita sendiri, kepada peranan dan sumbangan yang telah kita berikan untuk bangsa Indonesia.

Realita Politik Indonesia adalah saling menghancurkan seperti legenda kutukan Mpu Gandring kepada Ken Anggrok dan keturunannya. Kisah kehancuran para pemimpin kita dimasa lalu dan era Indonesia modern seharusnya dapat menyadarkan kita dan mendorong kita untuk tidak mengulanginya. Namun kita memang bangsa pelupa dan senang mengulangi kesalahan yang sama.

Menjadi pemimpin yang bijaksana tidak identik dengan kemampuan menyenangkan seluruh elemen dalam negara, ada kalanya pemimpin itu harus berani menghilangkan penyakit-penyakit dalam elemen negara, bukannya malahan menambah kacau sistem tata negara dengan membagi-bagi kekuasaan kepada orang-orang yang kurang terseleksi, perhatikan bagaimana kualitas para Menteri dan Wakil Menteri yang sekarang ada, Blog I-I menilai hanya 45% yang benar-benar baik selebihnya meragukan karena mereka dipilih secara mendadak dan bukan dipersiapkan jauh-jauh hari dengan penyusunan rencana dan program yang matang untuk sebuah negara sebesar Indonesia. Sungguh Blog I-I sangat sedih dengan kenyataan politik Indonesia saat ini. Beberapa sahabat Blog I-I membantah hal itu dan menyampaikan bahwa Birokrat dapat mendukung siapapun pemimpinnya, namun sadarkah kita bahwa Birokrat sekarang adalah masih sisa-sisa yang bermentalitas pengecut karena puluhan tahun dalam represi sistem orde baru dengan tingkat gaji yang sangat rendah sehingga cenderung korup dan kurang memiliki jiwa kepemimpinan.

Sebagian lagi sahabat blog I-I menyampaikan optimisitas bahwa telah lahir generasi Ratu Adil menyongsong kejayaan Indonesia Raya pada era 2050, namun saya pesimis apabila prosesnya tidak kunjung kelihatan, lihat saja bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita di sekolah. Pendidikan anti diskriminasi yang merupakan masalah dari perbedaan ras-etnis belum menjadi hal yang utama, kita dipaksa untuk memahami Bhinneka Tunggal Ika, namun tidak diajarkan dari kecil untuk menyayangi dan saling menghormati walaupun kita berbeda etnis suku bangsa. Perhatikan bagaimana sakitnya hati saudara kita orang Papua yang mengalami perlakukan diskriminasi rasial secara laten yang ada di dalam hati suku yang berwarna kulit lebih terang. Menyedihkan bukan ?

Bagaimana caranya? semua berawal dari pribadi kita masing-masing dan dari sekolah dari pendidikan dan dari pembangunan sistem sosial ekonomi dan budaya Indonesia yang merangkul dan meramu perbedaan diantara kita menjadi kekuatan multikultural untuk kemajuan Indonesia Raya.

Siapa yang bertanggung jawab, tentu saja pemerintah bersama seluruh aparaturnya, dan dalam alam demokrasi ini inisiatif elemen bangsa dalam bentuk lembaga swadaya maupun individual akan sangat menolong percepatan kemajuan tersebut.

Entahlah, semoga rekan-rekan Blog I-I tidak terkungkung dalam sudut pandang intelijen klasik yang sempit sehingga mengabaikan kesederhanaan analisa bahwa Indonesia tidak terlalu memerlukan pendekatan keamanan, sebaliknya memerlukan manajemen yang profesional, berani, tegas, cerdas, cekatan dan tentu saja tidak mengabaikan pendekatan sosiologis budaya untuk proses pembangunan.

Demikian, semoga bermanfaat.

SW



Labels:

Comments:
Karakter yang sudah terbentuk berabad-abad lamanya secara turun temurun, dimana ada penjajah dan ada yg terjajah,ada penghianat dan ada pejuang.dimana posisi kita tuk membangun negri yang mempunyai potensi yang sangat besar ini?Ingat,kita hidup di dunia yg fana,menuju dunia nyata.Melalui jln2 yg penuh ujian untuk mendapatkan hasil yg baik,dimana tidak akan dapat dilakukan pengulangan selamanya bagi yang tidak baik....
 
saya suka tulisan ini...


kalashnikov balashika
 
suatu bentuk kata yg sangat mudah untuk diucapkan....profesionalisme,apakah kata itu hny sbuah kiasan dan isapan jempol di kalangan golongan penerima income trbesar d bumi ini????Kami masyarakat pendobrak kemajuan menginginkan sbuah bukti yg konkrit dan brtanggung jawab,apakah kita sudah lupa dgn pepatah orang tua kita..." Jika ada manusia yg sakti di bumi persada ini, tembaklah dia dengan peluru emas "
 
semoga manfaat ini dapat juga membuka semua pimpinan dan elemennya.
 
Realita politik Indonesia adalah adanya ketidakpuasan terhadap sebuah kekalahan, yang merasa kalah akan berupaya untuk tetap menang dengan menggunakan upaya2 untuk memojokkan sang pemenang, sebuah kesalahan sang pemenang akan di bongkar habis2an tanpa melihat upaya2 lain yang bernilai positif. Dengan mengatas nama kan rakyat, entah rakyat mana yang dibela atau hanya kelompokknya saja, berusaha membuat pencitraan yang negatif terhadap sang pemenang, padahal sang pemenang adalah hasil demokrasi yang dipilh langsung oleh rakyat, rakyat yang mendambakan kemajuan dan kebaikan negeri. Partisan partai hanya berjumlah kecil dibandingkan suara silent majority yang tidak terlihat menggunakan kaos bergambar apa, tetapi memberikan suara yang signifikan terhadap pemilihan sang pemimpin. Cara membuat pencitraan negatif dengan mengedepankan kesalahan akan menjadi senjata yang berbalik arah terhadap sang pembuat pencitraan. Hal ini telah terbukti, silent majority tak menjatuhkan pilihannya kepada jagoannya, para silent majority akan memilik sosok yang bercitra positif tanpa melihat latar belakang kaos berwarna apa, tak ada yang bisa mengendalikan suara rakyat ini, karena ini adalah real suara rakyat, bukan suara yang diakui sekelompok yang di anggap dibelanya. Kalau hal ini terus berlangsung, hanya berkutat membela kelompok dan golongannya, kemajuan negara Indonesia tak akan tercapai. Berubah pola pikir untuk kemajuan bangsa harus dikedepankan, jangan menyuarakan katanya atas nama rakyat, tapi entah rakyat mana yang dibelanya. Jangan biarkan Indonesia terkungkung dalam maslah yang selalu dipolitisir, harus mulai berpikir maju mengalahkan tetangga2 yang kemajuan ekonominya telah meninggalkan Indonesia beberapa langkah ke depan. Jadilah selalu sang pemimpin yang benar benar membela kepentingan rakyat bukan hanya kepentingan kelompoknya, yang akan menyebabkan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia tenggelam tak berbekas. Ayo bangun kemajuan demi bangsa dan negara Indonesia.
 
Anda menyarankan 'kemandirian' individu, anda menyinggung tentang memberi sumbangan pada negara, dan pada akhirnya anda menyalahkan pemerintah . . .
Individu mana?
Siapa yg harus menyumbang?
Pemerintah adalah kumpulan orang bodoh yang tidak mengerti bahwa mereka bekerja untuk RAKYAT ! ! !
T_T

Politik adalah 'seni' ataupun cara mengorganisasikan dan bergerak. Saya sangat bingung melihat kedangkalan tulisan yang tidak melihat 'kepentingan' politikus dalam sebuah politik. Saya melihatnya sebagai keluhan yang terpendam dan pasti akan terkubur bersama setelah ada tulisan baru dari penulis.

Berbicara tataran 'idealisme' adalah sesuatu yang mengagumkan, tetapi pertanyaan "kenapa?" "kok bisa?" dan pertanyaan men-judge lainnya adalah sebuah 'tataran' kenyataan yang memang telah terjadi.

Begitu Kompleks masalah dalam Politik; KEPENTINGAN adalah 'pusat edar ' politik. Kompromi politik adalah hal kasat mata yang paling dimengerti.
Tidak sedangkal 'pelarian' tulisan yang anda buat ini.

Jika anda mempunyai, sedikit 'energi' untuk beraksi; berhentilah menulis dan samapaikan tentang tulisan ini pada Pemerintah kecuali memang dalam pemerintah sudah tidak ada lagi orang yang mengerti arti 'NASIONALISME' . . .


--------------------------
"Saya hanya merasa ; saya Orang Indonesia saja"
 
I_I oh I-I,,,,Intelijen ku.....yang digaji oleh uang keringat rakyat, jatahmakan gelandangan dan pengemis, jatah makan anak anak yatim negeriku indonesia......but..? Why seringnya I-I kita ini dikendalikan oleh oknum oknum X untk menindas saudara sendiri rakyat indonesia,ku merindukan I_I yang membela hak hak keamanan setiap jiwa rakyat Indonesia, setiap jengkal tanah indonesia
 
setiap organisasi dibentuk karena ada misi, yang perlu diingat bahwa pembiayaan harus realistis dan akuntabel. Selain itu harus berfikir bahwa apa yang dilakukan demia "negara" bukan yang lain.
Share knowledge and Visit me
http://revealbrain.blogspot.com
 
kalian tau apa tidak pemimpin kita itu rata-rata mantan preman coba aja pelajari kelakuan mereka...........
selalu munguti pajak seperti preman di pasar-pasar, duitnya buat hura-hura,
http://ariewayq.blogspot.com
 
indonesia harus pindah ibu kota..

rakyat harus merubahnya..
ibu kota telah streees di nodai para korup di jakarta.
kondisi kota sumpek, sehingga para pemikir negara tidak berpungsi jadi begok.

suatu perpindahan adalah membuat suatu yang baru.

indonesia saat ini tidak berjalan tidak semangat, tidak bersatu, terpecah belah.siapa bilang indonesia mau maju??
selama ibu kota masih di jakarta, pertumbuhan tidak akan terjadi malah kehancuran negara dan terpisah dari NKRI..

undang2 tentang pembentukan partai membuat perpecahan di indonesia.
yang slama ini korupsi tidak bisa ter hapuskan dan hukum media masa yang salah kaprah dan hukum hukum di abaikan karna kepentingan politik.

bendera merah putih tidak lagi di agungkan, di hormati, terhapus oleh warna bendera partai.

ibu kota harus pindah dari jakarta, bila NKRI tetap utuh, dan rasa kebersamaan semakin kuat, tidak monopoli kekuasaan dan korupsi.
 
bner broo....memang bangsa kita ini hrusnya dibagaimankan yah...berganti..ganti presiden yg namanya korupsi tidak bisa diselesaikan dengan baik,rakyat jadi korban exprmnt ekonomi penguasa,politik dinegara ini juga penuh panggung sandiwara hari ini A besok Z......hemmmm.....
mapir broo...

http://bloggmul.blogspot.com
 
ratu adil itu kita sendiri,,,mulai lah berbuat untk dri sendri dan orang lain.
 
Ada ngga sih akses lain buat kerja/magang di bidang intel tanpa hrs lewat STIN?
 
Yo wes ben
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users
Tweet



Facebook Google Digg Reddit Pinterest StumbleUpon Email