Sekolah Tinggi Intelijen Negara » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, February 11, 2010

Sekolah Tinggi Intelijen Negara

Mohon maaf sebelumnya, karena peminat Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) yang sangat tinggi melalui Blog I-I, maka saya secara khusus menuliskan kritikan yang semoga dapat dipahami baik secara akademik maupun strategis dalam proses pembinaan insan Intelijen Indonesia melalui STIN.

Bacalah baik-baik kritikan saya ini, dan jangan dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi STIN, tetapi berpikirlah dalam jangka panjang demi kiprah Intelijen Indonesia yang profesional.

Kritik saya adalah sbb:


Pertama, STIN bagi saya hanya sebuah jalan pintas perbaikan sumber daya insan intelijen yang memiliki berbagai celah yang disebabkan kecerobohan pimpinan dalam memilih proses pembinaan insan intelijen yang cenderung tersentral dan militeristik. Kelemahan yang dihadapi insan intelijen alumni STIN adalah justru karena identitas background pendidikannya dari STIN, selama 4 tahun berada didalam lembaga pendidikan formal setingkat strata I dengan gelar sarjana intelijen, apakah hal ini masuk akal dalam teori-teori dasar intelijen? Saya sungguh-sungguh sangat kasihan dan prihatin dengan gerak langkah adik-adik yang akan sangat berat karena terlalu lama terasingkan dari sistem sosial pendidikan yang wajar misalnya di Universitas umum. Tidak ada satupun lembaga intelijen di dunia yang melakukan kecerobohan sebagaimana di Indonesia dengan proyek STIN. Pada akhir tahun 1970-an saya pernah dilatih CIA dan pada tahun 1980-an saya pernah menyaksikan sistem pendidikan di Mossad, sangat jauh dari apa yang dirancang oleh LetJen (Purn) Hendropriyono yang haus ilmu namun kebablasan karena kurang memperhitungkan masa depan lulusan STIN. Belajar intelijen secara akademik akan selalu bersifat akademik dengan segala metode ilmiahnya, mempraktekan intelijen adalah seperti profesi yang memerlukan latihan, praktek, yang kemudian berproses dalam kematangan profesionalisme. Selamanya seorang insan intelijen bersifat tertutup dengan jutaan cover yang melindunginya, lalu bila kita memperhatikan sarjana intelijen dari lembaga pendidikan yang dikelola oleh lembaga resmi intelijen, dimana letak cover kehidupannya, track recordnya, sejarahnya, dll. sangat sulit bukan? Itulah sebabnya saya kasihan, dan Blog I-I sangat terbuka untuk menolong adik-adik STIN untuk dapat survive di dunia yang kejam, bukan hanya di dalam institusi melainkan di dunia nyata baik di dalam maupun di luar negeri.

Kedua, karena nasi sudah menjadi bubur, dimana STIN sudah berdiri, dikenal luas dan mulai menjadi sasaran cita-cita generasi muda Indonesia karena daya tariknya yang luar biasa, tentunya perlu dipikirkan jalan pembinaan yang meyakinkan untuk menciptakan cover kehidupan yang akan membangun profesionalisme lulusan STIN, sebuah tugas yang tidak mudah. Saya sendiri menduga, betapapun beratnya lulusan STIN untuk membangun kredibilitas jutaan cover kehidupannya, semua akan berpulang kepada individu masing-masing, dengan kata lain jangan mengharapkan institusi akan terus-terusan memfasilitasi proses pengembangan insan intelijen alumni STIN. Akan beruntung apabila adik-adik STIN berada dibawah pembinaan Spy Master yang kaya pengalaman, tetapi bagaimana bila anda jatuh dibawah pembinaan bahkan oleh senior intelijen yang tidak berkualitas....ya saya tegaskan tidak berkualitas. Anda akan hancur dalam singkat, mengalami demoralisasi, menjadi frustasi, dan kecewa dengan kenyataan.

Ketiga, secara kualitas bolehlah saya katakan lulusan SMA yang diterima STIN adalah putra-putri terbaik Indonesia. Kemudian mengalami proses pendidikan yang luar biasa, teori dan teknik yang mutakhir. Namun saya menduga akan miskin inspirasi, kurang semangat, dan sering kehilangan arah, bahkan muncul kecenderungan untuk semena-mena serta kurang menghayati makna menjadi insan intelijen yang mengabdikan diri hanya untuk kepentingan rakyat, bangsa, negara, melalui penyusunan produk intelijen untuk single client, the President. Saya hanya khawatir kualitas terbaik tersebut akan terkooptasi oleh budaya pembusukan yakni menggunakan ilmu intelijen untuk kepentingan pribadi, kelompok dan politik tertentu, serta terkungkung dalam paradigma ketakutan dengan mengedepankan ancaman, sampai-sampai lupa bahwa tidak semua aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilihat dari sisi ancaman. Benar bahwa waspada adalah kunci keselamatan, tetapi intelijen sebagaimana artinya adalah kelompok manusia cerdas yang dapat melihat, menilai dan memperkirakan serta memiliki alternatif jalan keluar yang tepat bagi negara.

Keempat, STIN tidak ubahnya sama dengan sekolah-sekolah milik Departemen seperti STAN, STIS, STSN, STPDN, dll yang diharapkan dapat menjadi sumber dari tenaga-tenaga profesional untuk memajukan organisasi. Hanya saja berbeda dengan lembaga yang lebih terbuka, akan sangat sulit bagi seseorang yang menyandang keilmuan intelijen untuk membangun kerahasiaan dirinya yang sesungguhnya, atau dengan kata lain sejak lahirnya sudah memiliki label intelijen. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Mossad dan FSB yang hampir seluruh operatornya adalah tentara pilihan dari yang paling terpilih, kemudian membangun identitas baru yang disiapkan secara khusus dan benar-benar lahir dalam suatu identitas baru. Berbeda juga dengan model pendidikan intelijen Barat dengan dua contoh CIA dan MI6 yang merekrut lulusan terbaik dari universitas terbaik dari berbagai bidang, kemudian memberikan bekal pendidikan intelijen khusus selama periode tertentu, mulai dari 3 bulan untuk standar posisi clerical, hingga tahunan dan kekhususan yang dititipkan kepada universitas terbaik di masing-masing negara (AS, Inggris). Saya pernah melakukan pengawasan khusus dengan networking pemerhati Indonesia, bahwa sejumlah agen analis CIA dan MI6 belajar di Indonesia dan Australia, semua sangat normal dan bahkan bersahabat dengan banyak orang Indonesia. Perbedaan yang sangat mendasar adalah dalam melatih agen operasional yang tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal yang mendalam, yang diperlukan hanya dasar pengetahuan yang kuat dan pelatihan khusus sehingga memiliki skill yang sangat tinggi dibidang keahliannya. Sudahkan STIN memikirkan hal ini ?

Dalam era yang semakin terbuka, dan gelombang demokrasi yang terus bergerak dinamis di Indonesia, Intelijen Indonesia perlu mengantisipasi masa depan yang sudah semakin dekat dengan berbagai persiapan strategis termasuk dalam mempersiapkan tenaga-tenaga handal melalui berbagai metode rekrutmen, STIN hanya salah satu model dengan berbagai kekuatan dan kelemahannya.

Akhirnya saya ingin bertanya kepada pimpinan STIN, akankah siap untuk membuka diri dengan sistem seleksi nasional yang dapat dipertanggungjawabkan, lebih jauh lagi bagaimana dengan peningkatan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu, dan bagaimana pula dengan rencana pembinaan karirnya di masa mendatang.

Kepada ratusan (entah mungkin sudah mencapai ribuan) pengirim email kepada Blog I-I yang menanyakan tentang STIN, perlu adik-adik pikirkan lagi secara serius apakah studi intelijen menjadi menarik karena fantasi James Bond atau Jason Bourne? ataukah karena kesungguhan ingin mendalami dan mengabdikan diri dalam dunia intelijen Indonesia? keduanya sangat berbeda.

Pada akhirnya perlu saya sampaikan bahwa seleksi masuk STIN saya dengar cukup ketat dan hanya sedikit yang diterima (30 orang setiap tahun, mungkin sekarang sudah bertambah). Bila menginginkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dapat menghubungi Kementerian Pendidikan Nasional untuk menanyakan contact point, atau langsung ke Kantor BIN yang sangat terkenal tertutup itu di kawasan Pasar Minggu. Apabila dari kedua pintu tersebut, adik-adik belum berhasil maka saya menterjemahkan posisi STIN sebagai sekolah yang tertutup dengan sistem seleksi yang tertutup pula, yang mungkin hanya dipahami oleh Tim yang melakukan rekrutmen dan lulusan SMA yang telah direkrut. Tidak banyak yang dapat diinformasikan oleh Blog I-I, karena faktanya ketertutupan merupakan ciri khas dunia intelijen.

Selamat mencoba.

Labels:

Comments:
kenyataan nya seperti yang diutarakan di atas, jika sipil ingin menjadi intelijen jika tidak melalui jalur STIN, apakah bisa melalui jalur lain? setidaknya di STIN mereka mendapatkan pendidikan intelijen yang bisa dijadikan bekal dasar untuk dilatih kembali sehingga menjadi intelijen profesional, baik sebagai analis ataupun agen lapangan.
 
Mmg STIN sangat tertutup namun saya pikir aroma KKN dalam proses rekruitmen Mahasiswa STIN jg masih kental.
 
STIN...wah,lagi2 program mimpi indah dari bapak2 intelijen indonesia. Mari bersama - sama kita coba membayangkan hasil lulusan dari STIN ini,apakah Indonesia sudah mampu mengoptimalkan sumber daya manusia yang sudah lulus di STIN ? Sedangkan untuk mengoptimalkan para pengguna baju seragam saja belum mampu, Intelijen Indonesia hanya terkenal dengan yang namanya Intel Melayu. Yang hanya bisa beroptimal kinerja apabila sudah mengambil "JAPREM" di lingkungannya...Sangat di sayangkan apabila lulusan STIN yang sudah menempuh masa pendidikan 4 tahun hanya bisa menjadi "Intel Melayu 2"
 
bagaimana pak dengan pasca sarjana di UI?yang ketua jurusannya cewek?
mungkin bagusnya seperti CIA yang merekrut personelnya dari lulusan perguruan tinggi yg terbaik
 
sangat setuju dengan tulisan di atas. kaum muda yang tertarik pada profesi intelijen terkesan hanya untuk gagah-gagahan, tanpa tau apa sebenarnya fungsi seorang intelijen.saya pikir dengan adanya STIN, identitas para calon intelijen menjadi berbahaya. bagaimana bila data para calon intelijen dicuri oleh para pemerhati indonesia?? atau banyak yang mengetahui bahwa si calon intelijen ini sedang sekolah di STIN?? setidaknya orang tua mereka akan mengetahui dan mungkin saja informasi itu akan diketahui oleh orang-orang terdekat mereka. untuk para pembaca blog I-I, tolong analisa dan kembangkan lagi berbagai kemungkinan yang akan terjadi lalu simpulkan. apakah identitas calon intelijen akan terjaga??

-elang-
 
saya berharap kepada para calon dapat memertimbangkan kembali pilihan tersebut. tantangan pembangunan negara ini masih banyak dan komplek. Semoga saja bukan karena faktor ekonomi dan prestis belaka tetapi lebih berdasar pada pilihan keyakinan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
 
Benar sekali yang Sampean tulis...memang sebelumnya saya memandang sebagai Intel/Insan Intel harus/wajib masuk sekolah formal seperti itu. Tetapi dengan tekat dan ketekunan belajar dan selalu terbuka pikiran kita,Insting itu timbul dengan sendirinya.Memang dari 40 Peserta pelatihan, 80% terobsesi oleh Ulah james bond..untuk nggaya-gaya an....
 
tertutup tapi saya pun mendapati para agen muda yang banyak sekali berkeliaran di FB. Semoga mereka bisa menjadi anak bangsa yang bisa diandalkan.
 
kanjeng senopati, satu pertanyaan saya yang sejak lam saya pendam, mengapa intelejen indonesia mensyaratkan harus bebas dari buta warna untuk menjadi anggotanya, saya kasihan melihat teman-teman saya yang punya kompetensi dan rasa cinta kepada tanah air, mereka ingin sekali mejadi bagian dari intelejen negara tapi tidak bisa karena mereka buta warna (setahu saya, buta warna yang mereka terima dari tuhan hanya buta warna parsial), tidak adakah keringan sama sekali mengenai hal ini?

salam hormat...
 
info STIN:

"Generasi Percobaan"
Pikirkan kembali buat adik2 yg mau masuk..
demi masa depan anda & keluarga..

Jgn sampai ada generasi yg dikorbankan

Thx senopati wirang
 
iya...setelah lulus, jangan sok ngaku intel....masak intel ngaku intel?? kayak jeruk minum jeruk....huhehueue
 
Saya yakin sekolah ini cuma kamuflase menutupi lembaga pendidikan intelijen yang sebenarnya. Masa intelijen terbuka gitu..pake gelar pula. Saya percaya bangsa ini pintar
 
Cukup beralasan, mari kita tengok diri kita masing-masing,apakah memang terinspirasi dari image dunia inteligent yg diopinikan lewat film,ds atau memang karena niat luhur ingin mengabdi bagi kepentingan bangsa, negara dan agama. semoga dapat direnungkan telebih dahaulu.
 
Di Kampungku, ada satu orang diterima di STAN, satu kecamatan saja tahu. Lha ini....masa iya belum jadi intel satu kecamatan sudah tahu duluan. "Mba Yu.....ponakamu wis diterima di STIN....calon intel lho..Mba Yu!"
Seorang kawan, dalam "tugas" menjadi tukang becak di sebuah kota. Saat keluarganya berkunjung dan kebetulan naik becak, semua tukang becak kenal dengan si kawan. Keluarganya marah2 dibilang kalau si kawan ini tukang becak juga "si Fulan itu polisi, bukan tukang becak!" Kontan saja dengan kejadian ini si kawan pindah "tugas" entah kemana lagi. Begitulah setahu saya seorang intel. Bukan seorang yang bernama Angga Putra, SI (sarjana intelijen).
 
Sekolah Tinggi Informasi Negara Hahahaha........

kamuflase..! tapi ok juga ASAL JANGAN MENGORBANKAN GENERASI MUDA..!!

Bangsat kebohongan!
Hidup kebenaran!
 
saya pelajar kelas 3 sma di salah satu sekolah bording ... dan sekolah saya pernah mendapat sosialisasi dari STIN saya yakin sekolah ini ada... dan saya "SANGAT BERMINAT" untuk sekolah di stin... karna untuk menjadi abdi negara gak selalu perang fisik tapi perang fikir....
 
saya "SANGAT BERMINAT MASUK STIN"
karna saya tahu intel bukan pembohong melainkan merupakan seorang yang jenius yang dapat mempekirakan atau memprediksi dengan akurat....
 
saya "NANDANG PAMBUDI" asal sekolah SMA titian teras jambi......
intelijen bukanlah sosok yang menakutkan atau menyeramkan melainkan intelijen itu adalah prajurit perang yang jenius.... sehingga intelijen memiliki peranan penting dalam pertahanan negara... dan saya adalah salah satu orang yang sangat berminat untuk menjadi salah satunya.....
 
kalo mau liat2 kampusnya, dtg aj ke sentul selatan (smua org jg tau). Tp cm bs liat dr luar ya, coz temboknya tinggi, pake CCTV & dijaga GARDA pake AK-47. Paling2 disuruh pulang lagi..
 
STIN tidak ada keistimewahannya..
sekolah yang aneh yg tidak mau terbuka sama Universita lain, takut tidak dianggap,,,
mahasiswanya dibodohin oleh rektor...
sekolah masi baru kok so'2an...
nih sekolah sebenarnya kedinasan atau tidak????
sesuai dengan yang saya baca, STIN deibawah DIKNAS, tapi kok sekolah ini kedinasan.....
makin tambah aneh,,,,
saya menanyakan keberadaan sekolah ini dan akreditasnya kepada profesor saya yang sekarang dia juga di DIKNAS, katanya sekolah ini belum ada kejelasan D4/S1....
gila...!!! udah 6 tahun berjalan tapi blom ada kejelasan statutanya....
bego....!!!!!
 
kalau saya sih menganggapnya ini biasa saja soalnya kan memang kebutuhan intelijen di negara kita yang cukup luas. jadi teringat film tentang intel yang judulnya saya lupa, intinya dia bercerita kalau yang dibutuhkan sekarang itu adalah human intelijen, secanggih apapun peralatan intelijennya kalau human intelijennya buruk ya sama ajah....mungkin ini perbaikan2 yang telah digagas oleh orang2 intel kita kali ya(gak tau juga soalnya). bukannya STIN itu udah pasti S1 yah??waktu pas wisuda mereka kan diliput banyak media tuh.....yah, ikut mantau aja deh gan...hehehehe
 
Informasi yang sangat berguna bagi mereka yang ingin membantu negara dari segi Intel
 
rekruitment di lakukan di sekolah2 tertentu yg di pilih,, semoga bermanfaat bg yg berminat
 
lah, lantas apa dong hal yang terpenting yang harus dipelajari buat jadi intel??
 
Sangat setuju dengan pendapat Senopati Wirang tentang STIN, izinkan saya mengemukakan bbrp pendapat:
1. Apa yg dilakukan oleh STIN sudah merupakan langkah awal untuk perbaikan dunia intelijen Indonesia. Walaupun masih banyak bbrp hal yg harus diperbaiki seperti yg ditulis oleh Senopati Wirang.

2. Untuk menjadi anggota intelijen memang harus melalui proses perekrutan resmi sebagaimana yg telah ditentukan. Namun tidak menutup kemungkinan Badan Intelijen merekrut orang untuk menjadi anggotanya melalui jalur yg tidak resmi (informal). Namun untuk perekrutan kondisi (informal) tidak semua orang bisa, ini kembali tergantung kebutuhan dari Badan Intelijen tsb ( kasus yg dihadapi, latar belakang calon target).

3. Menjadi insan intelijen memang tidaklah mudah seperti yang kita lihat di film James Bond, Jason Bourne atau seorang intel cewek cantik seperti di serial TV Alias. Namun proses penjiwaan terhadap profesi intelijen itulah yang sangat menentukan keberhasilan & kesuksesan seorang agen didalam melakukan pengembangan karirnya.

4. Proses pendidikan intelijen harus mencakup seluruh aspek kehidupan yg ada di muka bumi ini. Karena sebetulnya aktifitas kehidupan kita sehari - hari tanpa kita sadari SUDAH merupakan kegiatan intelijen juga

Terima kasih
 
kita lihat dulu perkembanagnanya kawan baru..mudah2an g sia2 pembentukan sekolah inteligent ini
 
dari pada STIN mending AL-Kaidah....wkwkwkwkwk
 
Mikir aza, apa mungkin intel lapangan perlu pendidikan 4 tahun, trus spesialisasi mereka apa?
bener tu, jgn mikir james bond ato jason bourne, tu cuma hayal belaka
Ngak ada tu yg namanya license to kill
 
kak, kapan sh pendaftaran stin 2010? OL atao manual?
trus syarat nya pa ja? bisa di lihat dimana?
 
menilai itu mudah,karena berbicara semua orang bisa tetapi coba untuk melaksanakan??
belum tentu semua orang bisa.
yah inilah potret ironis SDM negara kita
banyak yang bisa mengkritik tapi dirinya tak membawa perubahan barang sekecilpun
namun, berbahagialah bagi yang d kritik karena dapat menjadikan kritikan itu sebagai tolok ukur
kalu kedinasan membuka
SEKOLAH TINGGI KRITIKUS DAN KOMENTATOR NEGARA
pasti banyak yang berkompeten
-_-a
 
mohon pencerahan donk... ilmu apa saja yg perlu dipelajari untuk melakukan analisis informasi ... kalau ada mungkin referensi buku2 yg perlu dibaca?
 
STIN nggak ada web nya... bin jg lenyap web nya ... ke (webnya) CIA aja ... numpang belajar wacana dasar2... sampe tiba2 nemu agen (entah dari negara mana) yg lg bertugas rekruitmen orang...
 
beware of those who were there, because they can behave; fraud aimed at duping organized
 
ni kayaknya yang comment cuma orang2 yang sakit hati karena gak bisa masuk stin...hahaha...
cuma bisa ngasih saran yang comment2, kebenarannya kita gak tau seperti apa, jangan cuma asal ngomong aja. gw bukan anak intelijen, tapi ngerti sedikit tentang intelijen, klo dibilang stin gak terbuka dengan universitas lain, ya mungkin karena sistem mereka. Tapi klo gak salah mereka juga sering ngadain kerjasama dengan universitas di negara lain. Ya seperti yang gw bilang kegiatan sama sistem di dalam stin itu kita gak tau, makanya jangan asal ngomong sembarangan.
 
belum paham intel gan.. xixixi..

untuk yang menggebu-gebu menjadi intel, liat ini :
"berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki"

dah siap ente nerima paham itu??

jangan siap-siap sekarang ntar giliran menjalanin gak kiat trus kabur lagi.. xixixixi

menjadi intel itu anugrah dan bukan pilihan dari sebuah keinginan, tp itu lebih kearah takdir dan seleksi alam.. xixixixi

$%9@3$
 
pengen bgt masul stin dan ngebanggain orang tua w sendiri,serta pengen banget ngeruba negeri w ini menjadi yang lebih baik lagi dengan menggunakan otak bukannya otot dan gue pasti bisa
 
Mau nanya..!
Sebenarnya STIN itu sistemnya terbuka ato tertutup?
Saya membaca tulisan anda sepertinya STIN mengandung basis sistim militer frontal dan fanatisme?
 
masa inteligent dr kalangan sipil, udah gtu buka-bukaan lg.. harusnya dari kalangan militer/TNI, sperti central intelegency of agency, mreka merekrut calon agency dr akademi tentara amerika.., itu bru namanya intel!!!!!
 
masa intel dr kalangan sipil...
namannya INTELIJEN/INTELEGENCY... harus dr kalangan militer/TNI.., sperti Central Intelegency of Agency.., mreka mrekrutnya dari siswa siswi akademi tentara di Amrika
 
yang di atas , babakan madang sono . wah waktu bangunan belom jadi 100% sudah kesana.

sudah 3 kali kesono paling 2 ngobrol di post saja . Diskusi dengan bapak2 same tukang kebon. Pernah masuk kesana sama tukang ojek.

Mau keperpustakaan harus dapet ijin ga sembarangan.

ya sekolahan yang bagus para mahasiswanya langsing2 Tinggi tegap sering banyak tamu. pernah diundang silahturami tapi saya ga dateng

Semoga STIN mampu mencetak generasi muda menjadi Intelijen yang beriman . Amin
 
saya sangad setuju dengan tuLisan iniii. .
menarik bagi saya. .
dan seperti itulah yang sebenarnya harus dipikirkan oLeh meeka yang ingin mencoba STIN. .
 
STIN ya....hem......
tu bayi2 yang ngoment diatas, kalo kagak tau inelijen, mending belajar dulu dah buat ujian...pis
 
SAYA SANGAT SETUJU DENGAN URAIAN DIATAS
tahun 1999 saya di rekrut Badan Intelijen Negara yg pada saat itu msh BAKIN, krn memang benar2 tertutup sampai2 surat jalan/tugas senjata dll langsung sy terima dari Kepala pada saat itu di jabat Let.Jend (purn) Ari.J.Kumaat
maka dari itu saya aneh kalau ada Univ.Intelijen untuk apa? untuk gagah2an? biar semua org tau? Badan Intelijen mencari yg terbaik dr yg terbaik, bukan org yg melamar pake ijazah sprti di Pabrik2 yg butuh formalitas ijazah
 
Saya perna baca buku MOSSAD... disitu saya benar2 terkesima membaca kisa perjalan agent2 mossad tersebut. luarbiasa dan sangat profesional.
Setelah membaca buku tsb, saya benar2 termotivasi untuk menjadi agent rahasia seperti mereka. Dan akhirnya Saya menjadi agent tapi agent tiket pesawat :-) waktu itu haha.
BTW saya tinggal di Biak Papua(sebelumnya saya perna berada di Timika, Jayapura dan beberapa tempat di Papua) as you know in Papua has to much agent.
Saya perna mengenal beberapa Agen rahasia BIN dan BAIS. saya sebenarnya pingin seperti mereka tapi bagaimana caranya ya?? ada yg bisa meluruskan jalan ke sana?
(dfk)
 
setahu saya, seorang intelijen itu harusnya sangat2 rahasia, koq jadi ada sekolahnya yah... jadinya aneh aja... bukannya rekrut dan pendidikannya biasanya sesuai dengan tugas di lapangannya. jadi gak pake pend formal. dah bukan intel lagi dong namanya... xixixi maaf nih, cuma orang awam, jadi gak bisa nanggepin terlalu tinggi...
 
bukan murid yang mencri sekolah , tetapi sekolahla yang mencari murid( intelajen).
 
Yth,Pak SW
Sy adalah seorang pemerhati Intelijen
khususnya Intelijen Indonesia,setelah membaca beberapa sumber(buku,blog I-I,majalah) dan mencermati sikon IPOLEKSOSBUDHANKAM di Indonesia,,benar memang apa yg dicomment SW..dunia Intelijen Indonesia semakin amburadul..intelijen Indonesia hampir dipastikan sudah terkooptasi oleh oknum tertentu di luar koridor TUPOKSI Intelijen itu sendiri...tambahan lagi BIN mengalami mati suri....sy hanya bisa urut dada.kalo dah gini apa,dan siapa yg salah pak SW? Thx
 
Teman-teman kuliah saya banyak yang jadi intelijen, memata-matai saya karena kecurigaan mereka. Padahal tidak ada yang perlu dicurigai. Sehingga akibatnya, saya mendapat fitnah. Benar-benar tolol orang2 yang sok intelijen itu.
 
Teman-teman kuliah saya pada jadi intelijen, memata-matai saya karena keecurigaan mereka. Padahal tidak ada yang perlu dicrigai. Akibatnya, yang saya dapatkan adalah fitnah karena ketololan mereka.
 
Teman-teman kuliah saya banyak yang menjadi intelijen karena kecurigaan mereka terhadap saya, padahal tidak ada yang perlu dicurigai dari saya. Akibatnya, yang saya dapatkan adalah fitnah. Benar-benar tolol mereka itu. Saya tahu siapa saja yang memata-matai saya dan menyebarkan fitnah itu, dan juga mata-mata lainnya.
 
hehe Lembaga pendidikan intelejen.seharusnya dia tidak di publikasikan yoah,dan biasanya militer memilih sendiri siapa dari putra putri bangsa yang sanggup dan mampu serta bisa di percaya
 
Setiap institusi mempunyai sistem... Setiap sistem itu mempunyai kekebalan masing".., sebanyak apapun komentar, artikel, kritikus, komentator.. Tidak akan bisa merubah sistem.. Yang sudah ada, seperti contoh diinstitusi "★"..., semua itu ada aturan.. Untuk berkomentar pun ada aturannya.. Bercemin lebih baik dari pada "menunjuk".. Apa yg sudah anda lakukan selama ini untuk negara ini??.. Silahkan jawab sendiri..
 
Bidang ekonomi aja perlu intel, apalagi NEGARA...
Apapun jalannya yg jelas upaya profesionalisme harus dimulai, silakan bila ada ide perbaikan menuju kesempurnaan, yg pasti intelijen harus mampu menjadi salah satu masukan dalam pengambilan keputusan demi BANGSA & NEGARA
 
Intelijen adalah Ilmu dan Seni.
Tanpa Ilmu dan Seni itu tidak bisa dibilang Intelijen. Artikel cukup menarik, namun terlihat sekali bahwa itu merupakan ancaman buat dirinya. Saya salah satu orang yang memiliki hampir ratusan buku tentang Intelijen, baik dalam atau luar negeri. Yang saya cerna dari artikel ini bahwa pendidikan Intelijen tidak perlu dilakukan selama 4 tahun dan harus terbuka??
Apakah ini maksudnya membakar petasan ditangan??
Untuk yang tulis dan yang komen, saya ada pepatah yang sampai skrg msh saya utarakan apabila saya memberikan materi kuliah atau seminar-seminar, pepatah ini saya ambil di era pemerintahan John F Kennedy yang berbunyi "Don't ask what country can do for you, but what can you do for your country"
 
saya sng sekali atas tulisan bapak...tpi yg saya tau, sperti difilm2, agent intelegence itu mmang bnar2 rahasia, yg org2 diskitar'a pun tak tau. apakah ada, skolah itu, tpi mmang bnar2 rahasia? yg klau saya masih skolah, saya juga tetap skolah sperti biasa, tp trnyata jg ikut dlam skolah intel? saya mrasa, mgkn saya adalah yg paling kurang ilmu, n yg paling tdak pantas untk bisa ikut intel, tpi saya bnar2 ingin skali bisa ikut. stidak'a, saya bz mncoba'a...trima kasih bapak. tolong blas ke email saya obhyt_ta@rocketmail.com
 
saya SANGAT BERMINAT untuk masuk STIN, tolong beritahukan informasi untuk saya, agar saya dapat MASUK ke STIN, karena saya sangat ingin masuk ke STIN.
tolong beri tahu saya bad_firestorm@yahoo.co.id
 
Saya yakin orang-orang yang membuat sekolah tinggi intel negara itu mempunyai alasan yang kuat untuk mendirikan sekolah itu. Dan mereka yang mendirikan pasti menpunyai OTAK di atas rata-rata manusia biasa. Untuk coment dan kritik yang tidak sedap itu sudah tak asing lagi di Indonesia ini....... So, jalan utk sukses pasti penuh kritik dan koment tidak sedap.
And last.... Please kirimin info tentang bagaimana cara mendaftar di STIN.
Seng e-mail to max_nugraha@yahoo.com.
 
Salah 1 "korban" STIN adlh spupu saya, yg waktu kls 3 SMA rela PP Jkt--Bdg-Jogja buat seleksi STIN yg akhirnya gagal.
Saya sebut "korban" karena mang dia habis2an buat ikut seleksi itu, ketika dia curhat betapa dropnya dia dg kegagalan ini saya jawab enteng "intelijen itu dunia yg sama2, orang yg ada di dalamnya itu karena takdir seleksi alam bukan karena ego menggebu yg sangat ingin menjadi bagiannya"

Old soldier never die, they just fade away
 
intel itu pintar tapi tdk menggurui..
tajam tapi tdk melukai...
cepat tapi tdk mendahului...
 
Asalamu Alaikum Bpak saya ingin berdiskusi sama bpak tantang Intel.
saya sudah serjana S-1 dibidang Teknik Sipil dan saya ingin ambil S-2 di bidang INTELIJEN.
jadi gimna menurut Bpak bisa tak.
satu lagi pak untuk menjadi seseorang Intel. resiko pa?
tolong krimkan email yg di bwah ni.

deercali@yahoo.com

trima kasih.
 
kak senopati wirang, mau e-mailnya doong yaa :) ty :)
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?







Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users