<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495</id><updated>2012-01-26T13:12:41.991Z</updated><category term='terima kasih'/><category term='Kejaksaan'/><category term='China'/><category term='People Republic of China'/><category term='Korupsi'/><category term='teroris'/><category term='JK-Wiranto'/><category term='STIN'/><category term='aliran'/><category term='Realita politik Indonesia'/><category term='Afghanistan'/><category term='Kapitalis Liberal'/><category term='Depkes'/><category term='Adam Malik'/><category term='Dunia.'/><category term='politik global'/><category term='Kemlu RI'/><category term='diary'/><category term='Umar Patek'/><category term='Blog I-I'/><category term='Indonesia Raya'/><category term='Angkatan Laut'/><category term='Indonesia'/><category term='Islam Indonesia'/><category term='SBY-Boediono'/><category term='klarifikasi soal Noordin M. Top'/><category term='perbedaan tafsir jihad'/><category term='diskriminasi'/><category term='dunia Islam'/><category term='pemilu dan intelijen'/><category term='Terorisme Indonesia'/><category term='insiden unas'/><category term='Al Qaeda'/><category term='Suharto'/><category term='Kepala BIN'/><category term='teori konspirasi'/><category term='web intelijen di dunia internasional'/><category term='United States'/><category term='agama bangsa dan negara'/><category term='Tandzim Al Qo&apos;idah'/><category term='moral story blog I-I'/><category term='Polisi'/><category term='intel asing'/><category term='Noordin M Top'/><category term='Zulkarnain'/><category term='intel'/><category term='politik nasional Indonesia'/><category term='Jahat'/><category term='smart power'/><category term='mujahid'/><category term='CIA'/><category term='BAIS'/><category term='Amerika Serikat'/><category term='Menteri Kesehatan Indonesia'/><category term='Intelijen'/><category term='Sri Mulyani'/><category term='Perang Dingin'/><category term='Neolib'/><category term='Pakistan'/><category term='Teror Mumbai'/><category term='Jihad'/><category term='selamat tahun baru'/><category term='simplifikasi militer dan intelijen Indonesia'/><category term='Kontrol media internet'/><category term='mayoritas-minoritas'/><category term='Wahabi'/><category term='debunking 911'/><category term='Dirgahayu Indonesia'/><category term='pemilu Indonesia'/><category term='Belum Merdeka'/><category term='European Union'/><category term='KPK'/><category term='Jemaah Islamiyah'/><category term='keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'/><category term='militer Indonesia'/><category term='Kolonel Aji'/><category term='dokumen Badan Intelijen Negara'/><category term='ahmadiyah'/><category term='Abu Dujana'/><category term='RUU Intelijen'/><category term='Facebook'/><category term='nabi palsu'/><category term='ICG'/><category term='komunikasi'/><category term='mujahidin'/><category term='Dulmatin'/><category term='Mega-Prabowo'/><category term='Namru AS'/><category term='Tandzim Qaedatul Jihad'/><category term='Salafy Jihadi'/><category term='Jenderal Sutanto'/><category term='Gus Dur'/><category term='makna jihad dalam Islam'/><category term='Ikhwanul Muslimin'/><category term='heritage intelligence'/><category term='BIN'/><category term='mohon maaf'/><category term='FPI'/><category term='intelijen Indonesia'/><category term='propaganda'/><category term='analisa intelijen'/><category term='radikalisme'/><category term='Komunis'/><category term='Osama Bin Laden'/><category term='munir'/><category term='Noordin M.Top'/><category term='TNI'/><category term='kontra intelijen'/><category term='Senopati Wirang'/><title type='text'>INTELIJEN INDONESIA</title><subtitle type='html'>intel oh intel......
&lt;br&gt;
Disclaimer Notice:
All statements of fact, opinion, or analysis expressed in this blog are my own. This is not necessarily reflect any official or views of Indonesian Intelligence Agency or any other Indonesian Government entity, past or present. Nothing in the contents should be construed as asserting or implying Indonesian Government endorsement of an article's factual statements and interpretations.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>330</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-773686643641482536</id><published>2011-08-19T15:18:00.002+01:00</published><updated>2011-08-20T00:22:22.960+01:00</updated><title type='text'>Indonesia 66 Tahun</title><content type='html'>Banyak sekali catatan perjalanan Indonesia selama 66 tahun dalam cahaya keberhasilan maupun dalam gelapnya kegagalan sebuah Republik yang modern dan demokratis. Walaupun saya sudah agak bosan dengan berbagai ketidakseriusan dan lemahnya Pemerintah Indonesia sekarang, namun setiap kali memberikan penghormatan kepada bendera Merah Putih selama beberapa menit seraya menyanyikan lagu Indonesia Raya, tak kuasa air mata dan sesaknya hati ini mendorong untuk menulis kembali untuk seluruh sahabat Blog I-I dan khususnya adik-adik generasi muda Indonesia yang akan mewujudkan Mimpi Indonesia Raya di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan perjalanan sosial bangsa Indonesia maju-mundur, tarik-ulur, bebas-tertahan, tumpang-tindih, dan senantiasa ramai dengan perdebatan tanpa ujung pangkal yang menyebabkan kita lupa akan siapa diri kita dan bagaimana kita akan memproyeksikan masa depan kita sebagai satu bangsa yang bermartabat dari Aceh hingga Papua. Masing-masing kita sibuk dengan urusan-urusan kecil mulai dari urusan pribadi, keluarga, kelompok, partai, dan berbagai hal yang sama sekali tidak menyentuh urusan nasional tentang identitas kebangsaan Indonesia yang dinamis (dapat menguat dan dapat pula melemah ikatannya). Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa kepentingan apapun, saya berani menegaskan di sini bahwa hal ini adalah keterlupaan terbesar dari Pemerintah Indonesia yang cenderung mengabaikan pentingnya persaudaraan Indonesia Raya yang setara (non-diskriminatif), vitalnya semangat patriotisme bela negara dari Aceh hingga Papua, penghargaan kepada keberagaman/multibudaya yang menjadi ciri utama bangsa Indonesia, serta ketiadaan program-program yang menyadarkan seluruh rakyat Indonesia tentang esensi menjadi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat tidak ada sedikitpun upaya untuk mengeratkan secara terus-menerus hubungan antar elemen bangsa yang berbeda dalam semangat persatuan dan kesatuan yang saling menghormati. Kurangnya kesadaran untuk memliki empati terhadap sensitifitas dalam hubungan antar masyarakat yang berbeda baik dari suku, agama, ras maupun golongan yang diperburuk lagi dengan lemahnya penegakan hukum yang menjunjung tinggi rasa keadilan. Pemerintahan Orde Baru setidaknya memiliki mekanisme pukul rata dengan mengharamkan perdebatan SARA dan memukul siapapun yang memancing kegaduhan sosial dari masalah SARA. Pemerintahan Reformasi tampak sama sekali tidak memiliki pijakan yang kuat dalam mendorong terciptanya suasana tertib sosial karena ketiadaan pegangan yang kokoh di masyarakat. Apa yang selama ini terjadi adalah pemaksaan-pemaksaan oleh kelompok (yang lebih kuat) kepada kelompok (yang lemah) atau terjadinya berbagai manuver kelompok untuk menguasai atas nama demokrasi, dimana hasil akhirnya bukan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, melainkan untuk kepentingan golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya adalah semakin rusaknya tatanan hubungan sosial yang tercermin dalam berbagai aksi kekerasan di masyarakat. Terorisme, tindak kekerasan kepada kelompok minoritas, aksi kekerasan kepada kelompok marjinal yang berbeda secara politik sangat sering terjadi meskipun Indonesia telah demokratis, mengapa demikian? jangan-jangan kita sesungguhnya belum demokratis. Demokrasi membuka ruang yang luas untuk kebebasan setiap elemen bangsa dalam mengekspresikan aspirasinya baik melalui koridor pemilihan para wakil rakyat dan pemimpin bangsa (pemilu), maupun dalam bentuk tuntutan dan aksi demonstrasi. Aksi yang ekstrim adalah terorisme dan berbagai aksi kekerasan lainnya seperti gerilya separatisme yang sudah sewajibnya direspon dengan penegakkan ketertiban sosial baik oleh Polisi maupun TNI serta juga pendekatan hukum yang tegas melalui proses peradilan. Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas, dimana penegakan hukum harus sungguh-sungguh dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sosial bangsa kita juga mencatat penyakit-penyakit yang parah dalam berbagai kasus korupsi di tingkat nasional maupun daerah. Sementara kemiskinan, tingkat pendidikan dan pelayanan kesehatan yang buruk masih menghantui perjalanan bangsa Indonesia. Pada sisi lain, kelompok menengah dan profesional tampak terlalu over confidence karena mereka relatif berada posisi yang diuntungkan dalam strata sosial dan seringkali lupa untuk sejenak menengok ke bawah membangun kembali ikatan-ikatan sosial lintas strata sosial yang hanya bisa dilakukan melalui kesamaan jati diri kebangsaan Indonesia dengan kesetiakawanan yang sejati. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri atau kelompoknya dan menggagas jalan elitis yang cenderung mengabaikan pentingnya  gerakan yang lebih merakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-773686643641482536?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/773686643641482536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=773686643641482536&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/773686643641482536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/773686643641482536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/08/indonesia-66-tahun.html' title='Indonesia 66 Tahun'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3119910696607885170</id><published>2011-06-09T15:55:00.005+01:00</published><updated>2011-06-09T16:45:35.844+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RUU Intelijen'/><title type='text'>Komentar SBY tentang RUU Intelijen</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen yang saat ini sedang dibahas tidak memuat pasal-pasal yang melampaui kepatutan tugas intelijen. Presiden juga meminta agar RUU tersebut tetap menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia dan menjunjung tinggi nilai demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita pastikan apa yang diperlukan untuk membikin aman negara ini meski dituangkan di situ, supaya intelijen bisa bekerja dengan baik," kata SBY dalam wawancara yang disiarkan secara nasional oleh Radio Republik Indonesia (RRI), Kamis 9 Juni 2011. "Tapi, yang dikhawatirkan kita semua, ini bisa mengganggu kehidupan yang baik, tentu tak perlu dimasukkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkapnya silahkan baca &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/06/09/brk,20110609-339557,id.html"&gt;RUU Intelijen tak boleh lampaui kepatutan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manis sekali komentar Presiden RI tentang RUU Intelijen dan tentunya akan melegakan mereka yang tidak menghendaki Intelijen Indonesia menjadi kuat. Sebaliknya menambah keyakinan profesional intelijen tentang kurangnya dukungan Presiden yang menyebutkan masalah kepatutan dalam kegiatan intelijen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya yang patut dan tidak patut? Apakah karena kasus Munir, penculikan aktifis, penghilangan paksa? Seluruh intelijen profesional paham betul bahwa hal itu bukan kerjaan Intel sebagai institusi ataupun profesi karena pelakunya jelas memiliki motivasi pribadi demi posisi dan jabatan atau dendam. Sama sekali tidak terkait dengan intelijen aktif yang hanya mengumpulkan informasi belaka. Intelijen Indonesia adalah yang paling lemah, lembek dan menyedihkan di dunia ini serta hanya bergerak pada level yang paling mendasar yakni pengumpulan informasi. Berkat segelintir profesional intelijen yang memiliki komitmen tinggi baik di dalam lembaga resmi intelijen maupun yang tergabung dalam Blog I-I, Intelijen Indonesia  masih dapat berdiri tegak menyediakan informasi terbaik untuk keselamatan bangsa Indonesia. Bahwa masih terjadi tingginya ancaman terorisme bukan semata-mata kesalahan intelijen, melainkan juga karena tidak adanya kampanye/dakwah nasional yang menyadarkan bangsa Indonesia tentang bahaya terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bandingkan dengan water-boarding atau chili-boarding yang dipraktekan oleh CIA dengan bahasa HAM enhanced interrogation. Kegiatan penyiksaan ala CIA yang dapat mengakibatkan kegilaan tersebut dibolehkan karena ancaman terorisme terhadap keselamatan rakyat AS. Perhatikan pula bagaimana operasi pembunuhan MOSSAD di Palestina dan Dubai. Lalu perhatikan juga bagaimana FSB dan SVR membunuhi dan menyiksa pejuang Chechnya dan tersangka teroris. MPS China dengan penyiksaan dan pembunuhan terhadap pengikut Falun Gong dan pemberontak Uighur. Perilaku DCRI Perancis yang mengintimidasi imigran muslim tersangka teroris. GIS Mesir yang melakukan kekerasan terhadap setiap gerakan melawan pemerintah. Mabahith Arab Saudi yang memiliki wewenang tembak di tempat terhadap tersangka teroris, dan masih panjang daftar perilaku lembaga intelijen di dunia yang dapat menjawab pertanyaan patut dan tidak patut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengambil keputusan tentang apa yang patut dan apa yang tidak patut, seharusnya ada semacam konsensus tentang apa yang harus dilakukan dalam merespon ancaman yang dapat mengakhiri perjalanan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Apakah kita mengira dengan demokrasi dan citra baik, ancaman akan hilang? Apakah kita juga cukup yakin dengan penghormatan terhadap HAM, maka ancaman akan hilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kita perlu meningkatkan HAM bangsa Indonesia ! Apa yang selama ini terjadi dalam pelanggaran HAM di Indonesia sesungguhnya lebih kepada penyalahgunaan wewenang atau penggunaan kekerasan yang berlebihan hingga menimbulkan korban. Perhatikan apa yang terjadi dengan tahanan baik dalam kasus separatisme maupun terorisme, mereka diperlakukan dengan sangat manusiawi dan tidak disiksa sebagaimana di AS atau Russia. Amrozi dan Imam Samudra  beruntung diadili di Indonesia yang nyaman serta bebas melaksanakan ibadah selama dalam tahanan. Bagaimana dengan tahanan di Guantanamo dan negara-negara Barat lainnya ? pernahkan kita berpikir, mengapa kita didikte oleh semangat liberalisme yang bahkan melebihi di negara asalnya? Mengapa kita menjadi sangat ketakutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf yang sebesarnya kepada pihak-pihak yang mungkin terganggu dengan artikel saya ini. Saya hanya seorang penyanyi jalan sunyi yang senang bermimpi melihat kebangkitan Indonesia Raya yang berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Intelijen&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3119910696607885170?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3119910696607885170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3119910696607885170&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3119910696607885170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3119910696607885170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/06/komentar-sby-tentang-ruu-intelijen.html' title='Komentar SBY tentang RUU Intelijen'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5340859285591818929</id><published>2011-06-05T15:40:00.004+01:00</published><updated>2011-06-05T17:08:52.919+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='radikalisme'/><title type='text'>Radikalisme, Fanatisme dan Kekerasan</title><content type='html'>Sejak peristiwa 9/11 yang hingga saat ini banyak diragukan sebagai aksi tunggal kelompok Al-Qaeda, di seluruh dunia dan khususnya di dunia Islam berkembang istilah radikalisasi agama yang dianggap sebagai penyebab menjamurnya terorisme. Meski berbagai media massa barat telah menyepakati untuk mempropagandakan Al-Qaeda sebagai musuh bersama umat manusia, namun terasa banyak kejanggalan dimana dalam periode tertentu akhirnya apa yg dipropagandakan sebagai musuh bersama itu ternyata sangatlah lemah baik dari sisi kemampuan maupun teknologi sehingga nyaris mustahil sebagai agen tunggal pelaku tindak terorisme di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya radikalisme yg sering dikumandangkan tersebut? radix (latin) yg berarti akar menjadi inti dari makna radicalism yg secara politik kemudian diarahkan kepada setiap gerakan yang ingin merubah sistem dari akarnya. Sejarah istilah radicalism tersebut bahkan lebih banyak digunakan dalam perjalanan pertentangan politik di Barat dan sangat jarang digunakan dalam dunia agama baik Islam, Kristen maupun yg lainnya. Agama lebih mengenal istilah fanatisme atau fanaticism yang hampir identik dengan keyakinan lahir bathin atas ajaran agama yang kemudian dalam perkembangannya juga dipergunakan dalam berbagai situasi sosial maupun aliran politik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radikalisme hampir selalu disebabkan oleh faktor eksternal dan internal yang terjadi secara simultan sebagai faktor penentu terciptanya proses radikalisasi. Sedangkan fanatisme hampir selalu merupakan proses internal terciptanya keyakinan di dalam hati kita yang bahkan tidak terlalu membutuhkan rangsangan dari eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya membuka artikel kali ini dengan peristiwa 9/11, hal ini untuk menegaskan bahwa 9/11 terlepas dari siapapun dalang di belakangnya adalah faktor eksternal utama yang menyebabkan terjadinya radikalisme agama di dunia Islam. Faktor lainnya adalah konflik di Palestina, okupasi Afghanistan dan Irak serta berbagai situasi yang yang menyebabkan sebagian umat Islam hidup dalam penderitaan dan ketidakadilan. Tentu saja argumentasi ini akan dibantah dengan tuduhan bahwa justru kelompok kecil radikal Islam seperti Al-Qaeda yang memulai terjadinya proses radikalisasi dengan motto anti Barat (AS dan sekutunya) serta mendakwahkan jihad kekerasan untuk melawan Barat. Persoalan ini perlu dikembalikan kepada sumber masalahnya yakni di Afghanistan sebagai tempat percobaan berbagai alat perang guna mendukung industri pertahanan Barat serta persoalan kepentingan politik Israel yang tidak menginginkan dunia Arab yang bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai gerakan politik merupakan satu-satunya yang potensial menjadi alternatif di saat kemenangan ideologi demokrasi liberal atas ideologi sosialisme-komunisme berkembang ke berbagai belahan dunia. Bagaimana mengatasinya? tentu diperlukan kecerdikan tersendiri yang menyentuh hati dan pikiran manusia di dunia bukan? Agama Kristen baik Katholik maupun Prostestan telah lama dikalahkan oleh ideologi demokrasi liberal dalam wilayah kekuasaan politik, melalui proses marjinalisasi agama dan pemisahan otoritas gereja dengan otoritas negara. Akhirnya saat ini, rohaniwan Kristiani hanya duduk di pinggir arena dengan seruan-seruan moral yang bahkan diabaikan oleh semangat kemanusiaan atau nama hak asasi dimana hukum agama (Tuhan) tidak dapat diberlakukan karena manusia lebih paham dan lebih berhak mengatur dirinya sendiri dengan nilai-nilai universal. Itulah sebabnya homoseksualitas dalam artian orientasi seks menjadi hak yang asasi, itulah pula sebabnya nilai-nilai universal manusiawi tersebut saat ini sangat dominan di dunia dan tentu saja hampir semua kitab suci telah ditutup karena tidak lagi sesuai dengan tuntutan manusia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya dunia Islam saat ini sedikit banyak masih berpegangan kepada nilai-nilai keagamaan baik yang tebal maupun yang tipis dipermukaan. Terdapat sejumlah prinsip yang keras yang berpotensi mengganggu propaganda demokrasi liberal misalnya masalah penegakkan hukum syariah. Oleh karena itu diperlukan agen-agen perubahan untuk memarjinalkan ajaran Islam sebagaimana pernah terjadi terhadap ajaran Kristiani. Yaitu untuk keluar dari dunia politik kekuasaan dan hanya mengurusi masalah moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara yang paling berhasil dalam sejarah adalah melalui adu domba dengan melahirkan kelompok radikal dalam dunia Islam. Siapa mereka ? yaitu kelompok awal pendukung utama jihad kekerasan yang kemudian dapat diberikan label sebagai teroris yang teramat jahat, serta para pendakwah yang menganjurkan jalan kekerasan yang akan dibenci umat manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh agama yang turun di dunia ini semuannya menghadapi pembangkangan dari umat manusia yang tidak mau tunduk patuh, bahkan sejumlah orang suci atau nabi juga mati terbunuh karena sebagian manusia akan terganggu dengan dakwah mereka. Berbagai kepentingan politik telah merusak intisari ajaran agama, dan manusia sangat lihai dalam menyusun argumentasi logis untuk membuat umat manusia bingung dan akhirnya meninggalkan agama karena terlalu repot dengan urusan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar ataupun tidak, kitab-kitab yang diyakini politisi modern tentang demokrasi, liberalisme, sistem sosial, dan berbagai mekanisme hubungan antar anggota masyarakat serta nilai-nilai universal telah menggantikan kitab suci agama yang dalam abad-abad sebelumnya mendominasi kehidupan manusia. Apakah hal ini berarti atheisme menang? bukan begitu arahnya karena yang saya maksud adalah pada besar-kecilnya perhatian kita kepada kitab atau buku atau ajaran yang dominan kita yakini sebagai kebenaran walaupun relatif sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada isu radikalisme. Seperti saya ungkapkan sebelumnya, radikalisme dirangsang baik dari faktor eksternal maupun internal yang bekerja secara simultan saling terkait mempengaruhi satu dengan lainnya. Untuk keperluan itu diperlukan agent of influence dari luar maupun dari dalam sehingga akan memancing emosi murni yang dapat diproses menjadi radikal sebagaimana terjadi dalam diri sejumlah pelaku bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen dari luar adalah mereka yang memancing kemarahan dalam diri seorang Muslim, misalnya George Bush Junior yang menyatakan global crusade against terrorism, secara sadar ataupun tidak telah mendorong lahirnya kembali permusuhan Islam - Kristen. Namun pada saat yang bersamaan juga mendiskreditkan istilah crusade yang dalam sejarah Kristen memiliki nama harum. Jauh sebelum 9/11, umat Islam telah menyaksikan berbagai pembantaian seperti pembantaian Sebrenica dimana 8000 Muslim laki, perempuan dan anak-anak dibantai, sementara negara-negara Barat khususnya NATO tutup mata. Di Palestina dan Lebanon berbagai aksi kekerasan Israel saling berbalas dengan kelompok Muslim, ditambah lagi dengan konflik berkepanjangan di Afghanistan, Irak, dan Pakistan yang sedikit banyak juga dibumbui informasi tentang adanya terorisme. Dalam aspek yang lebih lunak, terjadi sejumlah marjinalisasi di Barat terhadap imigran Muslim, mulai dari pelarangan hijab di Perancis, pengetatan ketentuan imigrasi Uni Eropa, pelarangan menara mesjid di Swiss, serta berbagai tindak diskriminasi lainnya. Tentu tidak adil apabila artikel ini hanya melihat sisi langkah yang ditempuh Barat tanpa melihat fakta bahwa sebagian kecil kelompok Islam yang ada di Barat juga mengumandangkan kebencian dan mengancam stabilitas keamanan di Barat. Dengan kata lain terjadi situasi gayung bersambut dari kacamata keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelijen sangat jarang menghacurkan dari luar sebagaimana perang, adalah tugas utama intelijen untuk menghancurkan dari dalam. Sebagaimana terjadi dalam kasus Komando Jihad di Indonesia dahulu, dalam gerakan radikal Islam global tekniknya juga sama. Setelah prakondisi dipenuhi seluruhnya dengan puncak 9/11, maka justifikasi radikalisasi dilanjutkan di negara-negara berpenduduk Islam seperti Indonesia dengan maraknya berbagai serangan teror yang diawali dengan Bom Bali. Siapa para teroris Indonesia tersebut? mereka itulah yang dalam operasi intelijen menjadi agen utama Barat dalam merusak dan mengadu domba sesama Muslim dengan menciptakan perpecahan berdasarkan faham Jihad. Guru-guru mereka adalah sepandai Snouck Hugronje yang fasih berbahasa Arab dan pernah diterima Raja Arab Saudi sebagai akademisi ternama yang mampu melemahkan Islam di tanah jajahan Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak jelas bahwa orang seperti Imam Samudra dkk memiliki keyakinan atas apa yang dilakukannya sebagai tindakan yang diridhoi Tuhan, padahal dalam strategi yang lebih besar, Imam Samudra dkk telah menjadi Agent of Influence yang luar biasa dalam proses pemantapan labeling radikal Islam di Indonesia. Hingga saat ini, tampak jelas bahwa terjadi kebingungan yang luar biasa dalam gerakan Islam garis keras di Indonesia. Kelompok FPI misalnya memilih jalan premanisme dengan pemaksaan kehendak, kelompok ABB beberapa kali berganti baju dalam merapatkan barisan jihad yang teroganisir, ada yang bersembunyi di balik gerakan pendidikan atau politik, serta berbagai manifest lainnya. Tentu saja masih ada gerakan bawah tanah yang memilih jalan teror sebagai keyakinan perjuangan untuk semakin memantapkan Islam sebagai agama teror. Pertanyaannya siapa yang diuntungkan? tentu saja ideologi demokrasi liberal yang semakin tampak mulia sebagai pilihan bersama yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah berarti ideologi demokrasi liberal tersebut begitu buruk dan jahatnya ? Tentu tidak demikian melihatnya. Dari sisi sistem dan teori kekuasaan, sebenarnya tidak ada benar ataupun salah karena semua kembali kepada manusia pelaksanannya. Dalam Kekalifahan Islam yang Korup dan otoriter dimasa akhir Turki Usmani, tentunya kita menyaksikan keruntuhan Kalifah waktu itu lebih banyak disebabkan faktor internal dan bukan karena ajaran Islamnya. Dalam berbagai gerakan anti pemerintah di Timur Tengah dan Afrika Utara belakangan ini kita juga menyaksikan bahwa tindakan sewenang-wenang dari para diktator yang telah menyebabkan umat Islam bergerak melakukan perlawanan untuk keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia? gerakan reformasi terjadi sebelum peristiwa 9/11, sehingga secara teori seharusnya Indonesia lepas dari isu terorisme yang dirancang sebagai perang global oleh AS. Namun ketakutan bahwa demokrasi di Indonesia akan banyak dipengaruhi oleh Politik Islam, menyebabkan dianggap perlu untuk menciptakan barriers (Penghalang) yang kuat terhadap gerakan Islam Politik, khususnya yang diilhami oleh Ikhwanul Muslimin (IM) dalam berbagai bentuknya. Sehingga terjadilah berbagai aksi teror di Indonesia yang merupakan jawaban untuk melemahkan posisi Islam sebagai ideologi untuk kekuasaan politik, hasilnya sekarang dapat kita lihat bahwa mayoritas rakyat Indonesia sebagaimana juga terjadi pada awal kemerdekaan lebih memilih faham nasionalisme dari pada agama. Lebih lanjut konsolidasi demokrasi menjadi semakin mapan. Sadar maupun tidak sadar, peranan mereka yang radikal dan menganjurkan kekerasan telah memberikan dampak menguatnya dukungan kepada demokrasi dan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita menyikapinya? Bangsa Indonesia adalah bangsa yang luwes dan pandai menyesuaikan diri dengan perubahan. Atas pilihan-pilihan yang terjadi dalam catatan sejarah, tentunya kita perlu mengakhiri konflik internal yang disebabkan oleh ketidakmengertian akan strategi global yang menjebak setiap komponen bangsa untuk berkonflik berkepanjangan sehingga melupakan hal-hal yang lebih penting seperti mengurangi kelaparan dan kemiskinan, peningkatan pendidikan, pembangunan ekonomi yang merata, serta pembangunan jati diri kebangsaan Indonesia yang bermoral dan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat,&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5340859285591818929?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5340859285591818929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5340859285591818929&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5340859285591818929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5340859285591818929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/06/radikalisme-fanatisme-dan-kekerasan.html' title='Radikalisme, Fanatisme dan Kekerasan'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3916760919868078210</id><published>2011-06-05T11:53:00.003+01:00</published><updated>2011-06-05T12:19:30.978+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STIN'/><title type='text'>Mohon maaf kepada Pimpinan STIN</title><content type='html'>Sehubungan dengan banyaknya komentar dan pandangan mengenai Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), bersama ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf sekiranya artikel-artikel pada Blog I-I terkait STIN dinilai kurang kondusif bagi pengurus STIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi bahkan pernah menyoroti artikel Jakarta Post terkait STIN (baca: &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2011/04/tentang-ruu-intelijen.html"&gt;RUU Intelijen&lt;/a&gt;) dimana Jakarta Post mencemooh kerahasiaan negara dengan artikel &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/15/bin%E2%80%99s-007-school-spearhead-ri-future-spies.html"&gt;BIN’s 007 school to spearhead RI future spies&lt;/a&gt;. Berbeda dengan cemoohan Jakarta Post tersebut, artikel Blog I-I tidak menyentuh aspek kerahasiaan dan sistem yg telah dibangun di STIN, tetapi lebih sebagai masukan kritis untuk perbaikan dan peningkatan kualitasnya. Misalnya dengan pembangunan cover yang lebih mapan sehingga para calon intel dapat melangkah di tengah masyarakat secara wajar. Blog I-I sama sekali tidak pernah menyebutkan hal-hal yg membahayakan individu ataupun organisasi dari STIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa popularitas STIN meningkat tajam paska artikel-artikel Blog I-I adalah konsekuensi logis dari sebuah lembaga yang diminati banyak generasi muda yang terbuai fantasi ala Jason Bourne dan James Bond edisi terbaru. Harus diakui bahwa sangat sulit dalam membangun lembaga pendidikan intelijen yang berkualitas dan saya menghormati sistem yang dibangun di STIN, dan hingga saat ini harus mengecewakan ratusan atau bahkan ribuan peminat STIN yang menanyakannya melalui Blog I-I.  Komitmen Blog I-I adalah untuk Indonesia Raya, untuk Intelijen Indonesia dan tentu didalamnya lembaga pendidikan Intelijen, sehingga jangan diragukan bahwa Blog I-I bukanlah oposisi terhadap kemajuan dunia intelijen Indonesia, sebaliknya dapat dianggap sebagai sekutu tanpa nama tanpa pamrih. Bila STIN membutuhkan bantuan dalam pengembangan metode akademik intelijen maupun analis, maka Blog I-I akan menyediakannya dalam artikel Blog I-I, silahkan menanyakan perkembangan terkini dari dunia kajian intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan sejak pendiriannya hingga saat ini, telah terjadi banyak kemajuan dalam STIN. Sehingga beberapa bagian artikel Blog I-I yang kritis terhadap STIN mungkin kurang relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan singkat ini dapat mengklarifikasi kegelisahan dari sahabat Blog I-I di dalam STIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3916760919868078210?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3916760919868078210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3916760919868078210&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3916760919868078210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3916760919868078210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/06/mohon-maaf-kepada-pimpinan-stin.html' title='Mohon maaf kepada Pimpinan STIN'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5501113064257294866</id><published>2011-05-04T23:35:00.004+01:00</published><updated>2011-05-05T01:12:41.120+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Osama Bin Laden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ICG'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>Berita Kematian Osama Bin Laden</title><content type='html'>&lt;p&gt;Beberapa hari ini, media massa di seluruh dunia hampir tidak ada yang melewatkan berita tewasnya Osama Bin Laden (OBL) sebagaimana diumumkan secara resmi oleh Presiden AS, Barrack Hussein Obama pada Minggu malam 1 Mei 2011 waktu AS. Berita kematian yang banyak mendapatkan tanggapan di seluruh dunia tersebut mengingatkan saya pada artikel Blog I-I berjudul &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2007/06/dimana-osama-bin-laden.html"&gt;Dimana Osama Bin Laden ? &lt;/a&gt;yang dipublikasikan pada 19 Juni 2007. Bagaimana analisa Blog I-I selanjutnya terkait kematian OBL ? Apakah argumentasi yang dibangun oleh Sidney Jones dari ICG (International Crisis Group) tentang &lt;a href="http://www.thejakartapost.com/news/2011/05/04/implications-bin-laden%E2%80%99s-death-indonesia.html"&gt;dampak kematian Obama &lt;/a&gt;pada harian Jakarta Post edisi 4 Mei 2011 dapat dianggap valid? Seberapa penting kita menyaksikan kelompok seperti Front Pembela Islam (FPI) memperingati atau melakukan do'a bersama untuk OBL, serta sejauh mana kita dapat meyakini analisa ICG yang menggambarkan (1) akan terjadi pembalasan terhadap kepentingan Barat di Indonesia oleh para simpatisan OBL, (2) akan terjadi serangan balas dendam dan (3) penguatan afiliasi atau keeratan dengan al-qaeda baik ideologi maupun jaringan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa ICG begitu cepat merespon setiap peristiwa terorisme di Indonesia, tentunya karena memang pekerjaan utama ICG adalah demikian bukan? perhatikan bagaimana ICG mengilustrasikan berkembangnya model teror individual atau loner di Indonesia yang disamakan dengan perkembangan di Amerika dan Eropa dengan kajian lone-wolf terorist. Perhatikan pula bagaimana dengan cepat ICG mengambil kesimpulan bahwa serangan bom yang menimpa institusi dan aparat kepolisian sebagai balas dendam terhadap sepak terjang Detasemen 88. Mengapa kita digiring kepada analisa-analisa yang tampak sesuai dengan perkembangan di dunia Barat. Apakah benar situasi di Indonesia demikian? Sekarang Sidney Jones pun sangat cepat mengambil 3 kesimpulan serta beberapa narasi tentang implikasi kematian OBL bagi Indonesia. Pembukaan pertanyaan tersebut bukan untuk mendiskreditkan analisa ICG yang sepatutnya juga kita hargai, namun hanya sebagai penggugah intelektualitas komunitas Blog I-I untuk sejenak berpikir lebih jauh ke dalam dunia yang kita kenal dengan istilah komunikasi strategis kepada publik.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan analisa Blog I-I tentang kematian OBL? Serta adakah dampaknya bagi Indonesia? Proses kematian OBL, apabila nanti akhirnya AS membeberkan secara detail termasuk foto OBL yang tewas agak mirip dengan kematian Noordin M Top maupun Dr. Azhari, yakni &lt;em&gt;killed during raid operation. &lt;/em&gt;Sebagaimana dipahami dalam studi kontra terorisme yang diajarkan oleh Barat, bahwa sebuah pembunuhan terhadap tersangka teroris harus sah secara hukum (lawful killing). Sehingga telah menjadi modus operandi umum bagi aparat keamanan baik polisi maupun militer untuk mencapai apa yang disebut sebagai lawful killing. Dalam kasus OBL ada sedikit kejanggalan karena OBL tidak bersenjata dan tetap dibunuh, walaupun akhirnya ahli hukum AS tetap mengklaim pembunuhan OBL tersebut lawful. Pembunuhan OBL juga dibuat sedemikian rupa sebagai sebuah theatre kepada publik dunia tentang keberhasilan puncak dalam perang melawan teror. Paska kematian OBL tersebut, berbagai komentar tokoh politik dunia bersahutan menyampaikan selamat kepada Presiden AS dan pasukan AS, bahkan di AS sendiri terjadi perayaan yang cukup besar memperingati keberhasilan tersebut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana respon kalangan Jihadis di seluruh dunia? benarkah akan ada balas dendam? apabila anda seorang jihadis sejati tentunya tidak akan memiliki sikap pendendam bukan? yang akan terjadi adalah justru berlawanan dengan analisa kebanyakan pengamat Barat termasuk Sidney Jones bahwa akan terjadi pembalasan terhadap kepentingan Barat. Yang akan terjadi adalah sejenak para jihadis menghentikan aktifitasnya melakukan evaluasi dan melihat kembali apa-apa yang telah terjadi selama proses jihadnya. Jihad bagi jihadis sejati tidak ada kaitan dengan OBL, tidak ada apa yang disebut sebagai pemimpin kharismatik, karena hanya ada Allah SWT semata di hati mereka. Bahwa  terjadi proses saling mempengaruhi dalam metode perjuangan jihad dengan kekerasan adalah faktor pertemuan kesamaan cara pandang, dan secara ideologi telah serasi beriringan. Menerapkan cara pandang Barat ke dalam dunia Islam radikal adalah sama dengan melihat pada cermin yang salah, akibatnya hasil analisa cenderung sangat subyektif yang berangkat dari pemahaman Barat yang akan sulit mendeteksi hakikat perjuangan jihad kaum radikal Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali pada kesimpulan Sidney Jones. Pertama, tentang pergeseran kembali kepada target asing (foreign targets) termasuk simbol-simbol Barat khususnya Amerika. Dengan membesarkan opini bahwa akan terjadi pegeseran pada target asing, dengan analisa bahwa simpatisan OBL akan balas dendam kepada kepentingan Barat/AS, maka hal itu sama saja dengan mendorong atau menghasut secara halus kelompok radikal untuk melakukan serangan teror kepada kepentingan/target asing. Karena faktanya kelompok radikal di Indonesia sedang dalam kegamangan karena mereka sendiri dalam keadaan kepayahan karena kurangnya sumber daya dan melemahnya jaringan. Kematian OBL tentu saja melahirkan sikap marah pada satu sisi, namun juga ketidakberdayaan di sisi lain. Justru akibat dari analisa sebagian besar pengamat Barat termasuk Sidney Jones tersebutlah, berkembang potensi ancaman yang bahkan dapat berupa serangan nekat langsung ke jantung kepentingan AS, namun hal ini kecil kemungkinan terjadi di Indonesia, mengingat AS juga telah meningkatkan keamanan seluruh kepentingannya di dunia termasuk di Indonesia. Refleksi dari FPI dengan menunjukan simpati kepada OBL dapat menjadi cermin permukaan. Singkat kata, kondisi kelompok teroris adalah belum memungkinkan untuk membangun serangan, namun karena dipicu oleh ide pergeseran serangan kepada kepentingan/target asing, maka level ancaman terhadap asing paska analisa-analisa tersebut justru meningkat tajam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua akan terjadi serangan balas dendam. Sebagaimana saya sampaikan bahwa bukan sifat jihadis untuk membalas dendam kematian, yang ada adalah tuntutan penegakan keadilan atau qisas. Qisas oleh kaum orientalis dan pengamat Barat disimplifikasi sebagai retaliation atau retaliasi atau balas dendam, karena adanya keseimbangan atara darah dibayar darah, mata dibayar mata, dst. Qisas sesungguhnya tidak tepat dilihat sebagai balas dendam, karena semangatnya bukan didasari oleh perasaan dendam, melainkan lebih di dorong oleh sifat keadilan yang paling sederhana diterima oleh akal sehat manusia. Itulah sebabnya dalam kasus qisas disebutkan bahwa sifat pengampun adalah sangat mulia. Apabila kelompok teroris di Indonesia adalah sungguh-sungguh pengikut atau simpatisan OBL, mereka tidak akan menodai perjuangan dengan mengedepankan balas dendam atas kematian OBL. Apa yang akan terjadi justru jihad akan jalan terus dan bukan untuk atau demi OBL. Singkat kata, tidak ada kepemimpinan secara nyata dari OBL dalam mempengaruhi kelompok-kelompok teroris di kawasan yang jauh dari jangkauan OBL seperti Asia Tenggara. Namun demikian, bahwa terdapat simpati yang besar kepada OBL sebagai tokoh perlawanan yang dapat menjadi inspirasi adalah terbuka lebar-lebar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga, penguatan keeratan hubungan Al-Qaeda baik secara ideologis maupun jaringan. Hal ini adalah satu-satunya kesimpulan Sidney Jones yang dapat diterima oleh Blog I-I, dan potensinya sangat kuat sebagaimana diterima oleh jaringan Blog I-I di kalangan radikal Islam. Pada satu sisi, berkembang semacam pengkajian kembali terhadap ide-ide perjuangan Al-Qaeda dalam berbagai kelompok Islam radikal di dunia. Namun disisi lain, berkembang pula revisi-revisi terhadap ideologi Al-Qaeda, khususnya dalam soal metode. Hal ini telah dicatat dalam sejarah yang menimpa gerakan Ikhwanul Muslimin yang memiliki sejumlah varian dalam metode perjuangannya. Kebanyakan motivasi yang bergerak ke arah metode perjuangan Al-Qaeda tidak didasari oleh keyakinan akan keberhasilan strategi perjuangan, namun lebih didorong oleh semangat jihad dan menjadi syuhada namun tanpa jaminan sukses di dunia. Tampaknya revisi terhadap ide-ide Al-Qaeda akan lebih berkembang, dari pada taqlid buta terhadap ide Al-Qaeda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Blog I-I tidak akan terjebak dalam pembahasan sempit dampak kematian OBL bagi Indonesia, karena diperlukan kewaskitaan dalam mencermati apa yang akan terjadi berikutnya paska kematian OBL. Sebagaimana kita saksikan dalam dinamika perkembangan dunia, perang melawan teror menjadi sesuatu yang tanpa akhir dan tanpa pemenang, karena matinya satu teroris tidak menjamin hilangnya terorisme dari dunia yang dipandang tidak adil ini. Di kala perang melawan teror masih aktif, berkembang situasi yang juga memerlukan perhatian dunia, yakni krisis politik di sejumlah negara Timur Tengah, belum jelasnya akhir dari perang di Afghanistan, serta masih kuatnya kelompok-kelompok anti Barat di Irak. Apabila semua itu harus dihadapi secara bersamaan tentunya akan menghabiskan waktu dan energi negara koalisi, khususnya AS. Padahal disaat yang bersamaan, salah satu potensi kompetitor AS pada level global yakni China dengan tenangnya menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Di saat yan bersamaan pula, dunia mulai melupakan program nuklir Iran yang berpotensi merubah balance of power di kawasan dan di dunia. Berbagai kompleksitas situasi tersebut membutuhkan penyelesaian masalah satu per satu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Blog I-I memperkirakan perang melawan teror akan mendekati masa akhirnya karena dengan simbolisme kematian OBL. Namun hal ini tidak menutup ruang potensi teror yang masih tersisa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paska pengakhiran periode perang melawan teror, AS dan Barat harus berkonsentrasi dalam penyelesaian perang Afghanistan, mengambil langkah yang tepat di Libya, kembali memperhatikan nuklir Iran, dan menerapkan strategi yang tepat dalam "campur tangan" untuk masa depan demokrasi di Timur Tengah. Sayangnya tantangan terbesar  terhadap demokrasi justru berakar pada ajaran Wahabi yang dihembuskan oleh sahabat AS, yakni Saudi Arabia. Hal tersebut menciptakan dilemma yang serius bagi AS maupun negara-negara Barat dalam menyikapi perkembangan situasi di Timur Tengah. Hal ini tercermin dalam sikap negara-negara Barat yang terkesan masih mendukung kekuasaaan para penguasa yang korup dan otoriter di Timur Tengah, namun pada saat yang sama juga mendukung gerakan demokrasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berita kematian Osama terlalu kecil bila kita melihatnya dari konteks geopolitik dunia maupun kawasan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam Indonesia Raya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senopati Wirang&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5501113064257294866?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5501113064257294866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5501113064257294866&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5501113064257294866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5501113064257294866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/05/berita-kematian-osama-bin-laden.html' title='Berita Kematian Osama Bin Laden'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2247945232472045092</id><published>2011-04-08T09:24:00.002+01:00</published><updated>2011-04-08T09:38:01.567+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RUU Intelijen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia Raya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intelijen Indonesia'/><title type='text'>Tentang RUU Intelijen</title><content type='html'>Puluhan sahabat Blog I-I telah mengirim email dan pesan singkat melalui facebook Blog I-I yang intinya menanyakan artikel dan analisa terbaru Blog I-I terkait isu-isu keamanan, intelijen, dan politik nasional Indonesia. Pertanyaan dan pesan singkat tersebut juga menyebutkan beberapa kasus atau perkembangan terkini baik di tingkat nasional, kawasan maupun global. Bukan hal yang mudah untuk memelihara kesinambungan proses analisa isu-isu nasional, kawasan dan global. Blog I-I juga tidak ingin terjebak dalam pola komentar kejar tayang sebagaimana kebanyakan artikel opini di Koran nasional Indonesia yang dengan semangat membahas isu-isu panas yang menjadi perhatian masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Blog I-I kali ini akan secara bersambung membahas beberapa isu yang menjadi perhatian komunitas dan sahabat Blog I-I.  Saya akan mencoba untuk membahas isu-isu yang menjadi perhatian sahabat Blog I-I, dan semoga niat ini dapat terlaksana secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu pertama adalah masalah RUU Intelijen yang belakangan ini menjadi perhatian sebagian besar kalangan civil society yang menyampaikan kekhawatirannya kepada Blog I-I.  Jaring Blog I-I yang aktif dalam kegiatan masyarakat madani di Imparsial, Kontras, IDSPS, Elsam, the Ridep Institute, Lesperssi, Setara Institute, LBH Masyarakat, ICW, YLBHI, LBH Jakarta, HRWG, Praxis, Infid, PBHI, PBH Peradi, Yayasan SET, KRHN, Leip, Ikohi, Foker Papua, PSHK, MAPI, Media Link, AJI, Akatiga, Koalisi NGO HAM Aceh, LBH APIK,  Mer-C, Police-Watch, Urban Poor Consortium, Freedom Institute, CSIS, HuMa, Smeru, Walhi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dll menyampaikan secara serius beberapa hal yang menjadi kekhawatiran atau catatan agar RUU Intelijen tersebut disempurnakan terlebih dahulu sebelum disahkan oleh DPR – RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, sejumlah intel aktif yang peduli dengan masa depan Indonesia juga menyampaikan beberapa catatan yang mempertanyakan proses pembuatan RUU Intelijen yang tampaknya kurang melibatkan masukan dari realita kerja dalam operasi intelijen sipil sebagaimana biasa dilakukan di negara yang demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi ketiga yang diterima Blog I-I adalah dari para pendukung RUU Intelijen yang juga disemangati oleh jiwa kejuangan Indonesia Raya yang beragumentasi tentang pentingnya dasar hukum yang memperkuat posisi intelijen dalam menjalankan tugasnya secara profesional, termasuk di dalamnya wewenang untuk melakukan pemeriksaan intensif kepada mereka yang terbukti mengancam keamanan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua masukan tersebut diatas sebenarnya memiliki benang merah berupa konsensus bersama tentang pentingnya keberadaan UU yang memayungi kegiatan intelijen bagi badan atau lembaga intelijen yang bertugas mengawal perjalanan bangsa Indonesia. Persoalannya lebih kepada isi dari UU yang akan menjadi dasar hukum kegiatan intelijen Indonesia. Mengapa begitu sulit dicapai kesepakatan? Kepentingan apa yang mendorong terjadinya perdebatan yang serius tersebut? Pertanyaan tersebut tentunya harus kita lihat secara jernih agar kita tidak membuang waktu untuk perdebatan yang tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan yang diberikan oleh sahabat Blog I-I dari kalangan civil society mengacu pada Koalisi Advokasi RUU Intelijen, sejumlah diskusi intensif aktivis HAM yang terjadi belakangan ini serta berbagai press conference yang intinya merupakan kritik terhadap RUU Intelijen. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan sahabat Blog I-I dari kalangan civil society adalah masalah wewenang pemeriksaan yang dapat diterjemahkan sebagai penangkapan terhadap mereka yang terbukti mengancam keamanan negara. Argumentasi dari kalangan civil society adalah wewenang tersebut dapat merusak mekanisme sistem peradilan kriminal sebagaimana diatur dalam KUHAP, dimana wewenang penangkapan yang merupakan tugas dari aparat penegak hukum berada di tangan penyidik (Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan - KUHAP). Meskipun pejabat intelijen dapat secara hukum masuk dalam kategori pegawai negeri sipil tertentu yang diberikan wewenang khusus untuk melakukan penyidikan, namun kekhawatiran kalangan civil society adalah lebih kepada metode operasi intelijen yang bersifat rahasia. Hal tersebut membuka peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang pejabat intelijen yang melakukan pemeriksaan yang didramatisir dengan istilah penculikan/pencidukan. Pandangan kalangan civil society tersebut dapat dibantah oleh banyak senior intelijen sipil yang memastikan bahwa berbagai peristiwa penculikan yang terjadi selama Orde Baru hingga insiden Munir sekalipun tidak pernah dilakukan oleh intelijen dari kalangan sipil. Kasus-kasus penculikan yang selama ini terjadi dilakukan oleh intelijen militer atau militer yang memakai baju sipil. Operasi intelijen sipil baik di dalam negeri maupun di luar negeri adalah murni bisnis informasi untuk mengamankan perjalangan rakyat dan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan wewenang untuk melakukan pemeriksaan bagi intelijen sipil adalah lebih kepada pendalaman informasi untuk membongkar jaringan teroris atau jaringan spionase asing yang secara serius ingin melemahkan, merusak atau menghambat kemajuan Indonesia Raya. Wewenang pemeriksaan/penangkapan juga memerlukan kesiapan mental dan fisik yang cukup berat bagi kebanyakan intelijen sipil yang sebenarnya kurang memiliki kapasitas dalam proses penangkapan, misalnya kebugaran fisik yang kuat, penggunaan senjata yang tidak mematikan, teknik melumpuhkan lawan, serta teknik-teknik interogasi tanpa melakukan pelanggaran HAM. Pertanyaannya sudah siapkah Intelijen Indonesia melakukan penangkapan? unsur intelijen yang mana yang akan melakukan penangkapan? Blog I-I memperkirakan elemen intelijen yang sanggup melakukan operasi penangkapan/pemeriksaan tentu berasal dari unsur Kepolisian atau Militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Tim Penyusun RUU Intelijen, Blog I-I menilai perdebatan masalah wewenang pemeriksaan/penangkapan bagi intelijen akan sulit menemui titik temu. Namun demikian, karena telah menjadi kesepakatan bersama berbagai komponen bangsa Indonesia yang mendukung lahirnya UU Intelijen, perlu dipertimbangkan jalan alternatif yang tidak menghambat pelaksanaan tugas pejabat intelijen namun juga tidak memberikan peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang seperti yang ditakutkan kalangan civil society dengan praktek “penculikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Intelijen dapat memberikan wewenang khusus pemeriksaan kepada pejabat intelijen namun tidak kepada seluruh anggota intelijen karena hal ini harus berdasarkan pada status pejabat yang bersangkutan sebagai penyidik pegawai negari sipil (PPNS) sehingga memiliki kualifikasi khusus yang dapat diperoleh melalui pelatihan/training di Kepolisian. Apabila hal ini masih dianggap kurang, maka dapat ditempuh kerjasama antar lembaga, khususnya Intelijen dengan Kepolisian, dimana dengan tujuan operasi yang sama yakni pemberantasan terorisme, pejabat intelijen dapat menyampaikan informasi kepada Polisi untuk melakukan penangkapan dan pejabat intelijen memiliki hak untuk ikut serta dalam proses penyidikan bersama Polisi. Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk operasi-operasi menghadapi kejahatan serius, kontra spionase dan kejahatan transnasional. Dengan demikian, wewenang pemeriksaan oleh pejabat intelijen dapat dipertanggungjawabkan serta tidak secara sewenang-wenang dilakukan terhadap target operasi intelijen. Kerjasama erat antara unit intelijen dalam negeri dengan Kepolisian adalah hal sangat lumrah di negara liberal demokratis yang menjadi acuan kalangan civil society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin lain yang tidak kalah pentingnya bahkan dimulai dari masalah definisi intelijen yakni antara lembaga pemerintah dan alat negara. Meskipun terdapat perbedaan mendasar dalam melihat posisi intelijen sebagai bagian dari pemerintahan yang berkuasa (lembaga pemerintah) dan alat negara (bekerja untuk kepentingan rakyat). Perbedaan pandangan disini dapat diselaraskan dengan mempertegas untuk apa ada UU Intelijen. Apakah khusus untuk menjadi dasar hukum bagi Badan Intelijen Negara (BIN) atau Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN), ataukah mengatur keseluruhan dari segala hal yang terkait dengan fungsi dan lembaga Intelijen di Indonesia. Apabila hanya untuk BIN atau LKIN, maka definisi seyogyanya langsung menyempit kepada lembaga serta tidak perlu mendefinisikan intelijen negara pada bagian umum. Selain itu, untuk menghindari penyalahgunaan BIN untuk kepentingan penguasa secara politik, perlu ada pasal atau ayat yang menyebutkan “bahwa BIN/LKIN tidak dapat mengambil tindakan apapun untuk memajukan kepentingan partai politik manapun.” Cukup adil bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila RUU Intelijen dimaksudkan untuk segala hal terkait intelijen di Indonesia, maka hal ini seyogyanya juga mempertegas landasan filosofis intelijen sebagai pelindung dan pengawal perjalanan rakyat / bangsa Indonesia yang melepaskan intelijen dari ranah politik dalam negeri Indonesia. Dengan demikian, tidak akan terjadi apa yang ditakutkan sebagai operasi memata-matai rakyat sendiri demi kepentingan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin berikutnya adalah masalah penyadapan/intersep informasi. Mengapa kita menjadi ketakutan dengan poin ini, sementara ribuan data penyadapan di KPK-pun tidak dapat secara efektif digunakan untuk membersihkan Indonesia Raya dari kejahatan korupsi. Seluruh lembaga intelijen di dunia memiliki wewenang  yang unik untuk melakukan penyadapan untuk kepentingan nasional. Sejumlah pejabat tinggi dan anggota Dewan menjadi sangat marah ketika menyadari bahwa dirinya menjadi target dalam operasi penyadapan KPK, sehingga muncul wacana mengenai masalah penyadapan tersebut yang kemungkinan besar akan diatur dengan UU tersendiri. Kemudian sebagian kalangan civil society mengkhawatirkan penyalahgunaan penyadapan untuk kepentingan ekonomi dan politik kelompok tertentu. Masalah ini seharusnya tidak perlu muncul apabila masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi kepada lembaga intelijen. Dalam setiap operasi penyadapan intelijen tentunya ada justifikasi yang diotorisasi oleh pejabat intelijen yang berwenang, hal ini juga berlaku untuk penyadapan yang dilakukan oleh KPK. Selain itu, tidak semua informasi yang diperoleh dari penyadapan dapat digunakan secara semena-mena, apalagi yang tidak terkait dengan kasus yang sedang didalami. Lebih jauh lagi, teknik penyadapan yang telah ribuan tahun menjadi bagian dari kegiatan intelijen memiliki tujuan membongkar rencana jahat ataupun jaringan kelompok yang memiliki niat jahat kepada rakyat, bangsa dan pemerintah suatu negara. Maksudnya adalah untuk pencegahan terjadinya praktek kejahatan, sehingga jauh dari apa yang dituduhkan untuk kepentingan politik dan ekonomi kelompok tertentu. Apabila terjadi operasi penyadapan yang tidak dapat dijustifikasi demi kepentingan nasional, tentunya dapat ditempuh proses hukum dan secara internal kelembagaan intelijen, praktek penyadapan yang dilakukan diluar operasi yang diotorisasi adalah sebuah pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin rahasia informasi intelijen sebenarnya merupakan hal yang sederhana, dimana apabila informasi intelijen tersebut terlalu cepat dibuka ke masyarakat akan merusak rangkaian operasi yang lebih besar untuk keselamatan bangsa Indonesia. Keseimbangan antara kebebasan informasi, kebebasan pers dan demokrasi dengan kerahasiaan informasi intelijen terletak pada posisi kritis dari dampak informasi tersebut. Sebagai contoh ringan, ketika Jakarta Post 15 Maret 2011 memuat artikel khusus tentang Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dengan bumbu opini penulis yang mencemooh kerahasiaan STIN (BIN’s 007 school to spearhead RI future spies), apakah hal tersebut tidak dapat dianggap membahayakan kerahasiaan para intel junior dan calon pejabat intel di masa depan, tentunya dapat diperdebatkan bukan. Demi kebebasan informasi apakah masyarakat perlu tahu banyak tentang kerahasiaan kalangan intelijen ? Intelijen positif Asing tentunya sangat senang dengan keterbukaan informasi di Indonesia karena akan menelanjangi kelemahan bangsa Indonesia khususnya intelijen Indonesia, sedih rasanya bukan? Bagaimana apabila kerahasiaan informasi tersebut menyentuh kepada hal-hal yang bersifat kritikal lainnya untuk perjalanan bangsa Indonesia. Bersiap-siaplah untuk melihat terpecah-belahnya Indonesia Raya dalam ceraian dan beraian hubungan sosial yang tidak lagi dapat dieratkan karena egoisme individual dan pemikiran liberalisme terlalu cepat merasuk ke dalam kepala kita, sementara kesiapan mental maupun strategi pembangunan bangsa belum siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN). Saya secara pribadi sangat tidak nyaman dengan istilah LKIN, khususnya terkait dengan kata Koordinasi yang merupakan sebuah kegiatan yang sangat jarang terjadi dalam komunitas intelijen Indonesia. Beberapa Intelijen Asing di Jakarta dan kalangan bisnis intelijen devices pernah mengungkapkan kepada jaring Blog I-I betapa lemahnya hubungan antar lembaga di Indonesia, termasuk lembaga intelijen. Dengan demikian kata Koordinasi hampir identik dengan omong kosong dan sangat tidak efisien. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila memang UU Intelijen untuk lembaga baru, tetap menggunakan BIN atau nama apapun yang tidak mencatumkan secara khusus kata koordinasi. Andaikata memang UU Intelijen dimaksudkan untuk sebuah landasan dalam reformasi intelijen, maka pada tingkat nasional dapat saja dibentuk Dewan Intelijen Nasional atau Dewan Keamanan Nasional yang menjadi pusat komunikasi dari seluruh lembaga intelijen sehingga dapat tercipta keselarasan dalam kerangka kebijakan keamanan nasional. Pada tingkat taktis dimana diperlukan kerjasama antar lembaga, dapat dibangun mekanisme komunikasi dengan bentuk Joint Centre dimana hal ini sangat perlu dalam membangun semangat kerjasama/koordinasi dalam arti yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan merupakan hal yang krusial karena hal ini akan mendorong kinerja intelijen yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya apabila mekanisme pengawasan diperjelas baik yang bersifat  internal kelembagaan (inspektorat) maupun oleh parlemen sebagaimana di negara-negara parlementer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi dan Peran Intelijen yang masih mengulangi rancangan UU tahun 2000-an awal memang memiliki sejumlah kelemahan karena tidak mempertegas spesialisasi fungsi. Kalangan civil society yang tergabung dalam Koalisi Advokasi RUU Intelijen mengungkapkan bahwa RUU Intelijen Negara tidak membagi wilayah kerja antara intelijen luar negeri, intelijen dalam negeri, intelijen militer, dan intelijen penegakan hukum secara tegas. Hal ini dapat disimpulkan bahwa RUU tersebut tidak mencakup aspek yang lebih luas di luar lembaga baru LKIN ataupun BIN. Apabila memang ingin disusun sebuah UU yang memperjelas fungsi spesialisasi, tentunya hal ini jelas merupakan sebuah reformasi total intelijen yang akan juga menyentuh Intelijen Militer yang saat ini berada di Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang masih mengurusi isu-isu keamanan dalam negeri yang menjadi tanggung jawab Polisi dan masih mengawasi isu-isu politik dan aktivis HAM yang diduga antek Asing, serta memfasilitasi pengiriman Atase Pertahanan (Athan) ke luar negeri dan menjadi kendali Athan. Unit Intelijen Luar Negeri yang seharusnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kementerian Luar Negeri, tampaknya juga masih stagnan di dalam BIN dalam jumlah yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Anehnya, intelijen di dalam negeri adalah Unit yang paling luar biasa dengan berbagai lembaga termasuk BIN, BAIS, Polisi, Kejaksaan, Imigrasi, Departemen Dalam Negeri, Pemerintah Daerah, dll. Intelijen penegakan hukum ? mungkin maksudnya adalah unit intelijen yang berada di dalam lembaga penegak hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mengatur intelijen secara luas atau mengatur secara khusus tampaknya belum dipahami dalam perdebatan mengenai RUU Intelijen Negara. Sehingga muncul perdebatan yang berasal dari tafsiran yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur dan Kedudukan yang membedakan pembuat kebijakan intelijen dan pelaksana operasional merupakan hal yang tidak perlu dituliskan secara detail dalam UU. Mengapa demikian? Karena yang menyusun kebijakan intelijen jelas berada pada unsur pimpinan yang kemudian dituangkan ke dalam rencana strategis dan berbagai turunan lainnya. Penanggung jawabnya termasuk kepada tingkat Pimpinan nasional (Presiden) yang menjadi single client lembaga intelijen. Sementara itu, seluruh pejabat intelijen level eselon satu hingga anggota baru adalah semuanya pelaksana operasi intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personel dan rekrutmen intelijen seyogyanya dilakukan secara tertutup namun tetap memperhatikan aspek akuntabilitasnya. Selain itu, seharusnya terdapat pasal yang melindungi kerahasiaan seorang intel, karena hal ini terkait dengan keselamatannya dalam melaksanakan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sipilisasi intelijen merupakan impian sebagian besar insan intelijen Indonesia yang profesional dalam menjalankan tugasnya. Namun apakah hal tersebut akan menjamin perubahan yang lebih baik? Perlu diingat disini bahwa sipilisasi tidak dimaksudkan untuk membangun pagar komunikasi dengan kalangan militer, melainkan bertujuan untuk membangun watak sipil, dimana penegakan hukum, pengutamaan keselamatan bangsa dan penghormatan terhadap HAM lebih utama daripada sikap militeristik yang terpatri oleh kacamata kuda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kemudian menghalalkan segala cara. Dengan kata lain, hanya diperlukan ketegasan bahwa siapapun yang masuk ke dalam lembaga intelijen sipil, harus menanggalkan atribut militernya serta siap menerima budaya operasi intelijen sipil yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak korban, memang kalangan advokasi RUU Intelijen secara membabi buta menggunakan perbandingan negara-negara liberal demokrasi, dimana hak-hak korban dapat dipulihkan apabila terjadi kesalahan baik secara prosedural maupun substansi. Saya mengartikan yang dimaksud dengan hak korban adalah hak (complaint, guagatan) yang muncul karena seseorang menjadi korban akibat tindakan menyimpang intelijen. Hal ini sepertinya berangkat dari semangat membela keadilan bagi Munir S.H. yang gagal melalui jalur hukum karena lemah-nya barang bukti dan saksi. Hal ini sah-sah saja untuk diperjuangkan, namun tidak semestinya berada dalam UU Intelijen karena masih belum jelas apakah RUU intelijen yang diperdebatkan tersebut bersifat khusus untuk BIN atau lembaga baru LKIN ataukah bersifat luas, sehingga berdampak pula kepada lembaga intelijen lain, seperti intelijen militer (BAIS) atau intelijen Polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, masukan dari kalangan intel profesional antara lain mencakup masalah Kode Etik Intelijen tidak seharusnya secara detail diungkapkan dalam Undang-Undang, melainkan berada pada level keputusan pimpinan organisasi yang tujuannya untuk membangun intelijen yang profesional sebagaimana pasal 19 RUU Intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Dewan Kehormatan Intelijen yang akan memiliki kewenangan untuk menyelidiki dan mengadili petugas intel yang melanggar hukum terlalu mirip dengan Dewan Kehormatan Militer. Seharusnya pelanggaran kode etik cukup ditangani Inspektorat sebagai pengawas internal, sedangkan pelanggaran terhadap hukum nasional dapat digugat melalui pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa berlaku kerahasiaan informasi intelijen selama 20 tahun seharusnya dapat lebih secara detail dibedakan. Misalnya untuk informasi dengan klasifikasi 1 dapat dibuka setelah 20 tahun, klasifikasi 2 setelah 10 tahun dan klasifikasi 3 selama 5 tahun atau bahka ada yg dengan klasifikasi biasa dan dapat segera diakses oleh publik. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah pembukaan akses tersebut harus melalui mekanisme yang jelas, misalnya melalui Arsip Nasional karena dokumen dimaksud telah menjadi bagian dari Arsip Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah intersep komunikasi apapun adalah salah satu jantung kegiatan intelijen, sehingga cukup wajar apabila kewenangan untuk penyadapan menjadi bagian integral dari UU Intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ancaman hukuman pembocoran rahasia intelijen seyogyanya juga mengacu pada klasifikasi kerahasiaan informasi, dan kepada setiap insan intelijen yang dituduh membocorkan rahasia negara diberikan hak pembelaan karena terbuka potensi untuk menyalahgunakan pasal dimaksud untuk menyingkirkan anggota intelijen yang idealis atau dianggap sebagai ancaman oleh pejabat diatasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlu pula disadari dan diketahui oleh sahabat Blog I-I dimanapun berada bahwa tidak semua anggota intelijen setuju dengan adanya UU Intelijen yang justru akan mempersulit ruang gerak operasi yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Persyaratan perlunya surat pengadilan untuk penyadapan misalnya hanya akan memperlambat operasi membongkar jaringan terorisme dan separatisme yang jelas sangat membahayakan perjalanan bangsa Indonesia. Beberapa sahabat Blog I-I yang aktif sebagai intel bahkan menentang keras UU Intelijen tersebut, mereka mempertanyakan mengapa tidak dilakukan pembenahan internal yang menyeluruh terlebih dahulu yang mendorong terciptanya organisasi intelijen yang profesional. Diharapkan pimpinan intelijen dapat mengambil sikap tegas membersihkan nama institusi dari tuduhan sepihak yang merusak citra intelijen di mata rakyat Indonesia, dan diharapkan pula pimpinan intelijen berani mempensiunkan anggota-anggota intelijen yang jelas sangat tidak produktif bahkan cenderung menjadi benalu organisasi. Sebuah kebiasaan yang juga sangat buruk adalah dengan mempekerjakan pensiunan militer yang tidak memiliki visi dan misi yang jelas sebagai insan intelijen, sudah waktunya pimpinan intelijen mengurangi belas kasihan kepada para pensiunan yang tidak lagi dapat diandalkan. pengecualian dapat saja diberikan kepada mereka (pensiunan) yang terbukti memang sangat handal dan pantas dihormati sebagai master spy.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terakhir kita juga seyogyanya dapat menghormati dan memahami semangat kejuangan yang menjiwai RUU Intelijen yang telah disusun, sehingga proses revisi dan pengesahannya nanti tidak lagi diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon kepada segenap sahabat dan jaring Blog I-I dapat menyebarluaskannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.  Semoga artikel ini dapat mengobati kerinduan sahabat Blog I-I untuk memajukan Intelijen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Intelijen&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2247945232472045092?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2247945232472045092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2247945232472045092&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2247945232472045092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2247945232472045092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2011/04/tentang-ruu-intelijen.html' title='Tentang RUU Intelijen'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4321151484311535571</id><published>2010-12-04T12:40:00.003Z</published><updated>2011-01-07T06:14:53.559Z</updated><title type='text'>"berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki"</title><content type='html'>Hanya sebuah catatan pinggir yang mungkin dapat mengingatkan jati diri seorang insan intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap prinsip sebagaimana tertera pada judul artikel ini, saya berkali-kali memberikan catatan yang agak berbeda sedikit, namun juga ada hal-hal yang tidak dapat ditawar sebagai prinsip yang harus dipahami seorang intel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan dibaca....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"berani tidak dikenal" adalah salah satu prinsip dasar yang tidak dapat dibantah lagi dalam profesi seorang intel. Apabila kita bertemu/berkenalan dengan seseorang dan yang bersangkutan mengenalkan diri sebagai seorang intel, maka ia telah melanggar prinsip kerjanya sendiri. Penngecualian dapat saja terjadi ketika kita berada di dalam pertemuan komunitas intelijen, ataupun dalam rapat di lembaga pemerintah dimana kita mewakili institusi intelijen, atau bahkan dalam pertemuan internasional dimana pesertanya adalah kalangan intel. Penyakit ingin dikenal biasanya terjadi justru pada tahap awal menjadi seorang intel atau pada saat telah menduduki jabatan yang cukup tinggi. Ibaratnya seperti juga seorang yang baru belajar bela diri silat sabuk putih dengan sedikit kembangan, jurus, belebat dan tapak, kadang kebanggaan menjadi bagian dari perguruan silat melebihi kemampuannya dalam bela diri. Semantara, harga diri seorang pejabat intel, kadang meledak pada saat ada pihak-pihak meremehkannya, sehingga munculah perilaku ingin dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mati tidak dicari" sebenarnya merupakan prinsip &lt;span style="font-style: italic;"&gt;government denial&lt;/span&gt; atau penyangkalan pemerintah terhadap keberadaan seorang intel/agen yang hilang atau mati dalam sebuah operasi di negara lawan. Hal ini sangat penting guna meredam terjadinya konflik yang lebih besar antar negara, sehingga seorang agen yang ditugaskan di luar negeri secara mental selalu siap untuk dianggap tidak ada, dimana kematiannya-pun tidak akan dicari. Prinsip ini hampir tidak pernah diterapkan dalam operasi di dalam negeri, kecuali pada saat terjadi perang saudara atau pemberontakan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"berhasil tidak dipuji" adalah sebuah prinsip yang dibangun untuk memupuk/membangun jiwa rendah hati seorang intel. Mengapa seorang intel perlu memeiliki kerendahan hati? Hal ini semata-mata demi kelangsungan hidupnya untuk membiasakan diri tidak mencari pujian atau berkompetisi semata-mata demi nama atau jabatan. Secara psikologis, manusia akan selalu senang dipuji atas keberhasilan/sukses dalam kehidupannya. Intel juga manusia yang haus akan pujian, namun pujian dalam dunia intelijen perlu direduksi guna menghindari lahirnya kesombongan/takabur yang sering menjerumuskan seorang intel dalam keadaan yang menyedihkan karena kesombongannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"gagal dicaci maki" adalah sebuah prinsip dimana tidak ada kata gagal dalam kamus pekerjaan seorang intel, sehingga hanya caci-maki yang akan diterima seorang intel yang gagal. Mengapa intel tidak boleh gagal? bukankah manusia wajar saja apabila gagal? Dalam kondisi ekstrim, hal ini berangkat dari prinsip keadaan perang dimana kegagalan seorang intel dapat mengakibatkan kematian atau kekalahan dalam perang sehingga tidak dapat diampuni. Apakah kita dapat hidup tenang apabila kegagalan kita menyebabkan kematian banyak sahabat dan rekan kerja kita. Kemudian prinsip tersebut diabadikan dalam dunia intelijen untuk mendorong seorang intel memaksimalkan skill, kemampuan, dan kreatiftasnya dalam menyukseskan pekerjaan operasionalnya. Saya berikan contoh sederhana yang secara filosofis dapat menjelaskan kondisi ini sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang diberikan oleh pimpinan secara mendadak adalah menghadiri pertemuan rahasia di Hotel Indonesia jam 3 dinihari tanggal XX bulan YY tahun 2010. Posisi anda pada jam 2 dinihari di Depok tanpa memiliki kendaraan bermotor. Beberapa kawasan menuju Hotel Indonesia banjir. Dapat dipastikan anda akan terlambat atau bahkan tidak dapat menghadiri pertemuan dimaksud. Apakah anda bisa melapor pada pimpinan dan menyampaikan maaf Pak saya gagal mencapai Hotel Indonesia jam 3 dinihari, sehingga tidak tahu isi pertemuan rahasia dimaksud. Silahkan dipikirkan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4321151484311535571?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4321151484311535571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4321151484311535571&amp;isPopup=true' title='43 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4321151484311535571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4321151484311535571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/12/berani-tidak-dikenal-mati-tidak-dicari.html' title='&quot;berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki&quot;'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>43</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5263075512598373213</id><published>2010-10-04T21:29:00.004+01:00</published><updated>2010-10-04T22:36:17.408+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='People Republic of China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Catatan Agen PiFive tentang China</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu Agen PiFive mengirimkan catatan panjang lebar tentang artikel &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen.html"&gt;Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China&lt;/a&gt; yang secara bersambung dimuat di Blog I-I. Sebagai janji kontribusi dari agen PiFive yang mengikuti dinamika Blog I-I, maka berikut ini silahkan dibaca tulisan agen PiFive tersebut. Semoga bermanfaat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aliansi dengan China? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya akan membahas secara singkat dan langsung ke inti masalah terkait artikel Blog I-I yang kurang berimbang tentang aliansi dengan China, sehingga perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah aneh memperhatikan bagaimana mungkin Blog I-I memuat tulisan yang kurang bermutu tentang aliansi strategis intelijen dengan China. Pertama tulisan itu sangat ceroboh dan dangkal serta kurang tepat sasaran. Mengapa ceroboh? karena terlalu menggiring pada kesimpulan kebangkitan China yang tak terbendung dan berakhirnya peradaban Barat. Tanpa bermaksud membela daya reengineering atau daya reinvention yang berulang-ulang dari peradaban rasional di Barat, perlu kita pahami bahwa pusat perubahan masih akan berada di Barat sampai dengan sekitar 30-50 tahun ke depan dengan asumsi tidak terjadi bencana besar atau perang dunia. Hal ini mengacu pada fakta pusat-pusat akademik atau pemikiran sains maupun tata kelola dunia yang berkembang di Barat jauh meninggalkan kawasan lainnya termasuk di China. Meskipun sejumlah pusat pendidikan tinggi di China telah masuk dalam level dunia, namun jumlahnya masih terbatas dan China masih dibayangi oleh ketimpangan ekonomi yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dangkal? Hanya karena intel resmi China sangat agresif mendekati Indonesia apakah hal itu berarti positif dan dalam kerangka itikad baik kepada Indonesia? Dapat dipastikan latar belakangnya kepentingan belaka bukan. Lalu bagaimanapula dengan intel tidak resminya yang berkeliaran bebas di Nusantara mencai peluang ekonomi dan mulai masuk dalam ranah politik yang kurang terdeteksi oleh intelijen Indonesia? Sulit menjawabnya bukan. Dengan bebasnya penggunaan segala atribut Chinese sesuai dengan asas demokrasi dan kebebasan yang sekarang dianut Indonesia, bagaimana penigkatan SDM intel Indonesia dalam deteksi dini menguatnya pengaruh China di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kurang tepat sasaran? tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Blog I-I mengungkapkan pentingnya berhubungan secara strategis dengan China. Dahulu ketika almarhum Abdurrahman Wahid mengungkapkan hubungan strategis dengan China, dapat dipahami sebagai manuver politik luar negeri Indonesia yang didukung oleh kepentingan ekonomi, sehingga secara politis dapat mendorong keseimbangan hubungan luar negeri Indonesia yang terlalu berat ke AS dan negara Barat. Lagi pula almarhum Gus Dur mengungkapkannya secara santai saja dan tidak serepot artikel Blog I-I yang berusaha meyakinkan komunitas intelijen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah tentang kekuatan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan bersatu di kawasan Nusantara cukup baik untuk terus dipelihara. Bahkan sesungguhnya hal ini sangat penting untuk secara terus-menerus menjadi bagian dari pelajaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk generasi penerus kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan hitam tentang hubungan intelijen Indonesia dengan intelijen Barat berupa penghianatan kepada pemerintahan Presiden Sukarno dan Suharto dapat dijelaskan dalam kerangka kepentingan politik dan idealisme ideologi, dimana terjadi benturan kepentingan strategis yang sesungguhnya kurang mencerminkan kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. Sekarang disaat Indonesia melaksanakan demokrasi, sesungguhnya ujian dalam menterjemahkan kepentingan nasional akan terus diuji oleh masyarakat Indonesia, apa sesungguhnya yang menjadi kepentingan bersama kita ini. Apakah kepentingan kita yang mendesak saat ini menjadi pahlawan dunia? tentunya bukan, karena kepentingan kita yang mendesak adalah menyukseskan pembangunan ekonomi nasional yang semakin mantap untuk kesejahteraan nasional yang merata. Selain pemantapan sistem politik demokrasi yang membangun jati diri kebangsaaan Indonesia yang bersih dari korupsi dan perilaku penyalahgunaan wewenang. Dalam kaitan ini, tentunya kita tidak dapat belajar ke China tentang demokrasi karena sistem Partai Tunggal Partai Komunis China lebih mirip dengan model Golongan Karya di masa lalu. Dengan Pseudo demokrasi dan sistem pembangunan ekonomi campur liberal-sosialis, kita sulit untuk menerapkannya di era demokrasi ini karena akan menimbulkan perdebatan yang tidak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan catatan tentang chinese perantauan dan potensinya, seyogyanya dilihat secara lebih arif dan bijaksana, karena motivasi pemain bisnis dari bangsa manapun adalah pada potensi keuntungan yang dapat diperoleh, kemudahan dan fasilitas. Sehingga persaingan/kompetisi investasi, perdagangan, dll tidak selalu dipengaruhi oleh persaudaraan etnisitas. Andaipun iya, tentunya kita harus mampu membangun kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia Raya yang memperlakukan warga negaranya secara adil. Perhatikan bagaimana komunitas Chinese dan India di Malaysia yang sangat mengeluhkan tentang diskriminasi rasis yang sistematis oleh pemerintahan suku Melayu. Kita sebagai bangsa yang demokratis tentunya tidak akan melangkah mundur seperti Malaysia bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi di Indonesia tidak untuk mengintimidasi atau mengajari negara lain tentang demokrasi, tetapi secara pasif menjadi contoh yang baik. Demokrasi Indonesia-pun belum waktunya dipamerkan secara gegabah karena ujian demi ujian harus kita hadapi untuk membangun sistem yang terbaik untuk bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Nostradamus terbuka dalam berbagai interpretasi dan cenderung dicocok-cocokan dengan jalannya sejarah. Sekali lagi, perlu dipertanyakan rujukan pada ramalan Nostradamus tersebut dalam artikel Blog I-I, sangat tidak ilmiah dan tidak rasional bukan. Cara yang lebih tepat dalam memperkirakan keadaaan di masa mendatang adalah dari catatan sejarah, rencana-rencana, dan trend implementasi/pelaksanaan dari rencana tersebut, seperti misalnya pada saat kita merencanakan untuk membangun sebuah gedung, sangat sederhana bukan. Peradaban Barat yang dikatakan mengalami kerusakan moralitas sebenarnya juga terjadi dimana-mana, sebut saja misalnya di negara kita sendiri, dimana moralitas yang kita banggakan tersebut berada? Perhatikan bagaimana maraknya korupsi, pornografi, tingkat kejahatan, dll. Benarkah kita lebih bermoral daripada orang-orang Barat? Atau Benarkah di China lebih baik daripada di Indonesia atau sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People Republic of China adalah negara besar yang sedang terus menanjak menjadi semakin besar. Dengan karakternya yang sangat hati-hati, China belum akan mengambil posisi dominan seperti AS dalam berbagai isu dunia hingga benar-benar kuat. Intel China termasuk yang terbaik di dunia dengan segala filosofinya yang kuat, sehingga akan sangat prematur menyarankan hubungan strategis tersebut apabila insan intelijen Indonesia masih senang bermalas-malasan serta tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, tulisan ini hanya sekedar berbagai cara pandang yang sedikit berbeda dengan artikel Blog I-I. Semoga kita dapat semakin meningkatkan kemampuan kita bersama dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5263075512598373213?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5263075512598373213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5263075512598373213&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5263075512598373213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5263075512598373213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/10/catatan-agen-pifive-tentang-china.html' title='Catatan Agen PiFive tentang China'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6388023541581746707</id><published>2010-09-30T00:42:00.001+01:00</published><updated>2010-09-30T00:42:43.933+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Selamat Pagi Indonesia</title><content type='html'>Selamat pagi Indonesia Raya, sekian lama saya merenungi perdebatan sejumlah sahabat Blog I-I, dari yang serius sampai yang santai dengan semangat keIndonesiaan yang demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir bathin karena saya melewatkan kesempatan Idul Fitri kemarin dulu untuk menyampaikan permohonan maaf dari lubuk hati yang terluka menyaksikan perjalanan bangsa yang tertatih-tatih dalam konflik, kemiskinan dan keterpurukan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kepada seluruh sahabat Blog I-I yang bertanya-tanya kemana gerangan saya, sekaligus sebagai jawaban bahwa saya masih benafas dan masih yang dulu dengan segala gundah di dalam hati yang tercurah dalam tulisan demi tulisan yang telah dianggap mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kepada bangsa Indonesia yang dengan sangat berat hati saya hanya bisa menulis di dunia maya tanpa kesanggupan atau kekuatan untuk mewujud dalam gerakan sosial, ekonomi dan politik yang membawa perubahan nyata. Tanpa aksi dan hanya bisa bicara dalam tulisan demi tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf pula karena tulisan saya belum tentu dapat menjawab tantangan kita bersama dalam mewujudkan Indonesia Raya yang kuat dan mampu mensejahterakan seluruh rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kepada segenap insan intelijen sipil dan militer yang mungkin tersinggung atau menjadi tidak nyaman dengan keberadaan Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dalam kekuatan do'a kita segenap elemen bangsa yang aktif membangun di berbagai bidang, kita akan mampu mewujudkan impian kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6388023541581746707?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6388023541581746707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6388023541581746707&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6388023541581746707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6388023541581746707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/09/selamat-pagi-indonesia_30.html' title='Selamat Pagi Indonesia'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1881852181142932963</id><published>2010-09-30T00:34:00.000+01:00</published><updated>2010-09-30T00:35:23.381+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BAIS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIN'/><title type='text'>Pembunuhan Karakter BIN dan BAIS</title><content type='html'>Belakangan ini terdapat pihak-pihak yang begitu rajinnya menyoroti BIN dan BAIS sebagai lembaga yang mengerikan, pelanggar HAM, dan mempraktekan kekejaman. Hal tersebut bahkan dikaitkan dengan sejarah masa lalu dimana perjalanan bangsa kita berlumuran darah bangsa kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok misalnya di shoutbox Blog I-I selama beberapa bulan terakhir ini banyak dilempari sampah yang baunya menusuk hidung. Beberapa kalangan dengan nama samaran Mike Yamada atau Mike Casey menuduh BIN dan BAIS berada dibelakang kekejaman yang menimpa etnis tertentu di masa lalu (Cina). Kesalahpahaman yang disebabkan ketertutupan dan ketidaktahuan tersebut telah membangun tembok prasangka, padahal  justru BIN juga yang telah membela mati-matian agar pluralisme dan penegakan HAM menjadi perhatian pemerintah. Mungkin hanya di BIN/BAKIN dimana terdapat seorang agen keturunan Cina yang sangat berpengaruh dan bahkan menjadi guru besar yang malang melintang selama puluhan tahun, dan yang bersangkutan sangat berkepentingan untuk membela keadilan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud membela BIN dan BAIS, perlu kiranya kita sebagai bangsa mulai belajar manfaat keterbukaan serta memberikan catatan sejarah yang benar kepada diri kita dan anak cucu kita. Kita harus memulai kejujuran sejarah dengan lapang dada dan mulai menetapi jalan bangsa kita yang lurus dalam upaya mewujudkan Indonesia Raya. Hanya dengan komunikasi yang baik kita akan dapat menyatu dalam satu kekuatan yang dahsyat untuk mentransformasi bangsa dan negara kita menjadi negara maju nan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasan singkat ini, saya ingin meyakinkan kepada segenap elemen bangsa Indonesia dari etnis manapun bahwa menjadi kepentingan BIN maupun BAIS untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta membangun kesadaran keIndonesiaan yang harmoni dalam persaudaraan sejati, sehingga tuduhan terjadinya operasi brutal yang didalangi oleh intelijen sangatlah jauh dari kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah argumentasi yang kemudian membuat insan intelijen terdiam tentu saja kasus yang masih hangat, misalnya kematian Munir. Bahkan untuk memperhebat tuduhan kepada dunia intelijen Indonesia, disebutkan Munir mengetahui banyak hal dan rahasia yang menyebabkan dirinya mengalami nasib naas di pesawat Garuda. Aneh bin ajaib apabila pihak-pihak yang tahu persis kasus tersebut terdiam seribu bahasa dan membiarkan kehormatan lembaga seperti BIN dikotori oleh kepentingan individual. Memang untuk menjadi seorang pemberani itu sangat mahal di negeri tercinta Indonesia Raya. Saya melihat terdapat kesembronoan Tim Pencari Fakta yang mengkaitkan kematian Munir dengan lembaga intelijen serta menilainya sebagai kejahatan luar biasa. Karena faktanya adalah bahwa hal itu kejahatan individual atau perbuatan melanggar hukum pidana yang dapat dikategorikan sebagai unlawful killing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin menyampaikan kepada segenap pembela HAM bahwa insan intelijen sangat menghormati penegakan HAM dan turut memberikan dukungan karena hal ini baik bagi rakyat Indonesia. Apa yang harus dijaga hanyalah perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan perjalangan bangsa kita. Karena itu, berkomunikasilah dengan baik dengan lembaga intelijen sehingga tercipta saluran komunikasi yang akan sangat bermanfaat bagi masa depan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1881852181142932963?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1881852181142932963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1881852181142932963&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1881852181142932963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1881852181142932963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/09/pembunuhan-karakter-bin-dan-bais_30.html' title='Pembunuhan Karakter BIN dan BAIS'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5993191539574581947</id><published>2010-09-29T23:33:00.002+01:00</published><updated>2010-09-30T00:00:25.842+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolonel Aji'/><title type='text'>Tentang Kolonel Aji Suradji</title><content type='html'>Merespon penyelidikan beberapa pihak dan pertanyaan sahabat blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan telah berspekulasi bahwa Blog I-I ada di belakang Kolonel Penerbang Aji Suradji yang secara terbuka menuliskan sebuah kritik positif kepada pemerintah dan Presiden RI. Blog I-I juga telah menjadi target operasi karena dianggap sebagai aktor intelektual di belakang kasus tersebut serta sejumlah kasus lainnya yang menurunkan kredibilitas pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip bahwa bagi Prajurit dan Perwira aktif tidak ada ruang untuk mengkitik atasan siapapun dalam lingkup militer merupakan sebuah kondisi yang tidak terbantahkan manakala kepemimpinan militer yang ada berjalan dengan baik dengan standar kepemimpinan yang baik. Tujuannya adalah menghindari terjadinya pembangkangan, keresahan atau perpecahan dalam tubuh militer, dan hal ini tidak dapat ditawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu tidak berarti seorang prajurit atau perwira harus menanggalkan akal sehatnya manakala melihat adanya hal-hal yang kurang tepat dalam kepemimpinan militer. Jalan tengahnya adalah komunikasi yang baik dengan menyampaikan pendapat dengan diawali kata "Mohon Izin" atau "If I may". Ketika seorang prajurit atau perwira telah menyampaikan permohonan untuk menyampaikan pendapatnya, maka seyogyanya pemimpin yang baik akan mempersilahkannya dan mendengarkannya baik-baik serta melakukan pengkajian atas apa-apa yang disampaikan oleh prajurit atau perwiranya tersebut. Hal ini merupakan sebuah standar komunikasi yang diterapkan si seluruh militer modern di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kasus Kolonel Aji, perlu ditegaskan bahwa jaringan Blog I-I tidak membatasi pada kelompok-kelompok tertentu, karena terbuka untuk siapapun yang peduli dengan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Membaca sepintas artikel Kolonel Aji, memang terasa ada sebuah tendensi tertentu dengan melakukan perbandingan pimpinan negara kita serta melakukan penilaian hanya dengan argumentasi lemah tentang belum berhasilnya sebuah visi atau misi yang menjadi impian bangsa Indonesia yaitu bebas dari korupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kemudian, tulisan tersebut menghebohkan karena di muat di harian nasional yang berpengaruh adalah semata-mata lebih disebabkan oleh masih belum sehatnya kita dalam berkomunikasi. Demokrasi yang telah kita jalani belum menipiskan kuping kita, belum menahan nafsu fitnah kita, belum dibimbing oleh kejujuran nurani, serta masih dihantui oleh ambisi kekuasaan yang berlebihan, sehingga sekecil apapun isu yang berhembus segera disambut oleh hawa busuk motivasi untuk saling menjatuhkan. Padahal sebuah kritikan belum tentu memiliki esensi yang dibutuhkan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar adanya pandangan sejumlah sahabat Blog I-I bahwa menjadi kritikus lebih mudah dari pada melaksanakannya, bahwa berkomentar lebih mudah dari berbuat. Namun demikian ingatlah bahwa dengan banyaknya komentar dan kritik, maka tercipta sebuah dialog untuk mencari jalan yang lebih baik. Blog I-I sendiripun tidak lebih baik dari komentar-komentar yang berhamburan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, Blog I-I hanyalah sebuah cermin kepedulian yang tidak akan menerobos batas-batas stabilitas perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Sebagaimana juga cermin biasa, akan mudah dipecahkan oleh siapapun penguasa yang tidak senang melihat wajahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga demokrasi yang kita bangun bersama akan mengikis watak non-demokratis yang melekat di hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5993191539574581947?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5993191539574581947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5993191539574581947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5993191539574581947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5993191539574581947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/09/tentang-kolonel-aji-suradji.html' title='Tentang Kolonel Aji Suradji'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2235451336338503716</id><published>2010-07-03T09:17:00.003+01:00</published><updated>2010-07-03T09:36:15.924+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemlu RI'/><title type='text'>Kepada Direktorat Keamanan Diplomatik Kemlu RI</title><content type='html'>Sehubungan dengan rencana seminar/diskusi bertema intelijen oleh Direktorat Keamanan Diplomatik Kemlu RI pada Juli 2010, bersama ini kami ingin menyampaikan dengan sangat menyesal bahwa kami tidak dapat memenuhi undangan sebagai pembicara dalam acara yang sangat penting tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat menghargai dan menghormati Kemlu RI yang merupakan salah satu Kementerian terbaik dalam performance, inisiatif, kreatifitas maupun profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kiranya kurang berkenan dengan surat jawaban yang kami sampaikan secara terbuka kepada publik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yakin Kemlu RI yang dalam sejarah nasional Indonesia telah memiliki peran vital dalam perjuangan dan pembangunan akan terus meningkatkan peranannya dalam kebangkitan Indonesia Raya, membela kehormatan bangsa dan mengharumkan bangsa Indonesia di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jaringan Blog I-I akan membantu siapapun unsur bangsa Indonesia yang memiliki itikad baik, cita-cita luhur dan kemauan untuk kerja keras demi kemajuan bangsa Indonesia. Kami memandang program-program Kemlu RI sudah sangat baik dan patut mendapatkan dukungan, namun demikian metode bantuan yang dapat kami berikan tidak dapat bersifat terbuka seperti dalam bentuk seminar/diskusi. Kiranya penjelasan kami ini dapat dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2235451336338503716?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2235451336338503716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2235451336338503716&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2235451336338503716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2235451336338503716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/07/kepada-direktorat-keamanan-diplomatik.html' title='Kepada Direktorat Keamanan Diplomatik Kemlu RI'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3968765765473863343</id><published>2010-06-13T23:15:00.003+01:00</published><updated>2010-06-13T23:22:30.966+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog I-I'/><title type='text'>Alternatif Arah Pemikiran Blog I-I</title><content type='html'>Sebuah komentar yang sangat berarti dalam turut serta menjaga kredibilitas dan manfaat positif Blog I-I saya baca pagi ini. Kurang lebih intinya adalah berupa saran agar Blog I-I lebih mengarah pada problem solving daripada kritik yang dapat menyinggung atau mengganggu atau menyakiti orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran tersebut sangat menarik dan patut mendapatkan perhatian dari seluruh sahabat Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respon awal, saya akan mengerem tutur kata dan analisa Blog I-I serta akan mencoba untuk memformulasi jalan terbaik dalam mendorong kemajuan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh sahabat Blog I-I, diharapkan dapat menyampaikan pandangan baik secara terbuka dalam bentuk komentar, maupun secara tertutup langsung kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam &lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3968765765473863343?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3968765765473863343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3968765765473863343&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3968765765473863343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3968765765473863343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/06/alternatif-arah-pemikiran-blog-i-i.html' title='Alternatif Arah Pemikiran Blog I-I'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-732469786615637963</id><published>2010-06-12T08:36:00.004+01:00</published><updated>2010-06-12T09:35:08.322+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Temaram Indonesia</title><content type='html'>Ketika saya masih aktif, salah satu hal yang sering saya lakukan dalam kesedihan menyaksikan langkah Republik Indonesia adalah mendengarkan lagu Yang Esa dan Kuasa karya Baskoro berikut ini: (Kepada sahabat Blog I-I yang tahu persis kebiasaan ini mohon tidak usah mengingat-ingat siapa saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temaram teja kan tenggelam&lt;br /&gt;di hamparan kesunyian alam&lt;br /&gt;indah memerah di sela mega membelah&lt;br /&gt;melandai membuai … kuterbuai …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlalu rasa demi rasa&lt;br /&gt;seribu suka pun seribu duka&lt;br /&gt;sela menyela meraja di kehidupan&lt;br /&gt;semasa usia … untai masa …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahagia pada yang kuasa&lt;br /&gt;nestapa pun pada yang esa&lt;br /&gt;tiada kuasa ku tiada daya&lt;br /&gt;tiada kuinginkan kau tinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dahaga sejenak kan sirna&lt;br /&gt;manakala di kalbu kau ada&lt;br /&gt;cerah kesuma buana ramah terasa&lt;br /&gt;seakan derita … usai sudah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahagia pada yang kuasa&lt;br /&gt;nestapa pun pada yang esa&lt;br /&gt;paduka kupujakan&lt;br /&gt;paduka kudambakan&lt;br /&gt;paduka bimbinglah hamba selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paduka kupujakan&lt;br /&gt;paduka kudambakan&lt;br /&gt;paduka bimbinglah hamba selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah lagu yang mendayu-dayu tersebut cerminan hati putus harapan di tepi senja pantai ancol yang masih lebih bersih waktu itu? seribu suka dan seribu duka perjalanan pribadi tidaklah terlalu mempengaruhi ketegaran saya ketika harus melaksanakan tugas negara. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agak mirip dengan suasana ketika mendengarkan lagu speak softly love sambil menyaksikan tumpahnya darah persaudaraan Indonesia Raya hanya demi melanggengkan kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita kembali ke rumah ibadah, mesjid, gereja, pura, vihara, klenteng, atau bahkan rumah hati kita yang kosong karena terlalu sibuk dengan angkara murka dunia. Mengadu kepada Yang Esa dan Kuasa, memohon bimbingan untuk dapat berdiri tegak dalam kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hidup akan terasa manakala kita tidak melupakan suara hati kita yang tulus untuk kemajuan bangsa, keselamatan rakyat, dan jayanya negara. Bahwa Indonesia tetap dalam keadaan temaram bukanlah menjadi beban kita sendiri seperti mitologi atlas memikul dunia. Namun kita juga bukan manusia yang menjual dunia dan kabur dari tanggung jawab untuk mengadakan perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali seluruh artikel dalam Blog I-I bersifat lebay sebagaimana pernah diungkapkan seorang sahabat, hanya tulisan saja dan tidak ada aksi atau bahkan tidak ada pengaruhnya. Namun harapan saya adalah bahwa ada di antara sahabat Blog I-I yang suatu saat memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa dan ingat dengan tulisan-tulisan Blog I-I, kemudian tergerak untuk mengadakan perubahan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Tidak bermental pengecut bahkan siap berkorban jiwa dan raga, namun pada saat yang sama juga cukup cerdas untuk menyusun strategi, memiiki komitmen yang tinggi, serta mampu mengelola negara dengan baik, termasuk perbaikan dunia intelijen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala di kalbu kita bersemayam Yang Esa dan Kuasa, tidak akan ada kekhawatiran sedikitpun tentang apa yang namanya evil injection, ancaman, ketidakadilan, ataupun keraguan untuk melaksanakan kebenaran yang kita yakini. Namun semua itu harus murni dan sederhana (pure and simple) karena seringkali kita tergoda untuk menjadi kompleks dengan segala konsep-konsep yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temaram...teja kan tenggelam, diperbatasan senja, langit kemerahan akhirnya akan hilang dan terselimuti oleh gelapnya malam, indah dalam menyongsong kematian siang hari yang digulung oleh malam hari. Waktunya melakukan introspeksi untuk membangun kembali semangat menyongsong esok hari yang lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Blog I-I, godaan dunia tidak akan pernah hilang karena itulah realita dunia. Kita dapat mengalami suka dan duka, ketakutan, kesedihan, kebahagiaan, dan berbagai rasa hati lainnya. Namun kita juga harus sering melihat pemaknaan yang lebih luas dari pada rasa kita sendiri, perhatikan saudara-saudara kita yang tidak berdaya dalam kemiskinan dan kebodohan, seyogyanya hal itu menyentuh semangat kita untuk menolong dengan segala kemampuan. Waktu dunia terus berputar dan akhirnya kita akan terus berpacu hingga akhir hayat kita, apakah kita lebih senang bermain-main ataukah mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermakna kembali kepada diri kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tenggelamnya teja, kita kembali kepada Yang Kuasa untuk mengadu, menceritakan dunia yang tidak sempurna, dan memohon kekuatan untuk melaksanakan tugas kita dalam bimbingan cahayaNya. Niscaya dengan semua itu, kita akan merasakan semangat tinggi pada saat fajar menjelang, bahkan sebelum ayam berkokok kita akan terbangun dalam keheningan masa yang seolah terhenti. Hati terasa tenang, pikiran lebih jernih dan kita akan berani menghadapi hari yang baru. Ingatlah sahabat Blog I-I semua, setiap senja adalah baru, dan setiap fajar juga baru dan tidak akan pernah sama dengan yang kemarin, oleh karena itu mengapa kita menjadi lemah dalam menjalani hidup kita? Mengapa kita menjadi takut manakala menghadapi the trembling moment?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-732469786615637963?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/732469786615637963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=732469786615637963&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/732469786615637963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/732469786615637963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/06/temaram-indonesia.html' title='Temaram Indonesia'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1141599168417755747</id><published>2010-06-11T12:48:00.002+01:00</published><updated>2010-06-11T13:26:01.347+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Neolib'/><title type='text'>Rezim Neolib</title><content type='html'>Saya faham betul kegelisahan sahabat Blog I-I yang kecewa dengan artikel yang saya tulis beberapa waktu silam tentang &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2010/05/moral-story-dari-sri-mulyani.html"&gt;Moral Story dari Sri Mulyani&lt;/a&gt;, serta masukan dari Grup Diskusi 77-78 dengan catatan panjang lebar tentang rezim Neolib yang merugikan bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal terpenting adalah Blog I-I tidak memback-up argumentasi Rezim Neolib ataupun menyetujui cara pandang yang sangat negatif dari kelompok yang mengaku anti Neolib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Blog I-I ajak dari seluruh sahabat adalah berpikir kritis yang keluar dari jargon politik - ekonomi, serta melangkah pada wilayah strategis dan cara berpikir pragmatis untuk kepentingan bangsa dan negara melalui penentuan taktik yang akan menjadi kebijakan negara dalam mensejahterakan kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan pandangan saya berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam dunia gagasan boleh-boleh saja kita berbicara tentang nasionalisme ekonomi dan ekonomi kerakyatan. Demikian juga dalam dunia gagasan, kita juga boleh saja mendambakan pasar bebas yang akan mensejahterakan seluruh umat manusia di dunia.&lt;br /&gt;Pada kenyataanya ekonomi selalu bergerak dalam nafsu kepentingan memperoleh keuntungan (the nature of economy). Bila kita bicara tentang kendali negara, nasionalisme ekonomi dan ekonomi untuk rakyat, dalam prakteknya pelaku ekonomi tidak akan peduli dengan semua jargon tersebut, yang akan dipedulikan adalah apakah sebuah investasi akan menguntungkan, apakah perdagangan akan menjanjikan keuntungan, apakah sebuah pasar akan mampu menyedot produk sebanyak-banyaknya, apakah ada resiko kerugian dari sebuah tindakan ekonomi. Begitu sederhananya sehingga seringkali agak mengerikan karena keuntungan adalah segalanya dalam prinsip dasar manusia melakukan kegiatan ekonomi. Pasar bebas dengan berbagai "aturan" yang menguntungkan kelompok kapitalis juga menghembuskan janji kesejahteraan yang lebih luas, namun prakteknya adalah penghisapan ekonomi dari lemah oleh yang kuat dan itulah realitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hanya terdapat dua pilihan yaitu ikut dalam perjalanan ekonomi global atau menutup diri dan mengambil kebijakan anti globalisasi (tutup pintu atau konfrontasi kebijakan yang menolak ikut dalam arus ekonomi liberal). Diantara beberapa platform politik dari partai politik, hanya Gerindra yang memiliki platform berbeda dengan ketegasan dalam strategi pembangunan eknominya yang mengambil jargon kerakyatan. Sementara partai politik lainnya cenderung campuran atau bahkan cenderung liberal. Tidak ada yang salah dengan semua konsep dan platform tersebut, karena ujiannya adalah pada saat dihadapkan dengan realita dunia dan kekuatan-kekuatan ekonomi yang ada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kenyataan bahwa kekuatan ekonomi di dalam negeri dikuasai hanya oleh sekitar 1000-an elit Indonesia tentunya tidak dapat diabaikan bukan. Bahkan meskipun fakta telah menunjukkan betapa Aburizal Bakrie melakukan banyak kesalahan di tingkat nasional, kita tidak dapat seenaknya menyingkirkannya dari lingkaran kekuasaan karena Dia salah seorang yang memegang kunci ekonomi Indonesia. Kemudian kenyataan ekonomi global berputar dalam prinsip ekonomi liberal tentunya tidak dapat kita hindarkan. Realita ekonomi mendesak pemerintah Indonesia untuk memilih kebijakan yang tepat bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita sangat ketinggalan dalam perdebatan ideologi ekonomi-politik. Kita juga kurang canggih dalam memahami perkembangan neoliberalisme dan sosialisme. Akibatnya kita terjebak dalam kebiasaan labeling yang cenderung melahirkan sentimen negatif. Padahal saya yakin kita semua ingin memajukan bangsa dan negara. Di dunia Barat, perdebatan antara sosialisme dan liberalisme telah begitu kompleksnya sehingga semakin sulit mencari batasannya dalam realita sehari-hari. Hal itulah yang menyebabkan lengkapnya diskursus atau perdebatan antara kelompok kaum kanan (liberal) dan kiri (sosialis), sehingga lahir kelompok kiri tengah dan kanan tengah yang semakin memperkaya khasanah perdebatan dalam penyusunan kebijakan ekonomi-politik suatu negara. Perbedaannya dengan perdebatan yang dilakukan di Indonesia adalah adanya kemauan seluruh pihak untuk saling mendengarkan dan mencari jalan yang terbaik untuk negara. Tradisi tersebut tampaknya kurang kuat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, saya sangat menghormati pihak-pihak yang kritis dan mengembangkan analisa yang mengkritisi pemerintah dan seyogyanyalah pemerintah mau mendengarkan. Namun kritikan tersebut harus dibangun dalam semangat kemajuan Indonesia dan bukan menghancurkan sendi-sendi yang ada, karena kita akan semakin ketinggalan. Kepada pemerintah, janganlah terlalu alergi terhadap kritik dan masukan dari masyarakat khususnya yang bersifat ilmiah dan penelitian terhadap bahaya terlalu larutnya Indonesia dalam faham liberalisme ekonomi, karena fakta-fakta di dalam negeri telah tampak ketidakseimbangan dalam pembangunan ekonomi, dimana kelompok ekonomi lemah semakin tersingkir dengan masuknya gurita ekonomi khususnya di bidang retail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kebijakan pemerintah apapun bentuknya baik yang bersifat proteksi ekonomi wong cilik, maupun yang pro-pengusaha besar seyogyanya telah melalui proses evaluasi yang seksama sehingga akan dapat mencapai manfaat terbesar dan bukan dikendalikan oleh elit-elit tertentu sehingga miskin visi kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga catatan saya ini dapat mengklarifikasi posisi Blog I-I dalam perdebatan tentang Rezim Neolib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1141599168417755747?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1141599168417755747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1141599168417755747&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1141599168417755747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1141599168417755747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/06/rezim-neolib.html' title='Rezim Neolib'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6337879036475846369</id><published>2010-06-11T12:06:00.002+01:00</published><updated>2010-06-11T12:41:21.063+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskriminasi'/><title type='text'>Anti Diskriminasi Suku Bangsa</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu seorang sahabat Blog I-I yang mengaku berasal dari rumpun bangsa Melanesia menyampaikan surat kepada saya tentang masih kuatnya diskriminasi di Indonesia. Yang bersangkutan menyampaikan bahwa di Papua telah lama berkembang perasaan berbeda karena dibedakan dalam benak dan hati anak-anak Papua, akibatnya mereka tidak merasa sebagai bagian dari kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa baik yang menginduk pada suku bangsa Melayu Tua, Melayu Muda, Chinese, India, Arab, maupun Melanesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tugas intelijen dan Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan pengkajian secara serius dan segera mengambil langkah-langkah yang efektif dalam membangun identitas keIndonesiaan secara bermartabat dan berdasarkan pada keiklashan dan pemabngunan moral-spirit bangsa yang egaliter tanpa membedakan ras dan suku bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia didalamnya masih menyimpan potensi besar rasisme dimana antar suku bangsa saling memiliki prasangka dan sikap diskriminasi. Orang Jawa misalnya sering dihina dengan sebutan Jawa koek dan menjadi bahan banyolan di Jakarta, Orang Padang dilabelkan dengan sikap kikir (padang bengkok), orang Batak dengan kekasarannya, orang Betawi yang kampungan, orang papua dengan kebodohan dan hinaan lainnya, dst..dst. Sadarkah kita bahwa semua sikap saling menghina tersebut telah mengoyak persaudaraan kita dalam kebangsaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bila dikatakan tidak ada bangsa Indonesia, yang ada hanya kumpulan suku-suku bangsa yang secara iklash bersatu membentuk satu bangsa baru Indonesia, hampir sama dengan Amerika yang sebenarnya merupakan kumpulan bangsa imigran dari berbagai benua di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya laten dari diskriminasi antar suku bangsa jauh lebih besar dari pada laten komunis ataupun radikalisme agama, karena taruhannya adalah pecahnya Republik Indonesia menjadi negara-negara kecil yang lemah. Oleh karena itu, perlu dibangun sejak dini bagaimana sesungguhnya potret bangsa Indonesia yang ideal dan kita harapkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia yang beraneka suku bangsa harus dibangun atas dasar kesamaan derajat sebagai umat manusia. Kita lahir setara sebagai manusia terlepas dari latar belakang etnisitas yang melekat sebagai keturunan dari orang tua kita. Prinsip ini harus ditanamkan sejak usia dini di sekolah dasar dan diperkuat hingga dewasa melalui peraturan yang menjamin bahwa perlakuan diskriminatif melanggar hukum positif di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah negara demokratis, sikap anti diskriminasi adalah sejalan. Bahkan dari kacamata adat istiadat maupun agama yang dipeluk di seluruh Nusantara, penghargaan terhadap kemanusiaan yang tidak membedakan latar belakang suku juga sejalan. Lalu dimana letak kesalahan kita sebagai anak bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya pengkotak-kotakan dalam hubungan sosial dan kuatnya penanaman rasa berbeda diantara kita telah melahirkan batasan dalam hubungan sosial yang sehat. Kita hampir selalu menyimpan prasangka terhadap sesama saudara bangsa kita. Padahal kita semua pada saat yang bersamaan mendambakan persaudaraan yang tulus dalam membangun Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita membangun prinsip-prinsip anti diskriminasi di sekolah dasar dan lanjutan, serta menciptakan koridor hukum yang melindungi kita semua dari tindakan diskriminatif, maka diperlukan pula sebuah tata kelola sosial, ekonomoi dan hukum yang menjamin bahwa prkatek diskriminatif tidak akan dapat berkembang. Hal itu mencakup pendidikan publik melalui berbagai media yang dilakukan secara terus-menerus, bukankah kita memiliki Kementerian Kominfo yang seharusnya melakukan kegiatan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat masyarakat, gerakan civil society yang turut memperkuat pondasi anti diskriminasi perlu didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah. Hal ini akan secara efektif menembus sekat-sekat perbedaan. Namun prosesnya tidak boleh dipaksakan melainkan berjalan secara wajar, normal dan bertahap untuk menghindari resistensi yang bersifat kekerasan atau provokasi tertentu dengan memperkuat isu perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan di propinsi lain dalam isu diskriminasi relatif telah mulai menghilang, namun di Papua tampaknya hal ini masih cukup besar dan kita semua wajib membuka mata dan memperhatikan apa yang terjadi di Papua. Perbedaan fisik yang cukup menyolok seringkali menimbulkan "rasa" berbeda, hal inilah yang harus kita proses dalam persaudaraan sejati demi masa depan kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Apabila "rasa" tersebut tidak dapat diatasi dengan pendidikan, dengan pembangunan komunikasi sehat, dengan proses pembauran yang wajar serta dengan sikap saling menghormati, tentunya kita akan terus terjebak dalam pe"rasa"an berbeda, membedakan dan dibedakan. Kesempatan kepada saudara kita di Papua untuk belajar di propinsi lain dan diperlakukan secara wajar sebagai saudara sebangsa akan mendorong terjadinya penigkatan saling memahami. Namun proses ini tidak dapat terjadi dalam waktu semalam, karena masyarakat begitu luas dan banyak elemennya sehingga, konflik personal kadang kala dikembangkan menjadi konflik yang bersifat antar ras, hal inilah yang harus dihindari. Pengalaman-pengalaman personal tidak dapat menjadi justifikasi terjadinya praktek diskriminasi secara terstruktur, namun berdasarkan pengalaman personal tersebut kita dapat gunakan untuk menghindari terjadinya diskriminasi yang disengaja secara struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh sahabat Blog I-I di Papua. Jangan takut dan khawatir dalam memperjuangkan kesamaan derajat dengan seluruh komponen bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6337879036475846369?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6337879036475846369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6337879036475846369&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6337879036475846369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6337879036475846369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/06/anti-diskriminasi-suku-bangsa.html' title='Anti Diskriminasi Suku Bangsa'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3547547234063628679</id><published>2010-05-22T14:44:00.005+01:00</published><updated>2010-05-22T15:57:15.519+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sri Mulyani'/><title type='text'>Moral Story dari Sri Mulyani</title><content type='html'>Dua hari lalu Bapak menerima rekaman pernyataan Sri Mulyani di Hotel Ritz Carlton dan mendengarkan secara seksama ungkapan-ungkapan keprihatinan dan perjuangan dalam memperbaiki perekonomian nasional Indonesia.  Berikut ini catatan dari Bapak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelijen Indonesia termasuk minoritas elemen bangsa Indonesia tanpa kepentingan pribadi yang berusaha menjaga stabilitas ekonomi Indonesia melalui upaya-upaya mendorong dan memelihara proses reformasi sistem ekonomi nasional termasuk dalam masalah etika. Sebagaimana sahabat Blog I-I perhatikan isi dari ratusan artikel Blog I-I umumnya adalah bagaimana intelijen sebagai salah satu unsur penting dari penyelenggaraan negara dapat memberikan masukan yang tepat bagi Presiden, termasuk ketika akhirnya Presiden terjepit dalam membela Sri Mulyani atau mengalah kepada tekanan pengusaha hitam dan politisi haus kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dunia dalam sejarahnya bergerak dari sejumlah sebab dan menjadi akibat. Secara ideologi, Blog I-I menganjurkan posisi Indonesia yang pragmatis dan senantiasa fleksibel dalam melakukan adjustment dengan dinamika global, bukan terserap ke dalam arus ekonomi dunia sebagaimana dituduhkan sebagian kalangan yang sok-sokan mengaku pembela ekonomi rakyat namun tidak mengerti mekanisme dan sistem yang tepat. Apa yang dilakukan Sri Mulyani selama ini jauh dari tuduhan neolib karena Intelijen Indonesia tahu persis siapa-siapa yang dibayar untuk membunuh karakter Sri Mulyani dengan tuduhan Neolib, mudahnya perhatikan siapa-siapa yang teriak-teriak tentang Neolib...mereka semua bayaran bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Blog I-I tetap memperhatikan petingnya proteksi dalam pengertian kepedulian terhadap angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di Indonesia, dimana perlu ada semacam program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program-program yang tepat termasuk dalam memperkuat industri kecil dan menengah. Namun hal itu seyogyanya bersih dari unsur kepentingan kelompok yang akan diuntungkan dari sebuah kebijakan publik, hal ini terkait dengan etika yang dikemukakan Sri Mulyani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran adalah kebenaran dan tidak dapat dipalsukan oleh propaganda murahan untuk menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang salah. Sehingga tidak perlu kita ambil pusing karena pada saat pihak-pihak yang senang memalsukan kebenaran bercerita tentang kebohongan, kita harus tetap teguh menceritakan tentang kebenaran dengan ketulusan. Walaupun sepintas waktu kita melihat bahwa Indonesia masih akan diliputi awan gelap angkara murka kepalsuan dan kepentingan individu dan kelompok, namun cahaya pencerahan Republik Indonesia yang kita cita-citakan masih ada di ujung lorong yang sedang kita lalui saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Sri Mulyani tentang kemenangan sangat dipahami dan sejalan dengan semangat Blog I-I. Ada hal menarik yang dapat sahabat Blog I-I renungkan dan jadikan pegangan dalam menjalankan tugas membela Republik Indonesia, sbb;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tidak menghianati kebenaran. Hal ini merupakan jati diri reformasi Intelijen Indonesia untuk memperbaiki diri dengan berpegang teguh pada kebenaran. Walaupun banyak pihak menyatakan bahwa kebenaran bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh cara pandang dan keyakinan, namun dapat saya garis bawahi disini yaitu pada saat hati nurani kita berteriak ada yang salah maka hal itu sudah melanggar keyakinan kita pada kebenaran. Sampaikanlah kebenaran walaupun hal itu akan mengorbankan diri kita sebagai abdi negara. Sudah waktunya kita berdiri tegak demi kemajuan Republik Indonesia dan demi masa depan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak mengingkari nurani diri sendiri. Menyambung pada poin nomor pertama diatas, nurani atau hati nurani adalah suara dalam diri kita sendiri yang akan segera berteriak ketika kita melangkah pada hal-hal yang tidak benar menurut cara pandang dan keyakinan kita. Manakala dilanggar kita telah mengiris hati nurani kita sendiri. Mudahnya demikian: pada suatu ketika seorang petugas akan dihadapi oleh kesempatan untuk mencuri uang negara, apapun alasannya ketika kita akan mencuri akan terdengar suara lirih di hati kita .....jangan ! Membunuh nurani kita sendiri rasanya akan sama dengan membunuh jiwa, sekali...dua kali...tiga kali, maka kita akan terbiasa dan akhirnya nurani kita bungkam terbungkus oleh pembenaran perilaku nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menjaga martabat dan harga diri. Hal ini identik dengan jati diri manusia dan bukan refleksi kesombongan karena berbangga-bangga dengan martabat. Jatuhnya martabat seseorang bukan disebabkan oleh apa yang disebutkan orang lain, kita boleh saja senang berpakaian sederhana, namun akan ada orang lain yang menilainya kampungan. Sedangkan harga diri terkait dengan prinsip-prinsip dasar yang diyakini seseorang dan menjadi pegangan dalam perjalanan hidupnya. Pada saat prinsip tersebut dilanggar, maka harga dirinya lenyap, hancur atau menguap dan akhirnya menjadi olok-olok manusia yang berjiwa rendah karena sama-sama tidak memiliki apa yang disebut harga diri. Salah satu contoh sederhana manusia yang tidak memiliki harga diri adalah mereka yang melakukan segala cara dalam mencapai jabatan dan kekuasaan termasuk dengan menjual dirinya dan mengemis kesana kemari, bahkan mengeluarkan modal besar sebagai bentuk investasi untuk mempengaruhi proses dirinya menjadi pejabat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu catatan dalam melihat kemenangan yang didefinisikan Sri Mulyani, yaitu bahwa bangsa Indonesia kalah dalam semangat reformasi dan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Sri Mulyani boleh merasa menang karena dirinya tidak terkontaminasi kebusukan politik dan keserakahan sejumlah elit nasional serta dapat mempertahankan integritasnya, bahkan sesungguhnya saya juga tahu bahwa Sri Mulyani berani untuk membuka seluruh kebusukan kasus Bank Century demi kebenaran. Tetapi karena kisah akhirnya adalah konspirasi politik, maka saya lebih melihatnya sebagai kekalahan telak kepada apa yang kita yakini sebagai etika, kebenaran, nurani, dan harga diri. Kepada siapa bangsa Indonesia mengharapkan proses perbaikan apabila satu persatu individu yang memiliki integritas di negeri ini melepaskan pengaruh dan kekuasaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan terakhir, Sri Mulyani harus melihat juga dari sisi di luar diri pribadinya, yaitu 260 juta penduduk Indonesia tertegun melihat drama Bank Century dalam kabut kebohongan publik dan konspirasi politik...bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi. Bangsa Indonesia juga meraba-raba di dalam gua yang gelap terseok-seok dalam lorong yang becek, lembab dan berbau, dan bertanya mengapa cahaya di ujung lorong ini semakin redup. Sementara dalam pusing dan mual, bangsa Indonesia juga mendengar suara pesta hiruk-pikuk koalisi kepentingan serta rencana-rencana mengatur kue negara...Oh tidak ! seorang nenek yang sudah lemah berseru, pesta itu seperti di masa saya muda dan akibatnya saya menjadi menderita begini, bangsa Indonesia kehilangan harga diri dan jati dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga catatan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menilai diri kita masing-masing, serta dalam melihat dinamika politik, ekonomi, sosial dan budaya di negeri yang kita cintai Republik Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penuturan Bapak Senopati Wirang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya sahabat Blog I-I ada yang memiliki akses kepada Sri Mulyani, alangkah baiknya catatan Bapak dapat disampaikan sebagai bacaan ringan ke Washington. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3547547234063628679?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3547547234063628679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3547547234063628679&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3547547234063628679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3547547234063628679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/05/moral-story-dari-sri-mulyani.html' title='Moral Story dari Sri Mulyani'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-9092951114755759791</id><published>2010-05-19T20:44:00.004+01:00</published><updated>2010-05-19T22:01:01.205+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moral story blog I-I'/><title type='text'>Tentang Moral Story</title><content type='html'>Hari Bapak Seno memaksakan diri untuk mendiktekan penuturan tentang cerita moral bangsa Indonesia. Silahkan membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Pertama, pada tingkat nasional Indonesia terjadi pertarungan politik terkait isu kekuasaan dan akses ekonomi nasional serta kebusukan koruptor dan perampok kekayaan bangsa. Pemenangnya sahabat Blog I-I sudah mengerti siapa. Tetapi sudahlah, mungkin belum waktunya idealisme dan keadilan menang. Kepergian Dr. Sri dari pengelolaan ekonomi nasional Indonesia jelas akan berdampak hebat serta telah menghancurkan kredibilitas pemerintahan sekarang. Tanpa disadari, penguasa saat ini tidak melihat bahwa titik kritis Indonesia adalah pada tahun 2014 yaitu saat pertarungan calon pemimpin nasional yang sesungguhnya terjadi. Tanpa performance ekonomi yang tinggi dan apabila angka pengangguran dan kemiskinan tidak menurun secara signifikan, maka pemerintah saat ini akan gagal total dan Partai Demokrat akan melorot tajam. Gambaran yang lebih buruk adalah turunnya kepercayaan investor, menurunnya devisa, melambungnya hutang, tetap tingginya angka penggelapan Pajak khususnya dari kelompok pemenang pertarungan konflik Bank Century dan penggelapan pajak, hancurnya kredibilitas Kepolisian dan KPK dengan performa penyelesaian delik kasus korupsi yang sangat rendah, serta puncaknya adalah tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan secara bertahap dari 5...6...hingga 7% lebih. Akibatnya publik marah besar, maka Presiden akan diturunkan ditengah jalan yaitu sekitar tahun 2013. Jaminan dari para pemenang konflik Bank Century tidak dapat dipercaya, hal ini merupakan catatan sejarah Indonesia dan merupakan track record dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita Kedua, pada tingkat internasional ada sebuah isu pinggiran yang menjadi central ketika Perdana Menteri Inggris David Cameron menyampaikan komentar bahwa situasi di Papua Barat buruk dan dia bersimpati kepada rakyat Papua. Tidak tanggung-tanggung, kelompok separatis Papua yang merupakan link di jaringan di Papua, Jawa dan di luar negeri khususnya di Inggris segera melakukan manuver menyampaikan selamat dan permohonan agar PM Inggris yang baru tersebut memberikan perhatian khusus kepada Papua, atau bahkan mendukung kemerdekaan Papua sebagaimana disebarluaskan oleh mereka. Sebuah kerja keras yang luar biasa, dan kemana dan dimana segenap aparat keamanan intel, TNI, Polisi dibutuhkan untuk mencegahnya? Kelemahan terbesar tentunya berada di tangan intelijen yang sangat rendah performanya baik di dalam maupun di luar negeri. Tentu saja saya tidak menyalahkan siapapun, karena semua pemberontak dimanapun di dunia akan melakukan hal yang sama, yaitu pesannya "saya ada disini dan tolong saya untuk berontak dari Indonesia". Kelemahan dalam pengelolaan Papua menjadi tambahan kegagalan terbesar pemerintah Indonesia saat ini, dan saya perkirakan puncaknya akan terjadi menjelang pemilu 2014. Presiden akan jatuh menyakitkan apabila tidak melakukan tindakan yang tepat dalam penyelesaian masalah ini secara terhormat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ketiga, pada tingkat lokal komunitas Blog I-I telah banyak diracuni oleh pihak-pihak yang tidak menghendaki Indonesia Raya menjadi maju dan cerdas dalam pemikiran, sehingga perang urat saraf terjadi bahkan beberapa pengelola Blog I-I menjadi ragu dan menyatakan non-aktif sementara. Saya cukup senang awalnya melihat adanya perkembangan komunikasi dengan menggunakan facebook yang dikelola salah seorang sahabat. Namun entah mengapa, sang sahabat menyampaikan bahwa dirinya tidak sanggup menanggung emosi diskusi. Setelah menceritakan perkembangan terakhir, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan namun diperlukan kematangan dan kehati-hatian dalam berkomunikasi sehingga tidak perlu terpancing dalam upaya-upaya yang tidak perlu. Kepada beberapa sahabat Blog I-I yang terlanjur berkomunikasi secara pribadi dengan pengelola Facebook Blog I-I mohon untuk dapat mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri rasanya sudah tidak mungkin untuk terus-menerus mengajak sahabat Blog I-I untuk bersemangat dan optimis dalam mewujudkan mimpi Indonesia Raya karena keterbatasan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali sahabat yang berpendapat bahwa Blog I-I tidak menampilkan catatan yang bersifat rahasia karena itu sama saja dengan proses self-destruction negara kita sendiri. Sensitif-pun sebenarnya tidak juga karena apa yang dibahas disini adalah logika dan fakta belaka. Bahwa Polisi berkali-kali melakukan rekayasa dalam perang melawan teror meniru cara Amerika namun dalam versi dagelan konyol yang pernah membuat Blog I-I keliru, adalah wajar saja karena kita dalam perjalanan hidup tentu pernah melakukan kekeliruan. Satu hal yang disayangkan adalah sahabat Blog I-I yang berada di lokasi penyergapan Noordin M. Top waktu itu terlalu terbawa situasi dan telah dibohongi mentah-mentah oleh [&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;deleted&lt;/span&gt;]. Saya tidak akan membantah apapun caci maki dan kritikan terhadap Blog I-I, karena semua yang tertulis dan terlanjur tertuang disini telah menjadi catatan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I mencari simpati? secara teori sah-sah saja manusia menggunakan kemampuannya untuk mencari simpati. Demikian juga sahabat yang membenci cara Blog I-I mencari simpati atau menuduh sebagai exit strategy mengakhiri perjalanan Blog I-I, atau sengaja mendorong terus perjalanan Blog I-I sementara penyelidikan terhadap identitas saya dilakukan secara intensif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa memusuhi Blog I-I? Apakah Blog I-I sedemikian berbahayanya?&lt;br /&gt;Mengapa membenci Blog I-I? Apakah Blog I-I sedemikian buruknya?&lt;br /&gt;Mengapa menjadi sahabat Blog I-I? Apakah Blog I-I tulus dalam bersahabat?&lt;br /&gt;Mengapa mencintai Blog I-I? Apakah Blog I-I pantas dicintai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa telah terjadi kerusakan dalam Blog I-I adalah hal yang wajar, apa cerita moralnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi cerita moralnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kita sebagai bangsa tidak pernah menghayati arti persaudaraan Nusantara untuk saling menolong dalam kebaikan dan saling menasehati untuk menghindari kejahatan. Bangsa Indonesia yang terdiri dari rumpun Melayu Tua, Melayu Muda, Melanesia, serta ratusan bahkan ribuan suku-suku yang kecil belum menghayati pentingnya dialog, diskursus dalam membangun jati diri kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita moral yang lain adalah adanya arogansi pada saat kita tampak lebih kaya atau lebih pintar sehingga menindas yang miskin dan bodoh. Seharusnya bila kita dalam keadaan lebih mampu wajib untuk menolong saudara kita yang kesulitan di berbagai kawasan di Indonesia. Saya faham bahwa banyak sahabat Blog I-I yang memiliki kemampuan di atas rata-rata rakyat Indonesia, namun janganlah kemampuan yang sudah baik tersebut justru digunakan untuk menghina yang satu dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa saja menuturkan lebih banyak lagi cerita moral tentang kerusakan kebangsaan Indonesia. Tentang ketidakpedulian kita kepada alam kita yang semakin hancur, tentang perilaku sewenang-wenang karena memiliki akses kepada senjata dan kekuasaan, tentang perilaku korupsi, tentang kemalasan kita dalam berpikir dan bertindak, tentang rendah dirinya bangsa kita, tentang keserakahan pada kekuasaan, tentang ketakutan kita untuk kehilangan kekuasaan dan harta, tentang ketidakpedulian kita pada orang miskin, tentang kesombongan kita sebagai pejabat, tentang berbagai hal yang membuat kita mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat berkaca melihat situasi di Filipina dan Thailand, yang lebih dahulu dianggap demokratis dibandingan Indonesia. Bahkan Filipina puluhan tahun silam sudah demokratis dengan people powernya, tetapi di tahun 2010 ini terjadi pembunuhan politik. Thailand juga termasuk negara yang menjanjikan dengan sistem demokrasi dan sekarang apa yang terjadi dengan korban jiwa teror bom dan bentrokan bersenjata anatara kaum kaos merah dengan aparat keamanan tentunya menjadi catatan serius bagi Indonesia. Apakah kita dapat menepuk dada dan yakin hal yang sama tidak akan terjadi dengan Indonesia di masa depan, khususnya menjelang 2014?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan sahabat Blog I-I merenungkan.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penuturan Bapak yang juga berpesan kepada seluruh sahabat Blog I-I sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap sahabat Blog I-I sudi melanjutkan diskusi tentang masa depan Indonesia dalam facebook Blog I-I secara mandiri karena akan lebih leluasa dan dapat saling memelihara persaudaraan dan membangun perdebatan yang sehat. Meskipun pengelola Facebook Blog I-I saat non-aktif, namun ruang diskusi tidak pernah ditutup, semoga diantara sahabat blog I-I ada yang berinisiatif untuk mengangkat tema diskusi yang baik dan penting bagi rakyat Indonesia. Kembangkanlah terus hingga sebanyak-banyaknya baik dari sisi isi maupun jaringan, tanggung jawab eksistensi Facebook Blog I-I tetap berada ditangan saya, sehingga tidak ada resiko yang dapat dibebankan kepada sahabat Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-9092951114755759791?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/9092951114755759791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=9092951114755759791&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/9092951114755759791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/9092951114755759791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/05/tentang-moral-story.html' title='Tentang Moral Story'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4789490152361153672</id><published>2010-05-12T17:00:00.003+01:00</published><updated>2010-05-12T17:42:47.004+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog I-I'/><title type='text'>Eksistensi Tanpa Nama</title><content type='html'>Sebuah komentar dari seorang sahabat Blog I-I sangat menggugah saya untuk menuliskan catatan hari ini. Komentar tersebut kurang lebih terkait dengan identitas anonym di dunia internet terkait juga dengan keberadaan Blog I-I dan tentunya juga identitas saya sebagai individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar yang menggugah tersebut kurang lebih menempatkan pembaca sebagai orang hebat yang dapat membedakan antara hoax dan bukan hoax tanpa mempedulikan anonym atau bukan. Sehingga Blog I-I yang sejak awal sudah mengambil posisi anonym dapat bernafas lega dengan membiarkan publik memberikan penilaian sendiri, apakah Blog I-I berniat jahat ataukan baik kepada rakyat, bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Komentar berikutnya adalah potensi terbukanya identitas Blog I-I karena sekuriti internet, karena sepandai-pandai tupai meloncat, suatu saat mungkin akan jatuh juga. Sehingga Blog I-I sangat memerlukan masukan, pendapat dan pertolongan rekan-rekan semua agar tidak jatuh dan mati dari dunia internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perhitungan sederhana, setidaknya ada empat skenario kehancuran Blog I-I:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemimpin nasional Indonesia bersama Jajaran Pimpinan Polri, TNI dan Intelijen sepakat untuk membongkar identitas Blog I-I dan menyampaikan secara resmi kepada Blogger.com berdasarkan pertimbangan tertentu untuk memberikan seluruh informasi tentang&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Blog I-I. Pertimbangan tersebut misalnya berdasarkan keputusan hukum bahwa Blog I-I telah melanggar hukum seperti penyebarluasan ide terorisme. Tentu Blogger.com akan mempertimbangkan untuk membuka identitas Blog I-I. Skenario ini mungkin terjadi apabila memang ada unsur pimpinan nasional yang merasa terancam oleh Blog I-I.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Intelijen Asing (khususnya Amerika Serikat dan sekutunya, serta Rusia, China, dan Singapura) dengan kecanggihan teknologinya telah mengetahui keberadaan Blog I-I, dan kemudian merasa terganggu sehingga merasa perlu membongkar identitas Blog I-I kepada publik dengan harapan Blog I-I hancur dan berhenti. Tetapi hal ini jelas akan berlawanan dengan semangat kebebasan berpendapat di AS tempat domisili Blogger.com, dan Blog I-I buka ancaman bagi keamanan nasional AS, maupun negara lainnya. Skenario ini mungkin saja terjadi apabila Blog I-I dianggap sudah terlalu berpengaruh dan dapat mendorong kejayaan Indonesia Raya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Blog I-I terlalu jauh dalam mengkritisi orang-orang berpengaruh di Indonesia, misalnya Wiranto, Prabowo, Aburizal Bakrie, dan lain-lain. Orang-orang berpengaruh di Indonesia memiliki power yang memadai untuk mencari tahu siapa Blog I-I, bahkan menempuh berbagai proses untuk memperoleh informasi identitas Blog I-I.  Skenario ini mungkin terjadi apabila Blog I-I dianggap telah mengahncurkan reputasi orang-orang berpengaruh tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di dunia internet, nyaris tidak ada yang rahasia dengan segala teknik pengungkapan informasi (disclosure). Sehingga sangat terbuka kemungkinan ada kelompok orang atau individu yang secara cerdik melakukan pengamatan intensif kepada Blog I-I dan akhirnya sanggup mengungkapkan identitas Blog I-I.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Poin 1 hingga 3 sudah ada contohnya di dunia ini, dimana seorang anonymous blogger diungkapkan kepada publik dan menjadi terdakwa di pengadilan. Namun syaratnya adalah fakta yang mengungkapkan pelanggaran hukum si anonymous blogger tersebut, serta diperkuat oleh keputusan pengadilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Poin keempat lebih dapat dianggap sebagai elemen kejutan yang tidak dapat diremehkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Blog I-I dengan rendah hati  sangat memerlukan pertolongan dan dukungan rekan-rekan sahabat Blog I-I  dalam memelihara eksistensi tanpa nama Blog I-I. Masukan dan komentar  serta saran positif akan sangat bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4789490152361153672?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4789490152361153672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4789490152361153672&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4789490152361153672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4789490152361153672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/05/eksistensi-tanpa-nama.html' title='Eksistensi Tanpa Nama'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2798322707050974891</id><published>2010-04-18T11:25:00.003+01:00</published><updated>2010-04-18T11:59:43.061+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terima kasih'/><title type='text'>Terima Kasih Kepada Sahabat Blog I-I</title><content type='html'>Kunjungan ke Blog I-I dari 96 negara di dunia, 2191 kunjungan dan 18 Komentar dalam waktu 4 hari terhadap &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/diary-senopati-wirang.html"&gt;diary Senopati Wirang&lt;/a&gt;, 3723 kunjungan ke &lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Blog-I-I/106564772713940"&gt;Facebook Blog I-I&lt;/a&gt; sejak diluncurkan pada awal April 2010 namun hanya 99 fans yang berani bergabung. Bagaimana Blog I-I memaknai angka statistik tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih adalah ungkapan yang paling jujur dari dalam hati Blog I-I. Meskipun Blog I-I tidak dapat dibandingkan dengan &lt;a href="https://www.cia.gov/library/kent-center-occasional-papers/index.html"&gt;Sherman Kent Centre&lt;/a&gt;, yang mana sahabat Blog I-I dapat mempelajari secara kritis untuk kepentingan nasional Indonesia, namun komentar seorang sahabat yang memberikan contoh Sherman Kent Centre sebagai salah satu sumber pencerahan intelijen di AS dapat menjadi inspirasi kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah diskusi aktif di Facebook Blog I-I benar-benar menyemangati keyakinan bahwa kebangkitan Indonesia Raya akan dapat terwujud, khususnya apabila kita semua sebagai anak bangsa tidak kenal putus asa dan terus berjuang dan memelihara nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kemarahan kita kepada praktek-praktek korupsi pejabat negara, kekesalan kita kepada rendahnya mutu pelayanan pejabat publik kepada rakyat, serta kesedihan hati kita melihat fakta rendahnya harapan hidup karena kesehatan yang buruk, keprihatinan pada kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan bangsa kita, tentunya tidak membuat kita putus asa terhadap pertolongan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang berkeTuhanan kita juga yakin bahwa perubahan hanya akan terjadi apabila kita mau bekerja dengan hati, pikiran, tangan dan seluruh kemampuan kita untuk memajukan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi perlu saya tekankan disini bahwa Intelijen hanyalah salah satu dari sekian banyak elemen bangsa yang dapat mewujudkan cita-cita kita bersama dalam mensejahterakan rakyat Indonesia, melindungi dari bahaya, serta menyebarluaskan kebajikan kepada alam semesta. Demikianlah hakikatnya hidup sebagai manusia sejati Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2798322707050974891?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2798322707050974891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2798322707050974891&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2798322707050974891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2798322707050974891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/terima-kasih-kepada-sahabat-blog-i-i.html' title='Terima Kasih Kepada Sahabat Blog I-I'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1710354428040285031</id><published>2010-04-15T09:57:00.004+01:00</published><updated>2010-04-15T10:37:08.065+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>Diary Senopati Wirang</title><content type='html'>Sekedar teringat sejumlah kritikan beberapa tahun silam, bahwa Blog I-I pengecut karena tidak membuka identitas dirinya, sehingga mati berkali-kali ibaratnya seorang pengecut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga teringat catatan sahabat Blogger terkenal &lt;a href="http://www.fatihsyuhud.com/"&gt;A. Fatih Syuhud&lt;/a&gt; tentang anynomous blogger atau ghost blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang berpikir-pikir apakah sudah waktunya membuka diri ataukah tetap dalam semangat Indonesia Raya saja. Terangsang dan tergoda dengan tantangan untuk segera berani mati satu kali dan Blog I-I akan berakhir, juga menantikan tulisan, opini dan artikel berani dari rekan-rekan sahabat Blog I-I yang mungkin mulai bosan dengan catatan saya yang monoton dan cenderung menjadi monolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih membaca beberapa komentar yang kurang jelas di shout box Blog I-I, beberapa sahabat lama menghilang dan sebagian datang kembali hanya sekedar menengok rumah Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkhayal menantikan kelahiran senopati-senopati muda yang ikhlas mengabdi tanpa tanda jasa begabung dan menyumbangkan pemikiran melalui Blog I-I, bersama-sama sebelum saya benar-benar tidak lagi mampu menulis dan berpikir jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkhayal pula memberikan pencerahan kepada ilmuwan Indonesia yang mempelajari intelijen di Universitas Indonesia, ITB, Unpad, UGM, dll untuk berhati-hati dalam penyusunan kurikulum studi intelijen agar tepat dalam membangun dunia akademik intelijen yang kredibel, serta tidak terjebak dalam motivasi ekonomi semata dengan mengabaikan pondasi intelektual dalam studi intelijen, misalnya dengan membangun studi terorisme sebelum studi intelijen, studi strategis, dan studi perang boleh dikatakan mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali mimpi-mimpi Blog I-I untuk membangun bangsa Indonesia yang Waskita, Waspada dan Cerdas dalam merespon zaman. Namun pengecut adalah pengecut karena Blog I-I hidup di dunia underground yang berharap dapat membawa perubahan di dunia melalui tulisan dan diskusi sunyi dalam gelapnya labirin informasi dan panasnya gejolak hati bangsa Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap yang bernyawa pasti akan mati, demikian juga Blog I-I yang saat ini masih bernafas suatu saat akan mati, dan rekan-rekan sahabat bahkan tidak akan dapat melihat upacara kematiannya, sekedar berdoa-pun akan terlambat seiring dengan perputaran waktu, karena kematian datangnya tiba-tiba. Kematian di dunia underground adalah sangat sunyi walaupun kematian tetaplah indah bagi profesi yang penuh resiko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ingatlah bahwa ide, gagasan, dan semangat tidak akan pernah mati sehingga tidak ada jiwa pengecut dalam menghidupkan semangat merah-putih Indonesia Raya. Dukungan sahabat Blog I-I, komentar kritis, positif-negatif, dan diskusi selama ini merupakan pancaran semangat anak bangsa yang saya harapkan dapat terus dilanjutkan secara estafet dari generasi ke generasi. Sehingga kita tidak akan menjadi bangsa yang lupa sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini bangsa Indonesia belum dapat berdiri tegak merdeka dengan kekuatan dan mampu membawa pengaruh kesejahteraan pada umat manusia di seluruh dunia, bahkan rakyatnya sendiripun menderita. Tetapi janganlah putus asa karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeTuhanan, yang meyakini kekuatan Yang Maha Besar akan menolong setiap harapan dan semangat yang masih menyala di dada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga seluruh sahabat Blog I-I dapat menangkap pesan kegundahan hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1710354428040285031?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1710354428040285031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1710354428040285031&amp;isPopup=true' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1710354428040285031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1710354428040285031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/diary-senopati-wirang.html' title='Diary Senopati Wirang'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1713959213826355025</id><published>2010-04-15T08:23:00.004+01:00</published><updated>2010-04-15T17:43:32.121+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontra intelijen'/><title type='text'>Pesan untuk Petugas Kontra Intelijen Asing</title><content type='html'>Izinkan saya sedikit menyegarkan kembali catatan tentang ilmu intelijen kepada seluruh komunitas intelijen dan msyarakat Indonesia. Tidak bermaksud menggurui atau membongkar rahasia ilmu intelijen, tetapi sesungguhnyalah ilmu intelijen telah menjadi konsumsi publik di dalam lingkungan bangsa lain, mengapa bangsa Indonesia tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh petugas kontra intelijen asing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aktif, pro-aktif bahkan dalam posisi menyerang target. Dalam sejarah dunia intelijen, tidak ada operasi kontra intelijen pasif/bertahan yang berhasil sukses.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena operasi kontra intelijen beroperasi di dalam wilayah hukum dan kedaulatan negara sendiri, maka harus menggunakan seluruh kekuatan yang ada dalam melindungi informasi dan kepentingan nasional Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersikap profesional. Meskipun kontra intelijen beroperasi di dalam negeri, namun hal ini jangan meremehkan kemampuan lawan yang pastinya merupakan unsur-unsur spionase terbaik yang dikirim sehingga metodologinya juga akan sangat canggih baik dari sisi teknis operasi maupun teknologi pendukungnya. Oleh karena itu, setiap operator kontra intelijen harus profesional dan tidak lengah terhadap trik dan tipuan operasi lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menguasai wilayah operasi, karena kita bermain di kandang sendiri tentunya penguasaaan wilayah secara logika akan lebih baik dari pada intel asing yang beroperasi di negeri kita. Karena itu, jangan malas dan jangan pelit dalam membiayai proses penguasaan wilayah di Nusantara. Hal ini wajib hukumnya bagi unit kontra intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memahami sejarah pola-pola operasi intel asing di Indonesia. Hal ini diperlukan sebagai pembanding dalam menentukan taktik dan strategi kontra intelijen. Tentunya juga harus terus diupdate dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Padukan antara pengalaman operasi dan analisa. Seringkali petugas lapangan mengabaikan proses analisa dan terjebak dalam situasi lapangan sehingga dapat terkecoh oleh umpan-umpan intel asing. Oleh karena itu, dalam setiap operasi kontra intelijen, perlu ada waktu sejenak melakukan analisa terhadap operasi yang berlangsung sehingga efektifitas operasi akan dapat dicapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kerjasama erat antar instansi keamanan. Pada level pimpinan perlu dibangun kesamaan pandangan dalam melindungi operasi kontra intelijen asing. Sehingga tidak terjadi saling potong antar operator kontra intelijen, misalnya antara BIN, BAIS, Polisi. Apabila terjadi kecelakaan operasi, tentunya harus segera diselesaikan tanpa mengedepankan korps masing-masing, melainkan mengutamakan kepentingan nasional. Dalam pengamatan saya, tampak bahwa ini merupakan salah satu kelemahan utama di Indonesia sehingga operasi-operasi yang bertujuan sama seringkali bertabrakan karena kepentingan unit masing-masing. Bekerjasamalah dan saling menghormatilah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung....maaf ternyata sudah pernah saya tulis dalam artikel &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/prinsip-prinsip-kontra-intelijen.html"&gt;Prinsip-Prinsip Kontra Intelijen&lt;/a&gt;. Maklum sudah pikun.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1713959213826355025?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1713959213826355025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1713959213826355025&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1713959213826355025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1713959213826355025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/pesan-untuk-petugas-kontra-intelijen.html' title='Pesan untuk Petugas Kontra Intelijen Asing'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2256405915410636809</id><published>2010-04-06T21:22:00.003+01:00</published><updated>2010-04-07T09:06:03.846+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Facebook'/><title type='text'>Blog I-I</title><content type='html'>Terima kasih kepada sahabat Blog I-I yang telah membuka sebuah account Facebook atas nama Senopati Wirang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menghindari penyalahgunaan identitas serta mempertimbangkan laporan dari Tim Facebook bahwa terdapat puluhan nama yang terasosiasi dengan Senopati Wirang ataupun Blog I-I, maka saya merasa perlu untuk mengumumkan bahwa sahabat Blog I-I dapat mengunjungi link &lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Blog-I-I/106564772713940"&gt;Facebook Blog I-I&lt;/a&gt; yang masih dalam tahap awal. Diharapkan sahabat Blog I-I dapat secara aktif mengembangkan jaringan ini hingga mencapai berbagai lapisan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, terima kasih.&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2256405915410636809?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2256405915410636809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2256405915410636809&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2256405915410636809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2256405915410636809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/blog-i-i.html' title='Blog I-I'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6255257182017911865</id><published>2010-04-06T20:24:00.002+01:00</published><updated>2010-04-06T21:08:44.179+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog I-I'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='debunking 911'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teori konspirasi'/><title type='text'>Blog I-I Anti Teori Konspirasi?</title><content type='html'>Sebuah komentar cukup menggelitik saya untuk menuliskan artikel berikut ini. walaupun hanya sebuah, namun lumayan baik untuk dibahas agar kita semua semakin teliti dan mendalam dalam mengumpulkan informasi ataupun dalam proses analisa intelijen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar tersebut adalah sebagai beriku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;blog ini sama kaya website debunking911... yang intinya memberikan image jika para teori konspirasi itu hanya sekumpulan orang2 yang berimajinasi..tapi sayangnya "KAMI" 100% sadar dan masih setia dengan julukan pemercaya teori Konspirasi.. usaha yang bagus untuk merubah pemikiran dan menghilangkan prasangka tapi sayangnya tidak mempan &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya meresponnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.debunking911.com/"&gt;Debunking911&lt;/a&gt; termasuk website yang cukup baik dalam sudut pandang penyajian argumentasi, serta tentu saja didukung oleh biaya, riset, dan olah pemikiran serta teknik komunikasi yang baik pula. Tujuannya sangat tegas, yaitu menolak argumentasi teori konspirasi yang salah satunya menganggap bahwa peristiwa 9/11 bukanlah sebagaimana digambarkan di media massa sebagai serangan teror, melainkan sebuah rekayasa sejarah, dimana gedung yang sengaja diledakkan dengan alat peledak khusus kemudian digambarkan sebagai sebuah serangan teror menggunakan pesawat terbang yang dibajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan teori konspirasi sangat sederhana yaitu logika bagaimana mungkin sebuah pesawat dapat meruntuhkan gedung yang tinggi hingga ke dasarnya hancur sama sekali. Berbagai pola penjelasan teknis mulai dari teori beban, ledakan, api dll dikemukakan oleh pengelola debunking yang jelas dibelakangnya adalah pemerintah AS (tidak resmi atau semacam sel) untuk meruntuhkan teori konspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun teori konspirasi tetap hidup. Saya sendiri pernah menyempatkan berdiskusi dengan sejumlah aktivis pendukung teori konspirasi di salah satu kota besar di AS. Kelompok pendukung teori konspirasi tersebut umumnya berasal dari kalangan aktivis kiri yang sangat kritis dan telah lama curiga dengan sepak terjang pemerintahnya sendiri (AS). Sangat meyakinkan, apa yang saya dengar cukup fakta dan analisa, dan hal inilah yang menyebabkan lahirnya kelompok debunking (kalau tidak salah yang besar ada 4 kelompok). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori konspirasi lebih menjelaskan kepada dugaan-dugaan kuat (bukan imajinasi) tentang adanya rekayasa dibalik peristiwa 9/11 dalam rangka justifikasi perang asimetris melawan kelompok teroris dan kebijakan preemptive dalam bentuk serangan keluar wilayah kedaulatan AS karena dianggap menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS, misalnya serangan ke Irak dan Afghanistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, debunking sibuk menjelaskan kesalahan analisa dan dugaan teori konspirasi dengan argumentasi penyelidikan teknis, serta bukti-bukti eksistensi kelompok teroris yang melakukan serangan teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia wacana, Blog I-I menilai kedua kelompok tersebut hidup subur di masyarakat dunia, baik yang meyakini teori konspirasi maupun yang menolaknya. Hal ini kembali kepada kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Blog I-I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I sangat hati-hati dalam penyusunan artikel dan analisanya, tidak meremehkan teori konspirasi, namun juga tidak menolak keraguan kepada teori konspirasi. Dasar utama yang diyakini dalam Blog I-I adalah fakta dan penyelidikan serta analisa dan diskusi berkelanjutan dengan rekan-rekan, serta terbuka terhadap kritikan demi mencapai hasil analisa yang mendekati kebenaran. Karena sangat sulit dalam menemukan kebenaran sejati di dunia kita bukan? Kemudian, dalam perjalanan mencari kebenaran sejati yang kita coba dekati tersebut, Blog I-I juga tidak menyarankan kita untuk menghabiskan waktu pada isu tertentu saja, karena isu lain terus bergulir seiring dengan roda waktu dan tertulisnya catatan sejarah. Artinya kita juga harus selalu waspada dalam berbagai isu lain yang akan menghantam Indonesia Raya, khususnya bidang ekonomi karena kita masih memiliki PR yang sangat banyak dalam mensejahterakan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Blog I-I menyoroti Opus Supremus, yang Blog I-I dorong bukan pada isu konspirasi atau bukan, tetapi pada penyelidikan serius yang kita lakukan bersama dengan dukungan rakyat semesta Indonesia untuk membuktikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, sehingga kita tidak lagi dapat dibodohi oleh pemutarbalikan fakta oleh mereka yang memiliki pengetahuan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Blog I-I menyoroti isu terorisme di Indonesia dan masalah gerakan Islam, hal ini bukan untuk melemahkan semangat umat Islam melainkan justru untuk mencerdaskan cara pandang agar lebih teliti dan sungguh-sungguh dalam turut serta membangun bangsa, sehingga elemen-elemen asing yang ingin menghancurkan Indonesia tidak berkutik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Blog I-I menyoroti kasus-kasus pelanggaran HAM, hal ini merupakan suatu introspeksi agar profesionalisme lebih dikedepankan daripada emosi dan kemarahan individual, sehingga kita tidak akan lagi mencoret sejarah nasional kita dengan pelanggaran HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dst..dst..dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, singkat kata Blog I-I tidak dalam posisi mempengaruhi rekan-rekan untuk meyakini sudut pandang konspiratif ataupun menolaknya, melainkan perlakukan berbagai teori yang berkembang di dunia ini sebagai pisau analisa (termasuk teori konspirasi) dan bukan sebagai keyakinan. Artinya, kita terbuka dengan berbagai kemungkinan. Teori tersebut boleh saja menjadi keyakinan ketika proses pembuktian telah kita lalui dengan sukses, yaitu melalui proses penelitian/penyelidikan, pengumpulan fakta-fakta keras, analisa dan berbagai kelengkapan lainnya. Jangankan peristiwa 9/11 yang mana kita jauh dari akses untuk melakukan penyelidikan, peristiwa sejarah Indonesia sejak merdeka saja masih banyak yang diwarnai oleh kontroversi sejarah bukan, lalu yang mana yang akan kita yakini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I bukan penganut teori tertentu sehingga tidak akan mempromosikannya untuk dijadikan keyakinan. Blog I-I hanya mendorong sahabat setia Blog I-I untuk berpikir kritis serta terus-menerus mengasah ketajaman analisa yang didukung oleh bahan keterangan yang memadai, sehingga produk yang akan disampaikan kepada pimpinan nasional Indonesia akan bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6255257182017911865?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6255257182017911865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6255257182017911865&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6255257182017911865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6255257182017911865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/04/blog-i-i-anti-teori-konspirasi.html' title='Blog I-I Anti Teori Konspirasi?'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5710114092938693998</id><published>2010-03-24T08:33:00.002Z</published><updated>2010-03-24T09:23:28.513Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='smart power'/><title type='text'>Smart Power Intelijen Indonesia</title><content type='html'>Dalam pelaksanaan operasi intelijen, sebuah lembaga intelijen biasanya melaksanakan konsep hard power (penggunaan kekerasan/senjata) misalnya operasi pembunuhan yang dilakukan CIA di Afghanistan dan Pakistan atau operasi yang dilakukan Mossad terhadap pimpinan Al Fatah dimasa lalu dan pimpinan Hamas baru-baru ini di Dubai, atau juga operasi pembunuhan yang dilakukan Служба Внешней Разведки. Efektifitas pembunuhan akan terasa apabila targetnya memang telah dianalisa secara mendalam akan sangat merusak kepentingan nasional sebuah negara dan tentu saja operasinya tidak akan pernah dapat dibuktikan di depan hukum. Ini adalah kepastian dan keharusan yang dipegang erat-erat oleh seluruh lembaga intelijen di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mohon dicatat baik-baik prinsip berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Intelijen tidak berbicara untuk hak asasi manusia, namun tetap menghormati hak asasi manusia". Maknanya adalah setiap penggunaan hard power yang sungguh-sungguh menghancurkan lawan (musuh negara) tidak berdasarkan pada dendam pribadi, kepentingan kelompok atau individu dan bukan untuk menakut-nakuti rakyat kita sendiri. Sebaliknya operasi tersebut sungguh-sungguh ditargetkan kepada musuh bangsa yang terbukti secara meyakinkan dengan bukti-bukti nyata dapat menghancurkan masa depan bangsa kita. Perhatikan justifikasi entah berapa ratus atau ribu pembunuhan yang dilakukan CIA di seluruh dunia. Dengan kata lain, pelindung hukumnya adalah konsep PERANG. Intelijen juga melaksanakan eksekusi dalam sebuah peperangan bukan? bila tidak sebuah bangsa silahkan saja tenggelam dalam kepengecutan atau sifat kerdil yang selalu dipermalukan bangsa lain. Mengapa intelijen tidak dipenjara dalam ruang lingkup pengumpulan informasi saja? Hal ini merupakan konsep para pejuang HAM yang ketakutan dengan operasi intelijen yang berpotensi melanggar HAM, tetapi dalam menghadapi musuh bangsa yang dapat membahayakan HAM dari rakyat kita tentu boleh kita melakukan justifikasi untuk melaksanakan operasi menyelamatkan HAM dari bangsa kita bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kebanyakan lembaga intelijen di dunia saat ini, intelijen Hard Power telah direduksi ke dalam fungsi operasi militer dengan pasukan elit super khusus yang memiliki kemampuan individual yang sangat tinggi dalam melaksanakan operasi penyusupan dan penghilangan nyawa secara terpilih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah intelijen identik dengan operasi hard power tersebut?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak jawabnya. Intelijen juga melaksanakan operasi soft power yang lebih dikenal dengan penggalangan kepada seluruh elemen yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia, untuk kepentingan bangsa dan negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen itu berada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bagaimana caranya? tentu saja kita dapat melihatnya secara jelas dengan model-model operasi penggalangan opini melalui media massa yang berpengaruh, melalui rekrutmen agen dan akses yang dapat melancarkan negosiasi untuk kepentingan nasional kita, juga melalui berbagai program bantuan (keuangan, pendidikan, pelatihan, pembangunan), kerjasama, dll yang bertujuan memenangkan hati dan pikiran lawan sehingga simpati mengalir kepada bangsa dan negara kita. Jadi bukan melalui sikap bodoh yang konfrontatif dan menyinggung perasaan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelijen soft power tersebut bersama-sama dengan operasi pengumpulan informasi dalam definisi klasik adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh seluruh lembaga intelijen di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari operasi tersebut kemudian menjadi bahan keterangan untuk diolah oleh analis intelijen yang memproduksi intelijen yang akurat bagi pegambil keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah power yang lain?&lt;br /&gt;Pada tahun 2006 Joseph Nye mengeluarkan konsep smart power yang didefinisikan secara singkat merupakan strategi kemenangan yang mengkombinasikan antara hard power dan soft power. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan baca dalam definisi smart power dalam versi aslinya menurut Nye:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"the ability to combine hard  and soft power into a winning strategy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana implementasi dalam intelijen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ha ! saya terlalu banyak bertanya-tanya kepada diri sendiri yang kadang juga diwarnai pertanyaan apakah komunitas intelijen Indonesia mengerti apa yang sedang saya sampaikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti yang ingin saya sampaikan adalah terkait dengan kasus Munir yang tewas yang kemudian dituduhkan kepada dunia intelijen sebagai aktor yang menyusun skenarionya. Dalam diskusi saya dengan pimpinan intelijen Indonesia dan beberapa tokoh HAM nasional Indonesia yang tentu saja semuanya berlangsung secara rahasia, tampak bahwa ada upaya untuk menghancurkan lembaga intelijen Indonesia, dalam hal ini BIN. Selain itu, dan juga ada upaya individual berpengaruh yang memanfaatkan situasi untuk melindungi kepentingan pribadi atau menaikan posisi pribadinya. Telah sangat jelas bahwa secara hukum belum ada cukup bukti yang mengkaitkan dengan lembaga intelijen. Secara sekilas, dapat saja kita menilai bahwa oknum-oknum yang "mungkin" bertanggung jawab lepas dari tuntutan hukum. Namun dampaknya sangat berat bagi lembaga, yaitu berada dalam sorotan publik melalui kacamata pelanggaran HAM yang sesungguhnya akan sangat merugikan kepentingan bangsa Indonesia yang mendambakan lembaga intelijen yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi profesionalitas lembaga intelijen untuk tidak membuka kasus-kasus yang masih hangat, namun paling tidak dalam waktu 30-50 ke depan kita akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan keadilan akan ditegakkan bagi korban. Selain itu. lembaga intelijen juga tidak perlu risau dengan kasus-kasus yang dituduhkan secara sepihak tersebut, tidak perlu direspon dan tidak perlu dijawab, karena kita adalah intelijen. Percaya diri dan terus-menerus memperbaiki profesionalisme serta menghindari strategi yang kurang tepat dalam melindungi kepentingan nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh lain yang juga sangat mengganjal ada kasus Balibo 5 yang menewaskan wartawan asing dan Indonesia sebagai bangsa dan negara menanggung tuduhan sebagai pelanggar HAM selama bertahun-tahun, padahal hal itu seharusnya dapat diselesaikan secara mudah dengan pengungkapan fakta-fakta secara jujur dan menghormati keadilan bagi keluarga korban, toh sudah terjadi puluhan tahun yang lalu dan kita harus melihat masa depan. Hidup bangsa Indonesia dalam bayang-bayang sejarah hitam sangatlah tidak enak dan sangat mengganggu langkah kemajuan bangsa Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada smart power, sudah waktunya bagi Intelijen Indonesia untuk menata dan menyusun strategi peningkatan kapabilitas dan kemampuan operasional yang merupakan perpaduan antara hard power dan soft power (dalam definisi intelijen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5710114092938693998?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5710114092938693998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5710114092938693998&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5710114092938693998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5710114092938693998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/smart-power-intelijen-indonesia.html' title='Smart Power Intelijen Indonesia'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6765183237809762442</id><published>2010-03-11T08:31:00.003Z</published><updated>2010-03-11T08:53:19.130Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog I-I'/><title type='text'>Komentar shoutbox Blog I-I : buruk muka Cermin tak dibelah</title><content type='html'>Sejumlah sahabat lama Blog I-I telah berkali-kali menyampaikan keprihatinan atas isi shoutbox Blog I-I. Jaringan Blog I-I yang serius juga sangat kecewa dengan isi shoutbox Blog I-I dan menyarankan untuk disensor atau bahkan dihapuskan saja. Beberapa sahabat baru Blog I-I juga secara jelas mengungkapkan bahwa komentar di shoutbox Blog I-I sangat tidak berkualitas dan hanya merusak wajah Blog I-I saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap Blog I-I?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapapun sahabat yang berkomentar dalam shoutbox Blog I-I boleh jadi insan-insan Nusantara yang peduli dengan kemajuan Indonesia Raya, dan Blog I-I tidak akan putus asa menantikan saat dimana manusia Indonesia semakin memahami makna bertutur kata dengan intelejensi yang tinggi dan mendorong perubahan yang lebih baik bagi Ibu Pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin pula, komentar di shoutbox Blog I-I hanya diisi oleh orang-orang tertentu yang sengaja membuang kotoran agar bau tidak sedap menyebar dari rumah Blog I-I, sehingga citra Blog I-I akan rusak dan sahabat Blog I-I kehilangan keyakinan/kepercayaan terhadap intergritas Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuka pula kemungkinan musuh-musuh Blog I-I, atau siapapun yang marah dan kecewa dengan Blog I-I menumpahkan kekesalannya dalam ruang shoutbox. Hal ini dapat dimaklumi karena Blog I-I membahas berbagai persoalan bangsa dan reformasi intelijen secara terbuka, padahal hal ini berpotensi menyinggung atau bahkan menyakiti hati sesama anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya mendapatkan saran akan ruang shoutbox ditutup saja karena merusak wajah Blog I-I. Namun sekali saya ingin menyampaikan kepada sahabat Blog I-I bahwa ruang shoutbox bagaikan cermin para pembaca Blog I-I, sehingga saya tidak akan menghapuskan hanya karena cermin tersebut menampilkan wajah yang tidak dikehendaki. Salah satu indikator perubahan Indonesia Raya, mudah-mudahan dapat tampak dari peningkatan kualitas komentar dalam shoutbox Blog I-I. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan penting, telah tampak banyak komentar yang berkualitas yang disampaikan langsung kepada setiap artikel yang dimuat di Blog I-I, sehingga cermin Blog I-I bukan hanya ruang shoutbox, melainkan juga langsung pada komentar-komentar kepada setiap artikel, sentar sudah berapa banyak tidak saya hitung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Blog I-I belum terlalu berhasil, dengan jumlah kunjungan baru mencapai setengah juta orang, dibandingkan dengan jumlah kelompok menengah Indonesia sekitar 25 juta orang yang memiliki akses yang baik kepada internet, maka pengaruh Blog I-I sangatlah kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bangsa Indonesia semakin sadar tentang perlunya diskursus dalam memperkaya gagasan nasional, demi kejayaan Indonesia Raya yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6765183237809762442?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6765183237809762442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6765183237809762442&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6765183237809762442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6765183237809762442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/komentar-shoutbox-blog-i-i-buruk-muka.html' title='Komentar shoutbox Blog I-I : buruk muka Cermin tak dibelah'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3534461672035570097</id><published>2010-03-10T21:49:00.004Z</published><updated>2010-03-10T23:03:52.795Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dulmatin'/><title type='text'>Akhir Perjalanan Dulmatin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geXQle_UI/AAAAAAAAAB8/SKD59t-FMhU/s1600-h/dulmatin3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 217px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geXQle_UI/AAAAAAAAAB8/SKD59t-FMhU/s320/dulmatin3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447137134242626882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geWxNgqnI/AAAAAAAAAB0/rjJdIfV2hkY/s1600-h/dulmatin2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geWxNgqnI/AAAAAAAAAB0/rjJdIfV2hkY/s320/dulmatin2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447137125820574322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geWcwvSLI/AAAAAAAAABs/TBIh4MW0kfY/s1600-h/dulmatin1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geWcwvSLI/AAAAAAAAABs/TBIh4MW0kfY/s320/dulmatin1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447137120331188402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hadiah peningkatan kredibilitas keamanan Indonesia sekaligus modal peningkatan hubungan RI-Australia terjadi pada saat kunjungan Presiden SBY ke negeri Kangguru. Tidak tanggung-tannggung, Presiden SBY menyampaikan kabar keberhasilan perburuan terhadap tersangka teroris, salah seorang otak teror bom Bali, Dulmatin tewas terbunuh dalam baku tembak dengan Polisi Indonesia (densus 88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghindari salah informasi seperti dalam artikel Noordin M. Top dahulu, Blog I-I tidak segera memuat artikel ini dan menunggu sampai keputusan resmi Polri dan media massa internasional memuat beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fakta tentang Dulmatin:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh senior dalam Jemaah Islamiah yang diyakini turut membantu sebagai dalang teror bom sebuah klab malam di Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Lahir di Pemalang Jawa Tengah, berusia sekitar 40 tahun serta memiliki sejumlah nama samaran (alias) seperti Joko Pitoyo, Joko Pitono, Amar Usman, Muktamar dan Noval.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah AS telah menawarkan hadiah sebesar $10 juta untuk informasi dalam upaya penangkapan serta menggambarkan Dulmatin sebagai seorang spesialis elektronik yang dilatih di al Qaeda camps di Afghanistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulmatin berpindah ke Filipina Selatan pada tahun 2003, mencari perlindungan kepada kelompok Muslim Filipina, the Moro Islamic Liberation Front (MILF). Tetapi setelah dialog damai antara Manila dan MILF, Dulmatin kembali berpindah ke kelompok yang lebih kecil yaitu kelompok Abu Sayyaf, oleh Barat digambarkan sebagai kelompok yang terkait dengan al Qaeda dan beroperasi di daerah selatan Jolo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak keamanan Filipina menyatakan bahwa Dulmatin telah membantu pelatihan kelompok perlawanan Muslim untuk merakit crude bombs dan diyakini telah merencanakan penyerangan di Filipina Selatan sambil tetap memelihara kontak dengan Indonesia melalui Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulmatin diyakini telah terluka pada saat baku tembak antara kelompok perlawanan Muslim dan pasukan Filipina di Jolo. Empat orang anaknya dan istrinya ditemukan di kawasan tersebut dan kemudian dibawa ke Indonesia melalui kerjasama intelijen Filipina-Indonesia. Pada tahun 2008, pihak keamanan Filipina menemukan jenazah yang pada saat itu diyakini sebagai Dulmatin, tetapi kemudian tidak terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir perjalanan Dulmatin terjadi pada hari Selasa 9 Maret 2010 di kawasan Pamulang, dan pada hari , Rabu (10/3/2010), pihak kepolisian melalui hasil tes DNA dan ciri fisik lainnya, memastikan Dulmatin sebagai salah satu dari tiga tersangka teroris yang tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perang melawan teror sudah semakin sepi di dunia internasional, namun bagi Indonesia ancaman radikalisme dan ekstremisme yang menggunakan kedok agama masih potensial. Operasi intelijen, polisi dan khususnya sepak terjang densus 88 telah menghasilkan tak kurang dari 440 penangkapan (termasuk yang terbunuh) dan setengahnya telah melalui proses hukum dan 3 orang telah dijatuhi hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia (khususnya umat Muslim) untuk segera disadari adalah kebodohan dan kebutaan atas politik internasional telah menjerumuskan sebagian saudara kita untuk masuk dalam perangkap radikalisasi agama yang dirancang secara sangat rumit untuk merusak ajaran agama Islam dari dalam. Perhatikan artikel &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/simplifikasi.html"&gt;simplifikasi&lt;/a&gt;, hal yang sama juga terjadi di dunia Islam, dimana simplifikasi Islam dengan teroris begitu kuatnya karena kekuatan-kekuatan tertentu memerlukan musuh bersama yang menakutkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga rakyat Indonesia tidak terlalu bodoh untuk menghabiskan waktu dengan perbuatan-perbuatan keji jangka pendek yang akhirnya merusak masa depan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3534461672035570097?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3534461672035570097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3534461672035570097&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3534461672035570097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3534461672035570097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/akhir-perjalanan-dulmatin.html' title='Akhir Perjalanan Dulmatin'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/S5geXQle_UI/AAAAAAAAAB8/SKD59t-FMhU/s72-c/dulmatin3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2456344309194046773</id><published>2010-03-10T08:43:00.002Z</published><updated>2010-03-10T09:11:57.005Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='simplifikasi militer dan intelijen Indonesia'/><title type='text'>Simplifikasi</title><content type='html'>Simplikasi merupakan salah satu teknik intelijen yang telah dikembangkan di dunia Barat maupun Timur serta sangat sering dilakukan oleh pemerintahan rezim militer dalam melakukan proses pembodohan kepada publik. Sebagai bagian dari suatu metode merusak logika publik, simplifikasi sangat cepat diterima publik dan apabila dilakukan repetisi (pengulangan secara terus-menerus) maka publik akan menerimanya sebagai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel kali ini, saya ingin mengungkapkan simplifikasi fitnah aktivis dan politisi Barat terhadap Tentara Nasional Indonesia dan Intelijen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Simplifikasi perilaku TNI dan Intelijen yang melanggar HAM warga negara Indonesia. Berangkat dari simplifikasi permasalahan kemudian dibungkus dengan generalisasi organisasi, secara efektif citra buruk sebagai pelanggar HAM berat terus-menerus dihembuskan oleh aktivis Barat dan sejumlah politisi kepada patriot-patriot Bangsa Indonesia. Hal itu mengandalkan fakta-fakta di masa lalu, misalnya kasus Timor-Timur, Aceh, Maluku dan Papua serta sejumlah modus lama penguasaan militer terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun kasus HAM yang terjadi sangat lokal atau bahkan individual, maka akan disederhanakan dalam kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi, padahal kedua hal tersebut amat sangat berbeda. Tujuannya adalah melemahkan moralitas dan menghancurkan citra TNI dan Intelijen. Publik sangat senang dengan simplifikasi karena mudah dicerna akal karena menghindari detail duduk persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simplifikasi kedua adalah, penciptaan image monster Kopassus yang sangat hebat bagaikan gerombolan pembunuh profesional. Padahal kasus yang melibatkan Kopassus dapat dihitung dengan jari tangan, misalnya penculikan, pembunuhan di masa lalu yang mana kasusnya juga telah diproses melalui pengadilan. Hal ini sebenarnya mencerminkan ketakutan kebangkitan Indonesia yang semakin kuat seiring dengan demokrasi yang seharusnya menghapuskan semua keraguan tentang perubahan Indonesia. Sayangnya sangat jarang  orang Indonesia yang melakukan pembelaaan terhadap TNI dan Intelijen. Blog I-I melakukan pembelaan dan membongkar niat busuk asing semata-mata untuk membuka mata kita bahwa diperlukan kecerdasan, ketajaman berstrategi dalam mendukung kemajuan Indonesia Raya. Kita tidak perlu emosi atau bahkan kehilangan moral karena ada pihak-pihak yang terus-menerus melakukan tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simplifikasi ketiga adalah belum selesainya reformasi sektor keamaman di Indonesia. Entah apa yang diinginkan oleh pihak-pihak anti Indonesia dalam soal reformasi keamanan. Apakah Indonesia yang begitu besar dan luas tidak boleh memiliki pasukan yang besar dan kuat serta tersebar di seluruh nusantara? Dengan posisi yang berda di perlintasan arus perdagangan internasional dan tersebarnya pulau-pulau serta kekayaan sumber daya alam, sangat wajar apabila Indonesia ingin membangun kekuatan militer yang sesungguhnya sangat inward looking, yaitu mempertahankan kedaulatan negara. Indonesia tidak pernah berpikir untuk memproyeksikan kekuatan militernya keluar, misalnya menyerang negara tetangga. Tetapi pencitraan Indonesia sebagai negara didominasi militer masih saja terus dihembuskan, untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah untuk memperlambat peningkatan hubungan militer dengan sesama negara demokrasi. Hubungan militer tersebut dalam artian kerjasama militer berupa training dan pembelian alat perang. Salah satu caranya adalah dengan memfitnah TNI dan Intelijen sedemikian rupa sehingga dapat menghalangi proses kerjasama bilateral Indonesia dengan sesama negara demokrasi seperti AS, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti perhatikan propaganda ETAN, HRW, Amnesty International, dll yang mencitrakan secara sepihak lembaga-lembaga keamanan Indonesia, anehnya bahkan mereka tidak pernah komunikasi secara sehat dengan lembaga-lembaga keamanan Indonesia yang difitnah. Mereka ingin mendikte kita bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita menyikapinya? Jawabnya sangat sederhana yaitu hadapi dengan cerdas secara frontal pihak-pihak yang menekan Indonesia, dan minta pembuktian atas fitnah-fitnah yang mereka lakukan. Pada saat yang bersamaan kita teruskan reformasi internal sesuai dengan pemikiran asli Indonesia dan tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar yang mampu membangun militer dan intelijen Indonesia yang profesional, serta bukan pelanggar HAM, sebaliknya pelindung rakyat Indonesia yang dicintai oleh rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2456344309194046773?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2456344309194046773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2456344309194046773&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2456344309194046773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2456344309194046773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/simplifikasi.html' title='Simplifikasi'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6091207112346659869</id><published>2010-03-08T08:36:00.003Z</published><updated>2010-03-08T10:18:54.020Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='People Republic of China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='United States'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia Raya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Union'/><title type='text'>Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 4) selesai</title><content type='html'>Aspek Intelijen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kewajaran dalam hubungan antar negara bahwa hubungan antar lembaga intelijen mencerminkan kedekatan hubungan antar negara. Dalam formalitas hubungan antar lembaga intelijen di seluruh dunia akan terjadi saling mengirim utusan perwakilan, diskusi bilateral, analisa bersama, hingga operasi bersama. Dalam contoh yang paling erat hanya terjadi di dunia Barat, khususnya dalam kerjasama intelijen antara Amerika Serikat dengan Inggris. Selebihnya masih diwarnai saling curiga karena secara natural intelijen akan selalu mencurigai intelijen yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya aspek intelijen dalam hubungan antar negara adalah membuka pintu-pintu yang tertutup, menjembatani kemungkinan terciptanya konflik, serta mempererat kerjasama yang saling menguntungkan, bahkan membangun aliansi strategis guna memelihara stabilitas dan kepentingan nasional masing-masing. Terkait dengan catatan pentingnya aspek intelijen, maka tidaklah mengherankan apabila lembaga intelijen di seluruh dunia mencatat dengan sangat serius perilaku intelijen asing.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Intelijen Barat, khususnya CIA (AS) dan MI6 (Inggris) memiliki catatan dan reputasi yang sangat buruk dalam sejarah Pemerintahan Orde Lama yang berujung pada pembantaian kelompok Komunis Indonesia, hancurnya kelompok Islam Politik, dan jatuhnya Presiden Sukarno. Namun CIA memiliki catatan semanis madu pada masa awal dan pertengahan Pemerintahan Orde Baru berupa bantuan teknis pembentukan lembaga kontra intelijen dalam bentuk Unit Pelaksana Operasi. CIA berada di belakang penguatan pondasi Pemerintahan Orde Baru yang pada awalnya diharapkan akan menjadi sahabat Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Indonesia adalah Indonesia yang lebih senang berkelahi di dalam dan kurang memperhatikan pentingnya konsistensi kebijakan yang akan membawa pada perubahan secara bertahap menuju pada kejayaan Indonesia Raya. Dinamika politik dalam negeri Indonesia senantiasa diwarnai oleh kompetisi kekuatan politik dan kekuatan ekonomi, sehingga Orde Baru yang dibangun dari kudeta tanpa darah memiliki mentalitas psikologis rasa tidak aman karena musuh domestik di mana-mana. Musuh politik berupa kelompok sosialis-komunis kemudian dilabelkan sebagai bahaya laten yang harus ditumpas hingga ke akar-akarnya, kelompok Islam politik dimarjinalkan dan dikooptasi dalam partai yang tunduk pada pemerintah, kelompok kritis yang peduli pada situasi sosial dan keadilan ekonomi di cap sebagai melawan pemerintah, kelompok liberal yang membela kebebasan berpendapat dicap sebagai antek Barat, kelompok etnisitas dianggap sebagai potensi separatis dan eksklusifisme, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIA telah melatih sejumlah agen pilihan Indonesia pada tahun 1970-an bahkan memberikan pelatihan di Amerika Serikat dan mengirimkan bantuan teknis berupa alat-alat intelijen ke Jakarta, termasuk pornografi (efek negatif untuk meliberalkan agen-agen Indonesia terhadap Barat). Di bidang Militer, sejumlah bantuan militer dari kemudahan pembelian peralatan perang (senjata dll) hingga pelatihan International Military Education and Training (IMET)yang dibekukan pada tahun 1992 membuktikan bahwa hubungan Indonesia - AS cukup erat selama era Perang Dingin. Persoalannya pada era Orde Baru adalah Indonesia tidak memaksimalkan kedekatan hubungan dengan Barat tersebut untuk penyelesaian hingga tuntas isu-isu konflik di dalam negeri seperti separatisme Timor-Timur, Aceh, Maluku, Papua, hingga akhirnya persoalan itu baru dapat dibahas pada era reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejatuhan Orde Baru banyak diwarnai oleh murni persoalan domestik Indonesia yang semakin parah dengan kasus korupsi yang teramat besar, kebencian pada pemerintah dan militer yang memuncak serta ledakan kebebasan berekspresi yang tidak pernah hilang dalam gerakan bawah tanah. Lagi-lagi CIA dan sekutunya hanya melakukan sedikit suntikan kematian dengan mendorong pemerintahan Orde Baru yang berdiri di pinggir jurang untuk jatuh. Antara lain hal itu dilakukan melalui agen-agen handal yang berada di sekitar Prabowo, Wiranto dan di sekeliling gerakan reformis dan gerakan oportunis. Dalam kasus ini bolehlah kita anggap sebagai win-win solution karena rakyat Indonesia juga menghendaki hal yang sama dengan CIA, yaitu mengganti pemerintahan yang korup dibawah Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, intelijen China di Jakarta lebih memperhatikan penyelamatan aspek bisnis yang dapat berdampak ke China melalui pengusaha Chinese perantauan yang sebagian masih loyal kepada China. Sehingga peranan mereka lebih kepada melindungi kepentingan ekonomi karena China sedang tumbuh pesat, maka dapat menjadi alternatif pelarian kapital sehingga sekaligus mendapatkan keuntungan. Dalam kaitan ini, intelijen Singapura juga sangat berkepentingan sehingga tercatat dalam pelarian modal yang terdekat dan aman adalah ke Singapura dan berikutnya ke China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sesungguhnya para pengusaha Chinese cukup loyal kepada Indonesia, namun uang tidak memiliki negara dan ia mengalir ke tempat yang lebih aman dan stabil sehingga kita tidak dapat menyalahkan terjadinya pelarian modal/kapital dari Indonesia ke luar negeri. Situasi reformasi yang membuat perubahan dalam tata hubungan negara dan swasta di bidang ekonomi telah menyebabkan sebagian pengusaha enggan membawa kembali modalnya ke Indonesia karena tidak ada lagi kekuasaaan yang menopang monopoli ekonomi kelompok tertentu. Pemerintah berganti beberapa kali dan pengawasan terjadi dimana-mana dan korupsi tidak lagi menjamur walaupun belum hilang sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang stabil secara politik, mantap secara ekonomi, dan kondusif secara sosial, membuka kembali peluang perubahan dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, China, India, Russia, dan Uni Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya citra Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki arti penting bagi China dan Barat dalam sudut pandang yang kontras. Bagi China, demokrasi Indonesia dan India berpotensi mengintimidasi legitimasi pemerintahan Partai Komunis China dengan pseudo democracy-nya serta dapat menjadi inspirasi bagi gerakan demokrasi di dalam negeri China. Sementara bagi Barat, demokrasi di Indonesia justru menjadi bukti keberhasilan sebuah proses reformasi di negara otoriter-militeristik dengan kekuasaan partai tunggal Golkar (yang dapat disamakan dengan Partai Komunis China). Sehingga tidaklah mengherankan apabila China sangat berminat membangun hubungan strategis dengan Indonesia karena Indonesia belum dan tidak terikat dengan aliansi pertahanan seperti Five Power Defense Agreement (FPDA)yang terdiri dari Malaysia, Inggris, Australia, Singapura, dan Selandia Baru. Dengan kata lain, tidak akan rugi untuk memiliki hubungan baik dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena Indonesia demokrasi, maka secara logis akan tampak bahwa Indonesia akan lebih dekat kepada India, Amerika Serikat dan Barat, sehingga membuat China terisolasi dari sudut pandang politik. Padahal secara ekonomi, China berada dalam satu kubu liberalisasi ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan jalur komunikasi yang baik antara China dan Indonesia dalam menyikapi perkembangan kawasan dan dunia. Sebagaimana pernah disampaikan oleh seorang ahli strategis China [deleted] kepada Indonesia [deleted], bahwa negara-negara Barat khususnya AS dan Eropa tidak menghendaki sustainable progress di kawasan Asia karena sifat dasar manusia, iri dengki, serta ketakutan akhir dari supremasi Barat (orang kulit putih) sebagaimana ditegaskan dalam penelitian seorang ahli dari Universitas ternama di Inggris [deleted].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan, diskusi di Jepang, Korea, dan sebagian besar negara Asia adalah mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kepemimpinan China yang bertanggung jawab dalam persaudaraan Asia untuk kemajuan Asia dan stabilitas dunia. Meskipun Amerika Serikat dan Barat masih memiliki dominasi di sejumlah bidang khususnya militer, namun hal itu hanya masalah waktu saja. 10-50 tahun mendatang dunia akan berubah, dan anak cucu kitalah yang akan mengalami dan menyaksikannya, oleh karena itu sangat penting untuk mempersiapkan masa depan Indonesia yang melindungi kepentingan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Barat sudah diramalkan oleh Nostradamus akan menuju kehancuran sebagai akibat dari keyakinannya sendiri, yaitu liberalisme. Mulai dari keserakahan dalam melakukan aktifitas ekonomi, dihalalkannya perilaku seks menyimpang (homoseksualitas), bukti  angka kehamilan remaja tertinggi di dunia (Amerika Serikat maupun Uni Eropa) telah menciptakan generasi yang rusak karena ketidaksiapan mentalitas dan pola pendidikan di rumah tangganya. Setiap ideologi memiliki kekuatan dan kelemahan yang akan dominan pada suatu masa sebagai akibat dari hukum alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita lindungi bangsa Indonesia dari kasus-kasus moral yang dapat menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Hal ini tidak identik dengan ajaran agama yang menghakimi perilaku moral. Melainkan secara cerdas kita kembangkan pemahaman publik Indonesia tentang pentingnya sinergi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari kita yang akan membimbing kita dalam perjalanan hidup. Bangsa Indonesia tanpa agama-pun telah memiliki standar moral yang tinggi, sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan formula kesepakatan aturan hidup yang dapat menjaga generasi muda Indonesia baik dari ajaran adat-istiadat, ajaran agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Khong Hu Chu, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China bahkan dengan liberalisme ekonomi dan sosialisme politik ala China telah mulai melakukan penggalian jati diri bangsa China dengan ajaran China kuno berupa filsafat Khong Hu Chu yang dikembangkan pada masa Presiden Jiang Zemin, hal ini mencerminkan kehati-hatian dalam melaksanakan ideologi Barat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seyogyanya hal yang sama juga harus ditempuh oleh Indonesia dengan penggalian kekayaan filsafat dan khasanah di Nusantara, sehingga kita tidak terjebak dalam arus dinamika dunia yang akan menenggelamkan Indonesia. Menjadi kewajiban para pimpinan nasional dengan dukungan intelijen yang kuat untuk menentukan arah dan merancang masa depan Indonesia raya. Dalam kaitan tersebut, hubungan aliansi strategis yang mantap dengan berbagai negara asing tidak dapat terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I hanya membuka wacana tentang perlunya hubungan baik dengan China, namun keputusan tetap berada di tangan pimpinan nasional Indonesia. Sudah waktunya Indonesia bermain secara pintar dengan kalkulasi yang tepat serta dalam bimbingan kepentingan 250 juta rakyat Indonesia yang mendambakan kesejahteraan yang adil dan merata. Kita tidak akan berinvestasi dengan penguatan hubungan dengan Negara-negara Barat yang tidak lama lagi akan hancur bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6091207112346659869?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6091207112346659869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6091207112346659869&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6091207112346659869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6091207112346659869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen_08.html' title='Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 4) selesai'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4140596588695874362</id><published>2010-03-06T10:14:00.005Z</published><updated>2010-03-06T11:09:51.073Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amerika Serikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia.'/><title type='text'>Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 3)</title><content type='html'>Pembangunan sebuah negara akan selalu diwarnai oleh berbagai kompetisi internal dan eksternal, sehingga terbuka sejumlah pilihan cara pencapaian kemajuan Indonesia Raya. Pengawasan yang saya maksudkan adalah bukan hanya melulu soal korupsi dan buruknya implementasi, melainkan juga dalam hal penentuan pilihan-pilihan terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama segenap elemen bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoriterisme dan militerisme yang dibimbing oleh niat baik, dan implementasi yang profesional dapat saja menjamin tercapainya kesejahteraan seperti negara kota Singapura atau China dengan partai komunismenya. Demokrasi dan liberalisme ekonomi juga bisa saja menjadi jalan dalam perwujudan kesejahteraan sebagaimana negara-negara Barat saat ini. Namun ingat pondasi yang kokoh yang dibangun di Barat seluruhnya berdasarkan otoriterisme sebelum abad 19 yang mampu memobilisasi kemajuan zaman, sementara Indonesia Raya (Nusantara) dijajah dan diperkosa secara biadab oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tidak akan pernah hilang dalam ingatan dan hati kita, hal ini bukan dendam, melainkan mimpi buruk yang diwariskan oleh luluhur kita melalui catatan DNA akan terus mengalir entah hingga generasi ke berapa. Akibatnya kita lahir dengan potensi generasi yang minder, bodoh, lambat, serta penuh kekacauan dalam menentukan langkah perjalanan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai bangsa besar dengan mahakarya peninggalan bersejarah kerajaan-kerajaan Nusantara telah melupakan jadti diri yang sesungguhnya, sehingga kepribadian bangsa Indonesia yang percaya takdir Tuhan, baik dan sederhana namun maju dan profesional hilang ditelan sejarah. Indonesia adalah bangsa yang sedang tertatih-tatih melakukan transisi dan tranformasi untuk kembali mengenali jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bagaimana kita sebagai bangsa akhirnya juga mengikuti langkah negara-negara Barat dalam melakukan penjajahan kepada rakyatnya sendiri. Perhatikan bagaimana kita memperlakukan saudara kita di Timor-Timur, Aceh, Maluku, dan Papua. Berangkat dari warisan penjajahan Belanda yang menanamkan bibit permusuhan antar etnis di Indonesia, kita tanpa sadar memperlakukan saudara kita sendiri secara buruk. Seyogyanya hal itu tidak perlu terjadi andaikata saja kita cukup percaya diri dan memiliki keyakinan pada nilai-nilai kebaikan Nusantara. Kita tidak pernah membutuhkan tekanan Barat untuk transformasi diri kita andaikata saja kita membuka mata dan hati serta mendekati permasalahan secara obyektif dan sungguh-sungguh berupaya menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu ketakutan bahwa kita akan berpisah satu dengan lainnya, atau ketakutan akan hancurnya Indonesia Raya, dan kecurigaan selalu kita arahkan kepada negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. Sementara itu, sejarah modern Indonesia juga diwarnai ketakutan akan bahaya komunisme yang dihembuskan Barat pada tahun 1950-1960-an. Akibatnya kita sangat curiga kepada kelompok sosialis-komunis dan negara asing pembawa ideologi komunis seperti China dan Uni Soviet. Bahka  Barat dengan jahatnya menjerumuskan kita ke dalam kebencian etnisitas kepada sesama rakyat Indonesia dari suku bangsa Tionghoa. Akibatnya kita saling menyerang dan membunuh, seiring dengan pembantaian sejumlah jenderal dan pembalasan pembantaian terhadap seluruh pimpinan Partai Komunis Indonesia. Operasi intelijen Barat sangat berhasil bukan? namun kita telah merobek-robek kembali persatuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan intelijen AS, Australia, Portugal dan Inggris di Timor Timur, peranan intelijen AS dan Inggris di Aceh, peranan intelijen Belanda di Maluku dan peranan intelijen AS, Australia dan Inggris di Papua sangatlah besar. Betapapun mereka tidak sungguh-sungguh ingin menolong Indonesia, buktinya tidak pernah ada satupun pembicaraan serius dari operasi intelijen asing di daerah konflik Indonesia tersebut dibahas secara transparan untuk menolong Indonesia. Bahkan secara cerdik digunakan untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam nusantara yang telah memiskinkan rakyat Indonesia yang hidup di daerah konflik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pokok intelijen AS, Australis, Inggris dan kebanyakan negara Barat adalah untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka, yakni eksploitasi (penajajahan modern) kekayaan alam Indonesia untuk mempertahankan supremasi ekonomi, politik dan militer mereka di dunia. Lagi-lagi Indonesia menampilkan wajah tolol dengan berterima kasih atas penajajahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan apabila elemen intelektual sosialis dan komunis Indonesia masuk ke daerah konflik dan memberikan pelatihan khusus untuk mengadakan perlawanan terhadap perusahaan multinasional sekaligus perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dan menyuarakan kemerdekaan melalui pemisahaan diri dengan berlandaskan kepada konsep self-determination. Pemerintah Indonesia yang naif, militer yang berpandangan sempit, intelijen yang buta telah kecolongan di sana-sini, sehingga persoalan demi persoalan mengkristal menjadi sebuah ancaman laten yang sulit dihapuskan, akibatnya aparat tiba-tiba harus berhadapan dengan rakyat, padahal seharusnya aparat melindungi rakyat, namun anehnya terjadi juga penyerangan aparat oleh rakyat. Memusingkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelijen asing yang melihat dinamika tersebut tersenyum puas melihat kebodohan kita yang mendorong kita sesama orang Indonesia berkelahi. Hal ini dapat saja mengkonfirmasi teori konspirasi yang tidak menginginkan Indonesia maju, namun saya kurang setuju karena semuanya justru berasal dari kebodohan dan emosi kita yang kurang terkendali manakala menghadapi masalah. Tidak mengherankan apabila kita masih saja bermimpi menemukan Ratu Adil untuk menyelamatkan Indonesia Raya, padahal Ratu Adil tersebut hanya akan lahir apabila kita bersama-sama mendorong suatu perubahan massal Indonesia Raya yang sadar akan jati dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbicara tentang jati diri, namun ketika melihat sistem pendidikan, rasanya kurang tampak kuat pembangunan identitas diri bangsa Indonesia berdasarkan kepada konstruksi sejarah yang dapat membuat kita bangga - pride (namun tidak sombong - arrogant)akan diri kita. Yang terjadi adalah sebaliknya, kita cenderung malu dengan diri kita sebagai bangsa Indonesia. Terlalu banyak catatan hitam dan kebodohan dalam sejarah kita, seyogyanyalah kita malu namun janganlah menghalangi kemajuan dan perubahan demi generasi muda Indonesia. Mungkin kemajuan Indonesia Raya tidak terjadi sekarang, tetapi akan terjadi pada 10-20-30 tahun mendatang, atau bahkan 100 tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era reformasi yang telah membuka titik terang, kita masih menghadapi banyak persoalan dan pekerjaan rumah. Salah satunya adalah dalam menyikapi perdagangan bebas (Free Trade). Perdebatan sengit soal Persetujuan China - ASEAN Free Trade baru-baru ini mencerminkan masih kacaunya perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Anggaplah Indonesia sudah tidak dapatlagi menarik diri dari keputusan untuk terjun ke dalam sistem ekonomi dunia yang liberal. Apa-apa saja yang perlu Indonesia persiapkan? Perencanaan macam apa yang harus disusun Indonesia ? serta bagaimana Indonesia mempersiapkan perekonomian nasional Indonesia yang kuat untuk dapat survive dalam gelombang perdagangan bebas? Pertanyaan tersebut sangat sulit apabila kita tidak atau belum mengetahui apa yang kita ingin lakukan, ingin perkuat, ingin fokuskan bukan? Akibatnya kita beradu argumentasi di titik yang salah, yaitu saat kritis menjelang implementasi perdagangan bebas, seharusnya adu argumentasi terjadi pada saat penyusunan persetujuan secara internal di dalam negeri, adu argumentasi juga seharusnya terjadi pada saat penyusunan rencana pembangunan yang mengantisipasi pasar bebas, serta bukan di ujung waktu pelaksanaan persetujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik diri dari persetujuan akan tampak tidak kredibel bahkan membuktikan kepada dunia tentang Indonesia yang merasa pintar tetapi sangatlah bodoh. Terjun bebas ke dalam persetujuan perdagangan bebas tanpa ada upaya penyelamatan sektor yang rawan juga akan menjadi bahan tertawaaan karena sama saja dengan pembunuhnan industri dalam negeri. Lantas apa yang dapat dilakukan? Perlu dilakukan segera dalam waktu singkat identifikasi sektor industri apa yang akan terhantam keras dan cari jalan keluarnya, barangkali masih ada kelonggaran dari negara mitra dagang untuk mempertimbangkan stabilitas industri dan perekonomian nasional. Entahlah saya juga kurang mengerti masalah ini, mudah-mudahan ekonom cerdas Indonesia di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindutrian, serta berbagai pihak lainnya dapat menemukan jalan keluar yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita tinjau aspek intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4140596588695874362?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4140596588695874362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4140596588695874362&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4140596588695874362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4140596588695874362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen_06.html' title='Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 3)'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7761600733754197830</id><published>2010-03-05T08:13:00.002Z</published><updated>2010-03-05T09:12:02.260Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 2)</title><content type='html'>Setelah kita merdeka, apa yang terjadi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme adalah karakter dasar yang kita bangun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nasionalisme juga mempersatukan identitas keIndonesiaan, bahkan nasionalisme jugalah yang menyebabkan lahirnya negara Republik Indonesia (bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang digagas dalam perspektif militer).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal lahirnya, Nasionalisme Indonesia tidak meniadakan identitas suku bangsa karena nasionalisme lebih dipandang sebagai kesamaan nasib dan cita-cita bersama. Dengan demikian nasionalisme Indonesia memberikan ruang yang luas kepada perbedaan ideologi (kapitalisme-liberalisme, komunisme-sosialisme, agama) dan itulah sebabnya Presiden Sukarno pernah menggagas Nasakom sebagai ideologi yang menggabungkan tiga kelompok besar dalam kekuatan politik dalam negeri dalam membawa perjalanan bangsa Indonesia, namun gagal karena unsur kapitalis-liberal kurang mendapatkan tempat yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang dilatih selama 350 tahun oleh Belanda untuk saling curiga dan saling bunuh, masih memiliki suasana psikologis mengambil titik ekstrim perbedaan serta kurang memperhatikan unsur yang mempererat persaudaraan sesama anak bangsa. Akibatnya setelah merdeka kita mulai memperlihatkan unsur-unsur permusuhan internal. Pada satu sisi, hal itu sangatlah wajar karena persaingan politik kekuasaan dan juga sektor ekonomi serta penguatan kelompok-kelompok elit. Saling curiga dan persaingan politik tersebut menyebabkan Indonesia melakukan eksperimen dengan berbagai model sistem pemerintahan dan perwakilan, mulai dari sentralisasi dan desentralisasi kekuasaan, berbagai model demokrasi (liberal, terpimpin, pancasila), namun sayangnya selama Orde Lama dan Orde Baru kita belum mampu membangun pondasi sistemik yang kuat yang dapat menjawab kegelisahan rakyat Indonesia dan pengaturan aturan main para elit negara di tingkat nasional dan lokal, sehingga semua model berjalan relatif singkat, bahkan Orde Baru juga hanya bertahan 32 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah reformasi, 12-13 tahun berjalan Indonesia akhirnya memiliki sistem yang tampak lebih baik dengan berbagai penguatan aturan main dalam berbangsa dan bernegara yang secara adil dapat diterima kekuatan-kekuatan politik dalam negeri baik dari kelompok nasionalis, agama, liberalis, sosialis, etnis, dll. Sementara waktu, rakyat Indonesia dapat bernafas lega dan mulai...ya baru saja mulai membangun percaya diri tentang identitas dirinya sebagai bangsa yang meyakini Takdir Tuhan, berkarakter sederhana (tidak ambisius), meyakini nilai-nilai kebaikan universal, serta secara bertahap membangun kembali pondasi-pondasi kemajuan zaman dengan saling tolong-menolong dengan saling percaya dan saling menghormati walaupun dengan beragam perbedaan yang mewarnainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan tersebut, lagi-lagi unsur ekstrim perbedaan menguat...misalnya aspirasi agama dalam hal penerapan syariat Islam di ranah politik, aspirasi liberal dengan pasar bebas dan penerapan dasar-dasar kebebasan manusia ala Barat, aspirasi sosialisme Indonesia dengan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, aspirasi etnisitas dengan penguatan identitas lokal, aspirasi keadilan yang mendorong perbaikan sistem hukum nasional, serta berbagai aspirasi lainnya yang lahir secara murni dalam kebebasan ekspresi bangsa Indonesia. Saya katakan ekstrim, karena aspirasi yang satu cenderung meniadakan aspirasi yang lain serta sangat sedikit terjadi dialog. Betapapun hebatnya Sri Mulyani dan Boediono sebagai arsitek perbaikan ekonomi Indonesia, akan sangat baik apabila kedua tokoh liberalisme Indonesia tersebut mulai menyentuh secara sungguh-sungguh pendekatan kesejahteraan bangsa Indonesia yang memperhatikan rakyat kecil, hal ini tidak perlu berada di tangan finansial melainkan mendorong keaktifan Departemen teknis seperti pertanian, tenaga kerja, perindustrian, perdagangan, dll dalam mendorong aktifitas yang produktif dari para pelaku ekonomi di tingkat pedesaan. Namun ingat, rakyat kita sangat sederhana dan cepat puas sehingga keberhasilan jangan diukur dari tingkat kepuasan. Selain itu, janganlah menggantikan kesederhanaan bangsa Indonesia dengan keserakahan sehingga akan membawa bangsa Indonesia seperti bangsa Barat yang kurang bermoral dalam melakukan kegiatan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci moralitas dan etika dalam ekonomi adalah kepedulian dan menahan keserakahan. Artinya ada unsur saling menolong untuk memperkuat basis sosialis-liberal ala Indonesia, kurang masuk akal memang dalam memadukan liberal dan sosialisme karena salin bertolak belakang. Maksud saya dalam terminologi ini adalah keseimbangan dengan ukuran kapabilitas bangsa, kapabilitas rakyat kecil, dan kapabilitas nasional dan lokal dalam merespon dinamika ekonomi di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan perilaku ekonomi yang etis memang seperti menghayal, bayangkan saja apabila anda seorang yang sangat kaya seperti Aburizal Bakri yang kebetulan perusahaannya menunggak pajak, tentunya dalam hal ini pemerintah harus tegas, tetapi bukan dengan tujuan memiskinkan atau mempermalukan Aburizal Bakri, melainkan mengingatkan secara santun bahwa pajak yang dibayar Aburizal akan sangat bermanfaat dan sungguh-sungguh mengalir untuk rakyat miskin Indonesia dengan peningkatan pelayanan publik. Dengan demikian, rakyat juga akan sangat berterima kasih kepada Aburizal dan juga pemerintah yang mampu melakukan pengelolaan secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling curiga, saling sakit hati, serta saling menjatuhkan dalam tataran elit politik dan ekonomi Indonesia membuat rakyat Indonesia menangis tanpa daya karena sangatlah sakit dan sedih bila harus menyaksikan kembali penundaan kemajuan Indonesia karena para elit politik saling berkelahi. Rakyat Indonesia yang sederhana mengharapkan adanya rekonsiliasi elit politik berdasarkan pada kepedulian dan saling menghormati, karena elit-elit politik yang wakil rakyat diharapkan mampu menyuarakan suara yang lebih murni daripada suara sumbang kepentingan pribadi yang terlalu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondasi ekonomi yang relatif baru segar kembali sejak pemulihan ekonomi 5-7 tahun ke belakang, tentu masih memiliki sejumlah kelemahan yang harus segera diperbaiki. Hanya dengan memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk mengerjakan tugasnya dengan baik serta pengawasan kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7761600733754197830?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7761600733754197830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7761600733754197830&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7761600733754197830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7761600733754197830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen_05.html' title='Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 2)'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2833872458985004669</id><published>2010-03-04T09:59:00.003Z</published><updated>2010-03-04T10:34:32.323Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China</title><content type='html'>Dalam satu tahun, entah sudah berapa puluhan atau mungkin ratusan kali Intelijen Indonesia didekati oleh China. Baik dari tingkat Menteri maupun pelaksana operasi, People Republic of China melalui [deleted] mengadakan pertemuan, diskusi dan kerjasama dengan [deleted]. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan China di bidang ekonomi telah meningkatkan percaya diri yang luar biasa yang mendorong intelijen China mulai menempuh langkah-langkah strategis merangkul seluruh kawasan Asia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Intelijen Indonesia seharusnya mengambil sikap?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan kecilnya perhatian negara-negara Barat, dengan pengecualian Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik, maka sesungguhnya tidak terhidarkan lagi bagi Indonesia untuk mempertimbangkan terbukanya jalur-jalur komunikasi rahasia, sebagaimana pernah dibangun pada era Sukarno dengan Poros Jakarta-Peking. Salah satu pertimbangan yang kuat adalah fakta keberadaan etnis China warga negara Indonesia yang dapat menjadi perekat hubungan bilateral kedua negara apabila dikelola secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia yang multikultural telah menempuh era baru dengan persaudaraan sejati antar etnis, darimana-pun kita berasal apakah itu rumpun Melayu, Chinese, Melanesian, Arab, dll adalah tetap satu Indonesia. Faktor persatuan Indonesia tersebut pernah dikoyak-koyak oleh Amerika Serikat dan Inggris dengan peristiwa bersejarah 1965, dimana perang ideologi komunisme-liberal telah membuat hubungan harmoni sesama anak bangsa Indonesia hancur hingga bertahun tahun dalam suatu bahaya laten disintegrasi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun manisnya tawaran dan bantuan negara-negara Barat, boleh dikatakan karena mereka merasa super dan lebih pandai, maka Indonesia telah berkali-kali ditipu dan dimanfaatkan dalam memelihara supremacy of the west. Hampir seluruh peristiwa kehancuran Indonesia raya diwarnai oleh campur tangan Barat, khususnya AS, Inggris dan Australia. Apakah Barat sungguh-sungguh ingin melihat Indonesia yang maju? tentu menjadi tanda tanya besar karena sejarah telah mencatat bahwa pembodohan terhadap Indonesia telah berulang kali terjadi dan sangat menyakitkan perjalanan bangsa Indonesia. Sesungguhnya mereka tidak akan pernah senang melihat kemajuan kita bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi, supremacy of the west will be finished, dan perubahan konstelasi global tidak terhindarkan lagi. Propaganda clash of civilization yang secara canggih disusun telah membangun sebuah kecurigaan antar bangsa, termasuk dalam hubungan sesama anak bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah sebenarnya juga pernah mencatat bahwa supremacy Kerajaan China juga cenderung dan hampir sama dengan Barat, mungkin hal ini sudah menjadi hukum alam. Dimana yang kuat mendominasi yang lemah atau bahkan mendiktenya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang relatif sangat lemah secara militer adalah negara dengan mayoritas bangsa/penduduk yang berkarakter baik dan tidak macam-macam bahkan kurang memiliki cita-cita selain menikmati perjalanan hidup secara biasa saja. Hal itu telah menyebabkan sikap yang cenderung pasif dan tidak ekspansif. Selain itu, rendahnya kapabilitas baik secara intelektual (masih agak bodoh)maupun secara fisikal (kepemilikan unsur-unsur power), telah menciptakan Indonesia yang inward looking dan rendah hati (kadang menjadi rendah diri). Faktor-faktor tersebut menyebabkan reaksi-reaksi Indonesia mudah diukur dan mudah ditebak arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh keraguan, kurang mengerti kepentingan nasional, tidak antisipatif, namun sangat reaktif manakala terjadi sesuatu yang mengganggu perasaan dan harga diri. Sayangnya karena lemah, maka hanya bisa teriak marah ataupun bahkan menangisi nasib sebagai bangsa yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kita bangsa yang lemah? TIDAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bangsa yang bersikap menerima pada takdir Tuhan, apapun agama yang kita yakini dari luar (Hindu, Buddha,Islam, dan Kristen) hanya merupakan satu dari rangkaian mosaic dari jati diri bangsa Indonesia. Sikap tersebut melahirkan karakter lambat, menunda persoalan, dan bahkan lari dari kenyataan. Inilah yang menyebabkan kita tampak agak bodoh di dunia internasional bukan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab dalam sikap kita tersebut? adalah warisan sejarah ratusan tahun dimana kita lupa akan jati diri kita sebagai bangsa yang menerima takdir Tuhan, menjunjung tinggi nilai-nilai yang baik, serta saling kasih sayang dengan sesama manusia, menyayangi binatang dan alam semesta, serta tidak serakah dalam menikmati kehidupan duniawi. Kata kuncinya adalah sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikatakan kehancuran kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai akibat dari perang saudara lebih banyak dipengaruhi faktor pertempuran para elit di keluarga Istana, atau karena perselisihan yang kurang signifikan dan dapat didamaikan. Namun kehancuran moral bangsa-bangsa di Nusantara (sebelum lahirnya Indonesia) pertama kali terjadi adalah akibat penjajahan Belanda yang sangat kejam dan masih melekat bahkan dalam sifat kebangsaan kita yang saling curiga. Adalah Belanda yang mengajarkan kita tentang makna penghianatan dan saling membunuh sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan kita bagaimana untuk menjadi serakah dan mengeksploitasi sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan bagaimana memelihara konflik, bahkan Belanda mengajarkan bagaimana membangun sistem kenegaraan yang koruptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita merdeka, apa yang terjadi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2833872458985004669?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2833872458985004669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2833872458985004669&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2833872458985004669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2833872458985004669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen.html' title='Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3919287939499890732</id><published>2010-02-11T17:11:00.003Z</published><updated>2010-02-11T18:25:13.866Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STIN'/><title type='text'>Sekolah Tinggi Intelijen Negara</title><content type='html'>Mohon maaf sebelumnya, karena peminat Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) yang sangat tinggi melalui Blog I-I, maka saya secara khusus menuliskan kritikan yang semoga dapat dipahami baik secara akademik maupun strategis dalam proses pembinaan insan Intelijen Indonesia melalui STIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah baik-baik kritikan saya ini, dan jangan dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi STIN, tetapi berpikirlah dalam jangka panjang demi kiprah Intelijen Indonesia yang profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik saya adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, STIN bagi saya hanya sebuah jalan pintas perbaikan sumber daya insan intelijen yang memiliki berbagai celah yang disebabkan kecerobohan pimpinan dalam memilih proses pembinaan insan intelijen yang cenderung tersentral dan militeristik. Kelemahan yang dihadapi insan intelijen alumni STIN adalah justru karena identitas background pendidikannya dari STIN, selama 4 tahun berada didalam lembaga pendidikan formal setingkat strata I dengan gelar sarjana intelijen, apakah hal ini masuk akal dalam teori-teori dasar intelijen? Saya sungguh-sungguh sangat kasihan dan prihatin dengan gerak langkah adik-adik yang akan sangat berat karena terlalu lama terasingkan dari sistem sosial pendidikan yang wajar misalnya di Universitas umum. Tidak ada satupun lembaga intelijen di dunia yang melakukan kecerobohan sebagaimana di Indonesia dengan proyek STIN. Pada akhir tahun 1970-an saya pernah dilatih CIA dan pada tahun 1980-an saya pernah menyaksikan sistem pendidikan di Mossad, sangat jauh dari apa yang dirancang oleh LetJen (Purn) Hendropriyono yang haus ilmu namun kebablasan karena kurang memperhitungkan masa depan lulusan STIN. Belajar intelijen secara akademik akan selalu bersifat akademik dengan segala metode ilmiahnya, mempraktekan intelijen adalah seperti profesi yang memerlukan latihan, praktek, yang kemudian berproses dalam kematangan profesionalisme. Selamanya seorang insan intelijen bersifat tertutup dengan jutaan cover yang melindunginya, lalu bila kita memperhatikan sarjana intelijen dari lembaga pendidikan yang dikelola oleh lembaga resmi intelijen, dimana letak cover kehidupannya, track recordnya, sejarahnya, dll. sangat sulit bukan? Itulah sebabnya saya kasihan, dan Blog I-I sangat terbuka untuk menolong adik-adik STIN untuk dapat survive di dunia yang kejam, bukan hanya di dalam institusi melainkan di dunia nyata baik di dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena nasi sudah menjadi bubur, dimana STIN sudah berdiri, dikenal luas dan mulai menjadi sasaran cita-cita generasi muda Indonesia karena daya tariknya yang luar biasa, tentunya perlu dipikirkan jalan pembinaan yang meyakinkan untuk menciptakan cover kehidupan yang akan membangun profesionalisme lulusan STIN, sebuah tugas yang tidak mudah. Saya sendiri menduga, betapapun beratnya lulusan STIN untuk membangun kredibilitas jutaan cover kehidupannya, semua akan berpulang kepada individu masing-masing, dengan kata lain jangan mengharapkan institusi akan terus-terusan memfasilitasi proses pengembangan insan intelijen alumni STIN. Akan beruntung apabila adik-adik STIN berada dibawah pembinaan Spy Master yang kaya pengalaman, tetapi bagaimana bila anda jatuh dibawah pembinaan bahkan oleh senior intelijen yang tidak berkualitas....ya saya tegaskan tidak berkualitas. Anda akan hancur dalam singkat, mengalami demoralisasi, menjadi frustasi, dan kecewa dengan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, secara kualitas bolehlah saya katakan lulusan SMA yang diterima STIN adalah putra-putri terbaik Indonesia. Kemudian mengalami proses pendidikan yang luar biasa, teori dan teknik yang mutakhir. Namun saya menduga akan miskin inspirasi, kurang semangat, dan sering kehilangan arah, bahkan muncul kecenderungan untuk semena-mena serta kurang menghayati makna menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;insan intelijen yang mengabdikan diri hanya untuk kepentingan rakyat, bangsa, negara,&lt;/span&gt; melalui penyusunan produk intelijen untuk single client, the President.  Saya hanya khawatir kualitas terbaik tersebut akan terkooptasi oleh budaya pembusukan yakni menggunakan ilmu intelijen untuk kepentingan pribadi, kelompok dan politik tertentu, serta terkungkung dalam paradigma ketakutan dengan mengedepankan ancaman, sampai-sampai lupa bahwa tidak semua aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilihat dari sisi ancaman. Benar bahwa waspada adalah kunci keselamatan, tetapi intelijen sebagaimana artinya adalah kelompok manusia cerdas yang dapat melihat, menilai dan memperkirakan serta memiliki alternatif jalan keluar yang tepat bagi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, STIN tidak ubahnya sama dengan sekolah-sekolah milik Departemen seperti STAN, STIS, STSN, STPDN, dll yang diharapkan dapat menjadi sumber dari tenaga-tenaga profesional untuk memajukan organisasi. Hanya saja berbeda dengan lembaga yang lebih terbuka, akan sangat sulit bagi seseorang yang menyandang keilmuan intelijen untuk membangun kerahasiaan dirinya yang sesungguhnya, atau dengan kata lain sejak lahirnya sudah memiliki label intelijen. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Mossad dan FSB yang hampir seluruh operatornya adalah tentara pilihan dari yang paling terpilih, kemudian membangun identitas  baru yang disiapkan secara khusus dan benar-benar lahir dalam suatu identitas baru. Berbeda juga dengan model pendidikan intelijen Barat dengan dua contoh CIA dan MI6 yang merekrut lulusan terbaik dari universitas terbaik dari berbagai bidang, kemudian memberikan bekal pendidikan intelijen khusus selama periode tertentu, mulai dari 3 bulan untuk standar posisi clerical, hingga tahunan dan kekhususan yang dititipkan kepada universitas terbaik di masing-masing negara (AS, Inggris). Saya pernah melakukan pengawasan khusus dengan networking pemerhati Indonesia, bahwa sejumlah agen analis CIA dan MI6 belajar di Indonesia dan Australia, semua sangat normal dan bahkan bersahabat dengan banyak orang Indonesia. Perbedaan yang sangat mendasar adalah dalam melatih agen operasional yang tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal yang mendalam, yang diperlukan hanya dasar pengetahuan yang kuat dan pelatihan khusus sehingga memiliki skill yang sangat tinggi dibidang keahliannya. Sudahkan STIN memikirkan hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era yang semakin terbuka, dan gelombang demokrasi yang terus bergerak dinamis di Indonesia, Intelijen Indonesia perlu mengantisipasi masa depan yang sudah semakin dekat dengan berbagai persiapan strategis termasuk dalam mempersiapkan tenaga-tenaga handal melalui berbagai metode rekrutmen, STIN hanya salah satu model dengan berbagai kekuatan dan kelemahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya ingin bertanya kepada pimpinan STIN, akankah siap untuk membuka diri dengan sistem seleksi nasional yang dapat dipertanggungjawabkan, lebih jauh lagi bagaimana dengan peningkatan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu, dan bagaimana pula dengan rencana pembinaan karirnya di masa mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada ratusan (entah mungkin sudah mencapai ribuan) pengirim email kepada Blog I-I yang menanyakan tentang STIN, perlu adik-adik pikirkan lagi secara serius apakah studi intelijen menjadi menarik karena fantasi James Bond atau Jason Bourne? ataukah karena kesungguhan ingin mendalami dan mengabdikan diri dalam dunia intelijen Indonesia? keduanya sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya perlu saya sampaikan bahwa seleksi masuk STIN saya dengar cukup ketat dan hanya sedikit yang diterima (30 orang setiap tahun, mungkin sekarang sudah bertambah). Bila menginginkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dapat menghubungi Kementerian Pendidikan Nasional untuk menanyakan contact point, atau langsung ke Kantor BIN yang sangat terkenal tertutup itu di kawasan Pasar Minggu. Apabila dari kedua pintu tersebut, adik-adik belum berhasil maka saya menterjemahkan posisi STIN sebagai sekolah yang tertutup dengan sistem seleksi yang tertutup pula, yang mungkin hanya dipahami oleh Tim yang melakukan rekrutmen dan lulusan SMA yang telah direkrut. Tidak banyak yang dapat diinformasikan oleh Blog I-I, karena faktanya ketertutupan merupakan ciri khas dunia intelijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3919287939499890732?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3919287939499890732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3919287939499890732&amp;isPopup=true' title='55 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3919287939499890732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3919287939499890732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/02/sekolah-tinggi-intelijen-negara.html' title='Sekolah Tinggi Intelijen Negara'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>55</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-8226059015599730767</id><published>2010-01-31T18:34:00.002Z</published><updated>2010-01-31T19:15:54.268Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita politik Indonesia'/><title type='text'>Realita Politik Indonesia</title><content type='html'>Barangkali kita sebagai bangsa perlu mengakui terlebih dahulu bahwa kita adalah bangsa yang kecil, pengecut, dan selalu berpikir pendek mengutamakan kepentingan pribadi/kelompok dari pada kepentingan nasional, bangsa apalagi negara. Setelah menyadari betapa cupetnya pikiran kita yang selalu inward looking dan betapa kacaunya kalkulasi strategis kita, barulah kita dapat sedikit menyadari...ingat hanya sedikit menyadari. Seperti inikah realita politik kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Blog I-I menyentuh politik, tentunya dapat juga dipertanyakan dan jawabnya sangat sederhana, yakni setelah hampir 12 tahun genap reformasi satu-satunya keraguan yang membayangi masa depan Indonesia adalah proses pergantian pemimpin nasional, dimana seluruh bangsa Indonesia mengharapkan lahirnya pemimpin yang berkualitas, jujur, berani dan pandai mengelola negara serta mampu mensejahterakan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu agenda strategis blog I-I adalah mendorong lahirnya kesadaran massa bangsa Indonsia untuk secara serius memikirkan masa depan Indonesia melalui penyusunan rencana di masing-masing bidang serta berusaha kuat untuk mengimplementasikannya. Pada saat yang bersamaan kesadaran massal tersebut membuka mata hati kita untuk dapat mengutamakan prioritas bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai bangsa masih bersifat/berkarakter feodal dan selalu memimpikan lahirnya Ratu Adil yang akan mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan bangsa. Kita selalu bersandar pada orang lain, pada pemimpin, pada pemerintah, pada pertolongan dari luar, bahkan kepada asing. Sangat bodoh bukan? Sesungguhnya kita harus memulai perbaikan dibidang apapun dari diri sendiri, mulailah mengandalkan diri sendiri dalam membawa perubahan yang lebih baik. Namun hal itu tidak berarti membesarkan ego masing-masing, melainkan membuka keberanian dan kepeloporan dalam membawa perubahan bangsa. Kebanyakan kita hanya mengikut di belakang bukan, bahkan sangat menyedihkan bila kita menyaksikan pimpinan kita-pun ternyata memiliki mentalitas yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai pribadi telah mengawali satu langkah yang sangat kecil melalui Blog I-I, dan responnya bagi saya telah melampaui harapan saya pribadi. Meskipun demikian, wacana, artikel ataupun uneg-uneg dalam pikiran saya belum tentu kena di hati dan pikiran sahabat Blog I-I bukan? Malahan terdapat kecenderungan Blog I-I meningkatkan minat generasi muda Indonesia untuk bergabung dengan dunia intelijen Indonesia. Silahkan saja kepada siapapun warga negara Indonesia untuk mengabdi di bidang intelijen, namun sebagaimana kerahasiaannya tantangannya adalah menemukan jalan menuju dunia intelijen. Blog I-I sejak awal sudah mengumumkan bahwa tidak ada rekrutmen melalui Blog I-I, serta secara singkat dapat saya sarankan untuk mencarinya ke TNI yang memiliki BAIS, Polri yang memiliki sejumlah unit intelijen seperti Densus 88, Baintelkam, dll, ke Lembaga Sandi Negara, ataupun ke BIN yang merupakan Badan Intelijen Tertinggi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar antusiasme sebagian generasi muda yang rajin mengunjungi Blog I-I, ingin saya sampaikan sekali lagi bahwa mengabdi untuk bangsa dan negara Indonesia tidaklah harus di bidang intelijen. Melainkan di berbagai bidang dan apabila ada hal-hal yang sangat penting dan membahayakan negara dapat menginformasikan kepada Komunitas Intelijen, khususnya Polsisi dan BIN atau bahkan melalui Blog I-I untuk disampaikan kepada yang berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun yang dapat membawa perubahan Indonesia sendirian, siapapun kita bagian dari elemen bangsa Indonesia perlu bersinergi dan menyatukan kekuatan untuk membangun Indonesia yang sejahtera modern dan bermoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah pemerintah Indonesia bahwa masih sangat banyak pekerjaan rumah dan persoalan yang menyebabkan langkah kemajuan Indonesia Raya terhambat di sana-sini. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi mulailah melihat kepada diri kita sendiri, kepada peranan dan sumbangan yang telah kita berikan untuk bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita Politik Indonesia adalah saling menghancurkan seperti legenda kutukan Mpu Gandring kepada Ken Anggrok dan keturunannya. Kisah kehancuran para pemimpin kita dimasa lalu dan era Indonesia modern seharusnya dapat menyadarkan kita dan mendorong kita untuk tidak mengulanginya. Namun kita memang bangsa pelupa dan senang mengulangi kesalahan yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin yang bijaksana tidak identik dengan kemampuan menyenangkan seluruh elemen dalam negara, ada kalanya pemimpin itu harus berani menghilangkan penyakit-penyakit dalam elemen negara, bukannya malahan menambah kacau sistem tata negara dengan membagi-bagi kekuasaan kepada orang-orang yang kurang terseleksi, perhatikan bagaimana kualitas para Menteri dan Wakil Menteri yang sekarang ada, Blog I-I menilai hanya 45% yang benar-benar baik selebihnya meragukan karena mereka dipilih secara mendadak dan bukan dipersiapkan jauh-jauh hari dengan penyusunan rencana dan program yang matang untuk sebuah negara sebesar Indonesia. Sungguh Blog I-I sangat sedih dengan kenyataan politik Indonesia saat ini. Beberapa sahabat Blog I-I membantah hal itu dan menyampaikan bahwa Birokrat dapat mendukung siapapun pemimpinnya, namun sadarkah kita bahwa Birokrat sekarang adalah masih sisa-sisa yang bermentalitas pengecut karena puluhan tahun dalam represi sistem orde baru dengan tingkat gaji yang sangat rendah sehingga cenderung korup dan kurang memiliki jiwa kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lagi sahabat blog I-I menyampaikan optimisitas bahwa telah lahir generasi Ratu Adil menyongsong kejayaan Indonesia Raya pada era 2050, namun saya pesimis apabila prosesnya tidak kunjung kelihatan, lihat saja bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita di sekolah. Pendidikan anti diskriminasi yang merupakan masalah dari perbedaan ras-etnis belum menjadi hal yang utama, kita dipaksa untuk memahami Bhinneka Tunggal Ika, namun tidak diajarkan dari kecil untuk menyayangi dan saling menghormati walaupun kita berbeda etnis suku bangsa. Perhatikan bagaimana sakitnya hati saudara kita orang Papua yang mengalami perlakukan diskriminasi rasial secara laten yang ada di dalam hati suku yang berwarna kulit lebih terang. Menyedihkan bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? semua berawal dari pribadi kita masing-masing dan dari sekolah dari pendidikan dan dari pembangunan sistem sosial ekonomi dan budaya Indonesia yang merangkul dan meramu perbedaan diantara kita menjadi kekuatan multikultural untuk kemajuan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab, tentu saja pemerintah bersama seluruh aparaturnya, dan dalam alam demokrasi ini inisiatif elemen bangsa dalam bentuk lembaga swadaya maupun individual akan sangat menolong percepatan kemajuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, semoga rekan-rekan Blog I-I tidak terkungkung dalam sudut pandang intelijen klasik yang sempit sehingga mengabaikan kesederhanaan analisa bahwa Indonesia tidak terlalu memerlukan pendekatan keamanan, sebaliknya memerlukan manajemen yang profesional, berani, tegas, cerdas, cekatan dan tentu saja tidak mengabaikan pendekatan sosiologis budaya untuk proses pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-8226059015599730767?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/8226059015599730767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=8226059015599730767&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8226059015599730767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8226059015599730767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/01/realita-politik-indonesia.html' title='Realita Politik Indonesia'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-8114137822619339427</id><published>2010-01-16T09:40:00.002Z</published><updated>2010-01-16T10:45:41.455Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama bangsa dan negara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dirgahayu Indonesia'/><title type='text'>Agama, Negara dan Bangsa</title><content type='html'>Sebuah komentar terhadap artikel &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2010/01/gussemoga-bangsa-indonesia-memahami.html"&gt;Gus...Semoga&lt;/a&gt; tidaklah terdengar baru ataupun aneh bagi bangsa Indonesia yang sudah demokratis. Kurang lebih kritikan sekaligs kekecewaan terhadap artikel Blog I-I tersebut sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"inget pak agama bukan buatan manusia,islam terpecah belah dan kacau karena orang2 macam gusdur dan mungkin juga anda yang memahami agama dengan pikiran sendiri...beda kepala,beda pemahaman..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang sangat penting yang perlu saya klarifikasi di sini: &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya setuju bahwa agama bukan buatan manusia. Namun sesungguhnya bila Tuhan menghendaki kita akan hanya memiliki satu agama, tetapi mengapa terdapat begitu banyak keyakinan dan agama di dunia ini? Bahkan dalam satu agamapun terdapat begitu banyak cabang/aliran. Bagi saya urusan agama adalah sesuatu yang sangat intim di dalam bathin kita dalam hubungan kita dengan Tuhan, setelah itu menjadi mantap akan memancar dalam perilaku yang terjaga dari perbuatan yang jahat atau keji di dunia ini, bahkan mewujud menjadi penerang bagi orang lain atau masyarakat. Namun hal itu tidak mudah bukan? Karena mayoritas umat manusia terjebak dalam teks hukum agama, baru berada pada level permukaan dalam memahami hakikat beragama serta terlalu khawatir dengan pengaruh dari luar sehingga kita lebih senang membangun tembok pemisah sesama umat manusia, serta membangun komunitas ekslusif yang memiliki keyakinan yang sama. Sementara cara kita melihat keyakinan yang berbeda cenderung bermusuhan. Bagaimana watak rahmat untuk alam semesta dapat mewujud dalam perilaku kita apabila sikap bermusuhan dominan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memahami agama bukan hanya bersandar pada teks kitab suci semata, melainkan juga diwarnai oleh perjalanan hidup yang berisi pengalaman dalam interaksi dengan Tuhan, manusia, alam semesta, dll berbagai hal di sekeliling kita. Setiap pagi kita bangun dari tidur, adalah momen-momen yang selalu baru dan waktu kita habis tidak dapat diulangi dan tercatat sebagai perbuatan, demikian terus dalam suasana yang selalu baru dalam perputaran dimensi waktu sehingga akhirnya kita kembali kepada Yang Maha Kuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bagi saya bukan suatu interpretasi bebas, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dan hukum agama. Seluruh agama di dunia ini mengalami perpecahan sebagai akibat dari tingkat pemahaman yang berbeda-beda, namun kita tidak perlu melangkah ke dalam sikap bermusuhan bukan? Atas alasan apa kita berhak menghakimi orang lain karena keimanan yang berbeda? Apakah kita berhak mengambil posisi Tuhan dalam menilai sesama manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga bukan suatu sikap untuk semata-mata bersandar pada kekuatan manusiawi berupa pemahaman akan dan pikiran. Melainkan juga perlu ada bimbingan dari kebijakan yang lahir begitu saja di dalam bathin setiap manusia yang mau berusaha untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konteks artikel saya tentang Gus Dur lebih banyak sebagai penghormatan simbolis karena saya tidak dapat menemuinya secara langsung sebelum beliau meninggalkan alam yang fana ini. Selain itu, konteksnya adalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bukan dalam konteks kehidupan beragama Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda menyebut generasi sahabat Rasulullah sebagai masa yang membuat umat Islam baik, tetapi apakah anda pernah membaca kisah-kisah sejarah periode sahabat Rasul? Mengapa Umar RA, Ustman RA, Ali RA, semuanya dibunuh pada akhir masa pemerintahannya? Jawabannya adalah kepentingan Politik Kekuasaan dan perbedaan pendapat baik di dalam umat Islam maupun sebagai akibat adanya penyusupan dari musuh-musuh Islam di masa itu. Akan lebih tepat apabila kita secara jujur mengakui bahwa periode sahabat Rasul adalah periode perjuangan awal paska Rasul untuk memantapkan keberlanjutan agama Islam yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, dalam konteks beragama tidak ada keraguan bahwa umat terdahulu memiliki kualitas beragama yang patut ditauladani, namun dalam urusan berbagangsa dan bernegara pernah terjadi bencana besar bukan? Apakah umat Islam Indonesia akan mengulangi sejarah dengan terus-menerus bermusuhan sebagai akibat dari perbedaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menganjurkan untuk memelihara perbedaan karena hal itu ada sebagai sebuah realita dari umat manusia, tetapi saya juga tidak menganjurkan dilakukannya pemaksaan untuk penyeragaman keyakinan karena hal ini sama saja dengan memmbangun bom waktu permusuhan yang semakin dalam. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita perlu memproses sebuah cara pandang dalam identifikasi diri kita, masyarakat kita, bangsa kita dalam identitas Indonesia, namun hal itu tidak menghilangkan ciri atau identitas khusus dalam beragama, bersuku bangsa dan berkeyakinan. Problem besar dari masyarakat komunal seperti di Indonesia, adalah hampir selalu muncul ide di benak kita bahwa yang terbaik adalah keseragaman, padahal hal itu akan menghabiskan waktu kita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Untuk kemajuan bangsa, yang diperlukan adalah saling menghormati, saling percaya dan bersatu dalam mewujudkan cita-cita bersama yaitu bangsa Indonesia yang maju. Apakah hal itu bertentangan dengan keyakinan beragama kita? Silahkan anda pikirkan dengan juga mempertimbangkan bahwa jutaan saudara kita masih hidup dalam kemiskinan, bukankah agama mengajarkan untuk berbuat baik, menyantuni anak yatim piatu, menolong orang miskin. Pernahkah kita berpikir untuk menolong saudara kita yang miskin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga hal ini dapat menjawab kritikan rekan-rekan Blog I-I yang memiliki pertanyaan dan kritikan yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-8114137822619339427?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/8114137822619339427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=8114137822619339427&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8114137822619339427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8114137822619339427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/01/agama-negara-dan-bangsa.html' title='Agama, Negara dan Bangsa'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2634686779726399834</id><published>2010-01-07T06:43:00.002Z</published><updated>2010-01-07T08:24:14.172Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gus Dur'/><title type='text'>Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak</title><content type='html'>Sejak terakhir menulis Blog I-I sekitar akhir bulan November tahun 2009, telah begitu banyak hiruk pikuk nasional Indonesia yang membuat hati bangsa Indonesia bertanya-tanya, mengapa perjalanan kita masih saja terseok-seok oleh perilaku politik kebijakan yang blunder dan terjadinya penyalahgunaan wewenang serta korupsi yang semakin memiskinkan bangsa Indonesia. Blog I-I bahkan membatalkan artikel tentang Bank Century, KPK, Polri, Pembunuhan Kelly Kwalik, Arogansi Freeport, perang lokal di Timika, reformasi TNI dan Polri, stagnasi Intelijen nasional, fanatisme agama yang mendorong terjadinya kekerasan, serta sumirnya prioritas Pemerintahan SBY babak II karena penetapan prioritas tersebut tidak disertai langkah-langkah praktis, taktis yang meyakinkan yang seharusnya dilandasi oleh strategi jangka panjang dengan ukuran rencana pencapaian yang jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I melewati kesempatan menuliskan refleksi akhir tahun 2009 dan perkiraan keadaan 2010. Blog I-I juga melewati moment penyampaian ucapan selamat tahun baru hijriah, ucapan selamat natal, serta ucapan selamat tahun baru 2010. Karena setelah memuat sekitar 300 artikel pendek dalam Blog I-I, awalnya saya pikir sudah cukup memancing idealisme generasi muda Indonesia, membakar keberanian generasi muda Indonesia, memantapkan prinsip progressif generasi muda Indonesia, menguatkan percaya diri generasi muda Indonesia, serta membangun mentalitas positif, modern, cerdas, serta berkepribadian yang akan mengangkat derajat kemajuan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Apa yang terjadi ? sebagian besar sahabat Blog I-I masih belum mengerti, dan sekitar 400.000-an kunjungan entah dari berapa ribu elemen bangsa Indonesia yang pernah membaca Blog I-I mungkin hanya sambil lalu tanpa pernah terlalu serius memikirkan bahwa perubahan harus dilakukan sekarang karena masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh perbuatan kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lain, beberapa sahabat senior Blog I-I meminta kedewasaan dan pengertian agar Blog I-I tidak menambah pandangan negatif publik terhadap kinerja pemerintah. Tentu saja Blog I-I paham dan mengerti bahwa pemerintah memerlukan ruang untuk bernafas dalam mengerjakan kewajibannya. Di saat yang bersamaan saya secara pribadi perlahan-lahan digerogoti pesimisme karena dari hari ke hari perjalanan bangsa Indonesia bukan saja jalan di tempat, melainkan berputar-putar dalam suatu keadaan seperti tidak mengerti ingin kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini juga berangkat dari keheningan paska kepergian almarhum Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil Gus Dur, sehingga meski saya tidak dapat menyempatkan diri memberikan salam penghormatan secara langsung karena keterbatasan kondisi saya, namun doa-doa tetap terpanjatkan mengiringi langkah perjalanan Gus Dur yang telah memperkaya khazanah pemikiran asli Indonesia dengan jati diri kebangsaan, religi, moral, serta kesungguhan dalam memikirkan nasib bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya memberi judul Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak? karena artikel ini juga doa bagi bangsa Indonesia, sebuah amalan legacy cara berpikir Gus Dur yang kontroversial namun memiliki orisinalitas kepedulian, yang keluar dari pakem kebiasaan bangsa Indonesia berpikir yang terlalu linear dan hitam-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir di luar kotak tidak identik dengan pemikiran liberal yang menerobos seluruh batasan prinsip agama, adat istiadat, serta mendewakan kebebasan individu yang menghancurkan tatanan hubungan sosial sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Apa yang pernah Gus Dur contohkan dalam berpikir di luar kotak adalah kreatifitas pemahaman terhadap suatu masalah yang masih dapat diperdebatkan tanpa memaksakan suatu kebenaran mutlak karena kebenaran mutlak bagaimanapun mayoritas bangsa Indonesia meyakini milik Yang Maha Kuasa. Melalui proses yang memperkaya khazanah cara pandang, cara memahami dan cara menyelesaikan suatu persoalan tersebut, sebenarnya kita sebagai bangsa akan membangun budaya saling menghargai pendapat dan keyakinan yang dapat membukakan pintu dari persoalan yang melilit bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu melalui suatu proses beradu argumentasi secara baik, logis dan saling menghormati, sehingga suatu keputusan nasional dapat dijamin didasari oleh kepentingan nasional (bangsa dan negara). Dalam soal pluralitas dan perbedaan yang merupakan fakta sejarah terciptanya dan adanya bangsa Indonesia, janganlah hal ini menjadi gangguan atau hambatan, sebaliknya justru menjadi modalitas bangsa dalam menyusun kembali keIndonesiaan kita, jati diri bangsa Indonesia yang plural, agamis dan santun dan menempuh langkah dialog damai dalam penyelesaian suatu konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia juga memiliki sifat rasisme yang relatif tinggi antar etnis, memiliki kecurigaan yang tinggi antar agama, serta memiliki emosi yang kurang terkendali ketika konflik tercipta, khususnya apabila darah sudah menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia juga memiliki mentalitas gerbong alias pengikut serta bukan lokomotif, sehingga tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Hal ini memudahkan terjadinya gerakan-gerakan massa yang sebenarnya hanya ikut-ikutan belaka tanpa memahami gerakan yang diikutinya akan bergerak kemana. Saya ingat Gus Dur pernah menyampaikan "...lha kalo saya salah siapa suruh ikuti saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feodalisme, struktur sosial masyarakat petani dan masih banyaknya msyarakat yang kurang dalam hal pendidikan merupakan identitas bangsa Indonesia yang sayangnya hingga saat ini masih dimanfaatkan untuk isu-isu politik. Feodalisme tersebut adalah kotak. Kepentingan politik sempit juga kotak. Berpikirlah untuk membangun bangsa secara sungguh-sungguh dengan saling sharing pengetahuan guna mencerdaskan bangsa Indonesia secara massal...berbondong-bondong dan janganlah pelit berbagi ilmu kepada sesama anak bangsa sehingga kita sebagai bangsa akan memiliki perasaan satu persaudaraan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah sahabat berpikir mengapa saudara kita di Aceh. Maluku dan Papua sebagian masih memiliki perasaan tidak satu persaudaraan, hal itu tidak lain karena perlakuan kita juga, karena masih kuatnya perasaan berbeda dan tidak sungguh-sungguh tulus merangkul dalam persahabatan. Mengapa kita membiarkan kekayaan alam saudara kita dicuri secara legal, sementara nasib saudara-saudara kita tersebut terlantar bahkan ada yang terbunuh karena memperjuangkan keyakinan yang berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kita perlu berpikir di luar kotak stabilitas nasional yang represif, diluar kebijakan keamanan yang membunuhi rakyatnya sendiri, diluar ketakutan terjadinya Timor Leste kedua. Apabila Negara Demokrasi Indonesia Raya mampu mereformasi dirinya, mereformasi birokrasinya, mereformasi mentalitas rakyatnya, rakyat Timor Leste sungguh akan sangat menyesal karena memisahkan diri dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam isu ekonomi, mengapa dikotomi ekonomi liberal kapitalis dan kerakyatan (sosialis) dipertajam ? padahal kita sebagai bangsa seharusnya berpikir strategis yang berangkat dari kebutuhan dan kepentingan nasional, artinya kita jangan terjebak dengan jargon-jargon kepentingan kelompok politik. Akan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia apabila pandangan yang dipertentangkan dalam cara mencapai kesejahteraan bangsa tersebut kita kaji bersama sehingga akan lahir suatu strategi ekonomi nasional yang memperjuangkan kepentingan kemakmuran bangsa Indonesia. Kita tidak dapat mengabaikan liberalisasi ekonomi global yang bergerak bagaikan gelombang, namun pada saat yang bersamaan kita juga memiliki kepentingan domestik yang luar biasa sehingga perlu adanya suatu pendekatan yang melindungi nasib perekonomian rakyat Indonesia. Lebih detailnya tentu kita memerlukan ahli ekonomi untuk menjelaskan dalam proses penyusunan kebijakannya. Semoga saja para ahli ekonomi kita tidak terjebak dalam arogansi intelektual masing-masing dan mau berkontribusi secara positif dengan niat baik mensejahterakan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus...komunitas intelijen pernah mengalami shock therapy dengan rencana pembubaran BIN, namun waktu itu saya segera memahami apa maksudnya. Sebuah rencana ekstrim yang seharusnya disikapi secara ekstrim pula dengan perbaikan dan reformasi intelijen, sehingga akuntabilitas lembaga intelijen dapat dipertanggungjawabkan kepada bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal beragama, kontroversi Gus Dur tentunya lebih luar biasa lagi. Namun semua dapat dijelaskan dalam kerangka berpikir di luar kotak. Sepintas lalu, barangkali kita menilai adanya kesembronoan dalam beragama yang dipraktikan gus Dur. Namun lebih jauh dilihat kembali, Gus Dur melangkah dalam keyakinan keimanan dan refleksi kemanusiaan yang mencoba melihat perbedaan beragama bukan dari teks sebagaimana mayoritas komunitas Muslim namun dari wisdom keIslamannya. Pada saat yang bersamaan Gus Dur juga menampilkan sisi manusia tidak ada yang sempurna dengan berbagai kotradiksi yang dapat kita pelajari sebagai sebuah proses dialog filosofis yang akan memperkokoh keyakinan kita terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa menuliskan berlembar-lembar contoh berpikir di luar kotak yang Gus Dur pernah tempuh, namun karena keterbatasan konsentrasi saya belakangan ini dan masih ada perasaan yang hilang, maka saya akhiri tulisan saya sampai disini. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2634686779726399834?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2634686779726399834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2634686779726399834&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2634686779726399834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2634686779726399834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2010/01/gussemoga-bangsa-indonesia-memahami.html' title='Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7120019912635307505</id><published>2009-11-20T14:17:00.002Z</published><updated>2009-11-20T15:01:33.783Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi'/><title type='text'>Makna Komunikasi</title><content type='html'>Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih atas kritik dan saran sahabat Blog I-I yang tidak bosan-bosannya mengunjungi, membaca dan menyampaikan informasi penting kepada Blog I-I. Inilah yang kita dapat maknai sebagai komunikasi untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus saya akui bahwa kritikan terhadap kualitas tulisan Blog I-I yang "datar" ada benarnya. Tetapi sebagaimana pernah saya jelaskan beberapa tahun silam, Blog I-I tidak mungkin mengambil ruang analisa mendalam yang akan menyaingi laporan Intelijen sesungguhnya. Apabila Blog I-I diisi dengan data-data dan analisa yang valid dan mutakhir tentang Indonesia, tentunya hal ini sama saja dengan pembocoran rahasia negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa faktor paling utama dan terpenting dalam peningkatan kinerja intelijen Indonesia adalah spirit/semangat untuk membela nasib rakyat dan memperjuangkannya dengan segala kemampuan yang ada. Hal itu dilandasi oleh ketulusan dalam pengabdian, berani mengambil resiko, dan kecerdasan dalam kalkulasi yang menguntungkan bangsa dan negara tercinta Indonesia Raya. Hilangkan segala kepentingan pribadi dan kelompok, hapus cara pandang katak dalam tempurung dan belajarlah dari sejarah dan dinamika perkembangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang telah terbangun dalam wadah Blog I-I belum dapat mendorong perubahan yang nyata dalam peningkatan kualitas intelijen Indonesia, namun setidaknya telah menyalakan semangat perjuangan tanpa kenal menyerah di dalam hati sanubari kita. Bila anda seorang Senopati aktif, bukankah hati kecil anda selalu memanggil untuk mengabdikan segala kemampuan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia? Andaipun anda telah menjadi Senopati non-aktif, panggilan hati itu masih kuat dan kita tidak boleh menyerah dengan segala tantangan dan ancaman yang terus menghantui Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon kiranya hal ini dapat dimengerti dan janganlah memancing Blog I-I untuk mengeluarkan analisa yang melebihi laporan intelijen resmi di bumi pertiwi. Kita semua paham bahwa informasi intelijen 90% lebih bersifat terbuka, dan di era yang sangat terbuka saat ini diperlukan ketelitian dan keahlian dalam melakukan klasifikasi secara tepat atas setiap informasi yang beredar. Kalangan intelijen juga paham betul bahwa 10% informasi tertutup tidak mudah untuk diperoleh, namun sering menjadi kunci yang dapat mengkonfirmasi suatu asumsi ataupun membantahnya. Hal itu hanya dapat berjalan mulus apabila kita memiliki dasar ilmu analisa intelijen yang memadai dan kemampuan analisa yang cemerlang ditambah dukungan alat bantu analisa data yang banyak dijual oleh perusahaan penyedia layanan analisa intelijen dan keamanan dalam bentuk software. Apakah kita sudah menggunakannya, dan ada berapa analis Indonesia yang paham betul bagaimana bekerja di era informasi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang membuat Blog I-I hanya menyentuh permukaan dari persoalan-persoalan bangsa adalah untuk menghindari terciptanya suasana yang semakin keruh. Misalnya dalam kasus kontroversi KPK-Polisi-Kejaksaan Agung, pertanyaan Blog I-I adalah seberapa sanggup bangsa Indonesia menanggung kekacauan politik ekonomi apabila persoalan itu dipolitisir sebagai kasus yang maha dahsyat dengan segala asumsi dan teori. Mengapa saya katakan kacau secara politik dan ekonomi, pertama hal ini akan meruntuhkan kepercayaan publik, kepercayaan pemain ekonomi dan investor serta akan mendorong Indonesia terpuruk dalam lubang krisis yang dalam. Diperlukan bukan hanya penegakkan hukum melainkan juga keberanian dan kebijakan serta penyelesaian yang tidak berlarut-larut. Karena semakin lama akan semakin mendorong orang berteori masing-masing, akibatnya adalah kepercayaan yang semakin menipis dari masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan sahabat Blog I-I di KPK, teknologi telah sangat menolong KPK dalam perang melawan korupsi di Indonesia. Sejumlah data sangat akurat dan dapat digunakan untuk menjebloskan para pelaku tindak pidana korupsi ke dalam penjara. Permasalahannya adalah bahwa koruptor di negeri tercinta Indonesia Raya sangatlah banyak sehingga aparat hukum tidak dapat dapat menyelesaikan seluruhnya dalam periode waktu tertentu. Akibatnya sejumlah aparat yang memiliki akses menjadi tergoda, dan beberapa pihak yang terbidik ketakutan, serta beberapa pihak lain senang bermain-main. Akibatnya adalah apa yang sekarang terjadi, yaitu ruwet dalam pertarungan panjang untuk menang-menangan dan bukan untuk kebenaran dan keadilan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup hanya sekali dan kesempatan berbuat baik untuk bangsa dan negara Indonesia tidak akan terulang berkali-kali. Apabila saat ini kita memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan dan perbaikan kondisi bangsa, tidak ada yang perlu ditakuti. Apakah sahabat Blog I-I takut mati? Apakah sahabat Blog I-I takut miskin? Apakah sahabat Blog I-I takut kehilangan jabatan? Apakah sahabat Blog I-I menjadi sedemikian pengecutnya sehingga membiarkan bangsa Indonesia terbenam dalam lumpur korupsi yang terbukti telah memiskinkan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya dan tidak lagi pantas disebut bangsa yang besar, mengapa demikian? Karena sesama komponen bangsa kita saling menyakiti, saling menghancurkan dan tidak bersatu padu membangun kesejahteraan nasional yang merata. Di saat terjadi praktek tindak pidana korupsi, tahukah bahwa di pelosok Indonesia yang lain saudara kita kelaparan. Memang hal ini klise atau bahkan sudah membosankan di telinga kelompok Middle Class ke atas yang menikmati kemerdekaan. Bangsa Indonesia belum merdeka apabila masih ada yang tertindas, masih ada yang sangat miskin dan kelaparan, masih ada yang dipukuli oleh aparat keamanan, masih ada yang tidak dapat menyuarakan suara hatinya. Maka apalagi yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa Indonesia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I hanya satu dari ribuan atau bahkan jutaan suara anak bangsa Indonesia dalam bentuk Blog yang mencoba membangun kesadaran massal bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kepada sahabat Blog I-I yang masih malu-malu dalam berkomunikasi, silahkan sampaikan apapun yang sahabat rasakan dapat mendorong kemajuan Indonesia Raya. Blog I-I adalah milik bangsa Indonesia, sehingga sahabat Blog I-I dapat menyuarakan suara hati yang nyaris tak terdengar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7120019912635307505?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7120019912635307505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7120019912635307505&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7120019912635307505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7120019912635307505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/11/makna-komunikasi.html' title='Makna Komunikasi'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5202358213926449074</id><published>2009-11-03T15:52:00.004Z</published><updated>2009-11-03T17:06:49.714Z</updated><title type='text'>Mencegah Fenomena Kehancuran Indonesia Raya</title><content type='html'>Mengapa saya katakan fenomena? karena tidak lain sudah terlihat dalam pandangan mata bathin Blog I-I tentang hancurnya Indonesia Raya yang didahului oleh 7 perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rusaknya moral manusia Indonesia akibat godaan korupsi, dalam usia matang Indonesia Raya yaitu memasuki tahun ke-67, seyogyanya masalah ini sudah harus berakhir dengan penegakan hukum yang tegas. Apabila gagal, maka ini adalah tanda-tanda kepastian hancurnya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Hilangnya jiwa ksatria dari prajurit-prajurit bangsa Indonesia, khususnya TNI, Polri dan Intelijen. Para pengawal rakyat, bangsa dan negara yang tidak dilandasi jiwa ksatria akan cenderung pengecut, bersembunyi dibalik kebohongan, dan semena-mena serta tidak bertanggung jawab. Akibatnya adalah pagar makan tanaman, dimana perlindungan kepada rakyat Indonesia tidak terjadi, bahkan sebaliknya rakyat justru menjadi korban. Hal ini menuntut reformasi yang serius dalam rangka melahirkan ksatria-ksatria bangsa Indonesia yang dapat diandalkan. Apabila gagal juga, maka ini adalah tanda kepastian kehancuran Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kearifan lokal Indonesia yang luntur di jiwa para teknokrat dan ekonom. Kehebatan intelektual lulusan luar negeri baik itu Barat maupun Timur, seringkali mendominasi wacana pembangunan Indonesia. Sementara kearifan lokal dianggap sebagai onggokan sampah karena tidak dapat diterima teori-teori logika yang hebat. Pada zaman keemasan Kerajaan Nusantara, kearifan lokal tampak dalam monumen-monumen yang indah yang mencerminkan konsep masyarakat tentang apa yang ingin dipersepsikan kepada dunia. Saat ini kita melihat budaya bangsa Indonesia sebagai sesuatu yang kumuh dan jumud karena seniman dan seniwati kehilangan daya kreatifitasnya karena masyarakat juga mulai kurang menghargainya. Harga yang harus kita bayar adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan jati diri ke-Indonesia-an. Itulah sebabnya pertikaian faham neoliberal versus sosialisme (kerakyatan) akan terus bergema apabila para teknokrat dan ekonom Indonesia yang cerdas tidak mampu mentransformasi filsafat ekonomi modern ke dalam kearifan lokal Indonesia. Apabila hal ini tetap diabaikan, maka tidak ada yang khas yang menjiwai pembangunan bangsa, negara Indonesia...yang akan terjadi adalah pembangunan kapital, fisik, dan mentalitas kebendaan yang menjadi citra kesuksesan manusia di abad 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kejujuran, keadilan dan penegakkan kebenaran. Sejarah Indonesia ditulis dalam kemasan yang baik namun diwarnai ketidakjujuran, ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah reformasi, ternyata situasi tersebut belum benar-benar hilang, bahkan muncul kembali dalam model dan bentuk yang berbeda. Pertarungan nilai-nilai yang selama ini membuat bangsa Indonesia menjadi kuat tampaknya akan semakin berat karena kuatnya pengaruh syataniah yang menjerumuskan Indonesia ke dalam pengabaian nilai-nilai kejujuran, keadilan dan kebenaran. Apabila hal ini juga tidak segera kita kobarkan kembali di setiap jiwa manusia Indonesia, tentunya kehancuran Indonesia juga sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kemampuan membaca zaman. Bacalah dengan sungguh-sungguh tanda zaman dan perubahannya. Indonesia tidak dapat hidup dalam keajegan cara pandang di berbagai bidang. Perlu dinamika yang tertata dalam koridor cita-cita bangsa menjadi Indonesia yang sesungguhnya, yaitu bangsa yang baik. Mengapa mengutamakan kebaikan, karena nilai kebaikan yang kuat di bumi nusantara akan mempererat hubungan antar anggota masyarakat yang pada gilirannya akan memperkuat kerjasama internal untuk mendorong peningkatan ekonomi dan sosial secara nyata. Menjadi baik tidak berarti mudah dibodohi oleh orang-orang jahat yang tidak ingin Indonesia menjadi besar. Kesadaran massal bangsa Indonesia memerlukan dukungan dari manusia-manusia Indonesia unggulan. Siapakah manusia unggulan di Indonesia? mereka tersembunyi namun kita dapat merasakan kehadirannya. Ada yang dikenal publik dan ada juga yang tidak, ciri-cirinya adalah bahwa mereka tidak menyadari bahwa pengaruh mereka sangat besar untuk Indonesia Raya. Kelemahan kita dalam membaca zaman menjanjikan kehancuran Indonesia, atau minimal kegagalan pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perkara yang keenam adalah peranan kepemimpinan nusantara secara nyata dan secara spiritual. Presiden, para Menteri, para pimpinan Partai, para anggota Dewan, para gubernur, bupati, camat, lurah, kepala desa, dll adalah penguasa kepemimpinan dunia nyata. Namun mereka belum tentu juga berperan sebagai pemimpin dunia spiritual. Semua golongan agama dan kepercayaan di Indonesia niscaya memahami pentingnya memelihara bumi yang akan melahirkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia sebab-akibat, dunia tanpa batas, dan dunia elementer yang sering digunakan sebagai rujukan melihat masa depan. Karena di Indonesia terlalu kuat pengaruh alam khayali (imajinasi), maka seringkali kepercayaan kita kepada para pemimpin spiritual menjadi sangat rendah, bahkan cenderung tidak percaya. Lagi pula sangat sulit untuk mengetahui atau menemui pemimpin/penempuh jalan spiritual yang murni, asli, dan iklhas. Kegagalan memadukan hal ini akan mendorong Indonesia ke satu sisi yang membahayakan, namun akan dapat kembali pada keseimbangan, sayangnya proses tsb akan menyerap tenaga, dana, dan pikiran, dan apabila hal itu tidak tersedia, maka kehancuran juga telah menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Perkara terakhir adalah perkara kampanye massal kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk tidak bosan-bosannya menyerukan semangat kebangkitan bangsa Indonesia. Peranan media massa, baik dalam bentuk cetakan, online, media radio, TV, dll sangatlah penting. Namun sayangnya belum tampak suatu kesadaran yang luas di kalangan media massa untuk turut serta memajukan bangsa dan negara Indonesia melalui program-program yang akan mampu mendorong bangsa Indonesia memiliki jati diri ke-Indonesia-an yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelidikan terhadap Blog I-I bukan hanya secara nyata, namun juga melibatkan yang tidak nyata. Niscaya rekan-rekan yang menyelidiki akan melihat kekosongan tanpa warna, tanpa emosi dan kehendak. Hampir-hampir putus asa, hanya karena Yang Maha Pencipta membangunkan kembali dari himpitan bayangan fenomena kehancuran Indonesia Raya, maka Blog I-I masih dapat berada di tengah-tengah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan rekan-rekan...? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5202358213926449074?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5202358213926449074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5202358213926449074&amp;isPopup=true' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5202358213926449074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5202358213926449074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/11/mencegah-fenomena-kehancuran-indonesia.html' title='Mencegah Fenomena Kehancuran Indonesia Raya'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5775473320224202165</id><published>2009-11-03T02:02:00.003Z</published><updated>2009-11-03T02:23:48.735Z</updated><title type='text'>Berpikir Kritis Intelijen</title><content type='html'>Kita sering mendengar istilah berpikir kritis, apakah maksudnya? apakah hal itu berarti kita menjadi seorang ahli kritik yang berhasil melihat kekurangan dan kemudian mengkritisi dan memperbaikinya? Ternyata tidak sesederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang senang melakukan kritik, belum tentu memiliki tawaran jalan keluar yang tepat. Sebaliknya orang tidak bisa mengkritik sangat mungkin tidak mampu melihat kelemahan dari suatu persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara paling tepat dalam memahami berpikir kritis adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kebiasaan cara pandang kita terhadap suatu persoalan berdasarkan tujuan dan manfaat, serta didasari oleh penilaian-penilaian yang obyektif dan akurat berdasarkan observasi, pengalaman analisa, teori, serta informasi-informasi yang tersedia yang kemudian menghasilkan pemahaman-pemahaman yang beragam yang kemudian kita saring dan menghasilkan produk yang terstruktur dengan baik yang mencakup deskripsi dan argumentasi yang logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi singkat kata agak lebih luas dari sekedar kritik mengkritik bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata analis intelijen membiasakan diri untuk berpikir kritis, tentunya hasilnya akan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar Kopi hangat di sore menjelang malam yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5775473320224202165?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5775473320224202165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5775473320224202165&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5775473320224202165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5775473320224202165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/11/berpikir-kritis-intelijen.html' title='Berpikir Kritis Intelijen'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-8741712988818046106</id><published>2009-11-03T01:24:00.004Z</published><updated>2009-11-03T01:57:26.385Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Polisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KPK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kejaksaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korupsi'/><title type='text'>Dari Intimidasi Baru terhadap Blog I- I ke Kasus KPK-Polri</title><content type='html'>sebagaimana rekan-rekan Blog I-I ikuti, belakangan Blog I-I kembali menerima email dan komentar yang bernada intimidasi. Entahlah serius atau tidak. Sepertinya ada semacam kekhawatiran dari pengaruh Blog I-I yang dianggap berpihak pada salah satu kekuatan politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan kembali bahwa intelijen hakikatnya tidak mengabdi kepada kekuatan politik, namun tidak dapat berkiprah tanpa dukungan politik dan kekuasaan. Intelijen mengabdi hanya kepada kepentingan nasional, kepentingan bangsa dan negara, serta bukan kepada individu, kelompok atau kekuatan tertentu. Jadi janganlah khawatir, Blog I-I akan tetap profesional berada di ruang idealisme perjuangan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kemudian Blog I-I memperlihatkan keberpihakan hal itu semata-mata berdasarkan pertimbangan obyektif yang tidak emosional, serta landasannya adalah untuk kemajuan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar contoh, Bagaimana bila dihadapkan dengan polemik perseteruan KPK dan Polri? dimanakah posisi Blog I-I....tentu saja bukan kepada salah satu institusi, melainkan kepada kebenaran hakiki yang patut diperjuangkan di pengadilan seberat dan sesulit apapun itu. Langkah-langkah tekanan politik dan demonstrasi massa mungkin akan bermanfaat dalam mendorong penyelesaian yang adil. Pembentukan opini publik mungkin juga wajar untuk ditempuh di era demokrasi ini. Namun esensi yang harus kita pegang erat-erat adalah bahwa penyelesaian pertikaian tersebut harus melalui proses yang adil di pengadilan dan tidak melalui tekanan-tekanan kekuasaan yang akhirnya akan mengaburkan makna kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat saja bersimpati kepada pimpinan KPK dan menganggap telah terjadi upaya penggembosan KPK, namun apabila fakta bicara bahwa pimpinan KPK terlibat kasus korupsi sekecil apapun...maka kita tidak boleh menutup mata bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga dapat bersimpati kepada Polri yang menemukan sejumlah fakta yang melibatkan pimpinan KPK meskipun motivasinya belum tentu untuk penegakkan anti korupsi, dan kita juga tidak bisa menutup mata dari motivasi tersembunyi dan fakta-fakta yang ditemukan bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran menjadi barang langka yang sangat mahal...akibatnya bangsa Indonesia terkutuk dalam kemiskinan dan kebodohan serta ketakutan dalam penegakkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak ada yang perlu ditakuti karena kita hidup hanya sekali, apakah apabila kita mengungkap kasus korupsi seorang tokoh di Indonesia maka kita akan terancam mati? Pembunuhan adalah dosa yang besar, dan apabila kita dibunuh karena mengungkapkan kasus korupsi maka kita mati syahid bukan? mengapa bangsa Indonesia menjadi sangat pengecut dalam mengungkapkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presidenkah anda? Jenderalkah anda? Polisikah anda? Jaksakah anda? Hakimkah anda? Pengacarakah anda? Anggota Dewankah anda? ataukah anda hanya seorang miskin yang hidup ditepi kematian karena kelaparan? Tentunya sangat berbeda dalam hal akses penegakan kebenaran dan keadilan, bukan? Sudah terlalu lama Indonesia berada di dalam cengkeraman kejahatan luar biasa korupsi yang membuat bangsa Indonesia miskin, bodoh dan terbelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani hidup menegakkan kebenaran dan keadilan rasanya sudah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota bangsa Indonesia untuk menghayati dan menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I hanya bisa omong saja....ya benar karena aksesnya hanya pada ruang maya pembelajaran dan motivasi keberanian bagi bangsa Indonesia. Andaikata saya menjadi seorang Jenderal Polisi atau Jaksa atau Hakim, mungkin saya juga termasuk yang cepat mati dibunuh atau disingkirkan sehingga tidak lagi memiliki akses kepada penegakkan kebenaran dan keadilan di negeri tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keterbatasan akses Blog I-I, maka hanya dorongan semangat dan motivasi kebangsaan demi masa depan rakyat dan negara Indonesialah, maka saya menuliskan artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya rakyat Indonesia akan mendo'akan setulus-tulusnya kepada siapapun pemimpin bangsa ini yang sanggup menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kasus-kasus korupsi yang jelas-jelas telah merusah sedemikian parahnya sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda seorang penegak hukum janganlah takut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan jika anda seorang politisi janganlah takut menyuarakan kebenaran dan keadilan, karena hidup cuma sekali dan jadilah seorang satria bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh menjalankan kewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan. Serta janganlah bersembunyi dibalik pertarungan polemik dan siasat hukum untuk kemenangan para koruptor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau....bila anda semua ternyata termasuk koruptor-koruptor yang telah menyayat hati bangsa Indonesia yang miskin, maka bertaubatlah dan bangkitlah kembali bersama rakyat Indonesia untuk mengakhiri sejarah kerusakan moral dengan praktek-praktek korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga polemik dalam dinamika anti korupsi dapat berakhir dan berujung pada penyelesaian yang adil dan berdasarkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentikanlah sifat pengecut...beranilah mengaku salah dan beranilah bertaubat...dan beranilah untuk melawan kekuatan gelap para koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-8741712988818046106?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/8741712988818046106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=8741712988818046106&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8741712988818046106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8741712988818046106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/11/intimidasi-baru-terhadap-blog-i-i.html' title='Dari Intimidasi Baru terhadap Blog I- I ke Kasus KPK-Polri'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5465180230772476855</id><published>2009-10-23T22:55:00.003+01:00</published><updated>2009-10-23T23:44:32.363+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menteri Kesehatan Indonesia'/><title type='text'>Tentang Isu Menteri Kesehatan yang Baru</title><content type='html'>Tuduhan dan bantahan telah berhamburan di media massa tentang isu yang mewarnai naiknya Menteri Kesehatan yang baru, Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih. Mengapa hal itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan dalam lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia sering terjadi karena personifikasi jabatan, persaingan, dan kompetisi yang kurang sehat. Khusus di Departemen Kesehatan, sejumlah persoalan korupsi, masih rendahnya level kesehatan masyarakat yang dapat ditunjukkan oleh angka kematian ibu dan anak, harapan hidup yang relatif rendah, penanganan penyakit menular yang lambat, lemahnya sistem pelayanan kesehatan, serta diskriminasi pelayanan kesehatan, seringkali kurang diperhatikan karena kita lebih tertarik membahas sosok pimpinan Depkes dari pada bersikap kritis pada kenyataan bahwa rakyat Indonesia menderita karena kurang profesionalnya Departemen Kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa antara elit yang satu dengan yang lainnya sering terjadi saling menyerang, padahal mereka semua adalah asset bangsa yang sangat berharga karena sama-sama memiliki kemampuan untuk memajukan Bangsa Indonesia. Jawabannya lagi-lagi politik, bumbunya adalah ideologi dan kepentingan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan rakyat Indonesia menjadi cerdas, cermat, dan elegan dalam menyongsong masa depannya. Apabila masih saja ribut di level tuduh-menuduh tanpa bukti kuat yang dapat diajukan ke pengadilan, tentunya kita akan mandeg dalam perubahan semu bagaikan jalan di tempat. Mengapa demikian? karena kita akan menghabiskan banyak waktu, tenaga, emosi, dan biaya untuk perseteruan yang kurang perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, mulailah dengan sikap kritis yang serius dengan penyelidikan dan pengawasan yang seksama atas setiap elit politik yang diduga kuat menghianati kepercayaan bangsa dan rakyat Indonesia. Siapapun anda, apapun level pekerjaan anda, dan sedikit apapun informasi yang anda miliki yang dapat membahayakan kepentingan nasional dalam definisi kepentingan bangsa, rakyat, dan negara Indonesia, maka laporkanlah kepada yang berwenang, apabila anda takut maka ungkapkanlah kepada jaringan Blog I-I yang akan setia mengawal perjalanan bangsa Indonesia menyongsong kejayaan Indonesia Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan membuka mata kita dengan pembahasan serius dalam Blog I-I, tetapi ingatlah...sudah waktunya bangsa Indonesia memulai suatu era yang lebih serius dalam setiap isu dengan data-data faktual dan bukti-bukti yang dapat diajukan ke depan hukum. Serta hentikanlah menghembuskan isu-isu yang dapat menimbulkan polemik dan menghambat kemajuan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke isu di seputar Ibu Endang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I setuju bahwa kerjasama dengan pihak asing penting untuk kemajuan dunia kesehatan serta dapat bermanfaat sebesar-besarnya untuk kemanusiaan. Namun janganlah menjadi orang pintar yang dapat dibodohi/dibohongi hanya karena terkesima oleh janji dan kemajuan teknologi pihak asing. Mulailah berpikir dan bekerja secara lebih pintar dan strategis serta dapat membela kepentingan bangsa Indonesia, dan bukan menjadi budak asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I juga setuju bahwa Indonesia harus kritis dalam melihat setiap kerjasama dengan asing. Namun janganlah anti asing dan tidak kooperatif yang kemudian cenderung menghalangi upaya-upaya kemajuan kesehatan untuk kemanusiaan. Mulailah memperhatikan untung rugi secara lebih teliti karena dengan memusuhi asing tentunya juga akan merugikan Indonesia apabila alasannya tanpa bukti kongkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pandangan diatas apabila dilaksanakan dalam titik ekstrim masing-masing, tentunya yang rugi adalah Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I kagum dengan keberanian Ibu Fadilah Supari karena ada benarnya bahwa dunia bisnis farmasi di dunia sangatlah kejam dengan mengambil keuntungan yang terlalu besar dari penemuan vaksin yang bersumber dari penelitian terhadap sample-sample darah penderita penyakit. Kasus-kasus besar yang melibatkan bisnis farmasi dunia telah menimpa benua Afrika dan meninggalkan noda berdarah yang tertutupi kabut ketidakpedulian. Tentunya kita tidak ingin hal itu menimpa Indonesia bukan...singkatnya mulailah untuk pintar bernegosiasi untuk kepentingan umat manusia untuk kepentingan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I tidak akan mengecilkan potensi Ibu Endang yang meski dibayangi oleh sejumlah isu tidak sedap, karena belum tentu sejarah kerjasama yang dilakukannya bersama asing dapat dikategorikan sebagai penghianatan terhadap kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Apabila memang harus bekerjasama dengan asing karena keterbatasan kemampuan dunia medis Indonesia, buatlah suatu kerjasama yang tidak merugikan bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak ada yang gratis, dan bernegosiasilah sebagai wakil bangsa dengan niat membela sebesar-besarnya kepentingan bangsa Indonesia di bidang kesehatan. Misalnya apabila proyek penelitian asing di Indonesia terus dikembangkan, harus ada jaminan bahwa hal itu juga untuk sebesar-besar kepentingan rakyat Indonesia yang menderita penyakit yang sedang diteliti. Jangan sampai dirugikan berkali-kali karena kebodohan, pastikan bahwa Indonesia akan untung besar apabila harus membuat kerjasama dengan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian...dimana kebenaran dalam polemik ini? Selama kita terlalu menyenangi gossip, berbicara/berkomentar, menduga-duga, berpolitik, tanpa upaya penyelidikan yang mendalam dan serius, selama itu pula kita berputar-putar dalam kecurigaan sesama kita sendiri. Kita akan terpecah-pecah secara merusak, padahal di dalam hati kecil semua sangat mencintai Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seharusnya bukan lagi generasi jajahan Belanda yang mudah diadu domba karena banyak penghianat yang membela kepentingan penjajah. Kita seharusnya memulai suatu era yang lebih sehat dengan sistem pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, memperkuat sistem hukum kita dan menegakkannya. Sehingga kita dapat mencegah siapapun yang terbukti sebagai penghianat bangsa naik sebagai tokoh penting di bumi pertiwi, sebaliknya kita juga dapat mencegah fitnah terhadap calon petinggi negara yang dapat memajukan Indonesia Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Senopati Wirang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5465180230772476855?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5465180230772476855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5465180230772476855&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5465180230772476855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5465180230772476855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/10/tentang-isu-menteri-kesehatan-yang-baru.html' title='Tentang Isu Menteri Kesehatan yang Baru'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5904370753543915905</id><published>2009-10-22T08:41:00.002+01:00</published><updated>2009-10-22T09:31:39.680+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepala BIN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenderal Sutanto'/><title type='text'>Selamat Kepada Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto</title><content type='html'>Sebelum saya membahas pengangkatan Jenderal Sutanto sebagai Kepala BIN, izinkanlah saya mengucapkan selamat kepada Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto, semoga dunia intelijen sipil Indonesia menjadi semakin profesional, serta mampu mengawal perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia Raya, serta melindungi keselamatan rakyat Indonesia di tengah-tengah dinamika dunia yang terus berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi komunitas intelijen Indonesia, diangkatnya Jenderal Sutanto sebagai kepala BIN bukanlah kejutan. Analisa yang paling sederhana dalam memperkirakan calon Kepala BIN mengacu pada dinamika perang bintang (sekitar 60-an Jenderal) yang saling berhadapan selama masa kampanye pemilu, semua insan intelijen yang memiliki waskita telah mengetahui siapa-siapa calon pimpinan tertinggi lembaga intelijen tertinggi di Indonesia -- Badan Intelijen Negara (BIN). Baik kubu SBY-Boediono, JK-Wiranto, maupun Mega-Prabowo semuanya memiliki dukungan ahli-ahli strategis yang pantas menduduki posisi Kepala BIN. Karena pemenang pemilu adalah SBY-Boediono, maka terpilihnya Jenderal Sutanto sebagai Kepala BIN yang merupakan salah satu dari sekitar 18 Jenderal purnawirawan pendukung kubu SBY-Boediono. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sangat sederhana bukan? Politik ya...akhirnya adalah politik. Betapapun juga kuatnya unsur politik dalam penentuan Kepala BIN, kita patut bersyukur karena secara mantap Indonesia telah melangkah pada suatu sistem seleksi untuk kepemimpinan nasional, mulai dari sistem pemilu yang demokratis, hingga proses-proses menuju kursi pimpinan Departemen dan Lembaga non-Departemen, termasuk BIN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, komunitas intelijen dapat meyakini bahwa pemimpin intelijen yang baru memiliki kemampuan intelijen (baik dalam definisi intelektual, organisasi, kegiatan/operasi, maupun visi dan misi dalam pengembangannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kalangan/kelompok ada yang merasa sosok Jenderal Sutanto kurang tepat, dengan alasan intelijen keamanan Polri kurang berhasil selama Jenderal Sutanto menjabat sebagai Kapolri. Sebagian komunitas intelijen khawatir bahwa kepemimpinan mantan Kapolri di BIN akan membawa perubahan pola operasional yang cenderung polisionil serta akan membawa pasukan coklat terlalu banyak ke dalam BIN sebagaimana juga dilakukan oleh pimpinan Jenderal dari kalangan Hijau. Akibatnya, BIN yang seharusnya dan sewajibnya sangat kuat dalam tataran analisis strategis demi keselamatan bangsa, kemudian terjebak dalam operasi-operasi taktis jangka pendek yang hanya memikirkan kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Jenderal Sutanto tidak banyak berbeda dengan Jenderal dari TNI, tentunya kekecewaan terbesar tentunya akan dialami oleh intelijen tanpa warna tanpa suara yang hanya memiliki korps bayang-bayang mengabdi sungguh-sungguh tanpa kilauan pangkat dan jabatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah paling penting yang harus segera ditempuh oleh pimpinan BIN adalah reformasi organisasi khususnya dalam soal peningkatan sumber daya manusia, yaitu peningkatan skill operasional dan analisis yang memadai. Kehebatan sebuah lembaga intelijen lebih banyak disebabkan oleh intelektual yang diartikan sebagai kecerdasan, kecerdikan dan kecermatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan maupun reporting hasilnya. Hal ini boleh dikatakan kurang berkembang hampir di seluruh lembaga intelijen di Indonesia. Perhatikan misalnya bagaimana komposisi tenaga ahli di tiap-tiap lembaga intelijen di Indonesia. Mulai dari soal latar belakang pendidikan, hingga pengalaman, sedih rasanya melihat bahwa intelijen Indonesia masih sangat kurang, bahkan terbelakang bila dibandingkan dengan intelijen-intelijen di ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyelidikan Blog I-I ke Thailand, Malaysia, dan Singapura...sungguh mencengangkan. Karena lembaga-lembaga intelijen di sana memiliki program peningkatan sumber daya manusia yang sangat baik. Hampir setiap tahun mereka secara reguler meningkatkan kualitas insan intelijen dalam program pendidikan tingkat Master dan beberapa di tingkat Doktoral (khususnya bidang studi ekonomi, strategi, politik dan perang). Artinya mereka memiliki kemapuan intelijen/intelektual yang lebih update karena ilmu terus berkembang sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I juga paham betul apabila ada pesan khusus yang diberikan SBY kepada Kepala BIN yang baru. Dalam kaitan ini, semoga terdapat kebijaksanaan yang tepat dalam penyelesaian masalah lama yang tersangkut di BIN karena kekeliruan langkah di sini dapat berdampak fatal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saran Blog I-I, apabila memiliki pesan khusus SBY dan benar-benar akan dilaksanakan di BIN, maka lakukan secara cepat dan efektif hingga ke akar-akarnya. Atau tidak sama sekali, karena perlawanan dari musuh-musuh SBY cukup berbahaya bagi keselamatan rakyat, Bangsa dan Negara Indonesia. Komunitas Intelijen tidak menghendaki terjadinya hambatan dalam pembangunan menuju Indonesia Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, persengketaan yang terjadi di tingkat elit seyogyanya apabila itu akan segera diselesaikan melalui jalur hukum, harus dilakukan secara cepat dan efektif tanpa dapat dibantah oleh musuh-musuh SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, saya tidak dapat mengungkapkan pesan SBY kepada Kepala BIN yang baru, tetapi komunitas intelijen dan jaringan Blog I-I sangat paham dan dapat memaklumi kebijakan yang akan ditempuh. Oleh karena itulah saya menyampaikan pesan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Bekerja Jenderal, semoga sukses dan senantiasa dalam perlindungan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5904370753543915905?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5904370753543915905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5904370753543915905&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5904370753543915905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5904370753543915905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/10/selamat-kepada-jenderal-polisi-purn-drs.html' title='Selamat Kepada Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-171382453332715904</id><published>2009-09-23T10:22:00.002+01:00</published><updated>2009-09-23T10:30:15.847+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mohon maaf'/><title type='text'>Mohon Maaf Lahir dan Bathin</title><content type='html'>Kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan segala kerendahan hati Blog I-I menyampaikan permohonan maaf karena masih dianggap sebagai Intel Kampret yang belum cukup berkontribusi untuk kejayaan Indonesia Raya, belum maksimal dalam mendorong cita-cita nasional Indonesia Raya yang kuat dengan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur, belum maksimal dalam menyadarkan para elit politik dan elit kekuasaan akan bahaya korupsi, belum menyentuh reformasi dan perbaikan sistem intelijen nasional Indonesia, serta dosa intelijen adalah dosa terbesar setelah dosa politik kekuasaan, sehingga saya sebagai bagian dari sejarah perjalanan Intelijen Indonesia memohon maaf yang sebesar-besarnya atas berbagai kegagalan dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia, serta Blog I-I mohon restu dan izin rakyat Indonesia untuk mengobarkan semangat Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SW &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-171382453332715904?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/171382453332715904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=171382453332715904&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/171382453332715904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/171382453332715904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/09/mohon-maaf-lahir-dan-bathin.html' title='Mohon Maaf Lahir dan Bathin'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-8963935650603146621</id><published>2009-09-18T09:28:00.003+01:00</published><updated>2009-09-18T11:54:36.990+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme Indonesia'/><title type='text'>Mengapa Kelompok Teroris Beroperasi di Indonesia?</title><content type='html'>Pertanyaan dalam judul artikel ini akan terasa susah bagi rekan-rekan yang baru mempelajari sejarah terorisme di Indonesia mulai era 1980-an. Akan semakin susah bagi yang hanya mempelajari sejak era 1990-an, serta akan semakin lebih susah lagi bila kita hanya melihatnya dari fenomena serangan bom sejak tahun 2000 yang tercatat terjadi sekitar 20-an lebih kasus teror bom. Namun tentunya kita bertanya-tanya mengapa? Hanya Indonesiakah yang mengalaminya? jawabnya tidak, karena Filipina dan Thailand juga berkali-kali mengalami serangan bom. Bagaimana dengan Malaysia, Singapura, dan negara ASEAN lainnya? Karakteristik yang berbeda dari setiap negara menyebabkan tumbuh kembangnya kelompok teror juga berbeda. Tetapi secara umum negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura telah masuk dalam radar organisasi teroris yang mengatasnamakan Islam dengan pembentukan mantiqi-mantiqi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam terkait kelompok fanatik Islam. Mohon fanatik disini jangan diterjemahkan sebagai sesuatu yang positif ataupun negatif, tetapi pahami sebagai suatu keadaan psikologis totalitas seseorang dalam filsafat dan prinsip hidupnya yang dampaknya menegasikan yang lain. Hal ini merupakan keadaan fanatik agama atau al-ta'ashubud diiniyyu yang akhirnya pada titik yang ekstrim menyebabkan munculnya sikap dan perilaku yang memandang di luar dirinya dan kelompoknya adalah kafir (yakfuru). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beragama Islam tidak ada yang salah dengan sikap menegasikan yang lain, karena Islam mengajarkan prinsip awal tidak ada Tuhan selain Allah, suatu prinsip dasar tauhid yang dipahami secara universal wajib bagi seluruh aliran dalam Islam. Namun ternyata beragama itu bukan hanya ibadah kepada Tuhan, melainkan juga beramal kepada lingkungan dan sesama mahluk hidup, sehingga menyentuh pula dunia sosial, ekonomi dan politik. Titik yang paling krusial adalah dalam hubungannya dengan politik dan kekuasaan. Dengan bersumber pada perjuangan Nabi, para sahabat dan kalifah keIslaman di masa lalu, tentunya sangat wajar apabila kemudian muncul faham perjuangan politik dan kekuatan militer untuk mewujudkan kembali pemerintahan Islam di dunia ini. Argumentasinya adalah tanpa kekuasaan, Islam belum ditagakkan di bumi ini, sehingga berkembanglah doktrin menegakkan agama Islam mencakup kewajiban jihad membentuk kekuatan Islam yang nyata yang dapat mengatur kehidupan masyarakat (kekuatan politik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan tersebut kemudian membuka kembali lembaran-lembaran sejarah pertarungan negara teokrasi dan negara sekuler (demokrasi). Sejarah dunia mencatat berbagai kekalahan sejumlah agama dunia seperti Kristen, Islam, Hindu, Buddha dalam perebutan kendali atas negara yang merupakan pengatur masyarakat. Paska kekuasaan (regional-global) Turki Usmaniyah, maka dunia Islam kembali ke wilayah-wilayah negara yang lebih kecil. Terjadi sejumlah model di negara-negara Timur Tengah seperti kolaborasi dinasti keluarga dengan ajaran Wahabbi (Saudi Arabia), berkembangnya sekularisme dan terciptanya sel-sel perlawanan untuk perjuangan negara Islam di berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia Islam mulai diperkenalkan sejak abad ke-11 dimana catatan tertua bahkan berasal pada era kerajaan Singsari di Jawa tahun 1082 Masehi (diduga merupakan catatan atas makam umat Islam asal Arab). Pada tahun 1292 Masehi, telah ada catatan sejarah dari berita Marcopolo tentang umat Islam yang besar di Aceh, sedangkan Kerajaan Pasai adalah kerajaan Islam Nusantara yang pertama. Pada abad 14-15 M, adalah bangkitnya kekuatasn Islam Nusantara dan awal runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha, Islam di Nusantara semakin kuat karena kedatangan Islam ke Nusantara adalah fenomena yang unik karena sungguh-sungguh damai melalui jalur pendidikan, sentuhan budaya dan terjadi akomodasi budaya yang melahirkan sinkritisme Islam khas Indonesia. Islam Damai adalah ciri khas Islam di Indonesia yang tidak menggunakan pedang dalam penyebarluasannya. Karakter Islam Damai di Indonesia tersebut berubah ketika Bangsa Barat akhir abad ke 15 M masuk ke Nusantara. Melihat kenyataan berkembangnya Islam di Nusantara, terjadilah benturan pertama Islam-Kristen di Nusantara karena pengaruh perang Salib yang terjadi di belahan dunia lain (Timur Tengah dan Eropa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah perjuangan Kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melawan penjajah yang mengatasnamakan ajaran Kristen dengan Gospelnya adalah akar sejarah pertama yang ada di alam bawah sadar mayoritas umat Islam Indonesia yang selalu curiga kepada kekuatan Barat. Bagaimanapun juga, kita adalah anak-cucu umat-umat terdahulu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Islam Nusantara hancur dan Nusantara dijajah selama 350 tahun, namun sepanjang sejarah tersebut perlawanan terjadi dimana-mana dan seluruh elemen bangsa Indonesia berjuang dengan segala kemampuan yang ada. Paska kehancuran kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, perjuangan kemerdekaan tidak terjadi dalam skala nasional, melainkan lokal, dimana kekuatan masyarakat yang lokal tersebut lintas agama, lintas etnis melawan penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancurnya kekuatan politik Islam tidak menghancurkan sendi-sendi umat Islam yang telah mengakar selama beberapa ratus tahun sebelum kedatangan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, hingga lahirnya gerakan nasionalisme Indonesia pada awal abad 20, perjuangan kemerdekaan Indonesia mencapai tahap finalisasi menuju kemerdekaan. Kelompok-kelompok yang ada dalam pejuangan nasional tersebut mencakup berbagai elemen bangsa lintas agama, etnis suku bangsa, dan pandangan ideologi politik. Islam politik cukup dominan, dan warnanya juga beragam. Piagam Jakarta adalah bukti sejarah politik Indonesia dimana dominasi kelompok Islam begitu kuat pada masa persiapan kemerdekaan. Namun karena keyakinan bahwa pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia adalah prinsip dasar nasionalisme Indonesia, maka piagam jakarta tidak diberlakukan serta dihapus nuansa keIslamannya serta menjelma menjadi Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska peristiwa kemenangan prinsip nasionalisme Indonesia, sebagian kelompok Islam sangat kecewa. Bahkan elemen pejuang militer Islam (Tentara Islam) kemudian menyusun konsep Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII)di Jawa Barat tahun 1949 dengan pimpinan S. M. Kartosuwirjo, dan di Aceh tahun 1953 dengan pimpinan Daud Beureuh. Disamping elemen perlawanan Tentara Islam atas pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berkembang pula elemen-elemen pesantren "jihad" (jumlahnya sekitar 70an) dan elemen pendukung syariat Islam dari partai Masyumi yang dihancurkan pemerintahan Sukarno. Pada era Orde Baru sejak tahun 1965, pemerintah Indonesia dengan pendekatan kekerasan militerisme melakukan kebijakan menghancurkan bahaya laten radikal kiri (komunisme) dan radikal kanan (Islam). Hal ini telah mempertajam sakit hati kelompok masyarakat Indonesia yang berada dalam kategori radikal kanan dan kiri tersebut, sehingga masuklah mereka semua ke dalam sel-sel pembibitan yang semakin keras. Pesantren Ngruki (1972) yang dibangun Abu Bakar Basyir hanyalah satu dari pesantren lain yang juga mengajarkan jihad, namun hal ini tidak dapat digeneralisir kedalam dunia terorisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian Blog I-I ke dalam organisasi teroris, diketahui bahwa perilaku aksi bom bunuh diri tidak diajarkan di pesantren, melainkan terjadi dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintahan yang dianggap kafir. Hal ini dalam sejarah modern mengacu pada pola strategi yang diterapkan oleh kelompok Hezbollah di Lebanon. Hal ini dianggap berhasil menakut-nakuti lawan, namun kemudian direduksi oleh dunia Barat (AS dan sekutunya) sebagai terorisme internasional. Sehingga pencitraan heroisme aksi bom bunuh diri Hezbollah berubah menjadi aksi pengecut teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal aksi bom bunuh diri misalnya di Aceh ketika melawan Belanda dengan sebutan Aceh Moord. Serta kita semua tentunya akan sangat menghormati aksi paling heroik dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia pada 1945 yang dilakukan oleh Muhammad Toha di Bandung Selatan dengan meledakkan dirinya di gudang mesiu demi melemahkan kekuatan Belanda, yang kemudian dikenal dengan “Bandung Lautan Api.” Artinya, kita tidak akan pernah menyebut aksi Muhammad Toha sebagai tindakan pengecut bukan? sebaliknya akan memberikan penghormatan dan doa, dan kita mengakui kepahlawanan Muhammad Toha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang terjadi dalam gerakan terorisme modern Indonesia, kelompok ini menganggap aksinya sebagai tindakan mulia, yang mana bertentangan dengan pandangan umum kita yang melihatnya sebagai tindakan hina. (Perhatikan kasus bandung lautan api, dan resapi bagaimana perasaan kita sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ha...saya kembali bicara kesana-kemari tetapi belum menjawab mengapa kelompok teroris beroperasi di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya ada di dalam hati kita dan ada di depan mata kita sendiri, yaitu sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sejarah perjuangan bangsa kita yang tidak takut mati masih ada di dalam diri kita, sehingga apabila ada bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki karakter perlawanan tidak takut mati adalah hal yang wajar. Kualitas ini tidak dimiliki negara-negara tetangga yang memperoleh kemerdekaan secara mudah gratisan dari negara penjajahnya yang baik hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mayoritas Islam Damai Indonesia sejak abad 11 M memiliki karakter diam dan hanya bereaksi ketika terjadi peristiwa yang mengganggu kedamaian, sehingga dibutuhkan waktu cukup lama untuk membangkitkan kewaspadaan terhadap keberadaan segelintir umat Islam yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mayoritas umat Islam Indonesia membawa sejarah bawah sadar kecurigaan yang kuat terhadap intervensi Barat sebagaimana terjadi dalam perang Nusantara di Indonesia dan perang Salib di dunia, sehingga akan sulit percaya apabila ada Muslim yang tega menyakiti sesama, apalagi aksi teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bahwa Indonesia adalah lahan yan sangat subur bagi lahirnya radikal kanan (versi pemerintah) karena kebijakan represi yang salah sasaran dari pemerintah Orde Baru. Pada era reformasi ada perbaikan dimana dialog telah terjadi dari berbagai elemen bangsa sehingga dapat dicapai suatu keadaan yang lebih adil di masa mendatang. Di lahan yang subur karena 40 juta rakyat kita masih miskin, sementara korupsi masih merajalela, tentunya apabila ada diantara rekan-rekan Blog I-I yang melakukan aksi bom bunuh diri di pusat-pusat korupsi nasional Indonesia akan menjadi pahlawan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Indonesia baru memulai komunikasi yang lebih sehat pada 10 tahun terakhir, sebelumnya penderitaan dan rasa sakit tidak terkomunikasikan, hal ini merupakan sejarah Hak Asasi Manusia Indonesia yang sangat buruk. Manusia Indonesia banyak mengalami ketidakadilan, termasuk dalam soal perlindungan hukum dan perlakuan yang wajar. Perhatikan perbedaan nasib bomber Bom Bali yang memperoleh proses peradilan dan liputan yang lebih berimbang dibandingkan dengan para pendiri DI/NII yang hilang begitu saja atau mati entah dimana. Perlu dibangun suatu mekanisme komunikasi yang lebih baik dalam wacana karakter kebangsaan Indonesia dengan seluruh elemen, dan hal ini menjadi kewajiban pemerintah. Hal ini juga terjadi dalam kasus separatisme baik di bekas propinsi Timor Timur, Aceh, Maluku maupun Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Aksi teror di Indonesia relatif lebih mudah karena aparat keamanan, khususnya pengamanan instalasi baik tempat umum maupun khusus memiliki tingkat disiplin yang rendah. Hal ini perlu direformasi dengan peningkatan kesejahteraan dan penggunaan alat-alat pencegahan dan pengawasan yang lebih modern, seperti di negara tetangga Singapura dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Boleh saya katakan bahwa seluruh elemen teroris Indonesia adalah asli buatan dalam negeri, yaitu kelanjutan dari elemen-elemen sejarah bangsa yang saya sebutkan di atas. Peristiwa internasional merupakan elemen katalis yang memperkuat dan mempercepat pertumbuhan kelompok teroris. Misalnya pengalaman "berjihad" di Afghanistan dan Filipina Selatan, komunikasi dengan Al Qaeda, dengan elemen radikal Wahabbi dan elemen jihad salafy ataupun gerakan militer Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Saya beberapa kali pernah mengungkapkan adanya kemungkinan "master puppet" yang mengacu pada negara-negara Barat, misalnya dengan kejanggalan kasus Omar Faruq ataupun keanehan sejarah Afghanistan yang saat ini masih diwarnai konflik bersenjata, juga pada situasi di Irak dan Lebanon. Latar belakangnya bisa saja uji coba senjata canggih negara Barat, upaya labelling Islam teroris, serta konspirasi dalam mengalihkan perhatian dunia dari masalah global yang sesungguhnya. Namun hingga saat ini, sangat sulit bagi kita mengumpulkan fakta-fakta yang dapat dipergunakan untuk membuktikan hal tersebut, namun secara analisis terlihat cukup meyakinkan. Untuk catatan terakhir ini, saya serahkan kepada rekan-rekan Blog I-I, anggaplah ini sebagai latihan intelektual dalam meningkatkan pemahaman kita terhadap isu-isu keamanan nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hal-hal tersebut diatas yang menyebabkan kelompok teroris beroperasi di Indonesia? tentu ada satu lagi catatan yang tidak kalah pentingnya atau bahkan paling penting dari semua itu, khususnya dalam fenomena keIndonesiaan. Yaitu para teroris sebagaimana juga mayoritas orang Indonesia berpikir lokal dan beraksi lokal pula, think locally dan act locally also. mengapa demikian? karena sangat lemah pengetahuannya dalam skala internasional, sehingga lebih mudah beroperasi di Indonesia, hal ini pula yang mendasari aksi sejumlah warga negara Malaysia dalam aksi teror di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dengan berbagai perbaikan sektor kemanan dan keselamatan rakyat Indonesia, serta profesionalisme aparat keamanan, tidak akan ada lagi aksi teror yang mengintimidasi kedamaian bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-8963935650603146621?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/8963935650603146621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=8963935650603146621&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8963935650603146621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8963935650603146621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/09/mengapa-kelompok-teroris-beroperasi-di.html' title='Mengapa Kelompok Teroris Beroperasi di Indonesia?'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-8148658656007041167</id><published>2009-09-18T09:21:00.003+01:00</published><updated>2009-09-18T09:28:28.110+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='web intelijen di dunia internasional'/><title type='text'>Mengapa Blog I-I membuat link dengan Web Intelijen Lain</title><content type='html'>Sebagai bagian dari proses pembelajaran kepada rakyat Indonesia tentang pentingnya kewaspadaan nasional, ada suatu tahapan yang seringkali kita semua lupa betapa pentingnya tahapan itu, yaitu membaca alias belajar. Bacalah dengan kejernihan akal kita dan ketenangan emosi, niscaya dunia intelijen internasional akan dapat dipahami. Kemudian setelah kita kita berkaca dan melihat pada sistem keamanan dan pertahanan kita sendiri, khususnya di dunia informasi dan intelijen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link website intelijen di berbagai dunia sengaja saya buat agar rekan-rekan yang ingin mendalami studi atau dunia intelijen segera dapat melakukan riset ke alamat web tersebut. Anggap saja hal ini dapat menyingkat waktu dari pada mencarinya di google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-8148658656007041167?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/8148658656007041167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=8148658656007041167&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8148658656007041167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/8148658656007041167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/09/mengapa-blog-i-i-membuat-link-dengan.html' title='Mengapa Blog I-I membuat link dengan Web Intelijen Lain'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2706333574988436087</id><published>2009-09-17T13:05:00.004+01:00</published><updated>2009-09-17T13:25:34.441+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M Top'/><title type='text'>Saifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/SrIoBYPEFoI/AAAAAAAAABk/ETOz2qL6LTg/s1600-h/Noordin.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 187px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/SrIoBYPEFoI/AAAAAAAAABk/ETOz2qL6LTg/s320/Noordin.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382408508811777666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan demi pengungkapan yang dilakukan Polri, khususnya Densus 88 tentunya sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia. Apresiasi yang tinggi patut kita berikan kepada Polisi Indonesia. Setelah 14 titik sidik jari Noordin M. Top yang identik dengan data dari Polisi Diraja Malaysia, kita tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk pembuktian final yang tidak terbantahkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rekan Blog I-I menanyakan peranan intelijen AS, Australia dan Inggris yang membantu Polisi dan Intelijen Indonesia. Dalam kaitan ini perlu saya sampaikan bahwa kerjasama internasional adalah hal yang wajar, khususnya dalam pertukaran informasi dalam melawan terorisme. Namun keseluruhan keberhasilan adalah milik aparat keamanan Indonesia, dan saya minta rekan-rekan dapat meyakini bahwa peningkatan kapabilitas Polri adalah benar-benar telah mencapai prestasi internasional, bahkan dapat dinilai tidak kalah dengan Polisi-polisi dan aparat keamanan di negara-negara maju.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai bangsa Indonesia boleh saja meragukan kemampuan aparat keamanan kita sendiri, namun ketika bukti keberhasilan sudah jelas di depan mata, tentunya kita dapat membuka mata kita bahwa benar polisi kita telah mencapai prestasi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih positif apabila seluruh elemen bangsa Indonesia yang peduli dengan keamanan nasional dan keselamatan rakyat turut membantu aparat keamanan dalam penyelidikan dua tokoh yang belum tertangkap yaitu Saifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdikan para pelaku teror yang bersembunyi dibalik kedok ajaran Islam telah membuat banyak orang tertipu sehingga simpati kepada para teroris tersebut. Sedangkan propaganda Barat melawan Islam juga telah menimbulkan kecurigaan yang tidak beralasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Blog I-I melihat bahwa keterkaitan Barat dan Islam perlu diselidiki secara lebih dalam lagi dalam pembuktian adanya master mind internasional. Dengan pengungkapan para pelaku teror di dalam negeri kita, tentunya dapat digali lagi apakah ada keterkaitan itu, dan saya menghimbau untuk mulai berpikir secara lebih obyektif berdasarkan fakta-fakta empiris seperti yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita dukung upaya aparat keamanan Indonesia menjaga keselamatan rakyat Indonesia dengan memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya, dan pada gilirannya rakyat Indonesia dapat berkonsentrasi dalam pembangunan ekonomi, sosial dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2706333574988436087?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2706333574988436087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2706333574988436087&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2706333574988436087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2706333574988436087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/09/saifudin-zuhri-dan-muhammad-syahrir.html' title='Saifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QcGwPqC58aE/SrIoBYPEFoI/AAAAAAAAABk/ETOz2qL6LTg/s72-c/Noordin.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7728245045712548413</id><published>2009-09-07T21:02:00.002+01:00</published><updated>2009-09-07T22:09:46.784+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog I-I'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='analisa intelijen'/><title type='text'>Kedangkalan Analisa Blog I-I</title><content type='html'>Terima kasih atas kritikan membangun dari rekan-rekan Blog I-I yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini dapat diterima dengan baik dalam diskusi nasional demi perbaikan masa depan Indonesia, serta bukan sebagai bagian dari kepuasaan taktis sesaat untuk kepentingan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dalam soal sorotan kepada reformasi militer dan intelijen, tentu saja Blog I-I hanya mengambil peranan anjing menggonggong mudah-mudahan kafilah memikirkannya ketika berlalu, karena tujuan dari Blog I-I bukanlah revolusi perubahan yang drastis tetapi secara sungguh-sungguh ingin membuka mata komunitas intelijen tentang ketertinggalan yang terjadi selama puluhan tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam isu-isu spesifik seperti terorisme, Ahmadiyah, ataupun kelompok radikal kanan (raka) dan radikal kiri (raki), Blog I-I mungkin tampak sok tahu dengan sedikit mengungkapkan detail, apalagi yang terkait dengan peranan elit intelijen dan militer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejauh mana diharapkan Blog I-I mengungkapkan kebenaran tentunya ada batasan yang etis dalam pengungkapan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila rekan-rekan dari komunitas intelijen ataupun termasuk 2% dari bangsa Indonesia dengan akses informasi yang kuat tentunya akan segera memahami bahwa Blog I-I tidak akan melangkah sejauh itu dalam pengungkapan berbagai peristiwa yang mendera bangsa Indonesia. Karena tidak semua kebenaran dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, bahkan akan tampak sangat provokatif, karena kebenaran itu menjadi hak prerogatif segelintir tokoh elit di negeri ini. Bangsa kita belum sungguh-sungguh siap menanggung kebenaran sejati sejarah perjalanan diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya tidak akan pusingkan rekan-rekan dengan isu kecil seperti Ahmadiyah karena ancamannya tidak akan meruntuhkan kedaulatan Indonesia Raya, terlebih dengan adanya pengaruh dari sejumlah elit di negeri ini. Analisa yang mendalam dan pengungkapan kasus ini justru akan memperumit masalah karena pada ujungnya harus melalui hukum formal yang jelas masih sulit ditempuh secara tegas oleh Negara Demokratis Indonesia Raya saat ini. Sekitar 10-20 tahun ke depan mungkin akan lebih mudah apabila kedewasaan berpolitik dan demokrasi semakin matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita tengok sejarah yang baru lewat 11 tahun berselang, khususnya ketika kita kehilangan kedaulatan atas Timor Timur, ini adalah masalah terbesar dari sudut pandang NKRI bukan? Tetapi tidak ada satupun dari kita yang berani menuntut kepada pemerintah ataupun elit-elit yang berkuasa untuk mempertanggungjawabkan seluruh kesalahan strategi sejak tahun 1975. Bangsa Indonesia menanggung malu di dunia internasional sebagai bangsa penjajah, sebagai bangsa pelanggar HAM, pemerkosa, pembunuh, karena perilaku sedikit elit militer yang beberapa diantaranya baru-baru ini berani mencalonkan diri sebagai pimpinan nasional kita dalam pemilu Presiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh puji Tuhan pelindung bangsa Indonesia, kampanye underground Blog I-I berhasil mematahkan segala daya upaya para pendosa yang telah mencoreng kehormatan bangsa Indonesia tersebut, setelah pelanggaran HAM berat dan sikap pengecut dengan berlindung dibawah pengampunan sistem hukum nasional Indonesia yang rapuh. Bahkan Indonesia sebagai negara juga melindungi para penghianat yang menyebabkan rusaknya citra bangsa Indonesia di dunia internasional hingga saat ini. Blog I-I sangat kecewa kepada segelintir elemen bangsa Indonesia yang bodoh dan masih dapat ditipu dengan rayuan kebohongan dan politik uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain adalah kebangkitan keluarga Cendana dengan wacana rencana kembalinya Tommy Suharto ke gelanggang politik nasional. Cobaan apalagi yang akan kita hadapi apabila tidak segera lahir calon-calon pemimpin bangsa yang berkualitas. Apalagi tampak ada kecenderungan membiarkan lahirnya kembali elemen-elemen penghancur bangsa Indonesia. Mengapa saya berani katakan elemen penghancur bangsa karena mayoritas bangsa kita berpikir dalam dunia sempit Indonesia serta terlalu banyak mencurahkan perhatian dalam persaingan kekuasaan domestik, sementara lupa dengan pentingnya dinamika dan perubahan internasional yang senantiasa mengancam bukan hanya integritas wilayah, tetapi juga intergitas ke-Indonesia-an, yaitu karakter dan jati diri bangsa yang terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kita dihina sebagai bangsa yang tidak beradab karena tidak mampu menuntaskan begitu banyak kasus kemanusiaan. Apakah hal itu standar Barat yang dipaksakan ataukah fakta yang kita lihat sehari-hari di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dll. Bukankah kita sering melihat oknum preman berseragam yang dipersenjatai oleh biaya pajak yang kita bayar kepada pemerintah justru mengintimidasi kehidupan kita. Hal inilah yang harus segera dirubah hingga akar-akarnya dan ditata kembali dengan tetap mengindahkan kehormatan profesi para pelindung negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembenaran-pembenaran yang kita lakukan ketika tejadi penderitaan di Aceh, Timor-Timur, Maluku, dan Papua semua ditutup dalam satu semangat keramat NKRI, tetapi sesungguhnya kita belum menyentuh persoalan yang mendasar di kawasan-kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain yang lebih menyedihkan adalah bahwa kita cenderung melupakan sejarah atau membiarkan sejarah tidak jelas, sehingga akhirnya orang asing (Australia, Inggris, Amerika, PBB,dll) yang memberikan klarifikasi yang belum tentu benar, namun karena tidak ada kemauan dari kita untuk mengungkapkan fakta sejarah, maka akhirnya sejarah yang merupakan versi asing itulah yang dilabelkan dalam perjalanan bangsa kita di dunia. Sangat memalukan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kasus Timor Timur, masihkah kita memberikan penghormatan kepada para Pejuang Seroja? Sebagai prajurit perang pikiran saya menyarankan untuk mengabadikan penghormatan kepada para Pejuang Seroja karena mereka adalah pahlawan yang berjuang tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Kita harus mengabadikan ini sebagai fakta sejarah bahwa Indonesia pernah berusaha membebaskan Timor Timur dari cengkeraman bahaya komunisme (dalam konteks tahun 1975). Dengan demikian, tidak benar kita melakukan aneksasi atau penjajahan atau kolonialisme terhadap Timor Timur, karena hal itu melanggar pembukaan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kemudian terjadi sejumlah persoalan kemanusiaan, sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda, Portugis, dan Jepang tentunya bangsa Indonesia yang sekarang sudah demokratis juga sadar pentingnya pelurusan sejarah, yang hal ini adalah demi masa depan generasi Indonesia sendiri agar tidak muncul perasaan malu seperti dialami generasi paska perang dunia I dan II di Jerman dan Jepang. Indonesia harus berlapang dada mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang terjadi di dalam perjalanan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak ditujukan untuk kepentingan tertentu, tetapi demi bangsa dan negara. Tidaklah sepatutnya kita melindungi pimpinan yang tidak kapabel dalam menjalankan fungsinya yang mana sejarah sudah membuktikan kekalahan telak yang dialami dalam kasus lepasnya Timor-Timur. Berhentilah menyalahkan unsur konspirasi asing karena ketidakmampuan strategi dalam membangun NKRI yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun angin lebih kuat berhembus pada ketidakjelasan arah Indonesia dalam klarifikasi sejarah perjalanan bangsa Indonesia, sehingga orang asing seenaknya menuliskan sejarah hitam Indonesia sebagai penjajah. Misalnya saja dalam rencana peluncuran film Balibo Five di Australia yang menceritakan kisah peristiwa Balibo tahun 1975. Seluruh komunitas intelijen di dunia paham bahwa film adalah alat propaganda paling efektif dalam mempengaruhi keyakinan orang, apalagi tentang sejarah. Apabila ternyata film tersebut nantinya tidak menyenangkan bagi Indonesia, apakah kita akan marah-marah dan protes dengan alasan nasionalisme? Percayalah....dunia akan tertawa melihat kebodohan kita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentimen negatif dunia jurnalisme internasional banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian sikap pemerintah Indonesia dalam mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi, Indonesia cenderung menganggap semua itu sebagai kecelakaan dan mencoba dilupakan...tetapi kalangan jurnalisme tidak akan pernah lupa dalam kasus-kasus yang merenggut nyawa jurnalis yang bertugas. Itulah sebabnya mengapa sangat sulit meyakinkan kalangan media atas setiap perkembangan di Timor Timur pada era Orde Baru, dengan kata lain kita kalah telak sangat telak mungkin ibaratnya 10-0 dalam pertandingan sepakbola.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan saya lebih banyak bersifat ajakan untuk berpikir memperbaiki kekeliruan di masa lalu, menghindari kesalahan yang sama dan menyongsong masa depan dengan strategi yang lebih baik. Apabila diteruskan mungkin bisa tertulis berlembar-lembar dalam format analisa yang dangkal seperti penilaian sebagian rekan-rekan. Mohon sekalipun rekan-rekan memiliki informasi yang lebih detail, saya sarankan tidak untuk publikasi sebelum dipikirkan matang-matang. Apabila tulisan Blog I-I terasa sok tahu, sangat mungkin demikian apalagi bagi rekan-rekan dalam komunitas intelijen. Lagi pula Blog I-I bukanlah sumber informasi tertinggi dalam dunia intelijen Indonesia, dan tidak ada kewajiban bagi rekan-rekan untuk meyakininya. Saya menyarankan rekan-rekan untuk berkontemplasi dan memikirkan kembali setelah membaca sebuah artikel Blog I-I, kemudian lihat maksud dan tujuan setiap artikel, niscaya akan terasa ruang-ruang kritik untuk perbaikan dan diskusi yang berlanjut dan hampir tidak bersifat tertutup sebagai kebenaran mutlak, sebaliknya justru sangat terbuka untuk ruang diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7728245045712548413?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7728245045712548413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7728245045712548413&amp;isPopup=true' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7728245045712548413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7728245045712548413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/09/kedangkalan-analisa-blog-i-i.html' title='Kedangkalan Analisa Blog I-I'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3411737894630610692</id><published>2009-08-20T22:41:00.004+01:00</published><updated>2009-08-21T09:37:32.640+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontra intelijen'/><title type='text'>Prinsip-prinsip Kontra Intelijen</title><content type='html'>Sekedar sebagai penyegaran kepada para Ronin dan Senopati tanpa Tuan yang berhati merah-putih, khususnya jaring Blog I-I, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa prinsip yang harus rekan-rekan hayati dan jalani dalam melaksanakan fungsi kontra intelijen terhadap musuh-musuh Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa prinsip tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Aktif dan menyerang, maksudnya adalah bahwa seorang perwira dan pelaksana fungsi kontra intelijen harus memiliki prinsip aktif mencari tahu gerakan dan tujuan lawan serta dengan seksama mengamati setiap langkah yang ditempuh lawan. Menyerang disini bukan berarti secara realita melakukan penyerangan, melainkan tidak bertahan, tetapi bahwa kita beroperasi di wilayah hukum kita, tidak ada yang perlu ditakuti dalam mengamati lawan siapapun dia. Berbeda dengan model bertahan, adalah hanya untuk pengecut yang ketakutan di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menguasai medan dan jalanan, sebagai kelanjutan dari sikap yang aktif maka prinsip penguasaan medan dan jalanan adalah syarat mutlak dalam melakukan operasi kontra intelijen. Dengan penguasaan medan dan jalanan akan membuat jalannnya operasi berjalan lancar dan natural serta tidak ada kejutan dari pihak lawan karena berbagai seluk-beluk lingkungan adalah dalam penguasaan kita. Hal ini juga akan mengurangi manuver intel asing yang pandai menghilangkan jejak ketika sedang diawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak mengabaikan analisa. Salah satu kelemahan unit operasional adalah seringkali meremehkan analisa karena bagi mereka sudah bertahun-tahun melakukan kegiaan kontra intelijen, pengalaman dan insting di lapangan lebih penting. Namun dunia sangat dinamis dan berbagai metode juga berkembang pesat, sehingga sangat diperlukan pengetahuan yang luas khususnya dalam menganalisa model-model kegiatan intel asing yang dalam kaitan ini memerlukan analisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Terus-menerus dalam peningkatan dan penyegaran operasi dengan latihan-latihan. Berbagai pendekatan untuk meningkatkan profesionalitas unit kontra intelijen harus dilakukan secara berkala baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal ini untuk menjaga kesegaran dan kewaspadaan dalam pelaksanaan tugas. Selain itu juga untuk memperkaya dan mempersiapkan kesiagaan unit kontra intelijen dalam mencermati setiap dinamika dan kemajuan zaman dalam operasi-operasi intelijen di seluruh dunia. Denan bekal tersebut, unit kontra intelijen akan siap mendeteksi dan menghancurkan jaringan operasi intelijen asing di negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bergantian, maksudnya adalah bahwa akan lebih efektif dan segar apabila para pelaksana dalam unit kontra intelijen bekerja secara bergantian dan tidak bertahan dalam satu posisi terlalu lama. Hal ini merupakan tuntutan pekerjaan untuk dapat fokus pada operasi dan tidak berpikir kemana-mana. Satu hal yang juga sangat perlu adalah adanya rotasi dimana petugas non-kontra intelijen juga perlu mengalami operasi kontra intelijen untuk melenngkapi, setidaknya 2 sampai tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak pernah menyerah merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar karena hal ini berkaitan dengan keberhasilan misi mengkonter intelijen lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tidak sombong/merasa paling hebat dalam jajaran intelijen. Setiap fungsi intelijen penyelidikan, pengamanan dan penggalangan memiliki keunikan dan kesulitan tersendiri yang menjadi model yang tidak dapat dihindari. Perilaku menang sendiri dan sombong yang dipicu oleh eksklusifitas suatu unit operasi seringkali membuat lupa diri dan ketertutupan unit yang justru akan berdampak negatif bagi pengembangan acara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mudah bekerjasama adalah suatu prinsip sederhana yang sulit dilaksanakan karena seringkali kenyataan menunjukkan bahwa ego pribadi dan sektoral lebih besar dibandingkan dengan kepentingan operasi. Faktor ini sering membuat operasi kontra intelijen berantakan karena pihak musuh telah tahu potensi perpecahan yang dan memanfaatkannya untuk melakukan adu-domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menghargai dan menghormati profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mengetahui sejarah intelijen Indonesia, kisah-kisah legenda intelijen dan kontra intelijen, serta menjadikannya sebagai modal dan acuan dalam mengarungi perang intelijen tanpa akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, silahkan ditambah atau dikoreksi.&lt;br /&gt;Terima kasih &lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3411737894630610692?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3411737894630610692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3411737894630610692&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3411737894630610692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3411737894630610692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/prinsip-prinsip-kontra-intelijen.html' title='Prinsip-prinsip Kontra Intelijen'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5717539148173076998</id><published>2009-08-18T21:22:00.002+01:00</published><updated>2009-08-18T21:28:00.928+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia Raya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dirgahayu Indonesia'/><title type='text'>Refleksi Kemerdekaan Indonesia Raya</title><content type='html'>Hanya ada satu refleksi yang ingin saya sampaikan 1 hari setelah ulang tahun kemerdekaan Indonesia Raya ke-64. Sudahkah kita membangun jati diri kebangsaan Indonesia yang kuat? Persoalan terbesar bangsa Indonesia adalah belum tercapainya suatu identitas keIndonesiaan yang total lahir dan bathin. Masih banyak kekecewaan dan penderitaan sebagai akibat dari ketidakadilan dan masih besar kecurigaan yang lahir dari perbedaan diantara kita. Marilah kita bangun identitas Indonesia yang demokratis dan menghargai kemanusiaan serta maju secara ekonomis dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahayu Indonesia Raya!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5717539148173076998?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5717539148173076998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5717539148173076998&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5717539148173076998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5717539148173076998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/refleksi-kemerdekaan-indonesia-raya.html' title='Refleksi Kemerdekaan Indonesia Raya'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4572115108250675984</id><published>2009-08-18T19:52:00.003+01:00</published><updated>2009-08-18T20:35:26.127+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='JK-Wiranto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu dan intelijen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY-Boediono'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mega-Prabowo'/><title type='text'>Tentang Politik Dalam Negeri (Pemilu)</title><content type='html'>Hanya sebuah komentar/pertanyaan tetapi membuat Blog I-I merasa perlu memberikan sedikit pandangan, yaitu pertanyaan mengenai pemilu, kemenangan incumbent SBY dan kekelahan incumbent JK, serta peranan intelijen. Sebuah komentar yang agak tendensius, namun kritis dan berupaya mencari tahu dengan dugaan adanya suatu peranan tertentu dari intelijen dalam pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Blog I-I adalah menghendaki intelijen bersih dari pertarungan politik dalam negeri, serta berkonsentrasi dengan seluruh ancaman terhadap kepentingan bangsa dan negara (bukan kepentingan kelompok atau elit politik). Posisi cukup berpengaruh ke dalam sendi jaringan intelijen Indonesia yang reformis, yang menghendaki profesionalisme dan keseimbangan antara tekanan kekuasaan dan obyektifitas analisa intelijen yang berlandaskan kepada kepentingan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai fenomena kemenangan incumbent SBY, saya dapat menyampaikan secara gamblang bahwa:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peranan intelijen dapat dinilai tidak signifikan dalam mempengaruhi hasil pemilu. Satu hal pasti adalah intelijen turut berperan dalam menjaga ketertiban dan menghilangkan ancaman terhadap proses berlangsungnya pesta demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan SBY lebih dipengaruhi oleh peranan media, popularitas, efektifitas kampanye, dan kelemahan mendasar yang melekat pada pasangan calon presiden dan wapres lainnya. Misalnya JK, kelemahannya terletak pada tidak solidnya dukungan di dalam Partai Golkar dan adanya keinginan dari sebagian elit Partai Golkar untuk merapat kepada SBY. Kemudian Wiranto memiliki kelemahan mendasar dalam soal citra buruk di masa lalu yang belum dilupakan oleh rakyat Indonesia. Wiranto sama sekali tidak mencerminkan antagonisme dengan SBY, karena kelemahan Wiranto sebagai seorang Jenderal pimpinan tertinggi pada masa akhir Pemerintahan Suharto adalah kebimbangan dan kurang percaya diri dalam menempuh nasionalisme total semi militerisme yang ditawarkan Suharto, hal itu mencerminkan mentalitet tentara yang lembek. Dengan kata lain, kekalahan JK-Wiranto sudah terukur secara analisis politik bahkan jauh sebelum masa kampanye, mohon rekan-rekan juga mendalami analisa kekuatan-kekuatan politik secara akademik dengan kalkulasi yang akurat (pelajari model-model political comptetition: theory and application).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi yang cukup lumayan justru ada di kubu Mega-Prabowo, dengan basis massa PDI-P yang telah terukur sekitar 25-30%, sesungguhnya hanya dibutuhkan tambahan sekitar 15% dengan asumsi JK-Wiranto mampu mencapai 15% suara. Sudah cukup untuk putaran kedua dan ketika suara menyatu, maka incumbent SBY akan kewalahan pada putaran kedua. Namun hal itu tidak terjadi bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabowo dengan rebirth program, boleh saya acungkan jempol karena popularitasnya meningkat tajam dan mampu mencerminkan diri sebagai antagonis SBY, artinya dapat menyedot minat pemilih dalam pemilu. Ternyata ada suatu kelupaan dalam rebirth program Prabowo, yaitu prosesnya belum matang dan terlalu cepat mengkristalkan konsep kerakyatan yang tampak tidak meyakinkan karena fakta berbicara lain, artinya rakyat dapat merasakan angin harapan dari konsep kerakyatan Prabowo namun belum cukup yakin bahwa hal itu akan membawa perubahan yang signifikan. Tidaklah cukup 2-3 tahun bagi Prabowo untuk lahir kembali dalam suatu wajah yang menjanjikan perbaikan bagi bangsa dan negara Indonesia. Belum lagi, sejumlah kalangan aktivis secara aktif menyerang latar belakang sejarah Prabowo terkait isu HAM dan militerisme yang berlebihan. Akibatnya, ada keraguan yang besar di dalam hati dan benak pemilih. Pasangan Mega-Prabowo tertolong oleh basis massa yang loyal kepada ideologi nasionalisme yang diusung PDI-P, sehingga tetap mampu menarik suara yang besar, namun tidak cukup untuk menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan tersebut diatas tidak memerlukan analisa kompetisi politik yang rumit karena mudah ukurannya. Terlepas dari persoalan Daftar Pemilih, persoalan administrasi, dan kemungkinan adanya kecurangan, saya melihat bahwa analisa dan ukuran yang kita berikan secara awam (common sense) telah dapat menjawab mengapa incumbent SBY menang kembali. Tambahan poin dengan memilih pasangan Boediono yang tampak apolitis, sangat menarik minat kalangan menengah (middle class) di perkotaan yang melihat adanya potensi perbaikan ekonomi yang semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bermaksud menegasikan adanya peranan intelijen dalam menyukseskan terpilihnya kembali incumbent SBY, namun bila dibandingkan dengan peranan intelijen dalam rekayasa politik demokrasi era Orde Baru, maka Indonesia telah amat sangat jauh berubah, dan peranan intelijen juga demikian, tidak ada lagi celah yang dapat membuat intelijen seenaknya merekayasa politik dalam negeri untuk kepentingan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawas ada di mana-mana, peranan LSM dan aktivis civil society begitu besarnya, partai politik memiliki ruang gerak yang lebih bebas dibandingkan era Orde Baru. Maka saya dapat yakin bahwa intelijen dengan reformasinya telah mulai menata diri untuk tidak terjebak dalam kompetisi politik di dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya ada hal-hal yang rekan-rekan pikir kurang tepat, mohon koreksinya.&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4572115108250675984?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4572115108250675984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4572115108250675984&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4572115108250675984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4572115108250675984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/tentang-politik-dalam-negeri-pemilu.html' title='Tentang Politik Dalam Negeri (Pemilu)'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-6440650776233096474</id><published>2009-08-17T13:22:00.002+01:00</published><updated>2009-08-17T13:46:49.625+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Senopati Wirang'/><title type='text'>Pesan Bapak</title><content type='html'>Ternyata sekali lagi harus diakui kepekaan rekan-rekan Blog I-I dalam menilai setiap tuisan di Blog I-I. Benar adanya bahwa Bapak Senopati masih belum fit dalam berbagi wejangan, nasehat dan analisa serta arahan kepada jaring Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak mudah untuk menyelami kedalaman pikiran dan analis Bapak, sehingga hanya dalam beberapa artikel yang menurut Bapak terlalu tergesa-gesa segera terlihat bahwa tulisan saya masih jauh dari harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini pesan dari Bapak, sehubungan dengan naik-turunnya kualitas tulisan dalam Blog I-I:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Kepada para sahabat dan jaring Blog I-I yang saya sayangi dan hormati, cobalah untuk melangkah lebih jauh ke dalam strategi pemikiran yang berwawasan kebangsaan dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depan Indonesia Raya. &lt;br /&gt;2. Dalam kaitan masa depan bangsa kita yang tercinta, Blog I-I hanyalah sebuah wadah dan bukan sumber kebenaran yang hakiki, karena kebenaran itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kesepakatan kita bersama untuk kita resapi dan jalankan. Kebenaran yang saya maksud adalah kepentingan nasional yang sungguh-sungguh asli, yaitu yang menyangkut kehendak kita bersama, misalnya keutuhan wilayah/kedaulatan bangsa, peningkatan dan perlindungan ekonomi bangsa yang menyentuh ke lapisan terbawah dalam realita sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;3. Saya bahagia, andaikatapun harus meninggalkan alam yang fana ini, karena komunikasi di dalam jaring Blog I-I sudah semakin luas dan kuat. Namun Puji Tuhan ...Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih bisa berkomunikasi dengan sahabat Blog I-I.&lt;br /&gt;4. Dinamika yang lebih transparan dalam bentuk sharing informasi yang dapat dibaca publik sudah dapat ditingkatkan, karena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kesiapan masyarakat Indonesia dalam berdebat sudah meningkat jauh lebih baik.&lt;br /&gt;5. Manfaatkanlah Blog i-I sebagai sarana saling belajar dalam memperkuat pondasi kebangsaan Indonesia, dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia, serta dalam memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;6. Jadikan setiap kekeliruan yang pernah kita lakukan sebagai guru dalam menghindari kekeliruan yang sama di masa depan.&lt;br /&gt;7. Blog I-I juga dapat dipandang sebagai sebuah gerakan perubahan tanpa struktur yang dinilai lebih efektif di dunia ide untuk peningkatan keamanan dan kapabilitas intelijen. Sementara realita perubahan yang lebih baik di dunia nyata adalah tanggung jawab rekan dan sahabat yang masih aktif menjadi organisk aparat keamanan negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;8. Dengan demikian, tidak akan terjadi pergesekan yang keras, karena pembaharuan yang dibawa Blog I-I bagaikan pil yang harus dicerna terlebih dahulu oleh setiap insan intelijen, dan aparat keamanan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-6440650776233096474?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/6440650776233096474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=6440650776233096474&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6440650776233096474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/6440650776233096474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/pesan-bapak.html' title='Pesan Bapak'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1068448057699969701</id><published>2009-08-16T00:11:00.003+01:00</published><updated>2009-08-16T01:12:02.017+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='propaganda'/><title type='text'>Melukis maksud yang sesungguhnya</title><content type='html'>Sejumlah rekan-rekan Blog I-I sudah memperlihatkan perasaan yang bercampur, antara bingung, dan sedikit simpati kepada Blog I-I. Mengapa saya katakan bingung? Hal ini tidak terlepas dari puluhan email dan komentar rekan-rekan sendiri yang merefleksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita perhatikan bagaimana kebingungan itu terjadi. Ketika sejumlah pertanyaan dan komentar tentang Senopati Wirang bertebaran, hampir selalu ada yang menghembuskan keraguan akan maksud dari pada keberadaan Blog I-I dan tujuan dari penulisan-penulisan artikel di Blog I-I. Sebagian menyebutnya dasar intel yang suka merekayasa dan berbohong, sebagian melihatnya sebagai propaganda, sebagian turut merasakan keprihatinan , sebagian berkomentar dengan keraguan yang sangat besar, dst...dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika tulisan Blog I-I dipandang kurang bermutu, mungkin maksudnya jauh dari kebenaran, mungkin juga bertujuan melemahkan fakta Blog I-I dengan labelling (salah satu metode propaganda negatif). Ketika tulisan Blog I-I salah besar dan tampak seperti omong kosong, hal ini juga menjadi justifikasi lemahnya kredibilitas Blog I-I sekaligus penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa saya lakukan kemudian? Apakah saya menulis hanya iseng karang-mengarang berdasarkan sedikit data yang rekan-rekan juga bisa baca sendiri di media massa? Ataukah saya memiliki maksud tertentu yang tersusun dalam perencanaan yang matang? Tentu rekan-rekan mencoba merabanya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menghindari kebingungan yang berkepanjangan, saya ingin menyampaikan bagaimana sebuah dunia dapat dilukis oleh mereka para perancang strategis di negara-negara maju, bahkan untuk 25 hingga 50 tahun kedepan, sudah ada semacam "kepastian" apa yang akan terjadi dalam perencanaan manusia. Blog I-I masih jauh dari kecanggihan perencanaan pembangunan strategis suatu bangsa dan negara di negara maju, tetapi setidaknya diskusi itu telah dimulai. Dalam kaitan ini, tema intelijen dan keamanan harus menjadi dasarnya karena fakta sejarah menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara yang maju dan kuat di dunia ini yang tidak didukung oleh intelijen dan keamanan yang kuat serta cerdas dalam menyongsong perubahan demi perubahan. Kekuatan intelijen dan keamanan tidak selalu identik dengan kekuatan fisik yang sering terpeleset dalam perilaku represif, tetapi sebaliknya justru identik dengan kematangan rencana, perkiraaan yang nyaris 100 % terbukti benar, serta pelaksanaan kebijakan yang sungguh-sungguh membawa perubahan yang positif bagi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa Indonesia masih negara berkembang dengan puluhan juta penduduk yang masih miskin tentunya harus kita lihat sebagai tantangan yang terbesar. Hal ini memposisikan kita dalam suatu tarik-menarik identitas kebangsaan, yaitu antara bangsa yang kuat dalam artian secara kemandirian dan bangsa yang lemah karena terjerat hutang dan kurang mandiri. Kita secara perorangan akan melihatnya berlainan. Bagi anda yang mapan secara ekonomi dan termasuk kelas menengah tidak akan melihat adanya suatu kondisi ekonomi yang memperihatinkan, sebaliknya anda yang berada dibawah garis kemiskinan akan selalu melihat pembagian kue ekonomi nasional sebagai ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim tentunya juga menjadi suatu keadaan yang dapat diterjemahkan dalam berbagai prasangka-prasangka, misalnya berpotensi menjadi musuh Barat yang mayoritas berada dibawah pengaruh Kristen/Yahudi. Prasangka agama di Indonesia sangatlah kuat karena budaya bangsa kita yang aslinya bersifat komunal dan gotong royong. Artinya satu dengan yang lainnya memiliki interaksi yang besar dibandingkan bangsa-bangsa yang lain di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada masalah melukis maksud yang sesungguhnya? Ada maksud apa Blog I-I lahir, tumbuh dan berkembang? pernahkah rekan-rekan bertanya pada diri sendiri? Apakah ini sebuah rekrutmen terbuka besar-besaran, ataukah ini propaganda konyol yang tidak jelas arahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya harus meohon maaf kepada rekan-rekan yang ingin menjadi Intel, karena saya tidak bisa menyalurkannya. Rekan-rekan hanya bisa mencoba memahami dan belajar sedikit atau bahkan kulit terluar dari intelijen di Blog I-I, dan bukan menjadi intel baik operasional maupun analis. Misalnya dalam tulisan ini, apakah yang dapat rekan-rekan pelajari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Blog I-I bukan sumber kebenaran informasi, namun Blog I-I berupaya senantiasa konsisten dalam merefleksikan janji kepada bangsa dan Negara Indonesia, membangun peradaban Indonesia Raya lebih cepat melalui pembangunan budaya nalar dan saling belajar. Hasilnya mungkin hanya omong-omong dan pertukaran gagasan, namun sadarkah rekan-rekan bahwa kita akan mengarah pada suatu kesepakatan luas untuk mempercepat pemulihan jati diri bangsa Indonesia yang terpuruk oleh watak dan perilaku buruk berupa keserakahan (korupsi), kekuasaan (penyalahgunaan kekuatan politik), serta kemalasan (mayoritas kita tidak memikirkan masa depan bangsa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hasilnya, entahlah karena fakta menunjukkan tidak mudah melukis kembali kebangsaa Indonesia dalam dunia modern. Dimana letak kesulitannya? Pertama, kita hampir selalu saling curiga, dan saya sangat merasakan itu dalam forum yang kita    &lt;br /&gt;sebut Blog I-I. Kedua, kita agak malas belajar, hal ini khusus di kalangan rekan-rekan telah berkembang sangat pesat dimana komentar dan masukkan semakin lama semakin hebat. Ketiga, pengaruh Blog I-I masih terbatas pada individu-individu yang sensitif dan berkenan untuk belajar banyak, hal ini secara perlahan menjadi modal utama peningkatan kualitas Blog I-I. Keempat, saya melihat rekan-rekan masih membaca Blog I-I bukan sebagai sesuatu yang serius, sehingga meskipun saya telah berkali-kali menghimbau, sangat sedikit yang berinisiatif untuk bergabung dengan Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melukis maksud yang sesungguhnya bagaikan suatu keadaan dimana rekan-rekan harus membaca diantara kalimat dan bukan semata-mata melihat isisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1068448057699969701?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1068448057699969701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1068448057699969701&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1068448057699969701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1068448057699969701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/melukis-maksud-yang-sesungguhnya.html' title='Melukis maksud yang sesungguhnya'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4775105960545606176</id><published>2009-08-13T07:02:00.002+01:00</published><updated>2009-08-13T07:09:05.153+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makna jihad dalam Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perbedaan tafsir jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jahat'/><title type='text'>Antara Jihad dan Jahat</title><content type='html'>Berikut ini adalah tulisan rekan Joko Lelono yang begitu cepat memberikan pencerahan dalam Blog I-I tentang makna Jihad yang sesungguhnya tidak dapat direduksi hanya ke dalam jihad secara militer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih dan semoga dapat menjadi amalan baik rekan Joko yang dapat kita sebarkan luaskan kepada umat Islam di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan membaca..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera telah dieksekusi mati beberapa waktu lalu. Pro dan kontra mengiringi peluru yang menembus dada para aktor “Bom Bali” itu. Sebagian menganggapnya sebagai pencoreng citra Islam dan sebagian menyebutnya sebagai pahlawan Islam.. Di antara dua kelompok ini, tidak sedikit yang kebingungan mengambil sikap karena karena kerumitan seputar makna jihad dan mujahid. Terlalu banyak kata jihad yang diobral dan terlalu gampang orang digelari mujahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terma jihad dan derivatnya digunakan sebanyak 35 kali dalam al-Qur’an. Jihad secara leksikal bermakna usaha dan memberdayakan serta mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mewujudkan satu tujuan; akan tetapi, karena derivasinya berasal dari mufa’alah, biasanya digunakan dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat semacam korporasi, kerja sama, persyarikatan dan pertemanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam terma jihad biasanya pihak lainnya juga digunakan. Dan kedua belah pihak masing-masing berdiri pada barisannya dan berupaya untuk mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin sehingga dapat menaklukan salah satu pihak yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tentu saja, harus diperhatikan bahwa jihad tidak hanya berbentuk militer dan setiap jenis perlawanan dan pertempuran. Selain bercorak militer jihad juga bernuansa ekonomi atau budaya atau politik semuanya termasuk di dalam makna jihad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga harus diketahui bahwa terma jihad tidak selamanya bermakna positif. Terkadang terma jihad digunakan dalam makna negatif. Contohnya ayat 8 surah Ankabut (29). Dalam ayat ini, Allah Swt setelah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua mereka, berfirman: “…Dan jika keduanya memaksamu (jâhadâ-ka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu Aku wartakan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Allah Swt berfirman “’ala an tusyrika bi” (untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku) sebagai ganti firman “litusyrika bi” (untuk mempersekutukan-Ku): “Dan jika keduanya memaksamu untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik…” (QS. Luqman [31]:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat 15 Surah Luqman di atas, jelaslah kata jihad berkonotasi negatif. Karena di sana ada unsur memaksa si anak menjadi musyrik oleh usaha ibu bapaknya. Sebaliknya, pada ayat yang lain, terma jihad dan mujahadah yang digunakan memiliki makna positif yakni, usaha keras manusia untuk mewujudkan tujuan-tujuan sehat dan diridai oleh Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha dan upaya positif semacam ini terkadang hanya memanfaatkan media-media finansial dan ekonomi, yang disebut sebagai jihad finansial; misalnya, menyumbang orang-orang sakit, membangun rumah sakit, sekolah bagi anak terlantar dan panti asuhan anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang yang dimaksud dengan jihad adalah menentang nafs ammarah yang disebut sebagai “jihad melawan nafsu” atau “jihad akbar”. Sebagian besar ayat-ayat al-Quran memuat terma jihad dengan makna demikian. Di sini kita akan menyinggung ayat yang berkenaan dengan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa berjihad (jâhadah), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. al-Ankabut [29]:6). Dan pada ayat lain Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad (jâhadû) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut [29]:69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun contoh jelas dan makna yang paling gamblang dari terma jihad adalah berperang di jalan Allah Swt dimana orang yang berjihad menempatkan diri mereka untuk mencapai syahid. Jihad semacam ini juga akan memiliki korelasi dengan jihad melawan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejuang sejati adalah orang yang mengorbankan diri dan ego serta kepentingannya, bukan malah mengorbankan nyawa orang lain dan masyarakat umum. Pejuang yang layak dianggap syahid adalah orang yang tidak menganggap remeh nayawa dan peluang hidup banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, dalam situasi perang melawan musuh, merakit dan meledakkan bom menjadi keharusan, tapi mengubah arena sipil menjadi medan pertempuran dengan musuh “yang bisa siapa saja” bukanlah tindakan yang harmonis dengan nilai dan filosofi jihad. Yang begini, bukan jihad, tapi jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Semoga dapat menjadi pencerahan, sebagaimana harapan bung Seno : "...Sayangnya bahkan sampai sekarang belum banyak upaya dakwah yang memisahkan secara ideologis makna Jihad dengan kepengecutan bom bunuh diri").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4775105960545606176?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4775105960545606176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4775105960545606176&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4775105960545606176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4775105960545606176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/antara-jihad-dan-jahat.html' title='Antara Jihad dan Jahat'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-3842685003280334335</id><published>2009-08-12T21:53:00.003+01:00</published><updated>2009-08-12T23:11:41.915+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M Top'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='klarifikasi soal Noordin M. Top'/><title type='text'>Antara terima kasih, mohon ma'af dan mohon pengertian</title><content type='html'>Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan Blog I-I yang tidak bosan-bosannya menyampaikan masukkan dan kritikan atas setiap artikel yang saya muat atau saya tulis di Blog I-I. Khususnya dalam soal warga Malaysia Noordin M.Top.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada maksud untuk menyesatkan rakyat Indonesia, serta tidak ada upaya propaganda hitam mengelabui publik dalam soal Terorisme yang telah mengganggu ketentraman kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tulisan saya sebelumnya menggambarkan seolah-olah memang Noordin M.Top yang telah disergap, dilumpuhkan dan ditembak di tempat?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu setelah saya langsung menerima konfirmasi dari jaring Blog I-I di dalam Densus 88 yang memberikan kabar langsung tentang target yang terkonfirmasi atau diduga kuat sebagai Noordin M.Top. Saya menuliskan artikel &lt;a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/akhir-drama-warga-malaysia-noordin-mtop.html"&gt;Akhir Drama Warga Malaysia Noordin M.Top&lt;/a&gt; adalah sekitar 8 jam awal pengepungan target dan saat itu diwarnai oleh ketergesaan untuk ikut serta meyakini bahwa sasaran adalah benar Noordin M.Top. Tentu saja, saya akan mengakui hal itu sebagai kekeliruan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila rekan-rekan perhatikan, saya juga menuliskan bahwa seharusnya Noordin akan tampil heroik atau nekat dan dilengkapi berbagai situasi yang sungguh-sungguh membahayakan dan hal itu tidak tampak. Artinya saya pun berusaha menekan keraguan yang besar dari situasi lapangan sejak awalnya karena saya menaruh kepercayaan yang tinggi kepada rekan-rekan Blog I-I, dan berusaha meyakinkan diri dan tampak dalam tulisan saya juga seolah-olah benarlah adanya Noordin telah terkepung. Dan sayapun salah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehlah bila rekan-rekan merasakan kuatnya kesan propaganda Blog I-I untuk kebangkitan Indonesia Raya dan kebangkitan bangsa Indonesia dalam kancah percaturan politik, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan berbagai aspek kehidupan di dunia. Wajarlah bila saya dituduh mempropagandakan keyakinan-keyakinan yang ternyata tidak mencapai kebenaran mutlak. Bukankah saya juga selalu meminta koreksi rekan-rekan semua, dan sejak awal saya memulai Blog I-I juga berkali-kali meminta peranan dan kontribusi rekan-rekan untuk lebih berani dalam menyampaikan pendapat di Blog I-I?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berterima kasih kepada rekan Red Star tentang masukannya dalam soal keyakinan ideologis yang dapat bermetamorfosa. Dimana ada kesuburan untuk tumbuh kembangnya suatu ideologi, maka akan sangat sukar dalam mengatasinya apabila lingkungan tetap mendukungnya. Dapat saya tarik suatu benang merah bahwa sejumlah fakta dan kondisi obyektif bangsa kita telah mendorong terciptanya lingkungan yang cukup subur bagi terorisme. Menurut saya faktor pertama adalah tingkat pemahaman (intelektual dan sikap hati-hati dan logis) serta pemahaman konteks kehidupan dunia yang sangat rendah sehingga mudah untuk dihasut ke dalam keyakinan ideologi tertentu. Misalnya saja dalam kasus aktor bom bunuh diri Dani Dwi Permana yang berasal dari keluarga yang berantakan dan secara psikologis menyimpan kemarahan yang terbungkus dalam perilaku yang normal. Sosok seperti Dani tersebut sangat banyak di negara kita bukan? artinya potensi rekrutmen teroris masih terbuka luas. Setelah itu, baru faktor kemiskinan dan lain-lain. Artinya apabila kita telah menetapi keyakinan berupa ajaran budi pekerti yang baik, agama yang lurus dan membimbing pada Ketuhanan, serta mantapnya keimanan yang juga menghormati realita ciptaan Tuhan yang berbeda-beda, maka tidak akan mudah untuk terjebak ke dalam doktrin-doktrin sesat terorisme. Sayangnya bahkan sampai sekarang belum banyak upaya dakwah yang memisahkan secara ideologis makna Jihad dengan kepengecutan bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan yang besar bagi dunia pendidikan dan peningkatan kesejahteraan ada di sekeliling kita semua. Kita memelihara perbedaan dan jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga ketidakpedulian dan beratnya beban kehidupan menjadi faktor pendorong yang kuat untuk keluar dalam bentuk kemarahan yang dibenarkan oleh doktrin-doktrin terorisme berdasarkan penyimpangan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Blog I-I boleh dinilai sebagai propaganda, tetapi bukankah Blog I-I tidak bersifat satu arah dan selama ini telah terjadi komunikasi positif seperti dalam respon kritikan rekan-rekan? Saya terus terang sangat bahagia dengan adanya dialog dengan seluruh jaringan Blog I-I, janganlah takut atau menganggap Blog I-I selalu benar ataupun selalu bernada negatif ataupun menyesatkan, tetapi lakukanlah dialog baik dalam bentuk masukkan yang positif maupun kritikan yang membangun, serta jangan lupa koreksi-koreksi atas kekeliruan Blog I-I. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya pendapat rekan Red Star bahwa ideologi tidak dapat dimatikan oleh kebijakan yang represif ataupun propaganda. Tetapi bukankah sebuah ideologi dapat berkembang karena ideologi tersebut dipropagandakan? misalnya komunisme, liberalisme, radikalisme serta berbagai isme-isme lainnya. Ceramah agama, ceramah akademik, ceramah politik, dan berbagai artikel, buku, film, dll semuanya adalah bagian dari penyebarluasan keyakinan, yang dapat disingkat dalam kata propaganda. Mengapa propaganda menjadi negatif di Indonesia sementara secara efektif tetap dikembangkan dengan sangat canggihnya di negara-negara maju? Hal itu tidak terlepas dari makna negatif propaganda yang melekat pada kegiatan radikal kiri komunis di masa lalu, yang terkenal dengan agitasi propaganda atau agitprop, dimana dengan berbagai cara menyebarluaskan fitnah, mengadu domba dan memecah kekuatan lawan serta melemahkan semangat lawan dengan berbagai cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan produk konsumsi di koran, radio, televisi dan internet adalah juga propaganda agar kita membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita tidak boleh meremehkan manfaat propaganda, tentunya dengan cara-cara yang lebih baik karena kepentingan kita adalah sama, yaitu demi Indonesia Raya kita perlu menghilangkan penyakit-penyakit yang telah membuat sebagian sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terganggu. Blog I-I pada dasarnya hanya menggugah kesadarn kolektif kita sebagai bangsa yang besar...Indonesia Raya. Blog I-I selalu bermimpi bahwa kita telah mengakhiri masa-masa konflik ideologi dan politik domestik dan mulai bersama-sama membangun kembali identitas Indonesia yang tercabik-cabik oleh beragam perbedaan. Apakah rekan-rekan yang berasal dari Aceh, sampai Papua memiliki kesadaran kolektif untuk membangun Indonesia, tentunya berpulang kembali kepada rekan-rekan semua. Apakah kita peduli atas kemiskinan yang ada di sekeliling kita juga kembali pada diri kita sendiri. Apakah hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah semata? sementara kita sebagai elemen bangsa berpangku tangan melihat masalah bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pemerintah, juga harus digiatkan suatu usaha yang serius dalam reformasi birokrasi. Semangat anti korupsi tidak boleh padam, pelayanan publik adalah suatu hal yang mendasar yang harus prima, kinerja yang tinggi pegawai negeri dan TNI - Polri adalah kewajiban untuk menjamin perubahan yang lebih baik, penegakkan hukum, good governance, perbaikan ekonomi, penghapusan kemiskinan dan berbagai konsep pembanguna  yang positif lainnya masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kasus Noordin. Pembenaran pada tulisan Noordin M.Top juga dapat dilihat sebagai kelihaian bersilat kata dalam tulisan, dan saya akui ada kecenderungan demikian. Tetapi perhatikan pula makna yang tersurat maupun tersirat bahwa kita jangan sampai terdikte oleh pencitraan sosok para pelaku teror yang sesungguhnya tidak berbeda dengan residivis pembunuh yang merupakan penyakit dalam masyarakat kita. Penyakit tersebut bisa saja kita takuti namun bisa pula kita hadapi dengan keberanian dan tekad kuat untuk mencapai kesembuhan. Ada cara radikal seperti dalam kasus Pembunuh Misterius - Petrus pada era kejayaan Jenderal Benny Moerdhani, ada pula penelusuran secara proses hukum seperti Densus 88, dan mungkin ada banyak ide-ide lain dalam pemberantasan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I tentu saja tidak dapat berinisiatif melakukan operasi-operasi yang menjadi wewenang aparat keamanan Indonesia, namun setidaknya turut mendukungnya dengan berbagi semangat perjuangan kepada seluruh elemen bangsa dan khususnya jaringan Blog I-I tentang pentingnya kewaspadaan, keberanian, dan keseriusan dalam mendorong kebangkitan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, seluruh bangsa Indonesia wajib memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup. Masalah yang dihadapi Densus 88 juga menjadi masalah kita, apalagi apabila hal itu terjadi di sekeliling kita atau bahkan menimpa anggota keluarga kita, bukankah kita akan merasa sedih dan marah, serta sudah selayaknya kita berdiri tegak berjanji kepada bumi pertiwi untuk membela keyakinan kita. Apabila para teroris berkeyakinan demi ajaran agama yang menyimpang, tentunya kita akan memiliki keyakinan seribu kali lebih kuat karena kita tidak melakukan pelanggaran hukum Tuhan berupa pembunuhan, sebaliknya kita memiliki misi suci Jihad menghentikan aksi teror yang meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sangat memerlukan endurance atau ketahanan fisik dan mental dalam menyongsong kebangkitan Indonesia Raya, artinya juga jangan malas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban kita di tengah-tengah masyarakat. Diperlukan kepedulian yang luar biasa dalam menyikapi persoalan-persoalan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua saya ingin menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rekan-rekan Blog I-I apabila ada kecenderungan untuk terlalu cepat terjun bebas dalam mengambil kesimpulan di tulisan saya. Namun saya telah memutuskan untuk lebih berpihak kepada upaya pembangunan karakter bangsa Indonesia yang lebih kuat, bersatu, berani dan tidak malas dalam mencapai prestasi di segala bidang. Khusus di dunia intelijen dan keamanan, saya sangat menghormati rekan-rekan yang saat ini aktif dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia, memberikan rasa aman kepada rakyat, mengungkapkan setiap ancaman, mencegah kejahatan kepada rakyat Indonesia, serta mengabdikan hidupnya untuk Indonesia Raya. Oleh karena itu, saya juga tidak segan-segan menyampaikan apresiasi positif kepada segenap aparat keamanan dan intelijen Indonesia. Disamping itu dengan tetap bersikap kritis atas kemungkinan masih belum maksimalnya kinerja institusi keamanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dengan tulus saya mohon pengertian yang lebih luas dalam mencermati tulisan-tulisan di Blog I-I. Hal ini bukan untuk memaklumi, sebaliknya hal ini merupakan tantangan kepada rekan-rekan untuk menggiatkan kritikan dan masukan kepada Blog I-I, sehingga akhirnya publik akan memperoleh pengertian yang lebih bemutu, dibandingkan apabila saya secara satu arah hanya membicarakan sudut pandang saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dan terima kasih&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-3842685003280334335?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/3842685003280334335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=3842685003280334335&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3842685003280334335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/3842685003280334335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/antara-terima-kasih-mohon-maaf-dan.html' title='Antara terima kasih, mohon ma&apos;af dan mohon pengertian'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4384785177236380269</id><published>2009-08-12T07:13:00.003+01:00</published><updated>2009-08-12T07:51:03.284+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M.Top'/><title type='text'>Noordin M Top</title><content type='html'>Ketika saya menuliskan Noordin M. Top laknatullah sudah mati hal itu karena memang sudah benar-benar demikian, yaitu dalam makna tidak ada lagi simpati untuk manusia pengecut warga Malaysia yang merusak kampung halaman Indonesia. Meskipun mengatasnamakan agama Islam yang menjadi keyakinan mayoritas orang Indonesia, namun faham kekerasan yang melanggar hukum Tuhan dengan membunuhi manusia tanpa alasan yang jelas seperti membela diri ketika dalam keadaan perang, maka rakyat Indonesia telah menganggap warga Malaysia Noordin M.Top telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati langkah, mati gerakan, mati seluruhnya, artinya tidak lagi akan berkembang menjadi sel-sel baru yang terus-menerus menghancurkan masa depan bangsa Indonesia yang berarti masa depan anak cucu kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dalam peristiwa penyergapan Temanggung, secara jasadi yang berhasil ditembak mati adalah Ibrahim. Hal itu telah mengurangi secara signifikan jumlah teroris yang mengganggu ketertiban dan ketenangan bangsa Indonesia. Total keseluruhan hasil operasi densus 88 saya kira mencapai 7-10 orang baik yang berupa pelaku maupun link yang dapat menjadi petunjuk untuk operasi-operasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pengamat intelijen, keamanan dan media massa saya memberikan saran untuk tidak menikmati suasana perburuan teroris dalam orgasme intelektual dengan memberikan pendapat/analisa yang menunjukkan kehebatan individual anda sambil mempertontonkan kekaguman terhadap warga Malaysia Noordin M. Top laknatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I menyampaikan pesan kepada seluruh rekan-rekan jaringan Blog I-I dan rakyat Indonesia untuk mengembangkan operasi semesta nusantara mengungkap kekejaman kelompok teroris yang telah membuat kemiskinan bangsa Indonesia berlarut-larut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan yang disebabkan oleh aksi teror adalah dampak dari stagnasi dan gocangan ekonomi sebagai efek langsung dari ketakutan para pelaku bisnis mengembangkan perekonomian Indonesia, akibatnya pertumbuhan ekonomi kita terganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kita sadari, aksi teror juga menjadi trade mark (cap) bangsa kita yang sesungguhnya cinta damai. Lebih jauh lagi, aksi teror juga memperpanjang ingatan dunia tentang Islam yang dipersempit ke dalam aksi teror yang menodai makna jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita seluruh elemen bangsa Indonesia bersama-sama meningkatkan kewaspadaan, mulai dari tingkat RT-RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, kotamadya, propinsi, hingga nasional bergerak baik secara aktif maupun pasif mengawasi setiap gerakan yang diduga merupakan kelompok teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu takut akan ancaman teroris, sebaliknya kita bersama-sama justru menjadi sangat marah dan aktif mengejar teroris. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak takut mati karena kita memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan juga sifat ksatria bela bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian warga Malaysia Noordin M.Top niscaya telah begitu jelas dan seluruh elemen bangsa Indonesia mengawasinya. Kita tidak perlu terpaku kepada fisikal individu siapapun orangnya. Karena dengan keterpakuan kepada sosok seseorang, maka akan ada penggantinya apabila tidak diberantas hingga akar-akarnya yaitu kondisi psikologi massa yang ditakut-takuti oleh sosok manusia laknatullah seperti warga Malaysia Noordin M.Top.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpakuan kita pada sosok Noordin M. Top pada saat akhirnya kita umumkan atau temukan jasad sesungguhnya, hanya akan berganti nama menjadi Zulkarnain, Umar Patek, dll. Ingatkah bagaimana ketika kita terpaku pada sosok Abu Dujana sebagai komandan militer Jemaah Islamiyah? atau ingatkah pada sosok Dr. Azhari, Hambali, dll yang jauh lebih hebat dari Noordin M. Top?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim yang tewas di Temanggung adalah juga sosok kunci yang penting dalam gerakan kelompok teroris, sehingga hasil operasi Densus 88 secara meyakinkan telah mengungkapkan sekitar 90% kasus teror bom Marriot dan Ritz Carlton, sisanya akan menyusul dalam proses hukum. Pengungkapan yang dilakukan Polisi adalah berdasarkan olah TKP dan penelusuran bukti-bukti, sehingga sangatlah keji apabila ada upaya para simpatisan teroris untuk mengembangkan opini negatif tentang kinerja Polisi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, saya hanya ingin mengingatkan seluruh rekan-rekan Blog I-I dan seluruh rakyat Indonesia, kita adalah bangsa yang besar dan berpotensi untuk menjadi kekuatan global level menengah, namun hal itu tidaklah mungkin dapat kita wujudkan apabila dalam menghadapi kelompok teroris tidak tercipta kesadaran masyarakat untuk waspada kepada lingkungan sekitar kita. Meskipun seorang teroris adalah adik kita sendiri, kakak kita sendiri atau saudara jauh, mereka adalah teroris sama seperti penjahat kelas berat yang membunuhi orang, sehingga telah menodai kehormatan keluarga, maka hukumannya adalah harus dipertanggungjawabkan didepan hukum dan bangsa Indonesia yang telah dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bagi Blog I-I, warga Malaysia Noordin M. Top telah MATI!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4384785177236380269?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4384785177236380269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4384785177236380269&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4384785177236380269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4384785177236380269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/noordin-m-top.html' title='Noordin M Top'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-631528044455513890</id><published>2009-08-08T06:10:00.003+01:00</published><updated>2009-08-08T07:12:51.935+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salafy Jihadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zulkarnain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Abu Dujana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M Top'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wahabi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jemaah Islamiyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umar Patek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Akhir Drama Warga Malaysia Noordin M.Top</title><content type='html'>Sekitar 5-6 jam yang lalu saya telah menyampaikan selamat kepada segenap aparat keamanan Indonesian, khususnya Kepolisian dan Densus 88. Sejak awal penyergapan kelompok teroris warga Malaysia Noordin M.Top sekitar 18 jam yang lalu, telah terlihat jelas pola penyergapan yang merupakan eksekusi di tempat karena resiko aksi meledakan diri sendiri dengan bom yang akan dilakukan Noordin M.Top dengan tujuan menjadi contoh martir ataupun tetap menghidupkan semangat pembenaran aksi bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang membanggakan adalah bahwa sukses besar Densus 88 terletak pada pendadakan penyergapan yang mampu meminimalkan resiko korban dari masyarakat sipil di sekitar lokasi penyergapan. Hal ini besar kemungkinan juga tidak terdeteksi oleh Noordin M.Top sendiri, sehingga Noordin tidak siap dengan pertunjukan bom bunuh diri. Lain ceritanya apabila ternyata Noordin tidak memiliki nyali untuk meledakan diri sendiri seperti pelaku bom Marriot dan Ritz Carlton (Dani dan Nana). Faktor pendadakan yang begitu cepat paska penyelidikan kasus bom Marriot dan Ritz Kuningan dan waktu penyergapan yang tepat merupakan faktor penting yang menyebabkan penyergapan berjalan relatif dibawah kendali operasi lapangan Densus 88.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksiapan Noordin M.Top yang hanya membawa senjata genggam dan kemungkinan seperangkat sistem peledak karena sedang dalam posisi koordinasi dan kunjungan sekaligus dalam rangka pelarian dan mencari perlindungan, membuat Noordin terpojok sedemikian rupa dan tertembak beberapa kali saat bersembunyi di kamar mandi. Tidak terjadinya aksi heroik/atraktif berupa peledakan diri sendiri diperkirakan karena memang tidak ada rencana tersebut dan Noordin sudah terpojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam awal penyergapan, kekhawatiran saya adalah sama dengan aparat kepolisian yaitu terdapatnya bahan peledak dalam jumlah besar yang dapat membahayakan masyarakat sipil. Paska berhentinya tembakan dari lokasi rumah penyergapan, ketegangan tidak menurun meskipun perkiraan amunisi senjata genggam Noordin sudah habis. Hal ini disebabkan perhitungan adanya bahan peledak yang selalu dibawa-bawa Noordin. Namun semuanya menjadi semakin dalam kendali Densus 88 setelah masa penyergapan mencapai 12 jam serta tidak ada lagi sama sekali reaksi dari dalam rumah setelah dilakukan beberapa kali peledakan skala kecil dalam rangka pendobrakan rumah dan pembukaan akses dengan menghancurkan beberapa bagian rumah seperti atap dan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir drama perjalanan warga Malaysia Noordin M.Top semakin memperjelas bahwa para pelaku teror adalah manusia-manusia pengecut bahkan tidak sempat memperlihatkan sedikitpun keberanian berupa menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatan, ataupun aksi heroik/atraktif berupa perlawanan total dengan meledakan diri keluar dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sama sekali simpati pada akhir perjalanan warga Malaysia Noordin M.Top hari ini. Hal ini tentunya perlu disadari oleh siapapun umat Muslim Indonesia yang tergoda untuk bersikap radikal dan menempuh jalur terorisme untuk berpikir ribuan kali dalam menjalani kehidupan sebagai pengecut yang membunuhi orang-orang tidak bersenjata (masyarakat sipil) dengan aksi bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tidak ada artinya baik di dunia maupun di akhirat nanti, pada akhirnys do'a keprihatinan mayoritas umat Islam dan bangsa Indonesia yang didengar Tuhan. Pada akhirnya perjalanan warga Malaysia Noordin M.Top begitu memalukan dan tidak mencerminkan jiwa ksatria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin mengingatkan bahwa meskipun konsolidasi jaringan kelompok teroris di Indonesia sementara waktu terganggu dan hubungan teroris lokal Indonesia dengan jaringan teroris internasional yang terhubung dengan Al Qaeda dan CIA juga terganggu, namun hal itu jangan sampai membuat kita terlena mengawal perjalanan bangsa Indonesia. Setidaknya untuk sementara waktu kekuatan sel-sel teroris di Indonesia secara nyata menjadi lemah. (Mohon rekan-rekan Blog I-I melakukan penelitian dan mengkoreksi hal ini karena bernada prasangka yang dipengaruhi teori konspirasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyalemen dari Kapolri mengenai kemungkinan ancaman terhadap keselamatan Presiden SBY karena lokasi pembuatan bom di Jatiasih Bekasi yang hanya 5-7 km dari kediaman Presiden di Cikeas juga perlu diperhatikan. Pertama hal ini merupakan perkembangan baru yang harus diwaspadai karena apabila benar demikian, telah terjadi interaksi aksi teroris anti Barat (AS) yang merupakan turunan dari faham Wahabiyah radikal versi Salafy Jihadis dan aksi teroris anti pemerintah yang merupakan turunan dari politik harokah Islamiyah model Ikhwanul Muslimin jalur kekerasan yang mencita-citakan negara Islam dengan mengganggu stabilitas suatu negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya mengucapkan semangat kepada segenap aparat keamanan Indonesia dan khususnya Polisi Densus 88 atas penyergapan yang bukan saja mengakhiri perjalanan Noordin M.Top melainkan juga membongkar jaringan Jatiasih dan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, upaya umat Muslim Indonesia...upaya seluruh komponen bangsa Indonesia melawan terorisme belum berakhir. Kita dapat bernafas lega bahwa ancaman terorisme semakin berkurang. Namun sebagaimana rekan-rekan pernah membaca tulisan-tulisan Blog I-I sebelumnya, masih ada sejumlah daftar nama di Kepolisian yang masih berkeliaran seperti Umar Patek di Filipina Selatan dan Zulkarnain yang pernah saya ramalkan menggantikan posisi Abu Dujana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-631528044455513890?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/631528044455513890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=631528044455513890&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/631528044455513890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/631528044455513890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/akhir-drama-warga-malaysia-noordin-mtop.html' title='Akhir Drama Warga Malaysia Noordin M.Top'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7291157849598767829</id><published>2009-08-08T00:38:00.002+01:00</published><updated>2009-08-08T01:19:09.706+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mujahid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mujahidin'/><title type='text'>Mengenai skenario global terhadap dunia Islam</title><content type='html'>Membahas otak sesungguhnya dari terorisme yang mengatasnamakan agama Islam tentunya akan sulit untuk lepas dari teori konspirasi yang sesungguhnya memiliki kelemahan yang mendasar. Kelemahan bersandar pada teori konspirasi adalah kurang validnya data, terlalu banyak faktor kebetulan, serta terlalu kuatnya asumsi dan prasangka tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita waspada, akan terlihat bahwa mempercayai teori konspirasi berarti mengakui supremasi Barat (AS)yang seolah-olah telah mengenggam dunia dengan segala kehebatannya. Kelemahan intelektual dan pengakuan atas supremasi Barat itulah yang justru dihembuskan dari para penganjur teori konspirasi yang mayoritas juga justru dari kalangan Barat yang tidak memiliki kredibilitas yang kuat, misalnya kelompok Kiri radikal yang sudah invalid.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak desepsi informasi yang menggambarkan seolah-olah CIA, MI6, dan kawan-kawan begitu hebatnya dalam operasi intelijen global serta telah menguasai banyak hal di dunia. Hal itu sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Saya dapat bertaruh 50-50, artinya setiap cerita kehebatan itu harus dikorting 50% nilai kebenarannya, sehingga sudah sangat tidak meyakinkan karena telah masuk dalam kategori meragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kasus politik internasional, tampak jelas bahwa kemampuan intelijen AS dan negara-negara Barat tidaklah kuat. Dalam berbagai kasus serius di Timur Tengah, Afrika, China, Myanmar, Eropa Timur jelas sekali jalannya sejarah tidak ditentukan oleh peranan intelijen, tetapi justru intelijen berupaya mengklaim prestasi atau suatu hal yang tidak pantas diklaim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frustasi intelijen Barat selama perang dingin terobati dengan blunder politik keterbukaan di bekas Uni Soviet, karena kelemahan terbesar dari intelijen Barat adalah kurangnya penetrasi human intelligence ke dalam sasaran. Namun dari sudut pandang teori konspirasi, sah-sah saja bila intelijen Barat mengklaim telah berjasa dalam mendorong keterbukaan di bekas Uni Soviet yang akhirnya menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan pecahlah negara Uni Soviet. Hal ini disadari betul oleh Vladimir Putin yang telah mengembalikan kekuatan Uni Soviet dalam skala Russia yang secara meyakinkan bangkit kembali tanpa menunjukkan suatu keadaan yang tunduk pada negara-negara Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan dengan pejuang Mujahidin di Afghanistan adalah juga dalam kerangka perang dingin, dan pada waktu itu Islam sama sekali bukan suatu isu ancaman bagi AS dan sekutunya. Bahkan secara serius terjadi pembinaan yang intensif dalam rangka menghadapi musuh bersama Russia. Perebutan pengaruh global di kawasan tidak dapat tidak akan melibatkan kekuatan-kekuatan lokal, sehingga mujahidin dan berbagai kelompok perlawanan mendapatkan angin dukungan dari AS. Tidak ada musuh yang abadi dan tidak ada sahabat sejati, demikian politik internasional berbicara. Masa romantis AS dan pejuang Mujahidin berakhir hanya karena Mujahidin tidak dapat dikendalikan secara ideologi untuk tunduk dan patuh kepada konsep-konsep yang ingin dipaksakan oleh AS seperti diberlakukan kepada bangsa Jepang paska Perang Dunia ke-II. Sebelum sungguh-sungguh pecah kongsi, telah terjadi upaya untuk meyakinkan pejuang Mujahidin tentang "itikad baik" membantu Afghanistan, tetapi siapa yang dapat percaya? Mengapa tidak percaya, karena perilaku AS dan Barat adalah suatu pola penjajahan modern yang memaksakan bukan hanya kekuasaan tetapi juga mencakup nilai-nilai yang tidak dapat diterima oleh kaum Mujahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tengok sejenak kasus di Indonesia.&lt;br /&gt;CIA dan MI6 yang konon malang melintang di Indonesia pada saat Partai Komunis Indonesia berjaya, sesungguhnya dalah macan ompong yang tidak mengerti sama sekali Indonesia. Mereka hanya penonton yang manis yang rajin mencatat dan menganalisa, namun soal operasi nol besar. Apa yang kemudian terjadi adalah bahwa Indonesia sedang rapuh dalam persatuan dan kesatuan sehingga lahir kelompok kolaborator yang secara sukarela menerima tawaran AS dan sekutunya. Artinya bukan diciptakan oleh operasi intelijen, saya pastikan ini murni pertarungan politik domestik dalam sejarah Indonesia. Apa yang disebut sebagai dokumen Gilchrist, peranan CIA dan lain-lain adalah klaim yang terlalu dibesar-besarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ada operasi CIA itu benar, namun operasi itu tidak berarti karena sejarah perjalanan bangsa Indonesia digoreskan oleh para pelaku sejarah Indonesia sendiri dan bukan dikendalikan oleh operasi intelijen CIA. Apabila rekan-rekan Blog I-I ingin melihat bagaimana orang CIA bekerja, tentunya kita akan terheran-heran karena begitu payahnya dan jauh dari bayangan hebat seperti di film hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya analis CIA. Meskipun mereka menggunakan kode-kode nomor sandi, namun sangat kentara ketika mempersiapkan diri, misalnya dengan kuliah ke Australia meneliti Indonesia, kemudian belajar bahasa di Yogyakarta atau Solo, kadang-kadang lupa karena masih bersikap seperti intel. Yang agak lebih cerdas misalnya dengan telah menetap lama di Indonesia sebelum akhirnya ditempatkan di Indonesia. Konyolnya lagi, kadang kala mereka mempersiapkan diri di Bangkok, Thailand karena dipikirnya tidak akan jauh berbeda dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk operasional, inteljen Barat lebih memaksimalkan peranan kolaborator lokal yang mana hal ini terjadi karena kolaborator lokal tergiur dollar, melesatnya karir politik dan fantasi bekerja untuk lembaga bergengsi serta kesempatan mendapatkan pengalaman. Dari sejumlah rekan Blog I-I yang pernah bekerja untuk kepentingan asing tersebut sering terungkap rasa bersalah yang sangat tinggi serta kekecewaan karena pada akhirnya mereka hanyalah pion-pion yang tidak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita perhatikan kasus terorisme di Indonesia.&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya yang terjadi?&lt;br /&gt;Dari penelusuran Blog I-I terhadap mantan Mujahid yang pernah berangkat ke Afghanistan dan Pakistan serta mereka yang pernah ke Filipina Selatan, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:&lt;br /&gt;1. Sekelompok kecil adalah Mujahid sejati yang ikhlas berjuang demi agama Islam.&lt;br /&gt;2. Sekelompok besar adalah Mujahid lebih dikendalikan emosi dan berpikir pendek.&lt;br /&gt;3. Hampir 100% tidak terlalu paham dengan konstelasi politik global.&lt;br /&gt;4. Keyakinan perjuangan para Mujahid tersebut dapat dikatakan sangat kuat.&lt;br /&gt;5. Melalui pola-pola indoktrinasi pembenaran aksi teror terjadi cuci otak.&lt;br /&gt;6. Hasilnya adalah pelaku teror bunuh diri yang merasa benar akan tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maknanya. Para pelaku teroris adalah kolaborator terbaik bagi suatu agenda yang dapat menarik perhatian global sebagai suatu ancaman terhadap umat manusia. Apakah mereka dikendalikan oleh operator-operator Barat? Saya melihatnya tidak bersifat langsung demikian, namun secara tidak sadar langkah-langkah yang ditempuh teroris tersebut menjadi pilar utama dari agenda global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7291157849598767829?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7291157849598767829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7291157849598767829&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7291157849598767829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7291157849598767829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/mengenai-skenario-global-terhadap-dunia.html' title='Mengenai skenario global terhadap dunia Islam'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-1274255874713589132</id><published>2009-08-07T23:09:00.003+01:00</published><updated>2009-08-07T23:29:22.310+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M Top'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jemaah Islamiyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teroris'/><title type='text'>Selamat atas pengungkapan sisa-sisa jaringan teroris laknatullah</title><content type='html'>Rupanya membutuhkan kemarahan Presiden RI yang sangat serius, baru Polisi kita mengambil langkah tepat pengungkapan sisa-sisa teroris laknatullah. Kepada rekan-rekan Blog I-I yang sempat mengirimkan ("membocorkan") pesan rencana penangkapan dan pengungkapan jaringan kelompok warga Malaysia Noordin M. Top di Temanggung dan Jatiasih kiranya tepat sekali, sekali tepuk sisa-sisa teroris itu akan terungkap atau terbunuh dalam baku tembak. Namun mohon lain kali tidak menuliskannya di shout box Blog I-I. Karena barangkali saja Blog I-I juga dipantau oleh para teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut berita yang diterima Blog I-I, hampir seluruh jaringan Jemaah Islamiyah dari seluruh elemen sudah terdeteksi. Boleh dikata telah mencapai 95% dari sekitar 500an orang yang telah terungkap masih ada daftar sekitar 25 orang yang penting, dan kelompok yang sedang bertamu di Temanggung adalah termasuk yang paling dicari (most wanted), namun karena terdengar rencana untuk meledakkan diri dalam skala ledakan yang besar untuk menghilangkan identitas jati diri, maka Polisi mengambil langkah yang lebih hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari upaya meledakan diri adalah agar supaya spirit syaitan dapat berlanjut dengan harapan para tokoh pimpinan teroris dianggap masih hidup, padahal sudah menghancurkan diri secara pengecut. Semoga Polisi Indonesia Raya dapat mengatasi skenario ini, karena diperkirakan akan mencapai masa krisis baku tembak lebih dari 12 jam guna mencapai kelelahan mental para teroris laknatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang terbaik, adalah apabila the most wanted teroris dapat ditangkap hidup-hidup, namun sepertinya akan sulit karena sifat pengecutnya maka tubuhnya kemungkinan besar sudat dipasangi bom bunuh diri. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemeluk agama Islam sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi drama pengungkapan sekitar 4-5 tokoh utama teroris yang selama ini diburu oleh aparat keamanan Indonesia akan mencapai hasil gemilang dan tinggal melakukan pembersihan sedikit lagi terhadap sisa-sisa teroris yang mungkin akan tiarap untuk membangun kembali kekuatan yang sudah sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a umat Islam serta do'a seluruh bangsa Indonesia adalah agar supaya kelompok teroris dapat ditumpas hingga ke akar-akarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ingat, perang melawan teroris tidak berhenti sampai disini...tidak berhenti sampai tertangkapnya otak dan pimpinan teroris. Tetapi lebih jauh lagi adalah perlu dibangun kesadaran umat dan kesadaran bangsa bahwa tidak ada manfaatnya untuk saling melukai sesama manusia, terlebih dengan cara-cara pengecut yang dibenci Tuhan seperti melakukan aksi teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kepada seluruh bangsa Indonesia, tetaplah waspada dan jadilah mata telinga aparat keamanan demi keselamatan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-1274255874713589132?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/1274255874713589132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=1274255874713589132&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1274255874713589132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/1274255874713589132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/selamat-atas-pengungkapan-sisa-sisa.html' title='Selamat atas pengungkapan sisa-sisa jaringan teroris laknatullah'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7165468240360966304</id><published>2009-08-05T18:03:00.003+01:00</published><updated>2009-08-05T18:37:19.435+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tandzim Qaedatul Jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qaeda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapitalis Liberal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Afghanistan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perang Dingin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakistan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Indonesia'/><title type='text'>Blast from the past</title><content type='html'>Sebuah renungan Sdr. Joko Lelono sangat penting untuk dibaca dan dipahami oleh segenap jaringan Blog I-I beserta patriot dan senopati nusantara. Mengapa penting, karena secara luga menarik sebuah benang-merah peristiwa demi peristiwa yang saat ini kita alami sejak era perang dingin, dimana permusuhan utama adalah kapitalis-liberal (AS dan sekutunya) melawan komunis (Uni Soviet dan sekutunya). Pada masa itu, Islam di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan kawasan yang berbatasan dengan bekas Uni Soviet mengalami masa pengkondisian yang sangat kondusif bagi lahirnya radikalisme Islam di era modern dengan dukungan teknik dan dana yang besar dari kubu kapitalis-liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kecil umat Islam yang tertekan di kawasan Afghan-Pakistan telah diracuni oleh harapan kebangkitan Islam dengan suntikan mematikan berupa ideologi "perjuangan" teror. Ideologi radikal teror tersebut sangat menggoda umat Islam di kawasan lain, khususnya Indonesia dan Filipina, sementara Malaysia pada saat itu pemerintahannya secara seksama melakukan pengawasan yang ketat dan melarang warganya untuk terjebak dalam radikalisme teror, dengan pengecualian boleh melakukan teror asal tidak di kampung halaman sendiri. Itulah sebabnya ada manusia bernama Dr. Azahari dan Noordin M. Top yang secara teguh memegang prinsip Melayu untuk tidak melakukan teror di kampung halaman sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kaum radikal teroris Indonesia adalah tipe-tipe manusia Melayu juga tetapi yang paling lemah dan bodoh, sehingga sadar tidak sadar telah menghancurkan sendi-sendi kebangsaan Indonesia Raya yang mayoritas diwarnai oleh prinsip-prinsip Islami yang damai dan demokratis tanpa harus menjadi negara Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tercipta sejumlah manusia-manusia robot yang tega melakukan teror di kampung sendiri semacam, Amrozy, Imam Samudera, Muklash, dll. Sedihnya lagi, masih ada kelompok-kelompok radikal yang membiarkan diri menjadi bidak dari konstelasi global perang melawan teror yang juga asik membangun faham radikal melalui propaganda Mujahiddin palsu seperti Abu Bakar Baasyir,Irfan Suryahardy Awwas, dll. Seorang Mujahid sejati tidak akan menempuh cara-cara pengecut berupa provokasi kebencian kepada sesama umat manusia dan negara lain. Pernahkah Nabi Muhammad memprovokasi kebencian dalam memerangi kafir Qurais, Kafir Rum, Yahudi, ataupun dengan kaum zindiq dan munafiqun? Adakah seruan perang di zaman Nabi Muhammad yang menganjurkan bunuhlah dirimu bersama-sama kaum kafir yang kamu benci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sudah berubah begitu pesatnya, jumlah umat Islam Indonesia yang sangat besar saat ini sudah barang tentu menjadi sorotan dunia dan berpotensi menjadi daya tarik yang besar untuk berbondong-bondongnya umat manusia dunia masuk Islam. Mengapa demikian? karena sifat kasih-sayang (rahman-rahim) umat Islam Indonesia lebih utama dari pada sifat amarah murka. Namun kebodohanlah yang membuka peluang terjadinya radikalisasi di dalam umat Islam Indonesia, bukan kemiskinan....tetapi kebodohan dan ketidakmampuan melihat/membaca tanda-tanda alam (Iqro...bacalah dunia internasional apa adanya dan berlindunglah kepada Tuhan dari penipuan pandangan akal dan mata kita akan dunia) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar tulisan Sdr. Joko Lelono ternyata terlalu panjang, mudah-mudahan rekan-rekan Blog I-I tidak bosan, dan bersedia meluangkan waktu untuk mencoba memahami situasi dan kondisi bangsa Indonesia belakangan ini, yang tidak terlepas dari sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan membaca artikel Sdr. Joko Lelono:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Teror bom di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, kawasan Mega Kuningan, Jakarta, terjadi, sudah bisa diperkirakan bahwa telunjuk resmi aparat keamanan mengarah kepada sang "bogeyman", Noordin M. Top, anggota dari kelompok yang disebut dengan "Jemaah Islamiyah" (JI), "operasi waralaba" Al Qaeda di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai analisis dari pengamat intelijen, pengamat gerakan Islam, dan bahkan mantan Kepala Densus 88 Anti Teror pun mewarnai liputan-liputan media massa. Terlepas dari apakah Noordin bergerak sebagai "independent peer" dengan membentuk jaringan baru bernama "Tanzim Qaidatul Jihad" (nama yang mirip dengan Al Qaeda) yang berada di luar JI, semua analisis tersebut seperti mengabaikan proses bagaimana JI "terbentuk" dan siapa-siapa saja yang menjadi tulang punggung dari "organisasi" tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah assessment-nya pada akhir tahun 2004, Badan Intelijen Negara (BIN) pernah mengindikasikan bahwa warga negara Indonesia yang terkait dengan jaringan teroris internasional adalah mereka yang pernah pergi ke perbatasan Pakistan-Afghanistan dalam beberapa tahap selama dan menyusul invasi Uni-Soviet ke Afghanistan antara akhir 1970-an hingga awal 1990-an. Mereka berjumlah sekitar 200 orang dan setelah kembali dikenal dengan "alumni Afghan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut BIN, selama berada di perbatasan Pak-Afghan pada periode tahun-tahun tersebut, orang-orang ini mendapatkan berbagai pelatihan kemiliteran dari "Al Qaeda", termasuk di antaranya pelatihan merakit berbagai jenis bom. Dari sekitar 200 orang tersebut, masih menurut BIN, sebagiannya bergabung dengan JI, dan menjadi tulang punggung kelompok yang awalnya berbasis di Johor, Malaysia, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang tidak disebutkan dalam assessment BIN di atas adalah apa yang dimaksud dengan "Al Qaeda" pada periode tahun-tahun tersebut; dan bagaimana "Universitas Jihad" yang berlangsung di Peshawar (perbatasan Pak-Afghan) bisa terbentuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Dreyfuss dalam investigasinya, yang kemudian dibukukan dengan judul Devil's Game: How the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam menyajikan ulasan tentang bagaimana pemerintah Amerika Serikat (via CIA) bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi (via Mukhabarat di bawah pimpin Pangeran Turki bin Faisal al-Saud yang memiliki kontak dengan Osama bin Laden) dan rezim Ziaul Haq Pakistan (via Inter-Services Intelligence di bawah pimpinan Jenderal Hamid Gul) memobilisasi orang-orang lintas-negara untuk memerangi Soviet di Afghanistan. Polanya: Turki dan Osama menyediakan dana; CIA menyediakan logistik dan persenjataan; dan ISI menyediakan lokasi dan pelatihannya. Inilah bentuk pelatihan yang kerap disebut sebagai "universal university of jihad" dimana mobilisasi orang-orang dari lintas-negara terjadi, dan yang kemudian menjadi cikal bakal bagi "Al Qaeda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen "aliansi aneh" di Peshawar itu bagaimanapun memberi keuntungan, bukan semata bagi mereka yang mendapatkan pelatihan tetapi juga bagi CIA dan intelijen-intelijen dari negara-negara yang terlibat. Mereka mendapatkan pelatihan akan menguasai berbagai teknik militer (termasuk teknik merakit bom) dan bergabung dengan jaringan organisasi-organisasi "militan" internasional. Sementara bagi CIA dan intelijen-intelijen negara-negara tertentu, jaringan para "militan" internasional ini amat penting untuk sewaktu-waktu digunakan bagi kepentingan-kepentingan mereka secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa indikasi bisa menjelaskan bagaimana elemen-elemen CIA dan intelijen-intelijen negara tertentu memanfaatkan jaringan tersebut demi kepentingan mereka. kasus Michael Terence Meiring bisa menjadi contoh. Menurut sejumlah laporan, Meiring memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang "unik". Dia memiliki hubungan dekat dengan pejabat-pejabat pemerintah Filipina di Mindanao tapi di saat yang sama dilaporkan juga memiliki hubungan dengan pemimpin-pemimpin MNLF, MILF, dan kelompok Abu Sayyaf. Bahkan Meiring dikabarkan pernah ikut membidani pelatihan merakit bom di kamp Mindanao yang melibatkan beberapa individu (baik eks "alumni Afghan" maupun bukan) dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meiring pada akhir Desember 2001 secara mencurigakan "diterbangkan" keluar Filipina oleh FBI setelah terluka akibat bom yang meledak di kamarnya, kamar 305 Evergreen Hotel, Davao City. Kasus Meiring sepintas mirip dengan kasus penangkapan misterius Umar al-Farouq di Bogor yang kemudian diterbangkan secara misterius pula ke AS. Atau kasus penangkapan warga negara Indonesia Encep Nurjaman alias Ridwan Isamuddin alias Hambali oleh CIA di Thailand yang kemudian secara ekstrajudisial diterbangkan ke "dark sites" di AS (secara resmi kemudian dinyatakan ditahan di penjara Guantanamo). AS menolak keinginan polisi Indonesia untuk menghadirkan Hambali dalam persidangan kasus Abu Bakar Baasyir, padahal Hambali adalah warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu satu persoalan. Persoalan yang jauh lebih penting dari masa lalu adalah: apakah pihak intelijen Indonesia (baik dari unsur intelijen sipil ataupun militer) terlibat dalam mobilisasi warga negaranya ke Pak-Afghan pada periode-periode yang dimaksud? Atau apakah setidaknya pihak intelijen Indonesia di bawah rezim Soeharto yang demikian cemas akan "ekstrim kanan" mengetahui mobilisasi tersebut? Jika tahu, mengapa mereka membiarkan warga negara Indonesia pergi ke zona konflik? Bukankah ini melanggar perintah konstitusi yang mengharuskan pemerintah melindungi warga negaranya (alasan ini pernah dikemukakan ketika pemerintah SBY menolak memberi akses bagi warga negara Indonesia yang ingin berperang di Jalur Gaza)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mantan pejabat intelijen di era itu (entah yang kini sudah pensiun total atau yang masih aktif sebagai pejabat negara) harus menjelaskan dan bertanggung jawab akan hal ini. Jika para "alumni Afghan" kerap dijadikan tertuduh (ketika terjadi teror bom) karena masa lalu mereka, maka bukankah para mantan pejabat intelijen itu juga mesti bertanggung jawab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Blast from the Past" bukan sekedar cerita dari masa lalu, tetapi harus menjadi pelajaran agar kita tidak mengulanginya. Filosof George Santayana berujar, "Those who cannot remember the past are condemned to repeat it." &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7165468240360966304?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7165468240360966304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7165468240360966304&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7165468240360966304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7165468240360966304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/08/blast-from-past.html' title='Blast from the past'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2293417105213708622</id><published>2009-07-30T07:33:00.007+01:00</published><updated>2009-07-30T09:10:01.664+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noordin M Top'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tandzim Qaedatul Jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qaeda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tandzim Al Qo&apos;idah'/><title type='text'>Tandzim Al Qo'idah Indonesia</title><content type='html'>Pesan yang diklaim berasal dari Noordin M. Top yang dibuat dalam bentuk Blog diberi nama &lt;a href="http://mediaislam-bushro.blogspot.com/"&gt;Bushro&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; pada Minggu 26 Juli yang lalu telah diselidiki selama kurang lebih 2 hari dan menjadi perhatian media massa belakangan ini. Bahkan hanya dalam waktu 4 hari hingga hari ini 30 Juli 2009, diperkirakan statistik pengunjung dapat mencapai kurang lebih 45.000 kunjungan, sebuah angka yang fantastik dan sekitar 85% berasal dari Indonesia serta 15% dari berbagai belahan dunia. Selain itu, Blog Bushro tersebut juga telah mengundang ribuan komentar yang mayoritas juga berasal dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu menarik tentu sudah jelas karena terkait dengan kekejaman kemanusiaan berupa tragedi teror yang mematikan dengan bom bunuh dirinya. Hal ini tentu mengundang rasa ingin tahu dan kemarahan masyarakat yang cinta damai, masyarakat yang menjadi korban, serta masyarakat yang tidak setuju dengan aksi teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya tentu saja bukan pada soal berita bombastis berupa klaim teroris warga negara Malaysia, Noordin M. Top, melainkan pada analisa selanjutnya tentang kebenaran klaim dan lokasi pembuat Blog Bushro.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tandzim Al Qo'idah Indonesia sangat mirip dengan sel yang dibangun Noordin M. Top dengan nama Tandzim Qaedatul Jihad pada tahun 2002, kejanggalan justru terletak pada penamaan Indonesia. Karena Noordin M. Top tidak pernah mengasosiasikan sel yang dibangunnya dengan region/wilayah tertentu. Meskipun ada konsep wilayaat atau kawasan, tapi khusus Noordin M. Top selalu memberikan nama yang bersifat unit khusus, misalnya Brigade Istimata atau sesuatu yang terkait dengan gerak cepat Jihad dan sejumlah unit pelaksana bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian penamaan Nur Din bin Muhammad Top pada bagian penutup adalah penulisan ejaan bahasa Indonesia dan bukan ejaan Malaysia-Inggris yang biasa dikenal publik yaitu Noordin Mohammed Top.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, isi pesan dari Blog Bushro tersebut cukup meyakinkan dalam artian mengarah pada suatu penjelasan yang logis dari suatu aksi teror bom yang telah dilakukan. Alasan sederhana berupa menyerang kepentingan Amerika sebagai pembalasan yang setimpal, serta klaim telah mengetahui adanya pentolan bisnismen dan intelijen sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua kemungkinan, pertama faktor kebetulan bahwa Hotel Ritz Carlton dan Marriot sering digunakan para pebisnis asing dan intelijen asing, kemudian pembuat Blog Bushro memaksimalkan efek logika dengan klaim telah melakukan pengamatan yang detail sebelumnya. Kedua, adalah bahwa sel pecahan Jemaah Islamiyah telah berevolusi demikian cepatnya dan memiliki kapasitas baru berupa akses pada sasaran terpilih yaitu korban pemboman telah diperhitungkan lebih matang dan bukan asal bom bunuh diri dengan korban orang asing secara random. Apabila penjelasan kedua yang mendekati kebenaran, tentunya ini warning serius karena unit/sel teroris di Indonesia telah meng-upgrade kapasitas pengamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dikaitkan dengan pola bom Bali, kemampuan pengamatan tentang dimana banyak orang asing adalah hal yang biasa, misalnya banyak orang di Jakarta juga akan paham tanpa pengamatan mendalam tentang hotel mana yang biasa dikunjungi orang Barat, mana yang menjadi favorit pelaku bisnis, mana yang murah dan mana yang mahal, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada masalah klaim Blog Bushro, sampai saat ini masih diselidiki apakah hanya HOAX (PALSU) ataukah ASLI. Langkah paling sederhana tentunya telah ditempuh oleh pihak keamanan, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di Amerika khususnya berupa request kepada Blogger.com untuk mengungkapkan lokasi pembuat Blog. Hal ini tentu saja sudah dilakukan, dan cukup berarti dalam memberikan gambaran perkiraan pembuat Blog dimana, kemungkinan besar di warnet dan mungkin hanya dilakukan sekali untuk satu pengumuman dan tidak akan diupdate kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, terlepas dari apakah klaim tersebut HOAX atau GENUINE, pesannya telah sampai kepada publik, yaitu sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pembentukan/kristalisasi opini publik (propaganda) bahwa warga Malaysia Noordin M. Top adalah penanggungjawab serangan Double Terror of Kuningan.&lt;br /&gt;2. Bahwa organisasi yang bertanggungjawab adalah Tandzim Al Qo'idah Indonesia (catatan: sebuah nama yang janggal dengan labelling kawasan Indonesia)&lt;br /&gt;3. Bahwa terdapat sejumlah asalan dan justifikasi berdasarkan alasan politis maupun perintah Tuhan (catatan: dengan memutarbalikkan ayat-ayat Al Quran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita bangsa Indonesia yang cinta damai, mayoritas Muslim, demokratis dan tidak merestui aksi-aksi pengecut berupa terror atas nama agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi sudah menjadi bubur, aksi teror telah terjadi, pembatasan efek negatifnya telah diminimalkan oleh pemerintah Indonesia, dan penyelidikan terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pengungkapan tentu perlu waktu yang kita harapkan tidak terlalu lama. Penyelidikan terhadap Blog Bushro tentu saja telah dilakukan secara seksama, karena sekecil apapun petunjuk yang ada perlu didalami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana insan intelijen dan rakyat Indonesia? suatu hal yang membuat khawatir adalah bahwa kepedulian masyarakat tentang bahaya kelompok teroris masih juga rendah, karena masyarakat seharusnya membantu dirinya sendiri dan bersama-sama aparat keamanan memerangi teroris. Sayangnya, juga tidak terdengar suatu mobilisasi publik melawan kelompok teroris, karena jumlah aparat keamanan baik polisi maupun intelijen sangat sedikit dengan dana yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat efektif apabila, gerakan massa melawan kelompok teroris digiatkan dalam skala nasional, masyarakat bahu-membahu bersama aparat keamanan ikut mengawasi lingkungannya secara waspada atas setiap kelompok ataupun individu yang mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa setiap anggota sel (yang berubah-ubah namanya) hasil kreasi warga Malaysia Noordin M. Top selalu membawa perangkat bom bunuh diri tidak perlu ditakuti, kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, namun tidak takut mati dalam menghadapi kelompok pengecut seperti Noordin M. Top. Polisi dan intelijen juga tidak perlu ragu dalam melakukan operasi-operasi pengungkapan jaringan Noordin M. Top dengan skala operasi yang diperbesar dan diperluas jangkauannya. Akan semakin efektif dengan jaringan masyarakat yang peduli pada masa depan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa adanya dukungan informasi maupun kewaspadaan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka akan sangat sulit bagi bangsa Indonesia untuk menghentikan terjadi aksi-aksi teror bom di masa mendatang. Situasi ini agak mirip dengan ketakutan masyarakat dari ancaman para residivis dan preman di masa lalu. Kemudian para preman dan residivis yang merajalela tersebut akhirnya hilang setelah dihabisi oleh operasi Petrus (Penembak Misterius). Saya tidak menyarankan dilakukannya operasi Petrus kembali, tetapi setidaknya gelar operasi massal pengungkapan jaringan Noordin M. Top yang saya lihat terlalu kecil dan kurang efektif bahkan cenderung sangat lambat sehingga, satu per satu aksi bom terjadi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganalisa teror bom ganda Kuningan, kemampuan unit/sel pelaku aksi bom berada pada level sangat tinggi untuk kemampuan pencegahan di Indonesia. Dengan demikian, sangat terbuka kemungkinan aksi-aksi lanjutan dalam kurun waktu 5-6 bulan ke depan di lokasi biasa maupun yang baru, apabila tidak ada perubahan pola penanganan aksi teror bom dengan melibatkan mobilisasi kewaspadaan publik/masyarakat Indonesia, mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan, kecamatan, dst secara terpadu dalam kendali aparat keamanan serta dengan tetap menghormati dan menjunjung tinggi aturan hukum yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2293417105213708622?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2293417105213708622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2293417105213708622&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2293417105213708622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2293417105213708622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/07/tandzim-al-qoidah-indonesia.html' title='Tandzim Al Qo&apos;idah Indonesia'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-9199460447804524855</id><published>2009-07-24T01:05:00.004+01:00</published><updated>2009-07-24T01:47:31.520+01:00</updated><title type='text'>Penjelasan Tambahan Soal Pidato SBY</title><content type='html'>Saya pribadi juga kecewa dengan pidato Presiden SBY dalam merespon ledakan bom Ritz Carlton dan J.W. Marriot minggu lalu. Tetapi demikianlah nyatanya, sudah direkam seluruh media nasional dan internasional. Bahkan telah memancing sejumlah spekulasi dan pandangan tertentu, serta pro dan kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pidato SBY cukup panjang dan detail, namun tetap tidak dapat menggambarkan situasi yang sesungguhnya, sehingga politik nasional sempat sedikit menghangat ditengah kepedihan serangan jahat bom yang dilaknat Tuhan terjadi di pagi yang tenang di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh sedikit saya ilustrasikan mengapa muncul penjelasan lain tentang potensi gangguan/ancaman paska pemilu serta rencana pembunuhan terhadap presiden dan ancaman kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai latihan menembak dengan sasaran wajah Presiden adalah fakta otentik yang dilaporkan oleh aparat keamanan yang sungguh-sungguh mengarah pada kelompok tertentu dan telah terkonfirmasi kebenarannya. Hanya saja demi keutuhan Indonesia Raya, hal ini masih diampuni, namun setidaknya yang bersangkutan (otak pelaku yang menghasut untuk membuat rencana latihan menembak) telah paham bahwa kali ini aparat keamanan sungguh-sungguh dan Presiden juga tidak ragu-ragu untuk menabuh genderang perang apabila niat itu dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi intelijen mengenai rencana kekacauan dan lain-lain paska pemilu juga otentik dan justru bersumber dari lingkaran elit partai-partai baru yang dipimpin Jenderal-Jenderal bermasalah di masa lalu. Entah hal ini dimaksudkan sebagai suatu senda gurau atau sungguh-sungguh karena investasi yang gagal. Suatu hal yang pasti, bagi pemerintahan siapapun dan aparat keamanan hal ini ditanggapi serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai drakula-drakula yang berkeliaran juga otentik dan selain mengarah kepada elit yang punya akses pada sektor keamanan, juga kepada elit ekonomi penyandang dana yang malang melintang di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang seribu sayang, ketika kumpulan informasi tersebut disatukan dengan peristiwa Bom 17/7, yang terjadi adalah keterkaitan yang dipaksakan bahkan dalam standar analisa paling buruk sekalipun. Adalah kurang tepat untuk mengeluarkan suatu pernyataan yang bersifat tambahan diluar peristiwa bomnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kuranglah adil pula bila kita kemudian mengabaikan dan bahkan meragukan pernyataan Presiden yang pada prinsipnya berdasarkan fakta-fakta. Silahkan rekan-rekan yang memiliki akses untuk bertanya kepada Polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror Bom dan ancaman keamanan paska pemilu adalah dua hal yang tidak berhubungan langsung karena fakta-fakta kemampuan melakukan teror bom masih di miliki sel teroris di Indonesia selama Noordin M. Top dkk masih berkeliaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pola analisa yang mengarah kepada lawan politik SBY diperkirakan akan kurang kuat karena contohnya dalam pengungkapan kasus Munir saja, aparat keamanan Indonesia tidak mampu mendorong penyelesaian yang tuntas. Demikian pula dengan sejumlah kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, bagi seorang penyelidik dan penyidik segala kemungkinan tetap terbuka terlepas dari siapapun yang dicurigai, hal ini adalah prinsip dasar yang tidak dapat diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2-3 hari setelah pidato, mulai muncul titik terang informasi dari penyelidik kasus bom bahwa diduga kuat pelaku teror bom adalah sel pecahan dari Jemaah Islamiyah (JI) yang strukturnya semakin kurang jelas. Ditambah dugaan kuat pelaku bom bunuh diri adalah termasuk dalam jaringan dari Noordin M. Top, maka semakin besar kemungkinan bahwa ini murni perbuatan para teroris yang mengatasnamakan agama. Belakangan polisi melepas gambar rekaman dan foto yang megacu pada mayat pelaku aksi bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato SBY dapat dianggap emosional, dapat dinilai provokatif, dan dapat diasumsikan bermacam-macam, serta terjadi kegaduhan politik nasional. Mengapa demikian? karena semuanya sudah dapat diukur baik dari pola respon maupun aksi dan reaksinya di dunia politik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pidato SBY dapat pula secara strategis memiliki makna peringatan serius (peringatan akhir) kepada siapapun yang mengganggu keamanan Indonesia Raya termasuk dari lawan politiknya. Dari sudut pandang komunikasi politik, ada benarnya bila dianggap blunder, namun bila kita perhatikan sungguh-sungguh akan lebih banyak keuntungan strategis secara keamanan dimana para aktor yang merencanakan kekacauan paska pemilu segera ketakutan bersembunyi atau pura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa kita bangsa Indonesia janganlah terlalu mudah menilai sesuatu hanya karena perkembangan opini. Kita harus meyakini bahwa siapapun pimpinan nasional yang kita pilih bersama memerlukan dukungan baik yang tetap bersifat kritikan maupun yang bukan kritikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam arean politik nasional, sudah waktunya kita bersikap dewasa dalam merespon perbedaan pandangan dan perseteruan politik, karena pada akhirnya kita harus bahu-membahu bekerjasama membangun Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan di luar isu pidato Presiden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah rekan jaring Blog I-I sempat mempertanyakan kemungkinan peranan asing yang ingin "menghancurkan" Indonesia Raya. Mengacu pada teori konspirasi dan kecurigaan-kecurigaan, muncul pula persepsi yang mengarahkan analisa kepada keterlibatan asing. Saya kira hal ini sah-sah saja, namun mulailah kita berpijak pada fakta sebelum meyakini suatu hipotesa. Andaikatapun sudah ada hipotesa yang didukung oleh fakta-fakta di lapangan, kita perlu mengujinya dengan mengungkapkannya secara rasional dan benar-benar menghasilkan suatu bukti yang tidak bisa dibantah di pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak kecurigaan, asumsi, dan hipotesa kosong justru akan mengaburkan penyelidikan aparat, bahkan justru menciptakan kebingungan dan akhirnya saling curiga diantara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentikanlah polemik yang kurang berdasar, namun bila rekan-rekan memiliki data otentik, jangan segan-segan melaporkannya kepada pihak yang berwenang, atau bila rekan-rekan takut dapat membahasnya di Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun pandangan dan analisa kita, janganlah berangkat dari dugaan yang lemah, tetapi mulailah dari bukti-bukti kecil atau detil-detil fakta demi tercapainya kesimpulan yang mendekati kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, saya mendoakan aparat keamanan Indonesia dapat bekerja cepat dalam mengungkap kasus bom 17/7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-9199460447804524855?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/9199460447804524855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=9199460447804524855&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/9199460447804524855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/9199460447804524855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/07/penjelasan-tambahan-soal-pidato-sby.html' title='Penjelasan Tambahan Soal Pidato SBY'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4964906102722367928</id><published>2009-07-17T08:41:00.002+01:00</published><updated>2009-07-17T09:01:56.028+01:00</updated><title type='text'>Bom Marriot dan Ritz Carlton</title><content type='html'>Benarlah kiranya kira menunggu hasil penyelidikan Polisi, BIN, dan TNI serta seluruh unsur penagak hukum, baru kita dapat mengungkap kasus ledakan bom tadi pagi jam 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah kiranya kita jangan berspekulasi yang dapat menimbulkan ketegangan yang semakin luas di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah kiranya kita bersatu padu mengungkapkan kasus teror bom yang telah mengambil korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah terlalu bersedih untuk menganalisa motif dengan mengumpulkan bahan keterangan yang meyakinkan berdasarkan fakta-fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah terlalu marah meskipun sudah melihat indikasi ancaman tersebut sejak beberapa bulan yang lalu, namun tidak mampu mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara komentar-komentar yang bertaburan di Blog I-I telah ada ancaman bom dan revolusi terkait pemilu 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sensitifitas pengungkapan kasus ini, maka harus hati-hati dalam menyelidikinya. Satu hal yang pasti, disamping kelompok teroris yang biasa sudah kita amati selama ini, mari kita awasi mereka-mereka yang tercatat sebagai pelaku tindak kekerasan baik di TNI, Intelijen, maupun Polisi di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan berulang di lokasi yang sama (kawasan JW Marriot)adalah sebuah ejekan serius. Sejumlah informasi awal sangat jelas mengarah kepada mereka yang biasa melakukan tindak kekerasan di masa lalu (baik teroris maupun mantan aparat negara), tinggal pembuktian saja. Hukuman tembak mati ditempat-pun rasanya terlalu ringan apabila kasus ini terungkap nanti. Mari kita cegah pula mereka-mereka dengan catatan tindakan kekerasan di masa lalu namun memiliki resources yang besar untuk kabur dari bumi pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar perenungan di hati yang gundah karena jam 8.40 malam saya mendapatkan telpon beberapa saat setelah bom meledak, yang berisi berbagai analisa dan spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pendek ini hanya untuk membuka seluas-luasnya kemungkinan kita dalam menganalisa motif-motif pelaku. Serta tidak mengarahkan pada satu kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Polisi, intelijen Indonesia dan TNI yang reformis mampu mengungkapkan kasus bom yang menghambat cita-cita rakyat, bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati Wirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4964906102722367928?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4964906102722367928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4964906102722367928&amp;isPopup=true' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4964906102722367928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4964906102722367928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/07/bom-marriot-dan-ritz-carlton.html' title='Bom Marriot dan Ritz Carlton'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4840097923444266768</id><published>2009-07-07T19:10:00.003+01:00</published><updated>2009-07-07T20:36:58.655+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='JK-Wiranto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY-Boediono'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mega-Prabowo'/><title type='text'>Selamat Berpesta Demokrasi</title><content type='html'>Yth. Kepada Rakyat Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam ini, saya melihat seberkas cahaya yang akan semakin menyinari Indonesia Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa apapun tulisan saya ini tidak akan dapat diaggap sebagai kampanye positif ataupun negatif terhadap para kandidat calon pemimpin 232 juta bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a saya adalah agar pemilu berjalan lancar dan damai, serta apapun hasilnya dapat diterima dengan lapang dada. Setelah berkompetisi merebut hati rakyat Indonesia, diharapkan pasangan pimpinan nasional kita dapat bekerja dan menyatukan kembali cita-cita mewujudkan Indonesia Raya yang kuat dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a saya kepada pihak yang kalah adalah agar dapat menerima kenyataan pilihan mayoritas suara pemilih dan bersiap-siap kembali mengabdikan kemampuan dan keahliannya dalam membangun bangsa dalam posisinya masing-masing. Saya sangat berharap munculnya tradisi oposisi sejati yang mengkritisi dan mengawasi pemerintah secara profesional dan bukan berdasarkan dendam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiga pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI dalam pemilu esok hari adalah pilihan dari orang-orang yang terpilih diantara kita anak bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mega-Prabowo dalam nomor urut satu memiliki potensi menyuarakan suara wong cilik dan diwarnai oleh kontroversi tuduhan yang bermacam-macam. Megawati misalnya dituduh kurang mampu dalam mengendalikan roda pemerintahan dan dianggap gagal ketika menjabat sebagai Presiden. Tuduhan tersebut seringkali lebih dimotivasi oleh keengganan sejumlah kalangan elit politik yang kapok dengan kepemimpinan Megawati, karena sesungguhnya sejumlah pemulihan ekonomi dimulai pada era Megawati sehingga tidak dapat dituduh secara semena-mena gagal saat menjadi Presiden. Kemudian kekhawatiran diarahkan kepada sang suami Taufik Kiemas dan sang putri Puan Maharani yang menurut sebagian kalangan sering bertindak tidak proporsional saat Megawati menjabat menjadi Presiden. Sementara itu, Prabowo Subianto seorang mantan DanJen Kopassus Jenderal berbintang 3 berkali-kali dituding oleh sejumlah kalangan khususnya para aktivis HAM karena track record "pelanggaran HAM". Betapapun Prabowo telah melalui berbagai proses hukum, namun ketidakpuasan masih menyelimuti sebagian penggiat HAM sehingga persoalan sejarah masa lalu dibesar-besarkan. Sesungguhnya Prabowo Subianto adalah salah seorang Jenderal TNI yang paling cemerlang yang pernah saya kenal, dengan cara berpikir yang lugas dan cepat dalam mengambil keputusan Prabowo memiliki potensi untuk mampu mewujudkan janji-janjinya dalam kampanye. Kecerdasan dan sifat nasionalismenya yang kental juga menjadi faktor yang membuat takut sejumlah kalangan di luar negeri, bahkan Prabowo tetap dilukiskan sebagai tokoh berlumuran darah yang bangkit di era demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai anak bangsa yang menyaksikan perjalanan bangsa Indonesia sudah sewajarnya melihat diri kita sendiri, berkaca dan berpikir secara jernih, mengapa pasangan Mega-Prabowo disudutkan sedemikian rupa jeleknya. Padahal potensi pasangan Mega-Prabowo cukup menjanjikan masa depan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY-Boediono pada nomor urut dua adalah calon terkuat menurut polling dan popularitas di mata masyarakat Indonesia. Calon ini juga paling favorit dan mendapatkan dukungan internasional secara simbolis/tidak tertulis. SBY adalah figur Jenderal yang keras dalam usaha dan pantang mundur serta termasuk dalam kategori Jenderal berpikir yang peduli terhadap masa depan Indonesia. Kelemahan terbesar SBY yang selalu dibantahnya adalah sikap terlalu hati-hati dan terlalu halus perasaannya. Akibat dari sikap dan sifat tersebut, lawan-lawan politiknya menjuluki sebagai Jenderal peragu dan lambat mengambil keputusan. Hal ini hanya dapat dibantah melalui kerja nyata SBY yang sesungguhnya telah mencapai suatu keberhasilan yang luar biasa selama kepemimpinannya. Bahwa keberhasilan yang monumental seperti perdamaian Aceh dan pemulihan ekonomi adalah juga berkat kinerja kabinetnya tentu diakui oleh SBY. Apa yang harus kita ingat dan kita garisbawahi adalah kepecayaan publik nasional dan internasional kepada SBY adalah faktor paling kuat dalam seluruh keberhasilan selama kepemimpinannya. Alangkah indahnya apabila SBY mampu mengurangi kelemahannya dan memperkuat kepemimpinannya demi Indonesia Raya. Sebagai pendamping, seorang teknokrat kelas dunia dan bertangan dingin di bidang ekonomi, Boediono tentu tidak asing lagi. Di bidang ekonomi, tidak ada keraguan yang beralasan atas kemampuan Boediono. Keberhasilan demi keberhasilan yang ditunjukkan oleh Boediono selama menjadi pejabat negara merupakan catatan prestasi tersendiri yang dapat menjadi jaminan perbaikan ekonomi Indonesia. Pertanyaan terhadap figur Boediono bagi saya justru dalam soal kapabilitas politik dan sosial yang tidak dapat dihindari oleh seorang wakil presiden apabila terpilih nanti. Wakil Presiden harus memiliki kecakapan yang memadai di berbagai bidang, artinya seorang Boediono harus menyadari kekurangannya di bidang non-ekonomi serta lebih banyak lagi bekerja keras dalam memahami fenomena sosial, budaya dan politik di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai anak bangsa telah melihat bagaimana upaya merusak nama baik Boediono sebagai antek asing neoliberal, SBY sebagai Jenderal yang kurang tegas dan lain-lain. Tentunya kita jangan terlalu percaya dengan opini-opini menyesatkan yang dapat membuat kita kurang hormat kepada pemimpin kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JK-Wiranto pada nomor urut tiga adalah pasangan yang potensial karena unsur kebhinekaan etnisitas dan komplementaritas kemampuan dimana Jusuf Kalla sangat piawai dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik, sementara Wiranto adalah seorang pensiunan Jenderal yang matang dengan masalah pertahanan dan keamanan nasional. JK yang berani menghadapi berbagai kalangan dari ekstrimis, separatis, sampai gerakan mahasiswa adalah seorang demokrat sejati yang senantiasa membuka diri untuk kritik dan siap berargumentasi dalam membela kebenaran yang diyakininya. Kepeduliannya untuk menyelesaikan konflik komunal secara cepat adalah prestasi yang bukan saja dihormati, namun juga amal mulia bagi kemanusiaan. Demikian juga responnya yang cepat dalam membantu rakyat yang ditimpa kesusahan adalah tersimpan baik di hati rakyat. Persoalannya hanya pada soal cara komunikasi yang kadangkala menimbulkan pertanyaan dan kesan kurang bersahabat. Terlebih dalam negara multietnis seperti Indonesia, pola-pola komunikasi Jusuf Kalla sangat efektif di kawasan urban perkotaan dan bisnis, namun belum tentu tepat di kalangan yang lain. Bahkan ada kalanya sebagian kalangan kurang mengerti apa yang ingin disampaikan Jusuf Kalla. Wiranto adalah figur nasional terkuat pada tahun 1997-1998 yang bisa saja menjadi pimpinan nasional saat itu apabila memiliki strategi politik yang matang. Fakta bahwa Wiranto memilih untuk berkolaborasi dengan gerakan reformasi menunjukkan bahwa dirinya saat itu tidak memiliki strategi mencapai kekuasaan, serta hanya ikut berperan menjaga stabilitas nasional. Keputusan Wiranto untuk mendukung perubahan demokratisasi Indonesia patut dihargai dan dihormati, bahkan saat dimana TNI mengalami kehancuran moral karena tuduhan pelanggaran HAM, Wiranto cukup handal membangkitkan kembali semangat juang korps TNI dalam tugas mulia melindungi bangsa dan negara Indonesia. Kasus Timor Timur adalah ganjalan terbesar karena fakta sejarah terjadinya kecelakaan bumi hangus Timor-Timur diarahkan kepada Wiranto sebagai penanggung jawab. Namun, lagi-lagi sebagaimana juga Prabowo, Wiranto telah melalui proses pertanggungjawaban baik secara internal kepada sistem hukum nasional Indonesia, maupun dibawah investigasi Komisi Bersama Timor-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai anak bangsa tentunya paham apabila ada pihak-pihak yang mengeksploitasi kelemahan Jusuf Kalla maupun Wiranto dengan berbagai catatan negatif. Namun hakikatnya bagaimanapun juga saat ini adalah salah satu dari tiga pasangan terbaik putra putri Indonesia yang mampu maju sebagai kandidat calon pemimpin bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya mengkampanyekan ketiga calon sekaligus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya sedih sekali karena adanya bibit-bibit saling mengancam diantara kekuatan-kekuatan politik di dalam negeri Indonesia. Kekuatan sosialis (kerakyatan) memojokkan kelompok liberal sebaliknya kekuatan liberal mencibir kemandulan konsep sosialis Indonesia. Kekuatan Islam terpecah-pecah dalam kegamangan konsep hubungan Islam dan negara. Kekuatan nasionalis saling mengklaim diri sebagai pembela Indonesia Raya. Isu yang paling parah dan tidak termaafkan oleh bangsa Indonesia adalah upaya mengganggu demokrasi dengan kekerasan yang pernah diujicobakan oleh oknum tidak bertanggung jawab pada pemilu legislatif yang lalu di Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak benar bahwa kita akan memilih yang terbaik dari pilihan-pilihan yang buruk. Harus kita yakini bahwa ketiga pasangan adalah calon-calon kandidat pemimpin bangsa yang terbaik. Siapapun yang anda pilih adalah pilihan terbaik bagi Indonesia Raya, dan setelah terpilih nanti mari kita dukung dengan sepenuh hati menyongsong seberkas cahaya kejayaan Indonesia Raya yang akan terwujud pada tahun 2025. Hentikan semua prasangka buruk, mulailah melihat dengan jernih bahwa proses demokrasi sudah berjalan sesuai keinginan bersama dan marilah kita jaga bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, berpijaklah pada fakta-fakta dan bukan opini yang sengaja dihembuskan untuk membuat bangsa Indonesia kurang percaya diri dan merasa lemah. Siapapun pemimpin nasional kita, hanya kita sendiri sebagai bangsa yang dapat merasakan kebanggaan ataupun sebaliknya. Apabila kritisi terhadap seluruh calon pemimpin bangsa kita begitu buruknya, maka kita sebagai bangsa yang memilihnya adalah yang paling buruk dari semua. Setidaknya saat ini, ketiga calon pasangan pemimpin nasional kita adalah yang kita miliki, dan semuanya adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Berdemokrasi.&lt;br /&gt;Senopati Wirang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bermimpi dan berharap bahwa setiap pembaca artikel dapat menyebarluaskannya kepada seluruh elemen bangsa Indonesia yang akan berpesta demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4840097923444266768?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4840097923444266768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4840097923444266768&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4840097923444266768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4840097923444266768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/07/selamat-berpesta-demokrasi.html' title='Selamat Berpesta Demokrasi'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7268326312840403050</id><published>2009-05-16T20:21:00.003+01:00</published><updated>2009-05-16T20:56:40.709+01:00</updated><title type='text'>Antasari oh Antasari</title><content type='html'>Indonesia Raya memang penuh kejutan. Lebih mengejutkan lagi bila membaca wacana dan analisa di dalam masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak segera membahas aspek-aspek penting di seputar kasus Antasari karena masih menunggu fakta-fakta yang sesungguhnya sudah lengkap di Polisi. Bahkan dalam tulisan ini saya juga hanya akan menceritakan sedikit kontradiksi yang saya harapkan rekan-rekan dapat membacanya secara hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam berita yang diungkapkan media massa banyak sekali yang berkembang, bahkan pendapat-pendapat pihak-pihak yang berurusan seperti pengacara, polisi, keluarga, dll tampak sangat berwarna. Namun faktanya belum ada yang cukup meyakinkan yang diungkapkan kepada publik. Mengapa tidak segera diuangkapkan? ada dua kemungkinan yaitu karena proses dan prosedurnya di Indonesia memang demikian (lambat) atau telah menjadi komoditi politik yang sangat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa teori konspirasi cukup meyakinkan, yaitu misalnya untuk menghancurkan KPK, untuk mendiskreditkan anti korupsi pemerintah, untuk mengalihkan masalah kecurangan pemilu (kasus DPT), untuk meredam kasus yang lebih besar, untuk kepentingan mafia TW, untuk dll. Alasan yang digunakan juga bermacam-macam, misalnya: tidak mungkin seorang AA terjebak dengan bodohnya, tidak mungkin hanya soal wanita, tidak mungkin sekecil itu persoalannya, tidak mungkin sebuah kasus terungkap begitu cepat, tidak mungkin dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa tindak kriminal pembunuhan hanya melihat pada motif, barang bukti dan saksi. Namun prosesnya memerlukan waktu yang cukup panjang sebagaimana biasanya di negara kita. Kasus ini akan menjadi lebih panjang lagi karena dugaan keterlibatan tokoh yang terkenal di masyarakat. Polisi sudah memiliki catatan tentang motif, barang bukti dan kesaksian dari para saksi. Apakah kemudian terjadi rekayasa adalah berpulang kepada nurani dan kebijakan di Polisi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa publik kemudian menjadi ramai? hal ini tidak lain karena tersebar luasnya informasi melalui media massa yang sedemikian hingar bingarnya, sehingga opini-pun terpecah menjadi pro dan kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun kebenaran yang kita ketahui, apabila sudah terjadi distorsi pemberitaan dan sudut pandang yang berbeda dan bahkan pengadilan media massa, maka akan semakin sulit untuk melihatnya secara jernih tentang apa sesungguhnya yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa opini yang dikembangkan misalnya tentang jatuhnya seseorang karena cinta birahi, opini yang lain tentang adanya agenda besar yang tersembunyi, dst...dst. Apakah rekan-rekan tidak sebaiknya menunggu saja pengungkapan fakta dari Polisi yang melakukan penyidikan dan penyelidikan? Lebih jauh lagi, apakah tidak sebaiknya kita tunggu jalannya pengadilan dan pengungkapan fakta tentang kasus pembunuhan tersebut. Mengapa kita menghabiskan energi untuk menganalisa sesuatu kasus yang faktanya sebagian besar masih disembunyikan dari publik? Andaikatapun saya diberikan informasi dasarnya, tentu tidak akan boleh diungkapkan kepada publik sebelum proses pengadilan menghasilkan putusan, karena hal itu sungguh tidak adil bagi perjalanan pengadilannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, bahwa desepsi informasi dan upaya-upaya pengelabuan/pembohongan publi dalam dunia hukum Indonesia sudah sedemikian parahnya. Saya yakin hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk mendorong terciptanya sistem hukum yang mampu menjamin keadilan dan tegaknya hukum di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga menjadi kewajiban bagi kita untuk mulai berani menyatakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah adalah salah. Tantangan ini melekat kepada setiap diri kita di bidang kerja kita masing-masing. Dalam kasus ini, tantangan terbesar berada di pundak Polisi dan lembaga peradilan untuk tidak tergoda rayuan ataupun takut karena tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7268326312840403050?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/7268326312840403050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=7268326312840403050&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7268326312840403050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/7268326312840403050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/05/antasari-oh-antasari.html' title='Antasari oh Antasari'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-2831408223009353071</id><published>2009-05-16T20:03:00.002+01:00</published><updated>2009-05-16T20:21:28.898+01:00</updated><title type='text'>Keseimbangan</title><content type='html'>Sekian lama saya menantikan terjadinya diskusi yang lebih serius, setelah diperhatikan saya sadar bahwa selama ini rekan-rekan yang mengamati perjalanan Blog I-I adalah putera-puteri Indonesia yang serius serta teliti dalam melihat arus informasi di Blog I-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya ingin mengungkapkan sedikit alasan mengapa Blog I-I tampak menerpa sana-sini dengan segala kontradiksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebuah kontradiksi bermanfaat untuk membuka suatu tabir yang lahir dari analisa masing-masing individu yang menafsirkannya. Dari sana, saya tidak mengungkapkan kebenaran sejati dari suatu peristiwa ataupun suatu dinamika intelijen. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya lakukan hanyalah memaparkan sejumlah fakta yang bertolak belakang dan mencoba menafsirkan dari teknik analisa yang saya kuasai dengan bimbingan insting dan pengalaman. Apabila dalam beberapa artikel terasa menggiring pada suatu kesimpulan yang mungkin rekan-rekan kurang setuju, maka hal itu menjadi tantangan rekan-rekan dalam mengkonfrontasikannya dengan data/fakta yang rekan-rekan miliki. Harapan saya, akan tercapai suatu pencerahan publik yang tergerak dari kesadaran bersama tentang arah perjalanan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, apabila ada pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi topik bahasan dalam blog I-I. Karena hal itu, bisa saja mencitrakan secara negatif maupun positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena perjalanan diskusi Blog I-I bersifat abstrak di dunia ide dan analisa maka akumulasi perdebatan dan perbedaan pandangan tersebutlah yang kemudian diharapkan dapat mendorong terciptanya Intelijen Indonesia yang sungguh-sungguh profesional dan bukan hanya bekerja untuk kekuasaan, tetapi mengabdikan jiwa dan raganya untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bila rekan-rekan pernah menengok sebentar saja ke dalam dunia Intelijen Indonesia baik militer, sipil, polisi bahkan di lingkungan istana, maka sadarlah bahwa perjalanan reformasi untuk Indonesia yang modern dan mengayomi kesejahteraan rakyat secara merata masih jauh. Perjalanan kita masih sangat jauh. Saya sadar betul, bahwa resiko yang ditanggung Blog I-I adalah nyawa karena pada prinsipnya akan terus menggugat kesombongan kekuasaan yang cenderung menindas kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kesombongan kekuasaan yang saya maksudkan adalah masih banyaknya elit-elit politik, elit militer, elit birokrasi yang busuk di negara kita ini. Mentalitas korupsi, pengecut, mau menang sendiri, dan tidak peduli pada masa depan bangsa Indonesia telah menggerogoti potensi-potensi kebangkitan Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, saya hanya menawarkan suatu ruang kepada rekan-rekan untuk membuka mata dan telinga demi kejayaan Indonesia Raya. Sehubungan dengan itu, manfaatkanlah ruang Blog I-I untuk mengungkapkan setiap kebusukan yang terjadi di negara kita tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kontradiksi dalam Blog I-I dapat dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-2831408223009353071?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/2831408223009353071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=2831408223009353071&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2831408223009353071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/2831408223009353071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/05/keseimbangan.html' title='Keseimbangan'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-5933950433487579037</id><published>2009-04-30T23:12:00.005+01:00</published><updated>2009-05-01T00:14:40.404+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'/><title type='text'>Suara Luar Jawa</title><content type='html'>Meskipun terkait dengan masalah suara, namun tulisan kali bukan mengenai pemilu yang sedang ramai kita jalani dan dukung bersama demi kemajuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terkait dengan kritik membangun dari rekan Mathias Wenda yang mengeluhkan soal dominasi orang Jawa dan ketidakadilan yang menimpa suku-suku di luar Jawa. Namun kita juga tidak dapat mendekati persoalan ini secara sembrono sebelum mayoritas bangsa Indonesia mencapai pemahaman yang utuh tentang hakikat kebhinnekaan dalam satu kesatuan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian ?&lt;br /&gt;Intelijen telah lama menggarisbawahi perlunya pembangunan karakter bangsa yang tidak membeda-bedakan berdasarkan etnis, ras, golongan maupun agama. Diperlukan suatu....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kesungguhan untuk secara terus-menerus membangun ikatan persaudaraan yang kuat serta adil dalam kerangka pembangunan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah mengalami begitu banyak luka-luka dan kematian sebagai akibat dari arogansi etnisitas maupun golongan. Kita juga telah berkali-kali dituduh sebagai bangsa yang "kurang beradab" karena kasus-kasus pelanggaran HAM dan diskriminasi ras. Kita bahkan mulai kehilangan sifat-sifat luhur nan mulia yang tercatat dalam tinta emas sejarah bangsa di Nusantara baik dari Aceh sampai Papua, yakni sifat ksatria dan menjunjung tinggi harkat martabat sesama umat manusia dalam kerangka persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melalui ribuan perang sejak zaman kerajaan, telah banyak kematian dan telah banyak dendam maupun sakit hati yang tak terobati. Namun kita juga sering lupa bahwa kita telah melalui begitu banyak rintangan dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa yang besar. Akibatnya kita merasa kecil, kemudian kehilangan sifat ksatria, bahkan mulai pengecut dan hidup dalam ketidakamanan (insecurity) dimana kecurigaan terbesar justru sesama anak bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan Mathias Wenda saya duga berasal dari Propinsi Papua atau Papua Barat, tentunya paham bila saya membahas masalah perang suku yang masih sering terjadi di tanah damai Papua. Tentunya juga paham bahwa integrasi Papua ke dalam Indonesia Raya secara legal dalam hukum internasional masih dihantui masalah. Pada satu sisi, saya juga melihat adanya perilaku yang korup dari pemerintahan Indonesia Raya yang mana hal itu disebabkan terbukanya kesempatan yang terlalu besar sebagai akibat lemahnya sistem hukum dan pengawasan. Pada sisi lain, perilaku perlawanan sebagian saudara kita di Papua, Aceh, Ambon, dan dahulu Timor-Timur ternyata tidak sungguh-sungguh diselesaikan secara segera karena sikap meremehkan pentingnya dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana tersebut merupakan warisan perjalanan revolusioner Indonesia pada era kemerdekaan, ditambah model militerisme era Orde Baru, dan sekarang sedang dicari formula yang terbaik untuk terciptanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia&lt;/span&gt; , ingat itu untuk seluruh rakyat Indonesia dan bukan secara khusus untuk orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah Jawa sendiri, masih tersimpan dendam masa lalu dari ujung Timur hingga Barat. Masih terasa adanya arogansi "rasa lebih tinggi" yang mana hal itu merupakan racun yang dahsyat bagi persaudaraan dan persatuan yang kuat. Saya telah melakukan  perjalanan yang cukup jauh dari berbagai peradaban, tampak jelas bahwa terjadi kemandegan atau minimal kelambatan perkembangan sosial di Indonesia dan khususnya di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai keturunan Jawa, saya sendiri sungguh merasa malu (wirang) karena sangat jarang bertemu dengan satria tanah Jawa yang mampu mengayomi Nusantara. Tetapi sangat sering bertemu penipu sombong yang mengaku-aku sebagai satria, padahal merusak persatuan bangsa Indonesia karena kesombongannya. Hal ini tidak berarti satria tanah Jawa sudah punah, tetapi yang saya lihat adalah lunturnya budaya dan etika yang dijunjung tinggi dengan sumpah lahir dan bathin. Namun sejujurnya perlu juga kita berkaca dan menyadari, bahwa masalah ini bukan khas ada di dalam suku Jawa melainkan merupakan penyakit di Nusantara yang karena kebetulan terbanyak diwarnai suku Jawa maka kelihatan sebagai pelaku dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna kebangsaan Indonesia sudah semakin dominan ketika sistem pendidikan nasional semakin mantap sejak keberhasilan pembanguna era 70-80an. Namun hal itu tidak mendalam karena tidak disertai proses pemahaman dan sisi praktis dari manfaat berperilaku sebagai orang Indonesia yang baik. Ketidakadilan dan penindasan menyebabkan kita sesama orang Indonesia tidak merasa sebagai orang Indonesia, akibatnya lahirlah kembali semangat etnisitas (kesukuan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah dengan semangat kesukuan sepanjang itu tidak disertai semangat untuk bermusuhan atau merasa yang paling tinggi/hebat/berkuasa. Adalah fitrahnya setiap insan untuk berafiliasi kepada salah satu suku yang merupakan bawaan lahir dari orang tua kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling menghormati dan persaudaraan tidak dapat dipaksakan dengan kekerasan atau penindasan, tetapi harus lahir dari kesadaran bahwa ada aturan main yang jelas dalam menciptakan masyarakat yang adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cita-citanya, Indonesia Raya setiap pagi berdoa untuk keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan seluruh rakyat Indonesia. Lalu mengapa ketidakadilan, ketidaksejahteraan, dan unsur kurang manusiawi justru lebih dominan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berhadapan langsung dengan sesama anak bangsa Indonesia yang sangat berbeda secara etnis, mengapa prasangka yang lebih dominan? Mengapa stereotipe yang lebih bekerja di otak kita? Mengapa bukan saling percaya? Mengapa pula bukan keyakinan akan adanya perasaan keIndonesiaan yang kuat sesama kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita dalam pergaulan sosial yang berbeda agama, mengapa kita lebih mempersoalkan perbedaan daripada kerjasama? mengapa kita menjadi was-was satu sama lain? mengapa kita merasa tidak aman? mengapa saling percaya sangatlah lemah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan suatu transformasi sosial secara massal di seluruh wilayah Indonesia untuk menciptakan keadilan. Marilah kita koreksi sikap-sikap kita dalam prasangka etnis/suku, dan stereotipe. Marilah kita mulai lagi persaudaraan Indonesia dalam kesetaraan dan marilah kita buat aturan main yang mengawasi perilaku-perilaku sembrono yang dapat memecah-belah Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga siapapun rekan-rekan dari suku manapun dan kepercayaan apapun rela bersedia menyebarluaskan pemikiran ini sehingga kita bersama-sama dapat membawa perubahan nyata untuk Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebelumnya tidak pernah ada, tetapi berkat mimpi keadilan sosial bagi seluruh penghuni nusantara kita membangun persaudaraan Indonesia. Apakah ide Indonesia Raya tersebut harus terkubur karena kita tidak waspada dengan kelemahan kita sendiri? Lalu bagaimana kita akan mampu bersaing di dunia internasional apabila sesama anak bangsa Indonesia berkelahi tanpa ada akhirnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-5933950433487579037?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/5933950433487579037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=5933950433487579037&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5933950433487579037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/5933950433487579037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/04/suara-luar-jawa.html' title='Suara Luar Jawa'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-4703786800477824346</id><published>2009-04-28T18:09:00.002+01:00</published><updated>2009-04-28T19:00:19.760+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia Raya'/><title type='text'>Indonesia Raya</title><content type='html'>Hampir seratusan komentar, entah berapa teriakan dalam shoutbox baik yang berkualitas maupun yang sampah...itu semua cerminan diri kita yang peduli dengan negeri tercinta Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita yakini bersama kebangkitan Indonesia tanpa harus mencaci, menuduh ataupun menghina bagian-bagian dari kebangsaan kita sendiri yang masih tertatih-tatih dalam mensejahterakan seluruh rakyat. Tengoklah sejenak mayoritas bangsa kita yang terdiam dalam persoalan sehari-hari, untuk memperoleh makanan yang bergizi, untuk pendidikan yanglebih baik, untuk pekerjaan yang layak, untuk tempat tinggal yang nyaman, untuk pelayanan kesehatan yang standar, dst...dst begitu banyak pekerjaan rumah yang harus kita bangun bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ada walaupun jarang melihat-lihat dinamika Blog I-I. Saya sedang berobat dengan sedikit menjalankan keprihatinan pribadi dan senantiasa berdoa bahwa pada saatnya akan lahir generasi muda Indonesia yang bermoral-beretika, memegang tali agama yang kuat, namun memahami situasi demokrasi yang menuntut diterapkannya kesepakatan saling menghormati perbedaan dan penegakkan hukum tanpa pandang bulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Indonesia Raya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis kembali artikel Indonesia Raya sebagai sebuah pengingat bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Saya juga ingin menyampaikan bahwa isu-isu keterlibatan jaringan intelijen underground dalam mendorong keberhasilan Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) adalah tidak benar. Hanya suatu kebetulan belaka bahwa ide membangun bangsa dan negara yang besar dikumandangkan kembali oleh sebuah partai politik yang baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog I-I telah menggunakan istilah Indonesia Raya jauh sebelum Partai Gerindra lahir, dan hal ini mengacu pada akar sejarah kita yang besar juga mengacu kepada lagu nasional Indonesia Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun jiwa membangun raga, membangun bangsa dan negara yang kuat bukanlah menyandarkan kepada Ratu Adil ataupun kelompok tertentu, tetapi membangun denyut nadi bangsa Indonesia secara keseluruhan...utuh dalam persatuan mewujudkan visi dan misi mensejahterakan seluruh saudara-saudara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Intelijen Indonesia bukanlah melanggengkan kekuasaan elit tertentu, tetapi justru menjadi alat dan pelindung rakyat dari kebusukan negara-negara asing yang ingin terus-menerus memiskinkan Indonesia, dengan merampok kekayaan alam kita, dengan memecah-belah persatuan nasional kita dan dengan mempertajam jurang perbedaan diantara kita. Disamping itu, tidak seluruh negara asing selalu menjadi musuh, melainkan juga menjadi kesempatan dalam bekerjasama untuk keuntungan bersama. Hal yang terpenting adalah jangan sampai dibohongi, karena itulah diperlukan kecerdasan dan kemapuan dalam bernegosiasi untuk kepentingan rakyat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia Raya yang saat ini banyak dinilai media internasional termasuk yang sukses dalam pemulihan ekonomi dan ketahanan menghadapi krisis keuangan internasional, tidak berarti kita lengah terhadap ancaman yang dapat mengganggu kebangkitan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengahan tersebut terletak di dalam maupun di luar, dan saya simpulkan dalam beberapa poin berikut ini:&lt;br /&gt;1. Kita hampir selalu terpaku kepada pimpinan nasional dan lupa dalam memperkuat pimpinan di level menengah dan wilayah. hal itu termasuk dalam soal manajemen dan profesionalitas untuk pelaksanaan program pembangunan. Akibatnya seperti menjelang pemilu Presiden, saya memperhatikan kesibukan yang berlebihan dalam manuver dan konsolidasi politik menuju kekuasaan, sementara sangat sepi pembahasan platform pembangunan (ipoleksosbudhankam) lima tahun ke depan, apalagi blue print strategis 20-30 tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam masalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya, kita terlalu fokus pada cara mempertahankan diri, padahal hal itu terlalu defensif dan pasif. Kita belum melangkah maju dalam menyentuh setiap akar permasalahan separatisme, yaitu langsung kepada akar persoalannya dan perlu dilakukan komunikasi internal dalam kerangka keIndonesiaan yang sungguh-sungguh Bhinneka Tunggal Ika. Apabila masih saja terjadi perlawanan, sepanjang hal itu damai maka hadapi dengan damai. Apabila perlawanan itu bersenjata maka secara sah di depan hukum juga dihadapi dengan senjata. jangan sampai perlawanan damai dihadapi dengan senjata tajam sehingga menghasilkan korban nyawa manusia yang mana mereka juga rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalam masalah sosial budaya, kita maih perlu terus membangun karakter bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kampanye serta program-program kongkret yang membangkitkan rasa keIndonesiaan yang kuat. Tanpa bermaksud menciptakan ultra-nasionalisme, kita tetap perlu mengumandangkan persaudaraan Indonesia Raya demi terwujudnya mimpi bersama membangun kehidupan berbangsa dan bernegara secara bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pokok masalah ekonomi adalah kemiskinan dan kurang meratanya pembagian hasil pembangunan. Hal itu diperburuk oleh mentalitas rasa malas yang selalu menghantui perjalanan bangsa kita. Tidak ada kemajuan yang dapat diwujudkan tanpa kerja keras dan etos disiplin yang tinggi serta kreatifitas. Tengoklah ke dalam diri kita sendiri, sejauh mana kita menerapkan prinsip-prinsip prasyarat kemajuan tersebut dalam pekerjaan kita sehari-hari. Apakah kemalasan yang menyebabkan kemiskinan, apakah eksploitasi sistem kapitalis, ataukah ketidakadilan dalam memberikan kesempatan dalam melakukan kegiatan ekonomi, ataukah faktor kebodohan, tentunya masing-masing dari kita dapat bercermin dan melihat fakta-fakta kemiskinan di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembangunan, Intelijen juga perlu paham situasi-situasi nyata di sekeliling masyarakat sehingga tidak memberikan masukkan dan analisa yang jauh dari fakta. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh rekan-rekan semua, apabila rekan-rekan memulai dari lingkungan terdekat memperbaiki setiap kekeliruan langkah yang rekan-rekan tempuh dalam berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mossad, CIA, MI6, dan lain-lain organisasi intelijen ternama tidaklah akan dapat berperan baik apabila rakyatnya di Israel, di Amerika Serikat, di Inggris tidak menciptakan atmosfir yang kondusif sehingga organisasi tersebut dapat berkiprah di level internasional. Mereka dapat melangkah maju karena dukungan rakyatnya yang telah melangkah maju, sementara kita....mengapa masih saja bertengkar satu sama lain dengan mengorbankan kepentingan yang lebih besar?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, semoga bermanfaat&lt;br /&gt;SW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-4703786800477824346?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/feeds/4703786800477824346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12924495&amp;postID=4703786800477824346&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4703786800477824346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12924495/posts/default/4703786800477824346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intelindonesia.blogspot.com/2009/04/indonesia-raya.html' title='Indonesia Raya'/><author><name>senopati wirang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16418935072768448975</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12924495.post-7041378565253018799</id><published>2009-01-30T01:32:00.003Z</published><updated>2009-01-30T01:39:34.578Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heritage intelligence'/><title type='text'>Heritage Intelligence</title><content type='html'>Artikel Bung Fajarwala ini sangat menarik untuk kita baca dan cermati bersama, kepedulian terhadap indentitas Indonesia dari Aceh hingga Papua seharusnya hadir di hati kita semua. Ada suatu perasaan yang tidak terlukiskan dalam menyelami ruang waktu sejarah kehadiran kita di nusantara ini. Siapa kita saat ini tidak terlepas begitu saja dari peninggalan pendahulu-pendahulu kita. Intelijen dari sisi ini merupakan sumbangan besar kepada identitas dan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia. Silahkan membaca....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heritage Intelligence&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar intelijen ingatan langsung tertuju kepada James Bond 007, CIA, KGB, dan Mossad. Institusi intelijen Negara yang bekerja dalam ketertutupan dan menyeramkan seperti kisah Victor Ostrovsky atau novel Body of Lies karya David Ignatius. Intelijen Benda Cagar Budaya (Heritage Intelligence) bukan merupakan pengenjawantahan dari Lembaga Intelijen Negara, melainkan pekerjaan penelitian dan pendokumentasian tentang keberadaan benda cagar budaya yang ada di Indonesia. Banyaknya peninggalan kekayaan artefak sejarah yang telah lenyap atau musnah, sehingga menciptakan kerugian besar hampir disetiap sektor baik dari Ilmu pengetahuan, sosial-budaya, ekonomi dan pertahanan keamanan Negara.&lt;br /&gt;Ketidak berdayaan pembuktian kekayaan dan kerugian Negara tentang peninggalan sejarah, yang telah hilang maupun masih ada merupakan 'titik lemah' untuk dapat menjelaskan dan mempertanggung jawabkan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana contoh hancurnya bangunan di proklamasi, dimana potret nyata detik-detik bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Pertanyaan kerugian apa saja yang diciptakan dari kehancuran bangunan proklamasi tersebut? Ternyata ketika di 'bedah' anatominya sungguh membuat kepala cekot-cekot, dari sisi Ilmu pengetahuan bukti nyata keberadaan fisik bangunan sudah tidak ada. Di dalam ranah berbeda seperti contoh ketika pulau Sipadan dan Ligitan diakui oleh Mahkamah Internasional di Belanda, fisik bangunan yang terdapat dikedua pulau tersebut adalah milik Malaysia. Pada akhirnya secara de jure maupun de fakto pulau Sipadan dan Ligitan milik sah Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terperanjat bahwa eksistensi fisik bangunan bukan persoalan sederhana, cara pandang melihat fisik bangunan selama ini hanya dilihat dari 'kaca mata kuda' yang melulu diukur dari perspektif estetika dan ekonomis semata. Padahal sebuah bangunan diciptakan melampaui tapal batas estetika dan ekonomi, sebagaimana masyarakat Jawa membangun rumah Panggang pe Ceregancet mirip dengan jasad hidup yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Database Benda Cagar Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film petualangan Indiana Jones, National Treasure, dan Da Vinci Code, membuat adrenalin penonton terpacu. Kecerdasan mengumpulkan serpihan informasi yang tercecer, sehingga teka-teki dapat terpecahkan dan disusun ulang. Sungguh sebuah inspirasi. Tersebar dan terseraknya artefak benda cagar budaya dari berbagai wujud, baik dari sisa-sisa peninggalan kerajaan Nusantara sampai peninggalan kolonial. Sampai saat ini masih dalam 'terawangan' sebagai analogi berjalan dikegelapan tanpa cahaya. Keberadaan UU.No.5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya dan UU.No.26 Tahun 2007 Tentang Tata Ruang masih dalam tahap konsepsional, belum memasuki 'ranah' operasional di dalam pelestarian benda cagar budaya. Inventarisasi pendokumentasiaan sebagai database keberadaan benda cagar budaya dari berbagai ragam bentuk, sampai saat ini masih belum dapat direalisasikan. Padahal database tersebut merupakan 'peta hidup' sebagai alat deteksi dini, perihal kelangsungan pelestarian benda cagar budaya di Indonesia. Karena bila terwujud pendokumentasian tersebut, publik dapat mengetahui dan menjaga pelestarian dari benda cagar budaya yang dilindungi oleh Negara. Fungsi database dapat memberikan suguhan informasi, berapa jumlah benda cagar budaya yang dimiliki seperti Gedung, Benteng, Rumah, Masjid, Gereja, Vihara, Pusaka dan lain sebagainya. Dengan adanya informasi keberadaan artefak sejarah ini, penghancuran dan pencurian dapat maksimal dihindari.&lt;br /&gt;Pendokumentasian mempunyai peran ganda di satu sisi dapat menjadi alat kontrol, disisi lain merupakan alat sosialisasi dari Undang-Undang tentang Benda Cagar Budaya yang murah dan efektif kepada warga Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda Cagar Budaya dan Keamanan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan panjang Vasco da Gama (1497-1499) mencapai India melalui Tanjung Harapan telah berhasil gilang gemilang, dari keberhasilan ini maka terbuka lebar pintu masuk pelayaran bangsa Eropa ke Asia. Setelah Tanjung Harapan ditundukkan, kini giliran Melaka dikuasai Portugal (1511).&lt;br /&gt;Di dalam kurun waktu 11 tahun tepatnya pada tahun 1522 ekspedisi Ferdinand Magellan dari Spanyol berhasil mencapai Maluku, selisih waktu 57 tahun (1522-1579) Francis Drake dari Inggris datang menyusul ke kewilayah 'surga rempah-rempah' Maluku. Berawal dari rempah-rempah nafsu serakah untuk menguasai dalam wajah kolonialisme tertancap di bumi Maluku, gesekan kepentingan untuk saling menguasai antara Portugal dan Spanyol di Maluku pada abad XVI tidak dapat terhindarkan. Maka keluar perjanjian Tordesillas (1494) dan menyusul perjanjian Saragossa (1527) antara Spanyol dan Portugal. Hal hasil dari perjanjian tersebut Portugal dapat menguasai Maluku.&lt;br /&gt;Kilasan sejarah tersebut merupakan 'rekam jejak' kolonialisme pertama kali hadir di bumi jamrud khatulistiwa, taktik dan strategi kolonial di dalam melakukan infiltrasi sampai menuju invasi dapat ketahui. Fakta penjajahan dapat ditelusuri melalui artefak seperti Benteng Victoria (1605) yang dibangun Portugal di Maluku, berfungsi sebagai benteng pertahanan. Juga Benteng Oranje (1607) di Ternate yang dibangun oleh Cornelis Matelief de Jonge (Belanda). Benteng ini pernah dijadikan pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda (Gubernur Jenderal) Pieter Both, Herald Reynst, Laurenz Reaal, dan Jan Pieterszoon Coen.&lt;br /&gt;Dari Benteng pertahanan sampai rute perjalanan alur laut kolonial memasuki Nusantara, sebagaimana diketemukannya beberapa artefak kapal laut kolonial yang karam di dasar laut. Dan legitimasi Mahkamah Internasional tentang batas kedaulatan wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI), mengacu pada peninggalan tanah jajahan Belanda. Dengan demikian 'patok batas' secara fisik peninggalan Belanda, kedepan menjadi sesuatu yang vital di dalam pembuktian wilayah kedaulatan Negara.&lt;br /&gt;Walaupun bukan konteks benda cagar budaya, tetapi masih dalam 'satu tarikan nafas' peristiwa dikuasainya Pulau Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia, karena lemahnya bukti otentik di Mahkamah Internasional. Merupakan pertanda urgensinya fisik bangunan dalam wilayah hukum Internasional. Serta perluasan pembangunan fisik didaratan Singapura melalui 'pasir laut', hampir saja mencaplok kedaulatan Indonesia khususnya pulau Nipa dan pulau lainnya disekitar wilayah propinsi kepulauan Riau. Satu lagi peristiwa penghancuran taman didepan stasiun Beos kota, dimana wilayah itu merupakan 'ring satu' zona benda cagar budaya. Kepentingan bisnis lebih penting daripada keamanan. Pembangunan shelter busway dan terowongan untuk pedestrian mengakibatkan dampak buruk bagi bangunan tua disekitarnya. Tercatat sedikitnya empat bangunan tua yang langsung terkena dampak negative yang diakibatkan dewatering saat pembangunan terowongan tersebut, keseimbangan air tanah disekitar lokasi terganggu. Dan keempat bangunan tua mengalami penurunan pondasi, dan dampak negatif apa yang akan tercipta kedepan? Tidak ada yang dapat mengatahui dan diperlukan kajian mendalam. Sampai saat ini kejelasan tentang barang sitaan Negara dari hasil penangkapan eksplorasi kapal VOC yang karam secara illegal, berapa jumlah dan nilai harta karun tersebut dan disimpan dimana masih dalam misteri.&lt;br /&gt;Saksi bisu benda cagar budaya ternyata faktual dapat 'berbunyi' dan berkata jujur tanpa ada rekayasa maupun kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelijen Benda Cagar Budaya (Heritage Intelligence)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cegah tangkal di dalam pelestarian benda cagar budaya sudah waktunya diperkuat, perhitungan secara matematis tentang kekayaan 'adi luhung' bangsa Indonesia belum dapat direalisasikan. Kemampuan IPTEK di dalam kalkulasi sumber daya alam (SDA) kekayaan laut sudah dapat dihandalkan di negri kepulauan ini, padahal dahulu sebelum teori tersebut ada masih merupakan sesuatu yang 'ghaib' diwilayah alam bawah sadar. Sosok manusia dapat terbang Gatot Kaca yang hanya ada dalam cerita pewayangan, tersentak bahwa cerita itu bukan mitos melainkan teknos dengan kemampuan di dalam rekayasa teknologi kapal terbang (Dirgantara Indonesia).&lt;br /&gt;Eksistensi heritage intelligence di dalam melakukan penelitian dan pendokumentasian, serta dapat juga melakukan 'audit' benda cagar budaya, merupakan pemecah dari kebekuan dan kerapuhan mengatasi permasalahan benda cagar budaya. Generasi kedepan perlu diberikan 'menu' visualitas bukan virtualitas. Melalaui intelijen benda cagar budaya sesuatu yang absurd menjadi rasional, investigasi tapak tilas untuk dapat mengumpulkan kembali serpihan sejarah yang tercecer dan hilang. Seperti analogi menjahit pakaian yang sudah usang termakan jaman, memerlukan sentuhan ketekunan penjahit handal. Semoga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamulang, 18 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12924495-7041378565253018799?l=intelindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intelindonesia.blogspot.com/fe
