Akuntabilitas Intelijen » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, May 22, 2005

Akuntabilitas Intelijen

Bagaimana mengukur akuntabilitas intelijen dan kepada siapa intelijen harus akuntabel?

Dua pertanyaan tersebut menjadi sangat penting karena berkaitan dengan masalah kepercayaan seluruh komponen bangsa terhadap kinerja intelijen. Reformasi nasional Indonesia yang ditandai oleh demokratisasi, rasionalisasi, serta berbagai perbaikan disegala bidang tentunya juga menuntut dunia intelijen untuk berbenah diri.

Akuntabilitas kerja seorang wakil rakyat di DPR akan dengan mudah dirunut ke dalam proses pemilihan umum dan pertanggungjawaban dirinya kepada konstituen yang telah memilihnya. Akuntabilitas seorang presiden Indonesia sejak pemilu langsung semakin jelas dan mudah dipahami. Bila seorang presiden tidak lagi dikehendaki rakyat akan dengan mudah diganti melalui mekanisme pemilu.

Lalu bagaimana dengan intelijen, khususnya mereka para intel yang tidak melalui proses pemilu, tidak bisa diawasi publik dan tidak pula memiliki kewajiban untuk membocorkan rahasia negara kepada publik?

Sesungguhnya jawabannya sangat sederhana dan melekat pada diri seorang intel, yaitu NORMA PROFESIONAL INTELIJEN. Sebagaimana juga seorang dokter dengan etika kedokterannya, seorang intel juga terikat dengan norma profesional intelijen. Keterikatan seorang intel kepada norma profesinya tidak dapat dilecehkan oleh kekuatan-kekuatan politik.

Intelijen memiliki dunianya sendiri dan tanggungjawabnya sendiri, bukan hanya kepada pemerintah dan rakyat yang mana intelijen hanyalah abdi negara dan bangsa, melainkan juga kepada hati nuraninya dan Tuhannya. Mimpi buruk seorang intel yang harus menanggung kesalahan, dosa, atau kekeliruan sampai kematian menjemputnya adalah suatu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh profesi-profesi lainnya.

Pekerjaan "kotor" yang seringkali dilekatkan dalam profesi intelijen juga harus ditanggung dalam kekosongan kepentingan pribadi. Korupsi terbesar seorang intel bukan pada nafsu duniawi kepada uang melainkan korupsi kepada kejujuran hatinya yang harus digerogoti oleh kepura-puraan demi negara dan bangsa.

Lalu mengapa seseorang mau menanggung hidup yang tidak enak tersebut, tentu jawabnya ada di lubuk hati masing-masing. Tentu tidak banyak intel yang mematut dirinya dengan norma profesi intelijen. Terlalu banyak mulut-mulut bocor, terlalu banyak penghianat di dalam tubuh organisasi intelijen, terlalu banyak yang bermental busuk, terlalu banyak yang tumpul otaknya, terlalu banyak yang buruk teknik operasinya, dan akhirnya pembusukkan organisasi terjadi secara pasti.

bersambung......
Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters