Duka Cita Para Intel » INTELIJEN INDONESIA

Monday, May 16, 2005

Duka Cita Para Intel

Kematian Munir pada 7 September 2004 tidak hanya menyedihkan bagi kalangan pejuang HAM Indonesia melainkan juga menyedihkan bagi komunitas intelijen Indonesia.

Intelijen telah sekian lama terpuruk...terperosok ke dalam kubangan lumpur Orde Baru hanya karena menjadi mata telinga bagi sebuah mekanisme penindasan rakyat.

Intelijen sipil telah sekian lama disunat oleh kekuatan doktrin dan praktek militer untuk mengikuti jalur komando dalam melaksanakan tugasnya.

Akibatnya intelijen dimanapun engkau berada harus menanggung malu, dosa dan terpinggirkan dari pergaulan normal masyarakat Indonesia.

Bila tidak memicingkan sebelah mata, rakyat akan mencibirkan mulutnya karena intelijen telah menjadi impoten lahir dan bathin.

Lahiriahnya intelijen telah direduksi oleh kekuatan polisionil yang disahkan oleh undang-undang kepolisian. Lebih lanjut bahkan tidak ada kekuatan hukum apapun yang bisa melindungi kegiatan intelijen, artinya bila anda menjadi anggota intelijen anda harus siap mati bagaikan anjing kurap yang akan membusuk dipinggir jalan.

Bathiniahnya intelijen telah dibungkus oleh pragmatisme politik eksekutif negara dan telah dibingkai oleh citra yang "keliru" yang terus menerus diberitakan oleh media massa. Rakyat semakin benci dengan dunia intelijen yang cenderung digambarkan dengan sebagai bagian dari "kejahatan politik" para penguasa.

Di era keterbukaan dan demokrasi Indonesia, intelijen semakin ciut nyalinya karena semakin banyak orang yang tahu kelemahan-kelemahannya. Khususnya dalam hal landasan hukum yang seharusnya menjiwai pelaksanaan tugas seorang intel.

Kasus Munir jelas memojokkan intelijen, khususnya Badan Intelijen Negara (BIN) yang sebenarnya baru dilahirkan kembali sejalan dengan semangat demokrasi, transparansi, profesionalisme dan penegakan hukum.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan.... pemberitaan tentang kematian seorang manusia bernama Munir terus bergulir mengarah pada pencitraan "negatif" terhadap institusi yang bernama BIN.

Tak kurang dari pejabat dan mantan pejabat eselon 1 & 2 BIN menjadi pesakitan diseret ke hadapan sebuah Tim yang sangat Politis dan juga ke hadapan bagian reserse dan kriminal Kepolisian.

Demi pengungkapan misteri kematian satu orang yang kebetulan secara profesional terangkat menjadi tokoh yang lumayan dikenal khalayak, maka sorotan terhadap institusi BIN semakin menjadi-jadi.

Inilah yang saya nyatakan sebagai duka cita yang mendalam bagi para intel yang harus menanggung kegelisahan karena praduga bersalah yang terus-menerus dicecarkan. Pembentukkan opini publik yang terus-menerus mengalir dalam bentuk penyelidikan dan penyidikan ke dalam organisasi BIN adalah jelas sangat aneh bagi seorang pelaksana setingkat eksekutor misalnya.

Para intel tentu sudah siap menerima segala konsekuensi dari pekerjaanya karena semua anggota intelijen sudah menandatangani kontrak kematian sebagai anjing kurap pemerintah yang harus bersedia dimatikan bila pemerintah menghendaki. Para intel telah meletakan Hak Asasi dirinya demi negara dan bangsa yang secara ideal telah didoktrinkan pada dirinya, tidak akan pernah ada pembela HAM peduli dengan fakta ini.

Langkah-langkah apapun yang akan diambil oleh aparat penegak hukum bersama Tim Pencari Fakta (TPF) Munir dalam menyelesaikan atau mengungkap kasus kematian Munir akan menjadi taruhan bagi masa depan Indonesia, yang berarti juga masa depan penegakan HAM, masa depan penegakkan hukum, dan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah masa depan keberlangsungan organisasi intelijen.
Comments:
pengorbanan anggota besar sekali. bisa dikatakan bahwa anggota BIN dianggap tidak memiliki identitas (mati). Intelijen yang efektif akan membuahkan hasil yang masksimal. semaksimal apapun hasilnya masyarakat tetap akan menilai bahwa intelijen kita mandul
 
pengorbanan anggota intelijen besar sekali. bisa dikatakan bahwa anggota BIN dianggap tidak memiliki identitas (mati). Intelijen yang efektif akan membuahkan hasil yang masksimal. semaksimal apapun hasilnya masyarakat tetap akan menilai bahwa intelijen kita mandul
 
agen asing begitu banyaknya yg bermain di negeri ini. intelijen kit a malah semakin rapuh. sebagai negara yg berdaulat, kita mesti meningkatkan system pertahanan kita mulai dr bawah sampai atas. dan jangan segan2 utk bersikap keras thd permainan utk melemahkan kekuatan kita.

-ksatrio-
 
2 hal yang perlu dicermati mengapa Munir harus "diistirahatkan" :
1. Kabar burung bahwa Munir hendak membocorkan rahasia negara sehingga harus "dicegah". Jika harus dicegah oleh internal kita sangat disayangkan bahwa operasi tsb dikategorikan GAGAL karena terlontar isu tak sedap di di kalangan masyarakat umum melalui media,hal ini menggambarkan pelaksanaan operasi tidak direncanakan lebih rinci hingga hal2 terkecil.

2.sebagai dari bagian dari Grand Design penghancuran Indonesia,bisa jadi kematian Munir dilakukan pihak luar dengan memancing munir keluar & dihabisi oleh internal ataupun pihak luar tetapi "dikondisikan" sebagai operasi internal. Dengan demikian Indonesia lebih mudah di atur secara diplomatik.
 
Hmmm, bagaimana intelijen mau bermain kalau rakyatnya tega menjual bangsanya cuma demi uang ?
Sekedar perasaan saya ataukah intelijen kalah oleh media massa ?
 
Sekedar tanggapan atas tulisan anda mengenai kasus munir. Saya sangat salut dengan tulisan-tulisan anda karena mampu memaparkan sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya diketahui awam atau public. Secara obyektif dan tanpa tendensi apapun, saya ingin mempertanyakan argument anda bahwa kasus munir ini seolah-olah menyudutkan Intelijen Indonesia. Ada benarnya juga argument anda bahwa kasus ini hanya dipolitisir atau dibesar-besarkan dan kebetulan saat ini BIN yang menjadi sorotan karena kemungkinan terlibat. Namun yang menjadi pertanyaan bagi saya seorang awam dan rakyat biasa adalah apakah pihak BIN sendiri tidak melakukan resistensi terhadap tuduhan tersebut? Toh,kalaupun BIN tidak merasa bersalah, kenapa tidak berusaha untuk mencari KEBENARAN atas kasus munir. Misalnya dengan mencari fakta-fakta sebenarnya yang mungkin akan membantu mengungkap pembunuhan Munir. Saya setuju bahwa kasus ini lebih pada penguatan opini public bahwa BIN dicurigai terlibat. Namun justru itulah, seharusnya BIN juga melakukan “perang “ melalui opini public bahwa mereka tidak bersalah dan bahwa ada scenario politis besar dibalik kasus Munir.

Dengan kapasitas BIN sebagai badan Intelijen dan anda sebagai anggota intelijen, saya pikir bukan perkara yang sukar untuk melakukan penciptaan opini publik bahwa BIN tidak bersalah, tentunya berdasarkan data-data dan fakta pendukung bahwa BIN memang tidak bersalah. Ataukah , dengan dalih bahwa BIN sudah siap melayani pemerintah sehingga karena ada perintah atasan atau pemerintah maka BIN hanya diam saja mengikuti scenario besar tersebut? Saya yakin bahwa BIN adalah sebuah lembaga yang sangat penting bagi keberlangsungan bangsa Indonesia dan memiliki nasionalisme yang besar. Karena itu BIN harus mampu dan berani mengungkap kebenaran dari kasus Munir, meskipun ada permainan potik yang sangat besar dan melibatkan banyak pihak-pihak yang berkepentingan. BIN tidak boleh takut mengungkap kasus tsb atas nama KEBENARAN untuk public, meskipun harus melawan atasannya yaitu Pemerintah, karena yang dibutuhkan rakyat adalah kebenaran dan kejelasan dari kasus tersebut. Dan bukankah pemerintah itu atasannya adalah Rakyat? Jadi cukup logis dan kuat bahwa dengan mengikuti perintah atasan yaitu Rakyat, maka adalah benar apabila BIN dengan segala kapasitas dan kemampuannya akan mengungkap kasus Munir setuntas-tuntasnya sekaligus menjadi sebuah pembenaran bahwa opini public akan keterlibatan BIN saat ini adalah salah besar.
 
selama lembaga intelijen di indonesia masih dibawah "tekanan" dari pihak2 yg memiliki tujuan tertentu..maka selama itu pula intelijen bukanlah milik negara, melainkan intelijen tersebut adalah MILIK SEGELINTIR ORANG!!!!
hilang tidak dicari...
mati tidak diakui...
berhasil tidak dipuji...
gagal dicaci maki...
 
Satu yang harus diperhatikan dan dijadikan dasar kinerja adalah..fokus,..kail yang kita lepas bukan untuk ikan yang mengumpan,..namun lebih dari itu adalah pelempar kail "lainnya" yg berada di sekitar kita..
 
hilang tidak dicari..
mati tidak diakui..
berhasil tidak dipuji..
gagal dicaci maki..
 
Jika Negara menugaskanku.....
maka Nyawa yang jadi senjataku...
kami siap Mati untuk Negara ....
(me...somewhere)
 
Seandainya bisa melamar menjadi BIN dgn usia 30 thn ini
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters