AM Hendropriyono versus TPF Munir » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, June 02, 2005

AM Hendropriyono versus TPF Munir

Jenderal (purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono adalah mantan kepala BIN sekaligus tokoh nasional kontroversial yang telah banyak dilukiskan media massa sebagai tokoh yang begini dan tokoh yang begitu. Dihormati kolega karena keberanian dan prinsipnya, disegani lawan di medan pertempuran karena strateginya, ditakuti musuhnya karena keprofesionalannya di bidang militer, dicintai anak buah karena kedekatannya dan kehangatan pribadinya, dibenci musuh politik karena kelihaian dan arogansinya.

TPF Munir adalah sebuah Tim bentukkan presiden yang didesak oleh gerakan aktivis, karena Munir Sarjana Hukum adalah salah satu aktivis yang tewas secara misterius. Ketakutan terulangnya peristiwa tewasnya aktivis lain membuat hampir seluruh aktivis HAM memiliki kepentingan yang sama, yaitu membongkar misteri tersebut.

Di sisi lain ada rakyat Indonesia yang menjadi saksi polemik di media massa. Ada juga pemerintah dengan aparatur penegak hukumnya yang juga menyaksikan polemik tersebut sekaligus berada di dalam proses pengungkapan kasus Munir SH.

Dalam kasus ini biarkan saya berposisi sebagai rakyat biasa yang kebetulan rajin mengamati perkembangan berita nasional Indonesia:

1. Sejak awal kematian Munir SH sudah ada desas-desus keterkaitan BIN, yaitu yang disebar oleh seorang atau beberapa "oknum" kepada sejumlah aktivis dan wartawan melalui telepon genggam. Berawal dari desas-desus itu muncul ide pembentukkan TPF Munir dari kalangan aktivis karena diyakini Polisi tidak akan mencapai hasil maksimal.

2. Pemerintahan Yudhoyono yang baru dan memerlukan simpati segera merespon harapan para aktivis tersebut. Dalam posisi ini terjadi simbiosis mutualisme antara gerakan aktivis dan pemerintah. Dibentuklah TPF Munir dengan terjadinya beberapa penolakan dari sejumlah aktivis untuk duduk di dalamnya karena selain tidak yakin juga memperhitungkan "resiko" pribadi berupa kegagalan total.

3. Proses penyelidikan yang telah diwarnai "dugaan" berdasarkan informasi awal segera dimanfaatkan TPF yang dipimpin Jenderal Polisi berbintang satu untuk mengarahkan penyelidikan pada kemungkinan terlibatnya BIN. Secara perlahan satu-persatu langkah penyelidikan mencapai "keberhasilan" dengan puncaknya penetapan tersangka.

4. Karena tujuannya memang membidik BIN dan sejumlah mantan pimpinannya, maka TPF Munir tidak puas dengan penetapan tersangka itu oleh Kepolisian. Akhirnya berdasarkan "kekuatan" dukungan politik dari presiden dan "keberanian", beberapa anggota TPF berinisiatif melacak lebih jauh.

5. Kemudian terjadi lagi desas-desus dari seorang atau beberapa "oknum" yang menceritakan pernah melihat surat tugas yang mengaitkan Pollycarpus dengan BIN. Terjadilah proses tarik menarik TPF Munir dan BIN yang membuat mantan Sekretaris Utama BIN bolak-balik ke diinterogasi TPF dan Polisi. Dilanjutkan dengan sejumlah mantan petinggi BIN lainnya seperti Kepala Biro BIN dan mantan Deputi V BIN, bahkan "hebatnya" TPF Munir sampai bisa melacak jalur telepon yang konon pernah tercatat menghubungkan mantan Deputi V BIN dengan tersangka Sdr. Pollycarpus. Belakangan pejabat tinggi aktif BIN turut diinterogasi.

6. Dibayang-bayangi oleh kemungkinan gagal karena tidak bisa membuktikan desas-desus surat tugas Pollycarpus dengan "memaksa" mantan petinggi BIN dan petinggi BIN, TPF mengembangkan opini negatif tentang BIN dan mantan petingginya bahkan juga menuduh Ketua BIN sekarang tidak kooperatif. Dalam jalur yang lain telah dipersiapkan langkah-langkah membuat kasus Munir sebagai kasus HAM internasional.

7. Karena dikait-kaitkan terus dalam sejumlah pemberitaan media massa, akhirnya Jenderal (purn) AM Hendropriyono menjadi gerah dan mengambil langkah hukum demi membela nama baiknya yang sudah lama digerogoti oleh proses yang biasa disebut pembunuhan karakter seseorang.

8. Polemik-pun berkelanjutan. Para aktivis mengupayakan konsolidasi kekuatan dan mencari dukungan dengan jalur khusus kepada Komnas HAM untuk lebih serius dalam kasus Talangsari. Kemudian sejumlah LSM pun melakukan aksi kecaman terhadap Jenderal (purn) AM Hendropriyono.

9. Persoalan ini bila kita coba lihat dari kacamata rakyat jelata jelas "TIDAK PENTING", karena rakyat biasa tidak akan pernah bisa melihat dari kacamata Elit Aristokratis para aktivis yang akhirnya terjebak dari idealisme ideologi menjadi kepentingan individualistik. Rakyat biasa juga tidak akan pernah bisa melihat dari kacamata seorang Elit Politik para petinggi dan mantan petinggi BIN. Rakyat jelata juga tidak akan bisa melihat dari kacamata Elit Eksekutif Presiden Indonesia.

10. Meskipun demikian, rakyat biasa seperti Ibu Suciwati istri Munir SH adalah pihak pertama yang merasakan kesedihan luar biasa karena kehilangan suami sekaligus penopang hidupnya. Dari kacamata Suciwati tentu saja pengungkapan kasus Munir menjadi "PENTING", demi keadilan dan demi kepuasan (ketentraman) bathin tentunya. Pentingnya terletak pada sisi kemanusiaan atas suatu peristiwa pidana "biasa" yang menimpa suaminya.

11. Namun bagi para aktivis letak pentingnya adalah terletak pada kemenangan Elit Aristokrat Aktivis yang jauh dari kejelataan, dan kemenangan aktivis atas dominasi negara yang "mungkin" dianggap mempraktekan kekerasan. Posisi aktivis akan semakin kuat pasca kasus Munir bila memang keberuntungan berpihak padanya. Bahkan bisa menjadi sebuah despotisme baru, dimana penguasaan opini publik dan justifikasi gerakan politik menjadi senjata ampuh dalam mendikte tata sosial masyarakat Indonesia.

12. Tidaklah mengherankan bila resistensi terjadi justru dari dalam tubuh pemerintah sendiri. Karena pemerintah tidak akan sanggup menanggung kehancuran kredibilitas intelijen, terkecuali dengan cara melikuidasi dan membentuk organisasi baru. Bilapun ini dilakukan, entah apa yang akan terjadi sulit untuk diprediksikan ke depan.

13. Yang akan paling mengerikan adalah apabila desas-desus yang dipercayai oleh sejumlah anggota TPF ternyata bagian dari permainan besar yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah bisa dibawa ke hadapan hukum. Inilah faktor utama yang membuat Polisi jauh lebih hati-hati, karena segala bukti yang tidak bisa menjadi barang bukti di pengadilan adalah sia-sia.
Comments:
Sangat disayangkan bahwa kemungkinan besar, bahkan tidak ada satupun aparat intelijen RI yg membaca ulasan Saudara. Padahal sangat menarik sekali. Setujukah Saudara bahwa suatu core intelijen unit yg bergerak independen dgn otorisasi luas (semacam intel elit) dapat membantu proses intel RI (paling tidak dalam jangka pendek)?
 
Intel Elit adalah model yang biasa dibentuk oleh eksekutif negara (Presiden/PM)yang tidak lagi bisa mengandalkan struktur intelijen yang sudah ada. Persoalannya bukan pada independensi atau otorisasi/wewenang, melainkan pada kemampuan adaptasi pada "lingkungan reformasi" yang menuntut redefinisi intelijen baik secara operasional maupun kekuatan analisanya.
Jangan lupa pula dengan kecenderungan power/kekuasaan pada korupsi. Singkatnya, sekarang sulit untuk menggagas Core Intelijen Unit tanpa ada transparansi politik yang bisa dipertanggungjawabkan minimal ke hadapan Dewan Legislatif.
 
tambah parah aja , sekarang ada rekaman baru lagi , pembicaraan pollycarpus dengan Indra setiawan yang menyeret banyak nama
 
Benar-benar memuakkan, demi membela bangsa dan negara, darah dan nyawa harus dikorbankan...Jika hanya satu nyawa diributkan bagaimana dengan nyawa kawan2 yang harus mati tanpa keluarganya tahu karena penugasan rahasia... Bagaimana jadinya jika Indonesia mulai direcoki dengan antek-antek asing berkedok anti kekerasan dan orang hilang...bagaimana kekerasan yang dirasakan anak2 kami yang terlahir sebagai anak-anak INTELIJEN INDONESIA!!!!..mereka tidak kenal utuh bapaknya..tidak bangga dengan bapaknya....Jika memang mau jadi aktivis jangan RAGU untuk mengatakan AKU SIAP MATI DEMI KEYAKINANKU DAN SIAP UNTUK TIDAK MENUNTUT SIAPAPUN...mati adalah resiko...demikian halnya dengan kami yang mati demi membela negeri ini.... HIDUP HANTU NASIONALIS Republik Indonesia..JAYA di DARAT, LAUT, UDARA dan BAWAH TANAH!!!!!
 
tidak ada yang memuakkan demi membela bangsa dan negara,satu nyawa diributkan agar enggak terjadi peghilangan nyawa - nyawa yg lain ingatlah kalian para intel kalian hidup dari uang keringat kami ,pajak yg kami bayar dan masih banyak yg lainya. jangan omong masalah nyawa kawan2 kalian karna itu adalah kewajiban kalian lantas kenapa kalian daftar jadi intel???????!!!!! bukankah itu omongan seorang pengecut yg merusak negri ini lebih baik anda mundur dari jabatanmu dari pada menjadi hipokrit dan benalu , jauh sebelum ada militer atau intel kami rakyat telah berperang membela negri ini dengan darah kami,kalian adalah penerus tangan kami maka kerjalah dengan baik karana suara rakyat suara kuasa negri ini,tak ada namanya hantu nasionalis yg ada mungkin anda hantunya!!!!!!!!
 
Mas Anonim di atas ini ngomong: kami, rakyat jauh sebelum ada militer/intel telah berjuang, bla..bla..

Pertanyaannya:udah lahir? owh tua amatttt. Leluhurnya kali yg berjuang. jaman dulu jg ada militer cuy, beda sebutan doang. PETA, TKR, BKR dll.

"Satu nyawa diributkan biar tdk terjadi penghilangan nyawa2 lain"


Ini yg saya nggak suka mindset aktivis: punya keyakinan, berani bilang bla2, berani ciptakan makar, provokasi masyarakat akan sesuatu, kemungkinan terburuk bisa beujung demo anarkis, people power/pemberontakan, tapi tidak berani mati membela keyakinan tersebut.

Intel dan Militer bukan pengecut, setidaknya mereka rela mati demi 1 hal:NKRI harga mati. Membela kedaulatan negara di perbatasan emg resikonya bukan nyawa?
yg harus diberesin itu intel/militer yg luntang-lantung ga jelas kerjanya.

Dipikir Intel dan militer yg mati menjalankan tugas nggak punya keluarga apa?

Mereka juga manusia, Bos.

Silahkan hujat intel dan TNI, tapi kalo darurat perang, maju sendiri angkat senjata ya. Jangan teriak-teriak minta perlindungan sebagai warga sipil.


NB: Saya juga sipil padahal. Haha
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters