Bom dan Intelijen » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, June 02, 2005

Bom dan Intelijen

Setiap ada peristiwa teror bom, perintah eksekutif negara dengan serta-merta mengarah pada kalangan intelijen. Entah itu intelijen polisi, militer, maupun intelijen sipil seperti BIN.

Kasus terakhir di Tentena (28/5) amat sangat menjengkelkan dari sudut padang kemanusiaan maupun ketentraman sosial masyarakat yang tertimpa teror. Lebih luas, hal itu juga menimbulkan simpati nasional dimana rakyat Indonesia secara umum ikut "merasa" menderita karena ancaman bom itu bisa terjadi lagi di mana saja.

Lalu apa yang sudah dan sedang dikerjakan kalangan intelijen? mengapa seperti tidak ada henti-hentinya?

Bandingkan misalnya dengan masa pemerintahan represif Orde Baru, peristiwa bom paling terkenal mungkin kasus bom BCA dan Borobudur ditambah pembajakan pesawat yang terkenal dengan peristiwa Woyla. Tidak pernah ada atau tidak pernah diberitakan kasus teror bom yang banyak mengambil nyawa orang sipil yang tidak bersalah dan tidak berkepentingan. Tapi di era reformasi ini entah berapa total nyawa yang direnggut oleh aksi keji tersebut.

Jawabnya sangat singkat, intelijen saya pastikan tidak bekerja optimal. Prinsip kerja 7 hari 24 jam sudah berubah menjadi kemalasan. Semangat patriotisme dan pengorbanan digerogoti oleh keengganan. Etos disiplin telah tergelincir menjadi kecerobohan dalam operasi. Harga diri yang berangkat dari profesionalisme dan pengabdian telah terbakar oleh penghinaan publik yang bertubi-tubi. Landasan kerja yang pada era Orde Baru dijamin oleh UU Subversi dan dukungan politik telah diberangus oleh ketamakan konsep individualistik atas nama hak asasi manusia.

Praktis Intelijen Indonesia sudah dimandulkan oleh ibu kandungnya sendiri yaitu negara dan rakyat Indonesia. Lantas, berapa harga yang harus dibayar.... yah kira-kira sebesar bom demi bom yang akan terus membayangi setiap penjuru tanah air Indonesia.

Mungkin akan ada pihak yang menuduh balik, intelijen khususnya intelijen militer yang jelas punya akses terbaik soal bom menjadi genit dan berupaya menarik perhatian publik dengan mendalangi sejumlah kasus bom itu. Jawabnya adalah pertanyaan singkat atas inisiatif dan perintah siapa? apakah petinggi intelijen atau petinggi militer atau mantan pembina paramiliter? Saya yakini bukan semua itu, karena fakta bicara bahwa periode represif Orba adalah masa subur puluhan atau bahkan ratusan gerakan bawah tanah anti pemerintah, sedangkan era reformasi adalah masa subur mempraktekan berbagai metode perlawanan. Hal ini hanya karena intelijen sudah dilumpuhkan secara sistematis oleh ibu kandungnya sendiri.

Terjadinya penurunan drastis dari moral anggota intelijen berdasarkan pengamatan dari dalam maupun dari luar telah terjadi sejak tahun 1990-an. Diawali dengan pembusukan organisasi melalui hilangnya prinsip koreksi diri dan loyalitas pada "tokoh" yang memimpin intelijen, sampai terbentuknya klik nepotisme yang menggurita. Anggota intelijen, khususnya mereka yang benar-benar profesional melalui pendidikan dan pelatihan di dalam negeri maupun di luar negeri (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Israel, dll) dan telah berprestasi dalam berbagai operasi dengan induk organisasi BIA/BAIS dan BAKIN/BIN menjadi sangat frustasi dengan pembelengguan individu profesional ke dalam busuknya politisasi badan intelijen oleh penguasa.

Ketika penguasa mengalami gunjang-ganjing reformasi, tidak ada satupun pemimpin nasional yang menganggap penting intelijen. Tidak ada yang berani mengungkapkan kerusakan permanen yang terjadi dalam mekanisme kerja maupun organisasi intelijen. Seorang Gus Dur bahkan pernah berniat melikuidasi salah satu badan intelijen. Mungkin semua elemen civil society yang salah satunya bisa dipresentasikan dengan LSM membenci intelijen.

Kembali pada esensi pembahasan tulisan ini, saya hanya mengingatkan salah satu aspek yang menyebabkan lemahnya mekanisme pengamanan nasional, khususnya dari sisi peringatan dini dan pencegahan adalah pada terabaikannya organisasi yang sangat vital dalam menjaga dan menjamin ketentraman dan keselamatan rakyat, bangsa dan negara Indonesia, yaitu intelijen.
Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters