Omega Operation (Lanjutan Core Intelijen Unit) » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, June 09, 2005

Omega Operation (Lanjutan Core Intelijen Unit)

Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas dukungan moril dari seorang saudara Observer, setidaknya demikianlah yang saya rasakan.

Setelah masuknya beberapa e-mail yang bernada "keras" dan salah satunya bisa saya kenali, sebenarnya saya agak ragu untuk melanjutkan proses tulis-menulis dunia maya ini. Tetapi saya pikir harus ada yang melakukannya. Seperti para pembaca bisa lihat dalam blog ini, saya berusaha meng-upload sesuai dengan periode masa, sedikit demi sedikit kumpulan tulisan yang merupakan diary yg tercerai berai dalam kumpulan dokumen pribadi sejak era 1980-an dan saya kompilasikan pada tahun 1990-an ditambah curhat kontemporer era 2000-an. Tentu kedalaman analisa juga "tidak mungkin" dibeberkan karena akan segera dikenali oleh elit petinggi intelijen yang pernah aktif atau masih aktif.

Melanjutkan soal Core Intelijen Unit, saya setuju bahwa ada landasan idealis nan mulia yaitu Integritas Nasional. Landasan ini masih relevan untuk tetap dijadikan acuan dalam pembentukkan sebuah Core Intelijen Unit. Hanya saja saya meragukan keberlangsungan unit tersebut karena akan berganti-ganti dari satu presiden ke presiden berikutnya, yang lebih penting lagi adalah unit ini bekerja cenderung untuk kepentingan "pribadi" presiden dan bukan untuk keselamatan bangsa dan negara.


Sebagai contoh "Omega" dan yang sejenisnya.

Saya akui bahwa kinerja dan gebrakan Omega (saya baru tahu kalo OTB ini namanya Omega) bisa dinilai di atas rata-rata. Kredibilitas pimpinan unit yang berada disamping presiden dan "orang-orang pilihan" dengan biaya operasi unit kerja diatas biaya operasi unit kerja yang formal adalah faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan Omega. Itulah sebabnya mereka tidak perlu cari "duit tambahan".

Meski demikian, hal ini bukan berarti intelijen formal, khususnya orang-orang (agen) BIN dan BAIS tidak mengerti. Mereka hanya tutup mata dan membiarkan prosedur operasi di luar struktur itu berjalan. Beberapa senior intelijen saya dengar "agak" gusar dan kecewa dengan pilihan presiden mempercayai model operasi ini.

Menurut saya bentuk Core Intelijen Unit yang paling berhasil dalam sejarah intelijen Indonesia adalah model Opsus-nya Almarhum Ali Murtopo. Kata-kata beliau yang tidak akan terlupakan adalah our budget limit is the sky, bisa anda bayangkan pengaruhnya waktu itu. Peringkat Core Intelijen Unit berikutnya mungkin Death Squad-nya Leonardus Benyamin Moerdani. Dengan sepengetahuan pimpinan intelijen dan presiden, kedua model Core Intelijen Unit tersebut mencatat prestasi luar biasa dalam menjaga integritas nasional, dengan kata lain mengamankan kepemimpinan mantan presiden Suharto. Hebatnya sampai sekarang tak ada satupun kasus Opsus maupun Death Squad yang bisa atau mungkin untuk diungkapkan di depan hukum.

Ketika saudara observer menyebutkan soal deep operation, deep operator dan prinsip intelligence maupun soal the first and the last line of defence, saya jadi ingat kisah mantan-mantan agen BPI (Badan Pusat Intelijen) yang melakukan semua itu diluar struktur operasi BPI, khususnya mereka yang berperan sebagai deep operators, namun kemudian harus menanggung penderitaan akibat ikut dituduh komunis, entah baru berapa orang yang direhabilitasi dan diberikan penghargaan yang layak.

Secara pribadi saya kurang setuju bila keberadaan Core Intelijen Unit hanya akan mengulangi sejarah kelam sekaligus gemilang intelijen Indonesia. Pada akhirnya mereka yang berada dalam Core Intelijen Unit adalah orang-orang intel pilihan atau orang-orang yang mengerti dan punya kemampuan intel yang memadai. Hampir tidak ada bedanya dengan keberadaan orang-orang intel dalam lembaga intelijen formal. Malahan akan menimbulkan kecemburuan dan friksi dalam operasi, saingan dan hebat-hebatan.

Untuk jangka pendek, keberadaan Core Intelijen Unit mungkin cukup efektif. Namun untuk jangka panjang akan lebih baik bila revitalisasi organisasi intelijen melalui penataan hukum dan profesionalisme organisasi menjadi agenda utama.
Comments:
Seklai lagi, saya sangat setuju dengan analisa Saudara dan alinea terakhir bahwa dasar intel kita haruslah profesionalisme dan dlm kerangaka hukum.
Meminjam istilah teman lama, saya sarankan: "get them while they are young!"...
Revitalisasi intelijen kita harus menyampingkan birokrasi rekrutmen ala pegawai negri dan berani terjun merekrut dengan cara2 yang lebih efektif. Terkadang saya melihat bahwa di dunia bisnis, profesional muda yang memiliki potensi untuk dibina sesungguhnya sangat banyak, juga di angkatan dan bahkan yang ada di sekolah dan kampus. jangan lupa bahwa para operator AS selama dekade 70-90 yang berhasil meruntuhkan komunisme adalah mereka yg deirekrut di Vietnam saat usia mereka masih di bawah 20 tahunan. Banyak yang masih memiliki idealisme sesuai atau dapat di 'suntik' idealisme yang sesuai. Resikonya, kesejahteraan harus diperhatikan... ini memang klise tapi nyatalah.
Secara operasional, saya yakin ini sangat dapat dilakukan... masalah political will dan seseorang yang benar2 menjalankannya (maksud saya janganlah 'will' saja tapi action juga).
Saya bahkan pernah melihat bahwa terdapat perkumpulan warga asing di Jakarta yang berkumpul 1-2 minggu sekali yang saya curigai menjalankan hal ini. Sementara berpesta, terdapat warga asing yangtak lazim berkumpul bersama. Sebut saja Australia dan ex-CCCP, Balkan dan China, UK dgn Mid-East. Rata2 berusia muda dan sekadar kongkow2, namun menjadi forum yg sangat efektif utk pertukaran intelijen. Sang organisateur (seorang perempuan yg sangat menarik penampilannya) justru memiliki hubungan sangat dekat dgn polisi kita.
Ya, semoga saja semua sumberdaya dpt dimanfaatkan utk mengoptimalkan kekuatan intelijen kita...
Saya harap Saudara kontinu dengan ulasannya...sangat menarik.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters