Antara Restrukturisasi dan De-Hendro-isasi B I N Bagian 1 » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, September 10, 2005

Antara Restrukturisasi dan De-Hendro-isasi B I N Bagian 1

Hanya ada dua kata bagi insan intelijen yang mencermati proses restrukturisasi BIN akhir-akhir ini: Lagu Lama

Kepentingan politik senantiasa begitu kuatnya menerpa BIN sehingga lagu lama perlu dinyanyikan lagi.

Semuanya orang presiden, maka negara aman dan tenteram (penguasa bisa tidur nyenyak). Politisasi Badan Intelijen sudah terjadi sejak awal kemerdekaan, meski demikian pada era Orde Lama, intelijen tidak terlalu jauh masuk dalam lingkaran politik presiden, karena loyalitasnya bukan kepada presiden semata, melainkan kepada negara dan rakyat Indonesia.

Pemerintah Orde Baru adalah pemerintahan yang merekayasa bentuk organisasi intelijen yang amat sangat loyal kepada presiden. Bayangkan saja doktrin pertama yang harus diingat oleh setiap insan intelijen Orde Baru adalah prinsip single client (presiden).

Pada era Orde Lama, insan intelijen tidak terlalu dicekoki oleh prinsip single client itu, tetapi lebih pada pembentukan karakter prajurit intelijen yang profesional dan mengabdi kepada negara dan bangsa Indonesia. Definisi ancaman adalah kepada segala sesuatu yang membahayakan negara dan rakyat Indonesia. Tapi jeleknya adalah merembesnya kelompok aliran politik dalam intelijen, misalnya dalam kasus keterlibatan sejumlah orang intelijen yang bersimpati kepada Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga terjadilah operasi pilih tebang besar-besaran yang pertama dalam organisasi intelijen (waktu itu masih berbentuk Biro/Badan Pusat Intelijen - BPI yang dikomandoi Subandrio). Betapa tidak adilnya perlakuan terhadap mantan-mantan BPI, meski sudah lolos dari Litsus (penelitian khusus) yang pertama kali dikenalkan oleh pemerintah Orde Baru, karir dan masa depan sudah bisa dianggap masuk kotak, paling-paling hanya menyentuh kursi eselon tiga. Tidak sedikit yang kena tebang dan terkena salah tebang.

Prinsip single client jelas bisa meminimalkan kemungkinan timbulnya kelompok kepentingan dalam organisasi intelijen. Tetapi yang terlupakan adalah intelijen menjadi tidak kritis kepada presiden. Ada cerita lucu dari salah seorang mantan pejabat BAKIN ketika yang bersangkutan melaporkan kasus penyalahgunaan wewenang oleh keluarga Cendana yang kemudian dianalisa akan menjadi bumerang bagi presiden. Maksud dan analisanya boleh jadi sangat baik, tetapi justru yang bersangkutan malahan harus menelan pil pahit dengan tuduhan mengabaikan prinsip single client.

Sampai dengan bergulirnya reformasi, insan intelijen dalam tubuh BIN maupun BAIS TNI (mereka yang meniti karir secara profesional) sebenarnya sangat resah dan khawatir dengan trend Orde Baru yang tak kunjung berubah. Khususnya di kalangan angkatan muda yang saya nilai jauh lebih progressif dibanding para aktivis yang pro demokrasi sekalipun. Kesulitan para prajurit intelijen angkatan muda itu adalah dalam menghadapi kenyataan organisasi yang kusut oleh kepentingan politik para pemimpinnya. Kalangan muda itu sering dikategorikan sebagai kelompok frustasi karena idealisme intelijennya. Seiring berlalunya waktu, mungkin mereka sudah terkontaminasi oleh kepentingan dan hasutan politik yang begitu keras sekaligus sangat menggoda karena ada faktor uang di sana.

Beberapa generasi cemerlang parajurit intelijen karir saya nilai cukup berhasil dalam mengupayakan profesionalisme intelijen dan revitalisasi intelijen sekaligus memulihkan citra pejuang intelijen untuk kepentingan negara dan rakyat. Itulah mengapa saya kagum dengan junior saya Sdr. As'at Ali yang begitu tekun dan teguh dalam menjalankan tugas. Kesulitan kepentingan politik menyingkirkan Sdr. As'at terletak bukan hanya dari dukungan internal organisasi BIN, melainkan karena kemampuan dan ketidakberpihakannya kepada kepentingan kelompok-kelompok politik di dalam negeri.

Kepiawaian Mayjen Syamsir yang mungkin masih ingat bila bertemu saya jelas terletak pada permainan tertutupnya, di mana nyaris sulit terdeteksi apa tujuannya.

Bila saya boleh berargumentasi, apa yang sedang terjadi dalam tubuh BIN sekarang ini sulit untuk dipastikan arah dan tujuannya. Kelompok pendukung Yudhoyono jelas akan kesulitan bila dalam proses de-Hendro-isasi juga menyingkirkan prajurit intelijen karir yang jelas-jelas tidak terlibat langsung dalam soal dukung-mendukung presiden. Namun hal itu bisa saja terjadi karena jeleknya orang-orang intelijen adalah terlalu besarnya rasa curiga dan tidak percaya kepada orang-orang sesama intel yang berada di luar lingkaran terdekatnya

Bagi saya pribadi lagu lama masih akan terus dinyanyikan sepanjang tidak ada perhatian dari publik, tidak ada perhatian dari pemerintah dan DPR, tidak ada perhatian dari kalangan intelijen untuk secara sungguh-sungguh menciptakan aturan hukum yang kuat dan pasti dalam keberadaan dan aturan main organisasi intelijen berikut mekanisme kerja, operasi, peran dan posisinya dalam negara Republik Indonesia.

sumber berita http://www.asiaviews.org/?content=153499ym32dddw4&headline=20050216191140 diakses pada tgl 10 September 2005


Bersambung..........
Comments:
I really enjoyed your blog. This is a cool Website Check it out now by Clicking Here . I know that you will find this WebSite Very Interesting Every one wants a Free LapTop Computer!
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters