Rethinking Thinking 01 » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, November 19, 2005

Rethinking Thinking 01

Membedakan Informasi Terbuka dengan Informasi Rahasia

Sebuah Catatan untuk Komunitas Intelijen dan Aktivis Pembela Kebebasan

Cara berpikir linear dalam sebuah garis lurus dari sebuah kelompok masyarakat adalah hal yang biasa. Hal ini terpola karena setiap anggota kelompok terekspos dalam cara pandang tertentu dalam periode waktu yang cukup lama. Dalam ilmu politik kita mengenal budaya politik, dalam psikologi kita mengenal mass behavior, dalam dunia ekonomi kita mengenal motivasi ekonomi. Sesungguhnya apa yang terjadi secara berkelompok tersebut adalah pembentukan cara berpikir dan cara menganalisa seseorang terhadap suatu persoalan menjadi khas dari sudut pandang tertentu. Kata sudut pandang sudah mencerminkan sebuah cara berpikir linear yang seringkali bersifat bersilangan dengan sucut pandang lain.

Hal inilah yang menjadikan perdebatan soal informasi rahasia dan terbuka terasa alot, khususnya bila dikaitkan dengan prinsip kebebasan memperoleh informasi dan prinsip kerahasiaan negara.

Sudut pandang seseorang sangat ditentukan oleh latar belakang, perjalanan hidup dan lamanya terekpos dalam sebuah komunitas. Komunitas intelijen adalah sebuah contoh komunitas yang dicekoki oleh prinsip kerahasiaan, seolah-olah segala sesuatu menjadi rahasia. Hal ini sudah menjadi budaya perusahaan intelijen di seluruh dunia, diterima begitu saja sebagai sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar. Sebaliknya, komunitas pers dan aktivis paham liberal adalah contoh-contoh komunitas yang sangat menghargai kebebasan mengakses informasi demi tersedianya informasi yang benar dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Kekeliruan utama komunitas intelijen dan pengambil kebijakan dalam memandang kerahasiaan sebuah informasi seringkali lebih didasari oleh proses bagaimana memperoleh informasi tersebut. Apa-apa yang diperoleh dari hasil operasi intelijen hampir bisa dipastikan sebagai informasi berklasifikasi rahasia terlepas dari apa isi informasi tersebut. Seringkali informasi yang diperoleh dari sebuah operasi sebenarnya relatif tidaklah terlalu rahasia, sebaliknya apa yang dituliskan oleh seorang wartawan investigasi justru bisa bersifat lebih rahasia. Jadi bagaimana menilai kerahasiaan tersebut?

Selama komunitas intelijen bersikukuh dengan cara berpikir linear yang diselubungi oleh tabir kerahasiaan dan tidak benar-benar menerapkan metode penyusunan tingkat/level kerahasiaan
maka segala sesuatu yang ada dalam organisasi intelijen akan menjadi rahasia, padahal sebagian besar saya yakini tidaklah bersifat rahasia. Sebaliknya, bila komunitas pers maupun aktivis pendukung kebebasan informasi hanya melihat dari satu sudut pandang pengungkapan informasi sejelas-jelasnya untuk masyarakat, mereka tidak akan mampu melihat kerawanan dari sebuah informasi yang seharusnya diletakkan dalam kotak rahasia negara.

Sebuah ilustrasi cerita dari keseharian hidup manusia bisa kita jadikan contoh yang sangat baik.
  1. Seorang pria menaksir seorang wanita = bukan rahasia
  2. Pria tersebut kemudian berpacaran dengan si wanita = masih bukan rahasia
  3. Mereka semakin panas dalam berpacaran = menjadi rahasia berdua
  4. Si wanita menjadi hamil = menjadi rahasia "besar" bagi mereka berdua
  5. Si wanita menggugurkan janin bayinya = rahasia "sangat besar" bagi mereka berdua ditambah dokter/dukun yang menggugurkan janin tersebut

Selanjutnya kita masuk pada contoh kasus imajinari tingkat departemental:

  1. Terjadi kasus korupsi suap dikalangan Hakim : bukan rahasia
  2. Suap tersebut ternyata mengarah pada tokoh yang dihormati : bukan rahasia
  3. Tokoh tersebut juga menjabat dalam posisi yang tinggi : bukan rahasia
  4. Penyidik mengalami kesulitan dalam mencari bukti dari sang tokoh : bukan rahasia
  5. Tokoh tersebut mendapat dukungan organisasi departemental : bukan rahasia
  6. Tokoh tersebut mengambil langkah antisipatif ke eksekutif : masih semi rahasia
  7. Terjadi pertemuan antara penyidik, sang tokoh dan eksekutif : isi pertemuan mulai bersifat rahasia
  8. Ada upaya kompromi demi menjaga martabat yudikatif yang sudah rusak dimata umum : rahasia
  9. Telah terjadi tahu sama tahu kemana sesungguhnya aliran dana suap tersebut : sangat rahasia

Kunci persoalan jelas terletak pada aliran dana suap yang saya yakini tidak akan digunakan secara individual sang Tokoh yang semakin rusak namanya oleh berita media massa. Mengapa hal ini kemudian menjadi sangat rahasia....tanyakan pada intelijen Indonesia bidang politik dan ekonomi.

Bila kita analogikan dengan kasus pria dan wanita dan cara pandang non-linear maka kita bisa mengerti mengapa ada semacam perdebatan dalam menentukan apakah sesuatu itu rahasia atau tidak?

Sekian, semoga bermanfaat
Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters