Yang sesungguhnya dalam tubuh intelijen indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Monday, November 07, 2005

Yang sesungguhnya dalam tubuh intelijen indonesia

Sebenarnya tidak ada yg istimewa dalam tubuh intelijen indonesia, baik itu yg sipil maupun militer. Tidaklah terlalu jauh berbeda dengan organisasi intelijen di manapun di dunia.

Ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam memahami dunia intelijen, khususnya untuk kasus Indonesia.

  1. Upaya deteksi dini kalangan intelijen atas kasus teror di Indonesia sebenarnya tidak perlu diragukan, tetapi apa dinyana kejadian demi kejadian aksi teror terus berkelanjutan. Dimana yg salah dan ada apa dengan kinerja intelijen, benarkah mereka telah menjadi lemah, benarkah koordinasi intelijen akan menyelesaikan semuanya. Jawaban saya sederhana sekali, tidak ada yg salah dengan kinerja intelijen, juga tidak benar kalau mereka telah menjadi sedemikian lemahnya. Apa yg telah terjadi adalah keengganan kalangan intelijen untuk berkontribusi dalam menjaga ketertiban dan keamanan nasional karena intelijen terus-menerus dijadikan "tempat sampah" dan "dikorbankan" oleh sistem tata negara Indonesia yg diskriminatif terhadap intelijen. Kalangan legislatif, eksekutif (kabinet) dan yudikatif di Indonesia sudah sama-sama mahfum akan minimnya anggaran intelijen, baik untuk intelijen militer maupun intelijen sipil. Kehidupan sosial prajurit intelijen sejati di Indonesia boleh dikata jauh dari makmur, mereka hidup hanya sedikit di atas upah minimum regional. Dengan pengecualian para oknum anggota intelijen yang pandai mencari kekayaan dengan penyalahgunaan informasi dan wewenang, mayoritas anggota intelijen hidup sangat sederhana, kadang-kadang nyaris frustasi dalam tekanan kebutuhan ekonomi (hal ini sama-sama dirasakan oleh mayoritas rakyat Indonesia). Meski demikian, hal ini bukanlah alasan utama kurang terasanya kerja intelijen. Yang lebih utama adalah dalam hal meyakinkan berbagai pihak tentang perlunya reformasi intelijen sesuai dengan nyawa/spirit intelijen universal. Pertama-tama, apa yg disebut sebagai koordinasi adalah omong kosong para cendekiawan yang merasa pintar dan anjuran para politisi yang selalu mencari dukungan dari individu-individu intelijen. BAKIN dalam sejarahnya hanya dua kali secara sukses mengkoordinir (mengkomandoi) unit intelijen lain, yaitu kasus SUSDARYANTO JOHANNES BATISTA, Pembajakan WOYLA serta mungkin operasi KOMANDO JIHAD. Mengapa BAKIN bisa mengkomandoi unit intelijen di luar BAKIN tidak terlepas dari kepemimpinan di BAKIN yang waktu itu boleh dikata luar biasa powerful.
  2. Orang-orang intelijen angkatan 70 dan awal 80-an yang sekarang banyak duduk di pucuk pimpinan intelijen Indonesia adalah orang-orang terlatih yang paham betul peta ATHG bagi keamanan negara Indonesia. Meskipun intelijen juga manusia biasa, saya sangat ragu bila deteksi dini yang mereka lakukan tidak kena sasaran. Yang mungkin terjadi adalah pada satu sisi, kekecewaan yang sangat mendalam dari sebagian besar kalangan intelijen yang diremehkan oleh berbagai kalangan. Sedangkan di sisi lain, ada pemanfaatan rasa frustasi tersebut oleh orang-orang yang paham peta intelijen indonesia untuk menciptakan suasana "kurang aman" atau untuk menciptakan prestasi individual pimpinan tertentu. Persaingan antara pimpinan unit-unit intelijen di level menengah jelas sangat tidak sehat bagi kinerja organisasi. Tetapi itulah hal yang lumrah dan normal dalam dunia intelijen yang nyaris tidak mengenal teman dan dalam situasi tidak saling mempercayai. Singkatnya, gembar-gembor intelligence community yang seolah-olah sangat berpengaruh dan memiliki nilai penting dalam memahami kekuatan inti intelijen indonesia adalah jauh dari kebenarann. Tidak pernah benar-benar ada koordinasi antar unit-unit intelijen, bahkan secara individualpun terjadi saling tertutup dalam penanganan kasus intelijen. Hal ini sangat lumrah karena prinsip kompartementasi dan penerapan operasi sel hitam masing-masing. Dengan demikian, ide-ide cemerlang yang didasarkan pada pola kerjasama atau koordinasi antar unit intelijen adalah buang-buang waktu, karena secara alamiah intelijen akan mengalir kembali dalam pola individualistik, masing-masing. Bila-pun terjadi koordinasi hal ini hanya pada bagian terluar saja, tidak akan pernah menyentuh intisari kerja intelijen itu sendiri, hal ini sangatlah prinsip.
  3. Kembali pada penilaian mengapa intelijen (militer dan sipil) seperti hanya menantikan meledaknya ancaman demi ancaman adalah lebih dikarenakan arogansi Kepolisian yang seolah-olah menjadi agen tunggal penjaga keamanan negara dan disahkan oleh undang-undang. Arogansi yang akan menyeret Indonesia ke dalam kesinambungan aksi teror demi aksi teror. Meskipun kepolisian akan terus memperkuat dan membenahi unit intelijennya dengan bantuan FBI, Interpol, Kepolisian Australia, Jerman, dst-dst dengan limpahan bantuan teknis, dana, serta pelatihan. Hal itu tidak akan pernah bisa menyamai sifat kerja alamiah intelijen militer maupun intelijen sipil non kepolisian (baca BIN beserta unit operasi dibawahnya). Intelijen yang sesungguhnya tidak pernah mengharap popularitas bila berprestasi dan siap mendapat caki-maki bila gagal, dengan puncaknya mengorbankan diri demi negara, bangsa dan organisasi. Sangatlah berbeda dengan model operasi polisi (setertutup apapun) selalu mengharap liputan media dan berakhir dengan pujian dan kenaikan pangkat bila berprestasi. Yang lebih penting lagi adalah prinsip pro-justisia dengan tujuan pembuktian dengan barang bukti dan legalitas operasi dengan adanya surat dari Mabes Polri. Sementara intelijen akan sangat minimal dalam soal prinsip yang dianut polisi. Tujuan intelijen-pun boleh dikata sangat berbeda karena tidak melulu taktis jangka pendek dengan tema pengungkapan kasus, melainkan lebih pada menjaga kesinambungan strategi keamanan nasional jangka panjang.

Mudah-mudahan asumsi saya dalam menilai intelijen indonesia tidaklah tepat, karena hal ini sangatlah kritis dan harus segera diatasi bila benar adanya.

Comments:
maaf klo boleh saya bertanya mengenai sepak terjang bais dan saya lihat pda kasus woyla seprti sandiwara sja dan setiap lembaga berlomba lomba untuk mendapatkan misi itu...mohon kejelasannya terimaskasih
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters