Bom Natal 2005 + Bom Tahun Baru 2006 » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, December 10, 2005

Bom Natal 2005 + Bom Tahun Baru 2006

Peringatan dini yang serius adalah vital bagi tercegahnya sebuah aksi teror. Sejak ramainya aksi peledakan bom, setiap kali kita menjelang tutup tahun dan awal tahun, selalu ada bayang-bayang ancaman peledakan bom. Haruskah kita selalu mengalami masa-masa tegang pada momen-momen tertentu?

Kearifan manusia dalam menerima atau merespon sebuah peringatan adanya ancaman menjadi kunci utama untuk dapat melalui masa-masa ancaman tersebut dengan tenang, bahkan mungkin nyaman-nyaman saja. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Seyogyanya rakyat terdidik di perkotaan bisa merespon peringatan ancaman dengan lebih cerdas dan tanpa ketakutan yang berlebihan. Begitu pula dengan adanya sistem atau katakanlah operasi keamanan yang lebih intensif dari pihak aparat, seyogyanya masyarakat bisa melaluinya dengan nyaman serta secara proaktif turut memperhatikan lingkungan masing-masing.

Siapapun manusianya yang berniat melakukan aksi yang melanggar rasa kemanusiaan akan mengalami gejolak bathin yang luar biasa. Meskipun seseorang telah melalui masa pelatihan, cuci otak, dan pembentukkan karakter yang lama, akan tetap ada gejolak itu. Pertama ditimbulkan oleh hati nuraninya sendiri, kedua ditimbulkan oleh rasa takut ketahuan, ketiga ditimbulkan oleh rumitnya perhitungan untuk menjamin keberhasilan sebuah rencana.

Masyarakat umum bersama aparatur keamanan bisa memperbesar gejolak calon pelaku tindakan teror dengan mempertinggi kewaspadaan dan kepedulian terhadap keamanan lingkungan. Hal ini memanfaatkan gejolak dari rasa takut ketahuan. Semakin tinggi sistem keamanan dan kewaspadaan masyarakat, maka semakin sulit pula para teroris bertindak. Aksi terorisme bukanlah sekedar aksi nekat yang spontan, tetapi melalui proses perencanaan, perkiraan keadaan, pengamatan, penggambaran situasi, dst.. sampai akhirnya pada pelaksanaan aksi. Mereka para teroris juga manusia yang sering melakukan kecerobohan atau bahkan penakut, jadi kesadaran yang bersifat kontinyu atas pentingnya kewaspadaan amatlah penting sebagai sebuah bentuk pencegahan.

Menyikapi masa-masa akhir tahun dan awal tahun, saya merasa yakin bahwa bila kewaspadaan masyarakat ditambah operasi keamanan oleh aparat ditingkatkan, kita bila melalui masa-masa tersebut dengan tenang.

Apakah berarti tidak akan ada bom yang meledak di akhir dan awal tahun besok? Bagaimana dengan tokoh seperti Noordin M Top yang belum tertangkap? Dua pertanyaan tersebut tentunya tidak perlu mengecilkan hati kita, tetapi malahan membangkitkan semangat memerangi kelompok teror yang masih tersisa. Gerak-gerik kelompok yang tersisa tidak lagi sebebas sebelumnya, mereka senantiasa khawatir dengan terjadinya peningkatan kewaspadaan masyarakat. Mereka menantikan melemahnya kewaspadaan masyarakat dan mengendurnya operasi keamanan. Dalam penampilan yang mungkin terlihat wajar, mereka memperhatikan berapa besar kemungkinan berhasilnya pelaksanaan aksi teror. Kalkulasi oposisi pasif berupa kesadaran masyarakat luas tentang ancaman teror menduduki posisi utama disamping oposisi aktif aparat keamanan.

Bila catatan tersebut diatas terlaksana di seluruh wilayah nusantara, kecil sekali kemungkinan mereka mencapai sukses dalam pelaksanaan aksi teror. Bahkan bisa jadi masyarakat turut aktif menggulung kelompok yang mulai pecah dan terpojok itu.

Sekian.
Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters