Sekali lagi soal Sidney Jones » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, December 08, 2005

Sekali lagi soal Sidney Jones

Baru-baru ini tepatnya tanggal 7 Desember kemarin, saya dengar Sidney Jones mengungkapkan masih ada ratusan orang Indonesia terlibat terorisme. Mengapa ada pernyataan demikian?

Sebagai bagian penting dari sebuah proses linkage antara propaganda dan fakta yang berkesinambungan, perlu dipelihara sebuah situasi yang mengandung ATHG. Orde Baru pernah mempopulerkan dan memelihara konsep bahaya laten komunis untuk menjustifikasi sistem pemerintahan yang represif. Lalu mengapa ada upaya untuk memelihara citra terorisme Indonesia pasca kematian Dr. Azahari. Salah satunya adalah karena kekhawatiran habisnya atau hilangnya citra terorisme Indonesia bila penangkapan atau kematian Noordin M Top segera terjadi. Lebih jauh, hal ini juga untuk memelihara perang melawan teror di seluruh dunia, dan kasus Indonesia merupakan salah satu kunci penting di kawasan Asia Tenggara.

Pernyataan Jones bukanlah fitnah atau tuduhan kosong belaka. Tetapi persoalannya ada pada perbedaan cara melihat persoalan teroris antara aparat keamanan Indonesia dan Jones. Bagi aparat keamanan, penanganan teroris bukan cuma soal buru sergap atau tembak ditempat, tetapi lebih jauh lagi untuk memelihara keamanan dan ketertiban di masa sekarang dan masa mendatang. Penanganan terorisme bukanlah untuk membangkitkan sikap bermusuhan kelompok teroris kepada pemerintah, karena pemerintah dibentuk juga untuk kenyamanan hidup rakyatnya. Disamping upaya penangkapan aktor utama terorisme, diupayakan sebuah proses penyadaran masyarakat dari bahaya hasutan kelompok yang senang menggunakan jalan kekerasan dan intimidasi. Hanya mereka yang keras kepala dan tidak bisa direhabilitasi sajalah penanganan yang keras berupa tembak ditempat dilakukan, tetapi bagi mereka yang tersesat jalan dan kemudian sadar, masih ada jalan untuk memperbaiki diri, mengapa? karena mayoritas dari 100an orang yang disebut Jones adalah mereka yang terkena hasutan dan terhipnotis oleh konsep yang sebenarnya ditolak oleh mayoritas umat Islam Indonesia.

Ada kekhawatiran perang melawan teror di Indonesia segera selesai dan sebagian besar anggota kelompok teror segera membubarkan diri dan sadar. Sehingga perang melawan teror di Indonesia tidak akan lebih dari upaya penangkapan orang-orang kriminal seperti pembunuh, pemerkosa dan aktor kejahatan lainnya. Kejahatan teror akan semakin mengendur seiring dengan terbunuhnya para pentolan pimpinan kelompok teror tersebut. Inilah kekhawatiran Jones.

Pernyataan Jones jelas menyulut sikap anti Amerika, anti CIA di satu sisi dan memperkuat solidaritas kelompok teroris di sisi lain. Di dalam kelompok teroris tersebut akan tercipta hubungan psikologis yang semakin kuat karena sudah terlanjur dituduh Jones sebagai musuh rakyat Indonesia. Kristalisasi kelompok teroris dalam jumlah ratusan itu sangat berbahaya, karena sebenarnya dari yang ratusan itu saya yakin 75% sudah goyah keyakinannya pasca kematian Dr. Azahari dan tayangan video pemuda yang kemudian mati akibat aksi bom bunuh diri. Kesadaran demi kesadaran dari dalam kelompok teroris dengan sendirinya akan menghilangkan keyakinan tentang aksi teror terhadap sesama warga Indonesia. Tetapi Jones mengeluarkan pernyataan yang sebenarnya bisa dikatakan fakta yang tidak perlu disampaikan ke publik. Hal ini hanya menciptakan pemeliharaan konsep tentang bahaya kelompok teroris di dalam benak rakyat Indonesia + pemeliharaan solidaritas kelompok teroris itu sendiri.

Perhatikan pernyataan Jones bahwa penangkapan Noordin M Top tidak akan menghilangkan persoalan. Kemudian apa yang akan menghilangkan persoalan?

Apakah sudah ada lagi "aktor besar teroris" yang bisa dicitrakan sebagai ancaman bagi rakyat Indonesia.

Saya kira sikap anti teroris dengan menyudutkan dari sisi keradikalan gerakan Islam adalah salah satu persoalan penting yang harus segera dihilangkan. Karena sudah menjadi watak bangsa Indonesia, pihak yang dipojokkan terus-terusan justru membangkitkan simpati baru. Sikap aparat keamanan Indonesia yang fokus pada prinsip "tebang pilih" atau hanya memburu aktor teror yang sungguh-sungguh berbahaya sudah sangat tepat. Tidak perlu ada pengambilan sidik jari, toh hal ini bisa dijadikan program nasional nantinya dalam bentuk sistem jaminan sosial dan keamanan (atau yg sejenisnya), dan bukan untuk mengawasi orang-orang yang dicurigai.

Simpati baru dari propaganda yang memojokkan kelompok teroris dengan sendirinya berkembang menjadi mekanisme pemeliharaan kelompok teroris, siapa yang bertanggung jawab kalo sudah begini?

Disini kita lihat sebuah sisi negatif dari penguasaan ilmu psikologi massa yang dimanfaatkan untuk mengembangkan sebuah opini publik yang sangat meyakinkan di satu sisi dan memelihara kebencian di sisi lain.

Mudah-mudahan Jones membaca blog saya, mudah-mudahan mereka yang simpati dengan gerakan teroris juga membaca blog saya. Yang pasti, tulisan ini akan percuma bagi teroris sejati maupun bagi neocon sejati.

Salam
Comments:
Tenang... terorism akan habis dengan sendirinya... sebuah movement tidak akan berkembang bila tidak didukung oleh society secara luas... dan terorism, radikalist etc sudah menjadi public enemy di negeri kita... hilangnya cuma tunggu waktu... terorisme secara sporadis sempat berkembang di negeri kita... sebuah harga yg harus dibayar untuk system democracy yang baru... kebebasan mengekspresikan diri... masyarakat sudah tumbuh bijak...
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters