Dimanakah Riduan Isamuddin berada? » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, January 03, 2006

Dimanakah Riduan Isamuddin berada?

Menjelang akhir tahun lalu ada pertanyaan dari seorang rekan via e-mail perihal keberadaan Riduan Isamuddin alias Hambali. Mengapa pemerintah AS tak kunjung memberi sinyal pengembalian Hambali ke tanah air Indonesia untuk diadili sekaligus sebagai sumber utama untuk membongkar jaringan kelompok JI yang beroperasi di Indonesia.

Setelah penangkapan Hambali pada 11 Agustus 2003, pemerintah Indonesia khususnya Kepolisian dan Intelijen Negara merasa perlu memdapatkan informasi sebanyak mungkin dari Hambali, sayang sejumlah pertanyaan hanya bisa "dititipkan" kepada pihak berwenang di AS, kemudian jawaban juga disampaikan melalui perantara. Artinya terbuka kemungkinan adanya rekayasa, karena tidak ada kepastian bahwa sumber informasi itu berasal dari Hambali atau bukan.

Dengan tuduhan yang sangat berat yaitu terlibat akti dalam organisasi Jemaah Islamiyah dan al-Qaeda, terlibat dalam pengorganisasian dan pendanaan aksi teror Bom Bali pertama yang menimpa klub malam, Bom Hotel Marriot Jakarta, Bom Manila 2000, serta persiapan dalam serangan 11 September, tentunya penggalian informasi dari mulut Hambali sangat penting. Seperti kita baca dalam media massa, sejumlah individu dari kelompok-kelompok yang sudah tertangkap cenderung untuk buka mulut apabila sudah ada yang mulai buka mulut. Dalam kasus bom bali pertama sangat jelas bahwa titik terlemah ada pada Amrozy, sehingga rentetan informasi berharga bisa dikonfirmasikan tanpa Amrozy merasa berkhianat pada kelompoknya. Saya menduga Hambali adalah tipe yang lebih sulit bicara, sehingga pemerintah AS merasa perlu menahannya lebih lama. Dalam kasus penangkapan Hambali di Thailand, kabarnya penangkapan tersebut bisa sukses berkat informasi dari Khalid Shaikh Muhammad

Hambali yang dijuluki Bin Laden Asia oleh BBC News Online, pada 15 Agustus, 2003 [online], http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/2346225.stm, juga dijuluki sebagai bin laden Asia Tenggara oleh CIA adalah salah satu tokoh kunci yang berpotensi mengetahui keseluruhan gerak operasi JI di Indonesia.

Kembali pada pertanyaan awal dari tulisan ini, dimanakah Hambali? jawabnya saya tidak tahu. Meskipun kita berputar-putar cari akses ke dalam Washington D.C. saya kira akan sangat sulit untuk menggali keterangan tentang keberadaan Hambali. Lebih jauh, pada Oktober 2004 organisasi pembela HAM seperti Human Right Watch (HRW) pernah melansir bahwa Hambali termasuk diantara 11 tahanan tertuduh teroris yang tempat penahanannya dirahasiakan (Detainees in Undisclosed Locations)http://www.hrw.org/backgrounder/usa/us1004/7.htm#_ftn75

Kemudian pada 1 December 2005 yang lalu kembali HRW mengeluarkan pengumuman tentang daftar 25 orang tahanan yang tidak jelas keberadaannya, bahkan diduga dibawah pengawasan CIA. http://hrw.org/english/docs/2005/11/30/usdom12109.htm
Hambali termasuk di dalam daftar 25 orang tersebut dengan nomor urut 18

Penangkapan Hambali termasuk dalam kategori prestasi dalam perang global melawan teror bagi presiden Bush http://www.whitehouse.gov/infocus/achievement/chap1.html, tetapi kembali ke pertanyaan asal, mengapa sepertinya pemerintah Indonesia harus "menerima" apapun keputusan Amerika dalam menangani Hambali. Meskipun presiden Bush pernah berjanji kepada mantan presiden Megawati untuk memberikan akses bagi Indonesia, namun hingga kini hanya transkrip interogasi saja yang mungkin sudah ada di tangan Polisi Indonesia. Sementara akses langsung tinggal menjadi harapan saja

Ketika SBY masih menjabat sebagai Menko polkam, beliau pernah menyatakan bahwa Hambali adalah orang yang paling tahu lebih dari siapapun tentang sel kelompok teroris di Indonesia, kemudian mantan Ka BIN, Bung Hendro pernah menyatakan bahwa jawaban Hambali mengandung informasi yang vital, dari informasi tersebut kita bisa mengetahui gambaran tentang besarnya jaring kelompok teror beserta target-targetnya

Saya bukan analis yang mudah terkecoh dengan teori konspirasi yang seringkali memutarbalikkan cara pandang kita terhadap sebuah persoalan. Saya juga bukan tipe analis yang langsung terjun bebas dalam mencerna teka-teki perlakuan pemerintah AS terhadap para tertuduh pelaku teror internasional Terlepas dari ada tidak adanya skenario besar dibalik perang global melawan teror, kita menyaksikan bahwa kejanggalan demi kejanggalan dalam penanganan kasus terorisme terus mengusik logika kita.

Tidak adanya transparansi dalam penegakkan hukum melawan kelompok teror, membuat otak kita tentunya terus berputar mencari-cari alasan yang rasional untuk menjelaskan fakta-fakta tersebut. Juga dengan masih besarnya potensi teror bom di Indonesia juga membuat kita bertanya-tanya, ada apa gerangan?

Media Indonesia pernah menyajikan tiga dugaan logis yang mudah dipahami secara umum tentang pengelolaan kekerasan dalam editorialnya, saya kira cukup menarik untuk disimak:
  1. Bahwa aparat keamanan memang tidak berdaya serta kemungkinan para penjahat lebih terlatih.
  2. Bahwa para pengelola negara tidak sungguh-sungguh bekerja.
  3. Bahwa ada kemungkinan aparat keamanan memang bersekutu dengan para penjahat.

Walaupun saya khawatir model dugaan tersebut setelah dibaca berulang-ulang bisa melahirkan kecurigaan yang lebih kuat pada nomor terakhir (3), tetapi tetap menarik sekali untuk disimak.

Terlebih lagi bisa saya nyatakan bahwa ancaman teror di Indonesia belumlah usai karena potensinya belum habis terungkap oleh aparat keamanan. Sekali lagi, bila dugaan demi dugaan terus mengalir di forum publik, bisa jadi fakta-fakta kejanggalan semakin terbungkus oleh dugaan-dugaan logis. Justru yang saya khawatirkan adalah level analisa kasus teror di Indonesia seringkali digeneralisir dalam satu paralel bahwa para pelaku seolah-olah semuanya saling terkait dalam jaring teroris yang luar biasa kompleks dan sulit dibongkar. Padahal kemungkinan untuk saling berdiri sendiri sangat besar. Misalnya dalam tubuh JI jelas ada perpecahan yang tampak dari sikap anggota-anggota yang sudah tertangkap. Kemudian dalam kasus Poso, Palu, dan bahkan Ambon, pemainnya tampaknya berkarakter lokal dengan akses ke kelompok regional. Sementara pola-pola rekrutmen anggota baru semakin bertingkat dan tidak saling mengenal. Hanya satu faktor pemersatu yang mempersempit sudut analisa yaitu metode penggunaan bom sebagai cara untuk membuat takut rakyat, memprovokasi kebencian antar kelompok, serta memelihara eksistensi kelompok teroris yang beroperasi di Indonesia

Sesungguhnya intelijen Indonesia saya yakini sudah memiliki gambaran yang cukup untuk mencegah terjadinya aksi-aksi teror di kemudian hari. Namun kembali pada dugaan logis Media Indonesia, saya kira poin nomor 1 tentang ketidakberdayaan perlu digarisbawahi, ketidakberdayaan yang saya maksud adalah dalam hal pendanaan dan kepastian hukum. Sikap ragu-ragu dan kurang percaya diri dari intelijen terlalu nampak bagi saya, apalagi bila kita bandingkan dengan intelijen era mantan Presiden Sukarno maupun mantan Presiden Suharto

Mengenai dugaan penjahat lebih terlatih saya kurang yakin, karena hampir semua kasus bom di Indonesia tidak terlalu kompleks dalam perencanaan maupun pelaksanaannya, dengan kata lain setiap lulusan pusintelstrat TNI, pendidikan intel BIN, maupun pelatihan intelijen Polisi bisa segera memahami bahwa kelompok teror yang beraksi tidaklah terlalu istimewa. Lalu mengapa sangat lambat untuk segera diungkap dan dihancurkan seluruh sel-selnya? jawabnya singkat. Dinamisme dan mobilitas kelompok teror jauh di atas rata-rata anggota intelijen dan aparat keamananan lainnya. Seperti di film, seperti kejar-kejaran saja. Satu titik rawan yang harus segera diatasi oleh komunitas intelijen dan aparat keamanan adalah pihak lawan (kelompok teroris) entah dari siapa..entah bagaimana...cukup paham pola operasi dan besar gelar operasi serta dengan mudah menemukan titik lengahnya. Khusus untuk intelijen dalam negeri saya kira perlu dilakukan perombakan yang mendasar dalam pola operasi rutin yang lama serta membangun jaring-jaring baru yang lebih profesional, tampaknya jaring lama sudah berkarat dan lambat merespon ancaman, dengan satu syarat utama....jaring tersebut bebas dari kepentingan politik golongan...termasuk kepentingan pribadi presiden.

Kembali pada pertanyaan Hambali dimana? akankah Indonesia diberi akses langsung? lalu adakah kaitannya dengan pemeliharaan eksistensi sel teroris di Indonesia? saya kira perlu kita tunggu titik terangnya....

Ah...entahlah saya kadangkala menulis tanpa berpikir panjang, mohon koreksi dari pembaca bila ada kekeliruan

Sekian

Comments:
Salam kenal buat Senopati Wirang.
Seingat saya Wirang artinya sia-sia atau kapiran. Apakah Bung Wirang memang termasuk yg disia-siakan oleh pemerintah Orba ?
Sebenarnya saya sangat suka membaca blog I-I Bung Wirang. Analisis anda termasuk bagus dan tajam. Dari tulisan anda terbaca bahwa anda seorang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas. Pengalaman anda juga sangat beraneka ragam dan lintas batas negara.
Setelah mengamati tulisan-tulisan anda, saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa usia anda sudah mendekati senja (60-an), bahkan mungkin anda sepantar dan seperjuangan dgn pengamat militer Salim Said.
Satu hal yg saya senangi dari tulisan anda adalah: anda berusaha objektif dan tidak memihak. Murni hasil analisis pikiran yang telah matang. Btw, Selamat atas kesembuhan anda. Saya doakan anda tetap sehat selalu, Salam.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters