Penjelasan Logis dari pernyataan Ka B.I.N. » INTELIJEN INDONESIA

Friday, January 06, 2006

Penjelasan Logis dari pernyataan Ka B.I.N.

Sebelumnya blog I-I menyatakan no comment untuk B.I.N. yang overexposed, mengapa? karena berarti saya mengkomentari sebuah polemik komentar yang tercipta oleh kejelian media massa membidik sebuah issue. Contohnya MIOL yang mengangkat editorial berjudul BIN yang "overexposed".

Akan lebih obyektif bila saya langsung saja mencoba mencari logika dari komentar yang terlontar dari pimpinan B.I.N.


  1. Soal pernyataan tentang penyusupan intelijen ke pesantren-pesantren untuk mendeteksi gerakan teroris. Mengapa sebuah penyusupan diumumkan ke publik, apalagi dengan pihak Kepolisian juga sedang berkembang polemik soal sidik jari para santri. Aneh bukan? apakah ini hanya banyak cakap yang tidak berarti? Sungguh saya melihatnya tidak demikian, saya segera melihat bahwa sedang berlangsung operasi penyelidikan yang justru tidak menargetkan pesantren, sayangnya pelemparan polemik itu terlalu tajam bagi telinga umat Islam, sehingga tampak kontraproduktif dan menuai badai kritik yang bertubi-tubi. Tetapi tidak masalah, yang terpenting pekerjaan nyata intelijen mengejar tersangka kelompok teroris berkedok Islam terus berlanjut.
  2. Soal pengalihan strategi kelompok teroris dari aksi teror bom ke penculikan termasuk dengan target presiden dan keluarga dan sejumlah pejabat. Dari berbagai opini yang berkembang di masyarakat, saya nilai 50% percaya dan 50% tidak percaya. Kelompok yang percaya pada umumnya berada dalam lingkaran yang bersimpati kepada presiden sementara yang tidak percaya tentu saja dari kelompok oposisinya (kritis dan tidak terlalu simpati kepada presiden). Seperti pernah saya tulis sebelumnya Bom menyambut tahun baru 2006, informasi ini tidak boleh diremehkan. Perkara kemudian dipermanis dengan sejumlah pernyataan yang didramatisir, itu lain soal. Sayangnya memang hal ini terlalu tergesa-gesa dan tampaknya belum melalui analisa yang lebih mendetail. Hal ini tentu saja mengundang pancingan untuk pihak-pihak yang tidak simpati kepada presiden untuk berkomentar bahwa itu semua sebagai sebuah upaya mengangkat popularitas SBY atau upaya politis yang hampa unsur sekuritinya. Apalagi seperti saya pastikan dalam artikel Bom, taktik teror bom belum berakhir dan taktik lainnya masih sebatas wacana.
  3. Soal para teroris bergerak dari dan ke luar Jawa dalam mencari sasaran tidaklah terlalu istimewa. Hampir boleh dikata pernyataan ini sangat umum dan cenderung mencerminkan ketidakpastian dimana lokasi teror akan terjadi.
  4. Soal mengusut motif Eggy Sudjana melapor ke KPK tentang rumor pemberian mobil Jaguar kepada orang-orang ring satu Presiden oleh pengusaha Harry Tanoesoedibyo. Saya yakin ini refleksi pribadi dari pimpinan yang lepas dari kinerja profesional dan analisa institusi intelijen. Hal inilah yang paling disedihkan kalangan profesi intelijen yang seumur hidup bekerja tetapi harus nrimo disamaratakan dengan sikap pimpinan yang seumur jagung (masa jabatan sesuai kehendak presiden). Tetapi inilah satu-satunya penjelasan logis dari sikap seseorang yang begitu dekatnya dengan presiden dalam melakukan "pembelaan".

Apakah dari komentar-komentar tersebut BIN overexposed? antara iya dan tidak. Justru media massa termasuk blog I-I ini yang bisa mencitrakan BIN overexposed. Sementara itu, saya pribadi tidak meremehkan langkah-langkah pimpinan BIN yang sekarang, Syamsir Siregar, karena di dunia intelijen cukup diakui kepiawaiannya. Lebih jauh, saya justru melihat ada "sesuatu" yang positif antara media yang mengangkat isu BIN dengan BIN, sesuatu yang tidak akan saya bahas.

Publik bisa mencaki-maki intelijen vis a vis BIN, publik berhak mengkritisi BIN dari apa yang kelihatan, publik juga bebas menilai dari berbagai sudut tentang kinerja intelijen yang seringkali hanya diukur dari kegagalan deteksi dini. Apakah apa yang kita lihat dan dengar dari permukaan muka BIN melalui jajaran pimpinannya bisa mencerminkan isinya? Saya kira sebagian besar insan intelijen hanya tersenyum sambil menikmati kopi hangat di tengah malam dalam rangka menjaga mata yang semakin mengantuk, sebagian lagi mengurut dada melihat citra semu yang tercipta dari dugaan-dugaan publik, sebagian lagi (yang sedang menaruh resiko nyawa karena tugas penyusupan) bahkan tidak tahu bahwa kantornya sedang diekspos oleh penilaian-penilaian media massa dan publik.

Mudah-mudahan rekan-rekan insan intelijen membaca dan tidak ambil pusing dengan polemik yang sedang terjadi. Pekerjaan di depan mata tak pernah ada habisnya, tak akan ada pujian untuk keberhasilan dan caki-maki menanti untuk kegagalan berikutnya.

Sekian

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters