Waspada aksi teror BOM » INTELIJEN INDONESIA

Monday, January 02, 2006

Waspada aksi teror BOM

Sedih mendengar kematian demi kematian dari aksi teror bom di Indonesia, berikut ini saya sampaikan konsep waspada aksi teror bom:

  1. Sangat jarang pelaku aksi bom itu tunggal (seorang diri), biasanya selalu kelompok yang telah berbagi tugas. Sebelum aksi bom akan ada salah seseorang dari kelompok yang melakukan pengamatan dan penggambaran. Meskipun bisa diperankan oleh bukan orang lokal, perilakunya sangat wajar bahkan cenderung bertegur sapa dengan sopan. Kekeliruan umum yang suka dilakukan oleh pengamat dan penggambar adalah membawa sobekan kertas kecil dan alat tulis. Pada level yang lebih baik juga memanfaatkan kamera digital. Tetapi dalam kasus bom bunuh diri, seringkali pelaku bom juga ikut melakukan pengamatan. Seorang pengamat dan penggambar situasi juga akan mencari jalan keluar (escape routes), jadi mereka akan terlihat berjalan-jalan dengan santai di lokasi sebelum peledakkan. Minimal akan terlihat dua kali (bisa jadi ganti orang), sangat jarang pengamatan hanya sekali dan diikuti oleh aksi teror bom.
  2. Usia para pelaku pada umumnya berkisar antara 18-35 tahun, karena dibawah 18 cenderung labil dan diatas 35 cenderung lambat. Pada pelaku bom bunuh diri biasanya berstatus belum menikah karena itu merupakan poin yang perlu diperhatikan.
  3. Pada saat peletakan bom (bukan bom bunuh diri), pelaku hanya mengikuti setiap rencana secara berurutan langkah demi langkah. Sehingga prosesnya bisa jadi sangat singkat, keseluruhan rangkaian kegiatan maksimal 10 menit, terus menghilang melalui escape route yang telah dipilih secara wajar.
  4. Mereka telah mempelajari konsep unattended items, yaitu bahwa kewaspadaan publik diasumsikan tinggi, sehingga peletakan paket bom adalah sewajar mungkin tidak menarik perhatian. Itulah sebabnya kekhawatiran terbesar justru terhadap tingkat kewaspadaan publik yang tinggi, karena sekecil apapun sebuah paket bom, akan menarik perhatian.
  5. Oposisi aktif adalah aparatur keamanan, hal ini mudah dipelajari polanya. Untuk peningkatan keamanan, Polisi seyogyanya bekerjasama dengan intelijen negara yang memiliki anggota yang lebih bervariasi dan wajar dalam melakukan operasi pengamanan. Sementara oposisi pasif adalah masyarakat, semakin tinggi kewaspadaan masyarakat semakin kecil ruang gerak aksi teror bom.
  6. Seringkali para pelaku perlu menggali keterangan dasar tentang suatu lokasi, mereka tidak segan-segan secara wajar berbincang-bincang dengan tujuan menggali informasi. Tetapi untuk pelaku lokal hal ini tidak terjadi karena medan operasi sudah dikuasai.
  7. Kewaspadaan tidak identik dengan ketakutan. Letakan kewaspadaan dalam perspektif keamanan yang terpadu secara komunal, saya kira forum berupa Rukun Tetangga sampai tingkat Muspida bisa mendorong terciptanya kewaspadaan itu dengan optimal.
  8. Ketidakpedulian terhadap lingkungan adalah titik lengah masyarakat yang selalu diintai oleh kelompok teror, sedangkan ketakutan yang berlebihan/emosional juga menjadi bukti keberhasilan aksi teror yang ditujukan untuk menciptakan ancaman dan rasa takut.
  9. Kontak dengan aparat keamanan sebagai mitra waspada sangatlah vital, karena aparatlah yang bertanggungjawab penuh dalam proses penegakkan hukum ketika indikasi pelaku teror mulai terdeteksi oleh masyarakat.
  10. Profesionalitas intelijen dalam memberikan peringatan dini seyogyanya ditingkatkan dengan kegiatan pencegahan.
Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters