All the President's Men » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, February 28, 2006

All the President's Men

Para pembaca tentunya pernah mendengar kisah All the President's Men atau bahkan sudah menonton filmnya. Yup...benar itu cerita tentang orang-orangnya presiden. Dalam film klasik yang dibintangi Hoffman dan Redford tersebut kita bisa memperhatikan sebuah gambaran yang lumayan realistis tentang bagaimana sebuah kebocoran terjadi dari lingkaran presiden ke tangan wartawan detektif handal Bob Woodward and Carl Bernstein yang akhirnya "memaksa" Nixon mengudurkan diri dari Gedung Putih karena skandal yang kemudian terkenal dengan sebutan Watergate karena kejadiannya di Hotel Watergate di Washington D.C.

Pembukaan tulisan kali ini dengan ilustrasi sebuah skandal di Amerika hanyalah sebuah trik untuk menarik minat baca saudara-saudara.

Adalah perhatian saya terarah pada lingkaran presiden SBY yang lama-kelamaan mulai memperlihatkan gelagat ketidakprofesionalan dan kembali pada pola-pola pengabdian pada kekuasaan dan upaya-upaya mencari "kekayaan".

Saya sangat paham bahwa SBY sebagai presiden sedang belajar sambil melaksanakan fungsinya sebagai pimpinan negara. Sementara orang-orang disekelilingnya juga tahu betul bahwa SBY belum paham keseluruhan pola kerja dalam lingkungan kerjanya. Sehingga tidaklah mengherankan bila bermunculan kebijakan yang tidak jelas landasan strategisnya.

Beberapa catatan penting buat SBY:


  1. Kebijakan impor beras yang meggunakan alasan untuk menjaga stock tidak didukung oleh data statistik yang meyakinkan, eh malahan dibalik menjadi data statistik dibuat untuk mendukung kebijakan impor beras tersebut. Sayangnya DPR tidak melanjutkan proses penyelidikan hingga tuntas.
  2. Kebijakan untuk ikut menyelesaikan masalah Semenanjung Korea Utara tidak memeiliki agenda yang jelas selain demi memperpanjang masa tugas seorang diplomat senior NS agar punya pekerjaan setelah pensiun dari jabatan terakhir sebagai Dubes.
  3. Penunjukkan Duta Keliling Timur Tengah kepada salah seorang tokoh parpol sangatlah tidak efektif karena unsur politisnya begitu kuat.
  4. Kebijakan kenaikan harga minyak terlalu memperkuat konsep kaum ekonom liberal Indonesia yang kurang memperhatikan dampak panjang berupa akumulasi penurunan perekonomian rakyat kecil. Ingat Indonesia tidak memiliki basis industri dasar yang kuat yang khas dan mampu bersaing dalam pasar global, salah-salah kita akan sudah dan akan dijajah terus melalui model penguasaan sumber kekayaan alam, saham industri strategis, serta sektor jasa.
  5. Semua paham bila SBY dekat dengan Amerika Serikat, tapi saya mohon agar SBY menjaga jarak dengan Amerika dalam rangka independensi. Hal ini bisa dimulai dengan mengurangi mengambil posisi berdekatan dengan presiden Bush dalam agenda acara foto bersama pimpinan negara dalam acara apapun.
  6. Kunjungan ke Myanmar guna membicarakan masalah demokrasi tampak seperti suruhan Amerika dan Eropa barat untuk menekan junta militer Myanmar, mudah-mudahan ini bukan saran dari informan CIA di lingkungan istana. Atau juga bukan saran Menlu yang sangat jelas binaan Amerika.
  7. Masalah "melindungi" tersangka koruptor di KPU, juga menunjukkan masih kuatnya aspek perkoncoan.
  8. Dugaan suap di lingkaran Istana sebaiknya segera diselidiki.
  9. Menjelang pemilu 2009 jangan buat center-center yang memanfaatkan kekuasaan, apalagi ada sejumlah tokoh pendukung anda (tim sukses) yang belum mendapat "jatah" dan sudah dijanjikan untuk memimpin lembaga yang aneh-aneh tersebut.
Sekian sekilas dugaan yang belum tentu benar tentang orang-orang disekeliling Presiden.

Salam Indonesia Raya
Comments:
Kalau benar situasi sekeliling pak SBY seperti itu, bagaimana cara menyelamatkan beliau dari keruntuhan? Biarkan ada seleksi alam? Ok, saja sih...tapi kebijakan baru pasti akan dimulai oleh pemimpin baru. Bukankah selalu begitu? Tidak bisakah pemimpin di Indonesia meniru para pemimpin pada jaman kerajaan dulu? Berkomunikasi dengan rakyat dilakukan karena ingin dekat dan ingin tahu keadaan rakyatnya. Rakyat disini bukan berarti DPR atau MPR lho...selalu ada cara untuk melakukan suatu keinginan kan? Setiap masalah selalu dijabarkan latar belakang mengapa dilakukan dan goalnya apa? Ke Bhinneka Tunggal Ika an kita ditambah akar budaya kita yang gotong royong sangat memungkinkan kita untuk melakukan apa saja yang besar, asal para 'cukong' di pemerintahan tidak diberi ruang gerak yang terlalu besar. Mengapa tidak bilang, 'rakyatku, mari mengencangkan ikat pinggang, mari kita makan beras, eh, nasi 2 hari sekali, selebihnya makan gaplek, jagung, ketela pohon ketela rambat, krn cadangan pangan kita menipis. Mari kita lakukan ber sama2 selama.....tahun atau bulan'. Lalu lakukan gerakan pendidikan massa supaya ada peningkatan gizi dengan misal memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami sayuran atau buah2an atau untuk beternak. Kalau saya yang jadi Presiden atau Gubernur atau Bupati, komunikasi yang seperti itu yang akan saya lakukan. Tapi pasti syusyah....ya...

Salam,
Handari Yektiwi Alchosih
masmirah331@yahoo.com
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters