Masukkan untuk Tulisan Tentang Melawan Terorisme » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, March 01, 2006

Masukkan untuk Tulisan Tentang Melawan Terorisme

Saya sangat berterima kasih atas komentar saudara DOS dalam tulisan Tentang Melawan Terorisme yang saya jadikan sebagai suatu masukkan yang sangat berharga.

Benar bila saudara katakan bahwa sudut pandang Islam yang "anti duniawi" berasal dari kelompok tertentu semisal aliran sufisme dan perlu saya tambahkan bahwa sekitar 48 aliran utama sufisme yang dicatat dalam buku Kasyful Mahjub karya Hujwiri seluruhnya mengajarkan tentang betapa buruknya pengaruh dunia bagi kesalehan seorang Muslim.

Tentu saja saya keliru bila menyatakan Islam dalam definisi umum mengacu pada sudut pandang yang anti duniawi tersebut. Tetapi saya ada keyakinan bahwa Islam dalam pemahaman kelompok radikal lebih dekat pada definisi kelompok ekslusif seperti dalam aliran sufisme. Ketika seseorang rela mati syahid demi keyakinan, ketika seseorang meninggalkan keluarganya demi perjuangan keyakinan, ketika seseorang mengorbankan segala miliknya (berjual-beli dengan yang Yang Maha Kuasa), ketika seseorang tidak lagi khawatir akan perlakuan tidak adil oleh manusia lain, ketika seseorang mulai mengikis sifat manusiawinya dan mengenakan aturan "ilahiah" dalam melihat dunia, maka hanya pendefinisian sempit ala sufisme yang mampu menggiring lahir bathin seseorang untuk masuk dalam ruang baiat kejiwaan dan lahir kembali menjadi mujahid-mujahid sejati.

Kurang lebih demikian yang saya amati langsung dari saudara-saudara muslim yang terjun total dalam faham jihad. Meskipun kaum sufi justru mengutamakan jihad tanpa kekerasan dan jihad terbesar adalah memerangi nafsu sendiri, namun para pendukung jihad dengan kekerasan juga menggunakan metode pendekatan seperti kaum sufi. Antara lain dengan berlandaskan sudut pandang tentang pembagian dunia menjadi "Dar al-Islam" (land of Islam) dan "Dar al-Harb" (land of war). Melalui justifikasi perjuangan yang kemudian "cenderung" mengabaikan aspek duniawi lainnya, maka terciptalah sejumlah mekanisme yang mengikat seseorang untuk mendukung perjuangan Islam dengan jihad kekerasan. Bila anda pernah sekali saja menginjak tanah Islam yang dilanda perang seperti Palestina, Afghanistan dan terakhir Irak, maka anda akan mengerti seperti juga ketika kita dalam masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda, Jepang, dan juga sekutu. Kristalisasi perjuangan atas nama Islam hanyalah bagian dari strategi perjuangan belaka.

Tetapi, ketika perang usai...apa kemudian yang dicapai? perang saudara di Afghanistan terjadi sesama muslim, perang yang sudah lama antara sunni-syiah di Irak dan Pakistan juga tak kunjung usai. Sementara di bumi nusantara...umat Islam Indonesia senantiasa terpecah belah ketika memasuki babak perjuangan politik untuk menata umatnya.

Kesemua itu tidak seharusnya dilabelkan kepada ajaran agama ataupun fatwa ulama, karena motif politiknya lebih kuat. Hal ini saya duga juga terjadi dalam gerakan teror internasional, motif untuk pencucian uang, menghidupkan perdagangan senjata illegal, serta bisnis illegal lainnya merupakan sumber penghidupan sejumlah organisasi teroris, tetapi jangan lupa peranan intelijen dan mantan pakar keamanan dari berbagai organisasi yang kemudian terjerumus dalam dunia hitam perdagangan senjata juga turut mendukung terciptanya organisasi teroris yang kuat.

Eh jadi melantur......

Kembali pada definisi Islam yang menurut saudara DOS di Indonesia mainstream-nya moderat serta sangat memperhatikan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Sudah menjadi kecenderungan manusia dalam beragama untuk mengambil jalur yang "moderat". Hal ini bukan hanya dalam agama Islam tetapi juga di agama-agama lain seperti Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu dll. Ibaratnya seperti konsep gembala domba (bukankah utusan Tuhan yang punya umat besar punya pengalaman sebagai penggembala). Mayoritas manusia secara psikologis hanya bersandar pada rasa aman lahir dan bathin, demikian juga dalam beragama...bagaimana seseorang merasa nyaman dengan lingkungannya? tentu saja yang paling gampang mengikuti arus terbesar.

Bandingkan dengan melihat misalnya dalam pergolakkan bathin pengikut Ahmadiyah, Salamullah, dan sekte kecil lainnya. Mereka hanya segelintir manusia yang kebetulan menemukan keyakinan yang berbeda dengan arus yang besar. Hal yang sama juga terjadi dalam kelompok jihadis. Namun keyakinan tetaplah keyakinan...begitu sulitnya untuk berubah. Bukankah itu bukan urusan manusia untuk merubahnya, Karena jika Tuhan menghendaki tentu bumi hanya akan diisi oleh orang-orang yang beriman dan dikasihi Tuhan???

Singkatnya saya setuju dengan pendapat saudara DOS bahwa Islam tidaklah seperti saya gambarkan dalam tulisan Tentang Melawan Terorisme, yang terlalu sempit dalam pendefinisian melihat dunia sebagai tempat sampah. Tetapi inilah salah satu pilar yang saya temui dalam aliran jihadis, sehingga mereka mampu menepis godaan duniawi.

Adakah seorang jihadis yang mau berkomentar untuk memperkaya tulisan ini?

Sekian
Comments:
Kalau mau tau banyak tentang Gerakan Terorisme di Indonesia, tanyakan kepada :

1. Let.Jen (Purn) Hendro Priyono
2. Brig.Jen (Purn)Tasmika
3. Brig.Jen (Purn) Sulaiman
4. May.Jen Muchdi PR
5. Kolonel.AU Abdul Haris
6. IrJen.Pol Gories Mere
7. Brig.Jen Pol Suryadharma
8. Brig.Jen Pol. Dede Jayalaksana

Mereka inilah yang mebikin Teroris yang sesuai dengan Spesifikasi yang dipesan oleh USA dan kemudian mereka pula yang memberantasnya. Oleh sebab itu Mars Perjuangan yang dinyanyikan oleh Para Teroris Indonesia Berjudul "DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA" gubahan Achmad Albar. Dan semua itu ujung-ujungnya duit. yang diperoleh dari Perang Terorisme Global dengan Pemilik Proyek adalah USA sementara Indonesia hanya sebagai Kontraktor dalam Bidang Jama'ah Islamiyah.
 
islam radikal.....
saya tertarik dengan tulisan pa SW, mengenai terorisme di indonesia terutama masalah orang islam radikal (jihadis)
sebut saja saya orang islam yang menyerahkan jiwa, harta dan raga untuk Allah (berjual beli dengan Allah(jihadis).fenomena ini berasal dari pencarian jati diri manusia, 1. Siapa manusia ?
2. apa tugas manusia ?
3. untuk apa manusia ?
4. akan kembali kemana manusia ?
5. harus tunduk kemana manusia ?
manusia dilahirkan ke bumi ini tidak lain hanya untuk beribadah, bersujud kepada Sang Khalik, DIA yang mencipta seluruh manusia, sepatutnya tunduk kepada yang menciptakannya, Sang Pencipta memberikan perintah dan larangan untuk keselamatan manusia dunia akhirat. tunduk pada aturan-Nya, taat kepada utusan-Nya, dan menjadi hamba yang total dalam menjalankan perintah-Nya. artinya manusia diperintahkan untuk taat kpd allah.
mengenai islam memisahkan diri dari urusan dunia, pandangan saya tidak benar, rasulullah dalam usahanya sebagai pedagang besar, ia memiliki 100 ekor unta untuk qurban, kalau dikalikan satu ekor unta dengan harga unta sekarang (1 ekor x 7jt) sekitar 700jt, itu untuk qurbannya rasulullah sendiri saja. harga kuda perang yang dipakai rasulullah adalah 400jt satu ekor (harga sekarang). artinya orang islam dituntut bergaul dan berjual beli dengan masyarakat sebagai bentuk perintah dari Allah, karena miskin lebih dekat kpd kekufuran (hadist). tetapi karena jiwa seorang mukmin adalah kesederhanaan, cenderung memiliki hidup sederhana (berpakaian, rumah dll) tidak berlebihan. artinya cukup untuk menghidupi anak dan keluarga, bukan berarti tidak kaya.
tetapi dibalik semua itu, Allah tidak memaksa ciptaan-Nya untuk masuk kpd islam, bagi manusia yg tidak mau taat kpd aturan-Nya (contoh:yahudi,nasrani,kepercayaan)diberikan hak untuk memilih (tidak ada paksaan). seperti halnya rasulullah pada saat di madinah, pemerintahan rasulullah menjalankan syariat islam secara keseluruhan (kaffah), tetapi kelompok diluar islam tidak dibunuh atau diusir, bahkan wajib dilindungi dan diberikan fasilitas peribadatan oleh pemerintahan rasulullah. asalkan tunduk dan taat terhadap hukum - hukum islam yang general (hukum pemerintah islam).
Suatu hal yang wajar bila bumi ini adalah kerajaan allah, dan Allah sebagai raja, berhak mengatur makhluk yang diciptakannya. Tidak akan pernah selamat manusia tanpa diatur oleh ciptaan-Nya (Al-Qur'an).
Baiklah kita melihat hukum positif disetiap negara. negara menganggap baik hukum positif yang berlaku di negaranya masing-masing, aturan ipoleksosbudhankam setiap negara memiliki hak merdeka/privasi untuk mengatur sebuah negara. tetapi kembali kpd setiap personal, Apakah dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, bila kita patuh, taat, tunduk kpd pemerintahan yang dzalim ? pemerintahan yang tidak memakai aturan pencipta_bumi ini? dan kita adalah warga negaranya yang harus patuh kpd aturan selain Allah ?....
cukup tanggapan saya, semoga mendapat tanggapan dari saudara di blog ini, permasalahan yang kiranya memerlukan waktu yang panjang untuk diskusi ini....dan saya mohonkan tanggapan yang objektif, dan tidak emosi dalam menanggapi masalah ini ? karena saya berharap mendapatkan kebenaran yang hakiki untuk bekal saya nanti di akhirat....trims. kpd bpk SW.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters