Salut Buat Bung Syamsir Siregar » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, February 08, 2006

Salut Buat Bung Syamsir Siregar

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang veteran CIA yang sudah sama-sama pensiun dan baru saja kembali dari bumi pertiwi Indonesia sebagai turis biasa. Mungkin karena kebiasaan lama mengamat-amati perkembangan Indonesia, khususnya intelijen... si mister bule itu tetap buka mata dan telinga tentang perkembangan Indonesia.

Dari mister bule tersebut saya peroleh bahan keterangan yang sangat menyejukkan yaitu intelijen Indonesia dalam hal ini BIN dan BAIS TNI sudah semakin profesional dalam pembagian ruang operasi. Lebih jauh, berdasarkan data-data yang dimiliki mister bule, intelijen Indonesia telah berhasil mengisi ruang-ruang kosong dalam operasi nusantara, yang berarti informasi di daerah terpencil akan lebih cepat diperoleh dan dikirimkan ke pusat. Hal ini bukan berarti Bakorinda atau bentuk Kominda yang represif akan lahir kembali. Tetapi lebih pada profesionalisme mekanisme kerja yang mengutamakan penguatan jaring informasi yang cepat dan tepat/akurat, velox et exactus. Apa yang saya senang adalah sikap tegas berupa sanksi yang berat kepada anggota yang membangkang perintah penugasan, juga peningkatan disiplin kepada anggota yang menyalahgunakan wewenang.

Untuk ruang lingkup operasi nusantara memang masih memerlukan lebih banyak lagi organik intelijen yang piawai dan mampu menguasai medan operasi. Namun setidaknya kebijakan yang tegas akan mendisiplinkan segenap anggota intelijen yang pada awal reformasi tampak lesu.

Apakah berarti kita kecolongan karena ada mantan intel asing yang berhasil membuat pemetaan kekuatan operasi di dalam negeri kita? entahlah...si mister bule itu sudah seperti "sahabat" lama. Kalaupun iya kecolongan... Indonesia memang sedemikian transparannya dari kacamata luar negeri. Kekuatan dan kelemahan kita senantiasa dengan mudah dikalkulasi untuk mengukur tingkat bargaining internasional kita. Saya kira tanpa operasi khususpun pihak asing dengan mudahnya melakukan perkiraan kekuatan dan kelemahan kita di berbagai sektor.

Namun hal ini tidaklah mengecilkan hati kita sebagai negara berkembang yang sedang membangun. Bahkan komentar dari mister bule bisa menjadi acuan terhadap keberhasilan kelanjutan reformasi intelijen dibawah kepemimpinan Syamsir Siregar.

Seperti pernah saya ulas dalam tulisan reformasi intelijen jelas bahwa perkiraan saya tidak jauh meleset. Sosok Bung Syamsir Siregar tidak kalah dengan pendahulu-pendahulunya. Setiap kepemimpinan boleh memiliki gaya yang berbeda, namun niatnya sama yaitu reformasi organisasi dan mekanisme kerja dengan tujuan Indonesia Jaya.

Informasi ini bisa jadi sangat rahasia bagi media massa Indonesia karena masih ada "ketakutan" akan bangkitnya lagi pemerintahan yang represif dengan dukungan intelijen yang kuat. Apa yang perlu dilakukan oleh kaum pro demokrasi liberal adalah mengupayakan pengawasan terhadap intelijen melalui institusi perwakilan seperti DPR dan DPD. Sedangkan bagi kaum pro demokrasi sosial perlu kiranya mengupayakan pemberdayaan civil society secara berkesinambungan dengan tujuan menyelaraskan derap langkah pembangunan yang berkeadilan. Karena kalau tidak, intelijen bisa jadi akan melupakan RUU Intelijen, karena mereka telah lahir kembali dengan tingkat keahlian yang semakin tinggi, sehingga tidak lagi merasa risau dengan landasan hukum. Mana yang lebih baik? dengan atau tanpa landasan hukum.....intelijen akan terus melaju, velox et exactus.

Pesan saya buat Bung Syamsir hanya jauhi permainan politik kekuasaan menjelang pilpres 2009.
Comments:
Salam hormat kepada Bung Seno,
dengan tidak sengaja saya menemukan blog ini, saya sebelumnya sedang mencari web site www.BIN.co.id yang telah dihapus.

Setelah membaca beberapa topik yang ada tentang KaBIN yang baru serta analisis anda mengenai kinerja dan strateginya, saya mendapat gambaran bahwa anda bisa dibilang salah satu pendukungnya, saya ingin mengatakan saya tidak sepenuhnya setuju dengan anda. Perlu diingat bahwa KaBIN yang baru telah mewarisi kekuasaan yang lebih dan boleh dibilang mendapatkan "Image" yang lebih segar setelah ditinggalkan oleh mantan KaBIN sebelumnya. Selain itu saya tidak melihat adanya gebrakan2 baru yang dibuat oleh Pak Syamsir mulai dari kesejahteraan anggota atau pembuatan sistem baru dll. Anda boleh menyebutkannya bahwa itu adalah strateginya tapi saya melihat sebagai kebuntuan dalam membuat suatu pembaruan. Selain itu juga harus diingat bahwa kegagalan penggantian WakaBIN oleh Pak Syamsir bisa menjadi indikasi bahwa Presiden kita saat ini mengetahui bahwa asset2 intelijen dan jaringan2 yang telah dibangun oleh mantan KaBIN ada di tangan WakaBIN saat ini dan sangat dan masih vital untuk pekerjaan intelijen negara. Dengan kata lain KaBIN sekarang masih ada didalam bayang2 pendahulunya. Mungkin ini masih terlalu dini untuk menilai sukses atau gagalnya institusi ini dibawah KaBIN yang baru yang jelas waktu akan memberi jawabannya. Tentang Institut Inteligen, kalau anda bicara soal anggaran dan lain sebagainnya sebagai sebab tengelamnya atau ketidak jelasan statusnya itu memberi saya suatu kesan bahwa KaBIN yang sekarang kurang mempunyai jaringan atau rekananan yang luas atau lobbying power yang saya rasa dimiliki oleh pendahulunya,contoh karena gagasan ide yang telah diwujudkan, seperti Institut Intelijen mendapatkan pendanaan awal dan sudah pasti harus melalui persetujuan anggota komisi di DPR. Jadi kalau sampai berhenti cuma karena dana itu bisa dilihat sebagai kekurangan KaBIN sekarang. Saya tidak melihat bahwa itu beban yang terlalu berat yang telah di wariskan oleh pendahulu Pak Syamsir, kalau memang itu untuk kebaikan dan tujuan yang akan memajukan intelijen Indonesia bukankah itu lebih baik dipertahankan?

Sekian dulu komentar saya mohon maaf bila ada kata2 ataupun kometar saya yang tidak berkenan. Terima Kasih.
 
Terimakasih atas informasinya, bisa tolong sumbernya diverifikasi?? karena nama orang tsb harus dicantumkan. jika tidak maka sumber anda kurang dapat dipercaya alias tidak reliabel.

Yang saya dapat sumber bacaan dari LN, semenjak tahun 1980an, CIA + Mossad + M16, mulai menjauhi indonesia. Sesuai kata2 professor saya, indonesia sudah lama ditinggalkan. Tapi dalam hal penyerangan psikologis, indonesia diakui sangat provokatif, alias berani beraksi secara psikologis dan aggresif, bahkan di LN sekalipun. Seringkali intel indo menyamar menjadi pramugari dan pramugara, bahkan sampai ke hongkong. makanya munir mati juga diracun oleh intelijen indonesia yg menyamar sebagai pramugari. terus di australia sekalipun, istilah sundanya, intelijen indonesia "ngajago pisan" alias teungil. Salah satunya namanya Zein, anggota PPIA Persatuan Pelajar Indonesia Australia, dibawah konjen RI.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters