Hak Kebebasan Beragama versi AS » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, May 07, 2006

Hak Kebebasan Beragama versi AS

Mengapa Amerika Serikat masih saja memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang diamati karena pelanggaran berat kebebasan beragama?

Di kala Indonesia semakin jauh melangkah dengan prinsip-prinsip HAM dan liberalisme....tekanan AS masih saja begitu kuat. AS yang jauh lebih religius dibanding negara-negara Eropa bisa jadi menerima informasi bias dari jaringan yang berdasarkan agama tertentu di Indonesia, tujuannya tentu saja untuk terus membuka peluang membesarkan agamanya di tengah-tengah mayoritas muslim yang bervariasi.

Ketika pemerintah RI mengakomodasi kembali kepercayaan Khong Hu Cu....tidak ada cerita internasional khususnya di AS yang memberikan acungan jempol, karena Khong Hu Cu identik dengan komunitas Chinese yang tentunya tidak terlalu dipedulikan oleh kelompok kepentingan di AS. Malahan hal ini mungkin dianggap kurang kondusif karena membaiknya hubungan sosial komunitas Chinese Indonesia sebagai bagian integral bangsa Indonesia berpotensi semakin mendekatkan hubungan RI-RRC, yang berarti kurang menguntungkan bagi AS. Hal ini juga berarti akan terjadi gerakan yang signifikan dari penganut kristiani Chinese untuk kembali ke keimanan dasar yang kuat dalam keyakinan religi kosmologi Chinese yang berdasarkan pada ajaran Khong Hu Cu, Buddha Dharma dan Taoisme. Pada masa Orde Baru Chinese Indonesia mengalami keterpaksaan untuk "berlindung" ke kelompok kristiani ataupun islam. Meski banyak juga yang juga berdasarkan pada ketertarikan dan keimanan yang murni, dominasi ajaran agama Timur Tengah (kristen dan Islam) membuat ajaran asli kalangan Chinese termarjinalisasi.

kembali pada berita AS Masukkan Indonesia Dalam Daftar Pelanggaran Hak Kebebasan Beragama, tentu kita bisa secara waspada memperhatikan bagaimana proses ini bisa terjadi.
Rakyat Indonesia dengan keanekaragamannya benar-benar harus membuka mata dan menyadari bahwa kepentingan kelompok tidaklah akan bisa kejayaan Indonesia Raya. Apakah anda seorang kristen, seorang muslim, seorang buddhist, seorang Hinduist, seorang Taoist, seorang penganut Khog Hu Cu, seorang sinkretis, seorang penganut agama tradisi asli nusantara, seorang penganut kepercayaan, dll kita adalah satu kesatuan bangsa yang sedang terseok-seok membangun negara dan bangsa Indonesia. Pihak yang dominan maupun yang minoritas harus bisa saling mengerti dan mengupayakan harmoni hubungan yang bisa menciptakan sinergi dalam membangun. Misi dakwah mencari dan mengumpulkan umat tidak bisa dilakukan dengan paksaan maupun penipuan, karena Yang Maha Pencipta tahu setiap niat yang tersirat ketika kita berdakwah. Sungguh para pendakwah hanyalah akan menjadi orang-orang yang terkutuk apabila cara dan niatnya begitu busuk hanya demi kejayaan agama dan bukan demi nilai-nilai kesucian ajaran dan Ketuhanan. Apalagi sampai membuat konspirasi internasional memutarbalik fakta dan mencari dukungan jaringan internasional untuk terus menekan Indonesia.

Lihat baik-baik kasus Poso dan Ambon...dua wilayah bekas konflik dan potensi konflik yang masih menyimpan bara api. Siapa yang melakukan aksi awal terorganisir dan siapa yang berteriak ke dunia internasional?

Juga kepada anda yang radikal, anda benar-benar kurang cerdas dalam bermanuver karena setiap aksi radikal yang anda lakukan akan menjadi amunisi yang ampuh bagi kelompok eksklusif yang membuat laporan dan menginformasikan kepada Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat tentang kebebasan beragama di Indonesia.

Sekian
Comments:
Mengapa Amerika Serikat masih saja memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang diamati karena pelanggaran berat kebebasan beragama?

Ya, buka matamu. Anda baca atau tidak, laporannya? Sudah banyak bukti di situ.

.....karena Khong Hu Cu identik dengan komunitas Chinese yang tentunya tidak terlalu dipedulikan oleh kelompok kepentingan di AS.

Tapi tentang kasus Ahmadiyah? Di AS pasti juga tidak terlalu dipedulikan oleh kelompok kepentingan. Sekali lagi, baca laporan itu atau tidak?
 
Tentu saja saya sudah baca laporan tersebut. Kekeliruan saya memang menuliskan ini secara singkat dan tersirat, karena detail persoalan kasus per kasus yang begitu banyak jadi terlewatkan. Seolah-olah Indonesia tidak pantas masuk dalam daftar negara yang masih terjadi pelanggaran kebebasan beragama.

Setidaknya saya senang ada juga pembaca Blog I-I seperti saudara patung yang juga mengerti masalah ini. Karena inilah yang saya harapkan, terjadi komunikasi dua arah yang positif sinergis memperkaya isi dan bobot Blog I-I.

Dari tulisan saya tersebut sudah tersirat bahwa ada "masalah" yang harus dihadapi oleh pemerintah dan rakyat Indonesia bersama-sama dalam menciptakan Indonesia yang demokratis serta saling menghormati perbedaan agama. Itulah sebabnya tulisan lebih bersifat himbauan dan kritik kepada mereka yang aktif dalam dunia keagamaan.

Ada perbedaan mendasar soalpelanggaran kebebasan beragama di Indonesia belakangan ini, yaitu semakin banyaknya pelanggaran itu dilakukan oleh kelompok atau individu masyarakat, jadi bersifat horizontal. Untuk yang vertikal juga masih ada seperti soal izin pembangunan rumah ibadah, fatwa atau sikap organisasi agama yg besar terhadap aliran minoritas, ketiadaaan pengayoman dari Departemen Agama terhadap aliran-aliran tradisional yang semakin terpinggirkan, dll.

Sebenarnya soal kelompok minoritas seperti baha'i, Islam Ahmadiyah, Islam, Shi'ah Khonghucu, Falun Gong, dll juga menjadi perhatian.

Pelanggaran yang dikategorikan dalam kerangka mulai dari hukum/kebijakan yang bersifat membatasi sampai konflik berdarah antar agama juga menjadi perhatian laporan tersebut.

Singkat kata...tulisan lanjutan dalam bentuk komentar ini mudah-mudahan bisa mengklarifikasi.

Sekian
 
Pertama sekali membaca ulasan Pak Senopati Welirang yang menghubungkan pencantuman Indonesia dalam daftar 'masih hitam' mengenai kebebasan beragama oleh Amerika Serikat, juga sangat mengagetkan saya sebagai salah satu pengunjung setia blog I-I ini. Entah mungkin karena pengalaman buruk dengan berbagai komentar yang umum dan sama seperti diberikan oleh kelompok radikal selama ini, saya terhenyak membaca penghubungan tindakan AS itu dengan agama tertentu di Indonesia seperti terdapat dalam kutipan kalimat berikut:

Di kala Indonesia semakin jauh melangkah dengan prinsip-prinsip HAM dan liberalisme....tekanan AS masih saja begitu kuat. AS yang jauh lebih religius dibanding negara-negara Eropa bisa jadi menerima informasi bias dari jaringan yang berdasarkan agama tertentu di Indonesia, tujuannya tentu saja untuk terus membuka peluang membesarkan agamanya di tengah-tengah mayoritas muslim yang bervariasi.

Kesan pertama saya membaca kalimat di atas adalah rupanya tanggapan Pak Senopati ini sangat 'sektarianistik' juga. Artinya, saya sangat yakin bahwa tanggapan seperti itu seharusnya tidak muncul dari seorang Senopati yang harusnya bijak melihat realitas yang ada mengenai kondisi kehidupan beragama di Indonesia. Sebab kita tidak lagi bisa menutup mata dan merasionalisasikan begitu saja tindakan-tindakan ilegal baik dari pemerintah maupun dari lembaga-lembaga agama yang merasa 'pemilik tunggal' Negara Indonesia ini(padahal realitasnya gak begitu).

Tapi klarifikasi atas tanggapan Pak Patung di atas, setidaknya memberikan kesejukan walau masih membekaskan jejak-jejak kegelisahan pada batin saya terkait tanggapan-tanggapan Pak Senopati berikutnya terutama apabila terkait dengan keagamaan.

Thanks, GBU

Ctt: Saya peminat dunia intelijen tapi belum tahu 'sumber' yang tepat. Kecuali I-I ini untuk sementara. Saya belajar banyak. Terima kasih.
 
yah...saya khilaf bila terlalu meyakini data yang bersifat tendensius tentang dari mana kelompok-kelompok pendukung kebebasan beragama di AS mendapatkan informasi tentang situasi kehidupan beragama di Indonesia. Mungkin sebaiknya dilihat tanpa mengaitkan agama tertentu. Karena data yang bersifat umum terbuka luas dan dengan mudah bisa terlihat bahwa kondisi kehidupan beragama di Indonesia mengalami tarik-menarik yang kuat antara pemantapan toleransi dan penguatan golongan agama masing-masing. Mulai dari bidang politik misalnya soal hukum syariat sampai pada soal sosial seperti anti pornografi dan pornoaksi. Penguatan salah satu kelompok agama bisa jadi merupakan sumber pelanggaran kebebasan beragama kelompok lain. Dinamika inilah yang seharusnya dikelola secara demokratis melalui dialog sehingga tidak menyimpan api dalam sekam yang sewaktu-waltu bisa memicu konflik berdarah.

Kelompok radikal dari agama manapun yang terus-terusan menggerogoti kehidupan demokratis dan melakukan aksi intimidasi sudah waktunya menghadapi penegakkan hukum yang lebih tegas.

Mohon artikel ini dibaca dengan keseluruhan komentar, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Sekian
 
Perlu diingat bahwa AS sebagai pemilik proyek yang lihai memainkan efek domino punya banyak sekali kontraktor, yang mungkin kehadirannya tidak kita sangka. Jangan2 konflik antar lembaga Agama, kurangnnya toleransi-- justru itu yang diinginkan AS.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters