Rethinking 02 » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, September 10, 2006

Rethinking 02

Berpikir seperti seorang intel analis - INTAN

Seorang Intelijen Analis (selanjutnya saya sebut INTAN) memiliki karakter khusus dalam cara berpikirnya. Karakter tersebut terbentuk melalui proses panjang pelatihan dan pengalaman kerja. Salah satu model atau karakter seorang INTAN adalah berspesialisasi dalam "misi khusus". Di Amerika Serikat analis seperti ini biasanya dibentuk melalui pendidikan khusus di the Kees, Helms, atau Kent schools of thought (Ford 1993). Di Indonesia bisa dibandingkan dengan Pusintelstrat TNI yang pada masa Orde Baru telah melahirkan banyak perwira intel yang berkarakter khusus. Atau bila kita menilik lebih jauh lagi dalam dunia intelijen Indonesia, maka kita akan mengenal salah seorang Legenda Intelijen Indonesia yaitu Zulkifli Lubis yang memiliki karakter Intelijen Jepang karena dia alumnus Sekolah Intelijen Nakano di Tangerang. Lubis sempat mendapat pendidikan di Pusat Pendidikan Intelijen Regional Jepang yang berada di Singapura. Lubis mendapat pendidikan bukan hanya teori, tetapi juga kegiatan praktis. Guru di sekolah itu adalah para petugas intelijen Jepang yang berhasil menundukkan Perancis di wilayah Indochina. Lihat intelijen jepang sebelum menginvasi Belanda.

Kemiripan karakter INTAN yang merupakan alumni dari sekolah khusus intelijen adalah bahwa berpikir secara analitikal bagaikan sebuah skill/keahlian seperti keahlian seorang ahli bela diri yang menjadi instingtif atau seperti keahlian pembalap Mobil Formula One. Begitu cepatnya dalam merespon setiap keadaan yang memerlukan analisa intelijen. Artinya bisa diajarkan, bisa dipelajari dan bisa ditingkatkan melalui latihan terus-menerus. Tentu saja tidak berarti setiap orang bisa lolos kualifikasi sebagai pembalap level Formula One. Ada kalanya seorang pembalap hanya mampu masuk dalam level Indy Car, karena skillnya tidak mengalami peningkatan yang nyata. Untuk mencapai cara berpikir analitis seperti seorang INTAN yang handal, biasanya seseorang calon analis belajar sambil bekerja dan belajar dari kesalahan berupa kegagalan dan kejutan. Kekeliruan kadang kala berakibat fatal, misalnya berupa kematian manusia. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang analis untuk tetap bekerja sambil memperbaiki cara berpikirnya serta tidak membiarkan kebiasaan lama yang buruk dalam berpikir dipertahankan. Penyebab utama kegagalan berpikir cermat dalam analisa intelijen adalah Cognitive Bias, sebuah terminologi teknis bagi predictable mental errors (istilah ini bukan berarti sebuah kegilaan, tetapi lebih mengarah pada cara berpikir yang tidak tepat yang bisa diperkirakan akan menghasilkan produk yang rendah tingkat akurasinya). Hal ini disebabkan oleh proses strategi penyederhanaan informasi. Bila cognitive bias tidak dapat dihindarkan, maka kegagalan intelijen juga tidak terelakan.

INTAN harus mengetahui dirinya sendiri. Mereka harus memahami kacamata/cara pandang yang mereka gunakan pada saat melakukan proses penyaringan, klasifikasi, analisa maupun mencari fokus informasi. Kacamata tersebut dalam pendidikan intelijen dikenal juga dengan istilah – mental models, mind-sets, atau analytical assumptions. Tidaklah pernah dibenarkan untuk mencari alasan dengan menyatakan : "Andai saja kita punya informasi lebih banyak." INTAN biasanya telah memiliki banyak informasi di mejanya dan mereka belum tentu bisa mencerna semua informasi yang tersedia. Alasan seperti perlu informasi yang lebih berguna, perlu lebih banyak intelijen pengumpul informasi yang dipercaya, perlu informasi dari orang dalam, dll tidaklah bermanfaat. Lebih banyak informasi tidak akan banyak menolong dalam proses pemilahan data yang saling bertentangan dan bersifat ambivalen.


Untuk memahami sebuah negara, misalnya, anda perlu lebih dari sekedar informasi tentang negara tersebut. Anda perlu memiliki sebuah perspektif dari diri anda sendiri, sebuah perspektif yang yang akan menolong anda ketika anda harus memproduksi sebuah analisa tepat waktu pada saat persitiwa demi peristiwa terus terjadi.

Kelemahan teknik memperkuat perspektif anda dalam proses analisa adalah anda harus menjadi seorang spesialis. Sering kali seorang spesialis tenggelam dalam perspektifnya dan ketinggalan kereta ketika perubahan dunia terjadi secara tidak terduga. Dalam kasus ini seorang generalist mungkin akan lebih tajam hasil analisanya, karena akan lebih cepat melihat trend dari kacamata yang lebih terbuka, tanpa didorong oleh perspektifnya.


INTAN cenderung untuk memperlakukan perkiraan mereka lebih penting dari pada apa yang mereka ingin lihat. Mereka tidak dipengaruhi oleh harapan dalam berpikir; mereka berpikir secara reflek. Mereka telah menganalisa latar belakang mereka sendiri, bukan dalam rangka mencari jati diri jiwanya dari apa yang mereka inginkan, tetapi dalam rangka memahami bagaimana pengalaman masa lalu, pendidikan dan pelatihan, norma dan budaya organisasi telah mempengaruhi mereka untuk memberikan perhatian khusus hanya pada beberapa hal dan bukan untuk hal yang lainnya.

INTAN tidak mengandalkan pikiran terbuka (open mind). Prekonsepsi adalah tidak bisa dihindari. INTAN memperoleh obyektifitas dengan membuat asumsi-asumsi dasar dan pertimbangan seterbuka mungkin. Validitas diperoleh dengan proses analisa dua sisi yaitu analisa pribadi (berdasarkan asumsi yang dibuat) dan membuat hasil analisa kita bisa didebat oleh INTAN lain (keterbukaan dalam pertimbangan).

Sebuah perspektif yang segar dan baru kadang kala diperlukan. Seringkali seorang INTAN ditugaskan untuk mengerjakan analisa atas sebuah masalah atau sebuah negara yang telah dianalisa oleh INTAN berpengalaman yang telah menganalisanya selama 10 tahun, dengan tujuan untuk melahirkan wawasan atau pemahaman baru.

INTAN pada umumnya mencoba beralih maju mundur dari satu perspektif ke perspektif yang lain. Mereka mencoba melihat dan mengartikan sesuatu masalah dari interprestasi pihak musuh (oposisi) maupun dari pihak user (pimpinan, negara atau Presiden kita).

------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan: Apa yang saya tuliskan di atas hanya sebuah bagian yang sangat kecil dari INTAN.

Sekian



Comments:
Saya jadi ingat Sir Arthur Conan Doyle, pengarang Serial Detektive Sherlock Holmes. Hingga saat ini, saya berkeyakinan, metode yang digunakan nya dalam menganalisis setiap persoalan merupakan metode Intan. Apakah dia seorang Intan?
Ada yang mengatakan 'Tak Perlu Bagaimana Caranya, tapi Bagaimana hasilnya.' Bagi saya, cara-cara seperti itu adalah Teknik Bar-bar, halalkan segala cara demi capai tujuan. Padahal, kita bisa bertindak laksana 'Intan' yang berkilauan. go on Mr. Seno...
 
Saya jadi ingat Agatha Christy dan Sir Arthur Conan Doyle yang mengarang Serial detektive terlaris dgn tokoh Poirot dan Sherlock Holmes. Mereka kerapkali melakukan analisa atas data-data dan info yang terkumpul. Hingga saat ini saya berkeyakinan, kedua penulis itu adalah Intan. Ada yang mengatakan, 'tak penting bagaimana caranya tapi bagaimana hasilnya.' Menurut saya, cara-cara seperti itu adalah cara-cara bar-bar yang halalkan segala cara demi mencapai tujuan. Saya paling benci cara-cara seperti itu. Oleh karena itu, jadilan 'Intan' yang berkilauan. go on Mr. Seno...
 
Dari pola penjelasan anda di atas, saya melihat bahwa pola pendidikan INTAN hanya akan menghasilkan karakter INTAN yang memiliki alert sistem saja. Peran INTAN hanya sebatas merespon bilamana ada stimulus yang dianggap membahayakan kelompok dan memetakan stimulus & respon lawan untuk memperoleh gambaran tentang gerak-geriknya dan strategi apa yang bisa diprogramkan agar mendapat respon tertentu sesuai harapan. Tentunya pola semacam ini akan membutuhkan banyak resiko fisik baik di kelompok sendiri maupun kelompok lawan, juga kerugian materi dan fisik di lingkungan tempat para INTAN bermain. Kelemahan sistem ini adalah bilamana ada jenis stimulus tertentu yang tidak dimasukkan dalam kerangka rumus yang dipelajari tentu akan mudah terabaikan karena ada stimulus lain yang lebih dianggap penting untuk diberi perhatian lebih. Analitikal skil/keahilan masih terikat pada linear logic yang dipelajari soal berbahaya atau aman. Kemampuan fuzzy logic /aware sistem yang sifatnya evolusi adaptasi pada situasi & kondisi yang tercapai/ada bilamana karakteristik diri dan pemetaan juga harus bersifat seperti bunglon tidak bisa dikuasai dengan baik, karena pelatihan yang sifatnya seperti melatih pembalap menghadapi stimlus dan respon yang sifatnya bidang khusus yang diberikan untuk SOP yang mirip-mirip sesuai perkiraan range ancaman. Maka cara ngakalinnya juga tidak sulit, cukup beli stimulus yang belum terbahasakan sebagai bahaya / patut diperhatikan dalam SOP pendidikan INTAN-nya.

Untuk menguasai aware sistem yang menekankan memampuan evolusi adaptasi, perlu pelatihan tidak boleh terfokus pada hal yang sudah bersifat khusus, harus mulai dari hal umum & mendasar yaitu sistem kerja biologis orangnya, dalam kemampuan untuk mendapatkan informasi: “non verbal & non verbal”, “non verbal & verbal”, “verbal & verbal” yang tentunya dianggap hal remeh oleh para pengguna dan pelatih yang base on alert sistem. Kami di penelitian Kompatiologi fokus di hal sistem tsb tetapi tidak terbatas untuk kalangan intelejen (melainkan ke kedokteran, etika business, pengukuran, psikologi, spiritual, dlsb). Sementara ini kami belum mengerjakan untuk penggunaan ke intelejen karena belum ada link sebab background peneliti kami adalah sipil. Jadi kami hanya terapkan sistem cell terputus untuk penggunanya di kalangan sipil yang belajar, lalu mendampingi pengajar mengajar, lalu mengajar secara independent dengan tanggungjawab diri sendiri. Lalu masing-masing user membuat bukunya sendiri dengan teori, tatabahasa, penelitian dan kepentingan penggunaan versi sendiri yang kami standarisasi judulnya saja dengan kode-kode judul makalah/ guide book/ e-book misalnya: Kitab Angin, Kitab Tanah, Kitab Masuk Angin, Kitab Api, Kitab Air, kitab Air Tanah, dlsb…

Ttd,
Liong Vincent Christian / Vincent Liong (Pendiri aliran Kompatiologi)
(Note: karena fokus pada penelitian untuk digunakan hasilnya oleh kalangan umum, bukan membela pihak tertentu maka nama asli, alamat dan contact person pengguna dan pendidik kompatiologi terbuka untuk umum.)


::::::::Contact Person::::::::
CDMA: (62)21-7000-6775
Phone&Fax: (62)21-5482193,5348567,5348546
Address: Jl. Ametis IV G/22 Permata Hijau,
Jakarta Selatan 12210 –Indonesia.
Bank Account: Bank Central Asia (BCA)
a/c: 178-117-9600 a/n: Liong Vincent Christian

maillist:
* vincentliong@yahoogroups.com (1200 members)
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
* komunikasi_empati@yahoogroups.com (138 members)
http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
* komunikasi_empati@googlegroups.com (89 members)
http://groups.google.com/group/komunikasi_empati
* psikologi_transformatif@yahoogroups.com (1560
members)
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
* r-mania@yahoogroups.com (765 members)
http://groups.yahoo.com/group/r-mania
 
Bung Senopati Wirang, apakah dengan pelatihan yang mengakibatkan terbentuknya karakter khusus ini tidak mengakibatkan adanya style tertentu yang menjadi ciri INTAN keluaran lembaga tertentu? Bilamana demikian tentu keberadaan seorang INTAN saat bertugas di lapangan yang full of noice (tempat umum) akan terbedakan dengan ciri orang awam Non- INTAN.

Vincent Liong /Liong Vincent Christian
 
At: http://intelindonesia.blogspot.com/
11:48 AM Nov 8, 2006 Admin
Senopati Wirang wrote:
komentar saudara Vincent Liong soal INTAN sangat menarik, perlu diketahui bahwa pendidikan/pelatihan hanya sebuah proses kecil.


Vincent Liong answer:

Pendidikan dan pelatihan hanyalah sebuah proses kecil dari keberadaan dan kerja INTAN di masa kerjanya selanjutnya. Meski emikian hal ini sanga penting karena menjadi dasar yabng menentukan langkah sang INTAN dan cara ybs bekerja selama ybs menjadi INTAN.

Saya sendiri (Vincent Liong) memfokuskan diri di hal yang lebih kecil lagi, yatiu:
1. Bagaimana membuat pengerusakan / re-setting mental / infiltrasi mental individu hanya dengan media minuman, makanan, suara, gambar, sentuhan tanpa cuci otak dengan menanamkan dogma dan keyakinan tertentu berupa wejangan, nasehat, dlsb.
2. Bagaimana membuat proses auto-dekonstruksi (sehingga individu object menjadi melakukan pengukuran terus-menerus sehingga tidak lagi meyakini / tiodak dapat dipengaruhi dogma, keyakinan, indoktrinasi, propaganda dari ,lingkungan sekitranya karena dianggap tidak realistik bila dibandingkan hasil pengukuran yang dilakukan dirinya sendiri.).

Untuk mencari jawaban, sebenarnya apa sich triger indrawi yang bisa digunakan tanpa triger propaganda, dogma, dlsb, sehingga mampu memberikan efek samping yang tidak kalah dengan cuci otak.

Kalau mau tahu proses penelitiannya yang awalnya saya kerjakan sendirian, kalau diruntut latarbelakangnya sejak saya SLTP kelas 3 lalu berlanjut ketika saya sempat highschool di Sydney dan melanjutkan di The Gandhi Memorial International School melakukan pengamatan terhadap anak-anak aparat kedutaan DPRK (Democratic People Republic of Korea), Oman, India, Mozambique, Angola, dlsb… Silahkan baca di tulisan: ” Disain Penelitian Kompatiologi (proposal untuk umum & lembaga” baca bagian: “A. LATAR BELAKANG/ANALISIS SITUASI:”
(Bisa dicari melalui yahoo.com search dengan memasukkan judul tulisan tsb.)

Penelitian-penelitian semacam ini (di bawah) dikerjakan di bawah pimpinan saya, saya ujicobakan bersama tim peneliti Kompatiologi sejak tahun 2005 awal dengan menggunakan sukarelawan untuk menjadi kelinci percobaan direkrut dari orang awam.

Contoh kasus 01:
Bimo Wikantiyoso mantan kepala senat mahasiswa Psikologi Unika Atma Jaya jakarta tahun 2005. Bagaimana transformasi mentalnya dari seorang anak yang penurut dan cenderung pemalu& tidak berani mengambil resiko menjadi seorang yang dengan inisiatif sendiri mempropagandakan dirinya dengan ajaran penghematan makanan dengan cara memakan makanan sisa muridnya bila tidak dihabiskan. Bagaimana Kompatiologi mampu melakukan hal tsb tanpa usaha menasehati, propaganda, memberi nasehat / wejangan, dlsb.
Silahkan baca di tulisan: “Selamat Datang Suhu Sufi Baru Bimo Wikantiyoso, S.Psi.”
(Bisa dicari melalui yahoo.com search dengan memasukkan judul tulisan tsb.)

Contoh kasus 02
Adhi Purwono seorang agen asuransi yang sering merasa minder, tidak percaya diri, sehingga ada kecenderungan suka ikut-ikutan bertransformasi menjadi orang yang mampu bertindak spontant, percaya diri, mampu merencanakan dan menjalankan rencana sendiri, dlsb.
Silahkan baca di tulisan: “Memperkenalkan Kompatiologi aliran Kitab Masuk Angin”
(Bisa dicari melalui yahoo.com search dengan memasukkan judul tulisan tsb.)

Bilamana INTAN hanya terbatas pada pelatihan agen rahasia yang sifatnya alert sistem saja, tentu akan banyak keterbatasan prihal jumlah agen yang terbatas, beban mental di agen yang berat, beban kerahasiaan yang beresiko nyawa, banyak konflik karena rasa paranoid, dugaan tanpa bukti yang membawa korban fisik, materi dan jiwa, dlsb.

Bilamana ada yang tertarik dengan project ini silahkan kirim agen rahasia anda dengan tetap diusahakan agar saya tidak tahu siapa anda, sebab saya & orang-orang saya orangnya ember, jadi bisa menyamar sebagai orang awam saja.

Ttd,
Vincent Liong
(cdma: 021-70006775)
 
Wah luar biasa analisa kompatiologi nya bung Vincent. Boleh tanya gak, anda ini (dan kompatiologi-nya) bukannya sudah gak laku di dunia spiritual indonesia? bahkan oleh temen2 sejawat anda? secara logika umum, apasih kegunaan kompatiologi anda? jangan2 ini hanya cocok untuk individu dengan karakter indigo (spt yang ada klaim-kan ke media2 bahwa anda indigo)
 
Good article.. good discuss.. sedikit comments: terima kasih sang penulis, apakah ini real atau pun tidak.. sosok " intan " seperti kutipan E.lorenz.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters