Kepemimpinan Sipil BIN » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, December 03, 2006

Kepemimpinan Sipil BIN

Sekitar sebulanan yang lalu, tepatnya sekitar hari-hari menjelang lebaran seorang lingkaran dekat Presiden menanyakan pendapat saya tentang calon pengganti Kepala BIN, Syamsir Siregar.

Beberapa nama yang beredar cukup menarik untuk dibahas, baik dari mereka yang berlatar belakang militer maupun sipil. Saya tidak akan membahas mereka yang berlatar belakang militer, karena siapapun Jenderal Bintang dua, tiga atau empat yang duduk di pucuk pimpinan BIN jarang mengalami resistensi internal maupun kemampuan dalam pengelolaan jaring intelijen domestik dan internasional.

Saya akan melakukan perbandingan antara dua calon dari kalangan sipil yang memiliki kans yang sama kuat, yaitu antara Sdr. As’at Said Ali dan Sdr. Makarim Wibisono.

Dari sudut pandang supremasi sipil dan pemantapan organisasi intelijen sipil, maka kedua tokoh tersebut sama-sama menjanjikan reformasi organisasi BIN menjadi seperti CIA atau seperti lembaga intelijen sipil lainnya di dunia. Hal itu tentu bukan berarti terjadi pergeseran dari sifat militeristik menjadi murni sipil. Faktor penting dari kepemimpinan sipil semata-mata hanya bermakna simbolik bahwa dalam dunia intelijen Indonesia, kepemimpinan sipil tidak lagi diharamkan.

Selama ini, kepemimpinan sipil dikebiri dalam opini ketidakmampuan ataupun ketidaktegasan karakter yang sulit diperbaiki. Sementara kepemimpinan militer hampir selalu menjadi pilihan terbaik.

Tulisan ini bukan bermaksud menciptakan dikotomi sipil-militer, karena hal ini harus dibuang jauh-jauh dari benak komunitas intelijen. Apa yang dibutuhkan oleh dunia intelijen Indonesia adalah kepastian hukum, pembinaan karir yang baik serta mekanisme dan sistem organisasi yang mantap. Kemudian mengenai siapa-siapa yang mengisi posisi-posisi penting intelijen tidak memandang seseorang itu sipil atau militer, melainkan dilihat dari kemampuannya. Sekali lagi bila seorang sipil naik sampai puncak pimpinan BIN, maka hal ini menjadi sebuah momentum keseimbangan yang di masa mendatang akan semakin mendewasakan sikap para pemimpin intelijen dalam memandang latar belakang seorang pimpinan intelijen, yaitu berdasarkan pada kemampuan dan prestasi.

Saya pribadi melihat bahwa kepemimpinan intelijen Indonesia baik dari kalangan sipil maupun militer telah memperlihatkan prestasi tersendiri yang tidak perlu diungkapkan. Sedangkan dari sisi kekurangannya kita juga bisa memperhatikan sejumlah pemberitaan yang menerpa dunia intelijen Indonesia.


As’at atau Makarim
Dari sudut pandang kapasitas intelektual, saya kira gelar-gelar akademis tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran. Karena meski hal itu secara jelas memperlihatkan sebuah catatan tertulis tentang prestasi seseorang, namun hal itu tidak menjamin seseorang mampu menjadi pimpinan intelijen.

Dari sudut pandang jaringan intelijen, Sdr. Makarim Wibisono mungkin bisa memperbesar kerjasama intelijen internasional dan menciptakan unit intelijen aktif (spionase). Hal sama tentu saja bisa di lakukan oleh Sdr. As’at karena pengalaman luar negeri Sdr. As’at yang begitu luas. Tetapi bagaimana dengan jaringan intelijen domestik yang utamanya diarahkan pada kontra-intelijen, kontras-spionase, kontra-terorisme. Sdr. As’at jauh lebih unggul dibanding Sdr. Makarim.

Dari sudut pandang kedekatan politik dengan kekuatan-kekuatan politik dalam negeri. Nilai lebih Sdr. Makarim hanya kedekatan dengan SBY dan lingkarannya dan basis organisasinya, yaitu Deparlu. Terbuka pula kemungkinan Makarim memiliki akses dengan sejumlah tokoh politik dalam negeri. Sementara itu, Sdr. As’at diterpa gosip kedekatan dengan PDI-P dan Partai Golkar, sehingga sebagian kalangan SBY merasa khawatir. Padahal Sdr. As’at lebih tepat bila dilihat sebagai tokoh intelijen yang memiliki kedekatan dengan hampir seluruh kelompok Islam Moderat di dalam negeri. Lebih jauh, sebagai seorang organik intelijen, bisa dikatakan bahwa semua unsur intelijen tidak ada bedanya dengan prajurit perang yang tidak akan melakukan pembangkangan politik kepada pimpinan negara (Presiden).

Dari sudut pandang organisasi, kekecewaan yang sangat besar akan dialami oleh lebih dari 80% organik BIN bila akhirnya orang sipil pertama yang memimpin BIN bukanlah seseorang yang sama-sama berjuang di dalam organisasi dalam waktu yang lama. Saya mendengar kabar akan ada pengunduran diri besar-besaran dari jajaran pimpinan BIN sebagai bentuk protes. Saya perkirakan hal ini akan menjadi awal kejatuhan SBY, yang bisa jadi akan semakin terpuruk popularitasnya.

Dari sudut pandang keinginan untuk memanfaatkan Sdr. Makarim sebagai bumper/martir menyelesaikan masalah HAM, khususnya kasus Munir. Saya kira setelah Sdr. Makarim melakukan evaluasi langsung pada intisari permasalahan juga akan terdiam seribu bahasa. Hal yang sama juga akan menimpa kepemimpinan Sdr. As’at, bahkan siapapun dari kalangan militer. Perlu diketahui bahwa meskipun Sdr. As’at dan sebagian besar pimpinan sipil BIN bersih dari kasus Munir, namun kode etik dan sumpah intelijen sudah menjadi darah daging kehidupan insan intelijen. Khusus untuk masalah ini, sebaiknya SBY sendirilah yang mempersiapkan diri untuk mengambil langkah berani, sehingga seluruh jajaran polkam akan memberikan dukungan penuh.

Dari sudut penerimaan kalangan militer. Saya kira bila secara definitif kepemimpinan sipil bisa mencapai puncaknya di BIN, kalangan militer akan bisa menerima. Hanya saja hal ini membutuhkan kerja ekstra bagi seseorang yang jarang berinteraksi dengan kalangan militer.

Catatan penting!!!! Kepemimpinan saat ini ada ditangan Sdr. Syamsir Siregar yang meski saya lihat agak kelelahan selama memimpin BIN, telah menunjukkan dan meneruskan tradisi organisasi BIN yang terus berusaha meningkatkan profesionalitasnya. Seperti kita lihat bersama, persahabatan sipil-militer dalam tubuh BIN bisa tetap terjaga atas dasar saling menghormati dan bekerjasama dalam memenuhi tugas pokoknya.

Sekian
Senopati Wirang


Comments:
Kalo boleh saya berpendapat, saya rasa Bpk.As'at Said Ali adalah figur yang tepat untuk menggantikan Bpk Syamsir Siregar. Saya pikir ATHG yang akan dihadapi bid Keamanan adalah banyaknya kegiatan intelijen asing di negeri ini.Perlu saya tegaskan, bahkan kegiatan intelijen asing (dalam artian lebih spesifik, bukan umum)bisa terjadi di kota tempat ditempanya para agen baru. Saya berharap dengan naiknya Bpk As'at Sid Ali, kegiatan intelijen kita akan lebih diarahkan kepada kegiatan kontra intelijen. Saya rasa Bpk Seno yang terhormat mengerti maksud saya. Bravo SENOPATI WIRANG! saya tunggu kelanjutan kabarnya!

ABWEHRMEISTER
 
:)
 
Beberapa hal ingin saya 'komentari' dari tulisan di atas:
Pertama, mengenai siapa Pak Senopati Wirang sebenarnya. Dia dikenal oleh seorang lingkaran dekat presiden. Dan kita tahu siapa saja lingkaran dekat presiden. Pak Seno, apakah tdk sdg membuka identitas diri yang selama ini berusaha dirahasiakan? Atau bisa juga sebaliknya, kalau sebenarnya Pak Seno seseorang yang tidak akan membuka siapa dirinya melalui 'petunjuk-petunjuk ceroboh' maka beralasan untuk meragukan apakah tulisan di atas di buat Pak Seno atau hanya sebagai yang mem-posting.

Kedua, rasanya aneh, gak ada angin gak ada hujan, Ka BIN mau diganti. Mungkin itu benar jika ditinjau dari dinamika politik ring 1 yang terkait dengan ring-ring berikutnya di jajaran penguasa negeri ini. Tapi, masalahnya, Ka BIN sekarang adalah orangnya SBY. Apa iya, semudah dan secepat itu akan ada 'suksesi' untuk mengganti Syamsir? Saya kok merasa 'isu' itu tidak terlalu signifikan. Jangan-jangan Pak Seno termakan oleh retorika orang dekat presiden tersebut. Tapi, bisa juga sih, hanya omongan semacam 'sebar angket.' Juga, siapa tahu nih, orang lingkaran dekat presiden yang ternyata dekat dengan Pak Seno tersebut punya agenda juga gitu lho. Kalau Pak Seno, ada agenda gak? he...he...

Ketiga, ada semacam pergeseran 'kekritisan' Pak Seno di banding sebelumnya. Hal ini memang pernah dijelaskan. Cuma, saya kuatir keobjektifan dan keberanian mengkritik intelijen namun dengan maksud membangun tersebut masih tajam. Ada kesan lunturnya 'spirit oposisi' terhadap status quo perintelijanan kita. Saya kok mulai ragu apakah pemegang kendali blog I-I ini masih Pak Seno. Mohon penjelasan.

Keempat, saya masih menyimpan kesalutan saya untuk Pak Seno yang 'asli' seperti sebelumnya. Tks.
 
Pergantian Kepala BIN memang menarik, sebenarnya dua atau tiga bulan lalu sempat muncul tiga orang calon, pertama mantan KaBAIS Letjen (Purn) Lutfie, yang mantan Dankormar. Juga Makarim Wibisono sekarang Ketua Komisi HAM PBB ada lagi Yasin dari kementerian Polhukam dulu waktu jaman SBY.

Sebenarnya sipil atau militer, bila mereka mampu mengemban tugas BIN dan anakbuahnya tidak masalah. Hanya saja, siapa kans yang paling besar? Makarin, Luthfie atau Yasin atau juga As'at? mungkin Senopati Wirang punya pendapat lain?
 
Selamat Siang,
Mengenai pergantian KaBIN sudah muncul tiga bulan lalu dan terdengar ada tiga calon, Mantan KaBAIS Letjen (purn) Luthfie, Ketua Komisi HAM PBB Makarim Wibisono, Yassin dari staf ahli Polhukam dan As'at. Menurut Mas Senopati, kira-kira yang paling kluat diantara mereka siapa? kalau mungkin apa untung ruginya bagi Prseiden memilih dianataranya, juga bagi BIN, apakah dianatara mereka diterima dikalangan staf, yang paling mungkin siapa?
 
Om Seno, stlh saya membaca tulisan anda ini, pd alinea ke-12 tentang pengusutan kasus Munir seolah2 semakin kelihatan kalau pimpinan BIN "sangat tahu" siapa sang pembunuhnya. Sptnya anda mlh memperlihatkan kpd umum bhw Intelijen "telibat" dlm kasus ini. Maaf semoga ini hanya dlm pikiran saya (yg sangat kethul ini).TQ
 
Saya tidak setuju Ka BIN yang baru adalah Mawibi (Makarim Wibisono). WHY ?
Secara personil, non formal saya kenal beliau, dan karakternya bukan disitu.
Maaf,kita memerlukan figur yang excellent,and absolutely not him.
Saya juga tau pasti track record yang tidak perlu saya buka disini. Yang jelas beberapa pihak kompeten sudah saya beri gambaran untuk mempertimbangkan kembali kalau sampai Mawibi menjadi kandidat Ka BIN. Komentar ini mungkin telat ditulis disini, karena saya baru buka blog ini. Sedangkan sejak Januari 2007 saya mengomentari hal2 diatas di blog or situs lain.

Salam Tabik Buat Pak SW...
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters