Kiri oh Kiri » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, December 20, 2006

Kiri oh Kiri

Pada tanggal 4 Desember 2006 seorang rekan Blog I-I menanyakan penilaian saya tentang rencana kegiatan diskusi tentang Marxisme Internasional di Bandung, tepatnya bertemakan "DISKUSI FILSAFAT SOSIAL DAN EKONOMI POLITIK, Gerakan Marxist Internasional Kontemporer, Perkembangan dan Masa Depan Gerakan Marxist di Dunia, dan Sekilas Tantang Organisasi dan Gerakan Buruh di Kanada". Kemudian beberapa hari yang lalu, rekan tersebut kembali menyampaikan informasi tentang hebohnya pembubaran acara tersebut oleh kelompok yang mengklaim diri sebagai ANTI KOMUNIS serta adanya keterlibatan intelijen Polisi Badung. Sebagai referensi, saya disarankan berkunjung ke dua alamat website yaitu rumah kiri dan melly.

Saya menjabarkan penilaian pribadi saya sebagai berikut:

Pertama, saya tidak dalam posisi anti ataupun pro faham marxisme beserta aneka ragam bumbu turunannya, baik yang diberikan embel-embel neo ataupun yang bersifat kompromis dengan sebutan kiri-tengah atau progresif ataupun sosialis-demokrat. Analis intelijen Indonesia adalah salah satu kelompok intelektual yang faham tentang seluk-beluk berbagai ideologi di dunia, dan saya bisa menjamin obyektifitas mereka, namun soal kebijakan adalah terserah pada pengambil kebijakan keamanan.

Kedua, pada saat ditanyakan soal sikap saya terhadap rencana diskusi tersebut, saya tegaskan bahwa akan lebih baik bila didengarkan terlebih dahulu apa isi diskusinya dan kemudian dibuat sebuah analisa tentang makna pemikiran yang dinamis di kalangan muda kiri Indonesia serta dampak nyata terhadap gerakan mereka. Lebih lanjut, seharusnya intelijen tidak serta-merta mendefinisikan sesuatu sebagai ancaman tanpa tahu ancaman bagi siapa, jangan-jangan diskusi kelompok kiri justru sangat bermanfaat bagi rakyat Indonesia karena mampu memberikan terobosan untuk penyelesaian masalah bangsa. Sesingkat itu komentar saya dan saya sangat berharap telah terjadi perubahan paradigma di kalangan aparatur keamanan terhadap makna perjuangan kelompok masyarakat dari aliran manapun.

Ketiga, sejalan dengan pengalaman saya bergaul dengan senior intelijen beraliran kiri yang tersingkirkan ketika Bung Karno dikudeta, maka saya faham betul situasi yang menjadi dampak pertikaian politik masa lalu tersebut. Senior-senior intelijen yang kemudian disebut eks BPI sangat kecewa dengan sikap netral saya yang tidak berideologis. Tetapi saya tegaskan bahwa ideologi saya bukan kanan, bukan kiri, bukan golongan, dan juga bukan angan-angan kosong, saya hanya ingin bekerja untuk kemajuan bangsa Indonesia. Saya mengorbankan kesempatan yang lebih baik di luar dunia intelijen dengan harapan nyata mendorong pembangunan nasional Indonesia yang berpihak pada rakyat. Harus diakui...saya keliru besar dan terlalu naif dengan mengabaikan makna perjuangan prinsip pembangunan yang tepat, dalam hal ini mau tidak mau bersandar pada ideologi. Indonesia menganut ideologi banci yang memadukan konsep ekonomi semi liberal yang diiringi peranan pemerintah yang besar pada awal pemerintahan Suharto, dan saya pastikan hampir 100% petinggi politik dan ekonomi saat itu mengamininya. Pilihan strategi pemerintahan otoriter dengan dukungan kuat kepada sektor swasta terpilih (cukongisme) dirasa paling cepat memulihkan perekonomian nasional. Padahal pemulihan ekonomi tersebut sangat rentan dan terlalu banyak mengandalkan ketergantungan pada sistem perekonomian liberal dunia. Konyolnya, hal tersebut diperburuk dengan otak korup yang ada di kepala manusia-manusia terhormat Indonesia di era Orde Baru, belum lagi penipuan besar-besaran dan perampokan harta rakyat oleh kelompok swasta terpilih. Persoalan itu sudah saya dengar dari senior intelijen beraliran kiri yang dimaafkan dan menjadi penganggur terselubung pada tahun 70-80an. Sementara saat ini, Indonesia telah tenggelam dalam genggaman para liberalist nasional maupun internasional yang terlalu yakin dengan pembagian kue ekonomi global, padahal kemiskinan rakyat Indonesia sangat nyata di depan mata.

Keempat, kembali pada acara diskusi Marxisme di Bandung, sejujurnya saya antara kaget dan tidak kaget. Kaget karena teknik pembubaran dengan memanfaatkan preman sangatlah tidak elegan dan tidak simpatik di zaman demokratis ini dan saya pastikan ini pola-pola lama yang merupakan bagian dari strategi pencegahan penyebaran faham komunisme era Suharto. Tidak kaget karena saya sudah memperkirakan bahwa 8 tahun setelah reformasi, pengambil kebijakan keamanan di Indonesia masih berpikir seperti di zaman Suharto.

Kelima, ingin saya sampaikan fakta-fakta mengapa dalam sejarahnya faham kiri sangat tidak populer di hati rakyat Indonesia. Meskipun PKI pernah menjadi salah satu partai dengan jumlah kader yang luar biasa, namun hal itu tidak berati PKI bersih dari kontroversi. Watak sewenang-wenang dan strategi gerakan yang diwarnai intimidasi pernah menjadi trade mark PKI. Sebenarnya bukan hanya PKI, partai-partai yang mencapai kekuatan politik di negeri ini sering kebablasan dan menjadi semena-mena. Semua itu diperparah dengan kekeliruan strategi PKI yang terpancing untuk melakukan gerakan yang akhirnya menghancurkannya untuk "selamanya". Seandainya PKI tidak terpancing, mungkin tidak akan pernah ada Presiden bernama Suharto.

Keenam, pada era reformasi ini saya perhatikan emosi meledak-ledak dari aktivis kiri sangat mengganggu pemahaman rakyat yang terus dibayangi cerita-cerita seram komunisme. Sangat jelas bahwa saya tidak melihat satupun intelektual kaum muda kiri Indonesia yang cukup mampu membawa pesan mendalam dari faham kiri, entah itu marxisme klasik maupun yang neo. Akibatnya penolakan masyarakat mudah sekali terjadi hanya dengan provokasi sedikit saja. Selain itu, mereka yang cukup pandai ternyata tidak membumi dengan gerakan yang rapih. Sedangkan yang membumi dalam gerakan cenderung kasar dan tidak simpatik, akibatnya sangat mudah menciptakan gerombolan preman untuk menghancurkan perjuangan kaum kiri Indonesia.

Mudah-mudahan tulisan ini cukup obyektif dan saya turut menyesalkan peristiwa di Bandung. Kepada rekan-rekan intel dan aparat keamanan jangan salah paham dengan artikel ini. Kepada aktivis kiri anggap saja ini sebagai catatan khusus yang bisa saudara-saudara diskusikan, silahkan koreksi saya bila saya keliru.

Catatan Penting: Blog I-I akan mendukung gerakan apapun yang sungguh-sungguh bertujuan untuk melindungi rakyat, mensejahterakan rakyat, dst. Tentu saja di tingkatan ideologis akan ada perbedaan, dan diskusi untuk mencapai kesepakatan membangun rakyat tentunya lebih penting dari pada bertikai terus-menerus.

Sekian
Comments:
Bolehlah anda mengatakan "saya bukan kanan, kiri dsb", tetapi anda menjembatani semua paham atau entitas yang ada. Bukankah itu berarti anda tidak memiliki entitas? Bagaimana jadinya kalau demikian, rakyat butuh orang yang punya ketegasan A, B atau C.
Mohon Ma'af, Terima Kasih
Jalasutra
 
vincentliong@yahoo.co.nz answer:

Perlu dipertanyakan kembali apa pendefinisian seseorang atau sekelompok orang termasuk aliran kanan dan aliran kiri. Akan mudah sekali mengaku kanan atau kiri tetapi tidak mengetahui apa maksut label itu sesungguhnya, begitu juga dengan kasus di Bandung tsb, saya kira masih di taraf demikian.

Dulu ketika saya sekolah di The GMIS saya sempat selama 1 1/2 tahun makan pagi setiap hari dengan anak aparat / agen kedutaan bagian ekonomi DPRK (The Democratic People Republic of Korea) / North Korea, saya juga sering mampir ke apartment sewaan di Aston Hotel, dekat Atrium Senen dan ngobrol dengan ayahnya. Pengalaman tsb jauh sekali dengan pemahaman tentang kekirian yang diceritakan di dogma-dogma yang saya temui yang serba idealis, agak seniman, kasar, miskin, dlsb.

Mereka tidak jauh beda dengan manusia-manusia spt kita kebanyakan, bahkan suka nonton CNN, Cartoon Network dan Discovery Channel di TV Cable-nya yang TV Plasma bermerek Toshiba.

Hanya yang berbeda mereka berdoa tiap hari bukan ke Tuhan / Allah, tetapi ke The Great Leader Kim Il Sung dan Dear Leader Kim Jong Il. Manusia meski yang kiri sekalipun tidak bisa hidup tanpa "aturan langit" paham yang mengkultuskan seperti kita mengkultuskan Tuhan.
 
Vincent Liong answer to Jalasutra:

Ada dua macam sudutpandang ilmu dalam memandang manusia:

* Sudutpandang ilmu yang pertama lahir dari usaha manusia untuk melabelkan, mendefisiniskan output dari proses pengambilan keputusan manusia. Ilmu ini mengukur manusia berdasarkan hubungan antara masa lalu si manusia dengan akibat di masa depannya, sehingga manusia itu membentuk keyakinan-nya (believe sistem, jati diri, norma, sudutpandang yang tetap, kaku, tidak lues) untuk menciptakan perasaan aman bagi dirinya sendiri, seolah-olah semua sudah terjamin. Meski dia sadar terjaminnya di tarap “seolah-olah” tetapi dia tetap perlu konsep aman tersebut agar dirinya punya pegangan, katanya. Seolah-olah hidup itu pasti dan linear. Biasanya yang kurang diperhatikan adalah masa kini, butuh keluesan untuk bisa tetap survive di saat ini, hal ini tidak dimiliki oleh manusia jenis ini karena hidup dalam impian akan masa depan, bukan masa kini. Yang menjadi masalah input tidak pernah sama sehingga melalui proses yang sama dan menghasilkan output yang sama. Manusia jenis ini selalu memilih satu pilihan yang danggap benar (seperti dongeng yang khas ceritanya) sehingga lupa bahwa input tidak pernah sama, dunia tidak pernah ideal.
Pemposisian diri: Sebagai Program yang prosesnya mengharapkan output tertentu.

* Sudutpandang ilmu yang kedua lahir dari kondisi bahwa dalam hidup saat ini (at the present time) manusia selalu hidup dalam ketidakpastian. Tidak ada input yang pasti untuk menghasilkan output yang pasti pula. Jadi manusia itu tidak bedanya dengan komputer mekanis. Output ditentukan oleh input, kemampuan manusia ditentukan oleh kelengkapan anggota tubuh (hardware) dan kelihaian manusia itu dalam mengambil tiap keputusannya / memproses informasi (software apa yang terinstall). Maka kalau hardwarenya sama dan softwarenya sama maka kemampuannya sama. Yang membedakan adalah pemposisian diri si manusia di dalam ‘range’ yang lebih luas (keluarga, masyarakat, tingkat kekayaan, tingkat hirarki, dlsb). Tiap manusia hidup dengan menganalisa data / informasi / keadaan saat ini untuk kemudian melakukan pengambilan keputusan (strategi) dengan satu tujuan yaitu untuk survive atau kalau bisa meningkatkan “kwalitas hidup” diri sendiri. Jadi tidak ada istilah pegang yang mana, misalnya: “pilih kanan atau kiri”.
Pemposisian diri: Sebagai Operating Sistem yang mengatur lalulintas informasi.

Dalam hal ini Jalasutra yang didikan ala sudutpandang ilmu yang pertama dan Senopati Wirang adalah didikan ala sudutpandang ilmu yang kedua karena sebagai intel yang terpenting adalah survive saja, hidup selalu ada di kondisi ketidakpastian.


Ttd,
Vincent Liong
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters