POSO » INTELIJEN INDONESIA

Friday, January 26, 2007

POSO

Poso di era reformasi adalah sebuah cerita berlumuran darah yang selalu membuat pusing siapapun yang menanganinya.

Poso di era Orde Baru hanya sebuah wilayah sunyi dengan penduduk Muslim dan Kristen yang jarang saling tegur sapa, paling-paling bertemu di pusat keramaian. Kemudian di kantung-kantung pegunungan bila terjadi pertemuan sepintas dalam kendaraan masing-masing hanya berpapasan dan melambaikan tangan.

Sebuah wilayah sunyi yang menjadi mencekam ketika terjadi rangkaian kisah banjir darah yang menyisakan dendam entah sampai kapan.

Berikut ini catatan Senopati Wirang yang bersumber pada informasi rekan-rekan Blog I-I yang akhirnya merambah kelompok yang dituduh radikal oleh pemerintah.

Pertama, saya mendapatkan klarifikasi bahwa persoalan gerakan radikal Islam yang selalu dikaitkan dengan Jemaah Islamiyah di Poso tidak sepenuhnya benar. Telah terjadi proses generalisasi bahwa JI berada di belakang gejolak Poso yang belum berakhir hingga saat ini. Kelompok JI yang ada di Poso adalah JI Akhiirun yang sembarangan merekrut anggota dan sangat cepat terpancing oleh intimidasi pemerintah RI maupun oleh elemen intelijen Asing (baca CIA, Mossad dan Australia). Kelompok ini bahkan sudah disusupi informan/agen asing, misalnya saja saat ini sedang dilakukan operasi internal untuk mengungkap penghianat dalam tubuh JI yang diduga sebagai informan-nya Sidney Jones. Sebagai akibat dari tergesa-gesanya pembentukan kelompok wakalah versi JI Akhiirun maka terciptalah keadaan dimana seolah-olah JI telah melakukan metamorfosa dan terpecah-pecah menjadi banyak bentuk. Padahal yang terpcah-pecah hanya JI Akhiirun. Kondisi inilah yang diyakini Sidney Jones dalam laporannya ICG tentang kelompok lokal JI di Poso. Sebuah kejanggalan pandangan Sidney Jones adalah merestui operasi Polisi di satu sisi dengan membesar-besarkan keberadaan JI di Poso, namun mengkritik keras insiden 22 Januari 2007 dengan mempermasalahkan jatuhnya korban. Polisi harus berhati-hati dengan menguatnya gerakan pendiskreditan terhadap kebijakan tegas Polisi, salah-salah nanti terpuruk seperti tentara (TNI).


Kedua, JI Awaalun yang masih solid saat ini sama sekali pasif dan lebih mengintensifkan peningkatan kapabilitas anggota. Namun tetap memperhatikan gerak kebijakan pemerintah yang melakukan kebijakan yang tegas kepada JI Akhiirun. Suatu hal yang melegakan bagi JI Awaalun adalah bahwa elemen Ikhwan bekerja dengan begitu baik melalui jaring yang telah tercipta sedemikian baiknya di Indonesia. Adalah kelompok Ikhwan yang berhasil menciptakan opini publik terjadi kebijakan keliru berupa operasi represif kepada masyarakat sipil Muslim. Lebih jauh muncul kembali tuntutan pengejaran terhadap daftar nama yang disebutkan Fabianus Tibo cs.

Ketiga, proses kebencian terhadap Polisi di sebagian wilayah tidak terjadi tiba-tiba melainkan telah menjadi bagian dari strategi rakyat semesta (gerilya ditengah-tengah penduduk). Dalam situasi penuh kecurigaan dan ketegangan, sangat mudah mendorong terjadinya perlawanan terhadap Polisi karena memang pendekatan persuasif boleh dikata gagal. Pertanyaan saya, bagaimana proses pengambilan keputusan di Kepolisian? siapa yang menginformasikan orang-orang DPO tersebut? Intelijen yang mana? Kalangan JI Awaalun dan JI Akhiirun sangat meyakini bahwa Polisi dikendalikan oleh Task Force asing, sehingga terjadi ketidakpercayaan yang meluas. Hal itu juga dikonfirmasi oleh kelompok Ikhwan yang telah mengetahui langsung peranan Australia dan AS dalam mengendalikan perang melawan teror di Indonesia. Perhatikan juga peringatan mantan KA BIN Jendral (Purn) AM Hendropriyono tentang Poso, siapa yang memberitahukan kepada Pak Hendro? Bukankah itu juga bagian dari cerita panjang tentang terorisme di Indonesia.


Keempat, teriakan lantang Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) yang kembali bergerak menyoroti perlakukan tidak adil kepada umat Islam merupakan upaya untuk meraih kembali kepercayaan JI Awaalun yang sempat luntur ketika ABB baru saja dilepaskan. Saat ini ABB sudah bisa memantapkan posisi sebagai juru bicara pembela serta untuk mempengaruhi opini publik.

Kelima, hal yang sangat penting dari rangkaian peristiwa Poso adalah adu domba pemerintah versus rakyat, dimana apapun yang terjadi Indonesia akan rugi besar. Siapa yang untung? Perhatikan bagaimana konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Afrika, dan ketidakstabilan di Amerika Latin.

Untuk mengakhiri penderitaan rakyat Indonesia sebagai akibat dari gerakan intel asing, Senopati Wirang mengusulkan Operasi Ganyang Intel Asing beserta antek-anteknya.

Sekian





Comments:
mungkinkah sbuah ops gal?
 
poso maupun adam air adalah usaha pengalihan perhatian kita terhadap usaha gam menuju aceh merdeka yg di bantu agen US (CIA) di indonesia (double agen/2face) sayang ya kena digeser pelan-2 patok indonesia
:-(
 
BRAVO Senopati Wirang!!
Hal inilah yang saya pernah kemukakan kepada bapak, PERKUAT COUNTER INTELLIGENCE kita ! Kalo perlu, bentuk suatu unit (TASK FORCE)khusus COUNTER INTELLIGENCE yang kompeten. saya harap para punggawa SENORAYA memperhatikan artikel ini.

ABWEHRMEISTER
 
yg saling bunuh sesama bangsa sendiri..eh orang lain yg disalahkan..

mari kita selesaikan masalah kita sendiri sebelum mulai cari2 kesalahan dengan buat teori2 konspirasi asing (konspirasi yahudi, as,australia, israel, etc.,etc.).
 
pak senopati,kelompok ikhwan ini kelompok manalagi?apakah sempalan JI yang lain?ataukah kelompok baru?thanks atas jawabannya.saya ngikuti terus info-info hangat dari anda.saya yakin,ribuan WNI lain jg akan menanti analisa hangat dari anda.
 
betulll boss..counter intelejen harus jalan..ngomong2 kalau membaca gaya tulisan anda,kelihatannya bung senopati wirang saat ini bukan senopati wirang pencipta blog ini?
 
ya, tampaknya bukan gaya penulisan senopati wirang pencipta blog ini. mohon kejelasan om senopati. terimakasih
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters