Sebuah Catatan Untuk Gerakan Kiri Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, January 10, 2007

Sebuah Catatan Untuk Gerakan Kiri Indonesia

Reaksi rekan-rekan Blog I-I terhadap artikel Kiri oh Kiri ternyata begitu luar biasa. Ada yang menganggap saya simpati terhadap pemikiran Marxisme, ada yang memberikan saya cap komunis, dan tidak sedikit yang bersikap sebaliknya yaitu justru memuji dan bahkan ada meminta analisa komprehensif soal pemikiran kiri Indonesia dan potensi gerakan kiri Indonesia. Sayangnya sikap-sikap tersebut tidak disampaikan secara terbuka ke Blog I-I ataupun diungkapkan melalui shoutbox. Karena akan terasa lebih nyata dan menghidupkan diskusi di Blog I-I. Saya tidak akan menjawab e-mail rekan-rekan Blog I-I satu per satu. Oleh karena itu saya tuliskan sebuah pandangan singkat yang mungkin bisa mencakup seluruh komentar, pertanyaan, dan respon rekan-rekan Blog I-I.

Baiklah....begini pandangan saya....

Secara psikologis masyarakat Indonesia masih banyak yang mudah dipengaruhi karena tingkat intelektualitas yang relatif rendah dan sikap mental penakut sebagai akibat dari intimidasi berkepanjangan sejak zaman penjajahan. Sangat jarang kita bisa menemukan sosok manusia Indonesia yang idealis dan berani serta yakin akan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi tersebut diperparah oleh mayoritas sikap kelompok elit pimpinan yang cenderung tidak memiliki jiwa pengorbanan untuk rakyat. Ide-ide seperti Satrio Piningit dan Ratu Adil merupakan sebuah bentuk fantasi harapan dari jeritan rakyat yang mendambakan kepemimpinan yang sungguh-sungguh mengayomi rakyat. Fakta bahwa tidak sedikit pemimpin Indonesia yang bermental pemeras, oportunis, kejam, mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki visi dan misi untuk kesejahteraan rakyat, telah membuat hubungan antara elit dan rakyat yang penuh kecurigaan. Apabila ada gerakan rakyat yang murni sekalipun sering diartikan sebagai sebuah perlawanan terhadap negara. Sebaliknya, rakyat senantiasa berharap akan adanya peranan negara yang sungguh-sungguh memperhatikan kondisi nyata berupa kemiskinan, bencana, yang langsung berdampak ke kehidupan sehari-hari. Padahal peranan negara pasca jatuhnya pemerintahan Suharto telah digerogoti secara sistematis oleh pemilik modal dan politisi dan birokrat korup. Sementara dinamika gerakan civil society ala Barat masih harus menempa diri menjadi satu kekuatan nyata yang bisa mendorong perubahan nyata pula.

Perlu dicatat bahwa proses kooptasi berbagai gerakan politik di Indonesia juga berjalan seiring dengan kepentingan para pemilik modal dan orang-orang yang punya "kuasa". Proses tersebut telah melemahkan gairah dinamika gerakan civil society. Akibatnya terjadi lagi aliansi-aliansi gerakan yang cenderung menjadikan gerakan civil society dibawah kepentingan tertentu, misalnya untuk kepentingan tokoh tertentu, untuk kepentingan partai tertentu, untuk kepentingan pemberi donor, untuk kepentingan asing, bahkan tidak sedikit yang bergerak untuk kepentingan intelijen asing.

Melihat kondisi tersebut, diperlukan sebuah pemikiran yang kuat dan matang yang bisa diadaptasikan ke dalam situasi kongkrit rakyat Indonesia. Apabila kita berpijak pada pandangan Marxisme dalam varian apapun perlu dilakukan proyek besar penelitian tentang sikap rakyat Indonesia terhadap pemikiran Karl Marx, minimal berupa survei yang bisa mewakili penyebaran penduduk Indonesia. Saya jamin, bila tiba-tiba dilakukan survei semacam itu saat ini jawabnya akan negatif, yaitu banyak rakyat Indonesia yang tidak paham tentang itu. Sesungguhnyalah hal yang sama juga menimpa pemikiran liberal dan neo-liberal. Semua saat ini sangat tergantung pada media massa dan gerakan-gerakan politik oportunis yang bersliweran. Oleh karena itu perlu dilakukan proses conditioning berupa pendidikan politik, propaganda, serta penjelasan-penjelasan sederhana yang bisa dimengerti. Satu hal vital yang perlu dicapai selama proses tersebut adalah penciptaan sebuah varian khas rakyat Indonesia dalam pola pikir filsafat kiri, sebuah contoh baik misalnya faham Marhaenisme yang sebenarnya saya pernah ikut menggodoknya sebelum dipopulerkan oleh Bung Karno. Sebuah proyek besar yang juga sukses adalah RRC dengan pemikiran Mao dan Deng dan kemudian disempurnakan oleh Jiang dalam sebuah proses panjang menciptakan sosialisme ala China. Saya yakin tidak banyak yang tahu sel-sel khusus yang diciptakan oleh ketiga tokoh besar China tersebut. Sel-sel analis intelijen RRC telah melakukan penelitian serius tentang kondisi nyata rakyat China mulai dari filsafat sampai ke persoalan sehari-hari. Bagaimana terjadi sinergi gerakan tani sebagai pengganti buruh ala Mao, dilanjutkan oleh pragmatisme sosialis Deng dengan memasukkan unsur kapitalisme serta bagaimana terjadi sinergi dari ajaran Konfusianisme ke dalam pandangan sosialisme ala China yang digagas Jiang tentunya bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia. Satu hal yang sangat penting adalah kesemua itu digagas dan dilaksanakan untuk the greater China.

Ketika muncul ide-ide sosialisme-Islam, saya lihat masih terlalu dangkal dan kurang progresif. Ketika anak-anak muda LMND, akatiga, PRD, milist marxisme, serial, kelompok diskusi rumah kiri, serikat buruh, dll saya melihat tercerai berainya pemikiran kiri yang cenderung mengarah pada pola elitisme dan ego yang mengakibatkan kurangnya perhatian pada penguatan pondasi pemikiran khas kiri Indonesia yang bisa diterima luas yang juga diiringi oleh proses propaganda dan agitasi yang cerdas.

Basis-basis yang sudah baik di Medan, Riau, Bandung, dan Jakarta seharusnya bisa menjadi pionir dalam memperbaiki lemahnya argumentasi dan memperbesar pengaruh gerakan.

Saya melihat tidak banyak aktivis kiri yang berani mengambil inisiatif pendekatan dengan kalangan militer, intelijen, polisi dan lembaga berpengaruh lainnya dalam sebuah proses penggodokan konsep pemikiran dan gerakan kiri khas Indonesia. Sebuah diskusi intensif sebenarnya sangat perlu karena sesungguhnya musuh gerakan kiri Indonesia adalah kapitalisme global dengan dukungan kalangan radikal neo-liberal.

Sebagai sebuah peringatan kecil, bahwa pasca berantakannya gerakan radikal teror, gerakan kiri kembali menjadi sasaran apabila tidak segera berbenah diri dengan tampilan sebagai pembela jeritan rakyat Indonesia. Hal penting yang sangat vital bagi sebuah gerakan idealisme adalah simpati yang besar dan luas dari rakyat.

Semoga bisa bermanfaat. Kepada rekan-rekan aparat keamanan perlu saya tegaskan bahwa segala potensi rakyat dari kalangan manapun seharusnya tidak diberangus secara sewenang-wenang. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk masa depan Indonesia. Saat ini yang sedang menjerumuskan bangsa Indonesia adalah para kapitalis yang serakah dan tidak mau berkorban untuk rakyat Indonesia. Kondisi terebut menjadi mungkin karena pemerintah selalu terbelenggu oleh tarik ulur kekuatan-kekuatan politik dan pemiliki modal yang juga diperparah oleh intervensi asing yang berlebihan.

Sekian, mohon koreksi bila ada kekeliruan

Comments:
vincentliong@yahoo.co.nz answer:

Saya sependapat dengan sudutpandang anda di tulisan ini sdr Senopati Wirang. Yang terjadi di lapangan memang berbeda dengan yang terjadi di dogma-dogma yang diajarkan. Di lapangan, masalahnya bukan soal kanan atau kiri, di lapangan yang penting adalah kepentingan tiap pihak untuk menaikkan tingkat “kwalitas hidupnya” masing-masing. Entah itu kwalitas hidup dalam range perorangan, keluarga, pertemanan, perusahaan, sampai negara-negara.

Nah, dalam usaha meningkatkan standart kwalitas hidup itu, proses pencarian melalui kemampuan berpikir manusia yang bebas dibatasi prosesnya agar stop pada labeling, keyakinan, believe sistem, dlsb sehingga tidak akan pernah sampai pada sistem mekanis dasarnya yang bisa mengakibatkan manusia menguasai kontrol dirinya secara penuh. Masyarakat dididik untuk terbatasi kemampuannya hanya pada tiga bidang: Menghafalkan, mencocokkan data dan mengelompokkan data.

Untuk pendekatan ke kalangan militer, intelijen, polisi dan lembaga berpengaruh lainnya kami pernah mencobanya, selalu permasalahannya soal resistensi yang diakibatkan dogma:
* Untuk bidang intelejen kami pernah memperkenalkannya ke seorang di bidang privat secreet service tetapi mereka mempersoalkan masalah “buat apa membuat yang baru toh cara lama masih ada”.
* Di bidang militer ketika kami coba malah bertengkar soal “pembahasan aliran syariat vs hakikat”.
* Di bidang kepolisian kami belum coba.

Yang selalu terjadi adalah, ketika kami mencoba ke kalangan , intelijen, polisi dan lembaga berpengaruh lainnya, kalangan yang merespon malah kalangan pengusaha yang dekat dengan ‘mereka’. Lama kelamaan saa lebih suka mengerjakannya ke pengusaha karena mereka lebih realistik soal untung rugi yang semuanya dihubungkan dengan kemajuan usaha mereka “kwalitas hidup” mereka.

Pada tanggal 12- 19 April 2007 ini saya akan ke Yogyakarta & Solo untuk mengerjakan proyek Kompatiologi ini untuk kalangan pengusaha kerajinan tangan, restoran dan internet provider. (e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20310 ).


Dalam hal tema yang kita bahas ini ada tiga ranah bidang yang perlu diperbaiki…
Menurut Tao: “Manusia mengikuti aturan bumi, bumi mengikuti aturan langit, sementara langit mengikuti aturan Tao… Sementara Tao di sini juga sesuatu yang di taraf tidak terdefinisikan… Tao yang terdefinisikan bukanlah Tao yang sebenarnya.”

* Manusia -> ilmupengetahuan sosial.
* Bumi -> ilmupengetahuan alam.
* Langit -> ilmu agama.


Ada beberapa tulisan saya yang saya harap dibaca oleh bung Senopati Wirang & teman-teman yang menjelaskan soal hal tsb:

* Labeling : Keputusasaan Ilmupengetahuan Sosial Resmi
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20062

* Penerapan Teknologi Skala Interval dalam Kompatiologi
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20135
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20134

* “Gampang, gue bikin banyak orang aneh dan gue jadi bosnya"
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20190

* Kompatiologi dan Perubahan Paradigma Berpikir, dari Normatif ke Adaptif
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/19745

Semoga bung punya waktu membacanya…


Ttd,
Vincent Liong
 
vincentliong@yahoo.co.nz answer:

Saya sependapat dengan sudutpandang anda di tulisan ini sdr Senopati Wirang. Yang terjadi di lapangan memang berbeda dengan yang terjadi di dogma-dogma yang diajarkan. Di lapangan, masalahnya bukan soal kanan atau kiri, di lapangan yang penting adalah kepentingan tiap pihak untuk menaikkan tingkat “kwalitas hidupnya” masing-masing. Entah itu kwalitas hidup dalam range perorangan, keluarga, pertemanan, perusahaan, sampai negara-negara.

Nah, dalam usaha meningkatkan standart kwalitas hidup itu, proses pencarian melalui kemampuan berpikir manusia yang bebas dibatasi prosesnya agar stop pada labeling, keyakinan, believe sistem, dlsb sehingga tidak akan pernah sampai pada sistem mekanis dasarnya yang bisa mengakibatkan manusia menguasai kontrol dirinya secara penuh. Masyarakat dididik untuk terbatasi kemampuannya hanya pada tiga bidang: Menghafalkan, mencocokkan data dan mengelompokkan data.

Untuk pendekatan ke kalangan militer, intelijen, polisi dan lembaga berpengaruh lainnya kami pernah mencobanya, selalu permasalahannya soal resistensi yang diakibatkan dogma:
* Untuk bidang intelejen kami pernah memperkenalkannya ke seorang di bidang privat secreet service tetapi mereka mempersoalkan masalah “buat apa membuat yang baru toh cara lama masih ada”.
* Di bidang militer ketika kami coba malah bertengkar soal “pembahasan aliran syariat vs hakikat”.
* Di bidang kepolisian kami belum coba.

Yang selalu terjadi adalah, ketika kami mencoba ke kalangan , intelijen, polisi dan lembaga berpengaruh lainnya, kalangan yang merespon malah kalangan pengusaha yang dekat dengan ‘mereka’. Lama kelamaan saa lebih suka mengerjakannya ke pengusaha karena mereka lebih realistik soal untung rugi yang semuanya dihubungkan dengan kemajuan usaha mereka “kwalitas hidup” mereka.

Pada tanggal 12- 19 April 2007 ini saya akan ke Yogyakarta & Solo untuk mengerjakan proyek Kompatiologi ini untuk kalangan pengusaha kerajinan tangan, restoran dan internet provider. (e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20310 ).


Dalam hal tema yang kita bahas ini ada tiga ranah bidang yang perlu diperbaiki…
Menurut Tao: “Manusia mengikuti aturan bumi, bumi mengikuti aturan langit, sementara langit mengikuti aturan Tao… Sementara Tao di sini juga sesuatu yang di taraf tidak terdefinisikan… Tao yang terdefinisikan bukanlah Tao yang sebenarnya.”

* Manusia -> ilmupengetahuan sosial.
* Bumi -> ilmupengetahuan alam.
* Langit -> ilmu agama.


Ada beberapa tulisan saya yang saya harap dibaca oleh bung Senopati Wirang & teman-teman yang menjelaskan soal hal tsb:

* Labeling : Keputusasaan Ilmupengetahuan Sosial Resmi
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20062

* Penerapan Teknologi Skala Interval dalam Kompatiologi
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20135
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20134

* “Gampang, gue bikin banyak orang aneh dan gue jadi bosnya"
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20190

* Kompatiologi dan Perubahan Paradigma Berpikir, dari Normatif ke Adaptif
e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/19745

Semoga bung punya waktu membacanya…


Ttd,
Vincent Liong
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters