GSM oh GSM Masih Berbendera Merah Putih kah? » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, February 27, 2007

GSM oh GSM Masih Berbendera Merah Putih kah?

Setelah sedikit saya edit beberapa bagian yang rawan bisa membongkar identitas Cah Bodho sebagai penulis artikel ini, saya yakin betul bahwa catatan Cah Bodho cukup penting untuk diketahui rekan-rekan Blog I-I.

Silahkan membaca.....

-----------------------------------------------------------------------------------


GSM… OH GSM… MASIH BERBENDERA MERAH PUTIH KAH ?


Perkembangan dunia telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini sudah mencapai tahap yang mengagumkan. Pada September 2006 data menunjukan bahwa pengguna Ponsel di Rekiblik Ndonez ini sudah mencapai angka yang cukup fantastis. Pengguna Ponsel di Ndonez untuk sekarang ini mencapai lebih dari 38 juta pelanggan atau sekitar 17,28 % dari keseluruhan jumlah penduduk Ndonez. Jumlah ini adalah jumlah mereka yang hanya menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi GSM (Global Satellite Mobile) belum ditambah lagi mereka yang menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi CDMA (Code Digital Multiple Access).



Tanpa ampun trend menggunakan Ponsel ini sudah merambah ke semua lapisan masyarakat dari semua golongan baik itu di daerah pedesaan maupun di kota-kota besar. Ponsel sudah menjadi semacam instrumen untuk menaikan status sosial dari seorang individu, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai life style dengan alasan kebutuhan akan komunikasi dan informasi yang cepat. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang positif dan bisa dipahami di satu sisi, tetapi apabila tidak diawasi dengan semestinya oleh pemerintah sebagai regulator sistem telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini, maka perkembangan dunia telekomunikasi ini akan menjadi boomerang yang memungkinkan terbukanya celah dalam sistem pertahanan dan keamanan negara. Karena itu ijinkan saya berbagi pengalaman dengan Bung Seno.

Beberapa waktu yang lalu Densus 88 Antiteror Polri melakukan penggerebekan di daerah Wonosobo, Jawa Tengah yang menewaskan Jabir yang konon adalah murid terakhir Sang Empu perakitan bom yaitu Alm. Dr. Azahari. Seorang informan yang berdinas di Densus 88 bercerita tentang kronologi terjadinya penggerebekan di Wonosobo. Densus 88 berhasil melacak Jabir dari nomor Ponselnya dengan menggunakan GSM Interceptor buatan Israel yang berharga 4 milyar rupiah tiap unitnya. Alat tersebut adalah sebuah kotak kecil yang bisa dibuka mirip Laptop. Ukurannya sedikit lebih besar dari Laptop standar, warnanya abu-abu kehitaman. Melihat alat itu, otak saya mencoba mengingat-ingat karena saya pernah melihat alat ini sebelumnya.

Saya ingat peralatan milik Hulubalang Mossad yang sudah dimodifikasi. Ada semacam antena yang menyembul dan bisa ditarik dari dalamnya. Untuk hal ini saya tidak begitu kaget karena pada beberapa jenis Laptop juga terpasang CDMA Modem yang antenanya bisa ditarik cuma tidak sebesar itu. Perbedaan yang mencolok adalah adanya dua kotak lain berwarna hitam dengan instrumentasi yang tidak begitu jelas yang terhubung dengan alat itu. Instrumen ini juga memiliki layar tersendiri tapi saya tidak bisa membaca apa itu karena ketika saya melihatnya alat tersebut dalam kondisi mati.

Ternyata alat mirip laptop itu bukan sembarang Laptop, Mossad menyebutnya the smart eagle yang mana “Berita berbasis GSM milik Mossad”. “Pencerahan” dari kalangan Densus 88 tentang fungsi sesungguhnya alat itu membuka korelasi keyakinan Mossad menguasai komunikasi GSM di Indonesia.

Saya terngiang dengan kalimat “Asal masih GSM !” Hal inilah yang kemudian mendorong saya mengambil inisiatif lebih lanjut untuk menganalisis menggunakan pendekatan Potential Risk Assessment (PRA) dalam perspektif pertahanan. Bagaimana mungkin mereka mampu mengakses semua teknologi komunikasi yang berbasis GSM di Rekiblik Ndonez ? Kalaupun mereka memiliki peralatan yang canggih tetap saja tidak semudah itu mengakses ke perusahaan-perusahaan yang memiliki portofolio internasional.

Dalam teknologi telekomunikasi nirkabel, setiap modulasi yang terkirim dalam pelayanan kepada para pelanggannya pasti dalam keadaan encrypted dengan kode binary yang memang diciptakan khas, tidak mengikuti aturan umum sehingga tidak mudah dipecahkan. Kebetulan saya sedikit banyak belajar tentang ini, jadi saya tahu teknik enskripsi. Jangankan untuk intercepting apalagi penyadapan, untuk mengakses server induknya saja pasti sudah sangat kesulitan. Kecuali ada yang “bermain” di balik itu semua, dengan memberikan key code binary untuk decryption sehingga memudahkan langkah decoding setiap modulasi. Saya mencoba melakukan deep study tentang dunia telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini khususnya operator seluler yang menggunakan teknologi berbasis GSM. Hasilnya cukup memuaskan saya, hipotesa saya terbukti.

Di Rekiblik Ndonez ini ada 3 operator seluler besar yang menggunakan teknologi berbasis GSM yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel), PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat), dan PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL). Kalau dilihat sekilas memang tidak ada yang salah dengan ketiga perusahaan itu. Tetapi ketika diselidiki lebih jauh Corporate Insight nya, maka akan ditemukan potensi terbukanya masalah national security ini. Berikut ini adalah data Biro Transaksi dan Lembaga Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM) per Oktober 2006 tentang komposisi pemegang saham dari 3 perusahaan telekomunikasi ini :

1. PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel)
Singapore Telecom + publik asing : 37,86 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 62,14 %
2. PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat)
Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. + publik asing : 86,62 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 13, 38 %
3. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL)
Telekom Malaysia Berhad + publik asing : 85,07 %
Telekomindo Primabhakti + publik Ndonez : 14,93 %

Lihat saja angka-angka tersebut. Wajar logikanya kalau saya mengatakan bahwa telekomunikasi di Rekiblik Ndonez sudah tidak “berbendera Merah Putih” lagi. Kalau boleh diambil rata-ratanya, maka kepemilikan asing akan saham perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Ndonez mencapai angka 69,85 %. Kepemilikan saham yang hampir mencapai 70 % inilah celah keamanan yang tidak diperhatikan oleh aparat-aparat yang berkepentingan dalam hal ini, termasuk Seno Raya di dalamnya.

Saya mencoba menyelidiki tentang perusahaan-perusahaan asing ini. Tentunya dimulai dari kepemilikan atas saham perusahaan-perusahaan tersebut. Saya meminta bantuan seorang teman di Singapore untuk melacak kepemilikan saham dari Singapore Telecom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. Hasilnya cukup lumayan untuk membuat saya curiga. Setengah dari saham perusahaan-perusahaan tersebut memang dimiliki oleh pemerintah Singapore, tetapi sebagian kecil yaitu sekitar 20 % lebih dimiliki oleh seorang Spekulan Valas Yahudi yang pernah mengacak-acak konstelasi perekonomian Asia Tenggara pada dekade 90-an. Dia adalah George Soros. Sekalipun tidak secara langsung, tetapi salah satu anak perusahaan dari Soros Corporation Holding Co. memiliki saham kedua perusahaan ini. Meskipun kepemilikan saham atas kedua perusahaan ini cukup kecil dibanding pemerintah Singapore, tetapi munculnya nama ini dalam deretan para pemegang saham Singapore Telekom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. cukup menimbulkan kecurigaan dalam benak saya terhadap setiap policy kedua perusahaan ini di Rekiblik Ndonez.

Kalau diselidiki lebih dalam lagi, maka komposisi saham yang sedemikian besar dari kedua perusahaan Singapore ini atas perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Rekiblik Ndonez akan memberikan berbagai macam konsekuensi tersendiri di dalam manajemen perusahaan tersebut. Pihak pemilik saham yang lebih banyak akan menaruh orang-orangnya di dalam manajemen inti dengan porsi yang lebih banyak pula dalam perusahaan tersebut. Analoginya mirip partai politik yang memenangkan suara terbanyak sehingga memiliki banyak wakil di parlemen, demikian pula pemegang saham dan Dewan Komisaris di dalam sebuah perusahaan.

Orang-orang yang ditaruh di dalam manajemen inti sebuah perusahaan ini tentunya memiliki pengaruh besar dalam setiap policy dan keputusan-keputusan yang diambil perusahaan. Ekses negatif lainnya adalah, orang-orang yang duduk di manajemen inti inilah yang memegang banyak rahasia perusahaan termasuk sistem keamanannya.

Saya memiliki segepok arsip-arsip tentang orang-orang di manajemen inti ketiga perusahaan ini. Data saya lumayan lengkap tentang “Biography of the Board of Commissioners”, “Biography of the Audit Committee” dan “Biography of the Board of Directors” jangan tanya dari mana saya mendapatkannya, karena setidaknya saya menghabiskan waktu 5 bulan untuk mengumpulkannya.

Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini tentang latar belakang mereka satu persatu. Setidaknya ada beberapa orang dari mereka yang berasal dari Singapore yang bisa saya sebut di sini seperti Peter Seah Lim Huat, Lee Theng Kiat, Sio Tat Hiang, Sum Soon Lim, Lim Ah Doo, Ng Eng Ho, Joseph Chan Lam Seng, Raymond Tan Kim Meng, dan Wong Heang Tuck. Setelah saya selidiki latar belakangnya dengan seksama, pada intinya adalah, ada beberapa dari mereka di masa lalu yang memang pernah memiliki hubungan dengan beberapa Non Government Organization (NGO) yang berasal dari Israel yang bermarkas di Singapore seperti Shimon Perez Foundation, Shekel Ha-Nissi Foundation, dll.

Salah satunya bahkan mengambil Master of Technology dari University of Tel Aviv dan menuliskan “Be shema Elah ha rahman rahamin melek Yom Habbin, be shema Elah mubarekha ha shamayin mim alama we ad alama hasyim be orach misor !” dalam pembukaan Tesisnya (saya punya salinan Tesisnya). Kalimat ini merupakan kalimat salam pembukaan dari agama Yahudi (Judaism). Dari closed source yang saya dapatkan, mengkonfirmasikan kebenaran hal tersebut. Ada kemungkinan mereka bukan hanya seorang businessman saja, bisa jadi Mossad Agent atau sekurang-kurangnya orang-orang binaan yang dimanfaatkan, karena harus diingat bahwa Singapore adalah sahabat karib Israel di Asia Tenggara. Tidak salah rasanya kalau saya menilai dari sinilah sumber kebocoran enskripsi telekomunikasi Rekiblik Ndonez.

Saya mencoba menarik benang merah yang merangkum semuanya. “Asal masih GSM, berita itu milik kami !” Saat ini saya tidak lagi terheran-heran kalau para Hulubalang Mossad mampu dengan mudah menyadap banyak informasi, ataupun pembicaraan-pembicaraan penting yang dilakukan melalui Ponsel berbasis teknologi GSM (saya tidak tahu bagaimana dengan nasib CDMA). Tapi saya ingin menekankan bahwa, bahkan orang paling bodoh di negeri ini pun akan tahu masa depan negeri ini kalau 17,28 % warga negaranya dimata-matai secara sistematis dan terorganisir oleh negara lain yang memang menghendaki kehancurannya. Anda tahu yang saya maksud. Saya menghimbau pada pemerintah dan semua komunitas intelijen yang ada, seriuslah dalam mengemban tugas negara. Kalau orang segoblok saya dengan ketrampilan, tenaga, dana, fasilitas, dan waktu yang terbatas saja masih bisa mendeteksi sampai sejauh ini meskipun tidak detail, apalagi kalian yang dibekali dengan pendidikan, pelatihan, dana, dan fasilitas yang memadai, harusnya bisa jauh lebih dalam dari ini semua. Kami sebagai warga negara ingin melihat hasilnya.

“Asal masih GSM, berita itu milik kami !” saya berharap statement mereka akan berubah menjadi “Kalau sudah GSM, berita itu bukan milik kami !”

Saya tunggu ulasannya Bung Seno. Sekali lagi, saya cuma Cah Bodho yang nekad nulis dan nekad “nginteli” intel-intel.

-------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Senopati

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Cah Bodho yang saya kagumi, begitu lama saya harus melakukan sejumlah crosscheck atas artikel anda yang sangat berharga ini. Dengan sangat terpaksa, saya "buang" bagian yang bisa digunakan untuk melacak anda. Penilaian saya, Cah Bodho telah mengakses sekitar 20% informasi tertutup, yang merupakan prestasi yang saya kira sulit untuk dicapai oleh Intel Polisi, Intel TNI, bahkan Intel BIN sekalipun.

Saya juga termasuk yang pesimis karena saya hanya pensiunan yang sama nekadnya dengan Cah Bodho. Andaikata kita bersama Blog I-I mampu membangun pesimisitas mimpi menjadi gelora semangat Republik Indonesia Raya, mungkin kenekadan ini akan menghasilkan gelombang perubahan mental dan cara berpikir aparatur negara, khususnya intelijen untuk menepati janji lahir bathin menjaga NKRI.

Pertanyaan saya berikutnya adalah, apakah Indonesian Intelligence Communities mengetahui berbagai ancaman sejauh penyelidikan Cah Bodho ataupun Blog I-I. Kemudian yang lebih terpenting lagi adalah sekuat apa integritas Intelijen Indonesia dalam menyikapi berbagai ancaman, jangan-jangan Intelijen Indonesia tidak mengerti metode Potential Risk Assessment (PRA) ataupun metode Threat Assessment (TA).

Setidaknya Cah Bodho telah berbuat sesuatu bagi NKRI, yaitu berupa peringatan nyata tentang potensi resiko bagi NKRI yang harus ditebus dari kebodohan kebijakan negara yang carut marut dan tidak terkoordinasi antar bidang-bidang pembangunan.

Blog I-I sudah putus asa dengan jalur-jalur resmi organisasi intelijen Indonesia yang telah menjadi lucu karena banyaknya kelompok-kelompok circus cambridge yang akan Blog I-I soroti pada tulisan berikutnya.

Blog I-I menantikan partisipasi aktif dari rekan-rekan Blog I-I seperti Cah Bodho.

Pesan Senopati untuk Cah Bodho, tetaplah waspada dan berlaku wajar dalam setiap proses penyelidikan.

Sekian

Comments:
Om Seno dan Cah Bodho, saya lihat, salah satu media yang informatif dalam belum memiliki link pada blog ini adalah situs harian bisnis dan ekonomi, Investor Daily, (www.investorindonesia.com. Juga ada majalah Investor, yang keduanya bisa diakses pada situs yang sama.

Harian itu, kita jadi saingan berat harian Bisnis Indonesia. Data-datanya sangat kaya.

Tks.
 
Salam Hurmat Pak Seno, Saya amat tertarik dengan apa yg di katakan oleh bpk tentang Cellular Intercept Buatan Israel. Terlalu banyak Cellular Intercept in the market. Saya jadi confused yg mana yg proven for critical surveillance. Bapak tau ga detail peralatan yg bpk maksudkan. I am interested to know more about the product. If you have, can you please give me some details? brand? manufacturer? terima kasih dan salam hurmat. Wan Rusli, Kuala Lumpur wan.rusli@gmail.com
 
tes
 
nama: enjoy
email: enjoy_marenjoy@hotmail.com
himbauan membaca: pelan-pelan.......


bermula dari 9/11 yang lalu…
1. Information Awareness Office (IAO-DARPA) cek wikipedia. Setelah membaca proyek2 mutakhir berjumlah 13 itu, dibagian bawah tertera nama POINDEXTER seorang jendral (anaknya bernama sama, seorang astronot NASA hubungannya dengan satelit ISS, misi ISS juga berjumlah 13, terbang ke ISS 13 hari, US great seal 13 tingkat pyramid (mata satu di 1 US$), unfinished pyramid simbol eksodus Israel), US great seal mirip dengan logo IAO-DARPA. Selain pejabat IAO, Poindexter diangkat jadi pejabat di (buka situs) brightplanet.com: tentang search, harvest, consolidate, index, merge, analyze and categorize documents and associated metadata, in any format, in any language, from surface and deep sources, from inside and outside the firewall. Proyek Genisys diimplementasikan lewat Akamai Technologies. Akamai berasal dari bahasa Hawai yang berarti smart or intelligent.

2. Kalau mau log (bukti) bukan sekedar teori, silahkan nyasar ke artikel seorang pemuda elektrik disini: kelam.multiply.com/journal/item/16 tidak disengaja tulisan itu berbuah hasil tak terduga, Windowsnya ditembus Intelijen asing yang kemungkinan peka terhadap tulisan itu (atau terdeteksi melalui metode harvesting), melalui deploy.akamaitechnologies.com ns1.indosat dengan IP tampak acak setelah dilacak ternyata IP Indosat, seolah 'Automatic Update' Windows, padahal service itu sudah disabled (dimatikan), sedang yang berjalan adalah Background Intelligent Transfer Services (BITS) yang secara otomatis bisa mengaktifkan ‘Automatic Update’. Dari situ Indosat tertangkap basah telah ikut bermain atau sekedar dimanfaatkan Intelijen asing, dengan jejak (log) itu sebenarnya Indosat M2 “gemetar” dituntut ke pengadilan dengan tuduhan spionase.
Teknis: http://www.msfn.org/board/SVCHOST-msgrdlservicemicrosoftcom-t105098.html

3. Dari link MSFN itu kita klik kata "here" tentang kontoversi 'content delivery' dan founder Akamai Technologies yaitu Daniel Lewin (kapten Sayeret Matkal Intelijen IDF yang 'dikabarkan' gugur di 9/11 AA-11 menabrak WTC). Jadi dari Akamai Technologies (proyek Genisys juga tertulis di wiki Akamai Technologies) para intelijen asing sebenarnya sudah bermain mata di telekomunikasi Indonesia sebelum ID-SIRTII (keamanan Rekiblik Ndonez) efektif. Sejak Indosat dikuasai mereka (Israelnya Asia). Indosat dititipi server Akamai gratisan, padahal mahal dan tidak sembarang perusahaan bisa pakai Akamai Technologies, terang saja Indosat senang tanpa menilik ke akar-akarnya (silahkan ditanya staff teknis Indosat M2 tentang dititipinya server Akamai gratisan dan sejak kapan). Bocornya data-data vital pemerintah dan perbankan, contohnya kekayaan alm Soeharto sampai ke IMF kemarin itu darimana (Yahoo dan Microsoft sudah agak lama pakai Akamai, di indonesia beberapa saja dan akan semakin meluas). Email-email kita lewat Outlook Express mengandung keywords tertentu juga mudah transit ke Singapura (dengan cara di-index, harvest, analyze, liat proyek BrightPlanet). Tapi itu bisa diakali misal para teroris mengetik bom jadi bakso. Jadi yang parah kalau sudah terjadi ns1.indosat deploy.akamaitechnologies.com itu, firewall manapun mempersilahkannya karena svchost.exe adalah komponen vital Windows dan Windowslah yang dianggap sedang melakukan "Automatic Update" itu artinya sudah tembus mbus mbus (rahasia antara Microsoft dan Akamai). Bisa sampai seminggu gak putus-putus itu koneksi ke ns1.indosat. deploy.akamaitechnologies.com meskipun direstart 1000kali. Penanggulangannya hanya matikan BITS lalu kirim surat ke Indosat.

4. TIM PEPATI, Aming Rais dan Tokoh2 nasional boikot Indosat, di google, petisinya tentang merebut kembali Indosat dan kerugian ekonomi Rekiblik Ndonez. Atau di google dengan key: "Indosat Intelijen" dari situ sebenarnya Rekiblik Ndonez terlihat sudah mulai sadar dan gerah. Dengan memperbanyak bukti, bukan paranoid lagi.

Dari 4 poin itu, didapati alur begini: tragedi 9/11 (oleh orang dalam, US double citizen “Jewish”), lalu Daniel Lewin dikabarkan gugur, lalu berdiri IAO-DARPA oleh Poindexter Senior, 13 Proyek salah satunya Genisys dikembangkan di BrightPlanet oleh Poindexter senior, proyek lain dibawa ke satelit ISS oleh Poindexter junior (NASA), proyek Genisys di implementasikan di Akamai Technologies yang sudah mendunia, Akamai Technologies pasang server gratisan di Indosat (dikira gratisan padahal rontok semua Rekiblik Ndonez).
Ya, cuma 4 nomor tapi panjang berminggu2 kalau dibuka. Pada mulanya IT tapi semakin dalam diteliti semakin ke ramalan agama juga akhirnya (dajjal). Senang berbagi konspira(kenyataan) dengan bapak, saya sedang skripsi tapi bisa di kontak ke (sementara) email diatas, jadi monggo bapak-bapak BIN yang leluasa bergerak :)

PS: setelah di baca, boleh langsung didelete atau disimpan, comment ini bukan untuk publik hanya digunakan untuk kepentingan yang berkepentingan seperti Pak Seno dan rekan2 BIN lain. saya serahkan sepenuhnya pada pak Seno. Jika ingin dimuat, link ‘kelam’ diganti **** dll. dsb.
 
Masak dihubung-hubungin ama Israel sih. Bisnis sih bisnis. Gak usah dihubungin dengan kaum tertentu om. :-D
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters