Intel Menjawab » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, February 24, 2007

Intel Menjawab

Beberapa e-mail dari rekan-rekan pembaca Blog I-I berisi keluhan dan pertanyaan bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang intel. Saya jadi teringat sekitar 20an tahun silam ketika beberapa intel junior dalam komunitas intelijen Indonesia bersenda gurau dan saling bercerita tentang betapa repotnya menjalani tugas sebagai anggota intelijen dalam kehidupan sehari-hari. "Enaknya" pada era Orde Baru adalah bahwa kekuasaan begitu besarnya, sehingga kerisauan intelijen itu hanya sebagai obrolan ringan setelah mendapatkan pelatihan masalah cover yang ideal.

Bagaimanapun juga, seorang intel adalah mahluk sosial dengan berbagai hubungan sosial yang harus dipelihara dengan baik serta dijalani secara normal seperti orang biasa.

Berikut ini, saya berikan beberapa catatan untuk rekan-rekan Blog I-I yang masih risau tentang menjalani kehidupan sebagai individu dan anggota masyarakat sekaligus juga sebagai petugas intelijen.


Pertama mempraktekan prinsip anonim. Seorang petugas intelijen perlu meresapi bahwa keberadaan dirinya yang terkait dengan institusi intelijen adalah tanpa nama. Saya sudah mencontohkan dengan eksistensi Senopati Wirang yang telah mengambil semua identitas, semua ide, semua intelektualitas jati diri saya yang kemudian dipublikasikan ke dalam dunia maya Blog I-I.

Kedua terkait dengan prinsip anonim, apabila sulit dihindari untuk terungkapnya identitas asli kepada keluarga, sahabat/teman, kolega kerja dari institusi lain, maka tidak ada gunanya apabila hal itu ditutup-tutupi dengan kebohongan. Langkah yang perlu ditempuh adalah dengan hanya mengakui adanya keterkaitan dengan institusi intelijen. Misalnya Saya Fulan bekerja di Baintelkam Polri, saya Johnny bekerja di BAIS TNI, saya Budi bekerja di Intelijen Imigrasi, saya Anto bekerja di BIN, saya Agus bekerja di Intelijen Kejaksaan Agung, dst. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa informasi itu tidak tersebar lagi lebih luas dengan meminta perhatian pihak yang sudah tahu. Lebih dari itu, misi utama, kegiatan, serta keahlian khusus anda sebagai petugas intelijen tetap dirahasiakan.

Ketiga terkait dengan keahlian khusus yang anda miliki sebagai seorang petugas intelijen, maka ada saat-saat dimana anda mendapat pelatihan/training. Sejumlah metode pelatihan adalah bersifat terbuka dan merupakan keahlian dasar yang wajib diketahui oleh seorang intel. Namun ada pelatihan yang sangat khusus yang sangat sensitif yang langsung terkait dengan pekerjaan anda, hal yang semacam ini bukan untuk dipamerkan ataupun diketahui banyak orang di luar organisasi. Sebagai contoh keahlian dalam menggunakan intelligence devices, keterampilan membunuh secara "wajar", dan keterampilan melakukan trick kotor intelijen. Saya kira rekan-rekan Blog I-I senior akan bisa mengingat siapa saya, karena keterampilan yang saya peroleh di CIA dan Mossad pada tahun 80-an hanya diikuti oleh sangat sedikit orang. Karena sedikit itulah, maka saya cukup percaya diri akan kerahasiaan yang akan selalu melindungi.

Keempat masalah verifikasi pekerjaan yang harus dilakukan ketika kita melakukan hubungan dengan dunia praktis di sekitar kita. Misalnya hal ini terkait dengan hubungan dengan Bank (tabungan, kredit pinjaman, kartu kredit, dll), pemilikan properti, dan data-data administrasi lainnya. Adalah sangat penting untuk mempersiapkan cover job yang sempurna, dalam artian benar-benar ada sampai pada tingkat verifikasi dan back stopping yang kuat.

Kelima masalah hubungan dengan media massa. Sebuah situasi yang ideal adalah keberadaan sebuah Divisi atau Direktorat Kebijakan Informasi Publik atau semacam Humas/PR. Organisasi Intelijen dari waktu ke waktu akan menjadi berita di media cetak, TV maupun internet. Oleh karena itu Divisi yang bertanggungjawab yang memberikan pernyataan resmi. Dalam kasus Indonesia, pimpinan Intelijen seperti KA BIN, KA BAIS, KA BAINTELKAM, sekaligus merangkap menjadi humas. Apabila anda telah mencapai posisi yang tinggi dan mulai dikenal publik, jangan sekali-kali memberikan konfirmasi ataupun penyangkalan atas sebuah informasi yang terkait dengan organisasi intelijen di mana anda bekerja. Jawaban singkat berupa no comment sudah cukup. Bahkan bila anda masih pada tingkatan yang lebih rendah, jangan sekali-kali memberikan konfirmasi atau penyangkalan walaupun hanya sebagai bincang-bincang ringan dengan anggota keluarga atau teman.

Keenam terkait dengan masalah kewaspadaan seorang intelijen adalah melekat dan sungguh-sungguh dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi otomatis duluan seperti iklan sebuah produk motor automatic. Misalnya dalam kasus konflik komunal, terorisme, dan kegiatan intelijen asing, maka menjadi kewajiban untuk melaporkan apabila anda sungguh-sungguh menemukannya walaupun itu di luar tugas pokok unit anda.

Ketujuh terkait masalah tingkatan klasifikasi informasi yang cara menanganinya. Mulai dari catatan tulisan tangan anda sampai laporan khusus. Secara umum hanya ada tiga tingkatan kerahasiaan yaitu Terbatas, Rahasia, dan Sangat Rahasia. Namun tingkatan itu bisa saja diperbanyak tergantung keputusan pimpinan masing-masing organisasi.

Kedelapan adalah prinsip need-to-know yang harus secara ketat dijalani dalam keseharian kerja seorang intelijen. Banyak omong, distribusi laporan yang sembarangan, atau kekeliruan dalam proses pelaporan adalah hal-hal yang bisa merusak mekanisme kerja intelijen. Mungkin anda berpikir Blog I-I sudah melanggar prinsip ini, saya tidak menyangkalnya karena Blog I-I memang menjadi konsumsi publik. Pembelaan saya adalah bahwa saya membuka diri untuk koreksi dari siapapun untuk bisa menyajikan sebuah proses pembelajaran dan reformasi Intelijen Indonesia.

Kesembilan prinsip For Official Use Only (FOUO) harus secara ketat diterapkan dalam setiap dokumen yang diberikan tanda Untuk Kepentingan Dinas. Jangan sampai anda campur adukkan dengan keseharian pekerjaan rutin maupun pribadi. Anda berkesempatan memanfaatkan informasi-informasi penting untuk hal-hal yang menyimpang. Misalnya untuk pemerasan, untuk mencari keuntungan, untuk membuka peluang bisnis, untuk kepentingan kelompok atau pribadi. Oleh karena itu, janganlah tergoda untuk menjerumuskan diri ke situasi tersebut.

Kesepuluh masalah publikasi karya seorang petugas intelijen. Diperlukan persetujuan dari pimpinan intelijen untuk setiap publikasi seorang petugas intelijen yang mungkin berisi data-data intelijen. Bahkan meskipun bila anda sudah pensiun seperti saya, ada sebuah proses review atas hasil karya anda. Sekali lagi rekan-rekan Blog I-I akan bingung, apakah Blog I-I sudah direstui? jawabnya tanyakan pada jajaran pimpinan Komunitas Intelijen Indonesia (IC). Apapun kontroversinya, Blog I-I sekali lagi memberikan ruang koreksi yang sangat luas kepada organisasi intelijen di Indonesia untuk klarifikasi, koreksi, sensor, dan apapun namanya dengan catatan atau alasan yang dimenegrti Blog I-I.

Kesebelas masalah pengamanan pribadi anda sebagai seorang petugas intelijen. Ketika seorang petugas intelijen keluar dari kantornya, ada begitu banyak informasi yang ada di kepalanya. Oleh karena itu, seorang petugas intelijen juga menjadi target pihak oposisi yang ingin membongkar informasi dari organisasi intelijen. Karena itu waspadalah dan jagalah keselamatan anda di manapun berada.

Keduabelas masalah hubungan dengan warga negara asing. Petugas Intelijen Indonesia seyogyanya waspada terhadap infiltrasi agen-agen asing ke dalam organisasi dan usaha-usaha menjadikan anda seorang double agent. Setiap hubungan dengan orang asing mencakup percintaan, kewajiban dalam satu organisasi internasional, dan hubungan profesional lainnya pada prinsipnya wajib diketahui organisasi. Apalagi jika hubungan tersebut menjadi semakin erat, misalnya dari percintaan mengarah pada pernikahan, harus ada proses clearance yang teliti. Meski begitu, hubungan-hubungan dengan WNA yang memang dirancang dalam sebuah rencana operasi yang dikendalikan oleh Case Officer dari Markas Pusat adalah sah-sah saja.

Ketigabelas korespondensi dengan warga negara asing. Berbeda dengan poin nomor dua belas, maka masalah korespondensi bisa dibedakan korespondensi sosial (penpal) dan korespondensi strategis, yaitu yang membahas aspek-aspek pekerjaan intelijen. Korespondensi yang berpotensi membahas pekerjaan organisasi adalah dilarang atau setidaknya diketahui pimpinan atau menjadi bagian dari operasi intelijen. Meskipun sangat sulit, karena sekarang sudah menjadi begitu cepat prosesnya melalui internet, maka tanggung jawab kontrolnya ada di tangan anda.

Keempatbelas Masalah mengunjungi Kedutaan Besar negara lain atau bertemu dengan diplomat asing. Karena dalam setiap Kedutaan Besar asing selalu ada agen intelijen, maka seorang petugas intelijen tidak dianjurkan untuk berkunjung ke Kedutaan Besar atau menemui diplomat asing (bisa jadi diplomat intel). Urusan Visa, dan masalah-masalah yang terkait dengan Kedutaan Besar asing seyogyanya dikondultasikan dengan unit liaison agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Kelimabelas masalah kegiatan radio amatir yang rawan dari eksploitasi intelijen asing termasuk kepemilikan website yang bisa membongkar individu-individu penting intelijen. Blog I-I berkali-kali menjadi sasaran desepsi asing yang seolah-olah merupakan sumbang saran dari sesama rekan Blog I-I yang nasionalis. Itulah sebabnya Blog I-I sangat berterima kasih kepada beberapa agen senior dan sedikit pimpinan intelijen yang memberikan perhatian berupa teguran, kritik, saran dan konfirmasi.

Keenambelas masalah perjalanan pribadi ke luar negeri. Setiap petugas intelijen Indonesia yang melakukan kunjungan ke luar negeri dalam urusan pribadi harus mendapatkan persetujuan dari pimpinan intelijen. Hal ini terkait dengan pengamanan. Hukuman kepada petugas intelijen Indonesia yang lalai atau sengaja tidak melaporkan kunjungan ke luar negeri maksimal dikeluarkan dari kedinasan. Ini merupakan masalah prinsip disiplin petugas demi terjaganya fungsi pengawasan yang maksimal dari penghianat di dalam organisasi. Misalnya saja, pada tahun 1979 saya melakukan kunjungan pribadi kepada seorang tokoh KIN yang tersingkir ke Taiwan, saya melaporkan secara rinci rencana tersebut langsung kepada pimpinan. Selain silaturahmi, ada misi memahami kebijakan baru RRC dalam kepemimpinan Teng Hsiao Bing.

Ketujuhbelas masalah keanggotaan dalam sebuah organisasi lokal, regional maupun internasional. Adalah sah-sah saja bila seorang petugas intelijen menjadi anggota atau bahkan pengurus organisasi. Persyaratannya sangat sederhana, jelas maksud dan tujuannya. Apalagi untuk organisasi internasional, tentu harus sepengetahuan pimpinan intelijen. Perlu diketahui bahwa ada organisasi yang dibentuk memang untuk menghancurkan organisasi intelijen, maka berhati-hatilah bila kegiatan yang dituju dalam organisasi bisa kontraproduktif terhadap kegiatan anda, pengecualian hanya bila ada dalam rencana operasi interlijen, misalnya organisasi target intelijen.

Kedelapanbelas masalah perubahan status pernikahan, perceraian, dan ganti nama. Kesemua itu wajib dilaporkan kepada organisasi.

Kesembilanbelas masalah narkoba adalah masalah yang sangat membahayakan kinerja seorang petugas intelijen. Hukuman berupa pemecatan secara tidak hormat adalah wajar.

Keduapuluh masalah senjata dan tanda pengenal dalam kantor pusat. Kedisplinan dalam memperlakukan senjata dan tanda pengenal bagi petugas intelijen Indonesia adalah vital. Kedua hal tersebut melekat dalam identitas seorang petugas. Pada saat ke kantor pusat pemakaian tanda pengenal adalah wajib, dan pada saat di luar tugas tanpa pengenal tidak boleh hilang ditempat umum. Demikian pula dengan senjata, kehilangan kedua hal tersebut bisa berakibat sanksi yang berat.

Keduapuluhsatu masalah kehilangan informasi penting harus dilaporkan kepada pimpinan langsung untuk dilakukan review tingkat resiko yang bisa ditimbulkan. Misalnya ketika terjadi pembocoran dari dalam organisasi hal ini harus diselidiki secara seksama untuk mengetahui pihak yang membocorkan yang bisa dihukum dengan pemecatan.

Keduapuluhdua msalah penggunaan jalur telepondan fax aman dan tidak aman. Untuk pembicaraan yang rahasia seperti rencana operasi, maka wajib menggunakan jalur telepon aman yang bebas penyadapan. Anda bisa menggunakan berbagai metode, alat, atau sandi (encrypted).

Catatan tersebut di atas hanya sebagai masukan demi profesionalitas petugas intelijen yang memahami kewajibannya dalam menjalankan tugas serta menjalani kehidupan wajar sehari-hari. Bila rekan Blog I-I ada tambahan ide, silahkan ditambahkan.

Sekian, semoga bermanfaat

Labels: , ,

Comments:
Oom Senopati.....
tulisan :
GSM… OH GSM… MASIH BERBENDERA MERAH PUTIH KAH ?
dibanding GSM, salah satu operator CDMA justru lebih mudah ditelusuri, perabotan rumahnya pake buatan oom Yudi....clue : ingin kuasai harga pasar!
 
Terimakasih Senopati, catatan yang sangat berguna.

vas blat
 
om senopati, bagaimanakah posisi seorang PNS suatu instansi yang juga direkrut menjadi agen intel BIN, bagaimana mengatasi kepentingan dan kaitan antara rahasia jabatan dalm bertugas di instansi asal, misalkan fulan seorang intel beacukai merangkap intel BIN...??
 
om, apakah boleh, seorang intelijen yg sedang bertugas menyelidiki seseorang victim (perempuan), si intelijen itu akan mempekenalkan dirinya kepada si perempuan itu dan mengaku ke perempuan itu , bahwa dia seorang intelijen ? bukankah sumpah seorang intelijen itu harus ditutupi meskipun terhadap istri sendiri? Tapi knapa ada seorang intelijen , mengaku dia sebagai intelijen dan menunjukan identitasnya ,bukanya justru dia harus tidak ketahuan kalo dia seorang intelijen?
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters