Gerakan Kampungan Marxist Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Friday, March 30, 2007

Gerakan Kampungan Marxist Indonesia

Meski suasana hati saya masih berduka karena baru pulang melayat, tidak ada salahnya bila saya berikan catatan singkat tentang gerakan kaum Marxist Indonesia.

Mengapa saya sebut kampungan? karena memang benar-benar kampungan dan sangat tidak kreatif. Apapun namanya saat ini, betapa bagusnya website mereka, betapa gigihnya proses pengkaderan mereka, saya pastikan tidak akan laku bila tetap berjalan di atas pemikiran cetek tentang Marxisme.

Seperti pernah saya tulis dalam artikel Gerakan Kiri Indonesia dan Kiri oh Kiri, sejarah yang ditinggalkan oleh PKI di Indonesia terlalu hitam-pekat. Terlepas dari kebenaran sejarah yang penuh warna di Indonesia, ingatan buruk tentang komunisme tidak akan hilang dalam semalam. PKI adalah sebuah kekuatan komunis terbaik dan terkuat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia sudah kapok menanggungnya.


Apabila sekarang ada gerakan yang memperjuangkan kembalinya kekuatan PKI seperti masa Orde Lama, maka hampir-hampir tidak mungkin. Hanya keajaiban saja yang memungkinkan gerakan komunis baru mampu benar-benar eksis di bumi nusantara. Lebih jauh lagi gerakan komunis baru telah diinjeksi oleh permainan elit-elit militer sakit hati yang telah menggerakan tangan-tangannya untuk sebuah pra-kondisi menghancurkan demokrasi sehingga mampu melahirkan sebuah diktator proletar baru yang populis. Sayangnya persiapan tersebutpun teramat sangat prematur. Betapapun kuatnya struktur dan program kegiatan yang telah dibangun, semua akan mentah karena mayoritas rakyat Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda. Apakah pendidikan/pengkaderan kaum Marxist akan efektif, saya kira jauh api dari panggangan.

Masalah citra dan watak organisasi juga tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh kaum Marxist Indonesia. Masalah ide-ide perjuangan dengan teriakan lantang tentang kapitalisme global terasa seperi kerupuk melempem. Tidak riil dan tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat. Kalaupun sudah banyak gerakan Marxist yang masuk dalam arena pemberdayaan masyarakat dan advokasi serta HAM, levelnya jauh dibawah kegiatan kelompok pro demokrasi liberal ataupun yang di tengah.

Saya yakin betul bahwa proses otokritik telah mati dalam gerakan Marxist Indonesia karena memang telah ditunggangi kelompok kepentingan dan hanya mengarah pada utopia yang semakin telanjang di mata rakyat. Kaum Marxist Indonesia benar-benar sangat memalukan, dan anda yang mengaku Marxist silahkan berargumentasi dengan Blog I-I dan tentunya saya sangat berharap anda telah membaca ulang sejarah pemikiran Marxisme di dunia maupun di Indonesia.

Kaum Marxist Indonesia sangat buruk sistem organisasinya, sangat jauh di belakang organisasi profesional kelompok pro-demokrasi yang cenderung liberal. Akibatnya kaum Marxist hanya mampu melakukan masturbasi politik dengan angan-angan kosong yang bersandar pada dinamika kelompok yang kemudian dianggap penyakit kegilaan revolusi oleh masyarakat.

Apa yang saya khawatirkan adalah bahwa kaum Marxist Indonesia sekarang dikendalikan oleh kekuatan anti Indonesia Raya. Namun saya belum cukup mengumpulkan bukti-bukti otentik, sehingga sementara saya hanya beranggapan bahwa mereka bagian wajar dari dampak reformasi dan demokratisasi, dimana setiap kelompok menuntut pengakuan eksistensi dalam landasan kekhasan masing-masing.

PRD dengan berbagai underbownya, Papernas dll, berbagai gerilya kaum Marxist masuk ke dalam Partai Politik besar, semuanya sebuah upaya merealisasi ide-ide Marxisme. Namanya juga orang berjuang, ya silahkan saja. Namun perlu diperhatikan baik-baik bahwa secara politik maupun ekonomi, posisi Marxisme bersebrangan dengan Kapitalisme dan Liberalisme. Kondisi filosofis tersebut seringkali mencengkeram otak Manusia Indonesia yang melupakan hakikat makna tujuan filsafat sosial adalah kebaikan dengan hasil nyata yang bisa dirasakan sesama manusia, untuk Bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk Indonesia Raya. Bukan untuk ide-ide itu berdiri sendiri tanpa menyentuh kebutuhan rakyat.

Bagi kaum Marxist radikal, melakukan kompromi berjalan ke tengah menjadi sosialis demokrat sama saja penghianatan kepada Marxisme klasik, karena dipastikan akan terkooptasi oleh kelompok demokrat yang berat ke liberalisme. Padahal saya melihat mereka yang berjalan ke tengah telah menghentikan kebiasaan bermasturbasi dan mulai melakukan karya nyata untuk rakyat.

Pernahkan ada kaum Marxist maupun Liberalist Indonesia yang pernah berbikir keluar sebentar dari makna-makna ideologis untuk mencari formula yang tepat bagi persoalan bangsa, bagi penyelesaian masalah ekonomi nasional, tanpa harus bermusuhan, tanpa harus berkonfrontasi, menjadi sebuah gerakan sosial rakyat yang khas Indonesia. Pragmatisme RRC adalah sebuah alternatif yang baik, kapitalisme ekonomi dan komunisme politik dijalankan dalam struktur negara yang sangat akomodatif. Satu ide besar bernama The Greater China menghentikan kecurigaan politik dan krisis pembangunan ekonomi. Maaf, saya tidak bermaksud menyederhanakan persoalan karena pembahasan ini bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas dan menjadi sebuah buku.

Sekian


Comments:
Trima kasih pak Seno atas pencerahannya.... sekarang saya sudah plong....
Matadheva
 
Bung Seno...
Jangan-jangan kaum marxis jadi sadar setelah membaca artikel anda ini, sehngga mereka rekonsiliasi dan memulai lagi dgn cara baru.
 
perlawanan yang dilakukan oleh marxis (eq.komunis) memang secara historis dan politik telah gagal dan absurd dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun perlu diwaspadai pula, topeng2 dari marxis (stalin) yang telah berubah menjadi ideologi sosialisme. Mungkin anda melihat hampir sama, namun sejatinya, ideologi sosialisme dan turunannya yang berhaluan religi (dan menjadi religius sosialis) telah dan berusaha mencapkan gigi2nya.
 
Jangan-jangan jika Marx sendiri bangkit dari kubur sekarang, dia malah bilang "Wong saya cuman becanda aja kok" :-p
 
Sekedar nanya Mas, yang mau pawai damai kemaren itu Papernas atau FPI yah?

Satu lagi Mas, yang bilang PRD dan/atau Papernas itu Marxis radikal itu siapa yah? Tolong betulkan bila salah tapi setau saya dari tahun 1996 pun PRD itu menyatakan ideologinya sebagai "Sosial Demokratik Kerakyatan".

Terserah bila Anda ingin mengecat semua yang berbau Sosial(is) menjadi Merah (mengikuti pemikiran sempit FPI/FBR/dkk.), tapi apakah Anda begitu yakin bahwa segala metode PRD/Papernas adalah metode Marxis Radikal? Apakah Anda yakin semua usaha PRD/Papernas adalah untuk menyatukan Dunia ke dalam satu bendera Komunis di bawah pimpinan Uni Soviet (yang, harus saya ingatkan kembali, sudah tidak ada lagi)?

Sebegitu bodohkah Anda memandang para aktivis PRD/Papernas?

Cuma satu sih, yang harus diakui sebagai kelemahan ideologis PRD/Papernas yang paling fatal: mereka menganggap FPI, FBR, dan kelompok-kelompok ekstremis-ideologis sejenis sudah tidak bisa diajak berdialog lagi; kemburu antipati.

Selain tentunya masalah otokritik.

Dan terakhir: Menurut Mas, PRD/Papernas masih bisa diajak berdialog terbuka nggak? Atau, menurut Mas masih pentingkah dialog terbuka untuk mencari jalan keluar kemelut bangsa kita, atau lebih penting "kerja nyata" "hantam kromo" [tanpa kontrol dan hasil nyata yang dapat dipertanggung-jawabkan]?

Kita semua lapar, Bung.

Salam,
Ferdi
seorang Neo-Pancasilais rumahan
 
vincentliong@yahoo.co.nz wrote:

Ijinkan saya mencoba membahas ulang penjelasan bung Senopati Wirang dalam tatabahasa ala saya sendri…

Marksisme berawal dari masalah Kapitalisme (Money Capital) yang artinya kekuasaan dipegang oleh segelintir orang. Pada tahap ini pemahaman tentang samarata-samarasa menjadi pilihan disebabkan kebutuhan untuk mendobrak tatanan berupa believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb yang dibuat untuk tujuan agar pemegang money capital tetap berkuasa secara tidak egaliter terhadap proletar.

Pada tahap selanjutnya seperti yang dilakukan RRT, ketika permasalahan tentang perbedaan kekuasaan yang jauh antara pemegang money capital dengan proletar sudah teratasi maka tidaklah efisien untuk tetap fokus pada masalah samarata-samarasa. Prinsip samarata-samarasa hanyalah sekedar pilihan pada masa tertentu, tetapi bukan tujuan utama paradigma dasar Marksisme sendiri yaitu: Kesamaan kesempatan / terbukanya kemungkinan yang sama bagi setiap orang, pendobrakan sistem / tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb agar pemegang money capital tetap berkuasa.

Maka tahap selanjutnya adalah pemahaman tentang “survival for the fittest” ala Darwin yang dijadikan fokus utama. Dalam usaha untuk survive, manusia harus memiliki kemampuan analisa yang tidak terkotak-kotak / terbatasi oleh paradigma (believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb) versi money capital untuk tetap terus berkuasa. Hasil dari kegiatan menganalisa tsb digunakan untuk sebagai pertimbangan (antisipasi terus menerus) dalam menentukan strategi (keputusan yang diambil). Ini persis seperti yang dilakukan RRT saat ini.

Maka dari itu yang paling ditakutkan oleh blok barat adalah kemampuan dialektika yang dimiliki oleh penganut marksisme. Blok barat tidak begitu takut pada masalah samarata-samarasa & soal kemenangan bagi kaum proletar karena tetap dalam bidang ekonomi kesamaan / keegaliteran tingkat ekonomi memang mustahil tercapai.

Sayang memang, seperti yang disayangkan oleh bung Senopati Wirang bahwa marksisme di Indonesia masih fokus pada masalah samarata-samarasa dalam bidang ekonomi. Ini yang akan mudah sekali dimanfaatkan oleh yang berkepentingan untuk menghambat perkembangan ekonomi di negara ini.

Dengan fokus pada prinsip samarasa-samarasa tanpa memperhatikan kebutuhan untuk bermain dialektika demi survive di tengah persaingan bebas; Maka akan membawa negara ke arah yang berlawanan dengan tujuan dasar marksisme sendiri, karena sudah masuk pada pemposisian peran kambinghitam dalam propaganda believe sistem ala barat, yang efek sampingnya malah memperkuat kelekatan masyarakat akan sistem / tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb untuk kepentingan money capital.

Bagaimana tanggapan bung Senopati Wirang atas penjelasan versi saya ini? Apa sesuai dengan yang ingin dijelaskan bung Senopati wirang…

Ttd,
Vincent Liong

e-link: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
 
kalau istilahnya Magnis : marxisme dan komunisme ibarat fosil .. lebih berwajah museal ... sebuah kekuatan di masa lampau ... yang jika ada sekarang, cukup sekali "kepruk" langsung hancur
 
Susah juga yackh......
tapi kalau kita harus mencontoh negara yang mengetatkan kontrol atas
hidup rakyatnya tapi malah kehilangan
kontrol atas produksinya ya kwkwkwkwkwkwkwkwkkkkkw
 
Marxisme lahir dari situasi politik yang mengekang kebebasan rakyat. Seluruh aktivitas warga negara diawasi oleh pemerintah. Di samping itu, Marx melihat bahwa sistem politik yang demikian itu pada kenyataannya dibuat oleh sekelompok orang yang menguasai produksi, yaitu kelompok borjuis-kapitalis. Dominasi kaum borjuis-kapitalis sangat luar biasa sehingga rakyat dipandang sebagai alat-alat produksi. Rakyat memang tidak mempunyai askes terhadap aset-aset produksi. Melihat ketidak adilan inilah kemudian lahir teori tentang kelas yang ujung-ujungnya memunculkan sintesa; masyarakat tanpa kelas yakni komunisme. Pertanyaannya apakah teori tersebut masih relevan ? Dalam pengertian bahwa pada akhirnya negara (dalam hal ini komunis) adalah penguasa tunggal atas segala sumber-sumber penghidupan rakyat dengan menghilangkan kepemilikan pribadi. Ini merupakan bentuk inkonsistensi Marxisme. Di satu sisi mereka menolak otoritarianisme, sedang di sisi lain mereka menghilangkan hak-hak masyarakat untuk memiliki "barang" pribadi. Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan pun mereka hanya mengakui satu partai politik yaitu partai komunis sebab bagi kaum marxist komunisme adalah tujuan terakhir.

Konsep tentang sama rata-sama rasa tidak lebih dari pemahaman konsep kempemilikan bersama atau komunal, tidak hanya di bidang ekonomi saja melainkan juga di segala bidang. Inilah pengingkaran atas harkat dan martabat manusia sebagai makhluk sosial.

Bagaimana perkembangan Marxisme di Indonesia ? Menurut saya, marxisme di Indonesia sangat berbeda dg marxisme yang sesungguhnya karena mereka yang mengaku marxis di sini adalah anak-anak muda yang sangat kecewa dengan kondisi negara Indonesia. Kemudian mereka menemukan adanya teori yang bisa menjadi arahan dalam perjuangan menciptakan kesetaraan ekonomi. Saya kira munculnya gerakan marxisme dam komunisme sekarang hanya reaksi sesaat saja. Gerakan komunisme memang cenderung radikal revolusioner seperti halnya pemikiran Karl Marx. Maka tidak perlu ada kecemasan dengan gerakan mereka karena radikalisme dan revolusioner sulit diterima oleh masyarakat.

Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan bung Seno soal penyusupan kaum marxis melalui pemberdayaan masyarakat. Tidak satu pun ajaran marxisme tentang pemberdayaan masyarakat. Kaum marxis di sini tidak mempunyai kemampuan dalam hal finansial dan kemampuan pengorganisasian masyarakat. Syarat untuk pemberdayaan masyarakat adalah finansial dan kapasitas.

Terima kasih.
 
salam setengah merdeka....

hidup rakyat...

dalam menakar sebuah hasil pemikiran, hendaknya secara epistemologis kita mengerti apa yang menjadi dasar kita dalam berdialektika, menyikapi tulisan bung seno saya sebagai warga indonesia yang masih terjajah oleh neolib dan konspirasi kapitalisme internasional, sekedar untuk menjadi renungan. gerakan kiri yang kami perjuangkan bukanlah seperti gerakan yang anda bayangkan dan bukanlah cerita-ceita usang soal kekejaman komunis ataupun marxisme dangkal seperti yang ada dalam pikiran anda. bung, sebuah revolusi sosial harus terus digulirkan, kita coba untuk menilik bagaimana kesenjangan sosial yang terjadi sebagai sebuah sebab dari liberalisasi dan kapitalisasi international -baca MNC-. kapitalisme international saat ini pun dipertanyakan dalam tujuannya mencapai kesejahteraan, realitas menggambarkan dihadapan kita kapitalisme international hanya menghasilkan kebebasan bagi para pemilik modal untuk terus memerah keringat para buruh migran. gerakan kiri yang kami bangun adalah bagaimana mencerdaskan dan mencerahkan rakyat indonesia untuk bersikap sebagaimana mestinya harus bersikap dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. kekejaman PKI -dalam perspektif bung seno- adalah sebuah kesalahan sejarah, sejarah indonesia harus kita akui adalah sejarah milik para penguasa, bagaimana sejarah dimanipulasi oleh para penguasa dan digunakan sebagai propaganda kepada rakyat yang terus dibodohi oleh sejarah, kenyataan menggambarkan kepada kita sampai saat ini tak satupun terbukti kesalahan gerakan komunisme di indonesia menjadi akar permasalahan dan perpecahan rakyat. akan tetapi sejarah mengatakan bahwa penguasa negeri ini -baca: orde baru- melakukan pembantaian ribuan orang di bali, bahkan sejarah bercerita bagaimana kejamnya penguasa bangsa ini membunuh semua keluarga yang tak bersalah di talang sari lampung, tanjung priok, sukabumi, madiun dan riau, ini hanya sebagian bukti sejarah yang telah terungkap dan sampai saat ini tidak jelas penyelesaian kasusnya. dimana tanggung jawab pemerintah? jadi, menyoal sebuah gerakan yang diperjuangkan secara epistemologis kita harus mengerti tentang duduk sebuah diskursus, bukan secara membabi buta kita mencaci karna saya yakin, gerakan yang bung bangunpun belum mencapai sebuah tujuan bersama yaitu kesejahteraan rakyat.... mari kita berdialektika dengan sadar, mari kita berdialektika dengan literatur yang ada bukan dasar asumsi ataupun dugaan-dugaan sejarah yang tak berdasar. demikian sedikit komentar saya. mari kita buktikan sama-sama soal keyakinan gerakan kita....


salam anti penindasan....
 
Saya sudah mengetahui ekonomi USSR mirip Indonesia banyak BUMN tetapi tidak ada kesatuan kesadaran serta kesatuan tindakan suatu ekonomi yg ditopang sepenuhnya oleh anggaran subsidi tanpa terkecuali karenanya slogan hebat PKI "sama rata sama rasa" tidak pernah terjadi hingga bubarnya USSR, para buruh & petani tetap naik bus & kreta api listrik sedangkan para birokrat PKUS naik trabant, moskovich serta volga maka itu Marxisme-Leninisme telah gagal dan tidak layak pakai tetapi marxisme tetaplah sebuah harapan karena itu saya telah melakukan upaya merivisi Leninisme menuju Marxisme lebih tepatnya menuju Manifesto Komunis dimana setiap orang bekerja sesuai kemampuannya dan mendapatkan hasil sesuai dgn kebutuhannya dapat terjadi secara ilmiah melalui rekayasa sosial lebih tepatnya Marxisme-Indraisme
 
kupikir ini tulisan tidak bersadar yang bernada sentimentil saja. coba cerdas dalam mengkaji dulu bung ! tapi hebat, budayakan menulis.
 
sy tertarik dengan ulasan singkat admin inteindonesia.blogspot.com

meski singkat namun padat terarah dengan jelas. bisa dibilang sy adalah seorang marxist karena meman banyak karya-karya karl marx yg menginspirasi dalam laku kehidupan sy pribadi.

namun dalam tulisan ini sy kira ini bukanlah tulisan anti-marxist, karena sy sebagai salah seorang pengajar di PT malah menilai ini sebagai sebuah kajian yg netral.

selama ini sy menganggap karl marx sebagai salah satu dari sekian banyak akademisi di dunia ini yg mencetuskan ide-ide ilmiah dengan tujuan yg pada dasarnya sama yaitu "KEBAHAGIAAN", hanya saja, bagi sy pribadi, karl marx menitik beratkan ide-ide tentang "KEBAHAGIAAN UMUM" ketimbang "KEBAHAGIAAN PRIBADI".

pokok permasalahan yg sy tangkap dari tulisan di blog ini adalah tentang "kesempatan" untuk bangkit dan berkembang bagi para marxist di indonesia pasca keruntuhan rezim-rezim komunis di dunia. dan hal yg paling sy setujui dalam opini admin penulis blog ini adalah judulnya, yaitu "Gerakan Kampungan Marxist Indonesia".

secara umum sy setuju terhadap isi kajian dalam blog ini, karena sy akui bahwa saat ini memang benar banyak salah kaprah pemahaman mengenai ide-ide karl marx terutama dalam komunisme-nya karena sy heran kenapa sampai saat ini sebagian besar kaum marxist memaknai hasil-hasil pemikiran karl marx hanya sebagai satu hal, yaitu "PERLAWANAN".

sangat ironis, sebagai contoh sy kutip kalimat yg paling sering digunakan, yaitu "HANCURKAN KAPITALISME".. ini adalah petikan paling sering sy dengar bagi siapa saja yg mengaku marxist, tapi yg sy sesalkan adalah kenapa banyak yg menafsirkan kata "MENGHANCURKAN" sebagai kaliamat ajakan provokatif untuk melakukan tindakan frontal yg menjurus ke arah anarkisme.

perlu sy sampaikan bahwa karl marx sendiri adalah seorang yg tidak mengerti apa-apa tentang perang, jangankan perang, sejarah pergerakan karl marx turun ke jalanan untuk berjuang unjuk rasa pun sy tidak dapat menemukannya. karl marx, hanya seorang akademisi dan seorang akdemisi hanya akan dihargai dari karya-karya ilmiahnya, dan apabila ada pihak yg tidak setuju dengan karyanya maka bukankah lebih adil untuk "melawan" dengan karya pula?

apa yg telah dilakukan oleh lenin, stalin, mao tse tung dan semua diktator-diktator komunis lainnya yg membantai bangsa mereka sendiri atas nama komunisme, menurut opini sy itu bukanlah merupakan perwakilan komunisme. dan benar apa yg disampaikan oleh admin bahwa gerakan marxist semakin amburadul dan berpotensi menjadi tunggangan pihak yg menginginkan tujuan pribadi atas nama marxist.
 
H
alo intelejen kampungan, wkkkk
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters