Refleksi Intelijen Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Friday, March 23, 2007

Refleksi Intelijen Indonesia

Tulisan ini tidak mengandung informasi yang akurat tentang peristiwa-peristiwa di tanah air. Hanya sebuah refleksi ringan.

Memang dasar negeri penuh misteri dan propaganda, hampir tak ada kasus yang benar-benar bersih dari unsur misteri alias ketidakjelasan informasi yang simpang siur. Itulah sebabnya teori konspirasi begitu laku. Bahkan sejujurnya lama-kelamaan saya jadi ikutan pusing. Bila kebenaran diungkapkan-pun tidak akan langsung bisa dilihat sebagai kebenaran. Melimpahnya informasi justru membuat pekerjaan intelijen menjadi harus ekstra hati-hati. Sementara itu, permainan demi permainan tanpa kenal ampun terus bergulir dari satu papan masalah ke masalah lain. Dari luar tampak sebuah dinamika yang sehat dan baik bagi kemajuan manusia Indonesia yang demokratis. Tetapi siapa yang bisa menduga kehancuran tiba-tiba Indonesia Raya bak kisah goro-goro ramalan Jayabaya.

Belakangan sejumlah kalangan mempertanyakan masalah Blog I-I, bisa dipercaya atau tidak? punya afiliasi dengan siapa? berapa besar jaring informasinya? apa maksud dan tujuannya? adakah kode-kode instruksi yang tersembunyi? membela kepentingan siapa? dst....dst....dst.

Kita akan sangat berbahaya apabila kita jujur di dunia yang penuh kebohongan. Ada yang perlu saya syukuri bahwa kepedulian rekan-rekan semakin lama semakin satu irama dengan Blog I-I, bahkan mereka yang kontra pun mulai berpikir panjang dan mengajak diskusi-diskusi sensitif tentang masa depan Indonesia. Sayang saya sudah lambat berpikir dan terlalu capek untuk mengikuti dinamika perkembangan yang begitu cepat.


Sebagai contoh, entah berapa puluh rekan Blog I-I yang menanyakan apakah artikel Blog I-I tentang Jamaah Islamiyah di Poso merupakan murni analisa Senopati Wirang. Perlu saya sampaikan bahwa simpati dan kesamaan visi dari rekan-rekan pembaca Blog I-I telah berkembang menjadi ikatan longgar untuk sharing informasi. Saya sendiri semakin sulit memperkirakan berapa besar perkembangan jaring informasi yang memiliki nafas sama Blog I-I. Banyak informasi yang merupakan serpihan fakta, banyak juga yang desepsi, serta tidak sedikit yang bertanya-tanya. Maka saya konfirmasikan kepada rekan-rekan bahwa artikel dalam Blog I-I merupakan kumpulan dari sejumlah informasi dari rekan-rekan yang punya akses dan kemudian saya susun menjadi artikel yang mudah dibaca dan dipahami. Seperti pernah saya sampaikan dalam tulisan-tulisan awal, maka saya mematuhi kepatutan untuk tidak gegabah membahas suatu kasus yang masih dalam proses penyelidikan. Apalagi kasus sensitif gerakan kelompok teroris yang sedang dikejar-kejar Densus 88. Apabila saya bawakan oleh-oleh cerita tentang lolosnya NMT atau AD tentu akan pihak geregetan ingin menjitak kepala saya. Densus 88 sudah bekerja dengan sangat baik.

Informasi tentang Jamaah Islamiyah, NII KW 9, keterlibatan oknum aparat, keterlibatan intelijen asing, perang melawan teror, pembusukan citra Islam, adu domba Islam-Kristen, konflik komunal, operasi cabut mandat, masalah perampokan pasir oleh Singapura, sikap Malaysia yang arogan, isu HAM, kelompok neoliberal, bangkitnya Partai Komunis Indonesia, dll begitu simpang siur di tengah-tengah masyarakat. Bahkan dalam forum komentar Blog I-I pun mulai tampak simpang siur yang saya kewalahan untuk meresponnya satu per satu. Mudah-mudahan artikel-artikel dalam Blog I-I tidak semakin memperkeruh keadaan.

Ojo kagetan Ojo gumun kata mantan Presiden Suharto. Rekan-rekan juga tidak perlu emosional dalam menyikapi setiap suasana keruh yang disebabkan oleh menebalnya kabut persoalan yang harus disingkapkan oleh intelijen.

Bila Indonesia Raya memang berambisi menjadi negara 5 besar di dunia pada tahun 2030 dengan pendapatan per kapita US$ 18.000 seperti diungkapkan oleh Presiden SBY, maka sudah tidak bisa ditawar lagi penguatan sektor intelijen sebagai garda depan penjaga keselamatan bangsa. Saya katakan demikian karena bila kita belajar dari RRC, jelas sekali bahwa sejak tahun 1960-an intelijen RRC yang dipimpin oleh Otak Revolusi Kebudayaan Kang Sheng yang telah merancang pondasi yang kokoh bagi intelijen modern RRC, diantaranya dengan pendataan seluruh Cina Perantauan yang potensial bagi pembangunan nasional RRC. Secara khusus misalnya ditetapkan target kepada Ilmuwan Cina Perantauan yang sangat cerdas untuk bekerja di luar negeri dan pada waktunya dipanggil kembali untuk membangun Cina. Kemudian target juga diarahkan kepada kapitalis Cina di dunia. Sehingga, meski Kang Sheng akhirnya harus dihukum karena tuduhan terlibat kasus Gang of Four. Intelijen RRC telah membangun jaring intelijen manusia yang luar biasa atau mungkin yang terbesar di dunia. Jaring itulah yang diteruskan oleh institusi intelijen untuk terus mendukung pembangunan RRC sebagai negara besar. Sehingga ketika terjadi pergeseran konsep pembangunan, tidak ada masalah atau gejolak yang berarti, secara mantap terjadi kesinambungan dari pemimpin lama kepada pemimpin baru, bagaikan lari estafet yang tidak terputus di tengah jalan.

Bagaimana dengan Indonesia? dengan kondisi intelijen yang tercerai berai, kondisi demokrasi yang sarat politik kepentingan, adakah jaminan bahwa program pembangunan Indonesia akan konsisten dan berkelanjutan dari waktu ke waktu. Bukankah hampir menjadi tradisi di Indonesia untuk terjadinya jeda/putusnya kesinambungan pembangunan ketika terjadi perubahan pemimpin. Oh entah kapan lahir kesadaran komunal seluruh komponen bangsa untuk berperilaku benar demi kelangsungan Indonesia Raya.

Masalah yang ini belum selesai, meledak masalah yang itu. Masalah yang itu sedang ditangani, muncul lagi masalah yang lain, begitu dari waktu ke waktu. Derap langkah pembangunan yang tertatih-tatih dalam perbedaan konsep, keyakinan, kepentingan, strategi dan bahkan sampai level taktik pun terjadi perbedaan yang mengarah pada konflik.

Hal itu belum menyoroti soal kinerja. Tanggung jawab anggaran pemerintah yang hampa kinerja semakin rusak manakala para pelakunya bahkan tidak mengerti apa yang dimaksud bekerja sesuai dengan rencana yang dianggarkan. Ditengah perjalanan banyak bermunculan lembaga-lembaga ekstra (fungsional) karena lembaga struktural tidak berfungsi. Ada kesan banyak yang ingin berbuat namun hanya sebatas ingin saja, berandai-andai tanpa kerja nyata yang bisa dipertanggungjawabkan.

Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan kontrol yang lemah di berbagai sektor baik di pusat maupun di daerah. Semuanya menjadi sebuah ramuan maut yang mematikan. Sementara para pelakunya memiliki keyakinan aji mumpung yang sangat kuat. Mumpung aparat masih bisa dibeli, mumpung hukum masih bisa pilih kasih, mumpung pemerintahan bisa disandera oleh kepentingan politik, dan jutaan mumpung lainnya.

Insan intelijen yang ideal di Indonesia adalah sekumpulan orang stress yang nyaris gila karena harus melihat kenyataan pahit sulitnya menangkap asap tanpa menyeret anginnya. Sebuah pesan revolusi untuk menyalakan api karena asap akan hilang bila apinya sudah menyala. Atau menuang tuba/endrin bening ke dalam air agar ikan mati keluar dari dalam air dan mengapung, sehingga air tak bergolak ataupun menjadi keruh. Lagi-lagi pesan revolusi yang sungguh Blog I-I tidak setuju, karena sangat jarang terjadi revolusi damai, apalagi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Tetapi tidak berarti intelijen ideal harus menyerah pada keadaaan dan duduk bengong tanpa berbuat apapun. Manfaatkanlah Blog I-I untuk kepentingan bersama. Tegurlah Senopati Wirang bila ada artikel yang bernada kebohongan, fitnah, ataupun pengelabuan. Koreksilah untuk kepentingan bangsa Indonesia. Sampaikanlah kebenaran informasi intelijen walaupun pahit. Tentunya perlu rekan-rekan renungi dahulu tingkat sensitifitas informasi yang pantas diangkat dalam Blog I-I, bisa dilihat dari manfaat yang bisa diberikan.

Sekian

Labels:

Comments:
Bung Seno, Merdeka
salam Optimis...
sudah baca berita detik hari ini ? ini saya berikan salinan beritanya :
Detik Portal
26/03/2007 13:57
Keluarga Tersangka Teroris Ahmad Munajib Diteror Dua WNA
Penulis: Triono Wahyu Sudibyo - detikcom

Semarang, Keluarga tersangka teroris yang ditembak mati, Ahmad Munajib (39) resah. Mereka mengaku diteror dua warga negara asing (WNA).

Dua WNA yang tidak diketahui identitasnya itu didampingi tiga orang yang mengklaim dari Densus 88. Salah satu perwira Densus itu mengaku bernama Parlan. Mereka datang ke rumah Najib, Jalan Sumur Adem, Genuk, Semarang, sejak Sabtu (24/3) lalu.

"Mereka hendak meminta keterangan pihak keluarga dan mengajak ke tempat yang dirahasiakan," kata kuasa hukum Ahmad Munajib, Kholid Syaefulloh, kepada detikcom di Pengadilan Negeri Semarng, Jalan Siliwangi, Senin (26/3/2007).

Karena keluarga Najib tidak mau, dua WNA dan tiga perwira Densus itu datang lagi esok harinya, Minggu (25/3) kemarin. Kali ini, mereka datang dengan disertai ancaman.

"Kalau keluarga Najib tidak mau diajak ke tempat yang dirahasiakan, mereka menyatakan akan mempersulit. Tak jelas, apa yang mau dipersulit," kata Kholid.

Kholid yang juga staf Tim Pengacara Muslim itu menjelaskan, pihaknya tidak tahu pasti lima peneror tersebut. "Masak iya itu agen CIA?" ujarnya dengan sedikit keraguan.

Hingga saat ini, keluarga Najib maupun kepolisian belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Kholid menyayangkan teror tersebut, karena keluarga tidak tahu apa-apa dan ibu Najib punya penyakit jantung.

Url: http://www.detikportal.com/index.php?fuseaction=readrint.read&tahun=2007&bulan=03&tgl=26&time=135719&idnews=758665&idkanal=10


apakah itu Kidon yg Bung Seno sinyalir sdh bergerak / masuk ke tanah ibu pertiwi tercinta ini ??

semoga Tuhan masih mecintai Tanah Airku dengan menghadirkan pemimpin yang bijak, tegas dan peduli akan negeri Indonesia Raya. rindu akan kehadiran "PUTRA SANG FAJAR'

Salam,
Si Butet Yogya
 
Jakarta, Aktual.com — Guru besar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional Partai Keadilan Sejahtera ke-4 di Depok, Jawa Barat, Senin (14/9). Jimly yang kini menjabat sebagai Ketua DKPP datang sebagai tamu pejabat negara.

Nah, dalam kesempatan itu, Jimly menyinggung beberapa anggota masyarakat seakan tidak pernah kapok membuat partai politik? Apa maksudnya…

BACA SELENGKAPNYA DI :

Kenapa Orang Indonesia Tidak Kapok Bikin Parpol?
 
Jakarta, Aktual.com — Guru besar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional Partai Keadilan Sejahtera ke-4 di Depok, Jawa Barat, Senin (14/9). Jimly yang kini menjabat sebagai Ketua DKPP datang sebagai tamu pejabat negara.

Nah, dalam kesempatan itu, Jimly menyinggung beberapa anggota masyarakat seakan tidak pernah kapok membuat partai politik? Apa maksudnya…

BACA SELENGKAPNYA DI :

Kenapa Orang Indonesia Tidak Kapok Bikin Parpol?
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters