Koalisi Tukang Utang » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, April 12, 2007

Koalisi Tukang Utang

Artikel ini hanya sebuah keprihatinan yang didukung oleh isu-isu yang menyesakkan hati. Jadi bukan catatan intelijen ataupun bahan keterangan yang bisa digunakan untuk analisa intelijen. Tidak menyebutkan tokoh atau kelompok tertentu, tetapi bila rekan-rekan blog I-I senantiasa membuka mata dan telinga akan bisa memahami.


----------------------------------

Tahukah rekan-rekan bahwa di negeri yang demokratis, indah dan reformis ini masih dan telah dikuasai kembali oleh jiwa-jiwa malang nan serakah. Jiwa malang yang terbungkus oleh kemewahan dan gaya hidup yang mengabdi pada keserakahan individu dan kepentingan kelompok.

Sebuah teater yang monyet-monyet berpantat merah yang secara gamblang bisa kita lihat dari bawah ketika mereka beraksi di atas pohon-pohon kekayaan bangsa Indonesia.

Kelompok monyet yang pertama merupakan kumpulan oknum pimpinan Instansi yang terpaksa menjadi kaya raya karena melakukan praktek hubungan gelap dengan pengusaha dan partai politik.

Kelompok monyet kedua adalah kelompok pengusaha tanpa pandang etnisitas yang mengabdi pada keuntungan sesaat tanpa harus bekerja keras. Pola kerja mereka adalah murni pedagang yang curang. Bentuk usahanya cenderung trading company dan mereka tidak terlalu tertarik dengan penguatan industri dalam negeri. Biasanya senang berteriak-teriak tentang pentingnya impor barang dan utang luar negeri untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, setelah sebelumnya terjadi conditioning masalah ekonomi.

Kelompok monyet ketiga adalah kumpulan badut politik yang sering bicara tentang nasib bangsa tetapi prakteknya terlibat dalam upaya-upaya perampokan kekayaan bangsa untuk mengisi kas partai politik. Semua mungkin sudah sama-sama paham bagaimana perusahaan milik negara menjadi sapi perahan. Tidak bisa disebutkan satu persatu mana saja perusahaan yang telah menjadi pesakitan dan tidak lagi mampu berdiri tegak.

Kelompok monyet keempat adalah kelompok intelektual analis yang menggunakan keahliannya untuk mengesahkan terciptanya aturan main (peraturan hukum) yang sudah pasti akan memudahakan aksi monyet-monyet perampok kekayaan bangsa Indonesia.

Kelompok monyet kelima adalah mereka yang dulunya pejuang terhormat berseragam hijau yang kehilangan jati diri demi kemewahan dan kekuasaan.

Kelompok monyet keenam adalah eksekutif perbankan nasional yang senang sekali melayani kelima kelompok monyet lainnya dengan mengajari bagaimana mengakali pundi-pundi uang rakyat.

Keeenam kelompok monyet tersebut dengan gagah dan terhormat membentuk Koalisi Tukang Utang yang bersumpah untuk bersatu dalam menjamin keberlangsungan utang luar negeri baik untuk sektor swasta maupun negara. Namun berkat intelektualitas yang begitu tingginya monyet-monyet tersebut tidak mau bertanggungjawab untuk membayar lunas utang-utang yang diciptakan dan dengan dalih pailit dan lain-lain, pemerintah akan membayarnya. Mekanisme yang efektif seperti BLBI.

Keenam kelompok monyet tersebut sangat tergantung pada gorila independen asing yang menawarkan bentuk konsorsium untuk penanaman modal di Indonesia. Kerjasama monyet dan gorila juga membutuhkan peningkatan kepercayaan publik dengan memperkerjakan konsultan internasional yang sebagian besar dikendalikan oleh kunyuk jebolan CIA.

------------------------------

Terciptanya hubungan yang harmonis tersebut mungkin tidak diniatkan untuk membangkrutkan Indonesia Raya. Melainkan hanya sebuah konstruksi keadaan dimana kesadaran akan persaudaraan Indonesia Raya semakin tipis di hati kita. Ketika kepedulian atas penderitaan sesama anak bangsa tidak lagi menggerakkan hati kita untuk sekedar menoleh dan mengulurkan tangan.

Ketika kita hanya berpikir demi partai kita, demi kelompok kita, demi diri dan keluarga kita sendiri, maka lintasan pikiran tentang masa depan Indonesia Raya tidak akan pernah terlintas di benak kita.

Saya pernah menggugah untuk peningkatan kewaspadaan infiltrasi asing, sesungguhnya lebih dari itu sebagian dari kita justru sangat berkepentingan dengan unsur asing. Kita tentu sadar bahwa tidak semua yang berbau asing itu buruk, hanya diperlukan sebuah kesadaran tentang jati diri manusia Indonesia untuk bisa menjadi ingat dan waspada. Bukan sepenuhnya kesalahan unsur-unsur asing yang telah menguasai banyak sektor di nusantara ini, tetapi kekeliruan kita sendiri yang mengalami suatu proses konstruksi rasionalitas dibawah hipnotis kepentingan-kepentingan sempit.

Ada kewajiban yang melekat dalam diri kita
Menanggalkan topeng monyet yang kita banggakan
Atau bila kita ada di bawah
Janganlah menjadi monyet yang ketujuh
Menonton dan diam asik menggigiti kutu monyet tetangga


Mohon maaf atas kekasaran bahasa saya kali ini
Semoga saya diampuni

Salam Indonesia Raya






Comments:
mudah2an ke-tujuh jenis monyet itu ada yang membaca tulisan ini dan tergugah hati nye.
tapi kalo tetap ga tergugah juga...




















gw ngajak seluruh rakyat Indonesia untuk nyumpahin loe2 mati ketika sedang jongkok diatas kakus, biar masuk kuburan dalam keadaan jongkok juga. Amin.
 
Yg saya heran, monyet, gorila , & kunyuk aja bisa akur dan rukun demi RUSAK-nya Negara Indonesia Raya ini,
padahal di hutan nggak mungkin bisa dech...

Bukan begitu Bung Seno ???
 
beberapa waktu lalu saya membaca artikel di harian tempo, memang benar yg menggerakan perekonomian adlh usaha-usaha kecil dan orang2 kecil, mereka hanya bertahan hidup untuk jangka waktu pendek (sebulan) tanpa bisa menyisakan untuk masa depan, perusahaan besar bahkan membayar tempo ke perusahaan kecil, bank mencomoti uang2 kecil untuk dipinjamkan ke perusahaan besar. lihat sepinya perumahan delta mas, sepi tanpa si kecil. Ketika perusahaan yang lebih besar bangkrut, yg kecil2 disembelih untuk hidup sang raksasa, karena mereka harus tetap untung, tanpa menyadari bahwa yg harus selalu untung adalh pada level yg terendah dan terkecil. sy pengen cerita kondisi riil lebih lanjut, tapi sedang ad kewajiban menunggu di rumah. hah ternyata memang waktunya tahun ini kami harus turun ke jalan u menyalakan api, biarlah merah dan hitam masa lalu menjadi putihnya masa depan.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters