Tentang Komunisme Versus Liberalisme » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, April 11, 2007

Tentang Komunisme Versus Liberalisme

Artikel ini mudah-mudahan bisa menjawab sejumlah argumentasi via e-mail dari mereka yang mengaku pejuang ekonomi pasar dan mereka yang mengaku Marxist.


-----------------------------------


Bila Dita Indah Sari sampai kelabakan untuk menangkis tuduhan komunis dalam sebuah debat TV SCTV minggu lalu (4/4) seperti diceritakan seorang rekan Blog I-I, maka saya menjadi ragu bahwa prinsip-prinsip filosofis yang ditempuh Papernas maupun PRD sudah mapan, tentunya masih ada perdebatan yang seru didalamnya. Saya pribadi tidak pernah menyatakan bahwa Papernas maupun PRD Komunis (silahkan baca lagi lebih hati-hati Marxist Indonesia, yang saya nyatakan adalah merupakan perwujudan pemikiran Marxist yang mana variannya belum saya pahami sepenuhnya karena masih tampak mencari bentuk yang tepat. Dari beberapa tulisan tentang kelompok kiri, saya tidaklah berhenti dalam sikap antipati atau bermusuhan.

Bila para ekonom dalam Yayasan Indonesia Forum tetap berpijak pada keyakinan ekonomi bahwa sistem pasar dan integrasi pada ekonomi global adalah satu-satunya resep mujarab menuju Indonesia Raya dalam 5 besar dunia pada 2030, maka saya pastikan bahwa ada banyak resep pahit sosial-politik yang harus ditelan sebelum mimpi itu menjadi kenyataan. Dalam kritik saya pada para penganjur ekonomi pasar saya juga tidak bersikap antipati melainkan hanya mempertanyakan variabel-variabel non-ekonomi yang kadangkala justru lebih dominan di Indonesia.

Apa yang Blog I-I tawarkan adalah bahwa ada perlunya untuk sejenak keluar dari rumah intelektual filosofis keilmuan dan melihat kenyataan praktis apa yang perlu dibenahi di dalam rumah Indonesia Raya. Blog I-I juga menyarankan kepada mereka yang senang menggunakan prinsip pemaksaan untuk berkaca dan melihat betapa energi positif konstruktif hancur dan menciptakan konflik terbuka yang tak kunjung selesai. Konflik yang bersumber dari perbedaan pemikiran adalah wajar dan telah menjadi catatan sejarah yang berulang-ulang. Namun bila kita ingin mimpi Indonesia Raya bisa terwujud, maka konflik perbedaan itu tidak harus diakhiri dengan kehancuran salah satu pihak melalui jalan-jalan kekerasan. Ingat!!! mayoritas kelompok-kelompok politik di negeri ini pernah menghalalkan jalan-jalan kekerasan dalam catatan sejarah.


Dalam sudut pandang intelijen, generalisasi komunisme memang dirancang sedemikian rupa untuk mempermudah penolakan masyarakat secara total terhadap faham komunisme tanpa ada pemilahan sama sekali. Suatu hal yang mencengangkan adalah bahwa mekanisme tersebut juga telah mengganyang sosialisme Indonesia yang pernah mapan dalam beberapa periode di era Orde Lama dan kemudian berubah penampilan pada era Orde Baru dengan gerakan yang lebih kompromis dengan kekuasaan. Adalah ABRI/TNI yang bertanggungjawab dalam menciptakan strategi jitu penghancuran total komunisme. Bukankah pada era Orde Lama kekuatan politik dan militer yang berhadapan frontal adalah PKI dan TNI-AD. Sebenarnya gagasan strategis TNI cukup baik dalam bingkai pemantapan Pancasila dan Nasionalisme Indonesia, namun hal itu menjadi rusak berantakan manakala eksekusi kebijakan pemerintah secara semena-mena menggunakan kekerasan represi yang menakutkan bagi gerakan civil society. Sampai sekarang residu watak kharakter tersebut masih tampak di beberapa bagian dan secara jelas bisa dilihat oleh masyarakat. Misalnya dalam kasus pelanggaran HAM pada umumnya selalu melibatkan unsur aparatur penjaga keamanan. Bahkan upaya-upaya pengrusakan lembaga sipil seperti BIN melalui kasus tragis kematian Munir begitu menyakitkan unsur-unsur sipil di tubuh BIN. Penguatan Lembaga keamanan berwatak sipil seperti POLRI dan BIN sangat ditakuti oleh oknum-oknum Nasionalis Militeristik di negeri ini. Hal ini merupakan bukti bahwa reformasi militer masih terus perlu disoroti agar profesionalisme militer Indonesia mampu merubah cara pandang yang terkotak-kotak terhadap segenap elemen kekuatan bangsa Indonesia.

Sorotan kepada TNI bukan dalam artian TNI menjadi sasaran tembak seperti pernah dilakukan oleh mayoritas aktivis civil society ketika mempreteli hak eksklusif TNI melalui mekanisme dwi-fungsi. Melainkan lebih pada dukungan penuh untuk menjadikan TNI yang profesional dengan kepastian anggaran militer yang memadai serta dukungan pembangunan kompleks industri militer untuk pengadaan peralatan perang. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya adalah perubahan watak segenap anggota militer melalui proses pendidikan yang profesional sehingga mampu menghasilkan insan militer yang tidak mudah tergoda untuk terjun bebas dalam praktek bisnis kotor seperti terjadi pada era Orde Baru. Hal itu juga terjadi dalam korps Polisi Indonesia, sehingga Military Watch dan Police Watch yang dilakukan masyarakat sipil menjadi signifikan. Ketika anggota TNI atau Polisi atau bahkan Intelijen terjun ke dunia politik, maka wajib masuk dalam koridor demokrasi yang harus dipatuhi aturan mainnya.

Masih dalam sudut pandang intelijen, generalisasi liberalisme sebagai neokolonialisme juga menjadi kepentingan kelompok Nasionalis-Militeristik yang melihat secara sempit akan mengancam kedaulatan nasional Indonesia. Kedaulatan yang pada masa Orde Baru diterjemahkan dalam kebebasan merampok kekayaaan bangsa dan untuk memperkuat kelompok kepentingan dalam link kekuasaan yang diharapkan bisa abadi. Itulah sebabnya terjadi kerusakan mental yang akut yang menyebabkan perilaku menyimpang berupa korupsi menjadi budaya massa. Korupsi terjadi di manapun juga, namun dalam skala tertentu bisa diabaikan karena tidak merusak keseluruhan sistem, tetapi dalam kasus Indonesia sungguh aneh bin ajaib.

Liberalisme dan integrasi ke pasar global telah mendorong rasionalisasi sistem ekonomi nasional Indonesia yang selama masa Orde Baru penuh akal-akalan untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun proses liberalisasi tersebut juga telah melahirkan kekuatan baru yang berpotensi memiliki watak semena-mena seperti pada masa Orde Baru. Namun kelompok baru ini tentunya semakin canggih dengan berbagai argumentasi dan pendekatan hukum formal yang kuat. Itulah sebabnya perlu dilakukan pengawasan yang super ketat dalam reformasi hukum nasional Indonesia agar tidak menjaid sangat berat kepada kelompok liberal. Disinilah, Blog I-I memberikan dukungan penuh kepada kaum Marxist Indonesia untuk berteriak dan memberikan draft pemikiran yang logis untuk mencegah terjadinya penguasaan seluruh kekayaan bangsa ke tanggan pemilik modal.

Harapan Blog I-I tentu berupa sinergi dimana apapun gagasannya dan teknik pelaksanaannya satu hal yang perlu digarisbawai adalah bukan untuk kepentingan golongan, karena hal ini hanya mengulangi kesalahan besar Orde Baru.

Blog I-I berasumsi bahwa kesulitan terbesar dalam menggagas Indonesia Raya adalah terletak pada watak sombong dan ingin menang sendiri dari sosok manusia Indonesia. Selain itu diperparah oleh iri hati dan dendam yang akhirnya membutakan mata, menulikan telinga dan menutup hati nurani. Alih-alih pengatasnamaan agama, ideologi atau keyakinan seringkali ditembakkan demi niat-niat penghancuran elemen bangsa yang dianggap "musuh". Jangankan dialog, melihatpun tidak sudi karena sikap bermusuhan muncul lebih dahulu daripada harapan adanya perubahan yang lebih baik.

Watak-watak tersebut diatas menyuburkan kehidupan tikus-tikus koruptor, broker-broker ekonomi, pungutan-pungutan preman politik, perampok kekayaan alam, tikus kepolisian, tikus pengadilan, serta berbagai perilaku menyimpang lainnya. Di level akar rumput, lahir masyarakat yang haus narkoba karena kehilangan arah, masyarakat yang senang mengadili karena tidak ada keadilan, masyarakat yang menyimpan amarah karena tak berdaya, dan masyarakat yang cenderung putus asa.

Betapapun kondisinya, bila kita sadar makna kehadiran kita di dunia sebagai manusia Indonesia, bila kita masih merasa waras, maka belum terlambat untuk mencari jalan atas nama diri kita masing-masing untuk berdiri tegak menjadi lokomotif perubahan berkontribusi dengan niat tulus. Sekecil apapun cahaya yang kita keluarkan bisa menerangi sesuai kekuatan cahayanya.

Maaf, nulisnya kurang terstruktur karena memang tidak dikonsep secara baik. Silahkan dikoreksi oleh rekan-rekan semua.

Sekian
Comments:
vincentliong@yahoo.co.nz wrote:

Saya sudah membahas pandangan saya tentang masalah ini di balasan saya terhadap tulisan Gerakan Kampungan Marxist Indonesia di e-link: http://intelindonesia.blogspot.com/2007/03/gerakan-kampungan-marxist-indonesia.html
Harap membacanya dulu sebelum membaca balasan saya terhadap tulisan Tentang Komunisme Versus Liberalisme ini.

Saya pribadi tidak sependepat pada judul: Komunisme Versus Liberalisme

Bilamana para pejuang marksisme telah mencapai tahap pemahaman dialektika lebih dari sekedar pemahaman samarata-samarasa di bidang ekonomi, maka efek sampingnya adalah liberalisme yang benar-benar liberal.

Efek dari kondisi tsb adalah bersaingan bebas yang bahkan tidak bisa diatur lagi oleh para pemegang money capital (kapitalisme). Hal ‘dialektika’ inilah yang menjadi ketakutan negara-negara barat bahwa suatu hari nanti sistem ini akan membuat dunia terlalu liberal dalam kondisi persaingan di bidang ekonomi. Oleh karena itu cara yang harus diambil adalah dengan menggunakan alasan agama (believe sistem) karena agama bersifat yakin yang tanpa perlu ada bukti & bersifat masabodo pada penjelasan-penjelasan termasuk yang rasional sekalipun, untuk menghambat penyebaran paham dialektika yang adalah dasar dari marksisme.

Negara-negara pemegang money capital tsb tahu bahwa pemahaman dialektika ini tidak bisa dihentikan, misalnya bagaimana pengaruh dialektika pada perkembangan ekonomi RRT belakangan ini. Yang bisa dilakukan adalah menghambat sebanyak mungkin negara untuk berkembang pemikirannya sampai pada tahap ini sehingga makin lama waktu sisa yang bisa dinikmati oleh para pemegang money capital yang sifatnya normatif yang kalah efisien kemampuan produksinya dari pengguna dialektika seperti RRT sebelum akhirnya penguasaan (money capital / kapitalisme) tsb akhirnya harus lengser juga. Bagaimanapun asia akan menjadi pusat ekonomi dunia, hanya tunggu waktu saja.

Nah, untuk Indonesia, pertanyaannya: Mau di urutan ke berapa sebagai negara membebaskan diri dari kekangan aturan-aturan dogmatis & normatif yang dibuat pemegang money capital sebelum beralih ke berpikir dialektik dalam mengembangkan tingkat ekonomi negara ini secara efisien bukan dengan saling mentoleransi atas dasar normatif sehingga tidak efisien.


Note: Saya sendiri mah koar-koar saja di maillist ini sambil menjalankan misi saya dalam mencerdaskan masyarakat dari polapikir normatif menuju adaptif… Silahkan baca sebuah tulisan saya di link di bawah ini, memang tidak secara langsung nyambung tetapi arah-arahnya ke sana juga…

Subject: Makna Komunikasi Empati dan Kompatiologi
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20406
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18384
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/1413



Ttd,
Vincent Liong
 
Kompatiologi: Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang
ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian



Pengantar

Ada suatu masa dimana antar saudara saling berdagang, anak terlibat tawar menawar dalam berdagang dengan bapaknya, suami berdagang dengan isterinya. Antara mertua dan menantu juga saling berdagang. Zaman itu nanti bisa katakan sebagai zaman pedagang.

Sadar tidak sadar dalam hubungan egaliter, seorang ayah membutuhkan keinginan anaknya untuk mau mengerjakan PR dan si anak membutuhkan ayahnya untuk membelikannya DVD Playstation. Proses tawar menawar dalam dagang ini bisa terhambat (stop prosesnya) bila sang ayah mampu menceramahi anaknya, hingga anaknya meyakini pola pikir yang hirarkis bahwa seorang anak harus mengikuti nasehat orangtua agar menjadi anak yang baik dan disayang orangtua.

Saya menggunakan contoh sederhana ini untuk menjelaskan bagaimana pemegang money capital dalam kapitalisme berusaha untuk menggiring masyarakat umum agar tetap berpegang pada believe sistem tentang rasa aman yang menjamin hidup seseorang. Seperti kalimat saya di atas,” seorang anak harus mengikuti nasehat orangtua agar menjadi anak yang baik dan disayang orangtua.”Maka seseorang diarahkan untuk sekedar mengikuti aturan main pemegang money capital dengan pertimbangan bahwa apa yang dilakukan di masa lalu akan mempengaruhi apa yang terjadi di masa depan dengan logika yang linier. Seperti orang dididik agar sekolah setinggi mungkin (S1, S2, S3, dlsb) hingga ‘lulus’ sekolah, yang artinya start menjadi ‘belum lulus/sukses’ di dunia kerja. Sama seperti orang dididik untuk meyakini bahwa memiliki pekerjaan yang tetap selama mungkin membuat dirinya terjamin secara jangka panjang, padahal kapan saja dia bisa dipecat. Kemungkinan orang tsb untuk mendapatkan tawar menawar yang lebih baik dengan berpikir pada ketidakpastian jadi tertutup, padahal melepaskan pekerjaan yang satu berarti bisa tidak mendapatkan penghasilan atau mendapatkan peluang yang lebih besar dari pekerjaan sebelumnya.

Maka dari itu banyak murid ilmu kompatiologi yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memilih hidup dalam ketidakpastian. Saya sendiri (Vincent Liong) memutuskan meninggalkan fakultas Psikologi universitas Atma Jaya karena menyadari bahwa realita di ruang kelas tidak sama dengan realita di luar ruang kelas. Vincent Liong sebagai penulis, peneliti dan pendiri ilmu kompatiologi, tidak lulus matakuliah-matakuliah semester pertama, misalnya: Metodologi Penelitian 1 (Vincent 2x tidak lulus dengan nilai E). Psikologi Umum 1 (Vincent 2x tidak lulus dengan nilai E). Dan banyak matakuliah prasyarat lainnya yang bidangnya sama atau mirip dengan bidang yang amat dikuasai Vincent di luar ruang kelas mendapat nilai E atau paling bagus D alias tidak pernah lulus sampai tua. Jika dihitung bahwa seorang mahasiswa di fakultas psikologi Unika Atma Jaya biasanya lulus dalam 4 tahun, maka jika Vincent Liong harus mengulang matakuliah masing-masing hanya 3x maka setidaknya akan lulus S1 Psikologi dalam 12 tahun atau lebih.

Orang lupa bahwa sebelum melihat ke masa lalu dan ke masa depan kita harus ingat pada masa kini. Bahwa di masa kini, kita di posisi seperti seorang anak yang menginginkan memiliki playstation. Bahwa dengan atau tanpa melakukan tawar-menawar, berdagang dengan orangtua untuk mendapatkan playstation tetap tidak ada yang menjamin masa depan saya.

Maka dari itu untuk mempropagandakan secara luas dan cepat pemahaman tentang zaman berdagang yang akan segera tiba, maka saya membuat ilmu yang namanya kompatiologi.



Makna Kompatiologi

“Kompatiologi sebagai ilmu Komunikasi Empati adalah ilmu yang sifatnya memberi penguasaan individu, bahwa dalam bidang apapun, suatu pemerosesan informasi selalu terdiri dari dua kegiatan: Penyerapan abstraksi data (data abstrak) dan Penerjemahan data ke dalam bahasa-bahasa dengan range yang lebih spesifik (data kongkrit).

Ketika data di tahap kegiatan abstraksi data (data abstrak), maka data disimpan dalam bentuk sampling sebagai suatu pemposisan diri tertentu terhadap skala dan range yang mencakupinya. Suatu data yang sifatnya abstrak bisa ditranslate menjadi range bahasa yang satu dan bisa juga ke range bahasa yang lain.

Misalnya;
* Karakteristik rasa makanan memiliki range yang memiliki titik referensi manis, asin, asam, pahit dan pedas. Setiap sample data tentang satu jenis karakteristik makanan disimpan sebagai satu pemposisian diri terhadap titik referensi manis, asin, asam, pahit dan pedas ;dan menjadi bagian dari range rasa makanan.
* Intensitas cahaya memiliki range dari skala interval sample warna yang paling terang ke paling gelap. Tiap sample warna spesifik memiliki pemposisian diri terhadap range dan skala-skala intensitas cahaya.
* Range tubuh fisik manusia terdiri dari skala berupa anggota-anggota tubuh dari kaki sampai kepala. Setiap satu anggota tubuh dari yang besar sampai yang kecil memiliki pemposisian diri yang spesifik dalam range tubuh fisik manusia. Misalnya kalau kita bicara tentang hidung maka bila kita bahas dalam range dan skala: range tubuh fisik manusia -> Kepala -> kepala bagian depan / muka -> hidung.
* Range perasaan binatang terdiri dari titik referensi: approve >< defense dan send >< recive. Setiap sample projeksi perasaan binatang memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap range perasaan binatang tsb.
* Range komunitas keluarga terdiri dari skala ayah, ibu, anak sulung, anak tengah, anak bungsu, dlsb. Tiap anggota keluarga memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap skala-skala / tiap anggota keluarga.

Tanpa perlu belajar secara khusus definisi, bahasa, norma, dlsb ;tiap manusia dan binatang mampu secara alamiah membedakan posisi sample data, skala, titik referensi ;sebagai bagian dari range dengan bahasa spesifik. Suatu pemposisian diri sample data terhadap range bisa ditranslate ke dalam bahasa yang berbeda-beda misalnya: Sample dengan pemposisian diri rasa X pada range rasa makanan, memiliki pemposisian diri warna X pada range intensitas cahaya, memiliki pemposisian diri bagian tubuh X pada range tubuh fisik, dan memiliki pemposisian diri perasaan X pada range perasaan.”

(dikutip dari tulisan saya berjudul; ’Makna Komunikasi Empati dan Kompatiologi’.)



Propaganda Kapitalisme, Liberalisme, Marksisme & Komunisme

Kapitalisme (money capital) adalah naluri yang alamiah. Seperti anda mencintai keluarga anda dan berusaha dengan segala kekuasan anda untuk memberikan fasilitas spesial pada anggota keluarga anda saja, bukan orang asing; Maka di negara barat kapitalisme berjalan dengan membuat kelompok-kelompok eksklusif entah itu berdasarkan garis keturunan keluarga atau ras atau dengan pola yang lain seperti keluarga The God Father saja, dan membiarkan masyarakat kebanyakan hidup di lingkungan yang liberal dan tidak efisien secara ekonomi ala sosialis, dengan tunjangan sosial yang tinggi, standart hak asasi manusia yang baik dan tingkat ekonomi yang hampir seragam. Karena ketidakefisienan ini maka adalah hal yang penting untuk menjaga agar kenyamanan yang ideal tsb tetap terjaga di masyarakat umum di negara kapitalis, sehingga kenyamanan yang lebih eksklusif di kelompok money capital akan terjaga keabadiannya. Jangan sampai terusik oleh perubahan zaman feodal menuju zaman pedagang diamana sistem produksi yang kalah efisien secara ekonomi akan terpaksa gulung tikar.

Usaha untuk menghambat proses transisi dari Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang sudah banyak dilakukan oleh pemegang money capital. Salah satunya yang paling penting adalah dengan cara mempropagandakan konflik pemikiran tentang Kapitalisme, Liberalisme, Marksisme & Komunisme.

Marksisme berawal dari masalah Kapitalisme (Money Capital) yang artinya kekuasaan dipegang oleh segelintir orang. Pada tahap ini pemahaman tentang samarata-samarasa menjadi pilihan disebabkan kebutuhan untuk mendobrak tatanan berupa believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb yang dibuat untuk tujuan agar pemegang money capital tetap berkuasa secara tidak egaliter terhadap proletar berdasarkan keyakinan (believe sistem) tsb.

Pada tahap selanjutnya seperti yang dilakukan RRT (Republik Rakyat Tiongkok), ketika permasalahan tentang perbedaan kekuasaan akan keyakinan yang jauh antara pemegang money capital dengan proletar sudah teratasi (believe sistem hirarkis yang tidak rasional sudah dibersihkan dari pikiran masyarakat), maka tidaklah efisien untuk tetap fokus pada masalah samarata-samarasa. Maka dari itu banyak perusahaan yang disita oleh negara pada masa pembersihan, dikembalikan ke pemilik asalnya atau mendapat ganti rugi yang layak.

Prinsip samarata-samarasa hanyalah sekedar pilihan pada masa tertentu, tetapi bukan tujuan utama paradigma dasar Marksisme sendiri yaitu: Kesamaan kesempatan / terbukanya kemungkinan yang sama bagi setiap orang, pendobrakan sistem (tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb) agar pemegang money capital tetap berkuasa.

Maka tahap selanjutnya adalah pemahaman tentang “survival for the fittest” ala Darwin yang dijadikan fokus utama. Dalam usaha untuk survive, manusia harus memiliki kemampuan analisa yang tidak terkotak-kotak / terbatasi oleh paradigma (believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb) versi money capital untuk tetap terus berkuasa. Hasil dari kegiatan menganalisa tsb digunakan untuk sebagai pertimbangan (antisipasi terus menerus) dalam menentukan strategi (keputusan yang diambil). Ini persis seperti yang dilakukan masyarakat RRT saat ini.

Maka dari itu yang paling ditakutkan oleh blok barat adalah kemampuan dialektika yang dimiliki oleh penganut marksisme. Blok barat tidak begitu takut pada masalah samarata-samarasa & soal kemenangan bagi kaum proletar karena tetap dalam bidang ekonomi kesamaan / keegaliteran tingkat ekonomi memang mustahil tercapai.

Sayang memang bahwa marksisme di Indonesia masih fokus pada masalah samarata-samarasa dalam bidang ekonomi. Ini yang akan mudah sekali dimanfaatkan oleh yang berkepentingan untuk menghambat perkembangan ekonomi di negara ini.

Dengan fokus pada prinsip samarasa-samarasa tanpa memperhatikan kebutuhan untuk bermain dialektika demi survive di tengah persaingan bebas; Maka akan membawa negara ke arah yang berlawanan dengan tujuan dasar marksisme sendiri, karena sudah masuk pada pemposisian peran kambinghitam dalam propaganda believe sistem ala barat, yang efek sampingnya malah memperkuat kelekatan masyarakat akan sistem / tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb untuk kepentingan money capital.



Marksisme & Liberalisme

Bilamana para pejuang marksisme telah mencapai tahap pemahaman dialektika lebih dari sekedar pemahaman samarata-samarasa di bidang ekonomi, maka efek sampingnya adalah liberalisme yang benar-benar liberal.

Efek dari kondisi tsb adalah bersaingan bebas yang bahkan tidak bisa diatur lagi oleh para pemegang money capital (kapitalisme). Hal ‘dialektika’ inilah yang menjadi ketakutan negara-negara barat bahwa suatu hari nanti sistem ini akan membuat dunia terlalu liberal dalam kondisi persaingan di bidang ekonomi. Oleh karena itu cara yang harus diambil adalah dengan menggunakan alasan agama (believe sistem) karena agama bersifat yakin yang tanpa perlu ada bukti & bersifat masabodo pada penjelasan-penjelasan termasuk yang rasional sekalipun, untuk menghambat penyebaran paham dialektika yang adalah dasar dari marksisme yang bertujuan memberikan peluang “berdagang” yang lebih adil (egaliter).

Negara-negara pemegang money capital tsb tahu bahwa pemahaman dialektika ini tidak bisa dihentikan, misalnya pengaruh dialektika pada perkembangan ekonomi RRT belakangan ini. Yang bisa dilakukan adalah menghambat sebanyak mungkin negara untuk berkembang pemikirannya sampai pada tahap ini sehingga makin lama waktu sisa yang bisa dinikmati oleh para pemegang money capital yang sifatnya normatif yang kalah efisien kemampuan produksinya dari pengguna dialektika seperti RRT sebelum akhirnya penguasaan (money capital / kapitalisme) tsb akhirnya harus lengser juga karena tidak ada negara sapi perah lagi yang bisa dimanfaatkan. Bagaimanapun asia akan menjadi pusat ekonomi dunia, hanya tunggu waktu saja.

Nah, untuk Indonesia, pertanyaannya: Mau di urutan ke berapa sebagai negara membebaskan diri dari kekangan aturan-aturan dogmatis & normatif yang dibuat pemegang money capital ; Sebelum Indonesia beralih ke berpikir dialektik dalam mengembangkan tingkat ekonomi negara ini secara efisien bukan dengan alasan saling mentoleransi atas dasar normatif sehingga tidak efisien, seperti keluarga mencintai anggota keluarganya.


Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Sabtu, 14 April 2007





LAMPIRAN Info Pendekon
Last update: 14 April 2007 (berlaku sampai update berikutnya)



ISI LAMPIRAN
* Daftar pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.
* Daftar penasehat Kompatiologi cabang Jakarta.
* Daftar pengajar Kompatiologi cabang daerah (di luar Jakarta; Surabaya, Bandung & Purwokerto.)
* Info: Dekon-Kompatiologi di Yogyakarta & Solo 15 – 22 April 2007 (bisa diperpanjang). Kunjungan khusus selama seminggu praktisi Kompatiologi cabang Jakarta (Vincent Liong & Adhi Purwono) untuk melayani dekon-Kompatiologi di Yogyakarta.

YANG PERLU DIPERHATIKAN:
* By appointment only. Biasanya pendekon membawa pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di luar kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga standart kwalitas hasil dekon.
* Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan hari yang sama sebelum dekon.
* Tidak melayani tanya-jawab via sms.
* Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam. Dilarang meninggalkan acara sebelum acara selesai.
* Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers, dlsb hubungi & deal langsung dengan masing-masing praktisi.
* Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang tinggal satu area / lingkungan pergaulan dengannya agar memiliki teman sharing tentang penerapan kompatiologi pasca dekon-kompatiologi, agar perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
* Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara independent. Tanggungjawab kepada klien adalah pada masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan anda.
* Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
* Tarif yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
* Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi / sumbangan biaya penelitian yang sifatnya pribadi karena dilakukan oleh masing-masing pendekon atas kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat ditransfer ke bank account atau secara tunai(cash).
* Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat menanyakan langsung kepada pendekon.



PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

* STEVEN TJOENG (alias: Dayapala Pema Lodoe)
Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi.
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA esia: 021-93332223 & Hp: 081381381311.

* DADE (M. PRABOWO)
Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi & Mall Kelapa Gading.
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

* RIO PANJAITAN
Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi & Mall Kelapa Gading.
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA esia: 021-99068707 & Hp: 081380530125.

* ONDO UNTUNG
Lokasi dekon: Mall Kelapa Gading.
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA esia: 021-92862617 & Hp: 08128599710.

* ADHI PURWONO
Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City, Mall Taman Anggrek & Mall Puri Indah.
Jadwal dekon tetap: Senin & Kamis Pk:16.30 – 22.00
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA flexi: 021-68812660 & fren: 08886187085.
Bank Account: Bank BNI cabang Harmoni.
A/c: 1810500-6 A/n: Adhi Purwono.


* VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)
Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City.
Jadwal dekon tetap: Senin & Kamis Pk:16.30 – 22.00 (bisa berubah sewaktu-waktu)
Tarif umum: Rp.500.000,- per peserta di Plaza Senayan & Senayan City.
Tarif di luar jadwal fix / privat: Rp.800.000,- per peserta.
CDMA flexi: 021-70006775 & esia: 021-98806892 (untuk di Jakarta saja).
CDMA fren: 08881333410 (untuk di Jakarta & luar kota).
Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.



PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

CORNELIA ISTIANI
Hp: 081585228174 CDMA flexi: 021-68358037
CDMA fren: 08886167847 (untuk di Jakarta & luar kota).

JUSWAN SETYAWAN
Hp: 08159162193

LEONARDO RIMBA
Hp: 0818183615


PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG DAERAH

* Cabang BANDUNG : Omen
CDMA flexi: 022-70108828 & Hp: 08157179292.

* Cabang PURWOKERTO : Bimo Wikantiyoso
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

* Cabang SURABAYA : Audifax
Jadwal by appointment.
Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
CDMA flexi: 031-70209354 & fren: 08882733626.



DEKON KOMPATIOLOGI DI YOGYAKARTA & SOLO 15 – 22 April 2007
Kunjungan khusus selama seminggu praktisi Kompatiologi cabang Jakarta (Vincent Liong & Adhi Purwono) untuk melayani dekon-Kompatiologi di Yogyakarta & Solo.

Diberitahukan bahwa Vincent Liong dan Adhi Purwono akan hadir di Yogyakarta & Solo pada tanggal 15 - 22 April 2007 (ada kemungkinan diperpanjang) untuk melakukan Dekon-Kompatiologi.

Untuk saat ini kami belum membuat jadwal (tempat, jam & tanggal) pasti soal tanggal berapa dan dimana dekon akan dilakukan. Biasanya kami memilih start jam 16.30 di Foodcourt sebuah Mall dan selesai hingga jam 22.00 malam hari yang sama. Untuk 1x acara dekon jumlah peserta 1 - 5 terdekon. Dalam 1 minggu kami akan melakukan 4x acara dekon untuk menjaga stamina dan kwalitas hasil kerja dekon.

Tarif yang kami berlakukan adalah: Rp.300.000,-/ peserta (pembayaran ketika acara). Bilamana ingin menyumbang untuk biaya penelitian & akomodasi kami, dlsb silahkan ditambahkan.


Bagi peserta Dekon-Kompatiologi di Yogyakarta wajib mendaftarkan diri via email sebelum tgl 15 April 2007, menghubungi Vincent / Adhi via telepon (tidak hanya sms) pada tanggal 15 dan 16 April 2007 dan mengirim email ke address email: vincentliong@yahoo.co.nz, adhi_p@yahoo.com ; isi sbb:

Subject: [Nama Peserta]Dekon-Kompatiologi di Yogyakarta

Melampirkan:
Nama Lengkap:
Telepon:
Hp & CDMA:
Alamat Tinggal:
Latarbelakang Pekerjaan:

Tulisan singkat versi sendiri mengapa mau ikut acara Dekon-Kompatiologi.


Contact person Vincent Liong dan Adhi Purwono yang dapat dihubungi:

> Selama di Jakarta (sebelum Vincent dan Adhi berangkat ke Yogyakarta) dapat dihubungi di:
* Vincent Liong 021-5482193,5348567/46(Home) 021-70006775(CDMA Flexi) 021-98806892(CDMA Esia) 08881333410(CDMA Fren).
* Adhi Purwono 021-68812660(CDMA Flexi)
08886187085(CDMA Fren).

> Selama di Yogyakarta (12 - 19 April 2007) dapat dihubungi di:
* Vincent Liong 08881333410(CDMA Fren).
* Adhi Purwono 08886187085(CDMA Fren).
Note: Bagi peserta dekon wajib menghubungi Vincent / Adhi via telepon (tidak melayani sms) pada tanggal 12 April 2007.

Untuk program dekon-kompatiologi di Jakarta selama Vincent Liong tidak di Jakarta (15 - 22 April 2007 / dapat diperpanjang) dapat menghubungi pengajar-pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.



Permintaan Donasi untuk Project Kompatiologi
di Yogyakarta & Solo 15 - 22 April 2007

Sehubungan dengan Project Dekon-Kompatiologi di Yogyakarta & Solo, saya Vincent Liong & Adhi Purwono selaku praktisi & pengajar yang akan diberangkatkan tanggal 15 - 22 April 2007 (ada kemungkinan diperpanjang) untuk memperluas jaringan pengguna kompatiologi sampai ke Yogyakarta meminta bantuan teman-teman para pengguna & penggemar kompatiologi untuk donasi (sumbangan dana) untuk biaya-biaya kami selama di Yogyakarta.

Bagi teman-teman yang berniat menyumbang silahkan dikirim ke ...
Bank BCA cabang Permata Hijau
A/c: 178-117-9600
A/n: Liong Vincent Christian
Tulis keterangan: Dekon Yogyakarta [Nama Anda]

Setelah dikirim harap sms ke 08881333410 ...
 
senopati...

emang apa sih arti dari nama senopati itu???
masihkah anda bekerja sebagai anggota intelijen Indonesia?
 
Laporan Project Kompatiologi cabang Solo

Di Jakarta, Sabtu, 14 Apil 2007 saya sempat menulis tulisan berjudul;"Kompatiologi: Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang". Saat tulisan itu saya tulis, saya
belum tahu mengaapa saya merasa perlu dan sudah saatnya membuka sudutpandang tsb.

bahkan saat lima hari pertama dari hari minggu (15 April) sampai hari kamis (19 April) di Yogyakarta saya
masih mempertanyakan soal relevansi tulisan tsb untuk ditulis dan diposting sebelum saya berangkat ke Yogyakarta.

Pada hari jumat tanggal 20 April 2007 ketika bp Sunu sponsor / penyelenggara project kompatiologi datang menjemput saya di Yogyakarta dan membawa saya ke Solo, hingga akhirnya sampai di Solo barulah saya mengerti. Sebelum sampai di Solo bp Sunu tidak berbicara apa-apa, ketika sampai bp Sunu mulai membahas tentang talkshow Kompatiologi selama satu atau dua jam di radio-radio dan proposal masing-masing radio dengan deal ala masing-masing.

Pada jam 19.00an hari jumat itu, sudah ngumpul para peminat kompatiologi yang telah dikumpulkan bp Sunu untuk ngopi di sebuah kafe sambil ngobrol hingga larut malam tentang kompatiologi dan kebutuhan para peminat di Solo.

Siang esok harinya tgl 22 April 2007 jam 11an kami dijemput di Hotel yang dibiayai oleh sponsor dan berangkat ke Meta FM. Mas Leonardo Rimba talkshow tarot selama 1 jam dan dismabung talkshow kompatiologi selama satu jam dengan pembicara: Vincent Liong, Adhi Purwono, Leonardo Rimba & bp Sunu selaku sposor /
penyelenggara. Malamnya kami dekon beberapa orang untuk dipersiapkan secara khusus jadi pendekon independent cabang Solo.

Nah, sampai di sini akhirnya saya mulai mengerti tentang posisi tulisan tsb bukan berhubungan dengan Yogyakarta melainkan dengan Solo.

Jarak antara kaya dan miskin yang ekstrim sampai tadi pagi tgl 22 April 2007, pernah ada tukang jamu saja mencoba memalak kami dengan lakon peran miskin minta dikasihani. Yang kaya memeras yang miskin dan yang miskin semakin miskin. Kondisi kapitalisme VS
komunisme ala samarata-samarasa. Baik islam, kejawen dan kraton sama-sama punya pengaruh yang kuat dengan kelompok-kelompok dan kultus-kultusnya.

Sementara itu dulu yang bisa kami ceritakan. Tentang "Kompatiologi -> Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang" kami tidak bisa menceritakan secara terbuka detail
kegiatannya. Yang jelas kami akan tinggal sampai tugas/pekerjaan kami tuntas, tiket pulang pun belum
kami pesan. Pak Sunu mensponsori saya secara penuh sampai hari Minggu ini. Bila masih ada yang perlu dikerjakan maka akan dibiayai oleh sponsor lain yang
akan muncul, atau kami kembali ke Yogyakarta, tinggal satu sampai dua hari sebelum ke Jakarta.

Maka dari itu bila memang masih ada teman-teman yang mengharapkan peran kami di Solo, maka hubungilah kami secepatnya...

Selama di Solo kami dapat dihubungi di:
* Vincent Liong 08881333410(CDMA Fren).
* Adhi Purwono 08886187085(CDMA Fren).
* bp Sunu (Hp: 08122651357, CDMA Flexi: 0271-7072879)

Mohon bantuan teman-teman yang tinggal di Solo dan sekitarnya atau yang punya koneksi ke Solo untuk menyebarkan email ini secepatnya...


Ttd,
Vincent Liong
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters