Blog I-I Menjawab » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, May 22, 2007

Blog I-I Menjawab

Baru ditinggal jalan-jalan sejenak, rupanya telah berkembang wacana kritis yang mempertanyakan saya, ya...tentu saja hal itu sangat wajar dan memang seharusnya dipertanyakan. Kalau tidak ada yang bertanya-tanya, mungkin saya hapus saja Blog I-I ini dari dunia cyber.

Terima kasih atas berbagai komentar dalam shoutbox yang benar-benar membuat saya membaca ulang artikel-artikel Blog I-I.


Soal pembahasan masalah politik nasional Indonesia sebenarnya tidaklah terhindarkan bagi kalangan intelijen. Hal itu karena eratnya hubungan intelijen dengan stabilitas politik. Patut diakui, memang akan terlihat kurang etis karena intelijen menanggung beban informasi rahasia yang bila dibahas dalam wilayah politik akan menjadi komoditi para pemain politik. Bahkan artikel bernada datar tentang pergantian Menteri yang saya tulispun menjadi bahan pembicaraan, padahal saya bisa menulis yang lebih menggoda apabila saya sampaikan sejumlah informasi akurat yang menyebabkan terjadinya antiklimaks yang bisa menjadi bahan penurunan kredibilitas pemerintah. Anggap saja tulisan saya itu sebagai langkah blunder dalam permainan catur, tetapi tidak mematikan toh.

Tetapi cukuplah kiranya, karena misi Blog I-I bukan untuk menciptakan suasana tertentu untuk mendorong terjadinya instabilitas nasional. Misi Blog I-I juga bukan untuk melanggengkan kekuasaan pemerintah. Jadi bagi siapapun yang yang memiliki misi demikian tidak usah mendekati saya.

Mengenai perjanjian ekstradisi, tidak ada maksud untuk bela sana-sini atau menutup mata dari potensi rawannya keamanan nasional Indonesia. Kepada rekan-rekan dari TNI (khususnya Udara dan Lait) dan Polri (Polisi Air) mohon kiranya bisa menyampaikan secara transparan apa yang sudah terjadi sebelum tanda tangan DCA RI-Singapura. Bahwa Singapura selama ini sudah menggunakan beberapa wilayah Indonesia untuk latihan militer tidak pernah disinggung siapapun, mengapa? Teriakan politis dalam kasus ini sangat kentara, atau jangan-jangan memang tidak ada yang tahu? Itulah sebabnya Dephan cukup percaya diri dan tidak ambil pusing komentar politis dari sejumlah kalangan. Karena jawaban yang tepat adalah bahwa perjanjian keamanan yang baru itu justru semakin memperjelas aturan main bila Singapura ingin latihan militer, sebelumnya yaaa seenaknya aja.

Sementara itu, masalah perjanjian ekstradisi, memang benar sangat sulit apalagi pelaksanaannya nanti. Dahulu banyak yang teriak-teriak mendesak perjanjian itu, tetapi setelah ditandatangani mengapa lantas diteriaki lagi?

Sangat benar bahwa kita harus waspada, tetapi sangat sedikit yang memahami dan mau memberikan apresiasi yang obyektif.

Saya tidak bermaksud bertahan membela perjanjian itu, karena tidak ada manfaatnya bila kita belum sama-sama membaca keseluruhan situasinya. Secara substansi perjanjian, saya memberikan apresiasi, namun untuk pelaksanaannya saya termasuk yang pesimis.

Apa yang saya lihat dari kelemahan perjanjian RI-Singapura adalah sifat ketertutupannya baik selama proses maupun setelah tanda tangan. Kondisi itulah yang menjadikan perjanjian itu enak dibidik sebagai sesuatu yang "keliru". Bila memang keliru lalu bagaimana kita berhubungan dengan tetangga "kecil" kita itu??? Beberapa alasan yang dikemukakan oleh pihak terkait negosiasi dalam transkripsi rekaman Blog I-I tercatat bahwa keraguan terbesar justru mengarah pada politisi di Senayan yang sedang berburu daftar list buronan koruptor yang akan diburu aparat Indonesia dan Singapura. Buat apa berburu list itu, karena ada nilai jasa dollarnya agar proses kabur ke negara ketiga semakin lancar. Tahukah rekan-rekan bahwa perang melawan korupsi benar-benar akan berdarah-darah bila pemerintahan SBY cukup berani dan tegas tanpa pilih kasih.

Dari dalam negeri Singapura yang masih otoriter, diperoleh informasi bahwa Singapura cukup terdesak dalam proses penandatanganan tersebut. Memang sangat sulit dalam hidup bertetangga yang baik karena kecurigaan lebih besar dari segala itikad baik untuk bisa bekerjasama. Singapura betapapun juga lebih mengharapkan Indonesia Raya yang stabil dan bisa berkerjasama dengan baik. Sebaliknya Indonesia lebih mengharapkan Singpaura yang mengerti perubahan demi perubahan yang sedang terjadi di Indonesia. Seni intelijen, diplomasi dan membina hubungan dengan tetangga sebelah memang cukup rumit. Adakah diantara rekan-rekan yang bisa menyebutkan nama orang Indonesia yang bisa disebut sebagai pakar masalah Singapura? cukup sulit bukan? Ingat...dalam memangdang suatu persoalaan kita perlu mengumpulkan data selengkap mungkin dan melihat dari berbagai sisi serta mengurangi prasangka, meskipun terhadap musuh sekalipun. Karena prasangka baik dan buruk sudah mengurangi ketelitian kita.

Bagaimana pula dengan penguasaan sektor telekomunikasi oleh perusahaan Singapura dan Malaysia, aduh-aduh itu bisa terjadi benar-benar karena kecerobohan atau kebodohan pengelola bisnis maupun birokrat yang mengurusinya. Sesungguhnya bukan karena ada kecolongan ataupun kehebatan intelijen ekonomi asing yang masuk ke Indonesia. Sungguh sifat pemalas telah menjatuhkan martabat bangsa dalam cermin dunia bisnis yang sekarat. Perhatikan juga Indonesia paska kendali IMF, adakah bedanya? apakah perbankan sudah meninggalkan mentalitet malas menanggung resiko serta terus-terusan menjadi beban rakyat.

Kemudian dalam kasus-kasus delik hukum nasional, dimana kewibawaan hukum bila keputusan tingkat Mahkamah Agung masih mengandung masalah "ketidakadilan".

Mengenai Adipati, saya yakin dunia intelijen sudah paham betul bagaimana karakternya. Tentu saja cukup berbeda dengan karakter yang sering dikritisi di media massa.

Mengenai intelijen asing, saya kira cukup jelas bahwa pekerjaan mereka intel asing semakin ringan karena nasionalisme Indonesia tampak rapuh di sana sini. Di Jakarta, di Bandung, di Solo, di Batam, di Medan, di Papua, ah di mana-mana mereka sudah membentuk jaring informasi. Salah satu indikasi yang sangat kuat adalah ketika Indonesia memberikan persetujuan atas resolusi PBB terhadap nuklir Iran, intel-intel asing yang anti Iran bertanya-tanya ada berapa banyak syiah di Indonesia, apakah mereka berhubungan dengan Kedutaan Besar Iran, dst...dst, yang intinya mencari tahu kekuatan pengaruh Iran di Indonesia. Ketika saya memperhatikan gerakan itu, maka cukuplah menjadi catatan saja, karena syukurnya ada juga agen Seno Raya yang cukup baik mengamankan sektor ini.

Bagaimana dengan kebenaran info Kidon di Indonesia, ya ampunnn sudah saya sampaikan hard fact data kedatangan mereka, apakah harus dilengkapi foto yang berambut dan botak segala dalam Blog I-I ini? memang saya sendiri belum tahu persis kemana saja gerak mereka, konon masih terkait dengan upaya liberalisasi total ekonomi Indonesia Raya. Disamping itu juga memberikan tekanan yang sangat keras kepada jelmaan Ikhwanul Muslimin Indonesia (silahkan terjemahkan sendiri). Mengenai kecelakaan-kecelakaan sangat mungkin ada faktor kebetulan, namun kewaspadaan harus tetap tinggi utamanya dalam menjaga seluruh sektor transportasi nasional. Pada umumnya sabotase hanya untuk pengalihan perhatian, sedangkan sasaran sebenarnya justru lebih dahsyat.

Sekali lagi, saya sangat menghargai apapun komentar rekan-rekan Blog I-I. Blog I-I tidak dalam posisi alat negara untuk mempengaruhi opini publik. Blog I-I juga tidak dalam posisi untuk dipegaruhi kelompok manapun di negeri ini. Hanya sebuah refleksi kegelisahan melihat jatuhnya Indonesia Raya. Terakhir perlu dicamlan bahwa Senopati Wirang bukanlah seorang Master Spy yang tahu segala hal, hanya pesakitan yang terlalu khawatir dengan masa depan Indonesia Raya.

Sekian.
Dipesilahkan kritik dan komentarnya.



Comments:
korupsi oh korupsi :D
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters