Pasir, Ekstradisi dan Masalah Pertahanan » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, May 09, 2007

Pasir, Ekstradisi dan Masalah Pertahanan

Kenapa banyak yang mempertanyakan masalah pasir Indonesia yang dikeruk oleh Singapura? Kenapa banyak pihak yang menilai negatif perjanjian ekstradisi Ri-Singapura? dan Kenapa pula banyak yang menduga-duga RI menjadi rugi karena ada persoalan tempat main perang-perangan?

Pertanyaan Senopati sangat sederhana, sudahkah rekan-rekan Blog I-I membaca detail perjanjian tersebut? Bila sudah maka saya sangat kecewa bila rekan-rekan masih berpikir parsial bahwa perjanjian itu hanya sebuah peristiwa bodoh para diplomat Indonesia. Namun bila rekan-rekan belum membacanya, mengapa opini negatif begitu keras menerpa perjanjian itu?

Kepada segenap komunitas intelijen, Blog I-I menghimbau untuk berhati-hati dalam beropini dan menganalisa sebuah peristiwa. Kepada publik umum, Blog I-I berharap ada kesadaran yang lebih tinggi dalam mencermati setiap pemberitaan.


Blog I-I senantiasa berusaha untuk bersikap non-partisan dan tidak secara membabi-buta mendukung kekuatan-kekuatan politik di Republik Indonesia Raya.

Khusus untuk kasus pasir, perlu diketahui bahwa para pemainnya bukan orang-orang biasa yang dengan mudah disingkirkan. Kekuatan uang yang begitu besar dan dukungan dari oknum-oknum pengejar dollar Singapura sangat jelas di sana. Ketika pemerintah pusat menghentikan "sementara" bukankah shock therapy itu cukup memukul mega proyek Singapura yang berambisi membangun atau memperluas daratannya. Menurut perkiraan Blog I-I pukulan tersebut sempat membuat estimasi biaya pembangunan pulau "baru" Singapura membengkak minimal sampai tiga kali lipat. Blog I-I tidak bermaksud menghindari pembahasan detail upaya pengungkapan kasus pasir tersebut. Hanya saja datanya kurang meyakinkan dan terlalu banyak isu keterlibatan petinggi-petinggi militer dan polisi pemuja dollar Singapura. Selain itu, preman dan broker bisnis pasir itu cukup rapi dan profesional dalam mengupayakan proses legal pengerukan itu. Data-data mengenai tokoh dan perusahaan-pun cukup meyakinkan dari sisi legalitasnya. Namun demikian, ada sejumlah temuan bahwa terjadi pengerukan yang melebihi ketentuan (hampir mirip dengan kasus HPH dan illegal lodging). Apabila ada rekan-rekan yang punya informasi detail kasus ini, silahkan disampaikan. Blog I-I pernah punya jaring informasi yang berkedudukan di Pekanbaru, namun belakangan tidak aktif lagi menginformasikan masalah dengan singapura.

Kemudian soal perjanjian ekstradisi, agak kaget juga saya membaca komentar pengunjung setia seperi mas Bajil, mbak Stella, Om Pagaruyung, Om Bird-C, dll yang menduga-duga sebegitu jauh tentang perjanjian ekstradisi itu.

Saya menduga kuat tidak satupun dari rekan-rekan Blog I-I pernah melihat langsung point-point dalam perjanjian itu, apalagi membaca dan menelitinya.

Hal terpenting yang bisa Blog I-I sampaikan hanya sebatas pada jaminan bahwa perjanjian itu baik adanya, namun karena telah menjadi konsumsi politik...utamanya oleh elit-elit partai politik, maka terciptalah sebuah gelombang opini negatif tanpa dasar. Dimana letak baiknya? pertama sekali adalah bahwa Singapura telah menyadari bahwa Indonesia yang sekarang sudah banyak berubah dan bila Singapura tidak kooperatif atau akomodatif terhadap kepentingan Indonesia, maka Singapura sendiri yang akan rugi. Berangkat dari posisi itu, maka bisa tercapai kesepakatan ekstradisi yang berlaku surut (satu hal yang selalu ditolak Singapura adalah soal berlaku surutnya itu). Kemudian mengenai masalah tempat main perang-perangan, selama ini soal itu tidak pernah diatur secara detai, dan dalam perjanjian ekstradisi soal tempat main perang-perangan ini bukan bagian dari klausul perjanjian. Pengaturan penggunaan wilayah main perang-perangan menjadi semakin jelas, misalnya di masa lalu ketika Singapura meminta izin penggunaan wilayah udara, tidak ada aturan berapa kali mereka bisa melakukannya, sehingga seenak-enaknya saja. Sekarang sudah ada pengaturan teknis yang lebih jelas dan bisa terawasi dengan baik, bila terjadi pelanggaran bisa dilakukan nota diplomatik atau keberatan lainnya.

Tentunya Blog I-I tidak berhak melemparkan seluruh detail perjanjian kepada publik, hal ini mengingat betapa penting dan besarnya dampak perjanjian tersebut bagi RI maupun Singapura.

Dalam analisa Blog I-I belum ada titik jelas efisiensi dan efektifitas soal perjanjian ekstradisi karena hal yang tersulit justru soal implementasinya. Bisakah/Mampukah pemerintah RI memaksa aparat Singapura menangkap buron koruptor yang sedang belanja di Orchard Road? Jadi masalah utamanya terletak pada pelaksanaan yang akan melibatkan kepolisian, kejaksaan, imigrasi, serta instansi terkait lainnya termasuk intelijen.

Satu hal yang agak menyebalkan dari perkembangan perdebatan di Republik ini adalah bahwa hal itu seringkali hanya menjadi langkah antara untuk menyerang seseorang, misalnya Presiden atau Menteri.


Sekian catatan dari Senopati yang mulai lelah mencari karena semakin sedikit informasi yang bagus dari rekan-rekan Blog I-I (semoga sel-sel tidur Blog I-I bergairah kembali). Semoga ada keberanian dari rekan-rekan pembaca Blog I-I untuk membangun sel baru Blog I-I.

Salam Indonesia Raya

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters