Dongeng tentang Terorisme di Bumi Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, June 16, 2007

Dongeng tentang Terorisme di Bumi Indonesia

Pendahuluan

Turut menyampaikan selamat atas semakin terungkapnya skenario cerita terorisme di bumi Nusantara....Indonesia Raya.

Intelijen lemah, Polisi kebobolan, TNI melempem, bom meledak di mana-mana. Kurang lebih begitulah cerita awal terorisme di bumi tercinta ini, sekitar 6-7 tahun silam.

Pasca reformasi TNI kebingungan bagaimana menghadapi desakan reformasi militer dibawah kendali pemerintahan sipil. Kebingungan mempertahankan atau memperbaiki citra sebagai pelanggar HAM dan pembunuh rakyat sendiri. Gamang...kesal/marah...maju-mundur dalam melangkah.


Pasca reformasi, elit-elit polisi berhasil melakukan revitalisasi dengan segala cara termasuk suap miliaran rupiah kepada DPR-RI untuk memuluskan langkah penguasaan seluruh perikehidupan keamanan masyarakat melalui Undang-Undang. Super Cop Pro-Justisia.

Pasca reformasi, intelijen melakukan beberapa kali reorganisasi, membesar-mengecil di masing-masing wilayah. Semua berusaha mengadaptasikan diri terhadap perkembangan ancaman.

Alkisah
Dalam situasi politik-ekonomi yang morat-marit, rusaknya beberapa sendi koordinasi keamanan nasional mendorong petualang separatisme dan komunitas Darul Islam menggeliat kembali.

Alih-alih perang melawan teror, CIA mengirimkan ratusan inflitrasi (inilah yang pernah digembar-gemborkan oleh mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu juga AC. Manullang, namun pernah dicounter oleh Blog I-I sebagai upaya mengurangi kecurigaan CIA bahwa Intelijen Indonesia sudah paham sepenuhnya permainan CIA di Indonesia) dari berbagai arah ke nusantara untuk mendukung terciptanya suasana perang global melawan teror, khususnya untuk membungkus perang pembebasan Irak 2003 yang akhirnya berpuncak pada penguasaan kekayaan minyak Irak. Rencana pembebasan Irak telah dilakukan sejak 1990-1991, ketika Perang Teluk dinyatakan selesai, project the war on teror sudah dimulai. Indonesia menjadi penting sebagai bagian penting dari cerita global, karena keterlibatan pejuang Indonesia dalam perang Afghanistan sejak tahun 1980-an khususnya di tahun 1984 cukup signifikan. Dari catatan Blog I-I ada ribuan pejuang asal Indonesia. Meski banyak pejuang Indonesia yang tidak benar-benar terjun dalam peperangan mengusir Rusia, namun mereka sudah mempelajari banyak hal dari pelatihan perang dan pengenalan senjata yang sangat baik.

Kelemahan utama para pejuang asal Indonesia yang terus mengalir dalam sejumlah konflik di Timur Tengah adalah pemahaman politik global dan permainan intelijen internasional yang merancang perencanaan dalam skala global dengan tujuan yang tidak dipahami oleh kebanyakan Mujahid.

Lalu mengapa baru sekarang Blog I-I menuliskannya, hal ini terkait dengan babak lanjutan perang melawan teror yang sedang mengalami metamorfosa. Blog I-I sudah berusaha memberikan peringatan beberapa kali kepada para Mujahid dan mantan Mujahid untuk melakukan introspeksi serta pembukaan wawasan yang lebih luas. Namun ternyata inflitrasi ke dalam organisasi para Mujahid sudah sedemikian dalam yang kemudian melahirkan semacam deklarasi jihad yang dirangkai sedemikian rupa mencakup kawasan di Asia Tenggara. Tidaklah mengherankan bila justru para ahli politik internasional asal AS (Think Tank di AS) yang kemudian mengklaim diri sebagai ahli atau pengamat terorisme mampu melakukan pemetaan gerakan terorisme Asia Tenggara (sebagai front kedua). Sementara benarkah Indonesia menerima begitu saja dan mencaplok opotuniti memperoleh uang, asistansi dan teknologi.

Jihad di Asia Tenggara terinspirasi oleh kondisi labil beberapa negara pasca krisis ekonomi. Tadinya ada high expectation bahwa Indonesia akan benar-benar hancur dengan skenario Bosnia melalui perang antar etnis dan agama yang pernah dihembuskan puluhan kali di berbagai wilayah dengan potensi konflik yang tinggi. Permainan bisa berlangsung berkat operator yang telah masuk ke dalam unit-unit yang diperlukan untuk provokasi. Tubuh TNI sudah cukup kronis dengan infiltrasi, tubuh Polisi juga, dan yang menyedihkan demikian juga dalam intelijen. Apa yang pernah dibahas dalam tulisan Cambridge Circus adalah sungguh-sungguh serius.

Babak Pertengahan
Setelah stelan gerakan terorisme Indonesia melalui labelling Jemaah Islamiyah semakin mantap dan terus bergulir pasca Bom Bali I. Mulailah CIA menanam budi dengan berbagai informasi "penting" serta "kerjasama" yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh kalangan aparat keamanan Indonesia.

Australia bahkan termakan atau membiarkan diri ikut meramaikan karena memang sangat medambakan masuk dalam wilayah operasi Indonesia dengan alasan ikut serta dalam permainan global AS. Asutralia dengan sukarela menggelontorkan dana dan proyek kerjasama dengan hampir seluruh instansi keamanan di Indonesia.

Mulailah satu per satu cerita prestasi penangkapan dan pembunuhan teroris dilakukan oleh aparat keamanan. Baik Polisi maupun intelijen melakukan operasi-operasi yang menjanjikan prestasi dan kenaikan pangkat elit pimpinan yang signifikan. Sementara pelaksana operasi baik intelijen maupun anggota Densus 88 (prajurit wong cilik) harus menanggung resiko tinggi dengan imbalan ala kadarnya. Tahukah anda bahwa kesejahteraan anggota Densus 88 tidak sehebat yang difitnahkan banyak pihak dengan mega proyeknya. Yang semakin kaya tentu saja berada di pucuk pimpinan.

Sebuah cerita lama sejak masa Orde Baru dimana kekayaan para Jenderal TNI maupun Polisi begitu luar biasa, kembali berulang. Apabila dulu loncatan prestasi memanfaatkan konflik di Aceh, Timor Timur dan Papua, maka sekarang terorisme adalah makanan yang sangat empuk. Karena tinggal mencokok dan memilih waktu yang enak untuk memperlihatkan prestasinya.

Itulah sebabnya di Indonesia hampir sama kondisinya dengan kebanyakan Failed State, terlalu banyak Jenderal Kancil, yaitu Jenderal culas yang mencari kekayaan dari eksploitasi kemiskinan rakyat Indonesia.

Babak Akhir
Saat ini ketidakpastian masa depan Indonesia semakin mengerikan karena tidak ada satupun elemen bangsa yang kuat yang mampu mengawal langkah Indonesia Raya menjadi negara berdaulat yang tidak bisa dilecehkan.

Sebagai contoh; soal DCA RI-Singapura, Blog I-I menarik semua pandangan positif karena setelah melakukan konfirmasi dengan berbagai pihak terkait terungkap jelas bahwa : betapa baiknya DCA disusun, tidak melibatkan instansi terkait secara terbuka adalah sebuah kekeliruan. Intelijen ternyata kembali diabaikan dalam penyusunan DCA, Departemen Pertahanan hanya diwakili oleh Direktorat Strahan, sementara Angkatan Laut, Angkatan Udara, intelijen TNI, sekarang bisa menolak kesepakatan itu karena tidak tahu menahu. Meskipun Menhan menghimbau kesabaran, namun Menhan juga sudah tahu bagaimana proses penyusunan DCA tersebut.

Reformasi Militer mandeg, bila dipaksakan malahan akan berbalik. Reformasi sistem keamanan nasional menjadi sia-sia tanpa reformasi militer. Sementara permintaan militer untuk mengurangi Superioritas Polri ditolak mentah-mentah dengan menenggelamkan konsep Polri di bawah Departemen. Sebuah Bom Waktu.

Pada saat yang bersamaan, semua aparat keamananan mengalihkan konflik internal antar instansi tersebut dalam proyek perang melawan teror. Lucunya lagi tuan dari perang melawan teror itu adalah pimpinan di negara Asing. Saat AD tertangkap maka AD di negeri Kanguru dengan lantang mengkonfirmasi dengan dasar informasi dari pejabat Polisi setingkat Menteri, sangat keterlaluan bukan!!! Bagaimana nanti kalau sudah menjadi Presiden menggantikan [deleted].

Blog I-I sangat marah hari ini, karena begitu banyak kerusakan dalam sistem keamanan nasional. Namun Blog I-I juga mendengar kabar baik bahwa musuh-musuh Blog I-I berpangkat Jenderal akan segera tersingkir dari permainan dalam waktu dekat.

Kebenaran adalah tetap kebenaran, walaupun di dunia ini hanya ada kebernaran relatif, namun jagalah hati dan pikiran intelejen kita untuk kemakmuran dan keamanan rakyat Indonesia.

Salam Indonesia Raya

Senopati Wirang





Comments:
BADAN INTELEJEN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

RILIS TERBATAS
01/BIN/HUMAS/10-2002

............
1. JENIS BAHAN PELEDAK

Berdasarkan informasi forensik dan saksi, disinyalir bahan peledak yang digunakan adalah sejenis SEMTEX yaitu gabungan material RDX dan PETN bertekanan lebih dari 2000 Atmosphere yang menimbulkan hentakan dan panas sampai dengan 1800 derajat celcius dalam radius 200m2. Bahan peledak ini biasa digunakan dalam operasi militer terbatas yang disebut demolisi untuk penghancuran jembatan atau gedung atau kepentingan usaha khusus seperti digunakan secara sangat terbatas untuk pertambangan terbuka. Peledakan dilakukan dengan memakai alat detonator khusus yang kemungkinan berjenis ADC buatan Korea yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kasus akibat adanya pengiriman beberapa kontainer detonator dan bahan peledak tanpa izin tujuan Republik Demokratik Timor Leste yang ditangani KP3 Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kaitan ini sedang dalam penelitian.Pemicuan ledakan kemungkinan besar dilakukan melalui alat remote control atau Timer. Mengingat kejadian di Bali berlangsung sekitar pukul 22.30 WITA yang memungkinkan pelaku segera keluar dari Bali dengan pesawat terakhir pukul 23.00 WITA.
Pemilik Bahan peledak sejenis untuk keperluan militer di Indonesia hanya Korps Zeni Tempur TNI AD, sedangkan untuk keperluan pertambangan perlu penyelidikan lebih mendalam.

Khusus untuk peledakan di Konsulat Jenderal Republik Philipina di Manado disinyalir hanya untuk pemenuhan anggapan bahwa antara Bom Bali dan Bom Manado saling berkaitan. Bom yang meledak di Manado berdaya ledak rendah (low explosive) dan kemungkinan bahan yang dipakai berjenis C4.

2. INDIKASI PELAKU

Melihat akibat yang ditimbulkan, kerusakan dan jumlah korban yang sedemikian besar dengan mayoritas korban adalah Warga
Negara Asing khususnya Australia, Inggris, Jerman dan 3 orang Amerika (luka ringan), dapat dipastikan maksud utama pelaku adalah :

Pertama menghancurkan Citra Bangsa Indonesia secara total dan sistematis, Kedua memojokkan agama Islam yang mayoritas dianut oleh Bangsa Indonesia, Ketiga adalah upaya memecahbelah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia, Keempat adalah bentuk pembuktian menyangkut keberadaan jaringan terorisme Internasional. Dari keempat tujuan tersebut, identifikasi pelaku dapat dibagi dalam 6 Kategori Utama.

A. Kelompok Separatis
...
B. Kelompok Anti Pemerintahan
...
C. Kelompok Anti Australia
...
D. Kelompok Fundamentalis
...

E. Kelompok Teroris Internasional
Kelompok (jaringan) Terorisme Internasional yang dituduhkan dengan cara menghancurkan Citra Indonesia di dunia antara lain Kelompok Abu Sayaf dari Filipina, Kelompok Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden dan Kelompok Pembusukan Citra Islam Internasional (International Islamic Disgrace Movement).

International Islamic Disgrace Movement (Gerakan Pembusukan Citra Islam Internasional) yang bertujuan mengekalkan dominasi barat atau yahudi di dunia. Kebangkitan Kelompok ini mulai dirasakan di Indonesia setelah peristiwa 11 September 2001 melalui cap Islam Fundamentalis dan terorisme Internasional. Gerakan kelompok ini selalu memanfaatkan kelompok Fundamentalis Primitif dan dikelola secara terjadwal dan terorganisasi secara rapi. Indikasi keterlibatan Kelompok ini adalah pemilihan waktu peledakan tepat 1 tahun 1 bulan 1 hari setelah peristiwa 11 September 2001 di New York Amerika Serikat, dan bertepatan dengan program acara Balines Surver di Jaringan Televisi Internasional Discovery Channel. Sebagai informasi tambahan, Sari Club adalah Klub khusus Orang Asing yang tidak memperbolehkan WNI masuk kecuali pegawai Klub saja.

F. Kelompok Oportunistik
...

Demikian hasil Analisa Intelejen ini dibuat untuk dirilis secara terbatas kepada Pihak Keamanan, Pemerintahan Pusat dan di daerah, Organisasi Masyarakat dan Umum tertentu.Dikeluarkan di Jakarta

Tanggal 15 Oktober 2002
Kepala


Disiapkan Oleh : Kepala Biro HUMAS
Doc/Arsip : 01/Humas/RT/BIN-Okt2002
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters