Kejutan dari rekan Blog I-I di Australia » INTELIJEN INDONESIA

Friday, July 13, 2007

Kejutan dari rekan Blog I-I di Australia

Sebelumnya terima kasih kepada rekan-rekan Blog I-I yang menyampaikan perilaku politik-keamanan Australia baik yang merupakan link sumber terbuka maupun yang berasal dari pusat analisa negeri Kangguru tersebut. Anggap saja ini sebuah kejutan bagi Blog I-I

Sulit mempercayai bahwa setelah Blog I-I meluncurkan artikel tentang skenario terbaru terorisme Indonesia, ternyata hal itu menjadi bagian dari jaring informasi intelijen internasional yang sedang conditioning ancaman teror berikutnya. Mohon maaf dan harus saya akui Blog I-I sudah terjebak.

Namun untuk meluruskan cerita teror itu, sangat perlu saya sampaikan beberapa poin, sbb:


1. Informasi skenario baru itu berasal dari rekan Blog I-I di [deleted] yang menjamin adanya kesesuaian dengan analisa Langley. Terbukti dengan keluarnya laporan intelijen AS tentang telah pulihnya Al Qaeda untuk melakukan lagi aksi teror internasional yang detailnya masih dirahasiakan. Namun demikian, dengan melepas artikel yang bersesuaian dengan Langley, Blog I-I telah ikut serta dalam conditioning keberadaan kelompok teror yang seolah-olah tidak akan pernah hilang dari bumi Indonesia. Maksud Blog I-I adalah sebaliknya, yaitu agar saudara-saudara yang terlibat dalam gerakan radikal teror mampu membaca secara lebih jelas dalam skala global, dan sadar bahwa tindakan kekerasan teror hanya semakin merugikan agama Islam, bangsa Indonesia, dan negara Indonesia. Ingat masa-masa setelah 2010 adalah saat-saat genting untuk memastikan recovery Indonesia di segala bidang, dan banyak pihak asing yang menghendaki Indonesia jalan di tempat, salah-satunya melalui terorisme. Sadarlah saudaraku, hentikan segera segala rencana yang mengandung unsur teror kepada sesama bangsa Indonesia.

2. Tidak benar bahwa travel warning pemerintah Australia semata-mata berdasarkan pada informasi Blog I-I. Seorang rekan Blog I-I memperingatkan bahwa informasi Blog I-I juga menjadi acuan intelijen asing (khususnya yang memiliki operasi besar di Indonesia). Kalaupun Blog I-I dijadikan dasar analisa oleh intelijen asing, maka itu di luar kendali Blog I-I, karena sifat Blog ini untuk publik. Karena sikap pemerintah Australia itu merugikan citra Indonesia, maka Blog I-I sangat menyesalkan kebijakan pemerintah Australia tersebut.

3. Skenario yang pernah Blog I-I sampaikan itu saat ini semakin mengkristal dalam kumpulan data gerakan Jamaah Islamiyah dalam data-data POLRI yang telah mengungkapkan kepada publik tentang keberadaan beberapa tokoh lain setingkat Abu Dujana. Perlu Blog I-I luruskan disini bahwa tokoh sentral JI di Indonesia masih misterius dan jelas bukan kelompok paruh baya yang belum matang, melainkan sangat senior dan sangat berhati-hati. Selain itu, Blog I-I terus berupaya untuk mengurangi setiap potensi adanya teror di dalam negeri, bila kelompok teroris tidak mau menanggalkan radikalisme dan politik teror, bukankah lebih baik bila teror itu diekspor saja. Kita bangsa Indonesia sangat membenci pembuat onar yang melakukan keonaran di kampung sendiri, bukankah begitu? Ekspor kemana? tentu saja ke negara-negara yang memusuhi Islam dan Indonesia. Sayangnya ide itu sangatlah mustahil, bukan karena kecanggihan sistem keamanan, melainkan karena memang para teroris itu "peliharaan" yang tidak merasa dipelihara. Dibohongi dengan ide-ide negara Islam Indonesia yang sebenarnya ditujukan untuk mencegah Indonesia Raya yang kuat dengan sistem politik demokrasi, sistem ekonomi campuran, otonomi daerah, anti korupsi, masyarakat madani dan good governance. Meskipun ide-ide itu tampak seperti konsep Barat, namun hakikatnya universal dan mampu mengangkat Indonesia yang plural dari persoalan-persoalan bangsa. Dengan membenturkan konsep negara teokrasi Islam dan demokrasi Indonesia, maka Indonesia akan gagal memenuhi ramalan kejayaan Indonesia Raya pada tahun 2025, silahkan baca berbagai literatur asli Indonesia yang bersifat futurologi.

4. Kondisi praktis perpolitikan nasional Indonesia masih dalam keadaan wajar dan normal dimana terjadi proses perebutan kekuasaan melalui koridor demokrasi. Ekses dalam bentuk money politics dan konflik komunal seharusnya bisa secara bertahap dikurangi dengan penguatan sektor hukum, terutama melalui penegakkan hukum yang adil dan konsekuen. Pembentukan koalisi, adanya politisi bajing loncat, jatuh-naiknya pamor serta citra pemimpin adalah sebuah panggung politik yang akan enak ditonton apabila para pemainnya disiplin dalam mengikuti aturan main, hal ini tentu akan sia-sia bila wasitnya tidak profesional. Itulah sebabnya civil society tidak terhindarkan harus terus diperkuat sebagai komponen bangsa yang cerdas dan mampu menjadi agen perubahan.

5. Mengenai masalah jadi agennya negara adidaya, antek Barat, antek Arab, antek Iran, antek Rusia, antek Australia, antek China, semua itu masih dalam jangkauan pengawasan intelijen, dimana apabila terjadi ketidakseimbangan diantara para pemain itu, tugas intelijen adalah menyampaikan analisa yang komprehensif untuk menjadi dasr keputusan tindakan yang perlu diambil. Blog I-I pernah menyerukan ganyang intel asing, hakikatnya tidaklah berarti kita lakukan pembunuhan, melainkan jadilah orang Indonesia yang cerdas dan cinta tanah air. Kerjasama, kompetisi, konflik, semua berputar dalam permainan politik, ekonomi dan intelijen, maka jadilah bangsa Indonesia yang cerdas. Janganlah malahan menjadi komoditi politik dalam negeri untuk mainan menuju kekuasaan, hal ini akan sangat buruk karena intel asing akan mendapatkan ruang untuk bermain-main dengan leluasa.

6. Kekuatan negara Indonesia Raya terletak pada kekompakan rakyat Indonesia yang harus secara terus-menerus diberikan penjelasan tentang kondisi nyata yang dihadapi baik di dalam maupun di luar negeri. Janganlah rakyat Indonesia berdiam diri dan berpangku tangan menyerahkan nasib di tangan sedikit elit politik (eksekutif, legislatif, yudikatif, civil society, dan media massa). Hal ini juga menjadi perhatian blog I-I untuk menyebarluaskan optimisme Indonesia Raya dalam keyakinan bahwa rakyat Indonesia mampu bersatu padu dalam derap langkah mewujudkan mimpi bersama.

---------------------------

lhaa....jadi ngawur ngomong macam-macam, padahal awalnya cuma ingin sharing cerita dari rekan di Australia.
---------------------------

sekian
Senopati Wirang

Comments:
kan dah dibilang sebelumnya, kalau mereka pakai kartu hijau seperti yang sudah ada sekarang, kenapa tidak kita ternakin aja kartu hijau disini...

biarkan anjing kurus berlaga dan perluas gerakan moral:D

this's our card ;)
 
good posting...
http://www.indonesian-potency.blogspot.com/
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters