Buku Bahagiakan Istri dengan Satu Istri » INTELIJEN INDONESIA

Friday, August 10, 2007

Buku Bahagiakan Istri dengan Satu Istri

Saya diminta pendapat soal masalah buku yang ditulis oleh Pak Cahyadi Takariawan, seorang anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membahas seputar kisah poligami. Hal ini sebenarnya bukan dalam ruang lingkup intelijen Indonesia, namun karena berkembang isu kurang sedap yang mengkait-kaitkan buku tersebut dengan intelijen, perlu saya sampaikan pendapat pribadi saya tentang hal tersebut.

Pendapat dan analisa awal saya adalah bahwa Pak Cahyadi hanya mengungkapkan keprihatinan dan tidak ada motivasi pemecahbelahan atau adu domba dalam PKS. Sebuah kritik pedas yang harus disikapi secara arif bahwa dalam setiap jalan yang ditempuh oleh manusia akan ada sisi-sisi yang kurang diperhatikan dan ada sisi-sisi yang terlalu dibesar-besarkan.

Saya tidak akan menggunakan istilah positif-negatif ataupun benar dan salah dalam soal poligami karena hal ini memiliki landasan hukum syar'i yang cukup jelas dan merupakan pilihan dalam jalan hidup. Arti pilihan di dalam versi saya adalah bahwa kata perintah dalam ayat tentang poligami tersebut memiliki syarat kesanggupan. Lagi pula tidak ada paksaan dalam agama.

Apa-apa yang Pak Cah ungkapkan adalah sebuah penelitian sosial tentang dinamika kehidupan berpoligami. Hal ini seharusnya justru menjadi sebuah introspeksi dan bukan malahan melahirkan pro dan kontra. Dengan kata lain tidak dilihat melalui kacamata nafsu/emosi, melainkan dipahami melalui kacamata pemahaman logika dan ketenangan jiwa yang jujur.

Menurut saya mereka yang beropini bahwa Pak Cah adalah seorang intel terlalu emosional dan melupakan pentingnya esensi memperbaiki perilaku dalam berpoligami secara khusus, dan dalam membina keluarga sakinah secara umum.

Terakhir, Senopati Wirang hanya akan bertanya dari hati ke hati kepada siapapun yang menempuh jalan monogami maupun poligami, apa niat jujur dalam hati nurani anda ketika menempuh jalan pernikahan baik dengan satu wanita maupun dengan lebih dari satu wanita. Kemudian juga kepada kaum wanita, bagaimana hati nurani anda bicara ketika mengalami salah satu dari jalan pernikahan tersebut. Cukup kompleks bukan, hal yang mencakup ibadah, cinta kasih dan cemburu, tanggung jawab keluarga, gairah seks, dan berbagai aspek dalam hubungan pria-wanita. Bila manusia sejati telah mencapai transparansi kejujuran jiwa dan pengendalian dalam kategori jiwa yang tenang, Insya Allah tidak akan terombang-ambing oleh polemik. Melainkan akan dengan mantap menempuh jalan pilihannya, tentu saja senantiasa dalam bimbingan keimanan yang meluruskan setiap niatan untuk menempuh jalan pernikahan baik monogami maupun poligami.

Berikut ini informasi terbuka yang dikirimkan oleh [deleted]....


Kamis, 02 Agt 2007,
Bersyukur setelah Baca Suami Batal Kawin Lagi



Ketika Buku Antipoligami Membikin Kader PKS "Terbelah"

Seorang anggota Majelis Syura Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) yang disegani menulis buku Bahagiakan
Diri dengan Satu Istri. Karya itu langsung disambut
gembira jutaan kader wanita PKS. Namun, sebaliknya,
para kader pria yang sudah atau akan berpoligami
mereaksi dengan keras.

RIDLWAN HABIB, Jakarta

RUANGAN Kantor Hilal al Ahmar di kawasan Duren Tiga,
Jakarta Selatan, siang itu terasa gerah. Bukan karena
cuaca Jakarta terik. Juga bukan disebabkan pendingin
ruangan tidak berfungsi. Tapi, karena buku yang
ditulis Cahyadi Takariawan itu memicu kontroversi yang
panas.

"Buku ini memang harus segera ditarik. Hati saya
membara membacanya," ujar Wakil Bendahara Umum DPP PKS
Didin Amarudin kepada Jawa Pos. Saat itu lelaki
beristri tiga itu datang pada acara dengan ditemani
empat orang pengurus DPP yang lain.

Menurut Didin, sejak buku itu terbit, istri-istrinya
menjadi gelisah. "Bahkan, istri kedua saya menghubungi
temannya yang juga dipoligami dan bikin bedah buku
khusus untuk ini," katanya.

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu mengakui buku
Cahyadi Takariawan itu mengubah paradigma umum di
kalangan wanita PKS yang selama ini mendukung
poligami. "Kalau yang menulis orang luar atau orang
yang sekuler, saya tidak heran. Tapi, ini yang menulis
adalah ustad yang kredibilitasnya sangat diakui di
Majelis Syura PKS," kata Didin.

Majelis syura adalah elemen tertinggi di partai yang
berdiri sejak 1998 (awalnya bernama Partai Keadilan).
Anggota majelis hanya 99 orang yang dipilih dari
jutaan kader PKS di seluruh Indonesia.

Didin mengatakan, para qiyadah (pimpinan) partai
gelisah karena buku itu dijadikan simbol perlawanan
terhadap suami yang akan menikah lagi. "Rumah saya
satu kompleks dengan Pak Tifatul (Tifatul Sembiring,
presiden PKS, Red). Beliau juga khawatir, tapi selama
ini memang memilih diam," ujar bapak tujuh putra itu.
Tifatul Sembiring juga beristri dua. Sekretaris
Jenderal PKS Anis Matta juga berpoligami. Bahkan,
istri kedua Anis berkebangsaan asing.

"Buku Pak Cah (Cahyadi Takariawan) itu hanya
menonjolkan sisi-sisi negatif dari poligami,
seakan-akan ribet banget, padahal tidak benar,"
katanya.

Didin lalu melanjutkan kisah "sukses" poligami
dirinya. Istri pertama Didin dinikahi pada 1990. Lalu,
istri kedua pada 2001. Terakhir, Didin menikahi akhwat
(kader PKS) menjadi istri ketiga pada 2002. "Memang,
biasanya dari istri pertama ke yang kedua itu lama
pendekatannya, Mas. Baru yang ketiga lancar,"
tuturnya.

Manajemen keluarganya, kata Didin, malah terbantu
ketika dirinya berpoligami. "Kalau kita berhitung
secara matematis, anak tujuh dirawat dan dididik tiga
istri kan lebih baik," ujarnya.

Dia khawatir buku Cahyadi akan menimbulkan pro-kontra
di kalangan rumah tangga muslim masing-masing kader.
"Ada jutaan akhwat di Indonesia. Beberapa di antara
mereka janda. Lantas, apakah mereka kita biarkan,"
katanya dengan nada bertanya.

Taufik Bahtiar, direktur Hilal al Ahmar, menambahkan
bahwa ada beberapa logika yang tidak tepat dan
dicantumkan dalam buku ber-cover merah jambu itu.
"Misalnya, tentang cinta lelaki yang tidak bisa
dibagi, itu salah. Contohnya, saya. Kalau dengan istri
pertama 100 persen, dengan istri kedua juga 100
persen," ujarnya, lalu tersenyum.

Taufik juga berpoligami. Istri pertama meminta cerai
ketika Taufik hendak menikah kali ketiga. Sekarang
janda Taufik itu diperistri sahabatnya yang juga
anggota Majelis Syura PKS sebagai istri kedua.

Buku terbitan Era Intermedia, Solo, tersebut telah
dicetak hingga 10.000 eksemplar. Buku setebal 278
halaman itu mengupas sisi-sisi lain dari keluarga yang
berpoligami.

Si penulis Cahyadi Takariawan kepada Jawa Pos
mengatakan bahwa dirinya kaget melihat reaksi
"jamaahnya" terhadap buku itu. "Padahal, di halaman
awal buku itu saya sudah jelaskan tidak berbicara
tentang hukum poligami, tapi bicara tentang mereka
yang gagal berpoligami karena persiapannya kurang,"
katanya.

Alumnus Fakultas Farmasi UGM itu mengibaratkan
poligami dengan salat. "Siapa yang membantah kalau
salat itu wajib. Tapi, pada praktiknya, banyak yang
salat, tapi tetap korupsi. Banyak yang salat, tapi
menipu, mencuri, dan kejahatan yang lain. Apakah yang
salah salatnya?" katanya.

Demikian juga, poligami. Melalui bukunya, suami Ida
Nur Laila itu ingin "meluruskan" para pelaku poligami.
"Bukan untuk mengampanyekan antipoligami," kata suami
yang bertahan dengan satu istri itu.

Cahyadi mengaku mendapat banyak sekali keluhan dari
ummahat (ibu-ibu istri ikhwan alias kader PKS) yang
mengalami masalah gara-gara suaminya menikah lagi.
"Kebetulan, saya juga konsultan keluarga. Selain
datang langsung, mereka juga menelepon dan mengirim
SMS," kata ketua Wilayah Dakwah (Wilda) III DPP PKS
itu. Sebagai ketua Wilda, Cahyadi bertanggung jawab
pada ekspansi PKS di Sulawesi dan Papua.

Karena keluhan-keluhan itu datang bertubi-tubi,
Cahyadi berusaha meramunya dalam tulisan. Misalnya,
keluhan tentang kebohongan-kebohongan suami yang
menikah lagi. Juga masalah finansial yang membuat
pernikahan menjadi tidak harmonis.

"Yang menyedihkan, ada suami yang buru-buru poligami
hanya karena dikompori komunitasnya yang semuanya
sudah menikah lagi. Padahal, dia belum siap. Akhirnya,
yang terbengkalai adalah keluarganya," bebernya.
Padahal, seharusnya poligami justru membawa
keberkahan.

Sebelum menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu
Istri, Cahyadi telah menulis 20 judul buku yang lain.
Mayoritas tentang tema pernikahan. "Saya tidak
bermaksud melukai hati para lelaki yang berpoligami.
Karena itu, saya malah minta Bu Sri Rahayu Tifatul
Sembiring sebagai istri pertama menulis kata
sambutan," katanya.

Dalam bedah buku yang dilakukan hampir tiap minggu,
Cahyadi juga menolak dipanelkan dengan aktivis
antipoligami. "Saya yakin masalah ini akan
hipersensitif karena kebanyakan yang membaca dipenuhi
dengan emosi pribadi. Jadi, tidak jernih lagi,"
ujarnya.

Seorang pembaca bahkan komplain langsung ke penerbit.
Pembaca itu merasa rahasia rumah tangganya ditulis
Cahyadi. "Buku ini harus segera ditarik dari
peredaran," kata Cahyadi menirukan ikhwan yang emosi
itu. Padahal, dirinya belum pernah kenal. "Jadi, dia
sendiri yang merasa bahwa apa yang saya tulis dalam
buku itu cocok," jelas pria yang juga berprofesi
sebagai apoteker itu.

Getah pahit, kata Cahyadi, juga nyasar ke
teman-temannya yang ikut mempromosikan buku.
"Misalnya, Mbak Neno Warisman. Gara-gara Mbak Neno
aktif mengirimkan SMS soal buku ini, beliau
dikomplain, terutama oleh kader-kader wanita yang
sudah mempunyai madu," ungkapnya. Neno Warisman adalah
salah seorang aktris sekaligus penyanyi yang sekarang
aktif di PKS.

Apakah akan membuat buku baru lagi sebagai jawaban
atas komplain? Cahyadi mengaku akan melakukan beberapa
revisi. "Saya menghargai nasihat para asatidz (ulama)
yang meminta redaksionalnya diperbaiki," katanya.

Meski begitu, lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa
Tengah, 11 Desember 1965, itu tetap menganggap bukunya
tidak kontroversial. "Kalau saya menulis Sengsarakan
Istri dengan Satu Istri, itu baru masalah. Kalau
bahagia, kan semua ingin begitu," tegasnya.

Namun, keyakinan Cahyadi tetap berbenturan dengan
realita di lapangan. Di Jawa Timur, misalnya, Ketua
Dewan Syariah DPW PKS Jatim Ustad Mudhofar mengaku
mendapat keluhan terkait buku itu. "Ada seorang akhwat
yang skripsinya mendukung poligami, bertahun-tahun
kader wanita ini bicara dalam diskusi-diskusi agar
poligami didukung, tapi begitu membaca Pak Cah,
langsung berbalik 180 derajat," paparnya kepada Jawa
Pos.

Kuatnya buku itu, kata Mudhofar, karena track record
penulisnya. "Pak Cahyadi selama ini dikenal sebagai
ulama yang ahli dalam keluarga. Wajar kalau ada yang
jadi ragu karena tulisannya," tuturnya.

Mudhofar menganggap dalil-dalil yang dipakai Cahyadi
agak dipaksakan. "Misalnya, soal perbandingan umur
Rasulullah saat sebelum poligami dan setelah poligami.
Tidak ada ulama yang menggunakan patokan itu,"
jelasnya. Cahyadi menulis, Muhammad SAW menikah lagi
setelah bermonogami selama 25 tahun bersama Khadijah.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi’ Munawar
menambahkan, dirinya membatalkan meneruskan membaca
buku itu sampai tuntas. "Saya juga dapat hadiah dari
beliau (penulis buku) saat rapat majelis syura. Tapi,
begitu saya baca, tidak saya lanjutkan karena kok ada
yang nggak sreg," akunya.

Berbeda dengan kader-kader lelaki PKS, beberapa orang
kader wanita yang dihubungi Jawa Pos justru sangat
bersyukur atas terbitnya tulisan Cahyadi itu. "Suami
saya menjadi ragu-ragu. Sebenarnya saya sudah akan
mengizinkan, tapi setelah membaca, saya diskusi lagi,
dan alhamdulillah batal (menikah lagi)," kata seorang
kader yang meminta identitasnya disamarkan.

Alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu
melanjutkan, di kalangan internal kader wanita, buku
itu seakan menjadi buku wajib. "Dalam setiap pertemuan
mingguan, ada diskusi untuk membahas buku itu bab demi
bab," katanya. Kader PKS biasanya mengadakan taklim
rutin sehari dalam setiap pekan. Tempatnya bergantian
di rumah masing-masing kader atau tempat lain yang
disepakati.

Seorang akhwat lain menambahkan, dirinya menjadi lebih
siap untuk menikah setelah membaca buku Cahyadi.
"Tidak ada lagi rasa khawatir calon suami saya akan
poligami. Nanti kalau dia memaksa, akan saya
pertemukan langsung dengan Pak Cah," ujarnya. (*)




Comments:
Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya, Situs Komunitas Penulis Indonesia,

Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger...

fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album...ada chatnya juga loh :)
Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an :) rame buanget loohh aktifitasnya!!

Semoga bermanfaat :)

Cepetan gabung ya :)
di sini alamatnya :

Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda -
PenulisIndonesia.com
 
http://adianhusaini.wordpress.com/2008/02/07/mangkunegara-iv-calon-penerima-pks-award-2008/
dukung Mangkunegara IV jadi penerima PKS & Poligami Award
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters