Benazir Bhutto » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, December 30, 2007

Benazir Bhutto

Menulis tentang kematian tragis salah pemimpin politik negara lain tentu harus diawali oleh rasa duka dan simpati serta turut mengecam kejahatan pembunuhan terhadap pelakunya. Blog I-I turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga besar Bhutto dan rakyat Pakistan.

Setelah itu lalu bagaimana? karena wilayah perhatian Blog I-I adalah Indonesia Raya, maka hal yang perlu diperhatikan Indonesia adalah bahwa pelajaran besar dari Pakistan dengan krisis keamanan dan politiknya jangan sampai terjadi di Indonesia.


Alhamdulillah Puji Tuhan karena Indonesia tidak memiliki sejarah dan tradisi saling membunuh dalam tingkat pimpinan negara. Kita mungkin masih ingat kutukan Mpu Gandring terhadap keturunan Ken Arok yang kemudian saling bunuh dengan keturunan Tunggul Ametung.

Dalam sejarah Indonesia modern, rencana pembunuhan hanya pernah terjadi terhadap Presiden RI pertama Bung Karno. Kisah di seputar rencana pembunuhan tersebut sarat degan desas-desus peranan intelijen khususnya segitiga Suharto-Yoga-Zulkifli yang mana ketiganya adalah pentolan intelijen militer yang disegani. Selebihnya kisah-kisah pembunuhan di negeri ini lebih memilih target di level yang lebih rendah dari pimpinan negara. Saya kira tidak perlu diperinci karena sebagian besar kasus memang gelap gulita bagi publik.

Pelajaran dari Pakistan setidaknya ada 3 yaitu; pertama dalam menghadapi terorisme diperlukan langkah-langkah komprehensif yang bertujuan bukan saja menghancurkan sendi utama ke sasaran, melainkan juga menghentikan proses rekrutmen serta meminimalkan simpati publik pada perilaku terorisme. Kedua, pengawasan terhadap intelijen militer maupun sipil harus berlandaskan pada hukum positif yang akan memberikan ruang gerak sekaligus kendali. Tanpa adanya landasan hukum yang jelas bagi intelijen militer dan sipil, maka yang ada hanya gerak kebijakan taktis yang akan membuka peluang terjadinya "apapun" tanpa bisa disentuh oleh hukum. Ketiga, bahwa kampanye anti kekerasan, anti terorisme serta kewaspadaan publik tidak boleh berhenti meskipun isu terorisme sudah menurun.

Sekian
SW


Comments:
Peranan aktif para senopati dalam mendukung kampanye bagi upaya penyusunan RUU KAMNAS periode legislasi 2008 sangat dibutuhkan oleh para fungsionaris Dephan. Jangan lagi terulang pengeluaran UU terkait fungsi pertahanan negara (hanneg), keamanan dalam negeri (kamdagri) serta keamanan dan ketertiban masyarakat (kambtibmas) berjalan sendiri2 tanpa sinergi antara yang satu dengan yang lain. Bicara Intelijen tanpa payung KAMNAS, sebagai salah satu Mekanisme sishankam yang komprehensif integral menjadi mubazir dan sering membuat langkah perbaikan jadi "jalan di tempat".
Saat ini Dephan yang katanya memiliki anggaran dalam kualifikasi "Major Departments", tampilannya jadi tidak lebih seperti "Departemen pembayar gaji tentara dan kredit alutsista"

Kalau lihat sejarahnya National Security Act (UU Keamanan Nasional) di AS, maka bisa dilihat bahwa UU itulah yang melahirkan penataan2, macam the National Military Establishment (NME)jadi Department of Defence, OSS jadi CIA, serta pendirian National Security Council (NSC) dll

UU Keamanan Nasional memang merupakan salah satu kunci pembangunan sishankam yang komprehensif integral. Nantinya Kamnas menggantikan posisi "gatra hankam" dalam Ketahanan Nasional (Tannas)yang selama ini sebagai indikator daya tahan bangsa ini terhadap berbagai ATHG
Jadi bukan Kamnas menggantikan Tannas.
 
Kenapa harus Benazir yang jadi korban hanya masalah statement bahwa ia akan mendukung perang anti terorisme ? kok bukan yang sedang memerintah sekarang, yang jelas2 sudah memberikan segala fasilitas untuk memerangi Al Qaedah sampai2 Pakistan dijadikan pangkalan serangan ke Afganistan ?
Dan kenapa Al Qaedah terlalu cepat memberikan klaim bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kematian Benazir ?
Biasanya locus (tempat kejadian perkara) yang diklaim perbuatannya oleh AL Qaedah senantiasa akan mengalami berbagai tindakan pembersihan besar-besaran terhadap apa2 yang dianggap sebagai ekstrem kanan.
Bagi Indonesia yang perlu diperhatikan memang dari dulu Asia Selatan memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, tinggal bagaimana konfigurasi selanjutnya untuk masalah terorisme, yang dewasa ini sering diklaim sebagai gerakan ekstrimis Islam.
 
Gelap gulitanya kasus - kasus sejarah bagi Indonesia macam konspirasi pembunuhan Pres. Soekarno, G.30.S dll, memang merupakan salah satu "handicap" besar bagi kemampuan Indonesia menghadapi tantangan perang isu global. Ketidakmampuan kita bersahabat dengan "Sejarah Nasional" dari sisi yang paling pekat, akan memberatkan daya saing kita di sektor "Perang Informasi"

Perbedaan mendasar bagi kasus serupa di AS, yaitu "Pembunuhan President Kennedy 1963" yang juga masuk kategori "misterius" adalah kasus itu tidak melibatkan partisipasi massif publik Amerika untuk saling bantai membantai, bersih membersihkan yang berdarah-darah atas nama Pembunuhan itu.

Tapi di Indonesia setiap kejadian berdarah selalu menggiring kejadian berdarah lainnya dalam kapasitas besar. Maka dengan mengatasnamakan isu tertentu, orang Indonesia sudah bisa dipecah-pecah berdasarkan klaim-klaim kebenaran sejarah sepihak.

Perlu dianalisa kembali bagaimana seharusnya porsi yang tepat dalam menyikapi sejarah bangsa di antara anak bangsa, agar dapat dikurangi salah satu beban kita di era "Perang Informasi"
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters