"Indonesia Pecah" » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, December 30, 2007

"Indonesia Pecah"

Begitulah kira-kira judul buku yang berusaha menarik perhatian publik tentang pentingnya NKRI. Djuyoto Suntani sang penulis memiliki latar belakang yang cukup unik dan mulai naik daun setelah gagasan World Peace Gong atau Gong Perdamaian Dunia pada era pemerintahan Megawati mendapat tempat dan dipromosikan secara spektakuler bukan saja di Indonesia melainkan juga ke mancanegara dan rencana ambisius untuk menggemakan gong perdamaian dunia ke berbagai penjuru bumi patut kita hargai.

Terima kasih atas informasi rekan-rekan Blog I-I yang memberikan data-data lumayan lengkap sehingga bisa tersusun dalam tulisan ini.

Bagaimana Blog I-I melihat perkiraan "Indonesia Pecah"?

Hal yang pertama sekali harus kita cermati dalam melihat sebuah perkiraan adalah pada akurasi data-data, kedalaman analisa serta pemaknaan dan tujuan dibuatnya sebuah perkiraan. Dalam dunia intelijen dimanapun di dunia ini dikenal istilah prediction of the future atau future trends yang dalam bahasa Indonesia lebih akrab dengan istilah perkiraan keadaan di masa mendatang atau dipersingkat menjadi perkiraan keadaan (kirka).

Indonesia Pecah adalah thesis lama menjelang kejatuhan mantan Presiden Suharto yang secara progresif beredar di kalangan akademisi sosial politik khususnya pada waktu itu di Universitas Indonesia serta di kalangan elit oposisi politik dan elit redaktur media massa. Secara faktual, Indonesia berhasil melalui krisis perpecahan meskipun banyak korban jiwa jatuh dimana-mana selama proses perubahan menuju sistem politik yang demokratis. Satu-satunya fenomena pecah ditunjukkan dalam kasus Timor Timur yang secara historis memang telalu banyak kelemahan dari pihak Indonesia yang mudah dieksploitasi oleh pihak yang anti Indonesia. Dalam kasus Aceh, Papua dan propinsi lainnya masih ada ruang yang lebih baik untuk dikelola secara adil dan demokratis sehingga kemungkinan untuk pecah menjadi bisa diminimalkan. Namun keteledoran dan kebodohan dalam manajemen negara bisa saja memperkuat potensi perpecahan yang ada.

Bagi Blog I-I, mengemukakan kembali argumentasi Indonesia Pecah sah-sah saja bila dilandasi oleh kearifan niat untuk mengingatkan segenap warga Indonesia Raya untuk menyadari bahwa tetap berada dalam payung Republik Indonesia adalah pilihan yang logis dan menguntungkan. Hal itu bukan saja dari sisi kesamaan cita-cita membangun Indonesia Raya melainkan juga karena keyakinan adanya jaminan hukum dan politik yang tidak akan lagi memarjinalkan salah satu kelompok hanya karena perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika harus benar-benar mewujud dalam perilaku dan keadaan yang terjamin yaitu dimana perbedaan itu terikat dalam satu cita-cita yang kuat membangun Indonesia Raya. Karena toh itu semua akan menguntungkan segenap warga negara. Perilaku dan kebijakan yang diskriminatif serta berbagai macam ketidakadilan harus segera disingkirkan, apalagi soal kesewenang-wenangan dan korupsi, semua itu seyogyanya tidak lagi memiliki ruang untuk bernafas.

Persoalannya kemudian adalah apakah tepat bila kita memandang secara negatif masa depan Indonesia dengan argumentasi-argumentasi yang menggriring paa lahirnya kekhawatiran publik tentang pecahnya Indonesia. Blog I-I termasuk yang tidak menyarankan bagi segenap warga bangsa Indonesia untuk pesimis dan serba ketakutan dalam melihat masa depannya. Kita bukan lagi sekelompak manusia bodoh yang terus-terusan bisa diancam oleh hasutan-hasutan pemikiran yang justru memperkuat dan memperbesar perbedaan, apalagi bila ada tambahan pendekatan setengah magis tentang suratan Tuhan bahwa sejarah berulang dalam waktu tertentu. Sesungguhnya manusia sanggup untuk menjadi besar hanya dengan cita-cita dan impian yang besar pula, bila masa lalu menjadi hantu seperti dalam sebagian kosmologi tradisional Indonesia khususnya di tanah jawa ini, maka kemajuan tidak akan pernah bisa dicapai.

Lelah...sungguh lelah bila kepala kita dipenuhi oleh angan-angan ketakutan ah..nanti Indonesia pecah jadi sekian jadi sekian. Akan lebih positif apabila kita memiliki angan-angan kemajuan Indonesia Raya yang kuat dan bersatu padu dalam kerangka atau landasan yang disepakati bersama. Kita membangun demokrasi yang kuat, kita membangun sistem hukum yang kuat, kita angan-angankan bahwa para koruptor pasti kena hukuman...yah setidaknya kalau lepas dari hukuman dunia, hati seorang koruptor tidak akan pernah tenang, belum lagi bila kita meyakini adanya neraka sebagai tujuan akhir para penjahat.

Dari sisi kewaspadaan, Blog I-I masih melihat adanya hubungan yang kuat dalam thesis Indonesia Pecah dengan kembalinya sistem yang otoriter militeristik. Meskipun dengan prasangka baik Blog I-I tetap menganggap thesis Indonesia Pecah sebagai peringatan, namun bila dpelintir dalam tujuan tertentu maka, mekanisme kendali yang tersentral tampaknya akan lebih dominan, betapapun ilmiahnya pendekatan dalam mencegah pecahnya Indonesia, maka penguatan sektor keamanan dan pertahanan akan dominan. Mengapa kita tidak berpikir sebaliknya, yaitu dengan meyakini bahwa Indonesia di tingkat rakyat akar rumput sudah terbiasa dengan perbedaaan misalnya dalam kasus pemilihan kepala desa yang sudah berlangsung demikian lama jauh sebelum reformasi dimulai. Perbedaan itu tidak sama sekali mendorong perpecahan karena bersama-sama dalam kekuatan Indonesia Raya jelas lebih menguntungkan.

Mengapa Blog I-I mencurigai thesis Indonesia Pecah? Hal itu didukung oleh adanya informasi bahwa pihak-pihak menggagas ide Indonesia Pecah memiliki hubungan dengan kelompok Cendana. Silahkan rekan-rekan Blog I-I selidiki sendiri. Apakah Indonesia pecah akan menjadi legitimasi kebijakan yang setback, ataukah secara positif disikapi dengan kehati-hatian dalam mengelola negara tentu kembali ke pimpinan nasional kita.

Sekian
SW

saya link salah satu sumber terbuka yang dikirim oleh rekan Blog I-I yaitu dari GATRA

Comments:
Yang Unik dari Indonesia :
Pertama : nama asalnya Indos Nesos ( Daratan dekat India), sampai segitu jauh ke batasan wilayah Pasifik Barat, namanya masih "Daratan Dekat India" Terdiri dari berbagai suku bangsa tapi tidak ada penggunaan nama dari suku bangsa yang dominan, macem Israel misalnya, malah tetep pakai "Daratan Dekat India"

Kedua : Salah satu bait lagu kebangsaan menyatakan "Di sanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku" jadi sampai kemanapun kita melangkah selalu jadi pandu Ibuku bahkan sampai ke Antartika sekalipun, ya tetap jadi "Pandu Ibuku".

Dari dua hal unik di atas, maybe someday kita bisa bilang, " Suku bangsa Jepang berhasil buat pesawat dengan kecepatan cahaya," atau bahkan "Suku bangsa Yahudi bisa buat masjid melayang" dan masih banyak calon suku bangsa yang bisa direkrut dalam kemasan Bhinneka Tunggal Ika,... toh sampai di manapun ya tetap jadi Pandu Ibuku dan bernama Daratan Dekat India.

Imperialis ??? Dari dulu sih sudah sering dibilang gitu, tapi yang jelas terlalu banyak yang sirik dengan Indonesia. Dan upaya untuk memecah belah bangsa sering merupakan perjumpaan kepentingan asing dengan para kolaborator dalam negeri.

Yang disayangkan masih banyak elemen bangsa ini yang gak sadar diri dengan kekuatan sendiri, bahkan ketergantungan ke asing terlalu besar dengan alasan klasik, belum siap-lah, belum mampu-lah malah kadang alasan "mereka lebih baik". Dan yang paling menyakitkan adalah mereka2 yang suka "makan tulang" lewat KORUPSI dan KOLUSI.

Sektor Hanneg jadi terpuruk akibat niat luhur untuk menyusun sistem yang komprehensif integral harus mengalah untuk stabilitas sesaat. Biasanya sih "sementara" akhirnya jadi "selamanya".

Mempertahankan bangsa dan negara tidak selalu harus menunggu musuh dari luar datang...Yah marilah kita bersama-sama berusaha pertahankan minimal "Pekarangan Rumah Kita" dari berbagai serangan "harta tidak halal, jiwa konsumtif, perlakuan tidak adil aparat, perilaku a susila dll, sebagai nukleus dari sedemikian luasnya "Daratan Dekat India" ini
 
indonesia tidak akan pecah jika wrganya ingat pasa garuda dan pancasila..terutama yang paling tegantung adalah belivenya terhadap diri sendiri..lupakan ego, kekuasaan, dan bangunlah pro sosialisme...
ini mungkin kurang untuk sebuah dari arti makna penulisnya..tp hanya sekedar mengingatkan!!! :p
 
SATRIA (PININGIT), PRESIDEN KE-7 ADALAH JOKO LELONO
Oleh: Cakra Ningrat telah Tayang di : http://satriopiningitmuncul.wordpress.com/
“A H I R Z A M A N”

 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters