Masa Depan Intelijen » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, December 25, 2007

Masa Depan Intelijen

Belum lama ini seorang rekan Blog I-I menanyakan tentang masa depan intelijen di Indonesia. Sebuah pertanyaan yang sederhana namun begitu luas dan tidak dapat dijelaskan hanya dari sudut pandang Blog I-I semata. Karena sekali lagi saya perlu nyatakan bahwa coretan tulisan dalam Blog I-I bukanlah sebuah kreasi ilmiah, bukanlah sebuah produk intelijen dan bukan pula sesuatu yang harus diyakini akurasinya. Hanya sebuah ungkapan demi ungkapan yang sarat dengan keterbatasan dan subyektifitas.

Beberapa komentar rekan-rekan yang semakin merangsang daya nalar setiap pembaca Blog I-I sangatlah baik untuk masa depan penciptaan sistem dan mekanisme pertahanan dan ketahanan nasional Indonesia yang salah satunya ditopang oleh intelijen.

Sungguh saya sangat gembira meski beberapa komentar dengan tajamnya menyoroti kelemahan-kelemahan dalam Blog I-I yang sebenarnya menggugah untuk direspon dengan nada pembelaan...tetapi

dari pada membela diri tanpa argumentasi yang memadai, akan lebih positif bila saya akui bahwa ada benarnya apa-apa yang rekan-rekan keluhkan terhadap Blog I-I. Sementara setiap upaya perbaikan sistem di negeri Indonesia Raya ini tampak begitu melelahkan, karena kecenderungan untuk tarik-menarik kepentingan tidak dapat dihindari. Jangankan membahas pengaruh Blog I-I dalam komunitas intelijen di Indonesia, bila kita bandingkan dengan pengaruh kaum reformis di DPR-RI, di Eksekutif dan di Yudikatif, rasanya kita masih harus terus berjuang lebih keras lagi untuk melakukan perbaikan demi perbaikan. Blog I-I hanya bersuara di luar pagar komunitas intelijen sehingga pengaruhnya tidak sebesar para reformis di DPR, Eksekutif maupun Yudikatif.

Reformasi Intelijen tidak dapat dilepaskan dari Reformasi Militer atau Penataan Sistem Pertahanan dan Ketahanan yang harus seimbang dalam budaya kendali Sipil. Dalam makna yang lebih luas bukan mengarah pada dikotomi sipil-militer secara wujud, tetapi lebih dalam soal perwatakan kebijakan dan arah strategi pembangunan sistem pertahanan dan ketahanan. Sinergi seluruh komponen institusi keamanan dan pertahanan serta penegakkan hukum menjadi syarat mutlak bagi terciptanya keamanan bagi bangsa Indonesia.

Dalam kaitan ini, Blog I-I melihat bahwa upaya penciptaan sistem yang menyeluruh tersebut telah digagas oleh Departemen Pertahanan, namun karena karena adanya ego sektoral yang kuat dari salah satu institusi, maka Pimpinan Negeri ini lebih memilih mengambil langkah "aman" dengan menyingkirkan ide-ide reformasi sistem pertahanan dan keamanan negara yang komprehensif. Sebenarnya semua itu hanya menyimpan sebuah BOM waktu yang akan membahayakan serta menjadi kerawanan di masa mendatang.

Blog I-I sangat memahami perasaan Patriot Bangsa Indonesia yang dilecehkan sebagai pelanggar HAM serta menjadi pesakitan dalam berbagai kasus. Blog I-I juga memahami kekesalan kalangan civil society yang melihat bahwa TNI belum juga menuntaskan reformasinya. Sementara konflik Polisi-TNI sepertinya akan terus meletup walaupun dalam skala terbatas.

Diperlukan dasar hukum yang kuat yang mengatur keseluruhan lembaga keamanan dan pertahanan untuk memberikan rasa adil kepada semua pihak.

Reformasi politik telah mempersempit ruang gerak perwira menengah dan tinggi TNI dalam meniti perjalanan karirnya sebagai abdi bangsa, ingat abdi bangsa dan bukan pencari kekayaan dan kekuasaan. Hal itu kemudian sudah bisa diterima dengan adanya aturan main yang sama bagi siapapun yang ingin terjun ke kancah politik. Lagi-lagi kita bisa mengaca pada sejumlah perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik.

Polisi secara khusus telah memiliki perundang-undangan sendiri, TNI pun tidak ketinggalan, tetapi tidak ada sinergi dan tidak ada mekanisme hubungan yang jelas. Lalu bagaimana dengan intelijen yang sama sekali tidak memiliki dasar hukum yang kuat selain kepres tentang kelembagaan intelijen. Lemahnya sinergi hukum jelas membuka peluang yang sangat besar bagi terciptanya kecurigaan dan saling bersaing secara tidak sehat.

Dalam kondisi tersebut, maka pengaruh individual seorang pimpinan intelijen menjadi sangat vital guna mengisi setiap kelemahan yang tercipta dalam ketiadaan aturan hukum.

Membicarakan masa depan intelijen tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan tentang masa depan Indonesia. Betapapun ambisiusnya pimpinan negeri ini, tidak akan pernah terwujud sebuah negara yang besar dan kuat tanpa adanya intelijen yang kuat pula. Hal itu tidak berarti hanya intelijen yang menjadi tulang punggungnya, melainkan hal itu berangkat dari fakta bahwa intelijen memberikan laporan, analisa, penilaian dan saran yang idealnya menjadi salah satu rujukan utama dalam kebijakan nasional.

Dengan adanya sinergi yang kuat antara intelijen dengan militer, polisi, kejaksaan agung dan berbagai institusi hukum dan keamanan lainnya, maka ancaman yang membahayakan Indonesia Raya bisa diantisipasi.

Lalu apakah dengan kuatnya intelijen, hal itu akan menginjak-injak hak warga negara? tentu saja tidak karena harus ada aturan hukum yang menciptakan transparansi intelijen secara terbatas dalam fungsi pengawasan yang diberikan kepada perwakilan rakyat. Dasar hukum intelijen juga secara otomatis akan memberikan batasan yang pasti tentang ruang gerak intelijen. Tanpa adanya aturan hukum, maka intelijen menjadi liar, contoh riilnya adalah senopati-senopati yang bergerak sendiri-sendiri atau bisa juga Blog I-I dijadikan contoh. Apabila ada aturan hukum intelijen dalam kerangka pertahanan dan keamanan yang jelas, Blog I-I mungkin akan kena imbasnya dan sudah tidak diperlukan lagi keberadaannya ditengah-tengah masyarakat.

Waduh maaf bila tulisan ini dan tulisan Blog I-I pada umumnya tidak terstruktur dengan baik. Bila ada manfaatnya silahkan dimanfaatkan, bila tidak lupakan saja.

Salam
SW

Comments:
Om Seno,

TNI lebih baik abdi bangsa atau abdi rakyat??

hhhmmm.....
 
Saya hanya seorang teman, yang hanya ingin mengucapkan salam pada anda, "Senopati".
Dan sebagai teman yang baik walaupun sama sekali tidak akrab, saya hanya berharap anda tetap menjaga untaian kabel anda. Sebab seringkali burung-burung kelaparan yang tidak bisa membedakan antara merah dan putih hinggap di salah satu kabel dan mejadikan lingkungan tak lagi sehat.

Sampai bertemu lagi "senopati", senang melihat anda baik-baik saja.

Ah, hampir lupa! "Terkadang apabila kita mengabaikan hal-hal sentimentil di sekitar kita, apa yang terlihat mungkin saja hanyalah sesuatu yang ingin kita lihat, sesuatu yang diharapkan anda menyakini apa yang ingin diperlihatkan."
Anda pasti mengerti. Lain kali kita bertemu, mungkin kita bisa duduk sambil menikmati secangkir espresso.

Bangsa ini masih menyimpan segelintir senopati-senopati, meski kadang nampak bertindak sendiri-sendiri, setidaknya negeri ini tidak hanya menyimpan banyak tikus dan virus (katakan saja, kami mempersempit daftar dalam situasi perang sehingga kalian bisa tidur dengan nyenyak).

NOC
 
Manfaat atau tidaknya suatu tulisan tidak bisa terlepas dari "cara pandang", terlebih lagi "niat" dari para penulis dan pembacanya terhadap suatu topik yang sedang diulas. Insya Allah cara pandang dan niatan yang positif senantiasa mendatangkan "Manfaat Positif Dunia Akhirat" amiin.

Setiap manajer senantiasa bercita-cita bisa punya suatu sistem yang bersifat komprehensif integral dalam organisasinya, namun ...seringkali pemikiran pribadi berpadu kepentingan sesaat membuat cita-cita itu tidak terealisasi dengan baik, bahkan tidak diinginkan lagi.
Jika saja para manajer itu sadar bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, maka kesinambungan prestasi dari satu manajer ke manajer berikutnya, lebih layak untuk diperjuangkan daripada sekedar mempertahankan masa jabatan yang beresiko pada pembusukan organisasi.

Wah Om Seno, kalau ada ruang lapang buat saya untuk beropini, Insya Allah saya mau berpartisipasi dalam memperkuat tukar wacana. Makasih
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters