Memanaskan Situasi? » INTELIJEN INDONESIA

Friday, December 14, 2007

Memanaskan Situasi?

Mungkin ada benarnya juga kalo ada pihak-pihak yang menuduh tanpa dasar bahwa Blog I-I hanya memanaskan situasi. Saya pribadi hanya prihatin atas berbagai kondisi Indonesia Raya, mungkinkah bila anda berdarah merah putih jadi repot dengan Blog I-I?
Saya hanya ingin mengatakan bahwa apa-apa yang rekan-rekan Blog I-I sampaikan, saya terima dengan hati terbuka. Bila Blog I-I hanya menuliskan open source tanpa menyertakan intelijen itu adalah kesepakatan yang telah saya deklarasikan kepada sesepuh intelijen. Lagi pula tidaklah mungkin saya menuliskan produk intelijen sebagaimana dalam perputaran roda intelijen dalam Blog I-I.

Mengenai isu-isu yang mengandung unsur SARA, Blog I-I sudah sangat berhati-hati dengan tidak memuat fakta-fakta intelijen yang bisa menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam konflik. Hal ini juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa Indonesia. Kepada para junior di Opus Supremus janganlah khawatir atau ketakutan karena sayap militan Blog I-I tidak akan melakukan apapun terhadap anda semua secara fisik. Bukankah dengan menyarankan untuk saling transparan sesama anak bangsa justru akan melahirkan saling percaya diantara kita. Kepada mereka yang kebablasan dalam menilai masalah pengaruh Zionis Israel di Indonesia, juga jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atas artikel-artikel yang ada dalam Blog I-I. Lakukanlah konfirmasi ke sumber-sumber lain yang rekan-rekan percaya.

Benar sekali bila dikatakan saya hanya seorang analis yang dangkal dengan sumber bacaan majalah,koran, buku, dan bahan bacaan yang mudah didapat dengan search engine di internet. Silahkan dicek keseluruhan artikel dalam Blog I-I, rekan-rekan akan dapati bahwa tidak ada yang spesial ataupun yang memaksakan kebenaran tertentu. Semua kembali kapada rekan-rekan untuk mencernanya, atau kalo lebih teliti lagi bisa membaca pesan tersirat.

Tetapi mengapa Blog I-I dilarang berbicara soal intelijen bila dasarnya hanya open source, bukankah open source matters? Gaya retorika yang menggurui dan melarang sana-sini justru yang tidak mendidik! Bukankah Indonesia telah menjadi negara demokratis dan bebas bagi warga negara Indonesia untuk berbicara, termasuk tentang intelijen.

Sekian

Comments:
Ini hanya sekedar urun rembug dan bukan menggurui.. Saya Sepakat bahwa "Wacana Intelijen" memang bukan, bahkan sama sekali, bukan "Laporan Intelijen"
Secara yuridis sekalipun, saya juga harus mengakui bahwa blog II tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari diseminasi intelijen. Sehingga dari segi itu sangat jauh untuk dinyatakan bahwa ini merupakan salah satu produk intelijen.
Sebagai sebuah wacana, saya berusaha memandangnya dari segi kebijakan pertahanan negara (hanneg). Bahwa saat ini kebijakan pertahanan negara memang mengakomodir intelijen sebagai bagian dari fungsi pertahanan, walau pada praktiknya memang ada struktur tersendiri dari Intelijen Negara c.q. BIN. Namun demikian Dephan tetap merupakan penjuru dari subfungsi ini. Maka RUU Intelijen juga merupakan salah satu Pekerjaan Rumah Dephan.
Kebijakan Hanneg menetapkan pendekatan Hanneg dari dua segi, yaitu kesejahteraan dan pertahanan itu sendiri, di mana dengan mengedepankan pendekatan kesejahteraan secara simultan, maka dampaknya pertahanan tidak lagi sekedar hak dan kewajiban, melainkan akan menjelma menjadi "kebutuhan".
Apabila pertahanan dipandang sebagai kebutuhan, maka partisipasi publik tidak lagi sekedar ikut-ikutan serta, malah lebih memiliki pemahaman yang dalam dan dapat dipertanggungjawabkan.
Otomatis berbagai wacana mengenai fungsi2 pertahanan dirasa sangat perlu untuk disosialisasikan melalui berbagai cara yang efektif dan efisien. Termasuk di sini mengenai "Intelijen"
Era informasi, sebagai salah satu tahapan dari proses globalisasi, jelas memerlukan pemahaman yang mendalam dari para partisipannya, mulai negara, organisasi hingga personal masyarakat. Dan di sinilah dibutuhkan kematangan berpikir maupun bersikap, yang dapat ditunjang melalui sharing wacana, yang pada dasarnya juga merupakan sarana penyampaian dan pertukaran informasi.
Demokrasi akan menjadi lebih matang apabila partisipasi publik semakin menguat dengan pemahaman yang lebih mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini tidak terlepas dari hakikat manusia sendiri sebagai makhluk sosial.
 
hehehehe,opus supremus....kamu lagi kamu lagi.bukankah kamu tahu,tidak ada pengkhianat bisa sukses dan umur panjang?jangan pernah lupa untuk menoleh saat menyeberang jalan.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters