Ahmadiyah » INTELIJEN INDONESIA

Monday, April 21, 2008

Ahmadiyah

Salah satu masalah yang panas dan akan terus panas menjelang pemilu 2009 adalah soal gerakan aliran yang saling bertubrukan mulai dari akar keyakinannya. Gerakan yang dianggap sesat seperti Al-Qiyadah adalah uji coba kecil. Kasus kelompok Ahmadiyah yang telah lama bersifat laten di Indonesia akan terus membengkak seperti bisul bernanah busuk yang akan menggulirkan suatu keadaan yang sangat merugikan pemerintahan SBY-JK.

Mengapa demikian?


Cukup jelas bahwa diterima dan tidak diterimanya Ahmadiyah sebagai bagian dari agama Islam bersifat tekstual maupun kontekstual, dan sejarah telah mencatat berkali-kali tentang apa yang disebut sebagai Ahmadiyah. Misalnya saja perbedaan mendasar yang tertulis dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan penganut ajaran Ahmadiyah, dimulai dengan pernyataan-pernyataan "hukum" Mirza Ghulam Ahmad yang dibangun secara gradual. Misalnya saja pernyataanya bahwa dirinya adalah Messiah dan Mahdi, serta klaim memiliki keserupaan spiritual dengan Yesus Kristus(Tadzkirah). Lebih lengkapnya dalam Tazkiratush-Shahadatain, Mirza juga menuliskan tentang pencapaian kebenaran ramalan dalam Al-Quran dan Hadist yang dikait-kaitkan dengan dirinya, khususnya sebagai Messiah yang dijanjikan.

Dalam ayat yang lebih kontroversial misalnya dalam kitab suci Tadzkirah yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621).

Tidaklah mengherankan bila akhirnya titik awal gesekan keyakinan berawal dari kasus Nabi Palsu. Untuk melakukan pembelaan, kelompok Ahmadiyah Indonesia telah memberikan penjelasan perihal Nabi Palsu tersebut sebagai berikut:

Nabi palsu tidak akan mendapat kelonggaran
Sudah merupakan kaidah Ilahi bahwa Tuhan tidak akan memberikan kelonggaran atau peluang kepada seorang nabi palsu. Orang seperti itu akan langsung dicengkeram dan dihukum. Berkaitan dengan itu maka kita patut menghormati dan menerima sebagai suatu kebenaran semua mereka yang pernah menyatakan diri sebagai Nabi pada masa apa pun, yang pengakuannya telah diteguhkan dan agamanya telah berkembang meluas dalam jangka waktu panjang. Misalnya pun kita menemukan kesalahan dalam kitab suci atau agama mereka, atau juga kelakuan yang salah di antara para penganutnya, jangan sampai kita menimpakan kesalahan tersebut di pundak para pendiri agama-agama tersebut. Pelencengan isi kitab suci bisa saja terjadi, begitu pula munculnya kesalahan penafsiran, tetapi tidak mungkin terdapat orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah s.w.t. dengan mengaku sebagai seorang Nabi, menyatakan ucapan karangannya sendiri sebagai firman Tuhan tetapi Dia tetap memberikan peluang atau kelonggaran kepadanya sebagai seorang muttaqi dan mengaruniakan kepadanya berkat berupa penerimaan dari orang banyak. (Tohfah Qaisariyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 258). sumber http://www.ahmadiyya.or.id, diakses pada tanggal 21 April 2008.

Sebuah penjelasan logika yang menarik karena apologia yang diajukan begitu lemahnya dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak akan memberikan kelonggaran kepada Nabi Palsu. Sebuah argumentasi akal yang segera terbantahkan dengan logika keberadaan Iblis/Lucifer yang ditangguhkan sampai hari kiamat. Apalah artinya keberadaan seribu Nabi Palsu dibandingkan dengan perpanjangan waktu Iblis bagi Tuhan Semesta Alam.

Apologia berikutnya cukup jelas yaitu untuk tidak menimpakan kesalahan kepada pendiri agama. Selanjutnya mengenai menjadi seorang muttaqi dan mendapat karunia berkat berupa penerimaan dari orang banyak tidak bisa menjadi dasar alasan untuk diterima. Sungguh telah terjadi permainan logika yang menggiring pada suatu keyakinan yang penuh tambal sulam.

Titik singgung lainnya adalah kejanggalan perjuangan Mirza yang diperdebatkan sebagai antek intelijen Inggris dengan melemahkan Jihad Islam, rujukan utama adalah surat Mirza Ghulam Ahmad kepada Ratu Victoria sbb:

“ ...For the sake of the British government, I have published fifty thousand books, magazines and posters and distributed them in this and other Islamic countries ... It is as the result of my endeavors that thousands of people have given up thoughts of Jihad which had been propounded by ill-witted mullahs and embedded in the minds of the people. I can rightly feel proud of this that no other Muslim in British India can equal me in this respect..." [Mirza Ghulam Qadianis's Service to his True Masters, Sitara-e-Qaisaria, Roohany Khazaen, Vol. 15, P. 114, Sitara-e-Qaisaria, P. 3-4 Letter to Queen Victoria, Khutba-Ilhamia, Appendix. Copy of this letter in urdu. For detailed excerpts from Mirza Ghulams's writings about this affair in Urdu see Qaumi Digest - Qadiani number, khatm-e-nubuwwat.org].

Apabila terdapat begitu banyak bukti penyimpangan, mengapa Ahmadiyah bisa berkembang di Indonesia?

Perlu dipahami bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia tidak terdidik baik dalam soal agama. Namun demikian sesungguhnya modalitas ahlak telah dimiliki sejak sejarah Indonesia kuno dimana berbagai macam aliran kepercyaan tumbuh subur di Indonesia. Sehingga kelompok apapun dan manapun akan dengan mudah membangun dirinya menyedot massa yang tidak tersentuh dengan ajaran aslinya. Lihat saja bagaimana Al Qiyadah berkembang dalam waktu yang relatif singkat. Ahmadiyah yang memiliki struktur dan pola berpikir organisasi modern yang logis tentu saja sangat mudah untuk berkembang dan survive dalam berbagai gelombang gugatan.

Blog I-I tidak ingin menambah kisruh masalah kelompok Ahmadiyah ke tengah-tengah publik. Terlalu banyak bukti penyimpangan dari sudut pandang mayoritas Islam di dunia maupun di Indonesia. Tetapi yang namanya masalah keyakinan, bila memang telah tersedot kedalam pengikut pemikiran filsafat Mirza Ghulam Ahmad, maka menjadi hak individual untuk meyakininya. Apalagi Indonesia telah melangkah ke dalam lingkungan kebebasan individu (liberalisme) yang memberikan ruang yang luas dalam bentuk hak warga negara yang dijamin oleh konstitusi.

Pada titik itulah terlihat betapa lihainya mereka yang sedang mengaduk-aduk masalah Ahmadiyah menjelang pemilu 2009. Blog I-I tidak mengkait-kaitkan masalah ini tanpa dasar, karena seperti sudah diramalkan, ujung dari masalah Ahmadiyah adalah menciptakan kerumitan hukum dan penegakannya di satu sisi dan desakan mayoritas umat Islam di sisi lain. Akan menjadi blunder bagi pemerintahan SBY-JK apabila melakukan pelarangan Ahmadiyah sebagai organisasi, karena Ahmadiyah Indonesia telah berbadan hukum dan dilindungi oleh Undang-Undang.

Rekomendasi Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masykarat (Bakorpakem) sudah cukup baik, dan Ahmadiyah tidak bisa menyembunyikan perbedaan keyakinannya dengan mayoritas umat Islam Indonesia. Namun langkah hukum berikutnya harus diambil secara sangat hati-hati.

Dalam kasus pembelaan kepada Ahmadiyah yang dilakukan oleh Gus Dur dapat diatasi dengan memberikan pemahaman bersama. Gus Dur adalah sosok unik yang berjalan diatas keyakinan humanisme dan agama hakiki yang kebablasan dalam personalitas dirinya, sehingga tidaklah mengherankan bila Gus Dur mengambil langkah demikian.

Rekomendasi Blog I-I kepada pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Mengacu pada hukum nasional Indonesia, pendekatan pelurusan ajaran Ahmadiyah di Indonesia sulit untuk diterapkan secara keras dalam bentuk pembubaran organisasi dan pelarangan ajarannya. Namun secara persuasif tampaknya juga sangat sulit untuk memberikan pencerahan kepada penganut ajaran Mirza Ghulam Ahmad. Sehingga lanjutan dari rekomendasi Bakorpakem adalah lebih tepat dengan dialog terbuka nasional mengenai perbedaan-perbedaan mendasar dalam keyakinan yang diajarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh Bakorpakem, namun tampaknya Bakorpakem dianggap sepi saja. Sehingga keseriusan untuk membedah Ahmadiyah dalam skala nasional perlu dilakukan tanpa tujuan mengadili. Periode program dialog nasional ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu tahun diselingi dengan waktu reses pada masa kampanye pemilu dan pemilu. Hal ini semata-mata demi terbitnya kebenaran dan keadilan serta harus diprogramkan sebaik mungkin agar tidak jatuh korban yang tidak diperlukan.
  2. Apabila langkah dialog tersebut tetap dead lock, maka barulah perlu dilakukan langkah hukum yang serius dalam delik kasus penodaan agama dengan ajaran Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad. Tentu saja hal ini tidak ditujukan untuk memicu tindakan kekerasan terhadap pengikut Mirza Ghulam Ahmad, melainkan dalam kerangka pembedahan secara hukum (dan mengacu pada hukum nasional Indonesia) tentang hakikat ajaran Mirza Ghulam Ahmad khususnya kitab Tadzkiroh dan prinsip-prinsip yang dianut pengikut Mirza. Adalah sangat penting dalam ketepatan memilih acuan dasar hukum nasional dalam menghadapi pengikut Mirza Ghulam Ahmad, karena sekali lagi logika pengikut Mirza cukup baik dan argumentatif.
  3. Ketika negara melakukan pelarangan atas suatu gerakan, ajaran adalah mengacu pada hukum nasionalnya dan hal itu sah tanpa mengurangi kredibilitas pemerintahannya. Sebagai contoh misalnya masalah Kristen Mormon yang mempraktekan poligami di Amerika Serikat, apabila penganut Mormon terus mempraktekan hal tersebut adalah melanggar hukum di AS. Dengan demikian, meyakini Nabi Palsu dan menyebarluaskan ajaran Nabi Palsu di Indonesia juga melanggar hukum, khususnya dalam delik hukum PENODAAN AGAMA sesuai Kitab Undang-undang Hukum Pidana PASAL 56 a yang berbunyi "Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia". Dalam yang lebih lemah misalnya Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.: 2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.
  4. Acuan hukum kepada negara-negara Islam dan berpenduduk Islam antara lain:
  • Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.
  • Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.
  • Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.
  • Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.
  • Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

Mengapa diperlukan ketegasan pemerintah? karena dalam catatan Blog I-I diketemukan unsur kesengajaan untuk menimbulkan "masalah" dari sejumlah masalah laten (misalnya kasus Ahmadiyah, serta berbagai persoalaan laten lainnya yang segera menyusul) untuk menggoyang pemerintah, atau minimal menggelincirkan keputusan pemerintah yang akhirnya akan menurunkan secara drastis popularitas pemerintahan yang sekarang.

Blog I-I tidak pro SBY dan JK, namun melihat kelicikan cara-cara menciptakan akar kerusuhan perlu ditangani secara serius. Siapapun yang memimpin negara ini memerlukan masukan yang obyektif, terukur, akurat, dan dilandasi oleh itikad baik serta kepedulian kepada bangsa Indonesia dan demi Indonesia Raya.


Sekian, mohon koreksinya.
SW

Catatan: Bila dianggap baik mohon disampaikan kepada elit-elit politik, khususnya pemerintahan SBY-JK.

Labels: ,

Comments:
sarannya untuk melakukan pendekatan dengan dialog bagus, itu akan lebih fair, cuma saya jamin MUI tidak akan pernah berani....secara empiris telah dibuktikan bahwa denagn pendekatan dialog secara terbuka malah akan banyak yang akan tertarik terhadap Ahmadiyah ini. Stu catatan mungkin perlu disampaikan, Ahmadiyah ini di negara2 barat, adalah organisasi Islam yg paling banyak diterima konsep2 Islamnya drpd organisasi Islam lainnya.
Jadi daripada MUI kehilangan muka dan kehilangan pamor di depan publik dalam arena dialog, saya yakin MUI akan mati2an menentang terjadinya dialog terbuka. Apa penulis tidak mengikuti beberapa acara wawancara di televisi, di sana jelas2 MUI menolak untuk berdialog dengan Ahmadiyah. ANEH TAPI MEMANG ITULAH KENYATAANNYA, Ahmadiyah di dakwa tanpa diberikan kesempatan utk melakukan pembelaan.
 
ramalan yg mengagumkan master SW, akhirnya terjadilah insiden monas 1 juni 2008. cayoo TETAP SEMANGAT & RAPATKAN BARISAN.
 
ayolah pinter dikit knapa...
insiden monas kan udah kya yg direncanakan, itu cuma bumbu penyedap aja supaya perhatian rakyat teralihkan dari masalah yang sudah ada.
buktinya dengan ada nya tragedi monas, hampir semua nya beralih ke kasus pembubaran fpi. (enak tuh cafe2 maksiat, ramadhan nanti g ad yg ngerazia tuh).
org2 yg nyebarin ahmadiyah kan pinter2, makanya skr aja pusat nya ada di london (aneh ya, pdhal dsalah satu buku nya ada yang nyebutin klo dajjal itu dari barat). udah gitu punya stasiun tv yang 24 jam tayang... udah gitu punya dua kelompok yang berbeda tapi klo ditelaah seperti ad tujuan akhir nya.
yang pasti kita sebagai umat islam, yang paling utama adalah kepada alquran, kedua yaitu hadits, dan ketiga adalah keputusan bersama para ulama besar yang memang tidak bertentangan dengan alquran dan hadits, dan klo emang apa yg kita hadapi itu belum ada patokan yang bisa dijadiin sebagai bahan acuan, ya kita ambil keputusan sendiri yang kira nya itu adalah untuk kebaikan.
untuk ahmadiyah, demi kebaikan bersama klo memang merasa mempunyai nabi dan kitab suci selain dari yang dmiliki oleh umat islam, knp tidak menjadikan ahmadiyah sebagai agama yang terpisah dari islam. karena klo melihat dari sejarah islam jg, islam tidak mengaku sebagai kristen ataupun agama yg lainnya.

terima kasih
 
Saya sarankan seandainya MUI merasa paling benar dan Ahmadiyah salah maka KENAPA MUI tidak berani menantang Ahmadiyah untuk BERMUBAHALAH!!!!!?? Kalau MUI tidak berani, berarti MUI Pengecut!!! Bukalah Al-Quran Surah Ali Imran disana ada perintah MUbahalah. Mintalah keputusan Tuhan, siapa yang benar siapa yang salah??? Jangan hanya menggonggong tapi penakut!!! Terutama Kiyai Ma'ruf Amin,kenapa ngomong doang??!! Allah benci orang yang cuma ngomong tapi kagak ada buktinya (Ash-shaf:3).
 
Allah Ta'ala berjanji klo ada Nabi palsu,tangan Dia sendiri yg akn menghancurkannya.Klo ahmadiyah sasat (naudzubillah),biarkan aja Allah Ta'ala sendiri yg akn menghancukannya.Tp kenyataannya janji Allah Ta'ala direbut oleh tangan manusia,berarti manusia itu sdh menganggap Allah Ta,ala ga mampu(naudzubillah).Ahmadiyah terus2an diserang & dibantei padahan merka tdk berdaya seperti Palestina dibantei sama Israel.JADI SIAPA YG MIRIP YAHUDI & SIAPA YG MIRIP ISLAM???
 
Allah Ta'ala berjanji klo ada Nabi palsu,tangan Dia sendiri yg akn menghacurkannya.Tp kenyataannya janji Allah Ta'ala itu direbut oleh tangan manusia.Berarti manusia itu sdh menganggap Allah Ta'ala ga mampu(na'udzubillah).Ahmadiyah diserang terus&dibantei terus seperti Palestina dibantei oleh Israel.JADI SIAPA YG MIRIP YAHUDI & SIAPA YG MIRIP ISLAM???
 
sudah jelas kitabnya tadzkirah, bukan Qur'an. maka jelas bukan Islam. orang tidak taat pada Rasul saja sebagai ahli neraka(QS. annisaa':14)nah ini lebih dari itu. Di indonesia, agama banyak, menurut Islam ya gak benar tapi kan boleh hidup.. karena memang Indonesia neraka majemuk.. nah baiknya kalau tak mau kembali ke Islam. yaa jangan dinami Islam.. sehingga di golongkan agama sendiri: seperti Hindu, budha, konghucu, Yahudi.. kan sudah bukan Islam sehingga muslimin tidak ternoda.bagi umat islam mari teguhkan pada firman Alloh, Sabda Rasul SAW dan logika yang sehat.

 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters