Insiden Unas » INTELIJEN INDONESIA

Monday, May 26, 2008

Insiden Unas

Sebuah kiriman artikel yang panjang lebar tentang insiden Unas. Silahkan membaca dan pelajari analisa serta pesan-pesannya.


Oleh: AKP Pengging

Mencermati insiden di kampus Unas pada Jumat (23/5)yang diawali oleh memanasnya demonstrasi di Kampus Unas, perlu disampaikan analisa kewaspadaan yang sebenarnya telah sangat dimahfumi oleh seluruh aparat penegak hukum di negeri tercinta ini. Dengan demikian seluruh komunitas intelijen akan waspada dan tahu persis unsur-unsur apa yang harus diperhatikan dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia.

Sebagai langkah awal, mari kita lihat kronologis peristiwa yang telah disharing secara resmi ke media massa, yang merupakan catatan yang akurat yang bisa dikonfirmasi dengan para saksi di tempat kejadian. Setelah sekitar 30-an anggota Polsek Pasar Minggu berjaga-jaga sejak sekitar pukul 20.00 WIB, demonstrasi masih berjalan wajar sehingga petugas hanya berjaga-jaga biasa. Namun pada pukul 20.35 WIB, informan mahasiswa mengabarkan kepada petugas bahwa usaha memanaskan suasana oleh kelompok mahasiswa provokator radikal telah disepakati, sehingga petugas polisi di lapangan segera berkonsultasi untuk persiapan bantuan tambahan, silahkan cek ke Mabes Polri.

Pukul 21.00 WIB, sekelompok mahasiswa tertentu yang kemungkinan besar telah disusupi mulai membakar ban dan memblokir jalan (berdasarkan pada penuturan informan dan ketidaksetujuan beberapa kelompok mahasiswa yang memilih mundur). Perilaku membakar ban dan memblokir jalan bukanlah cerminan perilaku santun kalangan akademis Unas, beberapa mahasiswa provokator bahkan telah menyiapkan barang-barang haram obat-obatan terlarang untuk meningkatkan keberanian. Suasana demo mulai memanas, sedangkan 30 personil polisi yang mengamankan demo tetap hanya berjaga dan melokalisir agar aksi mereka tidak melebar. Dari proses konsultasi dan masuknya informasi bahwa mayoritas mahasiswa yang berunjuk rasa telah masuk dalam suasana jebakan mahasiswa provokator, maka keputusan pengiriman bantuan pengamanan tambahan telah disetujui dan pada pukul 22.00 WIB datang bantuan pasukan Dalmas Satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) yang berjumlah 100 orang.


Sekelompok mahasiswa mulai memancing kericuhan dengan melempari polisi yang mengamankan jalannya aksi mereka, sambil berteriak-teriak dimana semua itu merupakan refleksi meningkatnya emosi yang telah menular kepada mahasiswa lain. Sementara di pihak polisi mulai bangkit kewaspadaan dan sebagian besar aparat telah menyadari potensi pecahnya bentrokan fisik. Teman-teman polisi dilempari oleh mahasiswa yang telah hilang kendali emosi, namun seluruh satuan harus berada di tempat dan mengendalikan keadaan sesuai perintah.

Pukul 22.20 WIB yang awalnya berjaga ditempat mensterilkan lokasi, mulai bergerak maju menghalau aksi mahasiswa yang mulai anarkis ini. Sesuai perintah, maksud dari penghalauan adalah mencegah meluasnya aksi ke tengah-tengah masyarakat yang bisa membahayakan masyarakat umum, sehingga Mahasiswa terlokalisir di dalam kampus. Suasana terlihat seperti terkendali dan sejumlah teman-teman Polisi telah merasa agak lega karena tidak perlu mengotori tangan dengan benturan fisik dengan mahasiswa. Namun pada Sabtu (24/5) pukul 00.30 WIB dinihari, diperoleh informasi bahwa pemanasan demonstrasi lanjutan dibahas oleh sejumlah provokator yang akhirnya mendapat dukungan dari sebagian mahasiswa yang sebagian besar terpaksa menginap di kampus.

Aparat polisipun berjaga-jaga dengan kewaspadaan penuh dan mempersiapkan penanganan yang tepat, khususnya dalam menjaring nama-nama provokator yang telah didapat. Kemudian pukul 04.30 WIB, mahasiswa yang semula berada di dalam Kampus, mulai ada yang keluar ke jalan lagi dan menjalankan strategi memanaskan demonstrasi. Mereka melempari polisi yang berjaga, termasuk melempar bom molotov.

Diperkirakan pelaku utama teror bom Molotov telah menggunakan obat-obatabn terlarang pada malam harinya. Aksi sekelompok mahasiswa tersebut mengarah pada anarkis dan jelas menggangu ketertiban masyarakat sekitar (silahkan crosscheck kepada pemukim sekitar kampus dan pemilik warung). Akibatnya, kaca-kaca dan warung-warung pinggir jalan di dekat aksi itu mulai rusak terkena lemparan mahasiswa.

Polisi yang telah memperoleh informasi awal mengenai sekelompok provokator di dalam Unas kemudian mengejar mahasiswa yang mulai anarkis ini. Mereka lari masuk kampus sambil terus melempar berbagai macam benda ke arah polisi. Polisi terus mengejar dan menangkapi mahasiswa dan sekitar 100 mahasiswa tertangkap. Langkah ini sangat perlu karena apabila terlambat, maka provokator murni yang akan dijerat dengan pasal tindak pidana akan lolos dan semakin menyulitkan penyelidikan.

Pukul 09.00 WIB suasana bertambah panas menyusul penangkapan mahasiswa itu. Polisi kembali menambah pasukan 2 SSK lagi. Aksi mahasiswa semakin bertambah panas. Mereka tidak terima dengan penangkapan teman-temannya. Untuk perkembangan kasus ini telah dipahami, karena solidaritas mahasiswa tentunya telah tergalang semalaman, tanpa peduli bahwa diantara mahasiswa yang tulus berdemonstrasi menolak kenaikan BBM, terselip rencana aksi kekerasan yang dimotori oleh sekelompok provokator.

Polisi kembali menangkap sekitar 40 mahasiswa. Berbagai barang bukti ditemukan, mulai dari bom molotov, ganja 100 gram, botol minuman keras 88 botol, sampai obat penenang. Barang bukti tersebut memperkuat informasi pada pukul 00.30 WIB dari informan mahasiswa yang menyampaikan kekhawatiran penyimpangan demonstrasi menjadi aksi kekerasan.

Dalam situasi yang telah terkendali, pada pukul 12.00 WIB pihak Kampus Unas melaporkan penemuan dua granat nanas di dalam kampus. Dalam analisa sementara, hal ini diduga kuat sengaja ditaruh provokator untuk mengaburkan penyelidikan. Tujuannya adalah menciptakan polemik atau ide tentang adanya aktor berlatar militer/polisi sebagai pemilik granat nanas. Dari diskusi tim ahli, keberadaan granat nanas tersebut memiliki dua makna utama yaitu yang pertama tentang ide meledakkan peristiwa Unas dengan tragedi "granat" salah lempar (yang tidak mungkin dilakukan polisi), namun akan diarahkan sebagai kesalahan polisi. Sedangkan yang kedua adalah dengan hanya menaruh saja untuk menciptakan kebingungan tentang aktor provokator di belakang peristiwa Unas yang seolah-olah memiliki akses mudah ke alat-alat senjata, seperti granat nanas itu.

Analisa Insiden Unas.

Titik awal analisa yang paling krusial adalah pada proses pembakaran ban dan provokasi emosi mahasiswa yang seharusnya menggunakan akal intelektualnya. Inisiasi pembakaran emosi mahasiswa ditengarai telah menjadi pola yang biasa dilakukan dan telah terjadi berulang-ulang sejak peristiwa demonstrasi tahun 1998. Strateginya adalah percampuran antara itikad baik/murni untuk kepentingan rakyat dengan efek samping kerusakan tatanan ketertiban yang merusak sendi-sendi sistem keamanan nasional Indonesia.

Sangat jelas bahwa beberapa anasir kepentingan asing sangat khawatir dengan kuatnya sistem keamanan dan pengamanan nasional. Reaksi-reaksi "pembela HAM" yang berlindung dibalik ideologi kebebasan (liberalisme) sebenarnya bisa diterima apabila tunggangan politiknya tidak terlalu kuat, misalnya saja bagaimana tudingan sejumlah politisi di Senayan tentang tindakan "destruktif" yang dilakukan Polisi tanpa mengutip fakta tindakan destruktif yang dilakukan mahasiswa. Belum lagi bagaimana "senangnya" sejumlah kelompok kepentingan mendapatkan makanan dari insiden Unas.

Proses tanpa semangat intelektual berupa aksi anarkis mahasiswa perlu dicermati secara seksama, dari mana ide tersebut muncul, bagaimana sejumlah bom molotov telah siap dan bagaimana pula sekelompok mahasiswa mampu mempengaruhi ratusan mahasiswa yang lain dengan mengedepankan emosi serta mengabaikan akalnya. Proses reduksi intelektual mahasiswa yang dilakukan dengan ide-ide "perlawanan" atau pembangkangan kepada kebijakan pemerintah mendapatkan ruang dalam semangat reformasi dan hal itu juga ditunjang oleh semangat demokrasi. Namun perlawanan dalam koridor demokrasi tidak memberikan ruang pada aksi anarkis.

Apabila Polisi tidak menyelesaikan segera insiden Unas dengan penangkapan mahasiswa yang diduga kuat provokator, maka siapa yang bisa menjamin bahwa aksi tersebut tidak akan meluas menjadi aksi yang membahayakan masyarakat sipil yang ada di sekitar kampus. Berdasarkan pada informasi yang akurat, Polisi berani mengambil keputusan yang tepat. Sementara ekses terjadinya benturan masih bisa dipertanggungjawabkan, bahkan bila perlu di meja pengadilan dan disertai dengan bukti-bukti. Dalam proses lanjutan, akuntabilitas dan transparansi yang diterapkan oleh Polisi bisa terus diikuti.

Persoalan mendasar dari aksi-aksi anarkis yang menunggangi ketulusan membela kepentingan rakyat adalah pertarungan yang belum selesai dalam "Mereformasi" secara total TNI, Polisi dan Lembaga-lembaga Intelijen di Indonesia. Hal itu merupakan tantangan nomor satu bagi kelompok kepentingan yang mengaku-ngaku sebagai pembela HAM. Adanya upaya secara sistematis mereduksi kekuatan sistem keamanan dan pertahanan nasional Indonesia telah dimulaui sejak tahun 1996, dan puncaknya pada peristiwa 1998 dan sabetannya hingga saat ini. Kegagalan kepentingan asing mereformasi TNI, Polisi dan Intelijen sesuai pesanan terasa sangat mengganggu, sehingga sering kali terjadi "kompromi" baik ditingkat konsep maupun pelaksanaan.

Sepintas analisa ini terkesan anti reformasi dan sangat pro TNI, Polri dan Intelijen. Harus diakui bahwa tanpa TNI, Polri dan Intelijen, Indonesia sudah bubar sejak tahun 1998. Harus juga diakui bahwa ketiga lembaga tersebut memerlukan reformasi lanjutan, namun tanpa proses pelemahan seperti yang dilakukan oleh mereka yang mengaku pembela HAM. Tantangan dalam pertarungan reformasi ketiga lembaga tersebut adalah melalui isu-isu HAM, kasus pelanggaran profesi serta produk hukum.

Tidak ada yang salah dengan ide reformasi, namun sekali lagi bukan untuk menghancurkan NKRI melalui labeling lembaga-lembaga penegak hukum.

Kembali pada insiden Unas, mengapa mahasiswa yang seharusnya santun dalam demonstrasi intelektualnya, malahan melakukan aksi memancing kekerasan dan melakukan tindakan kekerasan?

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada Ki Seno yang bersedia memuat tulisan saya ini.

Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat yang selalu dekat dan bersama-sama masyarakat.

AKP Pengging

Labels: , , ,

Comments:
melihat gerakan mahasiswa yang menjurus anarkis,seluruh lembaga aparatur negara se-yogyanya harus siap menghadapi para penyusup-penyusup yang membuat aksi demo di berbagai kampus di jakarta menjadi.sudah terlihat sekali aksi yang di lancarkan mahasiswa terkesan ada yang memprovokasi......dan pesan dari saya.perkuat jalur informan di dalam kampus.untuk meng-antisipasi keadaan yang lebih buruk

-kalashnikov-
 
jangan cuma berkira-kira. sebagai penegak hukum, harusnya jjika bisa membuktikan suatu perbuatan baru bertindak. Jangan cuma kata informan, karena biasanya informan polisi cuma makelar-makelar yang bekerja untuk uang, bukan integritas terhadap nusa dan bangsa. Kalau memang ada buktinya, tangkap aktor inteleknya sekalian, jangan anak muda yang jadi korban ditengah-tengah. sama saja mematikan masa depan bangsa pak
 
AKP penggging ini kalau saya tidak adalah adalah kasat di polresta.
Mahasiswa itu kalau tidak ditantang tidak akan melawan. Kita lihat pristiwa sesudah unas polisi merubah gaya dan terbukti tidak ada insiden kekerasan seperti di unas.

Omong-omong sudah berapa ratus mahasiswa yang disel di seluruh indonesia?
Bisanya menangkap mahasiswa, menangkap pejabat yang menjual negara tidak sanggup.
 
Jika menilik case diatas sesuai dengan kronologi yang dijabarkan,saya melihat indikasi dan itikad dari segilintir pihak yang ingin memanfaatkan dan menciptakan momentum memori masa lalu dimana mahasiswa dijadikan sebagai mesin penggerak utama terjadinya sebuah perombakan maupun penggagalan sitem kinerja pemerintah,aksi dari mahasiswa unas ini tentunya sudah dirancang dan akan bertemu pada satu titik ending yang akan mengembalikan "kejayaan" mahasiswa pada masa suksesi kepemimpinan rezim Suharto waktu itu.Tindakan represif dari aparat sangat tepat dalam memblokade pergerakan yang endingnya sudah tentu kearah terciptanya chaos di ibukota yang akan merembet ke daerah pada saat kritis seprti saat ini.Seharusnya rekan mahasiswa menyadari betapa posisi mereka sangat urgent dalam penegakan demokrasi di negara ini,tentunya mahasiswa seperti sedang berlari dengan bom waktu yang siap kapan saja ditarik pemicunya apabila dibutuhkan,seperti yang saya dapati dilapangan dimana para "panglima" mahasiswa sudah diikat oleh kepentingan berbagai pihak dengan semua tawaran maupun paksaan,dengan demikian itikad baik maupun segala itikad embel-embel dibelakangnya akan menjadi bumerang sendiri bagi mahasiswa maupun masyarakat dan tentunya negara kita tercinta ini.Jadi mari kita dukung kinerja aparat untuk menegakkan dan menjaga suasana tetap dingin disaat kritis seperti ini yang tentunya segala tindakan represif dari semua pihak tetap akan berdampak langsung terhadap stabilitas keamanan nasional.Mari kita dukung kinerja pemerintah yang sedang menambal lubang demi lubang yang ditinggalkan para pendahulunya sehingga kita bisa kembali menunjukkan eksistensi kita dimuka internasional.Beri kepercayaan penuh dan doa kepada beliau-beliau yang sedang berusaha untuk mengerjakan tugasnya dibawah tekanan yang betubi-tubi dalam melanjutkan langkah roda negara kita tercinta ini.Tanpa bermaksud menyerang ataupun mennyudutkan pihak mana pun,itikad dan tekad saya bulat untuk mencintai tanah ibu pertiwi ini.Salam dan hormat saya.
 
Bung SW anda sudah tidak fair lagi begitu memuat artikel yang di tulis polisi, seharusnya anda melihat ke kampus seperti sy..dan begitu melihat ke kampus anda pasti tahu apa yang terjadi.. ini nyata-nyata ketidakprofesionalan polisi mengamankan warga negaranya sendiri dan lagi-lagi polisi hanya main kekerasan dan tidak pakai jalan baik.. sy sebagai bagaian warga negara merasa malu punya polisi seperti itu.. bung SW ayo kita lihat ke kampus kalo mau tahu yang sebebanarnya.. mana ada mengamankan masyarakat.. sampai banyak darah di lantai 3 dan 4 gedung..hahaha....

Lawang Hitam
 
saya lihat sepertinya harus ada yg diluruskan...
1. mahasiswa terdiri dari beberapa
faklutas dan jurusan
2. tanpa seragam
3. tidak mengerti tentang sistem
strategi militer apalagi batasanya
4. terkotak kotak

dari sifat diatas, maka layak dimaklumi keberadaan berpikir mahasiswa..itulah sebabnya kenapa mereka mudah di provokasi, saya mencermati ada anak2 pramuka terlibat..tapi cenderung menunjuk intelijen sebagai kambing hitam..

d.k
 
ada bebrapa hal yang perlu diketahui oleh semua memang bener ditemukan 88 botol minuman keras, tetapi botol tersebut merupakan milik dari Akademi Pariwisata Nasional or AKPARNAS ( yang satu lingkungkan dgn UNAS).

tetapi ada yang saya tidak mengerti adalah dalam sweping yang dilakukan aparat kepolisian ada saat itu, mengapa mereka merusak fasilitas umum yang ada diunas spti menjebol pintu ruang senat universitas dan akademi, memecahkan kaca digedung blok 1,2,3 dan 4, merusak mobil dan motor yang diparkir, serta yang mengejutkan adalah rusaknya CPU diruang senat Fakultas2x dan Akademi serta UKM dimana setelah dicek lebih lanjut hampir seluruh harddisknya hilang,,,,( apa ini merupakan kerja dari Intelejen Polri) ????????
 
darah muda darahnya para remaja.
lebih mendahulukan kerja keras daripada kerja cerdas.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters