Skenario Jatuhnya Si Butet Yogya » INTELIJEN INDONESIA

Monday, May 12, 2008

Skenario Jatuhnya Si Butet Yogya

Tersenyum, berpikir, prihatin, peduli bersama rekan-rekan Blog I-I demi Indonesia Raya menjadi inspirasi dalam menuliskan analisa tentang adanya skenario bagi jatuhnya popularitas Presiden Negeri Mimpi, Si Butet Yogya. Perlu dicatat: tulisan ini bukan suatu bentuk tuduhan, suatu dukungan, ataupun suatu provokasi. Tulisan ini adalah latihan intelektual dari sejumlah nara sumber yang ditempel oleh agen-agen Blog I-I dan karena dalam Blog I-I keseluruhan informasinya menjadi lengkap, maka bisa dituliskan secara komprehensif namun padat dan singkat. Silahkan untuk disampaikan kepada siapapun yang rekan-rekan anggap perlu mengetahuinya.


Adanya skenario terencana ataupun secara kebetulan terangkai telah terdeteksi pada akhir tahun 2007. Pada awalnya hal itu hanya berupa luapan rasa dan intelektual beberapa tokoh yang benar-benar prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia. Pertemuan-pertemuan obrolan ringan di gubuk suatu padepokan mahasiswa kemudian secara hati-hati dicatat sebagai bahan analisa. Kemudian hanoman si kera putih mulai menari-nari karena informasi berharga membuka jalan kepada 5 kekuatan politik utama di Negeri Mimpi. Dikirimlah hanoman-hanoman muda nan energik untuk cari tahu gonjang-ganjing anti Si Butet Yogya. Tercatatlah oleh para hanoman muda sekitar 7 catatan utama yang berpotensi menjatuhkan popularitas Si Butet Yogya (SBY).

Sekembalinya para hanoman membawa laporan, maka rapat khususpun segera diadakan dengan dihadiri oleh oleh para sesepuh ahli strategi untuk mencari kebenaran hakiki yang dibutuhkan rakyat Indonesia.

Ke 7 catatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Faktor utama yang sangat krusial adalah gejolak ekonomi nasional yang semakin menghangat dengan tekanan harga minyak bumi dan krisis energi nasional yang mencakup bahan bakar dan listrik. Dampak lanjutan dari krisis tersebut adalah membesarnya potensi resesi ekonomi yang secara psikologis telah menghantui rakyat Indonesia. Fenomena penimbunan bahan bakar dengan modus memborong premium di SPBU sebelum harga naik adanya contoh klasik yang memenuhi kaidah hukum supply dan demand serta mencari kesempatan. Terjadinya translokasi bahan bakar bersubsidi dari suatu daerah ke daerah lain juga masih mengikuti logika ekonomi untuk mencari keuntungan di tengah krisis. Terjadinya kelangkaan tabung gas 12 Kg beserta stok isinya adalah dampak logis dari kenaikan harga gas 50 Kg. Selanjutnya kenaikan harga-harga barang adalah suatu hal yang tidak terhindarkan dari adanya kenaikan bahan bakar. Hal ini juga semakin membuat kondisi perekonomian rakyat semakin terpuruk dalam ketidakberdayaan. Salah satu energi alternatif yang telah dimanfaatkan rakyat kecil adalah kembali kepada kayu bakar, bagi daerah yang masih memiliki sumber daya alama pohon tentunya bisa mengurangi beban, namun bagi daerah yang langka sumber daya alam alternatif, tidak ada pilihan.

Catatan penting bagi Presiden SBY adalah bahwa upaya para menteri dan penasihat yang mencoba "mengakali" kondisi nyata krisis energi justru akan berdampak parah bagi psikologis masyarakat. Sangat penting bagi SBY untuk memiliki penasihat yang berkarakter dan kuat dalam meyakinkan suatu langkah kebijakan. Perhatikan bagaimana penundaan kenaikan harga minyak yang merupakan rasionalisasi pasar menjadi tersendat-sendat. Kejadian demi kejadian penundaan kebijakan adalah suatu bentuk shaking (kocokan) psikologis rakyat yang akan mengurangi kelembaman respon atas suatu krisis, akibatnya adalah menumpuknya perasaan kecewa yang akan memuncak pada kemarahan. Jangan sekali-kali menjanjikan suatu kenaikan harga yang kemudian ditunda karena adanya tekanan protes. Rencana kenaikan harga yang kemudian ditunda telah berdampak langsung pada pasar berupa kenaikan harga barang yang akan sangat jarang untuk bisa turun kembali ke harga semula, dengan demikian terjadi kenaikan ganda dalam harga barang (prosentasenya akan sangat bervariasi). Saran: apabila telah dihitung dengan seksama oleh para menteri ekonomi, kesanggupan dan saat yang tepat untuk menaikkan harga, maka naikkanlah sesuai dengan rencana dan jangan lakukan kompromi dalam bentuk penundaan, karena hal ini justru memperkuat dugaan lemahnya determinasi pimpinan nasional. Para menteri dan penasihat juga harus memiliki keyakinan dengan taruhan jabatannya (pada masa kerajaan, taruhannya adalah nyawa), agar kebijakan pemerintah dapat diterapkan dalam perhitungan yang matang.

Pada kasus rencana pemberian kompensasi kenaikan BBM dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp 100.000 per kepala rumah tangga miskin harus ekstra hati-hati, karena oposisi seperti Bung Rizal Ramli sudah tidak sabar untuk mengkomentari bahwa hal itu sarat dengan kepentingan dukungan politik menjelang pemilu 2009. Jangan terlalu risau dengan masalah pemilu 2009, karena keputusan yang tepat akan mendapat respon yang baik dari rakyat. Kehati-hatian dalam program BLT adalah pada tepatnya sasaran subsidi, sehingga minimalisasi kebocoran dan keuntungan oleh pihak-pihak yang tidak berhak dapat dicegah. Sebenarnya oposisi-oposisi lain juga sedang mengintai untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah dengan isu-isu politis. Sekali lagi, tidak ada yang perlu diragukan apabila seluruh persiapan dan kalkulasi kebijakan telah dilakukan secara seksama oleh tim ekonomi.


2. Jangan meninggalkan Indonesia manakala kebijakan penting/vital sedang diambil karena hal ini akan menjadi makanan empuk dalam menilai kepedulian pimpinan nasional atas kebijakannya. Apalagi apabila kebijakan tersebut akan langsung berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Atau setidaknya faktor kepergian ke luar negeri juga dijadikan variabel dalam penentuan kebijakan yang krusial, misalnya seperti kebijakan kenaikan harga BBM subsidi. Hari ini mahasiswa berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Disamping itu, ada sejumlah tuntutan lain yang menjadi embel-embel yaitu nasionalisasi aset-aset strategis bangsa, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat, tuntaskan kasus BLBI dan kasus Soeharto beserta kroni-kroninya, mengembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi, menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat, tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan, dan terakhir selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantas. Dari perencanaan yang telah dilakukan pada akhir pekan lalu, sudah diperkirakan bahwa sejumlah provokator juga telah menyusup ke dalam gerakan mahasiswa untuk memanfaatkan keadaan, yaitu menciptakan ketegangan antara mahasiswa dan aparat. Gosokan ketegangan antara lain dengan menciptakan kontra/tantangan atas penertiban, misalnya dengan menginap di depan istana dan membakar poster pimpinan nasional. Hal ini merupakan strategi usang memancing respon keras pemerintah agar mengambil kebijakan yang blunder yang tidak simpatik.


3. Aresto momentum, kurang lebih demikian kata-kata magis yang akan digunakan oleh para petualang politik guna melicinkan jalan menuju pemilu 2009. SBY masih menahan momentum simpati publik pada kemenangan 2004 dengan segala kehati-hatiannya. Sementara pihak-pihak yang berlawanan sudah memperhitungkan bahwa kegagalan yang besar dari pemerintahan SBY-JK adalah satu-satunya momentum yang akan menggugurkan simpati publik 2004. Segala serangan politik tanpa dasar kepada pimpinan nasional akan percuma karena hal itu justru memperkuat posisi Presiden dan Wakilnya. Maka langkah-langkah pancingan yang mendorong pemerintah menjadi panik dan mengambil kebijakan yang tidak simpatik akan lebih efektif ketimbang serangan politik secara langsung. Momentum 10 tahun persitiwa Mei jelas masih menarik minat banyak orang di Jabotabek, tetapi secara nyata bagi rakyat Indonesia hal itu tidaklah terlalu signifikan karena persoalan nyata adalah pada kekinian, yaitu problematika yang disebabkan himpitan ekonomi. Akan sangat sulit untuk mengumpulkan ratusan ribu mahasiswa turun ke jalan, apabila pemerintah tidak mengambil kebijakan yang blunder. Selain itu, pimpinan nasional tidak perlu takut menghadapi tuntutan mahasiswa, karena persoalan nyata yang dihadapi negara bisa saja didiskusikan dengan mahasiswa (yang beneran) karena mereka bertindak dengan akal sehat. Salah satu langkah strategis adalah dengan mengirimkan menteri atau pejabat eselon 1 bidang ekonomi untuk berdiskusi dengan mahasiswa membahas kondisi nyata perekonomian nasional yang dihantam krisis energi dunia. Dengan langkah tersebut, diperkirakan maksimal jumlah mahasiswa (yang bisa dibayar dan palsu) yang mau turun ke jalan sekitar 1000an saja dan hal ini akan dengan mudah terlihat kebodohannya. Berbeda dengan demonstrasi pada tahun 1998, hampir seluruh elemen terdidik di perkotaan memiliki satu hasrat mengganti pimpinan negara karena akumulasi persoalan selama 32 tahun. Saat ini tecatat tidak ada akumulasi persoalan yang sedemikian gentingnya, karena persoalan krisis Indonesia akan dihadapi oleh siapapun pemimpin di negeri ini.


4. Jadilah Motivator bagi rakyat. Siapapun konseptor dalam pembuatan pidato-pidato Presiden, sangat sedikit adanya suatu keyakinan diri dan visi serta kegigihan yang akan memotivasi rakyat Indonesia untuk berjuang bersama-sama dalam menghadapi krisis nasional. Misalnya saja pada Rabu, 30 April 2008, Presiden SBY menyampaikan pidato yang direkam oleh TV One dan disiarkan oleh semua Televisi. Secara umum maksud pidato tersebut bolehlah dikatakan baik, namun miskin motivasi dan semangat keluar dari krisis. Sebagai catatan misalnya Pidato Presiden SBY dimulai dengan menyampaikan bahwa pemerintah terus berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Presiden SBY juga menghimbau agas seluruh masyarakat mendukung program yang sedang dan akan dijalankan oleh pemerintah. Presiden SBY mengingatkan dalam pidatonya behwa permasalahan bangsa ini bukan hanya tanggungjawab dari pemerintah, tapi juga tanggungjawab dari semua elemen masyarakat. Shingga, menurut Presiden SBY, pemerintah dan rakyat Indonesia harus saling bahu-membahu menyukseskan program pemerintah tersebut. Bukan begitu cara memotivasi rakyat karena rakyat sudah lelah dengan persoalan sehari-hari, mengapa secara verbal dinyatakan untuk memikul tanggung jawab, seolah-olah pemerintah ingin mengurangi tanggung jawabnya. Seharusnya dilakukan seni berpidato dengan mengedepankan semangat berkarya bersama untuk mewujudkan kejayaan Indonesia Raya. Dalam kaitan itu, pemerintah memegang kendali dalam menjawab dan mengatasi permasalahan bangsa sementara rakyat mendukungnya dengan segala daya upaya di bidang masing-masing. Akan terdengar sangat berbeda bukan?

Pidato Presiden SBY menghimbau rakyat untuk melakukan penghematan energi. Dalam Pidato tersebut, Presiden SBY menyebutkan contoh-contoh konkrit yang dapat membuat aksi penghematan menjadi nyata. Aneh sungguh aneh, mengapa tidak ada optimisme untuk mengembangkan energi alternatif misalnya nuklir dan sumber energi lain. Seandainya kita mampu membayar listrik yang kita pakai, maka uang akan masuk ke perusahaan listrik bukan dan uang itu bisa digunakan untuk pengembangan sumber-sumber energi listrik, demikianlah berpikir progrsif untuk pengembangan lebih luas. Tetapi yang terjadi justru terbalik, berhemat listrik digambarkan sebagai kontribusi, padahal di negara maju mereka berhamburan energi dan rakyat semakin produktif karena industri tidak pernah mengalami kelangkaan energi lsitrik.

Presiden SBY juga menjelaskan bahwa pemerintah telah sekuat tega untuk memikirkan dan mengupayakan perbaikan kondisi ekonomi. Program-program pemerintah diberbagai bidang kehidupan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sekali lagi, pidato tersebut dikonsep secara keliru karena pendekatannya sangat pesimistik, ingat rakyat tidak suka dengan masa depan yang suram. Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mengupayakan perbaikan kondisi ekonomi, berapapun yang dicapai dalam periode yang singkat (kurang lebih 5 tahun) rakyat akan memberikan apresiasi sepantasnya dan tidak ada tuntutan yang melebihi kapasitas pemerintah. Optimisme tidak berati membual dengan janji-janji, tetapi kesungguhan untuk melaksanakan pekerjaan sebagai pemerintah dengan segala atribut wewenang yang diberikan kepada rakyat untuk mengaturnya.

Presiden SBY mengingatkan bahwa pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden SBY telah melakukan berbagai macam upaya perbaikan. Diantaranya telah mencapai hasil, misalnya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Ini merupakan prestasi pemerintah, ujar presiden SBY. Boleh-boleh saja mengumumkan prestasi, namun suatu prestasi yang paling baik adalah diumumkan oleh orang lain dan bukan oleh si pembuat prestasi, hal ini melanggar kelaziman.

Dalam perbaikan perekonomian, Presiden SBY menjelaskan bahwa krisis yang dialami Indonesia tersebut tidaklah hanya dialami oleh bangsa ini saja, melainkan dialami juga oleh bangsa lain. Faktor eksternal seperti kondisi perekonomian Amerika Serikat yang mengalami resesi dan harga BBM internasional berpengaruh pada perekonomian banyak negara lain termasuk Indonesia. Deskripsi dampak eksternal ke dalam perekonomian nasional seharusnya dilengkapi dengan semangat dan motivasi untuk mengatasinya sehingga tidak terdengar sebagai suatu excuse.

Presiden Sby menyatakan dalam pidatonya. Bahwa Indonesia harus bersiap-siap. Krisis ini harus dihadapi dengan kesatuan dari rakyat dalam mendukung pemerintah. Okelah bila dikatakan dalam suatu semangat membangun Indonesia Raya.

Presiden SBY dalam pidatonya menjelaskan, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang dianugrahi kekayaan alam dan segala macam sumber daya yang melimpah. Presiden SBY mengajak rakyat untuk berhemat dan mengoptimalkan penggunaan potensi tersebut untuk keluar dari krisis.

Pada bagian akhir Presiden SBY menjelaskan, bahwa kita harus meminta bimbingan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk keluar dari krisis yang mungkin akan menimpa sebentar lagi. Presiden SBY dalam pidatonya meminta agar rakyat Indonesia berdo'a kepada Tuhan untuk kebaikan bangsa Indonesia.

Sejujurnya Blog I-I sangat kecewa dengan pidato yang datar dan sarat dengan pesimisme tersebut. Mudah-mudahlah hal ini dapat menjadi koreksi bagi pidato-pidato selanjutnya.



5. Masalah sosial, budaya dan agama. Seperti pernah diangkat dalam tulisan Blog I-I sebelumnya yaitu ahmadiyah dan ahmadiyah II bahwa bergulirnya sejumlah masalah terkait dengan kebebasan agama dan aliran sesat bukan berjalan begitu saja melainkan merupakan test case yang cukup berhasil dalam mengguncang polemik publik kepada peranan pemerintah. Pada kasus aliran Eden dan Al Qiyadah, aparat hukum dapat mengambil langkah tegas. Tetapi pada kasus Ahmadiyah tidak, mengapa demikian? Hal ini sangat nyata dikarenakan kehebatan strategi pengangakatan masalah yang dilakukan dalam rangka menyibukkan pemerintah dan mayarakat Islam dengan perdebatan aliran Ahmadiyah. Kasus ini jelas menguras emosi karena terkait dengan keimanan masing-masing pihak yang bertikai. Lalu bagaimana peranan pemerintah? Sepertinya sang Master Mind yang secara efektif telah menggerakkan sejumlah kalangan Islam juga paham bahwa kontradiksi akan dengan mudah tercipta dengan keberadaan tokoh-tokoh sentral pro kebebasan beragama tanpa melihat akidah (salah-benarnya). Hal ini juga akan terpelihara dengan baik karena Ahmadiyah adalah sebuah organisasi yang rapi dan modern sehingga tidak akan mudah dipatahkan. Misalnya saja solidnya koordinasi Ahmadiyah tampak dalam merespon Keputusan Bakor Pakem yang akan disusul oleh rencana pelarangan melalui SKB Menteri. Contoh yang sederhana adalah pada respon cepat mengganti seluruh papan alamat yang bertuliskan Ahmadiyah Pusat ataupun Cabang sebagaimana dituturkan salah seorang pengurus pusat Ahmadiyah kepada Blog I-I. Dengan kata lain komando organisasi Ahmadiyah tidaklah sembarangan dan sangat efektif menyentuh kepada umatnya. Dengan adanya sistem pungutan uang yang besar sekitar 10% ke atas tentunya faktor finansial juga tidak menjadi masalah berarti. Belum lagi dengan adanya ikatan aliran kebathinan "karamah" sang Nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Melalui perhitungan dan perkiraan kasar bahwa pada kantong-kantong organisasi Ahmadiyah tercatat sekitar 3000 sampai 5000 anggota (data berdasarkan laporan agen Blog I-I di dalam Ahmadiyah), maka bila kita hitung jumlah pengikutnya yang masuk perkiraan akal adalah ambil saja rata-rata 4000 X 55 komunitas Ahmadiyah di 33 Kabupaten, seluruhnya adalah 220.000 pengikut masih jauh dibawah kebohongan klaim Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Padahal kantong Ahmadiyah yang mencapai pengikut ribuan berada di beberapa daerah di Jawa Barat dan NTB, komunitas lainnya rata-rata hanya mencapai ratusan dan bahkan ada yang puluhan, sehingga jumlah yang mendekati kenyataan semakin kecil lagi.

Keberadaan Agen Buyung (nomor 327) selaku anggota Wantimpres telah diperhitungkan secara matang untuk menahan potensi konflik lebih lama. Yaitu terciptanya tarik-menarik di tingkat elit pusat dan menumpuk emosi umat Islam dengan tuduhan radikal. Umat Islam yang berada di dalam partai-partai Islam sangat berbeda dengan radikal agama, begitu juga dengan organisasi Islam yang menentang Ahmadiyah. Masalah ini terkait erat dengan akidah agama yang tidak bisa ditawar. Memang ada sejumlah element yang terlalu "aktif" melakukan agresi kepada organisasi Ahmadiyah sehingga tampak radikal. Pada kondisi ini, popularitas SBY telah terjun bebas karena keberadaan serba tanggung yang tercipta dari para penasihatnya dan menterinya sendiri, bahkan ada kecenderungan untuk menciptakan pertentangan hukum yang semakin kompleks.

Sekali lagi kegamangan dalam mengambil keputusan karena kompleksitas persoalan tidak didekati secara strategis. Tidak akan ada keputusan yang bisa memuaskan semua pihak. Sehingga ini masalah pilihan, antara umat Islam dan pengikut aliran Ahmadiyah. Ketegasan pemerintah untuk melarang aliran sesat Ahmadiyah akan berdampak pada gugatan hukum dari Ahmadiyah yang mendasarkan argumentasinya pada jaminan kebebasan beragama dalam sistem politik yang demokratis. Kelemahan pemerintah untuk membiarkan aliran Ahmadiyah akan membuka ruang kemarahan yang dalam dari kalangan umat Islam yang telah dipropagandakan untuk anti SBY belakangan ini. Membenturkan pluralisme dengan akidah memang sangat lihai dan harus diatasi secara lihai pula.

Selain isu Ahmadiyah, masalah sosial seperti lumpur lapindo brantas, kemiskinan, kesehatan dan pendidikan juga akan mewarnai dinamika nasional Indonesia.



6. Masalah pangan dan petani. Isu yang mencakup kelangkaan benih dan pupuk, diversifikasi pertanian dan kesejahteraan petani merupakan persoalan penting yang sering diabaikan oleh pemerintah. Gonjang ganjing kelangkaan kedelai beberapa waktu lalu merupakan test case untuk kasus-kasus berikutnya yang telah menjadi lingkaran setan dunia pertanian Indonesia. Sistem pembenihan yang kurang terprogram dengan baik membuka kemungkinan ketergantungan benih impor. Biaya produksi yang tinggi dan harga komoditi pertanian yang rendah (di tingkat petani) akan menciptakan frustasi ketahanan pangan nasional Indonesia. Apabila hal ini disentuh oleh kepentingan politik, maka akan bertemulah kepentingan-kepentingan yang akan menantang kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-petani. Berhati-hatilah dengan gerakan demi gerakan di dunia pertanian, selama motifnya murni untuk peningkatan pertanian nasional dan kesejahteraan petani, tidak menjadi masalah. Tetapi apabila sentuhannya hanya kepentingan politik, akan sangat berbahaya dalam strategi ketahanan pangan nasional. Misalnya saja pengalihan fungsi lahan dengan alasan untuk komoditi yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Baik untuk kesejahteraan petani tetapi buruk untuk pemeliharaan produksi pangan nasional, buah simalakama.


7. Masalah ekonomi kerakyatan, gerakan kiri dan sosialis demokrat. Segala situasi gamang dan krisis di bidang ekonomi yang diakibatkan oleh sistem ekonomi pasar bebas (liberalisme dan neoliberalisme) adalah sasaran kaum kiri. Posisi kaum kiri Indonesia sebenarnya bisa bersinergi secara positif manakala gerakan dilakukan secara damai dan konstruktif. Namun dalam sejarahnya sangat jarang pendekatan ini dilakukan, karena kompromi dalam kaum kiri berarti penghianatan dan hampir selalu terjadi bahwa ideologi kiri tereduksi pada setiap kesempatan kompromi. Kekuatan kaum kiri adalah pada realita kehidupan ekonomi yang timpang sebagaimana potret kota Jakarta. Pada satu sisi terjadi pembangunan "kemewahan" di sisi lain terjadi proses pemiskinan. Pada kondisi nyata seperti itu, tidak perlu pemerintah terlalu banyak mengkomentari dengan segala alasan yang analitis maupun alasan logis, karena semua orang Indonesia yang terdidik sudah paham masalah itu. Apa yang perlu dilakukan adalah proses nyata dalam bentuk program penyempitan jurang ketimpangan ekonomi. Misalnya saja dengan pajak progresif dan mekanisme subsidi silang. Pertumbuhan orang kaya Indonesia menurut lembaga keuangan asal Amerika Serikat, Merrill Lynch dan Capgemini, dari hasil survei mereka yang diumumkan di Hong Kong (Nov 2007) mencapai 16,2% dibandingkan tahun sebelumnya . Jumlah orang kaya di Indonesia, dengan kekayaan di atas Rp 9 milyar, sampai penutupan tahun 2007 berjumlah 20.000 orang. Lonjakan jumlah orang kaya di Indonesia menempati posisi ketiga teratas di kawasan Asia-Pasifik. Posisi puncak ditempati Singapura dengan pertumbuhan milyardernya sebesar 21,2% dengan jumlah 67.000 orang. Menyusul India di nomor dua, yang milyardernya bertambah sebesar 20,5% atau sejumlah 100.000 orang.

Lonjakan orang kaya Indonesia berada di kota-kota besar, khususnya Jakarta dan hal itu mebbuka peluang bisnis yang bersifat konsumtif berupa pembangunan plaza eksklusif yang menjual barang-barang mewah. Seandainya saja orang-orang kaya Indonesia tersebut serius menjalankan tanggung jawab sosial untuk membangun kesejahteraan sosial dan menumbuhkan wirausaha muda, maka mereka akan memiliki efek positif dalam pembangunan nasional. Namun kesan ekslusif dan kurang peduli orang kaya di Indonesia masih kuat.

Demikian, 7 catatan Blog I-I. Mohon koreksi dari rekan-rekan Blog I-I. Mohon maaf atas kekeliruan yang mungkin terjadi dalam data dan analisa Blog I-I.

Tertanda
SW

Labels:

Comments:
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://politik.infogue.com/skenario_jatuhnya_si_butet_yogya
 
"kekisruhan" yang terjadi di indonesia memang harus bisa di cermati oleh para petinggi indonesia.terlebih lagi demi indonesia raya yang tercinta ini

-kalashnikova-
 
Si Butet Yogya bukanlah rentetan komando sejati. Komando sejati dari suatu gerakan progresif yang diskenariokan bukanlah senjata terbaik. Sesungguhnya komando yang wajib dianut adalah wajah rakyat,suara rakyat, dan rintihan negara!.Perintah utama dari komando adlah BELA NEGARA, BELA BANGSA, BELA IDEOLOGI PANCASILA.
salam, Hantu RI
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters