100 Tahun Kebangkitan Nasional - Sebuah Refleksi Kewaspadaan » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, June 08, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional - Sebuah Refleksi Kewaspadaan

Tahun ini Rekiblik Ndonez sedang merayakan peristiwa 100 tahun kebangkitan nasional. Sebuah titik balik yang seharusnya bisa membuat bangsa ini lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Euforia pesta kebangkitan nasional yang dicanangkan pemerintah, seakan menjadi sindrom baru bagi masyarakat. Media cetak dan elektronika terus menerus mensosialisasikan program yang dicanangkan pemerintah untuk bangkit.

Karena momentum ini kebetulan juga mendekati Pemilu 2009 maka tak luput beberapa tokoh politik memakai dan mempolitisir momentum ini sebagai momen politik dengan menggunakan “iklan sabun” penggalangan dan penarikan simpati masa melalui slogan-slogan mereka di berbagai media masa dan spanduk di jalan-jalan. Mencoba menjual janji tentang pengharapan akan adanya sebuah perubahan atas kondisi bangsa. “Hidup adalah perbuatan…”

Di sisi lain “kampanye motivasi” yang dicanangkan pemerintah supaya Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan menjadi sebuah ironi ketika harga BBM dinaikan sehingga memicu ekonomi berbiaya tinggi yang harus ditanggung rakyat. Sementara negara-negara pengekspor minyak sedang menikmati “petro dollar” karena harga minyak dunia yang tinggi, negara kita harus puas dengan stagnasi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kita yang dicanangkan melebihi angka 6,3 % untuk tahun ini, terjun bebas karena imbas kenaikan harga BBM.

Bagaimana kita menyikapi momentum tersebut tergantung kita tentunya. Kaum sinistis berkata, “toh itu hanyalah sebuah peringatan”. Yang lain berkata bahwa kita tidak mungkin bisa bangkit dari keterpurukan karena pemerintahnya tidak konsekuen antara kebijakan yang satu dengan yang lainnnya. Sementara pemerintah mati-matian mencanangkan dan mendorong masyarakatnya untuk bangkit dengan harapan “BISA”. Terlepas dari itu semua, setiap kita yang sudah dianugerahi dengan akal pikiran, tentunya bisa menjadikan momentum ini sebuah refleksi, dalam bentuk apapun itu.

Bagaimana refleksi tersebut harus dilakukan dilihat dari sudut pandang intelijen ? Sebuah kaum yang konon katanya menyaring semua permasalahan yang terjadi di dunia ini hanya dengan satu kalimat “Apa untungnya bagi Rekiblik Ndonez ?” (untuk senopati yang masih berpegang pada prinsip ini selamat, untuk yang sudah berubah coba refleksikan lagi). Terlepas dari apapun pandangan anda tentang intelijen, mereka dituntut untuk selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang kewaspadaan karena negara yang jaya adalah negara yang waspada, “indera waskita negara raharja”.

Tulisan ini tidak merepresentasikan pandangan seorang intel, tetapi lebih pada pandangan seorang warga negara. Karena bagi saya intelijen itu bukan profesi tetapi lebih merupakan “the way of life”. Intelijen itu bicara masalah “fungsi” bukan “posisi”. Mereka-mereka yang ditunjuk negara untuk menempati “posisi” di institusi intelijen tapi tidak “berfungsi”, bagi saya mereka tetap bukan intel. Dan bagi saya semua warga negara itu memiliki tanggung jawab sebagai intel. Silahkan bayangkan sebuah negara yang semua warga negaranya memiliki kewaspadaan tinggi, betapa kuatnya ketahanan nasional bangsa tersebut. Demikian pula seharusnya Rekiblik Ndonez.

Mari kita perhatikan, keterpurukan ekonomi kita adalah fakta yang tidak mungkin bisa dipungkiri lagi. Harga-harga melambung, daya beli masyarakat menurun, standar gizi masyarakat rendah, angka kemiskinan bertambah, angka pengangguran tinggi, banyak industri gulung tikar, angka pertumbuhan ekonomi terjun bebas, itu semua adalah konsekuensi yang sudah terjadi. Langkah paling urgent yang harus dilakukan untuk tidak memperparah hal tersebut adalah perubahan sikap dan pola pikir kita.

Sebagai bangsa yang sudah 100 tahun memiliki wawasan kebangkitan, maka sudah selayaknya kita memiliki wawasan dan pola pikir yang dewasa terhadap permasalahan bangsa. Bentuk kedewasaan tersebut yang mungkin paling sederhana adalah sikap arif untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain akan penyebab keterpurukan bangsa, melainkan lebih memfokuskan ke arah penyebab keterpurukan ini terjadi.

Sudah cukup akhir-akhir ini kita diadu domba. Entah adu domba antara FPI dengan NU lah, antara golongan ini dengan golongan itu lah, atau yang lainnya. Sadarlah kawan-kawan, cukupkanlah pertempuranmu sampai hari ini saja. Sarungkan pedangmu, masih ada pertempuran yang lebih besar yang harus kita hadapi. Potensi kalian terlalu besar kalau disia-siakan hanya untuk hal-hal seperti itu. Ini waktunya untuk rukun dalam persatuan.

Sikap waspada kiranya menjadi dasar utama dalam kita memandang segala sesuatu. Harus disadari bahwa ekonomi kita terpuruk karena sikap kurang waspada yang kita lakukan terhadap kepentingan asing di negara ini. Janganlah kita mengulangi sejarah, bahwa karena sikap kurang waspada leluhur kita, maka mereka harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal, yaitu hidup menderita di bawah penjajahan oleh bangsa kolonial selama berabad-abad.

Ekonomi kita amburadul, diacak-acak oleh kepentingan asing yang memakai tangan-tangan rakus mereka-mereka yang sebenarnya adalah putra-putra terbaik bangsa tetapi “keblinger”. Saya tidak akan menyalahkan mereka karena ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan tetapi waktu untuk rekonsiliasi nasional demi bangsa dan negara, toh sudah banyak yang menyalahkan mereka. Saya tidak akan menyebutkan secara spesifik di sini karena tulisan ini sifatnya bukan merupakan assessment tetapi sebuah refleksi. Himbauan saya cuma satu, sadarlah kawan !

Saya juga ingin menyerukan kepada segenap elemen bangsa untuk waspada dan mengingat kembali, bahwa sejarah penjajahan atas negeri kita berabad-abad yang lalu tidak semata-mata dimulai dengan penaklukan militer secara besar-besaran tetapi melalui sisi ekonomi, sebuah hal yang sederhana yaitu perdagangan yang kita lakukan dengan perusahaan dagang Belanda, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Karena leluhur kita kurang waspada waktu itu, maka VOC berhasil menguasai wilayah kita satu demi satu. Baru setelah mereka terbukti korup, maka Pemerintah Kerajaan Belanda mengambil alih kekuasaan tersebut. Tetapi penetrasi awalnya hanyalah melaui perekonomian, yang merupakan lubang vital untuk neo-imperalisme.

Saya cuma memberikan gambaran bahwa, bahkan sampai hari ini, bangsa kita masih terlalu kuat kalau untuk ditaklukkan secara militer. Saya pikir negara sekaliber Amerika sekalipun pasti berpikir ribuan kali untuk melakukan agresi militer untuk menginvasi Indonesia. Betapa tidak, negara dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa, dengan garis pantai terpanjang di dunia yakni 81.000 kilometer, dan terdiri dari 17.504 pulau, merupakan resistensi besar untuk penguasaan secara militer atau bahkan secara geopolitik sekalipun. Diperlukan angkatan perang yang sangat besar utuk melakukan hal tersebut. Dalam hal ini mbak Connie Rahakundini Bakrie yang saya hormati mungkin lebih bisa menjelaskan karena beliau adalah pakarnya.

Karena itulah maka sisi perekonomian di negara kita adalah lubang yang sangat rentan untuk masuknya kepentingan-kepentingan asing. Sekali lagi saya tekankan, mari waspada. Rencana privatisasi 30 BUMN pada tahun 2008 ini adalah salah satu langkah bunuh diri ekonomi, karena hal ini berarti membuka lubang yang lain untuk masuknya kembali kepentingan-kepentingan asing di negeri ini, sementara lubang-lubang yang sudah ada belum ditutup.

Dan saya menghimbau kepada segenap senopati dimana pun engkau berada, kaum ronin maupun yang masih terikat kedinasan. Yang mengaku tunduk atau pun yang tidak mau tunduk kepada Seno Raya. Dengan momentum 100 tahun kebangkitan nasional ini marilah kita berekonsiliasi, mengubur semua luka-luka lama. Kalau bangsa ini ingin bertahan, maka bentengnya harus rapat, tidak boleh ada lubang. Engkau harus berada di garda terdepan dan suri tauladan dalam kewaspadaan. Engkau yang sudah bersumpah menjadi Bhayangkara Negeri, benteng NKRI, berjuanglah kawan, pekerjaan rumah kita menumpuk. Ingatlah sumpah yang telah engkau ucapkan dahulu di bawah Sang Saka Merah Putih :

DOKTRIN PRAJURIT INTELIJEN

1. Sebagai prajurit perang fikiran Negara Republik Indonesia aku lahir.

2. Sebagai prajurit perang fikiran aku berusaha menjamin keselamatan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

3. Sebagai prajurit perang fikiran aku bertempat luas dan dalam.

4. Sebagai prajurit perang fikiran aku bekerja dan berjuang di mana saja aku berada.

5. Sebagai prajurit perang fikiran aku hilang.

SUMPAH PRAJURIT INTELIJEN

1. Setia kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia yang demokratis, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2. Memegang teguh disiplin, patuh dan taat pada pimpinan, dengan tidak membantah perintah atau putusan dinas.

3. Menjunjung kehormatan korps intelijen setinggi-tingginya di setiap tempat, waktu, dan dalam keadaan bagaimanapun juga.

4. Meningkatkan kemampuan intelijen, dan pantang menyerah dalam melaksanakan segala tugas dan kewajiban jabatan.

5. Memegang rahasia negara sekeras-kerasnya.

Semoga semua indera para senopati tetap waskita…

“Nations, like men, have their own infancy.”

-Henry Bolingbroke (1678 - 1751)-

Comments:
hilang tidak dicari..
mati tidak diakui..
berhasil tidak dipuji..
gagal dicaci maki..
 
OM SENO, DARI MANA ANDA MENGUTIP DOKTRIN PRAJURIT PERANG PIKIRAN. SAYA HANOMAN 61, SALAM HORMAT. PANTANG MUNDUR DEMI INDONESIA RAYA. MERAH PUTIH !!!!!
 
om seno saya prajurit perang pikiran hanoman 61, lanjutkan perjuangan, kibarkan merah putih di seluruh penjuru indonesia raya. pantang mundur, jgn menyerah. HIDUPLAH INDONESIA RAYA
 
cah bodo, darimana anda kutip doktrin prajurit perang pikiran ini.
 
merekalah prajurit perang pikiran sejati yang rela berkorban untuk Indonesia RAYA.....rusuh_dj@yahoo.com
 
sesaat memangmenumbuhkan rasa nasionalisme dan bangga menjadi bangsa indonesia.
Apakah setelah membaca artikel tsb, rasa itu masih ada????
 
Saya hanya ingin tau apa menurut anda NKRI sudah bangkit??

p d w 01
 
nah lo...

dah ada yang tau tu semboyannya intelejen!!!!
berhasil tak dipuji
gagal dicaci
hilang tak dicari
mati tak di akui...

bagi yang ingin jadi intelijen... harus siap dengan nasib seperti itu..

nasib....nasib...
 
nah itu ada yang tahu semboyan intelijen...

berhasil tak dipuji
gagal dicaci maki

hilang tak dicari
matipun tak diakui

bagi yang ingin jadi agen intelijen harus siap menghadapi nasib sperti itu...

nasib,,,nasib...
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters