BBM, Ahmadiyah, AKKBB, NU, FPI, dan Komando Laskar Islam » INTELIJEN INDONESIA

Monday, June 09, 2008

BBM, Ahmadiyah, AKKBB, NU, FPI, dan Komando Laskar Islam

Pada 21 April 2008, Blog I-I telah berusaha menyampaikan catatan intelijen melalui artikel Ahmadiyah. Namun sebagaimana telah digariskan dalam jalannya sejarah bangsa Indonesia, melalui peristiwa demi peristiwa, maka terjadilah insiden MONAS yang sampai sekarang mengundang tanda tanya Intelijen. Ada 3 jawaban intelijen yang cukup akurat tentang the master puppet yang sangat lihai di negeri ini (namun tidak akan dibahas karena akan memperkeruh suasana). Ibaratnya sejak lama, Blog I-I telah menyampaikan bahwa "perang domestik" yang sedang terjadi adalah antar pihak-pihak yang paham betul tentang intelijen. Dengan demikian, penyelesaiannya-pun akan sulit melalui jalur hukum.

Laporan AKP Pengging dan Catatan Mahasiswa Tunas Bangsa, setidaknya sedikit membuka kulit permukaan insiden demonstrasi mahasiswa. Namun hakikat persoalannya belum tersentuh sama sekali. Apabila Blog I-I melakukan pengungkapan kebusukan kelompok elit tertentu yang memiliki kemampuan intelijen, maka hal itu sama saja dengan semakin menghancurkan sendi-sendi kebangsaan. Faktanya , saat ini kita harus menghemat tenaga domestik untuk survival menghadapi dinamika internasional yang masih labil dan bisa berdampak hebat ke dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dengan demikian, meredakan ketegangan dan upaya dialog intelijen jauh lebih penting daripada menabuh genderang perang yang akan menciptakan konflik yang meluas di seluruh nusantara.

Salah satu dosa besar yang terus menghantui perjalanan bangsa Indonesia adalah sifat khianat (tidak amanah). Lho apa kaitannya dengan judul yang diangkat di atas???


Sebagaimana sudah saya putuskan untuk tidak masuk dalam wilayah praktis yang akan langsung menusuk ke jantung persoalan, maka tulisan ini pun hanya untuk menyentuh kesadaran publik untuk mewaspadai setiap motivasi gerakan dan betapa mudahnya motivasi yang baik itu digelincirkan masuk dalam perangkap strategi kelompok tertentu.

Sifat tidak amanah sangat erat kaitannya dengan peristiwa belakangan ini yang mencakup masalah BBM, Ahmadiyah, AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), FPI (Front Pembela Islam), serta KLI (Komando Laskar Islam).

Dalam kasus BBM, amanah penderitaan rakyat yang disuarakan mahasiswa kemudian menjadi tidak amanah lagi manakala aksi penolakan kenaikan BBM disertai dengan tindak anarkisme. Sehingga kerusuhan yang muncul dari aksi penolakan kenaikan BBM perlu diteliti dengan seksama baik dari pihak Polisi maupun mahasiswa. Ketelitian internal Polisi dalam mencermati perilaku aparat kepolisian perlu dilakukan karena secara psikologis, respon-respon Polisi dalam menjaga ketertiban dan menegakkan hukum sampai sekarang masih mudah ditebak (mudah dipancing karena arogansi dan sistem pendidikan yang belum direformasi menjadi pengayom masyarakat). Bagi para master puppet, sangat mudah memprovokasi Polisi karena watak dasarnya yang masih militeristik dan sewenang-wenang. Hal ini merupakan dampak wajar dari kepemilikan senjata secara legal dan kekuatan hukum yang disandang sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

Sementara dari pihak mahasiswa, juga sangat mudah ditebak sebagai suatu respon-respon spontan kaum muda yang cenderung meledak-ledak. Betapapun intelektualitas menjadi sandaran utama dalam mengambil keputusan atau tindakan, apabila dalam suasana panas demonstrasi, amat sulit untuk dikendalikan karena situasinya lebih tepat dikatakan sebagai kerumunan (crowd). Terlepas dari kerumunan apapun, keadaan panik (Panic) adalah tahapan wajar secara psikologis massa yang akan muncul dari panasnya suasana atau meledaknya suatu peristiwa. Panik memiliki wujud tindakan yang macam-macam, dalam suatu kerumunan keadaan panik mewujud dalam bentuk; sebagian lari tunggang langgang, sebagian melakukan tindak kekerasan, sebagian teriak-teriak, sebagian ketakutan, sebagian justru semakin berani, serta berbagai macam keadaan lainnya. Dalam keadaan seperti itu, sangat sedikit manusia yang bertahan dalam keadaan tenang sehingga situasi chaos adalah peristiwa yang tidak terelakkan dari keadaan panik.

Sebagai tambahan, bahwa cepatnya berita bergerak melalui teknologi modern semakin mempercepat panasnya suasana. Beredarnya sms melalui HP sebelum peristiwa, saat peristiwa dan paska peristiwa mendorong terciptanya ketegangan publik yang meluas serta kedangkala melampaui ketegangan yang ada di lokasi peristiwa. Peranan media massa yang mempercepat efek peristiwa untuk menyebar ke seluruh nusantara juga sangat efektif dalam pemeliharaan ketegangan publik tentang suatu peristiwa.

Insiden Monas
Disana ada isu sentral Ahmadiyah, serta terjadi benturan antara AKKBB versus FPI bersama KLI. Sebuah perdebatan lama yang seharusnya tidak perlu masuk dalam wilayah benturan fisik. Namun, karena potensinya begitu kuat, maka sekali lagi hal ini tidak terelakkan dan sangat mungkin untuk terjadi lagi di masa mendatang.

Akar konflik yang kuat dalam sudut pandang ekstrim masing-masing pihak merupakan suatu keadaan konstan apabila tidak disentuh. Mengapa saya katakan konstan, hal ini terbukti dari perjalanan ajaran Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) yang telah lama di Indonesia. Sedangkan naik-turunnya konflik mengenai ajaran Mirza tersebut merupakan pertarungan lama yang kebetulan sekarang menjadi case study ditengah-tengah pertarungan ideologi Islam liberal dengan Islam konservatif. Sekitar 75 tahun Jemaah pengikut Mirza telah ada di Indonesia, tentu saja kekuatannya cukup lumayan dalam mempertahankan dan menyebarluaskan organisasinya. Dalam wilayah ideologi liberal yang semakin kuat di Indonesia, Ahmadiyah bagaikan menemukan ruang interaksi yang lebih bebas. Pada titik ekstrim kelompok liberal memaknai ajaran Islam sebagai sebuah domain individualistik yang harus dijamin keterbebasan dalam penafsirannya.

Sementara itu, pemurnian ajaran Islam dalam berbagai varian dan model penafsiran juga bergerak kuat di Indonesia. Khususnya dari kelompok Salafiyah dan Wahabiyah yang menolak setiap penyimpangan ajaran dari Al Quran dan Hadits Shahih. Pada titik ekstrim, liberalisme dilihat sebagai merupakan suatu pemurtadan dari ketaatan pada ajaran Islam yang murni dan utuh.

Bagaimana dengan NU ? NU yang mana ? Apabila kita mengacu pada sejarah manuver-manuver politik NU yang diwariskan oleh K.H. Chasbullah Wahab maka kita akan mendapati NU yang gamang, cair dan sinkritis dengan isu-isu politik. Apabila kita mengacu pada wejangan KH. Hasyim Asy'ari maka kita akan dapati interaksi (dialog) antara ajaran Islam dari tanah Arab dengan kearifan lokal di Jawa yang bersahaja dan bersahabat dengan lingkungan masyarakat, sebagaimana diwariskan oleh Walisongo. NU yang sejak awal pendiriannya memiliki perbedaan pemahaman dengan landasan Wahabi di Kerajaan Ibnu Saud di Arab Saudi telah melalui perjalanan sejarah diskursus Islam Nusantara yang penuh dinamika. Meskipun demikian, dalam cakupan Ahlul Sunnah Wal Jamaah, NU dengan berbagai organisasi Islam yang besar lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, Masyumi, PTI, Al Irsyad, dll dapat berjalan beriringan dengan sedikit khilafiyah pemahaman yang masih dapat ditolerir masing-masing pihak.

Bagaimana dengan NU modern? ada beberapa hal penting yang perlu disadari oleh NU sebagai sebuah oraganisasi Islam yang besar di Indonesia. Pertama, adanya identifikasi personal kepada sosok Gus Dur merupakan kemunduran yang sangat dahsyat dalam pergerakan organisasi NU. Hal ini seolah-olah sering menjadi tidak terelakkan bagi PB NU untuk memperhitungkan pendapat atau posisi politik Gus Dur. Meskipun Gus Dur sudah berada di luar struktur NU, namun pengaruhnya masih kuat sehingga tidak mengherankan apabila ada elemen NU liberal yang bergabung dengan AKKBB dan melakukan aksi menuntut pembubaran FPI. Kedua, sejumlah lembaga yang berwarna liberal dalam tubuh NU adalah suatu proses liberalisasi yang merupakan perlawanan intelektual terhadap teks-teks kitab kuning. Liberalisasi NU telah mencapai titik rawan yang diperkirakan akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan NU secara struktural di masa mendatang.

FPI dan KLI merupakan cabang dari pemahaman Islam konservatif yang mengutamakan perjuangan Islam dalam melawan maksiat dan tekanan dunia Barat (ideologi liberal atau neo-liberal). Pada titik yang lebih ekstrim ada MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) serta pada titik yang paling ekstrim ada Salafy Jihad.

AKKBB Aliansi yang dibentuk oleh beberapa lembaga yang peduli terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, untuk melakukan kampanye anti kekerasan atas nama agama, dan melakukan advokasi terhadap kelompok-kelompok yang ditindas atas nama perbedaan keyakinan dan agama. Dengan landasan kebebasan, maka disadari ataupun tidak ideologi utamanya adalah liberalisme dan humanisme. Sekitar 72 macam organisasi menjadi satu aliansi yang lumayan kuat dalam mengadvokasikan kebebasan beragama. Mereka yang membetuk aliansi tersebut antara lain Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), National Integration Movement, The Wahid Institute, Kontras, LBH Jakarta, Jaringan Islam Kampus, Jaringan Islam Liberal, Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Generasi Muda Antar Iman, Institut DIAN/Interfidei, Masyarakat Dialog Antar Agama, Komunitas Jatimulya, eLSAM, Lakpesdam NU, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Lembaga Kajian Agama dan Jender, Pusaka Padang, Yayasan Tunas Muda Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Crisis Center GKI, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Forum Mahasiswa Ciputat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Tim Pembela Kebebasan Beragama, El Ai Em Ambon, Fatayat NU, Yayasan Ahimsa (YA), Jakarta, Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dinamika Edukasi Dasar (DED) Jogjakarta, Forum Persaudaraan Antar-Umat Beriman Jogjakarta, Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Surakarta, SHEEP Indonesia Jogjakarta, Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya, Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya, LSM Adriani Poso, PRKP Poso, Komunitas Gereja Damai, Komunitas Gereja Sukapura, GAKTANA, Wahana Kebangsaan, Yayasan Tifa, Komunitas Penghayat, Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia NTB, Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok, Forum Komunikasi Lintas Iman Gorontalo, Crisis Center SAG Manado, LK3 Banjarmasin, Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulawesi Selatan Makassar, Jaringan Antar-iman se-Sulawesi, Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG KALSEL) Banjarmasin, PERCIK Salatiga, Sumatera Cultural Institut Medan, Muslim Institut Medan; PUSHAM UII Jogjakarta, Swabine Yasmine Flores-Ende, Komunitas Peradaban Aceh, Yayasan Jurnal Perempuan, AJI Damai Yogyakarta, Ashram Gandhi Puri Bali, Gerakan Nurani Ibu, Rumah Indonesia, dan BEM STF Driyarkara. Lebih tepat bila dikatakan AKKBB sebagai sebuah jaringan LSM yang berkonsentrasi dalam soal kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Sekarang kita masuk dalam wilayah psikologi intelijen yang melihat keadaan potensi konflik tersebut. Intelijen yang jahat akan segera melihatnya sebagai suatu potensi untuk menciptakan ketegangan publik baik dari tingkat konflik terbuka (fisik-anarkisme-chaos)maupun dari keadaan saling curiga (pemeliharaan konflik berkesinambungan). Intelijen yang baik akan segera melihat bahaya perpecahan bangsa yang disebabkan oleh jauhnya titik temu dari sudut pandang liberalisme agama dan konservatifisme agama. Sehingga perlu diupayakan pendekatan-pendekatan pemahaman demi keutuhan bangsa Indonesia.

Bila rekan-rekan membaca secara seksama kondisi psikologis massa pada keadaan demonstrasi, maka ada suatu tahapan-tahapan pematangan situasi menuju keadaan panik yang mendorong meledaknya anarkisme. Kasus Insiden Monas berbeda dengan kasus Insiden Unas namun terjadi dalam periode waktu yang berdekatan. Kita bisa saja secara dangkal menganalisanya sebagai sebuah pengalihan isu dengan isu, namun kita juga bisa lebih fokus pada delik peristiwa yang menarik untuk diselidiki latar belakangnya. Apakah semua peristiwa itu natural sebagai dampak psikologis dari suatu keadaan yang tidak terelakkan, ataukah ada suatu perencanaan matang yang telah disusun proses pentahapannya?

Saya serahkan pertanyaan tersebut kepada segenap komunitas intelijen, elit politik, serta kaum intelektual Indonesia.

Sabda kunci kedua dari saya adalah sbb:

Dengarlah! tanggalkan sifat khianat
Rela Ikhlas dalam membangung rakyat Indonesia
Jangan panik dalam setiap suasana
Perhatikan setiap kejanggalan peristiwa


Salam
SW




Comments:
Pembubaran Jamaah Ahmadyah maupun FPI bukanlah sebuah solusi ditengah kondisi bangsa yang masih labil akibat kenaikan BBM. Pembubaran ormas tersebut hanya akan menimbulkan dampak baru yaitu salah satunya liarnya operasi mereka ditengah masyarakat yang bisa menimbulkan keresahan sosial yang semakin melebar. Dalam alam demokrasi, tidak ada istilah penyelesaian masalah dengan menggunakan kekerasan apapun bentuknya.
 
Adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : “tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya” / pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta / supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma /

persetan dengan Surga® sejak parameter pahala / diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa / kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa / target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala /

karena aku adalah libido keamarahanmu yang terangsang dalam genangan darah / selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah / melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola / penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera /

para manusia-unggul warisan Orientasi Mahasiswa / paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K / B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural / persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar / partai bisa ular, belukar liberal /

Gengis Khan mana yang coba definisikan moral / persetankan argumentasi membakar bara masalah / dengan kunci pembuka anti-dialektika komprehensi satu bahasa / instruksi air raksa mereduksi puisi hingga ke level yang paling fatal / kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi / wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal / distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai

Untuk setiap kebenaran dan keagungan yang kau bela dengan dakwah / dan membuat orang lain mati bersamamu / untuk setiap ide yang kalian berangus atas nama surga yang kalian harapkan /

Aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang dianggap layak bongkar / dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar / jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral / sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal / batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah / tipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah / jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah / lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah / lubang tai sejarah, memang dunia adalah / kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah /

jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir / berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai arang terakhir / sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita / seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda / untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian / tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan /

mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi / propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi / jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap / maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap/ fasis yang baik adalah fasis yang mati / fasis yang baik adalah fasis yang mati / fasis yang baik adalah fasis yang mati / tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami! /

Kultum Dasamuka / dengan atau tanpa label agama / fasis tetaplah fasis /

Apakah kita akan diam saja melihat pola iblis ini / apakah kita akan diam saja menyaksikan mereka diam-diam menanamkan bibit-bibit fasis pada anak-anak kita / kita harus segera memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya / mereka itu hanyalah sampah masyarakat / yang tak pernah layak untuk hidup di bumi indonesia / mereka hanyalah orang-orang yang tak pernah diberi izin untuk hidup oleh tuhannya / dan hanya layak dilenyapkan /
 
kang-kang, andakan pasti juga paham, lha wong namanya intelijen kan ndak bersifat, ndak baik dan ndak buruk, make up nya saja yang bersifat
 
ah anak2 pramuka...
masih saja salah mengikat tali..
 
Gus Im: "PKS Mainan Baru Amerika"
20 Desember 2008 17:33:07

Analisis menarik tentang fenomena PKS dikemukakan pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim). Gus Im menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang luas di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat. Dikatakannya, keadaan dunia berubah pasca perang dingin. Dunia menjadi kawasan pasar bebas sehingga dikehendakilah masyarakat yang pro pasar. Sementara kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas. ”Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global,” katanya.

Gus Iim berbicara dalam acara refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta, Kamis (18/12).

Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sebagai organisasi yang berjenjang global, PKS terpolarisasi dalam beberapa kelompok. “Di dalamnya memang retak-retak. Yang satu berkiblat ke Departemen Luar Negeri Amerika, satu lagi terkait dengan DI/TII tapi semuanya Amerika juga,” katanya.


Tidak Ada Reformasi

Menurut Gus Iim, reformasi Indonesia sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah peristiwa penjatuhan Soeharto oleh Amerika Serikat. Menurutnya, pasca perang dingin Amerika sudah tidak perlu lagi “centeng” di beberapa negara, termasuk Soeharto.

"Gelombang demokratisasi itu sebenarnya tidak ada. yang ada adalah cerita bahwa Amerika sedang sibuk membawa pembaharuan pengelolaan ekonomi di negara kaya minyak dan mineral,” katanya.

Bersamaan dengan itu kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap sudah tidak dibutuhkan.

Dikatakannya, sebelumnya memang dimunculkan dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis. Islam yang tradisionalis dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) disingkirkan. Kelompok yang identik dengan kaum sarungan ini dianggap tidak layak turut serta dalam pembangunan ekonomi sehingga dianggap tidak berhak mendapatkan akses.

Namun, lanjut Gus Iim, meski tak mendapat akses langsung, kelompok tradisionalis bergerak dan berkembang terus. Anak-anak dari kelompok sarungan ini belajar berbagai macam disiplin ilmu, selain ilmu keagamaan, sehingga bisa beraktifitas di mana-mana. (Alf/Diolah dari NUOnline)
 
Siapa yang diuntungkan dengan perubahan atau kecenderungan ini?

http://www.dw.de/lukisan-mooi-indie-yang-pudar/a-16621119
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters