Muchdi oh Muchdi » INTELIJEN INDONESIA

Friday, June 20, 2008

Muchdi oh Muchdi

Beberapa minggu sebelum penahanan Bung Muchdi PR, Blog I-I mendapatkan detail perkembangan informasi seputar bidikan kasus Munir untuk dibawa kemana.

Memang sedih ketika menyaksikan mantan-mantan pejabat tinggi negara menjadi pesakitan dalam delik pidana. Lihat saja bagaimana mantan KAPOLRI Bung Rusdiharjo dicampakkan dalam kasus korupsi yang melilitnya. Lihat pula bagaimana kasus melilit Bung Muchdi PR yang sejak kemarin secara resmi memasuki masa tahanan selama 20 ke depan. Hukum telah menjadi panglima terdepan dan sumpah darah korps sudah menjadi masa lalu. Hal itu mungkin bisa menjadi kabar baik bagi penegakkan hukum, tapi siapa yang tahu bagaimana dampaknya ke depan?

Beberapa faktor yang cukup menjengkelkan dari kasus matinya Munir adalah pergeseran dan permainan busuk yang dikelola sedemikian rupa seolah-olah kasus ini begitu hebatnya, padahal sangat sederhana. Kepentingan-kepentingan tersembunyi yang kuat untuk mendorong kehancuran institusi keamanan seyogyanya diperhatikan. Berikut ini beberapa catatan penting yang perlu disimak oleh segenap komunitas intelijen:


Pertama, Polisi sudah tahu sebagian besar cerita matinya Munir, namun karena ketiadaan barang bukti yang kuat dan langsung membuktikan secara sungguh-sungguh sebab-sebab kematian Munir, maka terjadi kolaborasi dengan aktivis penggiat hak asasi manusia guna merancang skenario penyelesaian kasus Munir. Hubungan tersebut bersifat mutualisme karena para aktivis seperti Usman Hamid juga membutuhkan prestasi besar. Penyelesaian kasus Munir bagi Usman Hamid adalah segalanya karena Usman tidak memiliki prestasi yang berarti dalam kasus-kasus HAM di Indonesia. Beberapa lingkar dalam Kontras sangat memperhatikan gerak-gerik Usman yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan Munarman.

Kedua, apabila Polisi memang sudah tahu mengapa kasus Munir menjadi berlarut-larut sampai bertahun-tahun. Hal ini tidak lain guna memuluskan salah satu calon presiden pada pemilu 2009. Pengorbanan akan dilakukan semaksimal mungkin kepada musuh calon presiden tersebut. Hanya saja ada satu hal yang kurang diperhatikan, yaitu belum juga ada pembersihan citra BIN dari tuduhan sebagai dalang pembunuh Munir. Hal itu jelas sangat menyakitkan seluruh insan intelijen yang pernah dan masih aktif di lembaga intelijen. Dengan kata lain, permainan politik yang memanfaatkan matinya Munir telah mengesampingkan kredibilitas Intelijen. Hal ini sebenarnya tidak dapat ditolerir sedikitpun. Perhatikan bagaimana media massa melakukan pemberitaan yang bombastis dan penuh prasangka serta menggriring pada kesimpulan tertentu. Misalnya dalam BIN Jangan Hambat Polri Ungkap Dalang Pembunuh Munir, saya kurang mengerti apakah Bung Patrialis Akbar dari PAN kurang informasi, sengaja atau tolol? Bagaimana mungkin BIN menghalangi pengungkapan kasus Munir karena sesungguhnyalah seluruh informasi sudah di tangan Polisi. Kemudian juga bagaimana wartawan Detik Fitraya Ramadhanny mengemas pembukaan alinea berita : "Tangan hukum akhirnya menyentuh BIN dengan ditahannya mantan Deputi V BIN Mayjen (Purn) Muchdi PR". Apakah hal itu tidak menyesatkan ? Perlu ada klarifikasi apakah kasus Munir itu urusan resmi BIN atau bukan, mengapa media massa entah sengaja atau tidak senang sekali melempari institusi BIN dengan ungkapan, cara pemberitaan dan pencitraan yang bolehlah disamakan dengan kegiatan melempari muka BIN dengan kotoran sapi.

Ketiga, bukti-bukti meyakinkan dalam pengungkapan kasus Munir sudah ada di tangan Polisi namun dikelola sedemikian rupa sehingga waktu yang termakan menjadi sangat panjang. Hal ini dalam kasus yang lebih kecil dan lebih sederhana juga tampak dalam kasus insiden Monas. Perhatikan bagaimana Polisi mengelola kasus tersebut yang pada gilirannya menjadi lumayan panjang. Apakah itu sengaja atau tidak ?

Keempat, apabila Polisi memang ingin mengambil prestasi gemilang dari pengungkapan kasus Munir...sudahlah selesaikan saja segera dan jangan biarkan antek-antek asing yang bersembunyi dibalik kedok gerakan civil society mengambil peran untuk seolah-olah berprestasi juga. Harus dilakukan pemutusan hubungan demi profesionalitas Polisi. Lucu sekali apabila Istri Munir diinformasikan bahwa Polisi akan menangkap tersangka sebelum penahanan dilakukan. Lebih parah lagi, Polisi juga membahas akan membidik sejumlah tersangka bersama-sama antek-antek asing seperti dalam berita ini. Adalah dibenarkan oleh hukum bahwa Polisi dalam pengungkapan kasusnya melakukan penyelidikan, penyidikan, baik melalui berbagai teknik pengumpulan barang bukti dan informasi, interogasi, dll. Namun berdiskusi dengan pihak-pihak yang mungkin cenderung bias dan telah memiliki prasangka tertentu bahkan dalam pembidikan terhadap tersangka dalam suatu kasus, benar-benar ajaib dan hal ini bisa menjadi cacar hukum yang serius. Bahkan dengan tim ahli sekalipun, posisinya adalah memberikan second opinion dan bukan mendiskusikan siapa yang akan ditangkap.

kelima, kepada segenap korps Baret Merah dimohon kesabarannya dan mohon dimaklumi posisi Blog I-I adalah tetap obyektif dengan meluruskan cara kerja Polisi dan mengungkapkan kebusukan niat-niat "baik" aktivis HAM. Sementara dalam genderang perang menjelang pemilu 2009, dimohon kepada semua pihak untuk sabar dan waspada serta dalam kompetisi dalam negeri yang sehat juga meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan asing yang berupaya melemahkan institusi keamanan dan pertahanan di Indonesia.

Demikian semoga bermanfaat dalam memperluas cakrawala segenap pembaca Blog I-I. Kritik dan saran tetap terbuka bagi siapapun warga negara Indonesia yang masih memiliki kepedulian terhadap tanah air dan bangsanya.

SW

Labels:

Comments:
artikel anda :

http://hukum-kriminal.infogue.com/
http://hukum-kriminal.infogue.com/muchdi_oh_muchdi

jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pambaca.salam blogger!!
 
terlepas dari masing masing individu maupun kelompok dalam keberpihakannya kepada suatu institusi maupun kelompok tertentu, sudah saatnya perwira intelijen indonesia dengan melibatkan barisan muda rakyat secara tidak langung( jika diperlukan ) untuk mengambil langkah nyata dalam mengantisipasi, menanggulangi setiap skenario yang merusak rakyat & bangsa Indonesia.tergerak atas nama NKRI serta diri masing masing individu akan tanggung jawabnya secara moril terhadap sesama dan tuhannya.

(jangan campurkan yang benar dan yang batil,karna sebenarnya anda semua tahu yang benar tersebut, tetapi menyembunyikannya).
ini adalah inti.
pikirkan!
 
Kenapa ya...media massa tidak ada yg pernah mengungkap siapa Munir? Siapa pula yg di belakang Munir? Darimana dana Kontras di dapat?...Apa perlu diungkap pula semua ini?
Sungguh...ini membahayakan untuk institusi keamanan negeri ini...
 
Munir merupakan salah satu ikon pergerakan hak asasi manusia yang memiliki akses ataupun koneksitas dengan berbagai lembaga Ham di dunia international. Karena kematiannya pula, maka banyak pihak yang memiliki kepentingan langsung atau tak langsung segera memberikan respons baik hanya sebuah pernyataan lisan sampai pada tindakan embargo penerbangan yang dialami beberapa maskapai penerbangan Indonesia yang melintas di wilayah Eropa.Sungguh tindakan yang ironi, tatkala Munir mati yang melakukan pembelaan sungguh luarbiasa tetapi tatkala rakyat jelata yang mati karena mengalami kelaparan tidak ada pembelaan yang bersifat sistematis sampai politis. Ada apa ? Sekali lagi, perlu ada koreksi terhadap gerakan Ham yang tak berbanding lurus dengan perbaikan ekonomi maupun sosial masyarakat. Yang terjadi justru munculnya pemikiran dan gerakan politik yang bersifat diametral antara lembaga Ham dengan Lembaga Negara yang memunculkan sifat atau benih pertentangan yang tak kunjung padam. Pada hal jelas, bahwa demokratisasi negara juga menjamin hak hidup seseorang dari ancaman pembunuhan dari pihak manapun juga. Dalam hal kasus pelanggaran Ham terlebih dulu menggunakan asas praduga tak bersalah. Penangkapan Muchdi PR seolah masyarakat yang terkendalikan oleh pers menuduh BIN secara kelembagaan melegalkan aksi pembunuhan Munir. Padahal BIN merupakan lembaga intelijen yang mengawal dan mengamankan segenap program dan kebijakan Presiden selaku mandataris rakyat.Mungkinkah BIN mengkhianati rakyat ? Jika BIN berani mengkianati rakyat maka presiden pun selaku pemegang komando tertinggi BIN juga pasti dipertanyakan tanggungjawabnya dalam melindungi segenap tumpah darah indonesia raya ini.Kasus Munir bukan lagi murni kasus kriminalitas tetapi sudah menjadi komoditas politik yang tak berakhir pada penangkapan Muchdi saja. Pasti, Polisi pun sudah memperhitungkan nilai jual kasus ini untuk memperbaiki citra lembaganya yang sebentar lagi akan memeperingati Hari Bhayangkara dan sebagai kado terindah Sutanto di masa akhir jabatannya.Siapapun yang terlibat dalam rangkaian perencanaan dan eksekusi akhir Munir harus tetap diproses sesuai koridor hukum yang berlaku di Indonesia. Karena hal ini juga menjadi pembelajaran bagi Indonesia yang menapaki tahap-tahap demokrasi yang sebenarnya. Bagi kalangan pers juga harus jujur dan obyektif dalam mengungkapkan kasus Munir agar supaya pers benar-benar melakukan fungsinya sebagai pendidik sehingga masyarakat menjadi cerdas. Pers dalam kerja jurnalistiknya jangan menganut trik window dressing sehingga informasi yang diterima masyarakat hanya sepotong-sepotong yang riskan akibatnya bagi pembentukan pola pikir rakyat yang jernih dan sehat. Pers juga jangan mudah tergoda untuk melakukan komersialisasi objek berita demi mengejar jumlah tiras dan iklan saja.Bagi kalangan pegiat Ham juga perlu memahami kontek persoalan Munir secara matang dan komprehensif jangan karena menyangkut salah satu personil BIN lantas mengedepankan posisi pemikiran dan tindakan yang frontal dan diskriminatif terhadap BIN seolah-olah bahwa pembunuhan Munir merupakan proyek BIN atau Negara. Penilaian subyektif seperti itu akan mudah dimanfaatkan oleh pihak asing untuk terus menggembosi dan memperlemah mental para personil prajurit TNI sebagai ujung tombak pertahanan negara Indonesia Raya. Disisi lain pihak BIN harus terus melakukan reformasi diri menuju lembaga yang profesional dengan integritas yang tinggi dalam menjaga NKRI. Semoga jajaran Baret Merah dan BIN serta keluarga besar mereka mendapat kebesaran hati dan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian yang mendera selama ini.
 
Saya sekarang sangat kecewa dengan hampir semua media baik cetak dan terutama media televisi karena dalam pemberitaannya sama sekali sudah tidak netral dan sudah berpihak kepada pihak-pihak tertentu yang saya rasakan sebagai kaki tangan kepentingan asing dan kepentingan politik sesaat seseorang untuk pemilu 2009. Saya merasakan mulai dari kasus Munir, kasus demo mahasiswa, dan kasus monas. Dan lebih parah lagi mereka menggunakan jargon-jargon Pancasila yang biasa dipakai oleh penguasa jaman dahulu dalam memberangus kelompok yang tidak sejalan. Ini membuat saya jadi prihatin bahkan sekarang mulai menggugat keberadaan Pancasila yang selama ini tidak memberi kontribusi positif.
 
Hidup tak punya nama Mati tak kenal siapa (grilda)
 
mas..saya punya keinginan agar kita para intelijen diindonesia ini bersatu tanpa harus liat dari mana asal institusinya, utamanya jika ada kasus strategis yang mengancam keutuhan NKRI, langsung lakukan upaya pemblokiran terhadap mereka ( pelaku) dengan cara PUS terhadap masyarakat yang disekitar tempat / daerah mereka beraktivitas, apa aja mas bentuk PUS yang penting mereka merasa ndak betah, itubentuk protec yang alami,,,
thankyu mas..,
turut berduka atas kejadian yang menimpa pak muchdi.. semoga ALLAH S.W.T selalu melindunginya.
 
Pelajaran Kewarganegaraan memang harus dikuatkan agar generasi selanjutnya bisa lebih baik...
 
dengan muhdi mengambil pembela dari tim pembela muslim yang noto benenya membela tersangka bom bali dan tersangka islam garis keras bisa sebagai bukti juga bahwa selama ini inteligent memang sangat dekat dan menjadi pembina kelompok yang jaman Orba dikelempokkan ekstrim kanan. Bukan begitu bung.
 
Hidup tak punya nama, Mati tak kenal siapa.. grilda
 
Sudah jelas badan intelejen terlibat. Itu bisa dimaklumi mengingat situasi waktu itu. Pertanyaannya hanya satu. Apakah eksekusi dilaporkan ke pemimpin tertinggi atau tidak. Itu saja ...

Sejarah akan mencatat. Tapi itu nanti. Setelah pertaruhan politik 2009 diselesaikan. Fair and square.

Salam, Laler ...
 
simpel..BIN telah mengalami kebocoran..paling tidak dalam beberapa waktu belakangan ini..

objeknya cuma satu "orang dalam"
subjeknya "masterplan business oriented jangka panjang"
 
BEBERAPA HARI YANG LALU ADA YANG BERKATA NKRI HARUS MENJADI AGEN PERDAMAIAN, HARI INI KONGRES AMERIKA MENDESAK PRESIDEN MEMBEBASKAN ANGGOTA OPM. APAAAAAAAAAAA AN INI??????? NKRI SELALU DIOBOK2, SEMUA INSTITUSI NYA, TANPA PERLAWANAN!!! KAMI MARAH DAN KECEWA, HINGGA HARI INI KAMI MASIH MENUNGGU DAN BERTANYA2 DLAM HATI MANAAA GEROMBOLAN ULTRANASIONALIS NKRI???
TANGGAL 17 AGUSTUS 2008 DAN SETERUSNYA, KAMI TIDAK AKAN PERNAH MENGIBARKAN BENDERA MERAH PUTIH HINGGA TIMOR TIMOR DAN SIPADAN LIGITAN KEMBALI KE NKRI, HINGGA ADA KIBARAN MERAH PUTIH DI MARS, HINGGA ADA 1000 RUDAL SCUD DI NEGERI INI. KAMI SELALU MEMPERCAYAI SOLUSI PERMASALAHAN NKRI ADALAH MENEMPATKAN ANGGARAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN DI ATAS YANG LAIN2NYA, KARENA PERDAMAIAN ADALAH MENYIAPKAN PERANG.



BELUM MERDEKA
BELUM.MERDEKA@YAHOO.CO.ID
BELUM.MERDEKA@GMAIL.COM
 
Anda seharusnya lebih tahu,tahun 1949 di KMB ternyata kemerdekaan indonesia harus di beli dengan uang 6.5 milyar gulden??? Mencoba memahami kematian Tan Malaka ditahun 1949, pasti berkaitan dengan peristiwa itu apabila melihat posisi nya MERDEKA 100%, apalagi di tahun 1948 ia tidak termasuk yang ditangkap dan di tahun 1963 Bung Karno mengangkatnya sebagai pahlawan. Dengan segala struktur ekonomi dan sosial dari jaman penjajahan Belanda hingga saat ini tidak ada perubahan maka bisa dipahami INDONESIA BELUM MERDEKA.
Hai Senopati Wirang/Ali Moertopo kenapa komentar kami tidak dimuat???
Ato blog ini hanya jaring untuk menangkap ikan???


belum.merdeka@yahoo.co.id
belum.merdeka@gmail.com
 
satu hal yang perlu dipertanyakan dalam republik ini. kehebatan konsektual ataukah kehebatan pribadi sehingga satu kasus yang seharusnya sudah terpecahkan beberapa tahun lalu akan tetapi hanya mengambang dan tidak tahu kapan akan berakhir. Kasus ini harusnya telah berakhir dan seharusnya telah menemui titik terang. bukan hanya BAP yang menjadi andalan dalam persidangan munir ini. para saksi yang seharusnya berada dalam persidangan segera dihadirkan. tinggal bagaimana kepolisian, mampukah mengamankan saksi dari kemungkinan ancaman dari luar ini.. mari kita tunggu kpan kasus ini akan berakhir...

wassalam..

kotak hitam
 
Salam kenal,
Mohon ijin nge-link ke blog Anda.
Terima kasih.
http://indonesiaunderground.wordpress.com
 
Saya baru ketemu blog ini. Coba dianalisis: dibalikperistiwa.blogspot.com.
 
mbok ya para petinggi kita entah itu di BIN atau pemerintahan jangan hanya bisa memikirkan kepentingan diri atau partai. sadar....!!!!!!
ini adalah negara tercinta kita.....
tempat lahir kita....
 
Si Anjing Munir modar. Alhamdulillah.

Wong Anjing Pengkhianat bangsa mah memang harus modar. Bangsa sendiri dijual ke bangsa lain.

Seharusnya BIN nggak usah ngerepotin Pak Muchdi, aku juga sanggup membunuh Si Anjing Munir itu.
 
bos,apa di bin tidak punya keuatan pers seperti para elite politik yang ramai ramai beli stasiun tv dan media cetak supaya persepsi mmasyarakat bisa "diarahkan"



bos untuk menjadi agen intel bin bagaimana caranya?
tolong hubungi saya di akirayosuke@yahoo.co.id
 
Kelau Anda prihatin dengan nasib Pak Muchdi, kenapa Anda diam? kenapa Anda seakan tidak ada tindakan
Saya yakin tindakan Anda baik di permukaan maupun di dasar sangat membantu hal tersebut. Tak cuma kasus pak Muchdi, untuk kasus2 lain pun sebenarnya Anda memiliki banyak kesempatan untuk membuat sebuah kebenaran diagungkan... Dan Anda bukan tidak punya kuasa untuk melakukannya. Sampai saat inipun Anda punya.
lebih dari 100 orang pilihan dalam loyalitas pada Anda... Tapi anda lebih memilih mengikuti komando yang makin tak jelas arahnya sekarang ini.
Pak, kami menunggu Anda. Sudah banyak hal2 yang Anda lewatkan dengan seribu kesempatan dan sejuta akibat yang sebenarnya tak perlu terjadi....

Sepertinya Anda tahu saya.
 
Dasar Intel Melayu. Lapar beringas kenyang bego. Komunitas intel melayu kalian cocoknya cuma jadi tukang jual indomi telor. Nggak punya otak tapi sok berlagak mau jadi intel. Jadi taik ayam aja kalian tak pantas. Sebentar lagi, jungjungan dan sesembahan kalian seperti Muchdi PR dan Hendropriyono, si pengkhianat rakyat akan hancur lebur diseret massa rakyat ke liang kubur. Munir tak pernah mati. Gagasan dan Keberaniannya melawan laknat-laknat bangsa seperti intel-intel melayu kalian ini akan terus menjadi inspirasi generasi muda seperti kami yang berumur 20-30an tahun. Intel-intel tua penyembah pembantai seperti kalian harus musnah. Seperti kata Wiji Thukul: Dimanapun, Tirani Fasis harus tumbang! Camkan itu nyet
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters