Mencerdaskan Intelijen Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, September 13, 2008

Mencerdaskan Intelijen Indonesia

Catatan ini saya temukan di tumpukan meja Bapak yang mungkin dapat menjadi bahan renungan bagi rekan-rekan Blog I-I.

Komunitas Intelijen Indonesia menghadapi berbagai macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan, termasuk di dalamnya melemahnya keyakinan atas kemampuannya sendiri dalam menjalankan misi secara kompeten dan legal. Pandangan tersebut cukup meluas di kalangan pemerhati intelijen, khususnya dari kelompok akademisi yang menggagas reformasi intelijen serta kalangan civil society yang secara antusias menyoroti kiprah intelijen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Faktor tersebut menyebabkan intelijen kurang dipercaya dalam melakukan reformasi sendiri, sehingga beberapa pihak yang merasa mampu turut menyumbangkan pemikiran untuk reformasi intelijen.

Seyogyanya intelijen Indonesia tidak menutup diri dari kenyataan bahwa reformasi bukanlah sekedar merombak struktur berkali-kali dalam ketidakefisienan, melainkan diperlukan suatu blue print level nasional yang saling mengisi dengan isntitusi keamanan lainnya di Indonesia. Reformasi dalam artian yang sempit seringkali didefinisikan sebagai pergantian figur pimpinan intelijen atau dikotomi sipil-militer. Padahal yang lebih penting adalah dalam soal penataan manajemen agar lebih profesional dan dibangunnya budaya intelijen positif yang diimbangi dengan disiplin yang tinggi serta mekanisme reward and punishment yang jelas.


Seorang sahabat Blog I-I pernah menceritakan betapa buruknya manajemen personalia intelijen Indonesia, baik sipil maupun militer. Terlalu banyak praktek KKN dan penempatan yang kurang tepat dari personil intelijen. Kemampuan dan profesionalitas tidak menjadi prioritas. Sulit memang membayangkan bahwa banyak orang-orang dengan pengalaman intelijen yang minim, dengan pendidikan yang mandeg, serta terkungkung di dalam penjara "kehebatan intel" yang semu bisa menuliskan laporan intelijen yang baik kepada Presiden. Untungnya masih ada segelintir insan intelijen yang mampu menutupi kebobrokan organisasi tersebut dengan produk yang berkualitas.

Lantas salah siapa?

Menyegarkan organisasi intelijen, mencerdaskan komunitas intelijen, memprofesionalkan kiprah intelijen bukanlah hal yang mudah. Permasalahannya adalah akumulasi kebobrokan intelijen Indonesia telah dipelihara bertahun-tahun hanya dalam peranan melindungi kepentingan penguasa Orde Baru, dan di era reformasi pola-pola itu belum juga dapat dikikis habis, sehingga tidak mengherankan apabila rekan-rekan pernah membaca laporan intelijen akan tersenyum getir dan malu karena akan jelas tampak seperti anak kecil dengan celana kedodoran. Sekali lagi, hal itu masih dapat ditutupi oleh sebagian kecil insan intelijen yang mampu berjalan cepat dengan keyakinan dan idealisme membela bangsa dan negara.

Tidaklah dapat dihindari, intelijen Indonesia harus merubah paradigma serta meningkatkan profesionalismenya. Hal itu merupakan tuntutan zaman yang bergerak cepat mendesak intelijen untuk mampu mendapatkan informasi vital untuk kepentingan nasional. Disamping itu, informasi yang telah terkumpu juga harus melalui proses analisa yang handal, hingga akhirnya mampu menjadi produk intelijen yang bermanfaat bagi pengambil keputusan (Presiden).

Merubah diri, merubah organisasi, merevitalisasi kegiatan, dll guna mengikuti perkembangan zaman memerlukan keseriusan, keberanian, dan tentu saja arah dan manajemen yang tepat. Tanpa adanya perubahan, intelijen Indonesia akan bergerak di dalam dunianya sendiri, sementara alam nasional dan global jauh berbeda dari gambaran kalangan intelijen yang terkungkung tersebut.

Sebenarnya prinsip dasarnya sangat sederhana, yaitu senantiasa mampu dalam setiap kondisi dan waktu menyiapkan informasi intelijen yang bisa dipercaya dan berguna bagi user. Dengan prinsip sederhana tersebut tentu implikasinya akan sangat besar bagi organisasi. Selain itu, intelijen Indonesia juga akan mampu menghindari reformasi tambahan yang tidak perlu, atau bahkan justru menambah masalah dari pada menyelesaikannya.

Setelah itu, baru masalah prioritas, yang mana hal ini akan berubah-ubah sesuai kepentingan nasional.

Kemudian perlu juga suatu filter bagi intelijen dari tekanan politik, baik penguasa maupun oposisi. Karena hal ini dibutuhkan untuk memelihara independensi intelijen dalam memelihara dan melindungi kepentingan nasional pada saat bersebrangan dengan kepentingan politik individu di level nasional

bersambung.....

atas izin Bapak Senopati Wirang


Comments:
Buku tentang terorisme di Indonesia (Amrozi, Imam Samodra dll) yang menggunakan bahan-bahan dari intel (BIN maupun Polri) telah terbit: Medan Tempur Kedua (The Second Front)karya: Ken Conboy.
Silakan tengok di http://puspri.com
 
Buku tentang Mossad (Intel Israel) versi 2007 telah terbit, Gideon Spies, karya Gordon Thomas, silakan lihat di http://puspri.com. Apa Indonesia termasuk yang dibicarakan?
 
..Bung SW, saya ingin tanya, kenapa BIN tidak memiliki WEBSITE atau situs Internet yang bagus, memadai informasi dan mencerdaskan??

Kenapa BIN tidak pernah melakukan penjelasan situasi keamanan dan pertahanan (overview) kepada masyarakat dalam periode tertentu??
misalnya siaran pers Kepala BIN yang dilakukan bulan per bulan atau dalam periode waktu tertentu??

Apakah BIN akan terus menerus bekerja seperti ini, rahasia, kuno, mudah diselewengkan, kaku, tidak fleksibel, kurang canggih, hanya ngomong lewat website yang kagak jelas kadar informasinya seperti ini??

Anda rela BIN tampil TOLOL seperti ini?? Apakah BIN memantau ribuan orang pandai yg dapat beasiswa dari Univ luar negeri yang satu-dua-nya bisa dimanfaatkan atau bahkan jadi aset BIN/menjadi agen yang berasal dari non-militer ??

Aneh cara berpikir anda, seolah-olah masuk akal tapi kosong mlompong !! Bagaimana mungkin BIN bisa mendapat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia kalau menyelesaikan / melakukan reformasi internal saja tidak becus !!!

salam
alfred
 
Membangun Indonesia yang raya dan makmur membutuhkan kerja keras, disiplin, konsistensi dan tanggungjawab yang besar dari semua elemen bangsa ini. Proklamasi kemerdekaan,dan kebangkitan nasional merupakan momentum historis yang tidak saja berdiri sebagai bentuk refleksi tetapi perlu adanya praksis yang progressif sehingga melahirkan banyak tindakan-tindakan konkret untuk mensejahterakan rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air. Intelijen sebagai fungsi maupun institusi memegang peranan strategis dalam memetakan setiap persoalan bangsa yang terjadi dan yang akan terjadi dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap roda kehidupan NKRI. Indonesia sebagai bagian dari tata hubungan internasional tidak bisa melepaskan dirinya dari anasir-anasir ideologi besar berpengaruh didunia yang mampu menggiring kita ke arah yang tidak dikehendaki oleh bangsa ini.Persoalan yang dihadapi dunia intelijen saat ini tidak lepas dari pengaruh gagasan-gagasan yaitu ; Berkembangnya ideologi Individualisme, Liberalisme yang masih ditopang dengan sisa-sisa Feodalisme. Individualisme telah mendorong setiap warga memungkinkan dirinya bisa berkembang sesuai dengan talenta dan kompetensinya. Liberalisme memungkinkan setiap elemen bangsa dan antarbangsa melakukan transaksi perdagangan yang berdasar saling membutuhkan untuk mencapai masing-masing kepentingannya. Feodalisme justru memperkuat tatanan individualisme dan liberalisme berkembang di dalam kelompok atau golongan masyarakat tertentu saja.Individualisme dan liberalisme yang tidak didukung dengan pematangan intelektualitas dan transformasi sosial yang matang telah mengoyak tatanan sosial masyarakat yang bersifat komunal. Selain itu, muncul prilaku rent seeking, moral hazard yang menjauhkan masyarakat yang memiliki akses dengan masyarakat yang kalah dalam memperebutkan akses sehingga melahirkan kemiskinan di penjuru tanah air. kemiskinan telah membuka peluang bagi golongan-golongan di luar ideologi tersebut untuk mempengaruhi bahkan membangun sebuah gerakan yang bisa berseberangan dengan Pancasila, bahkan ideologi liberalisme sendiri telah menghancurkan nilai-nilai luhur Pancasila. Praktek-praktek tersebut bisa dilihat dari beberapa hal ;
a. pembuatan kebijakan atau UU yang mendukung munculnya privatisasi/ liberalisasi institusi ekonomi negara maupun masyarakat yang mengagungkan pasar bebas.
b. pembangunan kapitalisasi keuangan yang overload melalui lembaga bursa saham/ efek yang menjauhkan dari ekonomi riil dan tanpa ada intervensi pemerintah yang tegas terhadap produk-produknya yang bisa menguncangkan finansial negara
c. liberalisasi politik/ demokrasi yang jauh dari substansinya akibat kegagalan partai melakukan upaya internalisasi nilai-nilai demokrasi di dalam organisasinya serta munculnya pola oligarki serta hilangnya semangat meritokrasi.
Intelijen Indonesia harus memahami betul perkembangan-perkembangan tersebut sehingga produk analisa intelijen bisa berfungsi sebagai sistem peringatan dini kepada user sehingga langkah-langkah yang diambil tepat dan bisa dipertanggungjawabkan kepada seluruh masyarakat.
 
Bagaimana tentang isu dokumen BIN yang yang beredar di internal PKS?

apakah dokumen tersebut memang analisis intelijen terkait pengendalian politik jelang pemilu 2009 yang memang dibuat oleh intelijen kemudian sengaja disebarkan atau hanya rekayasa belaka dari struktur PKS untuk tujuan lain?

silahkan disimak lengkapnya di
http://pkswatch.blogspot.com/2008/11/fitnah-bin-mubahalah.html#beri_komentar
 
Ada sekolah inteejen di Batam, baru berdiri...mau daftar? :)
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters